23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

GARBHA EMAS, Model Alternatif Kurikulum Pendidikan Anak

Dewa Purwita Sukahet by Dewa Purwita Sukahet
August 7, 2025
in Panggung
GARBHA EMAS, Model Alternatif Kurikulum Pendidikan Anak

Ruang tumbuh Bumi Bajra | Foto: Luciana Ferrero

BERMULA dari Tarka Webinar, Dialog Imaginer Virtual-III 2022-2023 Jembatan Emas Dialog Puncak Bersama Pusat (‘JE’-DPBP) dengan mengambil topik: Manuverse N’45, Garis M-7: Penciptaan Pusat Baru diselenggarakan pada 9 Januari 2023 yang menyajikan pertunjukan virtual dan (tarka) atau dialog, turut serta di dalamnya adalah Ida Wayan Oka Granoka yang memaparkan tentang program mahkota aksara tujuh abad Bhinneka Tunggal Ika dan dilanjutkan pemaparan oleh narasumber Prof. Dr. I Gusti Putu Suryadarma, M.S., Taufik Rahzen, Dr. Dewi Utama Faizah, selaku moderator adalah I Wayan Juniarta dan Cok Sawitri.

Menyimak dialog-dialog yang terjadi pada saat itu membuat satu pertanyaan besar di kepala saya, yaitu: [1] bagaimana cara menyederhanakan (membahasakan dengan sederhana) pemikiran dari Ida Wayan Oka Granoka sehingga dengan mudah disebarkan sebagai bentuk upaya penyadaran tentang pentingnya nilai pendidikan yang bermutu (saya sebut local supremation) di Indonesia? [2] Adakah pendekatan alternatif (kurikulum) yang dapat dibangun sekaligus diterapkan di dalam metode pendidikan anak-anak yang memang membela kebutuhan anak-anak di Indonesia?

Saya mencatat beberapa kata kunci, yaitu: [1] Garbha Emas, [2] Yoga Musik, [3] Anak-anak. Pada saat itu saya bersama istri dan (alm) I Dewa Made Rai sedang merancang sebuah perpustakaan dan sekolah TK. Rumah Mentari, waktu itu masih dalam tahap penggodokan konsep pendidikan dan kurikulum. Tiga kata kunci tersebut masuk ke dalam brainstorming saya, sembari mendengarkan Tarka Webinar sambil membuat berbagai kemungkinan-kemungkinan tentang alternatif model pendidikan anak-anak. Sederhananya, simpulan ringkas dari Tarka Webinar yang saya dapatkan adalah jika di Perguruan Yoga Musik Maha Bajra Sandhi menerakan laku yoga pada sistem dasar pendidikan dan musik sebagai pintu masuknya maka di TK. Rumah Mentari aspek yoga dilakukan sistem dasar pendidikan dan seni [rupa] sebagai pintu masuknya. Dalam pemikiran saya, konsep ini serupa dan juga tidak terlampau jauh dari tiga kata kunci tersebut.

Kembali pada topik Garbha Emas sebagai model alternatif kurikulum pendidikan untuk anak-anak, saya mencoba untuk menyederhanakan pemikiran Ida Wayan Oka Granoka dengan dasar diseminasi melalui rangkaian Tarka Webinar atau seminar yang telah saya ikuti dari tahun 2016-2024, tulisan-tulisan Ida Wayan Oka Granoka yang saya kumpulkan, dan praktik-praktik berkesenian yang dilakukan di Ruang Tumbuh Bumi Bajra. Kita semua tentu mendambakan sebuah sistem pendidikan yang bermutu bagi anak bangsa dan kita semua selalu menggerutu ketika mendapati suatu sistem pendidikan yang tidak pernah ajeg alias berubah-ubah, ganti kabinet atau menteri ganti kebijakan sama dengan ganti sistem, seolah-olah pendidikan di Indonesia adalah percobaan kurikulum yang tidak pernah menjadi matang secara konsep dan pemikiran.

Dari yang saya baca dan alami melalui pemikiran Granoka tentang pendidikan, harusnya negara hadir dan mengambil peran dalam pendidikan supremasi ideal. Granoka menuliskan bahwa kesalahan dalam membangun bahasa yang tidak berkerabat dengan lingkungan dan faktor genetiknya, membawa implikasi terhadap penciptaan kekerasan, belenggu rasionalisme, formalism dan eksklusivisme. contoh yang paling kongkrit adalah kegagalan kita di dalam membangun bangsa, setelah lebih dari lima puluh tahun Indonesia merdeka[i].

