12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Desa Julah, Kain Tenun, dan Hal-hal Lain untuk Pengembangan Destinasi Wisata

Son Lomri by Son Lomri
December 4, 2024
in Khas
Desa Julah, Kain Tenun, dan Hal-hal Lain untuk Pengembangan Destinasi Wisata

Penenun di Desa Julah, Tejakula, Buleleng

BEBERAPA desa wisata di Bali, sebut saja salah satunya Desa Les di Tejakula, Buleleng, menyabet penghargaan dan masuk dalam daftar desa desa terbaik di Indonesia.

Kini, saatnya desa tua, Desa Julah—tetangga dekat Desa Les di Tejakula, dengan segala macam kekayaan adat dan sejarah itu, mesti juga diperkenalkan ke khalayak ramai sebagai destinasi wisata yang unik. Apalagi, dahulu kala, konon Desa Julah adalah tempat persinggahan para pelancong dari berbagai bangsa.

Dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Buleleng, Desa Julah digadang-gadang untuk dikembangkan dengan serius menjadi desa wisata yang punya daya tarik beda.

FGD itu diadakan bersama beberapa peneliti, tokoh dan komunitas serta beberapa pelaku UMKM, Selasa, 3 Desember 2024 di ruang pertemuan Kantor Desa Julah.

Dalam FGD itu, Desa Julah dibicarakan sebagai destinasi wisata yang ramah atau ekologis. Sebagaimana disampaikan Kadis Pariwisata Buleleng Gede Dody Sukma Oktiva Askara.

“Desa Julah memiliki berbagai potensi wisata yang luar biasa. Kekayaan budaya seperti seni tari tradisional, ritual adat menjadi daya tarik utama, dan tentunya, kerajinan lokal seperti kain tenun yang khas,” kata Dody.

Kadis Pariwisata Buleleng Gede Dody Sukma Oktiva Askara sedang bicara dalam FGD di Balai Desa Julah | Foto: tatkala.co/Son

Untuk menunjukkan bagaimana kain tenun itu dibuat, Ni Luh Merta Nadi (39) menunjukkan rumahnya setelah FGD selesai. Berjalan kaki para peserta FGD dari Kantor Desa Julah menuju rumah Merta Nadi.

Lima menit telah habis waktu berjalan, menyusuri gang kecil dan rumah yang saling berhimpitan. Di sebuah gang, peserta membelokan arahnya ke kanan. Menuju rumah seseorang.

“Ini rumah saya,” kata Merta Nadi. Ia tunjuknya rumah, tempat di mana ia tinggal. “Dan itu alat tenun di ruang pertama,” lanjutnya.

Di sana, perempuan itu menunjukan alat tenunnya dan memeragakan bagaimana ia biasa duduk menenun. Alat tenun dirakitnya kemudian. Benang dipintal lebih dulu. Ia memainkan, memeragakan alat tenunnya, seperti menggerakan tubuhnya lentur. Tenun sudah biasa baginya.

Merta Nadi biasa menenun itu siang, setelah semua urusan cuci piring dan masak selesai, termasuk dengan menyapu halaman rumah. Barulah kemudian ia mengerjakan sesuatu pada alat itu.

Ada beberapa produk kain yang ia buat di rumah, seperti geringsing, kasang, kamen daki, sakukup, subagi, tapih pegat. Semuanya memiliki fungsi dan corak yang berbeda.

Seperti pada geringsing misalnya, telah menjadi salah satu warisan yang menjadi penciri dari Desa Bali Mula (Desa di Bali dengan adat yang unik dan tua). Kain tenun ini tak hanya digunakan sebagai pakaian semata oleh masyarakat Julah, namun juga dijadikan sebagai sarana ritual upacara yang sangat sakral dan tidak bisa tergantikan.

Ada kain yang biasanya digunakan oleh sepasang suami istri yang akan melakukan malam pertama sebagai alas tidur mereka. Namanya tapih pegat, yang berarti tidak akan putus kain ini, berfilosofi bahwa orang yang menikah di kain ini tidak akan pernah putus atau berpisah.

Sementara pada kain kasang sering digunakan sebagai alas banten dalam upacara mewinten. Kain ini memiliki motif masulaman, berupa garis-garis warna-warni yang menarik perhatian, terletak di tengah kain. Motif ini tidak hanya menambah keindahan visual, tetapi juga melambangkan kekayaan spiritual dan budaya.

Kamen daki adalah tenun julah yang khas dari Bali, diletakkan di area ujung selatan sanggah (tempat pemujaan keluarga) setiap kali ada upacara yadnya. Kain ini memiliki makna spiritual yang mendalam, berfungsi sebagai simbol penghormatan dan kesucian dalam setiap ritual keagamaan.

Adapun pada kain sakukup itu digunakan sebagai alas banten dalam upacara mewinten. Kain ini memiliki motif garis panjang lurus yang sederhana namun elegan, menciptakan kesan yang harmonis dan rapi.

Merta Nadi sedang menenun di rumahnya di Desa Julah | Foto: tatkala.co/Son

Beragam kain kahs Desa Julah | Foto: tatkala.co/Son

Proses pembuatan kain sakukup memakan waktu sekitar satu minggu, menandakan ketelitian dan dedikasi para pengrajin yang mengerjakannya. Kain ini tidak hanya berfungsi sebagai alas banten, tetapi juga memiliki makna spiritual yang dalam, melambangkan kesucian dan keberkahan.

