2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mereka Menenun Zaman | Tentang Tenun Desa Jinengdalem dan Hal-hal yang Membuat Bimbang

Putu Dinda Ayudia by Putu Dinda Ayudia
March 11, 2022
in Khas
Mereka Menenun Zaman | Tentang Tenun Desa Jinengdalem dan Hal-hal yang Membuat Bimbang

Luh Sariani sedang merapikan beberapa benang tenunnya di Desa Jinengdalem, Buleleng {Foto: Dinda Ayudia]

Poni. Begitu panggilan akrabnya. Adalah seorang perempuan bernama lengkap Ketut Sriponi yang berasal dari Desa Jinengdalem, Kabupaten Buleleng, Bali. Disini mungkin belum nampak hal yang menjadikan seorang Ketut Sriponi istimewa. Namun nyatanya Ketut Sriponi adalah pemilik dari Poni’s Songket Weaving Centre, sebuah UMKM pusat kerajinan tenun di Desa Jinengdalem.

Hasil perjalanan beberapa waktu lalu membuahkan hasil perbincangan dengan Poni. Sekitar 1-3 km dari gapura masuk ke Desa Jinengdalem, kita akan melalui Pura Dalem Desa Jinengdalem, menyusuri jalanan yang menurun hingga sedikit berbatu. Awalnya cukup sulit untuk mencapai rumah Poni yang sekaligus juga menjadi galerinya, tapi dengan bermodalkan kemantapan hati sampai juga menemukan plang yang tergantung cukup jelas “Poni’s Songket”. Perbincangan malam itu cukup hangat, sambil tersenyum Poni mempersilahkan kami masuk ke showroomnya. mencari data mengenai usaha tenunnya, “Ya ibu sih selalu melayani kalau ada mahasiswa yang datang. Sering, kok”

Poni menjadi salah satu dari pengrajin tenun khas Jinengdalem yang masih eksis hingga sekarang. Sebagai seorang pengepul, Poni juga memiliki beberapa pengrajin tenun yang langsung mengerjakan dan mengalami sendiri proses pembuatan kain yang tak bisa dikatakan sebentar ini.

Salah satunya, Luh Sariani, seorang penenun dari Desa Jinengdalem yang telah menenun selama 10 tahun juga menyebut bahwa proses pembuatan selembar kain bisa memakan waktu 1-1,5 bulan tergantung pada tingkat kerumitannya dan jenis kainnya, “Lamanya kain tenun selesai bergantung juga dari ukurannya, kalau kamen (kain panjang) lebih lama, kalau selendang bisa lebih cepat”. Sembari berbincang santai, Luh Sariani juga menunjukkan kainnya yang masih seperempat jadi.

Baik Luh Sarini dan Poni keduanya masih bergairah dengan pekerjaan yang mereka lakoni dalam kesenian tenun. Kendati tenun menjadi kegiatan yang rumit dan menghabiskan banyak waktu serta tenaga, keduanya melihat bahwa dengan tenunlah hidup mereka bisa terus berlanjut, bahwa dari menenunlah mereka memperoleh pengupa jiwa.

Untuk mengenal lebih jauh mengenai budaya menenun songket, kita harus berjalan sekitar 8 kilometer dari pusat Kota Singaraja menuju ke sebuah desa. Adalah Desa Jinengdalem yang menjadi tempat ibu-ibu ini mengenal dan meneruskan kerja tenun mereka.

Gambar 1. Kain yang sedang ditenun Luh Sariani

Jinengdalem memiliki sejarah panjang yang erat dengan perkembangan seni budaya, salah satunya kesenian tenun songket Jinengdalem. Tidak banyak saat ini yang bisa diulik mengenai sejarah lahir dan berkembangnya budaya tenun di desa ini karena minimnya penelitian budaya dan sumber tertulis tentang Jinengdalem. Namun, apabila bertanya pada masyarakat setempat dimana kita bisa melihat produk kain songket Jinengdalem, jawaban yang akan kita dapat adalah Poni’s Songket.

Sejak bertahun-tahun lalu kerajinan tenun songket Jinengdalem yang ditekuni oleh Ketut Sriponi dipandang telah menghasilkan jenis kain yang terkenal kualitas bahan, warna, dan motifnya yang sangat nyeni. Keterkenalannya tidak pula meredup walaupun saat ini telah banyak pengrajin muncul ke permukaan dan turut pula dalam percaturan industri fashion dan tekstil, ditambah hantaman pandemi Covid-19.

Sayangnya, dibalik glorifikasi seni tenun sebagai sebuah eksotisme budaya, kondisi kesenian tenun sendiri sekarang seperti lantunan dalam lagu Judika, putus atau terus. Terjadi kelesuan proses pewarisan pengetahuan tenun pada generasi muda di Jinengdalem.

Selain karena anak-anak muda yang sudah disibukkan dengan kegiatan sekolah, banyak dari mereka juga memilih untuk bekerja pada sektor industri yang lebih besar dengan anggapan memperoleh penghidupan yang lebih terjamin. Proses mempelajari seni tenun juga bukan kegiatan yang mudah dan cepat, proses belajar yang lama dan kompleks di dalam pola kehidupan yang serba instan juga menjadi faktor terputusnya rantai pewarisan pengetahuan budaya tenun.

