14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sampah Plastik dan Ragam Tangan di Balik Topeng Rama-Laksmana pada Panggung Bulfest 2025

Son Lomri by Son Lomri
August 19, 2025
in Panggung
Sampah Plastik dan Ragam Tangan di Balik Topeng Rama-Laksmana pada Panggung Bulfest 2025

Pemasangan topeng besar di panggung utama Bulfest 2025 | Foto: tatkala.co/Son

AJANG Buleleng Festival (Bulfest) belum dimulai, namun di panggung utama, di depan Tugu Singa Ambara Raja seakan-akan sudah terjadi pertunjukan seni yang layak ditonton dengan cermat. Bulfest dibuka Senin, 18 Agustus 2025, namun di atas panggung pada Sabtu malam, 16 Agustus, sejumlah orang bergerak teatrikal dengan bloking tak terduga untuk memasang dua topeng besar lengkap dengan segala pernak-perniknya.

Dua lelaki muda, Kadek Ega Saputra Yuda dan Gede Pratama Putra Sena, baru saja usai memasang backdrop yang akan dijadikan latar panggung sekaligus tatakan topeng besar itu. Mereka tampak duduk sembari memandang hasil kerjaan mereka.

Di samping mereka, di atas panggung utama itu juga, sejumlah pekerja tampak sibuk memasang mahkota warna emas pada topeng Laksmana. Seorang lelaki berwajah tenang dengan topi kotak-kotak khas seniman, Wayan Balik Mustiana, berusaha keras untuk merekatkan mahkota pada wajah Laksmana. Sementara, topeng Rama baru saja usai dirias—berkumis gagah dengan presisi yang kuat.

Wayan Balik Mustiana (topi kotak-kotak) menghias topeng sebelum dipasang | Foto: tatkala.co/Son

Setelah topeng Laksmana juga selesai dihias, sejumlah orang bersiap melakukan adegan kerja berikutnya. Mereka membopong topeng Rama untuk segera dipasang di satu backdrop sisi kiri. Sebagian orang menanti di belakang bertugas memasang tali.  Di bagian depan, beberapa orang menahannya, hingga akhirnya topeng itu terpasang. Demikian juga cara memasang topeng Laksmana di backdrop sisi kanan.

Napas para pekerja yang beberapa di antaranya adalah seniman pembuat topeng itu, agak terengah. Tapi wajah mereka jelas menunjukkan rona puas. Kerja sudah selesai.

Di tempat yang agak berjarak, ada seorang lelaki lebih mirip sebagai sutradara. Ia sesekali memberi perintah, sesekali mengamati dengan seksama hasil kerja orang-orang di atas panggung. Ia, Putu Eka Darmawan. Ia, pengelola Rumah Plastik Mandiri, sebuah lembaga yang memiliki usaha pengelolaan sampah plastik untuk dijadikan barang-barang yang berguna.

“Hidungku ada sinus. Harus segera operasi. Setelah ini, aku mau ambil libur. Istirahat,” kata Eka Darmawan, setelah menunjukkan rasa puas terhadap pemasangan dua topeng di panggung utama itu.

Proses pemasangan topeng besar di panggung Bulfest | Foto: tatkala.co/Son

Eka Darmawan, untuk urusan dua topeng di panggung utama itu, memang boleh disebut sutradara. Sejak ditunjuk panitia Bulfest untuk membuat topeng besar berbahan sampah plastik, ia langsung ambil tanggung jawab, dari mengumpulkan sampah plastik, mengerjakan tatakan, topeng, hingga terpasang dengan gagah sebagai latar panggung.

Untuk pekerjaan itu, ia lakukan dengan sangat serius, bahkan sampai menunda operasi sinus di hidungnya. Untungnya ia punya rekan kerja yang juga gigih. Seperti Kadek Ega Saputra Yuda dan Gede Pratama Putra Sena, dua pemuda yang ia ajak bekerja di studio kerjanya di Banyuning dan Desa Petandakan. Ada juga Wayan Balik Mustiana, seniman pembuat topeng asal Sukawati, Gianyar, untuk mewujudkan bentuk wajah pada dua topeng itu.

