12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Akhir Era Tenun Julah Tejakula

Jaswanto by Jaswanto
August 19, 2025
in Khas
Akhir Era Tenun Julah Tejakula

Ketut Resiani, salah satu dari tiga perempuan Julah yang masih menenun | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“SETAHU saya, sekarang hanya tinggal tiga orang saja yang masih menenun,” ujar perempuan kelahiran 1991 itu sesaat setelah ia selesai merangkai alat tenunnya yang tua. “Warisan ibu,” katanya kemudian. Siang itu ia sedang menenun di teras rumahnya yang kecil dan sebentar-sebentar mengelap peluh di dahinya. Udara panas membuatnya berkeringat.

Hari yang gerah di Desa Tua Julah, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali. Desa yang diyakini sudah ada sejak pemerintahan Ratu Sri Ugrasena itu, memang terkenal dengan kain tenun ikat tradisionalnya. Mereka menyebutnya kain bebali. Sehingga, berbicara Julah kurang lengkap rasanya kalau tidak menyinggung tradisi memintal dan menenun kainnya.

Di Julah, memintal dan menenun benang tentu saja bukan aktivitas kemarin sore, kegiatan itu memiliki hikayat yang panjang, jauh sebelum orang-orang Negeri Kincir Angin berkulit pucat itu datang dan memancangkan kekuasaannya di Bali. Tradisi memintal dan menenun di Julah barangkali sama tuanya dengan usia Desa Julah itu sendiri.

Ketut Resiani, salah satu dari tiga perempuan Julah yang masih menenun | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Di seluruh desa hanya tinggal tiga?” tanya saya memastikan setelah mendengar Ketut Resiani—perempuan kelahiran 1991 itu—menjawab pertanyaan saya sebelumnya.

“Iya. Setahu saya hanya tinggal tiga orang,” Resiani menjawab sekali lagi dengan tegas. Padahal, dulu, hampir semua perempuan Julah bisa memintal dan menenun benang. Tapi sekarang, hanya ada tiga perempuan yang masih produktif menenun, salah satunya Resiani.

“Siapa saja itu, Mbok?” saya kembali bertanya.

“Saya sendiri dan kedua saudara saya,” jawabnya sembari menata benang dengan teliti. Jari-jemarinya begitu terampil. Sedangkan matanya tekun dan teliti. Baginya, tenun bukan hanya soal kegiatan ekonomi, tetapi juga bentuk pelestarian budaya dan identitas tanah airnya.

Alat tenun tradisional Julah milik Ketut Resiani | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Mertuanya memang penenun,” I Ketut Suarjaya, warga Julah yang mengantar saya menemui Resiani, menimpali. Resiani membenarkan ucapan Suarjaya. Sejak dulu, keluarga suaminya memang terkenal sebagai penenun. Semua orang Julah, termasuk Suarjaya, tahu itu.

Siang itu, Resiani dan Suarjaya tidak dapat menutupi kegusarannya. Mereka berdua tertegun sesaat setelah menyampaikan bahwa tenun Julah sedang di ambang kepunahan. Kekhawatiran mereka dapat saya pahami sebab bagi orang Julah, kain tenun bukan sekadar urusan sandang belaka, lebih dari itu, kain Julah juga berkaitan dengan upacara-upacara suci mereka. Oleh karena itu, selama orang Julah masih memegang erat keyakinan mereka, sebisa mungkin, kain Julah tidak boleh punah.

Tapi Julah kesulitan regenerasi penenun—sebagaimana terjadi di banyak tempat di Indonesia—, meski persoalan itu bukan karena minat dari generasi muda Julah, itu terjadi karena masalah kurangnya infrastruktur.

“Alat tenun sangat mahal,” terang Resiani. Saya menatap matanya. Ada kilatan letih dan perasaan kesal di situ. “Padahal, di Julah banyak perempuan muda yang ingin menenun,” sambungnya, intonasinya meninggi, seolah ia ingin berteriak bahwa tenun Julah perlu diperhatikan. Dan ia berharap segera ada bantuan alat tenun untuk Desa Julah.

Ketut Resiani, salah satu dari tiga perempuan Julah yang masih menenun | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Tetapi, persoalan kain Julah bukan hanya tentang berkurangnya jumlah penenun, tapi juga soal sedikitnya petani Julah yang menanam kapas. Menurut Suarjaya, kapas di Julah kalah dengan bibit-bibit jeruk dan tanaman lainnya—yang notabene dipandang lebih menguntungkan daripada menanam tanaman yang tumbuh di hampir semua benua itu. Saat ini, penenun seperti Resiani harus membeli kapas dari luar Desa Julah, sama seperti leluhurnya pada abad ke-12.

