23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Kursi Empuk Membuat Hati Beku

Isran Kamal by Isran Kamal
August 27, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

BEBERAPA waktu terakhir publik dikejutkan oleh pemberitaan mengenai deretan tunjangan fantastis yang diterima anggota DPR. Tidak hanya gaji pokok, tetapi juga berbagai fasilitas tambahan. Mulai dari tunjangan perumahan, tunjangan komunikasi, tunjangan beras, tunjangan kehormatan, bantuan listrik dan telepon hingga pembebasan pajak. Jika dijumlahkan, angka ini bisa menembus hingga ratusan juta rupiah per bulan untuk satu orang anggota dewan. 

Kontrasnya, di sisi lain kita melihat realitas masyarakat sehari-hari yang jauh berbeda. Guru honorer dengan masa kerja bertahun-tahun hanya digaji ratusan ribu hingga dua jutaan rupiah per bulan. Buruh pabrik bekerja lembur demi mengejar upah minimum yang seringkali bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Pedagang kecil berjuang keras menghadapi naik-turunnya harga barang pokok, sementara dosen dan tenaga pendidik pun masih banyak yang digaji sesuai UMR, meskipun mereka punya tanggung jawab akademik dan sosial yang besar.

Ironisnya lagi, di saat rakyat biasa wajib membayar pajak dari penghasilan yang pas-pasan, para pejabat justru kerap mendapatkan fasilitas bebas pajak untuk sejumlah tunjangan tertentu. Ketimpangan ini bukan hanya soal angka, tetapi menyentuh rasa keadilan yang paling mendasar: mengapa mereka yang sudah berada di posisi nyaman justru semakin dimanjakan, sementara rakyat yang menopang negara masih harus berjibaku untuk sekadar bertahan hidup?

Fenomena inilah yang membuat banyak orang merasa empati sosial seakan lenyap ketika seseorang berada di puncak kekuasaan. Namun, pertanyaannya, apakah benar kekuasaan dengan sendirinya akan membuat manusia kehilangan empati, atau ada mekanisme psikologis tertentu yang bekerja di baliknya? Untuk memahami hal ini, kita perlu melihatnya dari perspektif psikologi, khususnya bagaimana posisi, status, dan privilege bisa mengubah cara seseorang memandang orang lain.

Matinya Empati di Pucuk Kekuasaan: Perspektif Psikologis

Dalam psikologi sosial, kekuasaan sering dipahami bukan hanya sebagai kemampuan untuk memengaruhi orang lain, tetapi juga sebagai kondisi yang dapat mengubah cara seseorang berpikir, merasakan, dan bertindak. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula kecenderungan ia mengalami distorsi kognitif dalam memahami realitas sosial.

Salah satu kerangka yang sering dipakai adalah Power-as-Control Theory (Keltner, Gruenfeld, & Anderson, 2003). Teori ini menjelaskan bahwa kekuasaan dapat membuat seseorang lebih fokus pada tujuan dan kepentingan pribadinya, sekaligus mengurangi sensitivitas terhadap emosi maupun kebutuhan orang lain. Akibatnya, pemegang kekuasaan sering menunjukkan perilaku yang kurang empatik, meskipun mereka tidak selalu menyadarinya.

Selain itu, penelitian lain menunjukkan bahwa kekuasaan meningkatkan perceived control (persepsi bahwa dia mampu mengendalikan keadaan). Persepsi ini memang bermanfaat untuk mengambil keputusan cepat, tetapi sering kali membuat seseorang menyepelekan informasi dari luar dirinya. Dari sudut pandang teori empati (Batson, 2011), kondisi ini melemahkan kapasitas perspective-taking, yaitu kemampuan untuk melihat situasi dari sudut pandang orang lain.

Fenomena ini juga berkaitan dengan Dunning-Kruger Effect. Orang yang berkuasa kadang merasa paling tahu, meskipun sebenarnya mereka tidak sepenuhnya menguasai persoalan teknis. Kekuasaan memperkuat ilusi kompetensi di mana semakin tinggi posisi, semakin besar kecenderungan merasa “sudah cukup tahu,” sehingga kepekaan untuk belajar dari orang lain pun berkurang.

