2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Desa Julah, Kain Tenun, dan Hal-hal Lain untuk Pengembangan Destinasi Wisata

Son Lomri by Son Lomri
December 4, 2024
in Khas
Desa Julah, Kain Tenun, dan Hal-hal Lain untuk Pengembangan Destinasi Wisata

Penenun di Desa Julah, Tejakula, Buleleng

BEBERAPA desa wisata di Bali, sebut saja salah satunya Desa Les di Tejakula, Buleleng, menyabet penghargaan dan masuk dalam daftar desa desa terbaik di Indonesia.

Kini, saatnya desa tua, Desa Julah—tetangga dekat Desa Les di Tejakula, dengan segala macam kekayaan adat dan sejarah itu, mesti juga diperkenalkan ke khalayak ramai sebagai destinasi wisata yang unik. Apalagi, dahulu kala, konon Desa Julah adalah tempat persinggahan para pelancong dari berbagai bangsa.

Dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Buleleng, Desa Julah digadang-gadang untuk dikembangkan dengan serius menjadi desa wisata yang punya daya tarik beda.

FGD itu diadakan bersama beberapa peneliti, tokoh dan komunitas serta beberapa pelaku UMKM, Selasa, 3 Desember 2024 di ruang pertemuan Kantor Desa Julah.

Dalam FGD itu, Desa Julah dibicarakan sebagai destinasi wisata yang ramah atau ekologis. Sebagaimana disampaikan Kadis Pariwisata Buleleng Gede Dody Sukma Oktiva Askara.

“Desa Julah memiliki berbagai potensi wisata yang luar biasa. Kekayaan budaya seperti seni tari tradisional, ritual adat menjadi daya tarik utama, dan tentunya, kerajinan lokal seperti kain tenun yang khas,” kata Dody.

Kadis Pariwisata Buleleng Gede Dody Sukma Oktiva Askara sedang bicara dalam FGD di Balai Desa Julah | Foto: tatkala.co/Son

Untuk menunjukkan bagaimana kain tenun itu dibuat, Ni Luh Merta Nadi (39) menunjukkan rumahnya setelah FGD selesai. Berjalan kaki para peserta FGD dari Kantor Desa Julah menuju rumah Merta Nadi.

Lima menit telah habis waktu berjalan, menyusuri gang kecil dan rumah yang saling berhimpitan. Di sebuah gang, peserta membelokan arahnya ke kanan. Menuju rumah seseorang.

“Ini rumah saya,” kata Merta Nadi. Ia tunjuknya rumah, tempat di mana ia tinggal. “Dan itu alat tenun di ruang pertama,” lanjutnya.

Di sana, perempuan itu menunjukan alat tenunnya dan memeragakan bagaimana ia biasa duduk menenun. Alat tenun dirakitnya kemudian. Benang dipintal lebih dulu. Ia memainkan, memeragakan alat tenunnya, seperti menggerakan tubuhnya lentur. Tenun sudah biasa baginya.

Merta Nadi biasa menenun itu siang, setelah semua urusan cuci piring dan masak selesai, termasuk dengan menyapu halaman rumah. Barulah kemudian ia mengerjakan sesuatu pada alat itu.

Ada beberapa produk kain yang ia buat di rumah, seperti geringsing, kasang, kamen daki, sakukup, subagi, tapih pegat. Semuanya memiliki fungsi dan corak yang berbeda.

Seperti pada geringsing misalnya, telah menjadi salah satu warisan yang menjadi penciri dari Desa Bali Mula (Desa di Bali dengan adat yang unik dan tua). Kain tenun ini tak hanya digunakan sebagai pakaian semata oleh masyarakat Julah, namun juga dijadikan sebagai sarana ritual upacara yang sangat sakral dan tidak bisa tergantikan.

Ada kain yang biasanya digunakan oleh sepasang suami istri yang akan melakukan malam pertama sebagai alas tidur mereka. Namanya tapih pegat, yang berarti tidak akan putus kain ini, berfilosofi bahwa orang yang menikah di kain ini tidak akan pernah putus atau berpisah.

Sementara pada kain kasang sering digunakan sebagai alas banten dalam upacara mewinten. Kain ini memiliki motif masulaman, berupa garis-garis warna-warni yang menarik perhatian, terletak di tengah kain. Motif ini tidak hanya menambah keindahan visual, tetapi juga melambangkan kekayaan spiritual dan budaya.

Kamen daki adalah tenun julah yang khas dari Bali, diletakkan di area ujung selatan sanggah (tempat pemujaan keluarga) setiap kali ada upacara yadnya. Kain ini memiliki makna spiritual yang mendalam, berfungsi sebagai simbol penghormatan dan kesucian dalam setiap ritual keagamaan.

Adapun pada kain sakukup itu digunakan sebagai alas banten dalam upacara mewinten. Kain ini memiliki motif garis panjang lurus yang sederhana namun elegan, menciptakan kesan yang harmonis dan rapi.

Merta Nadi sedang menenun di rumahnya di Desa Julah | Foto: tatkala.co/Son

Beragam kain kahs Desa Julah | Foto: tatkala.co/Son

Proses pembuatan kain sakukup memakan waktu sekitar satu minggu, menandakan ketelitian dan dedikasi para pengrajin yang mengerjakannya. Kain ini tidak hanya berfungsi sebagai alas banten, tetapi juga memiliki makna spiritual yang dalam, melambangkan kesucian dan keberkahan.

