14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan dari Forum Bukan Musik Biasa #106 : Membunyikan Ulang Seni Sandur dan Biografi

Wahyu Thoyyib Pambayun by Wahyu Thoyyib Pambayun
August 7, 2025
in Ulas Musik
Catatan dari Forum Bukan Musik Biasa #106 : Membunyikan Ulang Seni Sandur dan Biografi

Penampilan Karya Kesandur | Foto: Bimasena BMB #106

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) telah menggelinding selama 17 tahun, meneruskan nyala semangat forum-forum musik seni di Indonesia yang sempat meredup. Seperti diungkap oleh mendiang Wayan Sadra dan ditulis oleh Joko S. Gombloh dalam catatan publikasi BMB, forum ini lahir dari kerinduan akan dinamika seperti Pekan Komponis Muda (PKM) yang dulu digagas Suka Hardjana. BMB berupaya membangun kembali wilayah kebebasan para komponis, menjadi laboratorium eksperimentasi untuk menemukan cara, metode, konsep, dan pikiran baru dalam penciptaan musik.

Edisi ke-106 Forum BMB berlangsung pada Selasa malam, 15 Juli 2025, di Pendapa Wisma Seni, Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta. Dua komponis muda menampilkan karya berbasis gamelan: Krisna Julinanta (Bojonegoro) dan Didin Cakra Manggala (Ponorogo). Diskusi usai pertunjukan dipandu oleh Sigit “Siklun” Purwanto, dengan Danis Sugiyanto sebagai pembicara utama. Forum ini juga dihadiri sejumlah tokoh gamelan seperti Sumarsam, Darno Kartawi, Aris Setiawan, dan Chris Miller.

Membunyikan Ulang Seni Sandur

Kesandur karya Krisna Julinanta menjadi pembuka dalam BMB #106. Krisna membunyikan kembali seni pertunjukan rakyat sandur dari Bojonegoro, seni tutur tradisi yang nyaris tenggelam dan distigma sebagai “seni terlarang” pasca-1965. Alih-alih merekonstruksi bentuk aslinya, Ia menciptakan transposisi bunyi atas ingatan kolektif, menerjemahkan logat dan ritme sandur ke dalam timbre gamelan. Motif-motif tutur diolah menjadi pola tabuhan balungan, bonang, dan kethuk, menciptakan tekstur suara yang unik. Komposisinya rapi, penataan register instrumen terukur, dan modifikasi pathet pada laras pelog memberi warna yang tak lazim.

Penampilan Krisna Julinanta | Foto: Bimasena BMB #106

Masyarakat BMB | Foto: Bimasena BMB #106

Sebagai pembicara, Danis Sugiyanto memberi penguatan atas pentingnya konsistensi dan keberanian mengeksplorasi bentuk. Ia menekankan perlunya menjaga sambung rapet antar bagian komposisi, sekaligus mendorong Krisna untuk terus membuka ruang percobaan yang baru. Komentar ini menyasar pada proses penyusunan karya: bagaimana menjaga keterpautan antarbagian komposisi tetapi tanpa menghilangkan daya kejutan.

Apresiasi juga datang dari Prof. Sumarsam yang menyoroti kedekatannya dengan Krisna sebagai sesama orang Bojonegoro, sekaligus mengaitkan BMB dengan semangat Pekan Komponis Muda pada 1970-an. Sumarsam menawarkan refleksi soal proses kreatif yang bergerak dari “ruang dalam” (ingatan, batin, inspirasi) menuju “ruang luar” (panggung dan publik). Baginya, Kesandur berhasil mengolah warisan budaya lokal yang traumatik menjadi bentuk musikal yang segar. Chris Miller mencermati eksplorasi laras pelog dalam karya ini. Baginya, penggunaan laras pelog di tangan Krisna berbeda dari tren umum, tidak jatuh ke dalam imitasi diatonis, melainkan muncul sebagai warna tersendiri.