Dengan demikian, berbagai teori dan pendekatan psikologi menunjukkan bahwa hilangnya empati pada orang berkuasa bukan semata-mata karena niat jahat, melainkan hasil dari interaksi kompleks antara status, kontrol, dan bias kognitif. Kekuasaan pada dasarnya dapat merusak radar sosial kita, membuat kita lebih terfokus pada diri sendiri dibanding pada orang lain.

Melalui kerangka psikologis tersebut, kita bisa melihat bahwa fenomena matinya empati di kalangan pejabat bukanlah persoalan individu semata, melainkan memiliki dampak yang jauh lebih luas. Hilangnya sensitivitas terhadap penderitaan rakyat membuat keputusan-keputusan politik dan kebijakan publik rawan diwarnai ketidakadilan. Maka, isu ini bukan lagi sekadar problem psikologi personal, melainkan persoalan sosial yang memengaruhi kesejahteraan masyarakat luas.

Dampak Sosial dari Hilangnya Empati pada Pejabat

Ketika pejabat kehilangan empati, konsekuensinya tidak berhenti pada ranah psikologis personal, melainkan merembet ke struktur sosial yang lebih luas. Kebijakan yang lahir dari proses pengambilan keputusan semacam ini cenderung mengabaikan kepentingan kelompok rentan, memicu ketidakadilan distribusi sumber daya, dan memperlebar jurang ketimpangan sosial. Dalam konteks masyarakat demokratis, kondisi ini berpotensi melemahkan legitimasi politik karena rakyat merasa diabaikan dan tidak diwakili.

Selain itu, hilangnya empati di level kekuasaan dapat menimbulkan efek domino berupa erosi kepercayaan publik terhadap institusi negara. Masyarakat yang menyaksikan pejabatnya tampak dingin dan tidak peduli akan lebih mudah terjebak pada sikap apatis, sinis, atau bahkan radikal terhadap sistem yang ada. Pada titik tertentu, fenomena ini bisa menggerogoti kohesi sosial dan mengancam stabilitas politik.

Dampak lainnya adalah terbentuknya culture of indifference, yakni normalisasi sikap acuh tak acuh yang merembes ke seluruh lapisan birokrasi. Ketika pejabat tinggi tidak menampilkan empati, pejabat di bawahnya pun meniru pola yang sama. Akibatnya, pelayanan publik berubah menjadi sekadar prosedur administratif tanpa kepekaan terhadap realitas warga yang paling membutuhkan.

Hilangnya empati di kalangan pejabat tidak hanya berimplikasi pada melemahnya kualitas kebijakan publik, tetapi juga menular ke masyarakat melalui mekanisme social learning (Bandura, 1977). Masyarakat cenderung meniru pola perilaku dari figur otoritas, sehingga ketika pejabat memperlihatkan sikap dingin, manipulatif, atau abai terhadap penderitaan publik, warga akan menginternalisasi bahwa ketidakpedulian adalah hal yang wajar. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mengikis norma prososial yang menjadi fondasi kohesi sosial.

Salah satu konsekuensi langsung adalah meningkatnya individualisme ekstrem. Ketika masyarakat menyadari bahwa pemimpinnya tidak lagi menjadi teladan empati, mereka terdorong untuk fokus pada kepentingan pribadi semata, alih-alih solidaritas komunal. Sikap “asal saya selamat” atau “yang penting saya untung” menjadi pola dominan dalam interaksi sosial.

Prediksi lain adalah munculnya sikap sinis kolektif. Masyarakat yang terus-menerus melihat pejabat bersikap acuh atau koruptif dapat kehilangan kepercayaan terhadap nilai-nilai moral yang sebelumnya dijunjung tinggi. Akibatnya, norma kejujuran, gotong-royong, dan keadilan berangsur digantikan oleh pragmatisme. Dalam konteks ini, sikap oportunistik, misalnya mencari keuntungan tanpa peduli etika akan menjadi perilaku sosial yang dianggap “rasional” oleh banyak orang.