***

Penulis mewawancarai Poni mengenai keberlangsungan kerjanya dalam bidang tenun dan pandangan tentang tenun saat ini di mata generasi muda.

  • Sejak kapan Ibu mulai berkecimpung di dunia tenun?

Ibu sudah menenun dari usia 11 tahun, saat itu keterampilan tenun ‘kan masih diwariskan secara turun-temurun dan saat itu masih bekerja bersama kakak.

  • Ceritanya sampai bisa mendirikan Poni’s Songket?

Dulu itu sebenarnya kesenian tenun di Jinengdalem sempat mati suri karena banyak ditinggalkan penenunnya. Kemudian di tahun 2011 ada pembinaan untuk UMKM tenun dari Garuda Indonesia. Dibina teknis-teknisnya sampai cara pencelupan benang, dsb lalu Garuda Indonesia juga memberikan modal awal untuk penghidupan UMKM tenun sebesar lima puluh juta. Sistemnya dengan kredit, saat itulah ibu gunakan kesempatannya untuk mendirikan Poni’s Songket.

  • Berapa penenun yang bekerja dengan Ibu?

Dulu di awal sekali hanya 4 orang, sekarang sudah mencapai 30 orang.

  • Apakah Ibu menenun jenis kain selain songket?

Saat ini masih kain songket saja.

Gambar 2. Luh Sariani sedang merapikan beberapa benang tenunnya
  • Motif-motif apa saja yang ada pada kain tenun yang Ibu produksi?

Ada motif jumputan, kangkungan dan kalau yang asli dari Buleleng dan sudah ada sejak lama ada motif patrasari, patrapunggel, sungenge, bunga anggur, dan bunga pot.

  • Apakah COVID memengaruhi keberlanjutan para penenun yang bekerja dengan Ibu?

Syukurnya pengrajin yang bekerja dengan Ibu masih bertahan. Permintaan-permintaan kain songket masih tetap ada juga.

  • Apakah ada acara tertentu yang biasa Ibu lakukan terkait usaha tenun ini?

Sering. Ibu sering mengikuti pameran dan mewakili Kabupaten Buleleng. Beberapa kali kain dari Ibu juga dipercaya dan digunakan oleh beberapa petinggi, salah satunya digunakan oleh bapak Presiden Joko Widodo, yang dipakai saat pidato di HUT PDIP tahun 2018.

Gambar 3. Beberapa kain yang ada di galeri Poni’s Songket
  • Sepengetahuan ibu, bagaimana minat generasi muda dalam melakoni pekerjaan tenun?

Ibu melihat sekarang generasi muda sudah semakin kecil minatnya ke dunia tenun, kami para penenun bertahan di usia tua seperti ini. Jika dilihat kedepannya paling yang muncul hanya beberapa saja dan tidak sebanyak dulu. Mungkin karena pengaruh terlalu asik dengan bermain handphone, ya? Hahaha. Padahal jika diseriusi, menenun dari rumah saja menjanjikan keuntungan yang tidak kalah dengan sektor industri. Akan tetapi kuncinya harus yakin dan telaten karena proses belajar hingga menenunnya memerlukan waktu yang lama. Sayang sekali ibu belum melihat minat seperti itu di generasi muda sekarang.

  • Kalau begitu terkhusus untuk usaha Ibu sendiri, apa yang dicita-citakan?

Berharapnya sih ya makin berkembang, hahaha. Mungkin kedepan bisa diteruskan oleh anak atau mungkin menantu. Supaya budaya tenun khas Jinengdalem juga tidak punah begitu saja.

***

Bagi Poni dan penenun lainnya, tenun adalah tentang budaya dan penghidupan. Bagi masyarakat, tenun adalah identitas. Identitas sendiri bukanlah suatu hal yang absolut, maka dari itu ia bisa terlepas kapan saja begitu praktiknya mulai ditinggalkan oleh para pelakunya. Sangat diperlukan adanya perubahan, namun pertama-tama perlu sekali penyadaran.

Terima kasih atas wawancaranya, Ibu Poni dan Ibu Sariani! [T]

Tags: balibulelengDesa Jinengdalemkain tenunKain Tenun Jinengdalemtenun
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ada Durian Emas di Desa Tajun | Yang Punya Pohonnya Bisa Hidup Sejahtera

Next Post

Hal-hal Sepele yang Sesungguhnya Hal-hal Penting dalam Berbisnis

Putu Dinda Ayudia

Putu Dinda Ayudia

Mahasiswa ilmu komunikasi tahun ketiga. Menyukai fenomena dengan isu perempuan, adat, serta pendidikan. Saat ini punya dua hobi: main sama kucing dan nonton anime.

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Hal-hal Sepele yang Sesungguhnya Hal-hal Penting dalam Berbisnis

Hal-hal Sepele yang Sesungguhnya Hal-hal Penting dalam Berbisnis

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co