2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Kursi Empuk Membuat Hati Beku

Isran Kamal by Isran Kamal
August 27, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

BEBERAPA waktu terakhir publik dikejutkan oleh pemberitaan mengenai deretan tunjangan fantastis yang diterima anggota DPR. Tidak hanya gaji pokok, tetapi juga berbagai fasilitas tambahan. Mulai dari tunjangan perumahan, tunjangan komunikasi, tunjangan beras, tunjangan kehormatan, bantuan listrik dan telepon hingga pembebasan pajak. Jika dijumlahkan, angka ini bisa menembus hingga ratusan juta rupiah per bulan untuk satu orang anggota dewan. 

Kontrasnya, di sisi lain kita melihat realitas masyarakat sehari-hari yang jauh berbeda. Guru honorer dengan masa kerja bertahun-tahun hanya digaji ratusan ribu hingga dua jutaan rupiah per bulan. Buruh pabrik bekerja lembur demi mengejar upah minimum yang seringkali bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Pedagang kecil berjuang keras menghadapi naik-turunnya harga barang pokok, sementara dosen dan tenaga pendidik pun masih banyak yang digaji sesuai UMR, meskipun mereka punya tanggung jawab akademik dan sosial yang besar.

Ironisnya lagi, di saat rakyat biasa wajib membayar pajak dari penghasilan yang pas-pasan, para pejabat justru kerap mendapatkan fasilitas bebas pajak untuk sejumlah tunjangan tertentu. Ketimpangan ini bukan hanya soal angka, tetapi menyentuh rasa keadilan yang paling mendasar: mengapa mereka yang sudah berada di posisi nyaman justru semakin dimanjakan, sementara rakyat yang menopang negara masih harus berjibaku untuk sekadar bertahan hidup?

Fenomena inilah yang membuat banyak orang merasa empati sosial seakan lenyap ketika seseorang berada di puncak kekuasaan. Namun, pertanyaannya, apakah benar kekuasaan dengan sendirinya akan membuat manusia kehilangan empati, atau ada mekanisme psikologis tertentu yang bekerja di baliknya? Untuk memahami hal ini, kita perlu melihatnya dari perspektif psikologi, khususnya bagaimana posisi, status, dan privilege bisa mengubah cara seseorang memandang orang lain.

Matinya Empati di Pucuk Kekuasaan: Perspektif Psikologis

Dalam psikologi sosial, kekuasaan sering dipahami bukan hanya sebagai kemampuan untuk memengaruhi orang lain, tetapi juga sebagai kondisi yang dapat mengubah cara seseorang berpikir, merasakan, dan bertindak. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula kecenderungan ia mengalami distorsi kognitif dalam memahami realitas sosial.

Salah satu kerangka yang sering dipakai adalah Power-as-Control Theory (Keltner, Gruenfeld, & Anderson, 2003). Teori ini menjelaskan bahwa kekuasaan dapat membuat seseorang lebih fokus pada tujuan dan kepentingan pribadinya, sekaligus mengurangi sensitivitas terhadap emosi maupun kebutuhan orang lain. Akibatnya, pemegang kekuasaan sering menunjukkan perilaku yang kurang empatik, meskipun mereka tidak selalu menyadarinya.

Selain itu, penelitian lain menunjukkan bahwa kekuasaan meningkatkan perceived control (persepsi bahwa dia mampu mengendalikan keadaan). Persepsi ini memang bermanfaat untuk mengambil keputusan cepat, tetapi sering kali membuat seseorang menyepelekan informasi dari luar dirinya. Dari sudut pandang teori empati (Batson, 2011), kondisi ini melemahkan kapasitas perspective-taking, yaitu kemampuan untuk melihat situasi dari sudut pandang orang lain.

Fenomena ini juga berkaitan dengan Dunning-Kruger Effect. Orang yang berkuasa kadang merasa paling tahu, meskipun sebenarnya mereka tidak sepenuhnya menguasai persoalan teknis. Kekuasaan memperkuat ilusi kompetensi di mana semakin tinggi posisi, semakin besar kecenderungan merasa “sudah cukup tahu,” sehingga kepekaan untuk belajar dari orang lain pun berkurang.