Dengan setiap tenunan, kain sakukup menjadi simbol dari tradisi dan budaya Bali yang kaya, memberikan nilai lebih pada setiap upacara yang dilaksanakan.

Kain subagi digunakan dalam upacara mewinten. Kain ini memiliki motif garis panjang lurus yang memberikan kesan sederhana namun elegan, menciptakan nuansa yang harmonis selama ritual.

Pembuatan kain itu memakan waktu sekitar satu minggu, mencerminkan keterampilan dan dedikasi para pengrajin. Kain ini dirancang untuk digunakan berkali-kali, tetapi penting untuk dicatat bahwa kain ini tidak bisa dicuci, sehingga harus dirawat dengan baik agar tetap suci dan awet.

Dalam menenun, Ni Luh Merta Nadi biasanya membuat untuk pesanan orang lain. Satu hari saja bisa selesai, katanya. Tetapi juga terkadang berhari-hari. Semua tergantungk pada waktu pekerjaan rumah dan adat. Begitulah kira-kira. Menjadi seorang penenun, ia digenerasikan oleh ibunya.

Visioner

Kadis Pariwisata Dody Sukma mengatakan, selain tenun, Desa Julah memiliki panorama alam hijau, pegunungan yang asri, serta lanskap pedesaan yang tenang. Semua itu menawarkan pengalaman wisata alam yang autentik. Cantik.

“Sebagai salah satu desa tertua, nilai sejarah Desa Julah juga menyimpan cerita unik yang dapat menarik minat wisatawan, baik domestik maupun mancanegara,” katanya.

Selain sebagai destinasi pariwisata yang dapat memamerkan budaya dan bentang alamnya itu, Desa Julah juga dikembangkan sebagai destinasi yang visionetr. Hal itu dikatakan I Made Suarjana yang juga menjadi pembicara pada FGD itu.

Setidaknya, ada beberapa masukan yang  Suarjana lemparkan dalam forum itu, di antaranya adalah; pertama,adanya paket wisata edukasi seperti Belajar Membuat Kerajinan Lokal yang mana menyasar pada pengrajin tenun, pengrajin ukir kayu dan pembuatan canang khas julah. Pula pada masakan tradisional seperti jajanan Bali dan dodol.

Kemudian, menurut Suarjana, juga mesti ada pertunjukan budaya rutin untuk wisatawan di Desa Julah sehingga hal demikian mesti dipersiapkan secara rencana dan jauh-jauh hari dan terkonsep.

Sementara yang ketiga, lanjut lelaki itu, kegiatan berbasis alam seperti trekking, bersepeda dan fotografi alam mesti dipikirkan sebagai wahana lain selain budaya, tentu, dalam  hal ini sebagai langkah pendatang untuk menikmati alam Desa Julah.

Peserta FGD di Desa Julah | Foto: tatkala.co/Son

Sebagai tambahan masukan, sedikit menggigit Dian Suryantini, delegasi dari Komunitas Mahima itu, menyampaikan pandangannya setelah mendengar banyak perbincangan tentang wacana desa eisata Julah itu/ Menurutnya, terlalu jauh mengubah pandangan tentang desa Julah sebagai wisata desa ttua.

“Mengapa tidak membuat museum saja? Dari pada kita mesti menambahkan segala macam bentuk Desa Julah, yang, barangkali justru akan mengubah secara konstruk dan menggeser nilai budaya yang ada di Desa Julah, terutama peninggalan sejarahnya. Kita simpan saja benda-benda bersejarah yang ada di Desa Julah ke dalam museum, agar terawat.” ucap Dian Suryantini.

Sampai di sini, ia menyebutkan di Desa Julah itu ada banyak hal yang bisa dieksplor tanpa mesti dibuat-buat. Misalnya, dari jamu. Desa Julah terkenal dengan jamunya, dan mengapa tidak setiap pengunjung disuguhi jamu itu?

Kemudian, bagaimana mitos yang mesti dipelihara dan dijaga, adalah nilai jual secara story telling, dan kemudian, masih banyak lagi tentang Julah yang mesti terus dicari. Dan hasilnya, itulah yang mesti dipersembahkan kepada wahana destinasi wisata yang disebut di awal sebagai wisata ekologis. Yang ramah. Yang berkelanjutan baiknya. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Cerita Kecil Menjemput Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 untuk Desa Les
Ayam Gecok: Kuliner Khas Desa Wisata Cikakak di Banyumas
ADWI 2022 | Desa Sudaji Juara 2 Kategori Desa Wisata Maju
Tags: bulelengDesa Julahdesa wisatakain tenun
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Teater Jungut Sari SMAN 1 Sukawati Juara 1 Festival Teater Berbahasa Bali: Hidup Teater Sekolah!

Next Post

Menavigasi Keterkaitan antara Pariwisata dan Perdagangan Internasional dalam Era Globalisasi

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Tantangan Pariwisata Indonesia: Daya Saing Global dan Keberlanjutan Lokal

Menavigasi Keterkaitan antara Pariwisata dan Perdagangan Internasional dalam Era Globalisasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co