Proses pemasangan topeng besar di panggung Bulfest | Foto: tatkala.co/Son

Dan, pada Sabtu malam, dua topeng besar itu pun terpasang, dan setelah itu Eka memutuskan istirahat, lalu memikirkan untuk mengambil jadwal operasi.

“Topeng sudah terpasang, Bulfest segera mulai, dan aku akan cari jadwal operasi,” kata Eka Darmawan sambil tertawa lega.

Proses Panjang Menuju Panggung Utama

Topeng Rama dan Laksmana di latar panggung utama Bulfest 2025 itu akan terpasang hingga Bulfest usai, Sabtu, 23 Agustus. Bulfest 2025 mengambil tema “The Mask of Buleleng : Topeng Leluhur, Jiwa Buleleng”.  Karena itulah, backdrop dan dua topeng karya Eka Darmawan dan kawan-kawan itu menjadi ikon penting untuk membuktikan bahwa Buleleng benar-benar mencintai topeng warisan leluhur, sekaligus membuktikan bahwa Buleleng bisa mengolah sampah plastik menjadi benda bernilai guna dan bernilai artistik.

Setelah Bulfest dibuka, Senin malam, 18 Agustus, dua topeng besar di latar panggung utama Bulfest itu benar-benar menyita perhatian penonton. Namun tak banyak yang bertanya, bagaimana proses pembuatan topeng itu dimulai, di mana mencari bahannya, bagaimana mengerjakannya, siapa saja yang mengerjakannya, dan lain-lain, hingga topeng itu berada di panggung utama.

Tiga hari sebelum topeng dipasang di panggung utama, atau lima hari sebelum Bulfest dibuka, pabrik pengolahan sampah plastik di Banyuning milik Eka Darmawan sempat menjadi semacam dapur umum yang sibuk.  Ruangan itu bertembok seng beratap asbes. Bising suara mesin terdengar menjerit memenuhi ruangan. Udara bercampur debu halus plastik dari liang mesin profil, zigso, grumble, dan bor, beterbangan ke sela pekerja sedang sibuk bekerja.

“Lembur!” kata Kadek Ega Saputra Yuda, ketika ditemui tatkala.co, Rabu siang, 13 Agustus.

Kadek Ega Saputra Yuda sedang bekerja di dalam ruang ukir dan di mesin open | Foto : tatkala.co/Son

Kadek Ega Saputra Yuda, atau biasa disapa Ega, di studio itu bekerja bersama sang kakak; Gede Pratama Putra Sena. Saat itu mereka sedang mengerjakan-membuat 110 papan dari plastik untuk dua backdrop sebagai latar panggung dan tempat pemasangan topeng.

Dan ketika hari sudah siang, hawa panas di ruangan itu semakin terasa seperti hawa panas di dalam open. Tapi Kadek Ega Saputra Yuda, dengan kaos bertuliskan; “The Nani Ngurusang Ake”, seakan tak peduli pada bising dan hawa panas udara nyegrak yang dihirupnya.

Satu langkah dari pintu ruang ukir, lelaki itu masih terus sibuk membuka cacahan plastik di karung bertali mati. Dibukanya tali itu dengan pisau kecil. Lalu dipisahkan sebagian cacahan di dalamnya, ke wadah untuk ditimbang.

“Setiap papan, cacahan plastiknya harus delapan kilo,” katanya hendak menimbang.

Selepas itu ia gelar cacahan ke loyang besi memanjang di dekat open. Loyang besi itu beratnya 15 kg, lantas ia dorong kuat-kuat loyang itu dengan batang besi lain sampai masuk ke dalam open.

Api menyala. Seperti menunggu adonan pizza matang, ia tinggalkan open itu selama satu setengah jam.

Alihwana Topeng dari Kayu ke Bahan Limbah Plastik        

Eka Darmawan memang sudah terbiasa membuat barang berguna, seperti kursi, meja, termasuk aspal, dari olahan sampah plastik. Tapi, untuk membuat topeng, apalagi dengan tenggat waktu yang terbatas, baru pertama kali ia lakukan.

“Kesulitannya, membawa topeng itu ke ranah ciptaan yang lebih besar. Untuk topengnya saja sekitar enam meter, belum lagi menggunakan backdrop, bisa jadi 10 meter,” kata Eka Darmawan.