Dengan demikian, berbagai teori dan pendekatan psikologi menunjukkan bahwa hilangnya empati pada orang berkuasa bukan semata-mata karena niat jahat, melainkan hasil dari interaksi kompleks antara status, kontrol, dan bias kognitif. Kekuasaan pada dasarnya dapat merusak radar sosial kita, membuat kita lebih terfokus pada diri sendiri dibanding pada orang lain.

Melalui kerangka psikologis tersebut, kita bisa melihat bahwa fenomena matinya empati di kalangan pejabat bukanlah persoalan individu semata, melainkan memiliki dampak yang jauh lebih luas. Hilangnya sensitivitas terhadap penderitaan rakyat membuat keputusan-keputusan politik dan kebijakan publik rawan diwarnai ketidakadilan. Maka, isu ini bukan lagi sekadar problem psikologi personal, melainkan persoalan sosial yang memengaruhi kesejahteraan masyarakat luas.

Dampak Sosial dari Hilangnya Empati pada Pejabat

Ketika pejabat kehilangan empati, konsekuensinya tidak berhenti pada ranah psikologis personal, melainkan merembet ke struktur sosial yang lebih luas. Kebijakan yang lahir dari proses pengambilan keputusan semacam ini cenderung mengabaikan kepentingan kelompok rentan, memicu ketidakadilan distribusi sumber daya, dan memperlebar jurang ketimpangan sosial. Dalam konteks masyarakat demokratis, kondisi ini berpotensi melemahkan legitimasi politik karena rakyat merasa diabaikan dan tidak diwakili.

Selain itu, hilangnya empati di level kekuasaan dapat menimbulkan efek domino berupa erosi kepercayaan publik terhadap institusi negara. Masyarakat yang menyaksikan pejabatnya tampak dingin dan tidak peduli akan lebih mudah terjebak pada sikap apatis, sinis, atau bahkan radikal terhadap sistem yang ada. Pada titik tertentu, fenomena ini bisa menggerogoti kohesi sosial dan mengancam stabilitas politik.

Dampak lainnya adalah terbentuknya culture of indifference, yakni normalisasi sikap acuh tak acuh yang merembes ke seluruh lapisan birokrasi. Ketika pejabat tinggi tidak menampilkan empati, pejabat di bawahnya pun meniru pola yang sama. Akibatnya, pelayanan publik berubah menjadi sekadar prosedur administratif tanpa kepekaan terhadap realitas warga yang paling membutuhkan.

Hilangnya empati di kalangan pejabat tidak hanya berimplikasi pada melemahnya kualitas kebijakan publik, tetapi juga menular ke masyarakat melalui mekanisme social learning (Bandura, 1977). Masyarakat cenderung meniru pola perilaku dari figur otoritas, sehingga ketika pejabat memperlihatkan sikap dingin, manipulatif, atau abai terhadap penderitaan publik, warga akan menginternalisasi bahwa ketidakpedulian adalah hal yang wajar. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mengikis norma prososial yang menjadi fondasi kohesi sosial.

Salah satu konsekuensi langsung adalah meningkatnya individualisme ekstrem. Ketika masyarakat menyadari bahwa pemimpinnya tidak lagi menjadi teladan empati, mereka terdorong untuk fokus pada kepentingan pribadi semata, alih-alih solidaritas komunal. Sikap “asal saya selamat” atau “yang penting saya untung” menjadi pola dominan dalam interaksi sosial.

Prediksi lain adalah munculnya sikap sinis kolektif. Masyarakat yang terus-menerus melihat pejabat bersikap acuh atau koruptif dapat kehilangan kepercayaan terhadap nilai-nilai moral yang sebelumnya dijunjung tinggi. Akibatnya, norma kejujuran, gotong-royong, dan keadilan berangsur digantikan oleh pragmatisme. Dalam konteks ini, sikap oportunistik, misalnya mencari keuntungan tanpa peduli etika akan menjadi perilaku sosial yang dianggap “rasional” oleh banyak orang.