Tentang Kurikulum Indonesia

Mengacu kepada definisi kurikulum di dalam Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum Pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah pada  BAB I Ketentuan Umum, point 1 menyatakan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Prinsip Kurikulum Merdeka dinyatakan dalam tiga point yaitu [1] Pengembangan karakter, yaitu pengembangan kompetensi spiritual, moral, sosial, dan emosional Peserta Didik, baik dengan pengalokasian waktu khusus maupun secara terintegrasi dengan proses pembelajaran; [2] fleksibel, yaitu dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan kompetensi Peserta Didik, karakteristik Satuan Pendidikan, dan konteks lingkungan sosial budaya setempat; dan [3] berfokus pada muatan esensial, yaitu berpusat pada muatan yang paling diperlukan untuk mengembangkan kompetensi dan karakter Peserta Didik agar Pendidik memiliki waktu yang memadai untuk melakukan pembelajaran yang mendalam dan bermakna. [ii]

Pada tanggal 11 Juli 2025 ditetapkan perubahan atas peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 12 Tahun 2024 Tentang Kurikulum Pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah oleh Menteri Abdul Mu’Ti dalam salinan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2025.

Secara prinsip, Kurikulum dirancang dengan prinsip: [1] pengembangan karakter, yaitu pengembangan kompetensi spiritual, moral, sosial, dan emosional Peserta Didik yang terintegrasi dalam intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler, serta melalui pembiasaan dalam budaya sekolah; [2] fleksibel, yaitu dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan kompetensi Peserta Didik, karakteristik Satuan Pendidikan, dan konteks lingkungan sosial budaya setempat; dan [3] berfokus pada muatan esensial, yaitu berpusat pada muatan yang paling diperlukan untuk mengembangkan kompetensi dan karakter

Peserta Didik agar proses pembelajaran dapat dikelola secara optimal untuk pembelajaran mendalam.[iii] Pada intinya terjadi perubahan prinsip yang semula kurikulum yang mencoba memerdekakan cara belajar menjadi mengarahkan pada proses pembelajaran yang mendalam atau deep learning, pembelajaran mendalam tentu tidak menuntuk hasil melainkan penekanan peserta didik pada proses.

Garbha Emas dan Memandang Bali dari Pespektif Masa Depan

Sebagai catatan bahwa istilah Garbha Emas dirumuskan oleh Ida Wayan Oka Granoka dan pada tulisan ini saya pergunakan sebagai istilah sebuah rumusan kurikulum alternatif. Dalam memandang Bali melalui perspektif masa depan dalam pandangan Granoka yang visioner menitik beratkan pada pendidikan anak usia dini, hal tersebut didasarkan pada pernyataan bahwa anak-anak memiliki kemurnian jiwa yang kemampuannya harus dapat dibaca oleh para pendidik, dengan kata lain, pendidik (guru/orang tua/wali) haruslah memahami bahwa mengarahkan potensi dengan membaca potensi anak-anak adalah dua hal yang berbeda. Membaca potensi lebih menekankan pada suatu proses pemetaan yang observative dengan mengamati perilaku organik anak-anak, hal ini pada kenyataannya telah diterapkan pada Perguruan Maha Bajra Sandhi yang kemudian menelurkan Bumi Bajra hingga Ruang Tumbuh Bumi Bajra.

Garbha Emas sebagai sebuah konsep bangunan alternatif kurikulum pendidikan adalah jalan panjang menuju masa depan manusia Bali, efeknya tidak akan terasa seperti memakan cabai tentunya. Oleh sebabnya, penekanan pada pentingnya pemetaan yang observatif di dalam membaca potensi anak dilanjutkan pada praktik pendidikan itu sendiri.

Ida Wayan Granoka bersama anak-anak di Ruang Tumbuh Bumi Bajra | Foto: Luciana Ferrero

Granoka menawarkan Yoga Musik, Yoga dalam arti yang sederhana yaitu pengolahan sistem pernafasan, dalam arti lain adalah kesadaran akan nafas, pada praktiknya menjadi efektif di dalam melatih fokus anak-anak di dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Musik memiliki unsur nada, dan nada adalah warna suara dalam frekuensi tertentu yang dalam psikologinya mampu menyentuh ruang-ruang rasa dalam tubuh manusia, dalam pengetahuan Bali mengenai tubuh manusia bahwa tubuh manusia dan tubuh alam semesta sama-sama terdiri dari mandala aksara. Nada dalam musik sebagai seni atau warna dalam seni visual adalah tools resonator yang mampu mempersatukan antara tubuh manusia dengan tubuh semesta.