Sebab itu para pekerjanya terpaksa  harus lembur sejak tanggal 5 sampai tanggal 17 Agustus untuk mengupayakan agar proyek topeng Bulfest selesai tepat waktu. Dan, kerja keras itu sampai membuat hidung Eka Darmawan ingusan dan terus meler-mencair, akibat banyak mengirup debu halus plastik.

“Proyek ini dibuat hingga sakit kepala dan sakit pinggang,” kata Eka.

Putu Eka Darmawan sedang mengendalikan mesin ukir di ruang ukir | Foto: tatkala.co/Son

Beberapa hal tersulit di proyek itu, yaitu di bahan baku yang menghabiskan sekitar satu setengah ton untuk backdrop dan topeng. Setiap backdrop berukuran 4,5 m x 10 m.

Sehingga ia harus berpikir lebih keras untuk membuat konstruksi rangka. “Agar kuat menampung beban topeng wajah Rama dan Laksamana, dan tidak jatuh dihantam angin,” ujar Eka.

Setiap papan di backdrop itu diberi 203 lobang angin. Setiap backdrop, ada 55 papan, atau 110 papan untuk dua backdrop. Sekitar 22.330 lubang angin harus dibuat oleh banyak pekerja. Beberapa di antaranya ada Kadek Ega Saputra Yuda, ada Gede Pratama Putra Sena, Ketut Merta Samiada, Kadek Andri, Surya Mahendra, dan ada Alex.

Yang membuat proyek ini sampai membuat hidung Eka meler, sakit kepala dan sakit pinggang, juga ada pada proses produksi topengnya. Karena topeng itu dibuat tiga  dimensi, sehingga harus ada tim yang lebih profesional untuk di bagian topeng.

“Karena, harus benar-benar bentuknya pada presisi. Selain bentuk topeng, ukirannya, dan pernak-perniknya itu dibuat harus sesuai dengan aslinya,” kata Eka menyebut bagian tersulit mengerjakan bagian topeng Rama dan Laksmana.

Sehingga dalam proyek tersebut, Rumah Plastik—yang digawangi oleh Putu Eka Darmawan itu, akhirnya melakukan kerjasama dengan seniman asal Gianyar, Wayan Balik Mustiana. Dua topeng itu dikerjakan Mustiana. Sedang untuk backdrop atau kerangka, dibuat di Buleleng oleh Eka Darmawan dan tim.

Wayan Balik Mustiana mengatakan pembuatan topeng dikerjakan dengan tangan. “Handmade. Tidak menggunakan cetakan mesin untuk membuat wajah Rama dan Laksmana,” kata Wayan Balik Mustiana di sela-sela pemasangan topeng di panggung utama pada Sabtu malam.

Gede Pratama Putra Sena sedang memasang masker sebelum bekerja | Foto : tatkala.co/Son

Wayan Balik Mustiana merancang dua topeng itu secara manual, berikut dengan pernak-perniknya—diukir sendiri. Tapi ia juga dibantu dua rekannya; Nyoman Badra dan I Kadek Gargita, dalam urusan memasang—mengangkat.

“Tinggi wajahnya dua meter. Lebarnya 1,75 meter. Nah, itu, perhitungannya harus benar. Diperhitungkan juga ketebalannya. Harus betul-betul kuat. Itu ngangkat sendiri tidak bisa, karena beratnya 180 kg,” kata Balik Mustiana.

Menurut Mustiana, satu topeng menghabiskan sekitar 180-200 kiloan cacahan plastik. Proses dalam membuat topeng itu, ia menggunakan teknik dalam pembuatan ogoh-ogoh. Yaitu membuat kerangka terlebih dahulu.

Namun bedanya dalam proses pembuatan topeng itu, ia memulainya dari belakang. Bukan dari bagian depan.

“Sehingga detail depannya kita gak tahu. Karena kita hanya bisa melihat dari belakang. Kita main perasaan,” lanjut Mustiana.

Topeng, Recycle, Karya Seni Sebagai Edukasi

Biasanya, kata Balik Mustiana, ia membuat patung berbahan logam.  Ya, dia adalah seniman patung logam. Sehingga ia merasa tertantang untuk terlibat di proyek itu bersama Eka Darmawan, sebagai pengalaman pertamanya.