Lebih jauh, fenomena ini juga berpotensi menumbuhkan apatisme politik yang terwujud dalam meningkatnya angka golput. Warga yang menyaksikan pejabat tanpa empati akan merasa bahwa partisipasi politik hanyalah formalitas tanpa hasil nyata. Ketika pemilu tiba, banyak yang memilih untuk tidak menggunakan hak suaranya sebagai bentuk protes diam karena “percuma memilih, hasilnya sama saja.” Tren ini jika terus berlanjut dapat melahirkan generasi skeptis yang secara sistematis menjauh dari ruang politik. Peningkatan golput bukan hanya tanda hilangnya kepercayaan, tetapi juga ancaman serius bagi legitimasi demokrasi, karena semakin sedikit suara rakyat yang benar-benar terwakili.

Jika dibiarkan berlarut, terkikisnya empati pejabat bukan hanya melahirkan masyarakat yang dingin dan individualistis, tetapi juga memperkuat siklus ketidakpedulian sosial. Perilaku anti-sosial seperti intoleransi, kekerasan verbal, bahkan normalisasi kekerasan fisik dalam relasi sehari-hari bisa semakin meningkat karena masyarakat kehilangan rujukan moral dari figur otoritasnya.

Membangun Empati di Puncak Kekuasaan

Fenomena terkikisnya empati di kalangan pejabat menunjukkan bahwa kekuasaan, tanpa kendali, cenderung menjauhkan pemimpin dari realitas sosial warganya. Namun, ini bukanlah kondisi yang tidak bisa diubah. Justru, memahami mekanisme psikologis dan sosial yang melatarbelakanginya membuka peluang bagi solusi yang lebih konkret.

Salah satu langkah penting adalah membangun sistem check and balance yang tidak hanya bersifat legal-formal, tetapi juga kultural. Misalnya, program leadership training berbasis empati yang menekankan pada perspective-taking, di mana pejabat dilatih untuk memahami dampak kebijakan dari sudut pandang masyarakat kecil. Di sisi lain, media dan masyarakat sipil dapat menjadi pengingat kolektif melalui wacana publik yang kritis, bukan sekadar mengawasi, tetapi juga menghadirkan narasi alternatif tentang bagaimana kekuasaan seharusnya digunakan.

Selain itu, pendidikan politik masyarakat menjadi krusial. Jika warga dibiarkan apatis, maka kekuasaan semakin terjebak dalam lingkaran elitis. Sebaliknya, masyarakat yang kritis dan aktif menyalurkan aspirasinya melalui jalur demokratis akan memaksa pejabat untuk tetap menjaga empati sosialnya. Dengan kata lain, kontrol sosial yang sehat adalah benteng terakhir agar kekuasaan tidak berubah menjadi instrumen jarak dan alienasi.

Dengan demikian, meski Dunning-Kruger effect dan bias kekuasaan mengancam kualitas kepemimpinan, ada jalan keluar untuk menyeimbangkannya. Yang diperlukan bukan hanya pemimpin yang cerdas secara intelektual, tetapi juga rendah hati untuk terus belajar, serta berani membuka diri terhadap suara masyarakat. Empati, pada akhirnya, bukan kelemahan dalam politik, melainkan fondasi utama bagi keberlangsungan kepemimpinan yang adil dan berorientasi pada kemaslahatan bersama. Sebab pada akhirnya, bangsa yang kehilangan empati bukan hanya akan gagal dipimpin, tetapi juga perlahan kehilangan arah dalam menentukan masa depannya. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Penyalahgunaan AI, Privasi, dan Perspektif Psikologis
Bagaimana Psikologi Memandang Korupsi [Bagian 2]
Bagaimana Psikologi Memandang Korupsi [Bagian 1]
Tags: kekuasaanpejabatPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tutur Para Tetua dan Yadnya 60 Tahunan di Pura Dalem Bhatarateng Desa Adat Beringkit-Mengwi

Next Post

Di Balik Kerajinan Ingka Sambirenteng, Ada Perempuan-Perempuan yang Berdaya

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Di Balik Kerajinan Ingka Sambirenteng, Ada Perempuan-Perempuan yang Berdaya

Di Balik Kerajinan Ingka Sambirenteng, Ada Perempuan-Perempuan yang Berdaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co