Sekadar informasi, pada abad ke-12 Masehi, penduduk Julah membeli kapas dari Kintamani, wilayah agraris yang teronggok di balik bukit yang rebah di selatan Julah. Prasasti Kintamani E—yang dikeluarkan Sri Maharaja Haji Ekajaya Lancana yang memerintah pada 1200an Masehi—mencatat bahwa pada masa itu penduduk Kintamani sudah berniaga kapas ke desa-desa di pesisir Bali Utara, seperti Les, Paminggir, Hiliran, Buhun Dalem, Julah, Purwasidhi, Indrapura, Bulihan, dan Manasa. (Pohon kapas banyak ditanam di sebelah timur Desa Sukawana, Kintamani, yakni antara Panursuran dengan Balingkang, seperti yang tertulis dalam Prasasti Sukawana D (1122 Saka).)

Menariknya, dalam Prasasti Kintamani E, hanya penduduk Kintamani yang diperbolehkan raja untuk berniaga kapas di desa-desa di pesisir Bali Utara. Sedangkan penduduk di sekitar Danau Batur (Bwahan, Kedisan, Trunyan, Songan, dan Abang) tidak diperkenankan berjualan kapas ke daerah-daerah tersebut. Apabila orang-orang di sekitar Danau Batur melanggar peraturan itu, maka akan dijatuhi denda 3 ma su 2 ma [dosa mā sū 3 mā 2].

Benang hasil pintalan kapas milik Wayan Sarining, warga Julah | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Oleh karena itulah, Julah dan beberapa desa di wilayah Tejakula memiliki hubungan dendritik dengan wilayah di pedalaman Kintamani, sebagaimana dituliskan I Wayan Ardika dalam buku Manusia dan Kebudayaan Bali 2000 tahun Silam (2022). Hubungan ini, selain disebut jelas dalam prasasti (Sukawana D dan Kintamani E), juga bisa dilihat melalui keterkaitan antara penduduk di pesisir Tejakula dengan Pura Puncak Penulisan di Desa Sukawana, Kintamani.

Sebutlah orang-orang Sembiran, Pacung, dan Julah, misalnya, yang selalu menghaturkan sesajen (persembahan) tertentu ke Sukawana yang terdiri atas campuran biji-bijian, kapas, kumparan benang, dan kain jubah untuk pendeta di Sukawana: Jero Kubayan dan Jero Bau. Orang-orang dari Julah dan Sembiran memberi tiga helai kain termasuk sarung dengan pola hitam dan putih (kamben kotak geles) dan kain putih untuk pinggang (saput putih).

Kembali ke persoalan kain tenun Julah. Wayan Sarining—warga Julah—menyampaikan bahwa hampir semua upacara di Julah selalu menyertakan kain tenun di dalamnya. Menurut Sari, ada 12 macam kain Julah yang termasuk dalam sarana upacara, yakni kain salinan daki, lad sayut, geringsing, salinan telah, kampuh telah, teteh agung, baas gede, kampuh daki, subagi, sekukuk, kamen sayut, dan kasang.

Jantra, alat memintal benang di Desa Julah | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Kain-kain itu disertakan dalam upacara yang berbeda-beda. Misalnya kain lad sayut digunakan saat upacara tiga bulanan; atau kain kasang yang digunakan saat upacara pernikahan. Dan dalam struktur banten (persembahan), kain ikat Julah ditempatkan di bagian paling atas.

“Kalau penenun di Julah punah, bagaimana kami bisa upacara?” ujar Sarining—yang juga kerap dipanggil Sari Arta sebab suaminya bernama Wayan Sudiarta. Mendengar pertanyaan itu, saya hanya bisa tersenyum getir.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Serat Kain dan Serat Kasih, Cerita Tenun dan Keramahan dari Desa Julah
Desa Julah, Kain Tenun, dan Hal-hal Lain untuk Pengembangan Destinasi Wisata
Mereka Menenun Zaman | Tentang Tenun Desa Jinengdalem dan Hal-hal yang Membuat Bimbang
Tenun Tebusalah, Mengenang Sejarah Desa Ringdikit Lewat Motif Kain Tenun
Tags: balibali agabulelengDesa JulahTejakulatenun
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sampah Plastik dan Ragam Tangan di Balik Topeng Rama-Laksmana pada Panggung Bulfest 2025

Next Post

Karakter dan Nilai-Nilai Luhur “The Mask of Buleleng” — Catatan dari Pembukaan Bulfest 2025

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Karakter dan Nilai-Nilai Luhur “The Mask of Buleleng” — Catatan dari Pembukaan Bulfest 2025

Karakter dan Nilai-Nilai Luhur “The Mask of Buleleng" -- Catatan dari Pembukaan Bulfest 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co