13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Desa Julah, Kain Tenun, dan Hal-hal Lain untuk Pengembangan Destinasi Wisata

Son Lomri by Son Lomri
December 4, 2024
in Khas
Desa Julah, Kain Tenun, dan Hal-hal Lain untuk Pengembangan Destinasi Wisata

Penenun di Desa Julah, Tejakula, Buleleng

BEBERAPA desa wisata di Bali, sebut saja salah satunya Desa Les di Tejakula, Buleleng, menyabet penghargaan dan masuk dalam daftar desa desa terbaik di Indonesia.

Kini, saatnya desa tua, Desa Julah—tetangga dekat Desa Les di Tejakula, dengan segala macam kekayaan adat dan sejarah itu, mesti juga diperkenalkan ke khalayak ramai sebagai destinasi wisata yang unik. Apalagi, dahulu kala, konon Desa Julah adalah tempat persinggahan para pelancong dari berbagai bangsa.

Dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Buleleng, Desa Julah digadang-gadang untuk dikembangkan dengan serius menjadi desa wisata yang punya daya tarik beda.

FGD itu diadakan bersama beberapa peneliti, tokoh dan komunitas serta beberapa pelaku UMKM, Selasa, 3 Desember 2024 di ruang pertemuan Kantor Desa Julah.

Dalam FGD itu, Desa Julah dibicarakan sebagai destinasi wisata yang ramah atau ekologis. Sebagaimana disampaikan Kadis Pariwisata Buleleng Gede Dody Sukma Oktiva Askara.

“Desa Julah memiliki berbagai potensi wisata yang luar biasa. Kekayaan budaya seperti seni tari tradisional, ritual adat menjadi daya tarik utama, dan tentunya, kerajinan lokal seperti kain tenun yang khas,” kata Dody.

Kadis Pariwisata Buleleng Gede Dody Sukma Oktiva Askara sedang bicara dalam FGD di Balai Desa Julah | Foto: tatkala.co/Son

Untuk menunjukkan bagaimana kain tenun itu dibuat, Ni Luh Merta Nadi (39) menunjukkan rumahnya setelah FGD selesai. Berjalan kaki para peserta FGD dari Kantor Desa Julah menuju rumah Merta Nadi.

Lima menit telah habis waktu berjalan, menyusuri gang kecil dan rumah yang saling berhimpitan. Di sebuah gang, peserta membelokan arahnya ke kanan. Menuju rumah seseorang.

“Ini rumah saya,” kata Merta Nadi. Ia tunjuknya rumah, tempat di mana ia tinggal. “Dan itu alat tenun di ruang pertama,” lanjutnya.

Di sana, perempuan itu menunjukan alat tenunnya dan memeragakan bagaimana ia biasa duduk menenun. Alat tenun dirakitnya kemudian. Benang dipintal lebih dulu. Ia memainkan, memeragakan alat tenunnya, seperti menggerakan tubuhnya lentur. Tenun sudah biasa baginya.

Merta Nadi biasa menenun itu siang, setelah semua urusan cuci piring dan masak selesai, termasuk dengan menyapu halaman rumah. Barulah kemudian ia mengerjakan sesuatu pada alat itu.

Ada beberapa produk kain yang ia buat di rumah, seperti geringsing, kasang, kamen daki, sakukup, subagi, tapih pegat. Semuanya memiliki fungsi dan corak yang berbeda.

Seperti pada geringsing misalnya, telah menjadi salah satu warisan yang menjadi penciri dari Desa Bali Mula (Desa di Bali dengan adat yang unik dan tua). Kain tenun ini tak hanya digunakan sebagai pakaian semata oleh masyarakat Julah, namun juga dijadikan sebagai sarana ritual upacara yang sangat sakral dan tidak bisa tergantikan.

Ada kain yang biasanya digunakan oleh sepasang suami istri yang akan melakukan malam pertama sebagai alas tidur mereka. Namanya tapih pegat, yang berarti tidak akan putus kain ini, berfilosofi bahwa orang yang menikah di kain ini tidak akan pernah putus atau berpisah.

Sementara pada kain kasang sering digunakan sebagai alas banten dalam upacara mewinten. Kain ini memiliki motif masulaman, berupa garis-garis warna-warni yang menarik perhatian, terletak di tengah kain. Motif ini tidak hanya menambah keindahan visual, tetapi juga melambangkan kekayaan spiritual dan budaya.

Kamen daki adalah tenun julah yang khas dari Bali, diletakkan di area ujung selatan sanggah (tempat pemujaan keluarga) setiap kali ada upacara yadnya. Kain ini memiliki makna spiritual yang mendalam, berfungsi sebagai simbol penghormatan dan kesucian dalam setiap ritual keagamaan.

Adapun pada kain sakukup itu digunakan sebagai alas banten dalam upacara mewinten. Kain ini memiliki motif garis panjang lurus yang sederhana namun elegan, menciptakan kesan yang harmonis dan rapi.

Merta Nadi sedang menenun di rumahnya di Desa Julah | Foto: tatkala.co/Son

Beragam kain kahs Desa Julah | Foto: tatkala.co/Son

Proses pembuatan kain sakukup memakan waktu sekitar satu minggu, menandakan ketelitian dan dedikasi para pengrajin yang mengerjakannya. Kain ini tidak hanya berfungsi sebagai alas banten, tetapi juga memiliki makna spiritual yang dalam, melambangkan kesucian dan keberkahan.