Lebih jauh, fenomena ini juga berpotensi menumbuhkan apatisme politik yang terwujud dalam meningkatnya angka golput. Warga yang menyaksikan pejabat tanpa empati akan merasa bahwa partisipasi politik hanyalah formalitas tanpa hasil nyata. Ketika pemilu tiba, banyak yang memilih untuk tidak menggunakan hak suaranya sebagai bentuk protes diam karena “percuma memilih, hasilnya sama saja.” Tren ini jika terus berlanjut dapat melahirkan generasi skeptis yang secara sistematis menjauh dari ruang politik. Peningkatan golput bukan hanya tanda hilangnya kepercayaan, tetapi juga ancaman serius bagi legitimasi demokrasi, karena semakin sedikit suara rakyat yang benar-benar terwakili.

Jika dibiarkan berlarut, terkikisnya empati pejabat bukan hanya melahirkan masyarakat yang dingin dan individualistis, tetapi juga memperkuat siklus ketidakpedulian sosial. Perilaku anti-sosial seperti intoleransi, kekerasan verbal, bahkan normalisasi kekerasan fisik dalam relasi sehari-hari bisa semakin meningkat karena masyarakat kehilangan rujukan moral dari figur otoritasnya.

Membangun Empati di Puncak Kekuasaan

Fenomena terkikisnya empati di kalangan pejabat menunjukkan bahwa kekuasaan, tanpa kendali, cenderung menjauhkan pemimpin dari realitas sosial warganya. Namun, ini bukanlah kondisi yang tidak bisa diubah. Justru, memahami mekanisme psikologis dan sosial yang melatarbelakanginya membuka peluang bagi solusi yang lebih konkret.

Salah satu langkah penting adalah membangun sistem check and balance yang tidak hanya bersifat legal-formal, tetapi juga kultural. Misalnya, program leadership training berbasis empati yang menekankan pada perspective-taking, di mana pejabat dilatih untuk memahami dampak kebijakan dari sudut pandang masyarakat kecil. Di sisi lain, media dan masyarakat sipil dapat menjadi pengingat kolektif melalui wacana publik yang kritis, bukan sekadar mengawasi, tetapi juga menghadirkan narasi alternatif tentang bagaimana kekuasaan seharusnya digunakan.

Selain itu, pendidikan politik masyarakat menjadi krusial. Jika warga dibiarkan apatis, maka kekuasaan semakin terjebak dalam lingkaran elitis. Sebaliknya, masyarakat yang kritis dan aktif menyalurkan aspirasinya melalui jalur demokratis akan memaksa pejabat untuk tetap menjaga empati sosialnya. Dengan kata lain, kontrol sosial yang sehat adalah benteng terakhir agar kekuasaan tidak berubah menjadi instrumen jarak dan alienasi.

Dengan demikian, meski Dunning-Kruger effect dan bias kekuasaan mengancam kualitas kepemimpinan, ada jalan keluar untuk menyeimbangkannya. Yang diperlukan bukan hanya pemimpin yang cerdas secara intelektual, tetapi juga rendah hati untuk terus belajar, serta berani membuka diri terhadap suara masyarakat. Empati, pada akhirnya, bukan kelemahan dalam politik, melainkan fondasi utama bagi keberlangsungan kepemimpinan yang adil dan berorientasi pada kemaslahatan bersama. Sebab pada akhirnya, bangsa yang kehilangan empati bukan hanya akan gagal dipimpin, tetapi juga perlahan kehilangan arah dalam menentukan masa depannya. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Penyalahgunaan AI, Privasi, dan Perspektif Psikologis
Bagaimana Psikologi Memandang Korupsi [Bagian 2]
Bagaimana Psikologi Memandang Korupsi [Bagian 1]
Tags: kekuasaanpejabatPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tutur Para Tetua dan Yadnya 60 Tahunan di Pura Dalem Bhatarateng Desa Adat Beringkit-Mengwi

Next Post

Di Balik Kerajinan Ingka Sambirenteng, Ada Perempuan-Perempuan yang Berdaya

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Di Balik Kerajinan Ingka Sambirenteng, Ada Perempuan-Perempuan yang Berdaya

Di Balik Kerajinan Ingka Sambirenteng, Ada Perempuan-Perempuan yang Berdaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co