Musik-Linguistik-Mistik sebagai prinsip dasar Kurikulum Garbha Emas, trilogi ini selalu hadir dalam tulisan ataupun dialog yang disampaikan Granoka. Musik-Linguistik-Mistik dapat berlaku secara universal sebagi sebuah prinsip dasar kurikulum dapat disejajarkan dengan tiga tingkat kecerdasan manusia yaitu IQ, EQ, SQ. Musik (seni) dapat dibedah uraikan variannya di dalam merangsang pertumbuhan Intelegent Quotient (Kecerdasan Itelektual), Liguistik (bahasa-sastra) dapat diuraikan variannya di dalam pertumbuhan Emotional Quotient (Kecerdasan Emosional), sedangkan Mistik (penyatuan spiritual yang membebaskan) dapat diuraikan sebagai pertumbuhan Spiritual Quotient (Kecerdasan Spiritual). Trilogi tersebut sebagai prinsip dasar dari rumusan Kurikulum Garbha Emas yang memiliki tujuan revolusioner yaitu pendidikan yang membebaskan kemurnian jiwa yang baru terbit, anak-anak masa kini adalah harapan perubahan kita, mereka adalah Gerbang Emas yang akan membawa kebudayaan Bali pada masa Global Emas.

Alternatif Kurikulum Garbha Emas dan Konsep Smart School

Wacana dunia pendidikan di Bali khususnya Kota Denpasar mejelang dekade 2020 adalah mendorong terciptanya Smart City dan Smart School[iv] yang dalam konsepnya melirik kepada konsep pendidikan di sekolah Green School dan Sekolah Ekologis PPLH Bali.

Menariknya konsep Smart School yang dimaksudkan adalah [1] Kurikulum Berwawasan Lingkungan, [2] Pemanfaatan Energi Terbarukan, [3] Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber, [4] Arsitektur Berkelanjutan, [5] Penerapan Folosifi Tri Hita Karana. Sebagai sebuah alternatif, Kurikulum Garbha Emas tidak hanya berwawasan pada lingkungan, justru lebih dari itu. Apabila kita memandang lingkungan sebagai basis organik anak-anak maka Garbha Emas memiliki konsep “Kalangan” yang di dalamnya hidup atau aktivitas tumbuh kembang pada lingkungan berbasis ekosistem pun pada aktivitas sekitar sehingga sistem pengetahuan yang ditanamkan cenderung membangun responsif, empati, dan aplikatif dalam pendidikan anak-anak menjadi sistem yang lebih organik dan tidak kaku.

Persoalan mendasar dari pendidikan di Indonesia, Bali khususnya adalah ketimpangan konsep pendidikan yang tidak paralel antara Swasta dengan Negeri, sebagai contoh: sekolah TK A menerapkan pendidikan dengan konsep Smart School ala imajinasi pemerintahan Kota Denpasar, setelah anak-anak tamat dan melanjutkan di sekolah SD Negeri B konsep pendidikan kembali pada persoalan keseragaman praktik yang formalis dan sangat kaku.

Eksesnya adalah psikologi anak-anak dan kreativitas yang awalnya penuh imajiinasi terpendam dalam formalism rasionalitas kaku, jadi apa yang telah diupayakan pada pendidikan anak-anak usia dini tersebut manjadi hal yang mubazir. Apabila kita ingin melihat anak-anak Bali tumbuh dalam dunia Global Emas maka harus ada titik temu yang menghubungkan penerapan kurikulum (elaborasi) antara setiap jenjang pendidikan anak-anak di Bali.

Granoka melalui Garbha Emas menyerukan revolusi pendidikan jiwa murni dan kebudayaan melalui istilah Revolusi Moralitas Negeri sebagai bentuk revolusi yang tidak terhentikan, dengan ujung tombak pendidikan jiwa murni yang terbit dari pelupuk timur negeri maha surga bumi. Rekonfigurasi paradigma pendidikan masa depan adalah suatu upaya pembentukan ulang atau menyusuna ulang paradigma berfikir tentang pendidikan melalui kurikulum yang memang dibutuhkan oleh anak-anak, oleh Granoka sendiri merumuskannya pada paradigma sistemik-organik, paradigma holistik-integralistik, paradigma humanistik, paradigma idealistik-transformatif, dan paradigma multikulturalisme.

