2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Akhir Era Tenun Julah Tejakula

Jaswanto by Jaswanto
August 19, 2025
in Khas
Akhir Era Tenun Julah Tejakula

Ketut Resiani, salah satu dari tiga perempuan Julah yang masih menenun | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“SETAHU saya, sekarang hanya tinggal tiga orang saja yang masih menenun,” ujar perempuan kelahiran 1991 itu sesaat setelah ia selesai merangkai alat tenunnya yang tua. “Warisan ibu,” katanya kemudian. Siang itu ia sedang menenun di teras rumahnya yang kecil dan sebentar-sebentar mengelap peluh di dahinya. Udara panas membuatnya berkeringat.

Hari yang gerah di Desa Tua Julah, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali. Desa yang diyakini sudah ada sejak pemerintahan Ratu Sri Ugrasena itu, memang terkenal dengan kain tenun ikat tradisionalnya. Mereka menyebutnya kain bebali. Sehingga, berbicara Julah kurang lengkap rasanya kalau tidak menyinggung tradisi memintal dan menenun kainnya.

Di Julah, memintal dan menenun benang tentu saja bukan aktivitas kemarin sore, kegiatan itu memiliki hikayat yang panjang, jauh sebelum orang-orang Negeri Kincir Angin berkulit pucat itu datang dan memancangkan kekuasaannya di Bali. Tradisi memintal dan menenun di Julah barangkali sama tuanya dengan usia Desa Julah itu sendiri.

Ketut Resiani, salah satu dari tiga perempuan Julah yang masih menenun | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Di seluruh desa hanya tinggal tiga?” tanya saya memastikan setelah mendengar Ketut Resiani—perempuan kelahiran 1991 itu—menjawab pertanyaan saya sebelumnya.

“Iya. Setahu saya hanya tinggal tiga orang,” Resiani menjawab sekali lagi dengan tegas. Padahal, dulu, hampir semua perempuan Julah bisa memintal dan menenun benang. Tapi sekarang, hanya ada tiga perempuan yang masih produktif menenun, salah satunya Resiani.

“Siapa saja itu, Mbok?” saya kembali bertanya.

“Saya sendiri dan kedua saudara saya,” jawabnya sembari menata benang dengan teliti. Jari-jemarinya begitu terampil. Sedangkan matanya tekun dan teliti. Baginya, tenun bukan hanya soal kegiatan ekonomi, tetapi juga bentuk pelestarian budaya dan identitas tanah airnya.

Alat tenun tradisional Julah milik Ketut Resiani | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Mertuanya memang penenun,” I Ketut Suarjaya, warga Julah yang mengantar saya menemui Resiani, menimpali. Resiani membenarkan ucapan Suarjaya. Sejak dulu, keluarga suaminya memang terkenal sebagai penenun. Semua orang Julah, termasuk Suarjaya, tahu itu.

Siang itu, Resiani dan Suarjaya tidak dapat menutupi kegusarannya. Mereka berdua tertegun sesaat setelah menyampaikan bahwa tenun Julah sedang di ambang kepunahan. Kekhawatiran mereka dapat saya pahami sebab bagi orang Julah, kain tenun bukan sekadar urusan sandang belaka, lebih dari itu, kain Julah juga berkaitan dengan upacara-upacara suci mereka. Oleh karena itu, selama orang Julah masih memegang erat keyakinan mereka, sebisa mungkin, kain Julah tidak boleh punah.

Tapi Julah kesulitan regenerasi penenun—sebagaimana terjadi di banyak tempat di Indonesia—, meski persoalan itu bukan karena minat dari generasi muda Julah, itu terjadi karena masalah kurangnya infrastruktur.

“Alat tenun sangat mahal,” terang Resiani. Saya menatap matanya. Ada kilatan letih dan perasaan kesal di situ. “Padahal, di Julah banyak perempuan muda yang ingin menenun,” sambungnya, intonasinya meninggi, seolah ia ingin berteriak bahwa tenun Julah perlu diperhatikan. Dan ia berharap segera ada bantuan alat tenun untuk Desa Julah.

Ketut Resiani, salah satu dari tiga perempuan Julah yang masih menenun | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Tetapi, persoalan kain Julah bukan hanya tentang berkurangnya jumlah penenun, tapi juga soal sedikitnya petani Julah yang menanam kapas. Menurut Suarjaya, kapas di Julah kalah dengan bibit-bibit jeruk dan tanaman lainnya—yang notabene dipandang lebih menguntungkan daripada menanam tanaman yang tumbuh di hampir semua benua itu. Saat ini, penenun seperti Resiani harus membeli kapas dari luar Desa Julah, sama seperti leluhurnya pada abad ke-12.

