22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mereka Menenun Zaman | Tentang Tenun Desa Jinengdalem dan Hal-hal yang Membuat Bimbang

Putu Dinda Ayudia by Putu Dinda Ayudia
March 11, 2022
in Khas
Mereka Menenun Zaman | Tentang Tenun Desa Jinengdalem dan Hal-hal yang Membuat Bimbang

Luh Sariani sedang merapikan beberapa benang tenunnya di Desa Jinengdalem, Buleleng {Foto: Dinda Ayudia]

Poni. Begitu panggilan akrabnya. Adalah seorang perempuan bernama lengkap Ketut Sriponi yang berasal dari Desa Jinengdalem, Kabupaten Buleleng, Bali. Disini mungkin belum nampak hal yang menjadikan seorang Ketut Sriponi istimewa. Namun nyatanya Ketut Sriponi adalah pemilik dari Poni’s Songket Weaving Centre, sebuah UMKM pusat kerajinan tenun di Desa Jinengdalem.

Hasil perjalanan beberapa waktu lalu membuahkan hasil perbincangan dengan Poni. Sekitar 1-3 km dari gapura masuk ke Desa Jinengdalem, kita akan melalui Pura Dalem Desa Jinengdalem, menyusuri jalanan yang menurun hingga sedikit berbatu. Awalnya cukup sulit untuk mencapai rumah Poni yang sekaligus juga menjadi galerinya, tapi dengan bermodalkan kemantapan hati sampai juga menemukan plang yang tergantung cukup jelas “Poni’s Songket”. Perbincangan malam itu cukup hangat, sambil tersenyum Poni mempersilahkan kami masuk ke showroomnya. mencari data mengenai usaha tenunnya, “Ya ibu sih selalu melayani kalau ada mahasiswa yang datang. Sering, kok”

Poni menjadi salah satu dari pengrajin tenun khas Jinengdalem yang masih eksis hingga sekarang. Sebagai seorang pengepul, Poni juga memiliki beberapa pengrajin tenun yang langsung mengerjakan dan mengalami sendiri proses pembuatan kain yang tak bisa dikatakan sebentar ini.

Salah satunya, Luh Sariani, seorang penenun dari Desa Jinengdalem yang telah menenun selama 10 tahun juga menyebut bahwa proses pembuatan selembar kain bisa memakan waktu 1-1,5 bulan tergantung pada tingkat kerumitannya dan jenis kainnya, “Lamanya kain tenun selesai bergantung juga dari ukurannya, kalau kamen (kain panjang) lebih lama, kalau selendang bisa lebih cepat”. Sembari berbincang santai, Luh Sariani juga menunjukkan kainnya yang masih seperempat jadi.

Baik Luh Sarini dan Poni keduanya masih bergairah dengan pekerjaan yang mereka lakoni dalam kesenian tenun. Kendati tenun menjadi kegiatan yang rumit dan menghabiskan banyak waktu serta tenaga, keduanya melihat bahwa dengan tenunlah hidup mereka bisa terus berlanjut, bahwa dari menenunlah mereka memperoleh pengupa jiwa.

Untuk mengenal lebih jauh mengenai budaya menenun songket, kita harus berjalan sekitar 8 kilometer dari pusat Kota Singaraja menuju ke sebuah desa. Adalah Desa Jinengdalem yang menjadi tempat ibu-ibu ini mengenal dan meneruskan kerja tenun mereka.

Gambar 1. Kain yang sedang ditenun Luh Sariani

Jinengdalem memiliki sejarah panjang yang erat dengan perkembangan seni budaya, salah satunya kesenian tenun songket Jinengdalem. Tidak banyak saat ini yang bisa diulik mengenai sejarah lahir dan berkembangnya budaya tenun di desa ini karena minimnya penelitian budaya dan sumber tertulis tentang Jinengdalem. Namun, apabila bertanya pada masyarakat setempat dimana kita bisa melihat produk kain songket Jinengdalem, jawaban yang akan kita dapat adalah Poni’s Songket.

Sejak bertahun-tahun lalu kerajinan tenun songket Jinengdalem yang ditekuni oleh Ketut Sriponi dipandang telah menghasilkan jenis kain yang terkenal kualitas bahan, warna, dan motifnya yang sangat nyeni. Keterkenalannya tidak pula meredup walaupun saat ini telah banyak pengrajin muncul ke permukaan dan turut pula dalam percaturan industri fashion dan tekstil, ditambah hantaman pandemi Covid-19.

Sayangnya, dibalik glorifikasi seni tenun sebagai sebuah eksotisme budaya, kondisi kesenian tenun sendiri sekarang seperti lantunan dalam lagu Judika, putus atau terus. Terjadi kelesuan proses pewarisan pengetahuan tenun pada generasi muda di Jinengdalem.

Selain karena anak-anak muda yang sudah disibukkan dengan kegiatan sekolah, banyak dari mereka juga memilih untuk bekerja pada sektor industri yang lebih besar dengan anggapan memperoleh penghidupan yang lebih terjamin. Proses mempelajari seni tenun juga bukan kegiatan yang mudah dan cepat, proses belajar yang lama dan kompleks di dalam pola kehidupan yang serba instan juga menjadi faktor terputusnya rantai pewarisan pengetahuan budaya tenun.