Tapi mengapa Rumah Plastik menerima proyek yang cukup sulit itu? Jawaban Eka, idealisme mesti dicarikan jalan. Jangan mandek.

“Aku ngurus sampah sudah sembilan tahunan, sejak 2016. Aku ngolah sampah pertahun itu lebih dari satu ton. Dari awal aku kerja, aku fokus pada kuantiti yang diserap. Itu dianggap sebuah hal yang, gak ada yang care-lah,” kata Eka Darmawan.

Suasana di tempat membuat papan berbahan plastik | Foto : tatkala.co/Son

Eka merasa bahwa tipe daur ulang sampah yang diterima oleh masyarakat Bali berbeda dengan daerah-daerah lainnya di Indonesia. Jika di Jawa mengurusi sampah 600 ton perbulan di Jawa Timur, langsung mendapat apresiasi yang besar dari masyarakat. Tapi di Bali tidak. Minim apresiasi.

Namun cerita berubah setelah ia berhasil membuat meja pertama kali dari sampah. Orang-orang di sekitarnya, menatapnya penuh hebat. Beberapa wartawan meliputnya kemudian.

Sebab itulah, katanya. “Aku mau menerima proyek pembuatan topeng ini, karena lebih banyak orang peduli pada hilirnya, yaitu hasilnya.” kata Eka Darmawan.

Melalui pembuatan topeng sekaligus tatakannya dengan ukuran raksasa itu, Eka sangat berharap bisa menjadi sarana alternatif untuk menjangkau kesadaran tentang sampah, bahwa, ujung dari sampah adalah karya.

Cacahan sampah plastik yang sudah didaur ulang untuk bahan backdrop dan topeng | Foto: tatkala.co/Son

“Kalau kami di Rumah Plastik, soal plastik, itu sudah selesai. Dan Buleleng punya potensi itu juga,” lanjut Eka menegaskan.

Sampai di situ, ia juga menjelaskan bahwa yang menjadi masalah di Buleleng terkait sampah adalah exposure dan tentang impact atau dampak. “Seakan-akan sampah plastik itu diserap lalu selesai, padahal jauh dari pada itu,” tambahnya.

Satu waktu, ia pergi ke desa-desa dan mengajak desa-desa yang ia datangi itu, untuk membantunya melakukan sesuatu tentang sampah, dibuat produk. Tapi ia jatuh pada penolakan.

Sebab, yang desa-desa itu inginkan, adalah sebatas mengumpulkan sampah kemudian mengirimnya ke Rumah Plastik. Tentu, Eka menolak.

Karena spirit yang hendak ia bangun, adalah—setiap desa memiliki tempat daur ulang sampah masing-masing. Tidak sebatas mengumpulkan lalu menabung.

“Untuk itu aku memaksakan diriku dan timku, mau masuk ke proyek ini. Apakah produk topeng itu akan bertahan lama? Ya, aku tidak tahu. Balik lagi, yang aku buatkan adalah sebuah benda, bagaimana digunakan, tentu tergantung yang punya,” kata Eka.

Ia juga menegaskan, bahwa, setidaknya, sarana untuk pemerintah melakukan edukasi, itu sudah ada—dalam bentuk karya seni jiwa leluhur, di panggung utama Bulfest.

Backdrop, Wajah-Wajah Marjinal Tanpa Topeng

Dari mana sampah-sampah plastik untuk membuat backdrop dan topeng itu berasal?

“Asalnya dari Buleleng. Jadi kita bekerja sama dengan Kodim. Kerjasama, untuk, mereka tuh semacam kolekting (kegiatan mengumpulkan) sampah plastik, gitu.” kata Eka.

Rumah Plastik yang dibangun Putu Eka Darmawan itu berjenis Bank Sampah Induk. Ia hanya menerima sampah dari kelompok saja, tidak bisa dari individu secara langsung.

Proses pembuatan papan dari plastik daur ulang untuk backdrop di panggung utama Bulfest | Foto: tatkala.co/Son

Di Desa Petandakan, Eka Darmawan membangun gudang untuk menampung sampah-sampah itu, kemudian dipilah sesuai jenisnya—hingga proses pencacahan. Gudang sampah di rumahnya hanyalah gudang bersifat sementara sebagai tempat produksi.