Dengan setiap tenunan, kain sakukup menjadi simbol dari tradisi dan budaya Bali yang kaya, memberikan nilai lebih pada setiap upacara yang dilaksanakan.

Kain subagi digunakan dalam upacara mewinten. Kain ini memiliki motif garis panjang lurus yang memberikan kesan sederhana namun elegan, menciptakan nuansa yang harmonis selama ritual.

Pembuatan kain itu memakan waktu sekitar satu minggu, mencerminkan keterampilan dan dedikasi para pengrajin. Kain ini dirancang untuk digunakan berkali-kali, tetapi penting untuk dicatat bahwa kain ini tidak bisa dicuci, sehingga harus dirawat dengan baik agar tetap suci dan awet.

Dalam menenun, Ni Luh Merta Nadi biasanya membuat untuk pesanan orang lain. Satu hari saja bisa selesai, katanya. Tetapi juga terkadang berhari-hari. Semua tergantungk pada waktu pekerjaan rumah dan adat. Begitulah kira-kira. Menjadi seorang penenun, ia digenerasikan oleh ibunya.

Visioner

Kadis Pariwisata Dody Sukma mengatakan, selain tenun, Desa Julah memiliki panorama alam hijau, pegunungan yang asri, serta lanskap pedesaan yang tenang. Semua itu menawarkan pengalaman wisata alam yang autentik. Cantik.

“Sebagai salah satu desa tertua, nilai sejarah Desa Julah juga menyimpan cerita unik yang dapat menarik minat wisatawan, baik domestik maupun mancanegara,” katanya.

Selain sebagai destinasi pariwisata yang dapat memamerkan budaya dan bentang alamnya itu, Desa Julah juga dikembangkan sebagai destinasi yang visionetr. Hal itu dikatakan I Made Suarjana yang juga menjadi pembicara pada FGD itu.

Setidaknya, ada beberapa masukan yang  Suarjana lemparkan dalam forum itu, di antaranya adalah; pertama,adanya paket wisata edukasi seperti Belajar Membuat Kerajinan Lokal yang mana menyasar pada pengrajin tenun, pengrajin ukir kayu dan pembuatan canang khas julah. Pula pada masakan tradisional seperti jajanan Bali dan dodol.

Kemudian, menurut Suarjana, juga mesti ada pertunjukan budaya rutin untuk wisatawan di Desa Julah sehingga hal demikian mesti dipersiapkan secara rencana dan jauh-jauh hari dan terkonsep.

Sementara yang ketiga, lanjut lelaki itu, kegiatan berbasis alam seperti trekking, bersepeda dan fotografi alam mesti dipikirkan sebagai wahana lain selain budaya, tentu, dalam  hal ini sebagai langkah pendatang untuk menikmati alam Desa Julah.

Peserta FGD di Desa Julah | Foto: tatkala.co/Son

Sebagai tambahan masukan, sedikit menggigit Dian Suryantini, delegasi dari Komunitas Mahima itu, menyampaikan pandangannya setelah mendengar banyak perbincangan tentang wacana desa eisata Julah itu/ Menurutnya, terlalu jauh mengubah pandangan tentang desa Julah sebagai wisata desa ttua.

“Mengapa tidak membuat museum saja? Dari pada kita mesti menambahkan segala macam bentuk Desa Julah, yang, barangkali justru akan mengubah secara konstruk dan menggeser nilai budaya yang ada di Desa Julah, terutama peninggalan sejarahnya. Kita simpan saja benda-benda bersejarah yang ada di Desa Julah ke dalam museum, agar terawat.” ucap Dian Suryantini.

Sampai di sini, ia menyebutkan di Desa Julah itu ada banyak hal yang bisa dieksplor tanpa mesti dibuat-buat. Misalnya, dari jamu. Desa Julah terkenal dengan jamunya, dan mengapa tidak setiap pengunjung disuguhi jamu itu?

Kemudian, bagaimana mitos yang mesti dipelihara dan dijaga, adalah nilai jual secara story telling, dan kemudian, masih banyak lagi tentang Julah yang mesti terus dicari. Dan hasilnya, itulah yang mesti dipersembahkan kepada wahana destinasi wisata yang disebut di awal sebagai wisata ekologis. Yang ramah. Yang berkelanjutan baiknya. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Cerita Kecil Menjemput Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 untuk Desa Les
Ayam Gecok: Kuliner Khas Desa Wisata Cikakak di Banyumas
ADWI 2022 | Desa Sudaji Juara 2 Kategori Desa Wisata Maju
Tags: bulelengDesa Julahdesa wisatakain tenun
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Teater Jungut Sari SMAN 1 Sukawati Juara 1 Festival Teater Berbahasa Bali: Hidup Teater Sekolah!

Next Post

Menavigasi Keterkaitan antara Pariwisata dan Perdagangan Internasional dalam Era Globalisasi

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails
Next Post
Tantangan Pariwisata Indonesia: Daya Saing Global dan Keberlanjutan Lokal

Menavigasi Keterkaitan antara Pariwisata dan Perdagangan Internasional dalam Era Globalisasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co