Garbha Emas sebagai alternatif kurikulum pendidikan untuk anak-anak yang lahir dari fenomena kehidupan sosial, budaya, politik masyarakat masa kini yang kian kompleks dan masuk ke dalam pertarungan global, hendaknya revolusi pendidikan jiwa murni dapat digaungkan dan didialogkan dari desa-kota-universitas, seru sekalian alam! {T]

Pohmanis, 7 Agustus 2025


[i] Granoka, 2012. “Bahasa & Masalah Besar Bangsa” [makalah seminar]. Seminar Nasional Reinkarnasi Budaya 2012, Revolusi, Inspirasi, Kreativitas Anak Sastra Sebagai Insan Budaya: Filterisasi Hegemoni Budaya Global terhadap Tradisi Lokal”. Senat Mahasiswa Fakultas Sastra, Universitas Udayana. 14 Desember 2012.

[ii] Salinan Kurikulum Pendidikan Indonesia https://kurikulum.kemdikbud.go.id/file/1711507788_manage_file.pdf

[iii] Salinan Perubahan Kurikulum Pendidikan Indonesia https://jdih.kemendikdasmen.go.id/sjdih/siperpu/dokumen/salinan/Permendikdasmen_No_13_Tahun_2025_ttg_Perubahan_atas_Permendikbudristek_No_12_Tahun_2024_ttg_Kurikulum_pada_Pendidikan_Anak_Usia_Dini_Jenjang_Dikdasmen.pdf

[iv] Badan Pengawas Mutu Pendidikan Provinsi Bali. 2019. “Diseminasi Hasil Pemetaan Mutu Pendidikan Kota Denpasar”

Penulis: Dewa Purwita Sukahet
Editor: Adnyana Ole

TRI KARANA SWARŪPA : Temuan Ida Wayan Oka Granoka untuk Menjawab Tantangan Zaman
Tubuh Tradisional + Tubuh Modern = Bukan Kelatahan Kontemporer | Dari Pentas “Tadah Asih” Bumi Bajra Sandhi
Dongeng Tantri Bumi Bajra Sandhi di Festival ke Uma: Seakan Bukan Manusia
Pagelaran Seni “Kaputusan Garba Emas”: Ragam Rupa Khas Maha Bajra Sandhi dalam Upaya Melahirkan “Pregina Maguna”
Menyimak “Senglad” di Malam yang Terlewat — Catatan Lepas atas Undangan I Wayan Diana Putra
Tags: anak-anakBumi BajraBumi Bajra SandhiPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Catatan dari Forum Bukan Musik Biasa #106 : Membunyikan Ulang Seni Sandur dan Biografi

Next Post

Tradisi Ngayah Masih Kuat di Ubud — Cerita Persiapan Upacara Ngaben Kinembulan 2025 di Banjar Adat Ubud Kaja

Dewa Purwita Sukahet

Dewa Purwita Sukahet

Perupa, suka ngukur jalan, dan CaLis tanpa Tung

Related Posts

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

Read moreDetails

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
0
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

Read moreDetails

Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

SALAH satu momen menarik ketika Salamander Big Band tampil membuka Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026 pada Jumat, 7...

Read moreDetails

Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

SORAK sorai suporter terdengar dari sudut aula. Tepuk tangan menyambut setiap penampilan, sementara tawa pecah di antara adegan-adegan drama yang...

Read moreDetails

Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

by Nyoman Budarsana
August 15, 2026
0
Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

KETIKA suling mulai dimainkan, suasana seketika berubah. Para pemain Genjek Pondok Pekak, Ubud, bergerak dengan ekspresi yang kuat. Penari laki-laki...

Read moreDetails

Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’

by Dede Putra Wiguna
August 13, 2026
0
Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’

MALAM di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026, berjalan dalam suasana tenang ketika Dodot Trio mulai memainkan...

Read moreDetails
Next Post
Tradisi Ngayah Masih Kuat di Ubud — Cerita Persiapan Upacara Ngaben Kinembulan 2025 di Banjar Adat Ubud Kaja

Tradisi Ngayah Masih Kuat di Ubud -- Cerita Persiapan Upacara Ngaben Kinembulan 2025 di Banjar Adat Ubud Kaja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co