Sekadar informasi, pada abad ke-12 Masehi, penduduk Julah membeli kapas dari Kintamani, wilayah agraris yang teronggok di balik bukit yang rebah di selatan Julah. Prasasti Kintamani E—yang dikeluarkan Sri Maharaja Haji Ekajaya Lancana yang memerintah pada 1200an Masehi—mencatat bahwa pada masa itu penduduk Kintamani sudah berniaga kapas ke desa-desa di pesisir Bali Utara, seperti Les, Paminggir, Hiliran, Buhun Dalem, Julah, Purwasidhi, Indrapura, Bulihan, dan Manasa. (Pohon kapas banyak ditanam di sebelah timur Desa Sukawana, Kintamani, yakni antara Panursuran dengan Balingkang, seperti yang tertulis dalam Prasasti Sukawana D (1122 Saka).)

Menariknya, dalam Prasasti Kintamani E, hanya penduduk Kintamani yang diperbolehkan raja untuk berniaga kapas di desa-desa di pesisir Bali Utara. Sedangkan penduduk di sekitar Danau Batur (Bwahan, Kedisan, Trunyan, Songan, dan Abang) tidak diperkenankan berjualan kapas ke daerah-daerah tersebut. Apabila orang-orang di sekitar Danau Batur melanggar peraturan itu, maka akan dijatuhi denda 3 ma su 2 ma [dosa mā sū 3 mā 2].

Benang hasil pintalan kapas milik Wayan Sarining, warga Julah | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Oleh karena itulah, Julah dan beberapa desa di wilayah Tejakula memiliki hubungan dendritik dengan wilayah di pedalaman Kintamani, sebagaimana dituliskan I Wayan Ardika dalam buku Manusia dan Kebudayaan Bali 2000 tahun Silam (2022). Hubungan ini, selain disebut jelas dalam prasasti (Sukawana D dan Kintamani E), juga bisa dilihat melalui keterkaitan antara penduduk di pesisir Tejakula dengan Pura Puncak Penulisan di Desa Sukawana, Kintamani.

Sebutlah orang-orang Sembiran, Pacung, dan Julah, misalnya, yang selalu menghaturkan sesajen (persembahan) tertentu ke Sukawana yang terdiri atas campuran biji-bijian, kapas, kumparan benang, dan kain jubah untuk pendeta di Sukawana: Jero Kubayan dan Jero Bau. Orang-orang dari Julah dan Sembiran memberi tiga helai kain termasuk sarung dengan pola hitam dan putih (kamben kotak geles) dan kain putih untuk pinggang (saput putih).

Kembali ke persoalan kain tenun Julah. Wayan Sarining—warga Julah—menyampaikan bahwa hampir semua upacara di Julah selalu menyertakan kain tenun di dalamnya. Menurut Sari, ada 12 macam kain Julah yang termasuk dalam sarana upacara, yakni kain salinan daki, lad sayut, geringsing, salinan telah, kampuh telah, teteh agung, baas gede, kampuh daki, subagi, sekukuk, kamen sayut, dan kasang.

Jantra, alat memintal benang di Desa Julah | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Kain-kain itu disertakan dalam upacara yang berbeda-beda. Misalnya kain lad sayut digunakan saat upacara tiga bulanan; atau kain kasang yang digunakan saat upacara pernikahan. Dan dalam struktur banten (persembahan), kain ikat Julah ditempatkan di bagian paling atas.

“Kalau penenun di Julah punah, bagaimana kami bisa upacara?” ujar Sarining—yang juga kerap dipanggil Sari Arta sebab suaminya bernama Wayan Sudiarta. Mendengar pertanyaan itu, saya hanya bisa tersenyum getir.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Serat Kain dan Serat Kasih, Cerita Tenun dan Keramahan dari Desa Julah
Desa Julah, Kain Tenun, dan Hal-hal Lain untuk Pengembangan Destinasi Wisata
Mereka Menenun Zaman | Tentang Tenun Desa Jinengdalem dan Hal-hal yang Membuat Bimbang
Tenun Tebusalah, Mengenang Sejarah Desa Ringdikit Lewat Motif Kain Tenun
Tags: balibali agabulelengDesa JulahTejakulatenun
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sampah Plastik dan Ragam Tangan di Balik Topeng Rama-Laksmana pada Panggung Bulfest 2025

Next Post

Karakter dan Nilai-Nilai Luhur “The Mask of Buleleng” — Catatan dari Pembukaan Bulfest 2025

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Karakter dan Nilai-Nilai Luhur “The Mask of Buleleng” — Catatan dari Pembukaan Bulfest 2025

Karakter dan Nilai-Nilai Luhur “The Mask of Buleleng" -- Catatan dari Pembukaan Bulfest 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co