Siapa yang melakukan sortir dan mengendalikan mesin pencacah? Adalah kaum marjinal.  Di sana, ada sekitar 40 pekerja di bagian sortir, atau pemilah, dan beberapa di antara mereka juga pengendali mesin cacah.

Mereka rerata sudah lanjut usia yang sudah dilatih. Sebagai founder yang ramah lingkungan dan humanis, Eka menganggap mereka adalah pekerja keras yang wajib ditolong—agar bisa bekerja.

“Aku terima siapa saja yang mau bekerja. Aku lebih banyak menerima orang marjinal, seperti mereka, yang dianggap barangkali tidak bisa diandalkan di tempat kerja lain,” kata Eka.

Orang-orang marjinal atau orang yang terpinggirkan secara skill maupun kesempatan kerja, Eka Darmawan menganggap itu sebagai masalah serius. Karena menurutnya, setiap orang punya hak untuk bekerja.

Lantas, ia menerimanya dengan lapang dada. Dilatihnya dari nol, bahkan dari minus. Satu waktu, kata Eka, seorang pekerja dengan kakinya lumpuh tidak bisa berjalan, namun memiliki kemauan atau etos kerja yang tinggi terlihat dari sorot matanya.

Tidak membutuhkan syarat harus begini harus begitu, Eka segera rekrut ia sebagai pekerja. Dia antarkan secara langsung sampah-sampah ke rumah si pekerja itu—tanpa peduli akan habis bensin.

“Karena banyak dari mereka, tuh, orang yang ingin kerja. Cuma, ada yang lumpuh, tidak bisa jalan, tidak punya motor. Ya, kami, anterin sampah-sampah itu ke rumahnya,” lanjut Eka.

Tindakan kemanusiaan Eka tidak berhenti di sana, kali ini ia sedang renovasi gudang sampah miliknya di Desa Petandakan. Renovasi sudah berjalan empat bulan, dan akan selesai di akhir bulan ini. Di gudang itu, yang awalnya hanya berfokus pada kerja daur ulang, sekarang di-include-kan, dengan tambahan fasilitas untuk edukasi.

“Tapi itu masih proses. Harus pelan-pelan. Satu-satu dulu, bagaimana gudang itu secepatnya bisa difungsikan, nanti, di awal bulan November—akan launching.” jelasnya.

Pekerja muda sedang mengerjakan proses pembuatan papan backdrop untuk panggung utama di Bulfest | Foto: tatkala.co/Son

Kadek Ega Saputra Yuda dan Gede Pratama Putra Sena, adalah salah dua penerima manfaat dari Rumah Plastik soal pekerjaan, termasuk pekerjaan membuat topeng Bulfest.

Ketika lembur, misalnya, Ega Saputra mengaku betah bekerja ketimbang menganggur—panjang setelah putus sekolah SMP.

“Saya tak ingat tahun berapanya saya keluar sekolah karena bosan itu. Tapi nanti semoga ada kesempatan untuk melanjutkannya lagi di SMP 6,” lanjut Ega Saputra.

Dari hasil bekerja selama enam bulan di sana, termasuk ikut dalam proyek pembuatan topeng di Bulfest itu, ia merasa bangga sudah bisa membeli motor merk Vario. Dan lembur, artinya menambah pemasukan untuk uang jajan. “Sisanya, kalau ada lebih, saya kasih ke orang tua,” lanjut Ega Saputra berbakti di sela bekerja.

Sementara itu, Gede Pratama Putra Sena, sang kakak, sudah bekerja selama setahun di Rumah Plastik.

“Saat pengerjaan backdrop topeng untuk Bulfest ini, saya tugasnya menghaluskan papan sebelum akan diproses, dibuatkan lubang di ruang ukir,” kata Gede Pratama Putra Sena.

Backdrop dan topeng Rama-Laksmana yang sudah terpasang saat seniman melakukan gladi pementasan di panggung utama Bulfest 2025 | Foto: tatkala.co/Son

Ega Saputra dan Gede Pratama Putra, tentu saja bisa dianggap sebagai bagian dari suksesnya Bulfest 2025 ini.  Meskipun mereka bukan seniman yang pentas di atas panggung, tapi hasil pekerjaannya akan selalu ditonton di panggung utama.

