2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Kursi Empuk Membuat Hati Beku

Isran Kamal by Isran Kamal
August 27, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

BEBERAPA waktu terakhir publik dikejutkan oleh pemberitaan mengenai deretan tunjangan fantastis yang diterima anggota DPR. Tidak hanya gaji pokok, tetapi juga berbagai fasilitas tambahan. Mulai dari tunjangan perumahan, tunjangan komunikasi, tunjangan beras, tunjangan kehormatan, bantuan listrik dan telepon hingga pembebasan pajak. Jika dijumlahkan, angka ini bisa menembus hingga ratusan juta rupiah per bulan untuk satu orang anggota dewan. 

Kontrasnya, di sisi lain kita melihat realitas masyarakat sehari-hari yang jauh berbeda. Guru honorer dengan masa kerja bertahun-tahun hanya digaji ratusan ribu hingga dua jutaan rupiah per bulan. Buruh pabrik bekerja lembur demi mengejar upah minimum yang seringkali bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Pedagang kecil berjuang keras menghadapi naik-turunnya harga barang pokok, sementara dosen dan tenaga pendidik pun masih banyak yang digaji sesuai UMR, meskipun mereka punya tanggung jawab akademik dan sosial yang besar.

Ironisnya lagi, di saat rakyat biasa wajib membayar pajak dari penghasilan yang pas-pasan, para pejabat justru kerap mendapatkan fasilitas bebas pajak untuk sejumlah tunjangan tertentu. Ketimpangan ini bukan hanya soal angka, tetapi menyentuh rasa keadilan yang paling mendasar: mengapa mereka yang sudah berada di posisi nyaman justru semakin dimanjakan, sementara rakyat yang menopang negara masih harus berjibaku untuk sekadar bertahan hidup?

Fenomena inilah yang membuat banyak orang merasa empati sosial seakan lenyap ketika seseorang berada di puncak kekuasaan. Namun, pertanyaannya, apakah benar kekuasaan dengan sendirinya akan membuat manusia kehilangan empati, atau ada mekanisme psikologis tertentu yang bekerja di baliknya? Untuk memahami hal ini, kita perlu melihatnya dari perspektif psikologi, khususnya bagaimana posisi, status, dan privilege bisa mengubah cara seseorang memandang orang lain.

Matinya Empati di Pucuk Kekuasaan: Perspektif Psikologis

Dalam psikologi sosial, kekuasaan sering dipahami bukan hanya sebagai kemampuan untuk memengaruhi orang lain, tetapi juga sebagai kondisi yang dapat mengubah cara seseorang berpikir, merasakan, dan bertindak. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula kecenderungan ia mengalami distorsi kognitif dalam memahami realitas sosial.

Salah satu kerangka yang sering dipakai adalah Power-as-Control Theory (Keltner, Gruenfeld, & Anderson, 2003). Teori ini menjelaskan bahwa kekuasaan dapat membuat seseorang lebih fokus pada tujuan dan kepentingan pribadinya, sekaligus mengurangi sensitivitas terhadap emosi maupun kebutuhan orang lain. Akibatnya, pemegang kekuasaan sering menunjukkan perilaku yang kurang empatik, meskipun mereka tidak selalu menyadarinya.

Selain itu, penelitian lain menunjukkan bahwa kekuasaan meningkatkan perceived control (persepsi bahwa dia mampu mengendalikan keadaan). Persepsi ini memang bermanfaat untuk mengambil keputusan cepat, tetapi sering kali membuat seseorang menyepelekan informasi dari luar dirinya. Dari sudut pandang teori empati (Batson, 2011), kondisi ini melemahkan kapasitas perspective-taking, yaitu kemampuan untuk melihat situasi dari sudut pandang orang lain.

Fenomena ini juga berkaitan dengan Dunning-Kruger Effect. Orang yang berkuasa kadang merasa paling tahu, meskipun sebenarnya mereka tidak sepenuhnya menguasai persoalan teknis. Kekuasaan memperkuat ilusi kompetensi di mana semakin tinggi posisi, semakin besar kecenderungan merasa “sudah cukup tahu,” sehingga kepekaan untuk belajar dari orang lain pun berkurang.