***

Penulis mewawancarai Poni mengenai keberlangsungan kerjanya dalam bidang tenun dan pandangan tentang tenun saat ini di mata generasi muda.

  • Sejak kapan Ibu mulai berkecimpung di dunia tenun?

Ibu sudah menenun dari usia 11 tahun, saat itu keterampilan tenun ‘kan masih diwariskan secara turun-temurun dan saat itu masih bekerja bersama kakak.

  • Ceritanya sampai bisa mendirikan Poni’s Songket?

Dulu itu sebenarnya kesenian tenun di Jinengdalem sempat mati suri karena banyak ditinggalkan penenunnya. Kemudian di tahun 2011 ada pembinaan untuk UMKM tenun dari Garuda Indonesia. Dibina teknis-teknisnya sampai cara pencelupan benang, dsb lalu Garuda Indonesia juga memberikan modal awal untuk penghidupan UMKM tenun sebesar lima puluh juta. Sistemnya dengan kredit, saat itulah ibu gunakan kesempatannya untuk mendirikan Poni’s Songket.

  • Berapa penenun yang bekerja dengan Ibu?

Dulu di awal sekali hanya 4 orang, sekarang sudah mencapai 30 orang.

  • Apakah Ibu menenun jenis kain selain songket?

Saat ini masih kain songket saja.

Gambar 2. Luh Sariani sedang merapikan beberapa benang tenunnya
  • Motif-motif apa saja yang ada pada kain tenun yang Ibu produksi?

Ada motif jumputan, kangkungan dan kalau yang asli dari Buleleng dan sudah ada sejak lama ada motif patrasari, patrapunggel, sungenge, bunga anggur, dan bunga pot.

  • Apakah COVID memengaruhi keberlanjutan para penenun yang bekerja dengan Ibu?

Syukurnya pengrajin yang bekerja dengan Ibu masih bertahan. Permintaan-permintaan kain songket masih tetap ada juga.

  • Apakah ada acara tertentu yang biasa Ibu lakukan terkait usaha tenun ini?

Sering. Ibu sering mengikuti pameran dan mewakili Kabupaten Buleleng. Beberapa kali kain dari Ibu juga dipercaya dan digunakan oleh beberapa petinggi, salah satunya digunakan oleh bapak Presiden Joko Widodo, yang dipakai saat pidato di HUT PDIP tahun 2018.

Gambar 3. Beberapa kain yang ada di galeri Poni’s Songket
  • Sepengetahuan ibu, bagaimana minat generasi muda dalam melakoni pekerjaan tenun?

Ibu melihat sekarang generasi muda sudah semakin kecil minatnya ke dunia tenun, kami para penenun bertahan di usia tua seperti ini. Jika dilihat kedepannya paling yang muncul hanya beberapa saja dan tidak sebanyak dulu. Mungkin karena pengaruh terlalu asik dengan bermain handphone, ya? Hahaha. Padahal jika diseriusi, menenun dari rumah saja menjanjikan keuntungan yang tidak kalah dengan sektor industri. Akan tetapi kuncinya harus yakin dan telaten karena proses belajar hingga menenunnya memerlukan waktu yang lama. Sayang sekali ibu belum melihat minat seperti itu di generasi muda sekarang.

  • Kalau begitu terkhusus untuk usaha Ibu sendiri, apa yang dicita-citakan?

Berharapnya sih ya makin berkembang, hahaha. Mungkin kedepan bisa diteruskan oleh anak atau mungkin menantu. Supaya budaya tenun khas Jinengdalem juga tidak punah begitu saja.

***

Bagi Poni dan penenun lainnya, tenun adalah tentang budaya dan penghidupan. Bagi masyarakat, tenun adalah identitas. Identitas sendiri bukanlah suatu hal yang absolut, maka dari itu ia bisa terlepas kapan saja begitu praktiknya mulai ditinggalkan oleh para pelakunya. Sangat diperlukan adanya perubahan, namun pertama-tama perlu sekali penyadaran.

Terima kasih atas wawancaranya, Ibu Poni dan Ibu Sariani! [T]

Tags: balibulelengDesa Jinengdalemkain tenunKain Tenun Jinengdalemtenun
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ada Durian Emas di Desa Tajun | Yang Punya Pohonnya Bisa Hidup Sejahtera

Next Post

Hal-hal Sepele yang Sesungguhnya Hal-hal Penting dalam Berbisnis

Putu Dinda Ayudia

Putu Dinda Ayudia

Mahasiswa ilmu komunikasi tahun ketiga. Menyukai fenomena dengan isu perempuan, adat, serta pendidikan. Saat ini punya dua hobi: main sama kucing dan nonton anime.

Related Posts

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Hal-hal Sepele yang Sesungguhnya Hal-hal Penting dalam Berbisnis

Hal-hal Sepele yang Sesungguhnya Hal-hal Penting dalam Berbisnis

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co