3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mereka Menenun Zaman | Tentang Tenun Desa Jinengdalem dan Hal-hal yang Membuat Bimbang

Putu Dinda Ayudia by Putu Dinda Ayudia
March 11, 2022
in Khas
Mereka Menenun Zaman | Tentang Tenun Desa Jinengdalem dan Hal-hal yang Membuat Bimbang

Luh Sariani sedang merapikan beberapa benang tenunnya di Desa Jinengdalem, Buleleng {Foto: Dinda Ayudia]

Poni. Begitu panggilan akrabnya. Adalah seorang perempuan bernama lengkap Ketut Sriponi yang berasal dari Desa Jinengdalem, Kabupaten Buleleng, Bali. Disini mungkin belum nampak hal yang menjadikan seorang Ketut Sriponi istimewa. Namun nyatanya Ketut Sriponi adalah pemilik dari Poni’s Songket Weaving Centre, sebuah UMKM pusat kerajinan tenun di Desa Jinengdalem.

Hasil perjalanan beberapa waktu lalu membuahkan hasil perbincangan dengan Poni. Sekitar 1-3 km dari gapura masuk ke Desa Jinengdalem, kita akan melalui Pura Dalem Desa Jinengdalem, menyusuri jalanan yang menurun hingga sedikit berbatu. Awalnya cukup sulit untuk mencapai rumah Poni yang sekaligus juga menjadi galerinya, tapi dengan bermodalkan kemantapan hati sampai juga menemukan plang yang tergantung cukup jelas “Poni’s Songket”. Perbincangan malam itu cukup hangat, sambil tersenyum Poni mempersilahkan kami masuk ke showroomnya. mencari data mengenai usaha tenunnya, “Ya ibu sih selalu melayani kalau ada mahasiswa yang datang. Sering, kok”

Poni menjadi salah satu dari pengrajin tenun khas Jinengdalem yang masih eksis hingga sekarang. Sebagai seorang pengepul, Poni juga memiliki beberapa pengrajin tenun yang langsung mengerjakan dan mengalami sendiri proses pembuatan kain yang tak bisa dikatakan sebentar ini.

Salah satunya, Luh Sariani, seorang penenun dari Desa Jinengdalem yang telah menenun selama 10 tahun juga menyebut bahwa proses pembuatan selembar kain bisa memakan waktu 1-1,5 bulan tergantung pada tingkat kerumitannya dan jenis kainnya, “Lamanya kain tenun selesai bergantung juga dari ukurannya, kalau kamen (kain panjang) lebih lama, kalau selendang bisa lebih cepat”. Sembari berbincang santai, Luh Sariani juga menunjukkan kainnya yang masih seperempat jadi.

Baik Luh Sarini dan Poni keduanya masih bergairah dengan pekerjaan yang mereka lakoni dalam kesenian tenun. Kendati tenun menjadi kegiatan yang rumit dan menghabiskan banyak waktu serta tenaga, keduanya melihat bahwa dengan tenunlah hidup mereka bisa terus berlanjut, bahwa dari menenunlah mereka memperoleh pengupa jiwa.

Untuk mengenal lebih jauh mengenai budaya menenun songket, kita harus berjalan sekitar 8 kilometer dari pusat Kota Singaraja menuju ke sebuah desa. Adalah Desa Jinengdalem yang menjadi tempat ibu-ibu ini mengenal dan meneruskan kerja tenun mereka.

Gambar 1. Kain yang sedang ditenun Luh Sariani

Jinengdalem memiliki sejarah panjang yang erat dengan perkembangan seni budaya, salah satunya kesenian tenun songket Jinengdalem. Tidak banyak saat ini yang bisa diulik mengenai sejarah lahir dan berkembangnya budaya tenun di desa ini karena minimnya penelitian budaya dan sumber tertulis tentang Jinengdalem. Namun, apabila bertanya pada masyarakat setempat dimana kita bisa melihat produk kain songket Jinengdalem, jawaban yang akan kita dapat adalah Poni’s Songket.

Sejak bertahun-tahun lalu kerajinan tenun songket Jinengdalem yang ditekuni oleh Ketut Sriponi dipandang telah menghasilkan jenis kain yang terkenal kualitas bahan, warna, dan motifnya yang sangat nyeni. Keterkenalannya tidak pula meredup walaupun saat ini telah banyak pengrajin muncul ke permukaan dan turut pula dalam percaturan industri fashion dan tekstil, ditambah hantaman pandemi Covid-19.

Sayangnya, dibalik glorifikasi seni tenun sebagai sebuah eksotisme budaya, kondisi kesenian tenun sendiri sekarang seperti lantunan dalam lagu Judika, putus atau terus. Terjadi kelesuan proses pewarisan pengetahuan tenun pada generasi muda di Jinengdalem.

Selain karena anak-anak muda yang sudah disibukkan dengan kegiatan sekolah, banyak dari mereka juga memilih untuk bekerja pada sektor industri yang lebih besar dengan anggapan memperoleh penghidupan yang lebih terjamin. Proses mempelajari seni tenun juga bukan kegiatan yang mudah dan cepat, proses belajar yang lama dan kompleks di dalam pola kehidupan yang serba instan juga menjadi faktor terputusnya rantai pewarisan pengetahuan budaya tenun.

***

Penulis mewawancarai Poni mengenai keberlangsungan kerjanya dalam bidang tenun dan pandangan tentang tenun saat ini di mata generasi muda.