Dengan demikian, berbagai teori dan pendekatan psikologi menunjukkan bahwa hilangnya empati pada orang berkuasa bukan semata-mata karena niat jahat, melainkan hasil dari interaksi kompleks antara status, kontrol, dan bias kognitif. Kekuasaan pada dasarnya dapat merusak radar sosial kita, membuat kita lebih terfokus pada diri sendiri dibanding pada orang lain.

Melalui kerangka psikologis tersebut, kita bisa melihat bahwa fenomena matinya empati di kalangan pejabat bukanlah persoalan individu semata, melainkan memiliki dampak yang jauh lebih luas. Hilangnya sensitivitas terhadap penderitaan rakyat membuat keputusan-keputusan politik dan kebijakan publik rawan diwarnai ketidakadilan. Maka, isu ini bukan lagi sekadar problem psikologi personal, melainkan persoalan sosial yang memengaruhi kesejahteraan masyarakat luas.

Dampak Sosial dari Hilangnya Empati pada Pejabat

Ketika pejabat kehilangan empati, konsekuensinya tidak berhenti pada ranah psikologis personal, melainkan merembet ke struktur sosial yang lebih luas. Kebijakan yang lahir dari proses pengambilan keputusan semacam ini cenderung mengabaikan kepentingan kelompok rentan, memicu ketidakadilan distribusi sumber daya, dan memperlebar jurang ketimpangan sosial. Dalam konteks masyarakat demokratis, kondisi ini berpotensi melemahkan legitimasi politik karena rakyat merasa diabaikan dan tidak diwakili.

Selain itu, hilangnya empati di level kekuasaan dapat menimbulkan efek domino berupa erosi kepercayaan publik terhadap institusi negara. Masyarakat yang menyaksikan pejabatnya tampak dingin dan tidak peduli akan lebih mudah terjebak pada sikap apatis, sinis, atau bahkan radikal terhadap sistem yang ada. Pada titik tertentu, fenomena ini bisa menggerogoti kohesi sosial dan mengancam stabilitas politik.

Dampak lainnya adalah terbentuknya culture of indifference, yakni normalisasi sikap acuh tak acuh yang merembes ke seluruh lapisan birokrasi. Ketika pejabat tinggi tidak menampilkan empati, pejabat di bawahnya pun meniru pola yang sama. Akibatnya, pelayanan publik berubah menjadi sekadar prosedur administratif tanpa kepekaan terhadap realitas warga yang paling membutuhkan.

Hilangnya empati di kalangan pejabat tidak hanya berimplikasi pada melemahnya kualitas kebijakan publik, tetapi juga menular ke masyarakat melalui mekanisme social learning (Bandura, 1977). Masyarakat cenderung meniru pola perilaku dari figur otoritas, sehingga ketika pejabat memperlihatkan sikap dingin, manipulatif, atau abai terhadap penderitaan publik, warga akan menginternalisasi bahwa ketidakpedulian adalah hal yang wajar. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mengikis norma prososial yang menjadi fondasi kohesi sosial.

Salah satu konsekuensi langsung adalah meningkatnya individualisme ekstrem. Ketika masyarakat menyadari bahwa pemimpinnya tidak lagi menjadi teladan empati, mereka terdorong untuk fokus pada kepentingan pribadi semata, alih-alih solidaritas komunal. Sikap “asal saya selamat” atau “yang penting saya untung” menjadi pola dominan dalam interaksi sosial.

Prediksi lain adalah munculnya sikap sinis kolektif. Masyarakat yang terus-menerus melihat pejabat bersikap acuh atau koruptif dapat kehilangan kepercayaan terhadap nilai-nilai moral yang sebelumnya dijunjung tinggi. Akibatnya, norma kejujuran, gotong-royong, dan keadilan berangsur digantikan oleh pragmatisme. Dalam konteks ini, sikap oportunistik, misalnya mencari keuntungan tanpa peduli etika akan menjadi perilaku sosial yang dianggap “rasional” oleh banyak orang.

