KAMIS, 17 November 2022. Langit Sumbawa masih gelap ketika saya meninggalkan Alas. Saya lihat jam di ponsel, pukul 05.19 WITA.
Alas merupakan kota kecamatan yang kecil. Begitu melewati beberapa rumah, toko dan sekolah, di sisi kiri dan kanan saya hanya melihat hutan dengan tanjakan ringan.
Sepanjang jalan menuju Kecamatan Utan demikian sepi. Di jalan aspal yang relatif mulus itu, saya tidak menemukan satu orang pun, alih-alih kendaraan bermotor. Saya baru melihat deretan rumah lagi setelah terang tanah.
Dari Utan menuju Rhee jalan naik-turun dan berkelok, dengan pemandangan laut di sisi kiri yang sangat indah. Karena perut mulai lapar, saya sarapan di warung yang terletak di perbatasan Utan dan Rhee. Jarum jam di arloji menunjuk ke angka 07. 30 WITA.
Setelah masuk wilayah Pantai Sentigi hingga menjelang Sumbawa Besar, jalanan berkelok dan naik-turun. Meskipun hari itu saya hanya menempuh 64,7 kilometer, tapi terasa cukup berat.
Udara panas membuat saya cepat lelah. Tapi kelelahan itu terbayar oleh indahnya alam sepanjang jalan. Bahkan saya sempat mengalami ekstase.
Saya sampai di Sumbawa Besar pukul 09.35 WITA. Setelah menginap semalam di hotel yang terletak di Jl. Garuda, pukul 04.45 WITA saya mulai perjalanan lagi. Saya sengaja berangkat lebih pagi. Target saya hari itu adalah Kecamatan Empang.
Begitu keluar dari Sumbawa Besar, saya langsung dihajar tanjakan. Tepat pukul 05.30 matahari muncul perlahan dan langit menjadi merah.
Langit hanya cerah untuk beberapa saat. Tidak lama kemudian, mendung tipis menyelimuti hingga belasan kilometer. Udara terasa sejuk, tidak panas seperti perjalanan dari Pototano-Alas-Sumbawa Besar.
Setelah menempuh perjalanan 31,8 kilometer, saya istirahat dan makan pagi di Desa Lape, Kecamatan Lape. Kecamatan ini masih masuk dalam wilayah Kabupaten Sumbawa.
Setelah selesai sarapan dan mulai mengayuh lagi, saya merasakan mata kaki kiri dan paha kanan nyeri lagi. Meski tidak sesakit pada perjalanan hari pertama, tapi cukup menganggu.
Saya mencoba untuk tetap melanjutkan perjalanan agar bisa mencapai minimal 30 kilometer lagi. Dari awal saya memang sudah membuat target pitstop minimal 30 kilometer.
Pada kilometer 66,1 dari Sumbawa Besar, saya berhenti di toko swalayan di Kecamatan Plampang. Jam di ponsel menunjukkan pukul 09.20 WITA
Setelah mengisi air untuk dua bidon dan membeli puding dingin, saya berselonjor sambil mengoles bagian yang sakit dengan minyak gosok. Di toko swalayan itu saya istirahat sekitar lima belas menit.
Beberapa kilometer setelah meninggalkan toko swalayan di Plampang, gerimis datang. Sebentar kemudian titik-titik air itu berubah menjadi hujan deras. Saya berteduh di emperan toko yang tutup. Kecamatan Empang masih 15 kilometer lagi.
Menurut data yang saya dapat dari Google, di Empang ada satu penginapan. Sebelum masuk Empang saya mampir membeli dua buah pepaya di pinggir jalan. Satu buah saya habiskan di tempat, satu lagi akan saya makan di penginapan. Sudah dua hari ini saya mengalami konstipasi.
Saya masuk Kecamatan Empang pukul 12.55 WITA. Penginapan yang ditunjukkan Google ternyata masih belum siap ditempati. Oleh salah satu penduduk setempat, saya disarankan mencari penginapan di Kecamatan Tarano.
Di Kecamatan Tarano, saya menginap 2 malam untuk recovery. Saya butuh istirahat yang cukup, sebelum menghadapi tanjakan Nanga Tumpu.
Wilayah yang masuk dalam Kecamatan Manggalewa itu memang dikenal memiliki tanjakan cukup terjal. Selain itu, tebing di sepanjang jalan rawan longsor.
Jauh sebelum saya memulai perjalanan kali ini, Nanga Tumpu menghantui benak saya. Ternyata belakangan saya baru tahu, ada rentetan tanjakan lain yang lebih berat, sebelum akhir perjalanan.[T]
Penulis: Made Wirya
Editor: Jaswanto
![Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [11]—Menginap Dua Malam di Tarano Sebelum Menghadapi Nanga Tumpu](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/08/Made-Wirya-1-750x375.jpg)


