“Pekerjaan selesai, topeng sudah terpasang. Kini bersiap ke Bulfest nanti untuk menghibur diri,” kata Ega Saputra, setelah pemasangan topeng benar-benar beres di panggung utama, Sabtu malam itu. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Jaswanto

Tags: bulelengbuleleng festivalBulfest 2025daur ulang sampah plastikRumah Plastiktopeng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menulis Feature: Gampang-gampang Susah — Apresiasi untuk Buku Kumpulan Berita Kisah “Sukawati, Ya Seni”

Next Post

Akhir Era Tenun Julah Tejakula

Son Lomri

Son Lomri

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk PKB 2026

by Nyoman Budarsana
May 10, 2026
0
Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk PKB 2026

DESA Mengwi yang dulunya sebagai pusat kerajaan mewarisi berbagai kebudayaan, tradisi dan nilai-nilai luhur yang sangat penting bagi kehidupan bermasyarakat...

Read moreDetails

Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas

“Ogoh-ogoh itu bukan lagi kesenian musiman. Tetapi kesenian yang dikerjakan sepanjang masa.” Kalimat pembuka itu meluncur dari Dr. I Made...

Read moreDetails

Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

by Dede Putra Wiguna
April 30, 2026
0
Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

SEJAK dibentuk pada 2008 di Bali, Dialog Dini Hari konsisten mempertahankan pendekatan musik yang tenang dan reflektif. Kini, band indie...

Read moreDetails

Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

by Dede Putra Wiguna
April 29, 2026
0
Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

CINEPOLIS Plaza Renon menjadi titik temu antara ingatan, penghormatan, dan refleksi. Di sanalah BALIDOC menggelar diseminasi sekaligus penayangan perdana film...

Read moreDetails

Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi

LOMBA Tari Bali yang digelar pada 25–26 April 2026 di Auditorium Redha Gunawan, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali), menjadi...

Read moreDetails

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
0
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

Read moreDetails

Ketika Musik, Lukisan, dan Kesadaran Bertemu dalam Nyanyian Dharma

by Pranita Dewi
April 20, 2026
0
Ketika Musik, Lukisan, dan Kesadaran Bertemu dalam Nyanyian Dharma

Pertunjukan Nyanyian Dharma digelar di Ruang Taksu, Gedung Dharma Negara Alaya (DNA), Denpasar, Minggu (19/4) malam, menampilkan kolaborasi musik dengan...

Read moreDetails

‘Wellnes Conference’ di Bali Spirit Festival: Preventif Ciri ‘Wellness Tourism’, Kuratif Tujuan ‘Medical Tourism’

by I Nyoman Darma Putra
April 19, 2026
0
‘Wellnes Conference’ di Bali Spirit Festival: Preventif Ciri ‘Wellness Tourism’, Kuratif Tujuan ‘Medical Tourism’

Perbedaan antara wellness tourism dengan medical tourism menjadi salah satu pertanyaan dalam dalam Wellness Conference (Wellness Talk Show), Kamis, 16 April 2026, di Pelataran Hotel, Ubud....

Read moreDetails

Eksplorasi Material dan Gerak, Serangkai Inovasi Komunitas Wayang Ental di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Komang Puja Savitri
April 14, 2026
0
Eksplorasi Material dan Gerak, Serangkai Inovasi Komunitas Wayang Ental di Festival Wayang Bali Utara 2026

SEJAK awal, ada rasa penasaran yang menggantung di antara penonton yang duduk lesehan di wantilan Museum Soenda Ketjil. Wayang, dalam...

Read moreDetails

Membaca Buleleng dalam Museum Soenda Ketjil —Catatan Kecil dari Festival Wayang Bali Utara 2026

by Son Lomri
April 12, 2026
0
Membaca Buleleng dalam Museum Soenda Ketjil —Catatan Kecil dari Festival Wayang Bali Utara 2026

MALAM itu, Kamis, 9 April 2026, ada pertunjukan wayang kulit serangkaian Festival Wayang Bali Utara (FWB) di Wantilan Pelabuhan Tua...

Read moreDetails
Next Post
Akhir Era Tenun Julah Tejakula

Akhir Era Tenun Julah Tejakula

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co