Lebih jauh, fenomena ini juga berpotensi menumbuhkan apatisme politik yang terwujud dalam meningkatnya angka golput. Warga yang menyaksikan pejabat tanpa empati akan merasa bahwa partisipasi politik hanyalah formalitas tanpa hasil nyata. Ketika pemilu tiba, banyak yang memilih untuk tidak menggunakan hak suaranya sebagai bentuk protes diam karena “percuma memilih, hasilnya sama saja.” Tren ini jika terus berlanjut dapat melahirkan generasi skeptis yang secara sistematis menjauh dari ruang politik. Peningkatan golput bukan hanya tanda hilangnya kepercayaan, tetapi juga ancaman serius bagi legitimasi demokrasi, karena semakin sedikit suara rakyat yang benar-benar terwakili.

Jika dibiarkan berlarut, terkikisnya empati pejabat bukan hanya melahirkan masyarakat yang dingin dan individualistis, tetapi juga memperkuat siklus ketidakpedulian sosial. Perilaku anti-sosial seperti intoleransi, kekerasan verbal, bahkan normalisasi kekerasan fisik dalam relasi sehari-hari bisa semakin meningkat karena masyarakat kehilangan rujukan moral dari figur otoritasnya.

Membangun Empati di Puncak Kekuasaan

Fenomena terkikisnya empati di kalangan pejabat menunjukkan bahwa kekuasaan, tanpa kendali, cenderung menjauhkan pemimpin dari realitas sosial warganya. Namun, ini bukanlah kondisi yang tidak bisa diubah. Justru, memahami mekanisme psikologis dan sosial yang melatarbelakanginya membuka peluang bagi solusi yang lebih konkret.

Salah satu langkah penting adalah membangun sistem check and balance yang tidak hanya bersifat legal-formal, tetapi juga kultural. Misalnya, program leadership training berbasis empati yang menekankan pada perspective-taking, di mana pejabat dilatih untuk memahami dampak kebijakan dari sudut pandang masyarakat kecil. Di sisi lain, media dan masyarakat sipil dapat menjadi pengingat kolektif melalui wacana publik yang kritis, bukan sekadar mengawasi, tetapi juga menghadirkan narasi alternatif tentang bagaimana kekuasaan seharusnya digunakan.

Selain itu, pendidikan politik masyarakat menjadi krusial. Jika warga dibiarkan apatis, maka kekuasaan semakin terjebak dalam lingkaran elitis. Sebaliknya, masyarakat yang kritis dan aktif menyalurkan aspirasinya melalui jalur demokratis akan memaksa pejabat untuk tetap menjaga empati sosialnya. Dengan kata lain, kontrol sosial yang sehat adalah benteng terakhir agar kekuasaan tidak berubah menjadi instrumen jarak dan alienasi.

Dengan demikian, meski Dunning-Kruger effect dan bias kekuasaan mengancam kualitas kepemimpinan, ada jalan keluar untuk menyeimbangkannya. Yang diperlukan bukan hanya pemimpin yang cerdas secara intelektual, tetapi juga rendah hati untuk terus belajar, serta berani membuka diri terhadap suara masyarakat. Empati, pada akhirnya, bukan kelemahan dalam politik, melainkan fondasi utama bagi keberlangsungan kepemimpinan yang adil dan berorientasi pada kemaslahatan bersama. Sebab pada akhirnya, bangsa yang kehilangan empati bukan hanya akan gagal dipimpin, tetapi juga perlahan kehilangan arah dalam menentukan masa depannya. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Penyalahgunaan AI, Privasi, dan Perspektif Psikologis
Bagaimana Psikologi Memandang Korupsi [Bagian 2]
Bagaimana Psikologi Memandang Korupsi [Bagian 1]
Tags: kekuasaanpejabatPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tutur Para Tetua dan Yadnya 60 Tahunan di Pura Dalem Bhatarateng Desa Adat Beringkit-Mengwi

Next Post

Di Balik Kerajinan Ingka Sambirenteng, Ada Perempuan-Perempuan yang Berdaya

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Di Balik Kerajinan Ingka Sambirenteng, Ada Perempuan-Perempuan yang Berdaya

Di Balik Kerajinan Ingka Sambirenteng, Ada Perempuan-Perempuan yang Berdaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co