Sesi diskusi | Foto: Bimasena BMB #106

Chris Miller memberikan komentar | Foto: Bimasena BMB #106

Sumarsam memberikan komentar | Foto: Bimasena BMB #106

Sementara itu, Darno Kartawi memuji struktur komposisi yang rapi, sembari melempar komentar jenaka: “Terlalu rapi nanti bisa cepat bosan, sesekali beri ruang untuk ngawur.” Ucapan ini bisa dibaca sebagai dorongan agar bentuk komposisi tidak terkunci dalam sistem yang tertib. Mengelola keseimbangan antara struktur yang tertata dan elemen yang spontan masih menjadi tantangan tersendiri bagi Krisna. Saran dari Darno dapat dibaca sebagai ajakan memberi ruang untuk kejutan, ketidakterdugaan, atau bahkan “kesengajaan yang ngawur” dalam kerangka kerja yang terukur.

Salah satu kekuatan Kesandur terletak pada kemampuannya membangun rasa ansambel. Krisna piawai mengarahkan para pengrawit secara presisi tanpa menghilangkan energi kolektif yang tumbuh dari kebersamaan bermain. Kesandur dapat dibaca sebagai bentuk reaktualisasi kebudayaan yang trauma, sebuah praktik  membunyikan sandur melalui sensibilitas seorang komponis muda.

Membunyikan Biografi

Karya kedua yang tampil dalam BMB 106 adalah Laku Jantra yang disusun oleh Didin Cakra Manggala. Komposisi ini merupakan pembacaan atas perjalanan hidup Sukoco, pengrajin gamelan yang meninggalkan pekerjaan formal demi menekuni wirausaha seni. Transformasi batin Sukoco, dari keresahan hingga ketenangan, menjadi dasar bentuk dan dinamika karya ini.

Didin memilih mendalami narasi, mengolah karakter dan emosi Sukoco ke dalam susunan musikal. Pola-pola karawitan Jawa Timuran, gaya Surakarta dan Yogyakarta, pathetan, lancaran, dan sampak dirajut untuk menggambarkan suasana kontemplatif, gelisah, emosional, hingga bahagia. Gender, bonang barung, kendang, dan vokal digunakan untuk membawa pendengar menelusuri perubahan suasana hati itu. Karya ini mendekati bentuk musik program, di mana narasi menjadi fondasi penciptaan. Laku Jantra terasa seperti reportase musikal dari praktik seni yang hidup di masyarakat.

Penampilan Didin | Foto: Bimasena BMB #106

Beberapa tanggapan menarik muncul. Danis Sugiyanto mencatat bagaimana karakter dan fenomena sosial diterjemahkan menjadi struktur musik, yang membutuhkan kepekaan dan konsistensi. Aris Setiawan menekankan pentingnya narasi dalam karya dan diskusi musik hari ini. Menurutnya, tanpa penjelasan komponis, detail seperti kisah Sukoco bisa tak terbaca, dan musik akan terasa hampa. Musik, baginya, adalah medium cerita, bukan semata data.

Namun kritik juga muncul. Didin, yang sudah mapan di lingkungannya dan terbiasa menggarap musik untuk lomba, tari, atau anak-anak, dinilai masih membawa bentuk baku yang akrab dalam praktik masyarakat. Meski ada upaya menghadirkan kebaruan, bentuk yang ditawarkan lebih dekat ke gaya “kreasi baru” dari era 1980-an. Struktur musikalnya belum sepenuhnya mencerminkan kompleksitas pribadi sosok Sukoco. Barangkali Didin masih perlu waktu untuk menyelaraskan gagasan dengan wujud komposisinya.

