“SETAHU saya, sekarang hanya tinggal tiga orang saja yang masih menenun,” ujar perempuan kelahiran 1991 itu sesaat setelah ia selesai merangkai alat tenunnya yang tua. “Warisan ibu,” katanya kemudian. Siang itu ia sedang menenun di teras rumahnya yang kecil dan sebentar-sebentar mengelap peluh di dahinya. Udara panas membuatnya berkeringat.
Hari yang gerah di Desa Tua Julah, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali. Desa yang diyakini sudah ada sejak pemerintahan Ratu Sri Ugrasena itu, memang terkenal dengan kain tenun ikat tradisionalnya. Mereka menyebutnya kain bebali. Sehingga, berbicara Julah kurang lengkap rasanya kalau tidak menyinggung tradisi memintal dan menenun kainnya.
Di Julah, memintal dan menenun benang tentu saja bukan aktivitas kemarin sore, kegiatan itu memiliki hikayat yang panjang, jauh sebelum orang-orang Negeri Kincir Angin berkulit pucat itu datang dan memancangkan kekuasaannya di Bali. Tradisi memintal dan menenun di Julah barangkali sama tuanya dengan usia Desa Julah itu sendiri.

Ketut Resiani, salah satu dari tiga perempuan Julah yang masih menenun | Foto: tatkala.co/Jaswanto
“Di seluruh desa hanya tinggal tiga?” tanya saya memastikan setelah mendengar Ketut Resiani—perempuan kelahiran 1991 itu—menjawab pertanyaan saya sebelumnya.
“Iya. Setahu saya hanya tinggal tiga orang,” Resiani menjawab sekali lagi dengan tegas. Padahal, dulu, hampir semua perempuan Julah bisa memintal dan menenun benang. Tapi sekarang, hanya ada tiga perempuan yang masih produktif menenun, salah satunya Resiani.
“Siapa saja itu, Mbok?” saya kembali bertanya.
“Saya sendiri dan kedua saudara saya,” jawabnya sembari menata benang dengan teliti. Jari-jemarinya begitu terampil. Sedangkan matanya tekun dan teliti. Baginya, tenun bukan hanya soal kegiatan ekonomi, tetapi juga bentuk pelestarian budaya dan identitas tanah airnya.

Alat tenun tradisional Julah milik Ketut Resiani | Foto: tatkala.co/Jaswanto
“Mertuanya memang penenun,” I Ketut Suarjaya, warga Julah yang mengantar saya menemui Resiani, menimpali. Resiani membenarkan ucapan Suarjaya. Sejak dulu, keluarga suaminya memang terkenal sebagai penenun. Semua orang Julah, termasuk Suarjaya, tahu itu.
Siang itu, Resiani dan Suarjaya tidak dapat menutupi kegusarannya. Mereka berdua tertegun sesaat setelah menyampaikan bahwa tenun Julah sedang di ambang kepunahan. Kekhawatiran mereka dapat saya pahami sebab bagi orang Julah, kain tenun bukan sekadar urusan sandang belaka, lebih dari itu, kain Julah juga berkaitan dengan upacara-upacara suci mereka. Oleh karena itu, selama orang Julah masih memegang erat keyakinan mereka, sebisa mungkin, kain Julah tidak boleh punah.
Tapi Julah kesulitan regenerasi penenun—sebagaimana terjadi di banyak tempat di Indonesia—, meski persoalan itu bukan karena minat dari generasi muda Julah, itu terjadi karena masalah kurangnya infrastruktur.
“Alat tenun sangat mahal,” terang Resiani. Saya menatap matanya. Ada kilatan letih dan perasaan kesal di situ. “Padahal, di Julah banyak perempuan muda yang ingin menenun,” sambungnya, intonasinya meninggi, seolah ia ingin berteriak bahwa tenun Julah perlu diperhatikan. Dan ia berharap segera ada bantuan alat tenun untuk Desa Julah.

