Pelabuhan Padangbai di Karangasem, Bali, masih sepi. Jarum jam menunjukkan pukul 07.30 WITA. Karena belum sarapan, saya makan dua bungkus nasi jinggo, di salah satu warung kopi yang terletak tidak jauh dari gerbang pelabuhan.
“Mau ke mana?”
Saya mendengar suara sengau dari arah belakang. Saya lihat ada perempuan bule paruh baya yang sedang merokok.
“Ke Labuan Bajo.”
“Sendiri? Naik sepeda itu?,” tanyanya sambil menunjuk sepeda yang saya parkir di depan warung.
“Iya.”
“Cool! Saya juga ingin bersepeda ke sana.”
“Anda juga suka bersepeda?”
Pertanyaan saya tidak segera dijawab, pandangannya tertuju pada ibu pemilik warung.
“Ibu, saya pesan kopi tanpa gula, sepertinya biasanya.”
Ibu pemilik warung tersenyum dan segera mengambil cangkir, memasukkan dua sendok kopi dan menuangkan air mendidih.
Perempuan berambut merah itu kembali melihat ke arah saya.
“Oh iya, ketika masih tinggal di Paris, saya suka bersepeda. Pernah juga keliling Eropa.”
Sebentar kemudian Di hadapannya terhidang secangkir kopi hitam yang asapnya masih mengepul.
“Sudah berapa lama di Indonesia?”
“Di Bali hampir 15 tahun, sebelumnya di Bandung dan Jakarta.”
Kami pun berbagi pengalaman bersepeda, hingga saya pamit untuk masuk ke pelabuhan. Setelah mendapatkan karcis, saya masuk ke kapal yang akan membawa saya menuju ke Pulau Lombok.
Di ruang penumpang yang terletak di lantai dua, suasana sangat gaduh. Beberapa pedagang asongan menawarkan berbagai kudapan dengan cukup agresif. Karena tidak tahan, saya pindah ke bangku penumpang di luar.
Kapal baru berangkat pukul 09.35 WITA. Beberapa menit kemudian, saya kembali masuk ke ruang penumpang. Pedagang asongan sudah turun menjelang keberangkatan kapal. Suasana menjadi tenang.
Kursi hampir semua terisi. Saya melihat ada 2 kursi kosong di deretan tengah dekat lorong sisi kiri. Saya segera menuju ke sana.
Ketika sedang asyik update Strava, lelaki di sebelah saya menawarkan sesuatu.
“Mohon maaf jika berkenan,” katanya, sambil mengulurkan serenteng minuman probiotik.
Saya perhatikan umurnya tidak terpaut jauh dari saya. Saya menolak halus dengan mengatupkan dua telapak tangan. Saya tidak sedang ingin membeli probiotik.
Setelah Strava, saya membuka WA dan Facebook. Dari sudut mata, saya melihat lelaki itu memperhatikan saya.
“Mau ke mana?”
“Labuan Bajo, Pak.”
“Oh! Berati menuju Sape ya.”
“Iya Betul.”
“Bentang Sumbawa ditempuh berapa hari?”
“Tiga hari.”
“Apa tidak terlalu cepat?”
“Rasanya cukup. Saya sudah menghitung jaraknya dengan bantuan Google Map. Dengan jarak 335 kilometer, jika perhari menempuh rata-rata 110 kilometer saja, dalam 3 hari sampai di Sape.”
“Coba Anda lihat lagi di Google Map, rasanya jarak dari Pototano ke Sape lebih dari 370 kilometer.”
Saya segera membuka lagi Google Map. Benar! Ternyata jaraknya 385 kilometer! Jelas tidak mungkin saya tempuh dalam 3 hari.
“Wah! Bapak benar, jaraknya 385 kilometer.”
“Hehehe. Bali-Lombok-Sumbawa itu jalur yang sering saya lewati.”
Ternyata dia pengusaha ikan dan hasil bumi, yang memiliki aset di 3 pulau tersebut. Tidak heran dia sangat hafal jalurnya.
Beruntung saya ketemu dengannya. Saya banyak dibantu untuk memetakan ulang jalur bentang Sumbawa yang sudah saya buat.
Jika jalur sebelumnya adalah Pototano-Empang-Dompu-Sape, saya ubah menjadi Pototano-Sumbawa Besar-Empang-Dompu-Sape.
Saya menyesal menyangka dia sebagai pedagang asongan yang menawarkan dagangan. Ternyata minuman probiotik yang ditawarkan pada saya merupakan bentuk keramah-tamahannya.
Karena ombak relatif tenang, penyeberangan ke Lembar hanya makan waktu sekitar 4 jam. Tepat pukul 13.50 saya keluar dari gerbang Pelabuhan Lembar, disambut hujan cukup deras. Setelah makan siang, saya menuju Mataram, yang hanya berjarak 22 kilometer. [T]
Penulis: Made Wirya
Editor: Jaswanto
- BACA CERITA SEBELUMNYA:
![Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [8]–Bertemu Orang Baik, Memetakan Ulang Jalur Bentang Sumbawa](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/08/wirya.-sepeda8-750x375.jpeg)


