Refleksi

Forum BMB #106 menunjukkan bahwa pencarian bentuk dan cara berpikir musikal “baru” tidak selalu datang dari gebrakan teknis atau konsep yang ekstrem. Dua karya yang ditampilkan sama-sama lahir dari kedekatan dengan kehidupan sehari-hari: dari ingatan masa kecil, pengalaman sosial, hingga biografi orang terdekat. Kedua komponis berangkat dari hal yang biasa, tetapi mencoba menyusun ulang dan membunyikannya dalam bentuk yang berbeda.

Penampilan Kesandur | Foto: Bimasena BMB #106

Di sinilah relevansi Forum BMB terasa: ia menjadi ruang untuk membaca ulang apa yang disebut “kebaruan.” Kebaruan di sini bukan sebagai sesuatu yang asing, tetapi justru tumbuh dari yang sudah akrab. Dalam konteks ini, kebaruan bukan soal gaya atau teknik, melainkan soal sudut pandang, yaitu cara memaknai ulang bunyi, pengalaman, dan peristiwa yang ada di sekitar. BMB tetap menjadi ruang belajar bersama, di mana yang “biasa” dapat menjadi bahan untuk berpikir bersama. [T]

Salukat dan Yuganada di Festival Mi-Reng 2025: Dua Poros Inovasi Gamelan
Konser Komponis Perempuan pada Festival Mi-Reng 2025: Medium Penguatan Gagasan dan Ekspresi Musikal Kreator Muda Bali
Tribute to Maestro I Gusti Putu Made Geria pada Festival Mi-Reng 2025: New Music for Gamelan
Menuju Bali Sebagai Pusat Seni Kontemporer Dunia — Strategi Pemanggungan Seni Pertunjukan (Gamelan Kontemporer) Kelas Dunia
Menyurat yang Silam, Menggurat yang Datang — Sambutan Artistik Pekan Komponis Perempuan Wrdhi Cwaram
Tags: Forum Bukan Musik BiasagamelanISI Surakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wartawan, Kuli Tinta, Tukang Berita

Next Post

GARBHA EMAS, Model Alternatif Kurikulum Pendidikan Anak

Wahyu Thoyyib Pambayun

Wahyu Thoyyib Pambayun

Komponis dan Pengajar Gamelan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta

Related Posts

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
0
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah...

Read moreDetails

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
0
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

Read moreDetails

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
0
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

Read moreDetails

Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

by Ahmad Sihabudin
April 11, 2026
0
Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

PADA suatu malam yang panjang di jalan raya antarkota, seseorang mungkin tiba-tiba memahami makna sebuah lagu. Di tengah lampu kendaraan...

Read moreDetails

’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

by Ahmad Sihabudin
March 28, 2026
0
’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

Di tengah dunia kontemporer yang serba cepat, gaduh, dan penuh kepastian semu, lagu “Soon” dari grup rock progresif Inggris Yes...

Read moreDetails

’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

by Ahmad Sihabudin
March 24, 2026
0
’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

If I leave here tomorrow, would you still remember me? Pertanyaan dalam lagu Free Bird Lynyrd Skynyrd itu terdengar sederhana,...

Read moreDetails

‘Fernando’: Nyanyian Abadi di Dalam Api Unggun Jiwa Kita

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 21, 2026
0
‘Fernando’: Nyanyian Abadi di Dalam Api Unggun Jiwa Kita

Ada lagu-lagu yang sekadar lewat di telinga, lalu hilang bersama waktu. Tetapi ada juga lagu yang menetap diam-diam di dalam...

Read moreDetails

‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

by Ahmad Sihabudin
March 17, 2026
0
‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

Lagu “Mull of Kintyre” dari Wings (1977), yang ditulis oleh Paul McCartney bersama Denny Laine, kerap dibaca sebagai balada pastoral...

Read moreDetails

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
0
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

Read moreDetails

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
0
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

Read moreDetails
Next Post
GARBHA EMAS, Model Alternatif Kurikulum Pendidikan Anak

GARBHA EMAS, Model Alternatif Kurikulum Pendidikan Anak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co