Dengan setiap tenunan, kain sakukup menjadi simbol dari tradisi dan budaya Bali yang kaya, memberikan nilai lebih pada setiap upacara yang dilaksanakan.

Kain subagi digunakan dalam upacara mewinten. Kain ini memiliki motif garis panjang lurus yang memberikan kesan sederhana namun elegan, menciptakan nuansa yang harmonis selama ritual.

Pembuatan kain itu memakan waktu sekitar satu minggu, mencerminkan keterampilan dan dedikasi para pengrajin. Kain ini dirancang untuk digunakan berkali-kali, tetapi penting untuk dicatat bahwa kain ini tidak bisa dicuci, sehingga harus dirawat dengan baik agar tetap suci dan awet.

Dalam menenun, Ni Luh Merta Nadi biasanya membuat untuk pesanan orang lain. Satu hari saja bisa selesai, katanya. Tetapi juga terkadang berhari-hari. Semua tergantungk pada waktu pekerjaan rumah dan adat. Begitulah kira-kira. Menjadi seorang penenun, ia digenerasikan oleh ibunya.

Visioner

Kadis Pariwisata Dody Sukma mengatakan, selain tenun, Desa Julah memiliki panorama alam hijau, pegunungan yang asri, serta lanskap pedesaan yang tenang. Semua itu menawarkan pengalaman wisata alam yang autentik. Cantik.

“Sebagai salah satu desa tertua, nilai sejarah Desa Julah juga menyimpan cerita unik yang dapat menarik minat wisatawan, baik domestik maupun mancanegara,” katanya.

Selain sebagai destinasi pariwisata yang dapat memamerkan budaya dan bentang alamnya itu, Desa Julah juga dikembangkan sebagai destinasi yang visionetr. Hal itu dikatakan I Made Suarjana yang juga menjadi pembicara pada FGD itu.

Setidaknya, ada beberapa masukan yang  Suarjana lemparkan dalam forum itu, di antaranya adalah; pertama,adanya paket wisata edukasi seperti Belajar Membuat Kerajinan Lokal yang mana menyasar pada pengrajin tenun, pengrajin ukir kayu dan pembuatan canang khas julah. Pula pada masakan tradisional seperti jajanan Bali dan dodol.

Kemudian, menurut Suarjana, juga mesti ada pertunjukan budaya rutin untuk wisatawan di Desa Julah sehingga hal demikian mesti dipersiapkan secara rencana dan jauh-jauh hari dan terkonsep.

Sementara yang ketiga, lanjut lelaki itu, kegiatan berbasis alam seperti trekking, bersepeda dan fotografi alam mesti dipikirkan sebagai wahana lain selain budaya, tentu, dalam  hal ini sebagai langkah pendatang untuk menikmati alam Desa Julah.

Peserta FGD di Desa Julah | Foto: tatkala.co/Son

Sebagai tambahan masukan, sedikit menggigit Dian Suryantini, delegasi dari Komunitas Mahima itu, menyampaikan pandangannya setelah mendengar banyak perbincangan tentang wacana desa eisata Julah itu/ Menurutnya, terlalu jauh mengubah pandangan tentang desa Julah sebagai wisata desa ttua.

“Mengapa tidak membuat museum saja? Dari pada kita mesti menambahkan segala macam bentuk Desa Julah, yang, barangkali justru akan mengubah secara konstruk dan menggeser nilai budaya yang ada di Desa Julah, terutama peninggalan sejarahnya. Kita simpan saja benda-benda bersejarah yang ada di Desa Julah ke dalam museum, agar terawat.” ucap Dian Suryantini.

Sampai di sini, ia menyebutkan di Desa Julah itu ada banyak hal yang bisa dieksplor tanpa mesti dibuat-buat. Misalnya, dari jamu. Desa Julah terkenal dengan jamunya, dan mengapa tidak setiap pengunjung disuguhi jamu itu?

Kemudian, bagaimana mitos yang mesti dipelihara dan dijaga, adalah nilai jual secara story telling, dan kemudian, masih banyak lagi tentang Julah yang mesti terus dicari. Dan hasilnya, itulah yang mesti dipersembahkan kepada wahana destinasi wisata yang disebut di awal sebagai wisata ekologis. Yang ramah. Yang berkelanjutan baiknya. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Cerita Kecil Menjemput Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 untuk Desa Les
Ayam Gecok: Kuliner Khas Desa Wisata Cikakak di Banyumas
ADWI 2022 | Desa Sudaji Juara 2 Kategori Desa Wisata Maju
Tags: bulelengDesa Julahdesa wisatakain tenun
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Teater Jungut Sari SMAN 1 Sukawati Juara 1 Festival Teater Berbahasa Bali: Hidup Teater Sekolah!

Next Post

Menavigasi Keterkaitan antara Pariwisata dan Perdagangan Internasional dalam Era Globalisasi

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Tantangan Pariwisata Indonesia: Daya Saing Global dan Keberlanjutan Lokal

Menavigasi Keterkaitan antara Pariwisata dan Perdagangan Internasional dalam Era Globalisasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co