Ketut Resiani, salah satu dari tiga perempuan Julah yang masih menenun | Foto: tatkala.co/Jaswanto
Tetapi, persoalan kain Julah bukan hanya tentang berkurangnya jumlah penenun, tapi juga soal sedikitnya petani Julah yang menanam kapas. Menurut Suarjaya, kapas di Julah kalah dengan bibit-bibit jeruk dan tanaman lainnya—yang notabene dipandang lebih menguntungkan daripada menanam tanaman yang tumbuh di hampir semua benua itu. Saat ini, penenun seperti Resiani harus membeli kapas dari luar Desa Julah, sama seperti leluhurnya pada abad ke-12.
Sekadar informasi, pada abad ke-12 Masehi, penduduk Julah membeli kapas dari Kintamani, wilayah agraris yang teronggok di balik bukit yang rebah di selatan Julah. Prasasti Kintamani E—yang dikeluarkan Sri Maharaja Haji Ekajaya Lancana yang memerintah pada 1200an Masehi—mencatat bahwa pada masa itu penduduk Kintamani sudah berniaga kapas ke desa-desa di pesisir Bali Utara, seperti Les, Paminggir, Hiliran, Buhun Dalem, Julah, Purwasidhi, Indrapura, Bulihan, dan Manasa. (Pohon kapas banyak ditanam di sebelah timur Desa Sukawana, Kintamani, yakni antara Panursuran dengan Balingkang, seperti yang tertulis dalam Prasasti Sukawana D (1122 Saka).)
Menariknya, dalam Prasasti Kintamani E, hanya penduduk Kintamani yang diperbolehkan raja untuk berniaga kapas di desa-desa di pesisir Bali Utara. Sedangkan penduduk di sekitar Danau Batur (Bwahan, Kedisan, Trunyan, Songan, dan Abang) tidak diperkenankan berjualan kapas ke daerah-daerah tersebut. Apabila orang-orang di sekitar Danau Batur melanggar peraturan itu, maka akan dijatuhi denda 3 ma su 2 ma [dosa mā sū 3 mā 2].

Benang hasil pintalan kapas milik Wayan Sarining, warga Julah | Foto: tatkala.co/Jaswanto
Oleh karena itulah, Julah dan beberapa desa di wilayah Tejakula memiliki hubungan dendritik dengan wilayah di pedalaman Kintamani, sebagaimana dituliskan I Wayan Ardika dalam buku Manusia dan Kebudayaan Bali 2000 tahun Silam (2022). Hubungan ini, selain disebut jelas dalam prasasti (Sukawana D dan Kintamani E), juga bisa dilihat melalui keterkaitan antara penduduk di pesisir Tejakula dengan Pura Puncak Penulisan di Desa Sukawana, Kintamani.
Sebutlah orang-orang Sembiran, Pacung, dan Julah, misalnya, yang selalu menghaturkan sesajen (persembahan) tertentu ke Sukawana yang terdiri atas campuran biji-bijian, kapas, kumparan benang, dan kain jubah untuk pendeta di Sukawana: Jero Kubayan dan Jero Bau. Orang-orang dari Julah dan Sembiran memberi tiga helai kain termasuk sarung dengan pola hitam dan putih (kamben kotak geles) dan kain putih untuk pinggang (saput putih).
Kembali ke persoalan kain tenun Julah. Wayan Sarining—warga Julah—menyampaikan bahwa hampir semua upacara di Julah selalu menyertakan kain tenun di dalamnya. Menurut Sari, ada 12 macam kain Julah yang termasuk dalam sarana upacara, yakni kain salinan daki, lad sayut, geringsing, salinan telah, kampuh telah, teteh agung, baas gede, kampuh daki, subagi, sekukuk, kamen sayut, dan kasang.

Jantra, alat memintal benang di Desa Julah | Foto: tatkala.co/Jaswanto
Kain-kain itu disertakan dalam upacara yang berbeda-beda. Misalnya kain lad sayut digunakan saat upacara tiga bulanan; atau kain kasang yang digunakan saat upacara pernikahan. Dan dalam struktur banten (persembahan), kain ikat Julah ditempatkan di bagian paling atas.
“Kalau penenun di Julah punah, bagaimana kami bisa upacara?” ujar Sarining—yang juga kerap dipanggil Sari Arta sebab suaminya bernama Wayan Sudiarta. Mendengar pertanyaan itu, saya hanya bisa tersenyum getir.[T]
Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole



