  • Sejak kapan Ibu mulai berkecimpung di dunia tenun?

Ibu sudah menenun dari usia 11 tahun, saat itu keterampilan tenun ‘kan masih diwariskan secara turun-temurun dan saat itu masih bekerja bersama kakak.

  • Ceritanya sampai bisa mendirikan Poni’s Songket?

Dulu itu sebenarnya kesenian tenun di Jinengdalem sempat mati suri karena banyak ditinggalkan penenunnya. Kemudian di tahun 2011 ada pembinaan untuk UMKM tenun dari Garuda Indonesia. Dibina teknis-teknisnya sampai cara pencelupan benang, dsb lalu Garuda Indonesia juga memberikan modal awal untuk penghidupan UMKM tenun sebesar lima puluh juta. Sistemnya dengan kredit, saat itulah ibu gunakan kesempatannya untuk mendirikan Poni’s Songket.

  • Berapa penenun yang bekerja dengan Ibu?

Dulu di awal sekali hanya 4 orang, sekarang sudah mencapai 30 orang.

  • Apakah Ibu menenun jenis kain selain songket?

Saat ini masih kain songket saja.

Gambar 2. Luh Sariani sedang merapikan beberapa benang tenunnya
  • Motif-motif apa saja yang ada pada kain tenun yang Ibu produksi?

Ada motif jumputan, kangkungan dan kalau yang asli dari Buleleng dan sudah ada sejak lama ada motif patrasari, patrapunggel, sungenge, bunga anggur, dan bunga pot.

  • Apakah COVID memengaruhi keberlanjutan para penenun yang bekerja dengan Ibu?

Syukurnya pengrajin yang bekerja dengan Ibu masih bertahan. Permintaan-permintaan kain songket masih tetap ada juga.

  • Apakah ada acara tertentu yang biasa Ibu lakukan terkait usaha tenun ini?

Sering. Ibu sering mengikuti pameran dan mewakili Kabupaten Buleleng. Beberapa kali kain dari Ibu juga dipercaya dan digunakan oleh beberapa petinggi, salah satunya digunakan oleh bapak Presiden Joko Widodo, yang dipakai saat pidato di HUT PDIP tahun 2018.

Gambar 3. Beberapa kain yang ada di galeri Poni’s Songket
  • Sepengetahuan ibu, bagaimana minat generasi muda dalam melakoni pekerjaan tenun?

Ibu melihat sekarang generasi muda sudah semakin kecil minatnya ke dunia tenun, kami para penenun bertahan di usia tua seperti ini. Jika dilihat kedepannya paling yang muncul hanya beberapa saja dan tidak sebanyak dulu. Mungkin karena pengaruh terlalu asik dengan bermain handphone, ya? Hahaha. Padahal jika diseriusi, menenun dari rumah saja menjanjikan keuntungan yang tidak kalah dengan sektor industri. Akan tetapi kuncinya harus yakin dan telaten karena proses belajar hingga menenunnya memerlukan waktu yang lama. Sayang sekali ibu belum melihat minat seperti itu di generasi muda sekarang.

  • Kalau begitu terkhusus untuk usaha Ibu sendiri, apa yang dicita-citakan?

Berharapnya sih ya makin berkembang, hahaha. Mungkin kedepan bisa diteruskan oleh anak atau mungkin menantu. Supaya budaya tenun khas Jinengdalem juga tidak punah begitu saja.

***

Bagi Poni dan penenun lainnya, tenun adalah tentang budaya dan penghidupan. Bagi masyarakat, tenun adalah identitas. Identitas sendiri bukanlah suatu hal yang absolut, maka dari itu ia bisa terlepas kapan saja begitu praktiknya mulai ditinggalkan oleh para pelakunya. Sangat diperlukan adanya perubahan, namun pertama-tama perlu sekali penyadaran.

Terima kasih atas wawancaranya, Ibu Poni dan Ibu Sariani! [T]

Tags: balibulelengDesa Jinengdalemkain tenunKain Tenun Jinengdalemtenun
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ada Durian Emas di Desa Tajun | Yang Punya Pohonnya Bisa Hidup Sejahtera

Next Post

Hal-hal Sepele yang Sesungguhnya Hal-hal Penting dalam Berbisnis

Putu Dinda Ayudia

Putu Dinda Ayudia

Mahasiswa ilmu komunikasi tahun ketiga. Menyukai fenomena dengan isu perempuan, adat, serta pendidikan. Saat ini punya dua hobi: main sama kucing dan nonton anime.

Related Posts

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

by Emi Suy
June 1, 2026
0
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

Read moreDetails

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
0
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

Read moreDetails

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

by I Wayan Artika
May 27, 2026
0
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

Read moreDetails

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
0
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

Read moreDetails

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
0
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

Read moreDetails

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
0
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

Read moreDetails

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

by Kardanis Mudawi Jaya
May 24, 2026
0
Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

SEJAK tahun 2018, saya tidak pernah lagi bertemu dan mengobrol lama sambil menikmati kopi dan kacang dalam satu lingkup kerja...

Read moreDetails

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
0
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

Read moreDetails

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
0
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

Read moreDetails
Next Post
Hal-hal Sepele yang Sesungguhnya Hal-hal Penting dalam Berbisnis

Hal-hal Sepele yang Sesungguhnya Hal-hal Penting dalam Berbisnis

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co