14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tubuh Tradisional + Tubuh Modern = Bukan Kelatahan Kontemporer | Dari Pentas “Tadah Asih” Bumi Bajra Sandhi

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
October 28, 2021
in Ulasan
Tubuh Tradisional + Tubuh Modern = Bukan Kelatahan Kontemporer | Dari Pentas “Tadah Asih” Bumi Bajra Sandhi

Pentas tari kontemporer Tadah Asih dari Yayasan Bumi Bajra Sandhi di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, 27 Oktober 2021 [Foto Disbud Bali]

Tubuh tradisional yang dimaksud dalam tulisan ini adalah tubuh yang sudah terbiasa dengan pakem-pakem gerak sebagaimana terdapat dalam tari-tari tradisional Bali, semacam agem dengan posisi tangan sirang susu (sejajar susu) atau sirang pada (sejajar pala), malpal (berjalan sebagaimana terdapat dalam gerakan tari baris), dan ngeleog (menggoyangkan bagian tubuh tertentu).

Tubuh modern yang dimaksud adalah tubuh yang bergerak sebagaimana gerakan-gerakan dalam seni pertunjukan masa kini, seperti balet, akrobat, senam lantai, atau gerakan-gerakan teatrikal yang biasa dipertunjukkan kelompok-kelompok teater di Indonesia belakangan ini,  termasuk juga gerakan fashion show di atas catwalk yang kini bahkan sudah menjadi semacam seni pertunjukan yang diminati banyak orang.

Kelatahan kontemporer  yang dimaksud adalah semacam kelatahan untuk menetapkan gerakan-gerakan tertentu sebagai pakem tari kontemporer. Jika sirang susu adalah pakem untuk menyebut posisi tangan dalam tari-tari tradisional Bali, maka adalah sebuah kelatahan jika misalnya menganggap “poisisi kedua tangan sejajar dan jari dibuka sedikit seperti orang memegang apel” sebagai pakem dari gerakan tari kontemporer. Karena dianggap pakem, ia bisa ditiru terus-menerus, seakan terjadi ketakutan untuk keluar dari “tiruan” itu. Itulah kelatahan.

Pergelaran Tari Kontemporer berjudul Tadah Asih yang dipersembahkan Yayasan Bumi Bajra Sandhi dalam ajang Festival Seni Bali Jani III/2021 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Rabu, 27 Oktober 2021 pukul 10.00 Wita, memberikan pemahaman penting tentang tari kontemporer. 

Dayu Ani, seniman yang menjadi konseptor/koreografer/sutradara di Yayasan Bumi Bajra Sandhi seakan memberi definisi lain dari yang lain tentang tari kontemporer.  Bahwa kontemporer lebih pada penemuan gerakan-gerakan baru (termasuk juga dalam penggunaan properti) yang tak terbayangkan sebelumnya, tapi ketika gerakan itu “menjadi” di atas panggung, maka kekuatan artistik, logika, dan etika, seolah menjajah sekaligus memanjakan mata, sehingga kita tak sempat lagi berpikir soal defisini-definisi.

Pergelaran tari ini mengisahkan burung tadah asih alias burung kedasih ketika berhadapan dengan alam dan manusia.  Alam yang rusak dan Tuan Manusia yang tak hirau telah membuat Tadah Asih kelimpungan dengan pilihan-pilihan kecil untuk bertahan hidup. Di sisi yang berbeda, Tadah asih dianggap sebagai burung jelmaan roh kesasar, dan kicauannya kerap dianggap sebagai penanda kematian.

Jika kicauannya dianggap penanda kematian, bukankah jika ia tak berkicau sama sekali berarti seluruh kehidupan telah punah, kehidupan alam, juga kehidupan manusia?

Tuan manusia/ Ijinkan aku melengking lirih/ Membedah sembilu dadaku/ Memelas kasihmu// Sebab/Jika lengkingku tak terdengar lagi/ bukankah juga pertanda kematian?// Kematian kerabatku/ Kematian pohonku/ Kematian hutanku/ Kematianku//

Paradoks sebagaimana syair yang terdengar lamat-lamat dari atas panggung itulah yang kemudian diterjemahkan oleh Dayu Ani dalam sulaman-sulaman artistik gerakan-gerakan, kadang halus, kadang keras, kadang seakan diam, kadang menegangkan. Kekuatan sihir tubuh penarinya dibalut sedemikin rupa seolah-olah  kata-kata dan nyanyian syair tentang burung kedasih yang bernasib pilu itu lebur dalam gerakan.  Gerakan seakan nyanyian, nyanyian seakan musik, musik seakan gerakan.

Pentas Tari Kontemporer Tadah Asih garapan Bumi Bajra Sandhi [Foto Disbud Bali]

Pergelaran pada awal-awal mempertunjukkan sepasang penari laki-laki dan perempuan dengan posisi tubuh yang cukup sulit. Yang laki-laki duduk menghadap ke depan, yang perempuan berada di belakang. Tubuh si perempuan menghadap ke belakang, namun kepala menghadap dengan poisisi terbalik menghadap ke depan. Sehingga dari depan kita bisa melihat wajah menghadap ke depan; satu tegak, satu terbalik. Dua wajah itu “dimainkan” tanpa sedikit pun tampak janggal.

Mungkin tulisan ini agak berlebihan. Tapi,  seluruh penari Bumi Bajra Sandhi yang beraksi di atas panggung Ksirarnawa itu layak dinilai lebih karena mereka memang memiliki kelebihan-kelebihan dalam penguasaan perangkat utama dalam seni pertunjukan tari. Selain memahami gerak dan (juga bisa memainkan musik), mereka punya tubuh ideal sebagai seorang penari.

Sebagai tubuh tradisional, kepekaan tubuh-tubuh mereka mungkin sudah melampaui pakem gerakan-gerakan tari tradisional. Sebagai tubuh modern, kepekaan tubuh mereka menerima tanpa syarat gerakan-gerakan yang tak terbayangkan. Gerakan tak terbayangkan, maksudnya bukan semata-mata gerakan sulit, tapi gerakan ringan yang hanya bisa ditemukan oleh seorang koreografer dengan kepekaan artistik yang tinggi.   

Bahkan ketika barisan penari laki-laki memainkan agem, tandang atau tangkep sebagaimana gerakan tari maskulin pada tari Bali, mereka tak tampak seperti menari Bali. Ada gerakan-gerakan kecil di luar kebiasaan tari Bali yang membuat gerakan itu seakan otentik. Dalam tari Bali, semisal ada semacam syarat mutlak tubuh harus tegak, Dayu Ani justru menciptakan gerakan tubuh tengadah, bahkan seakan-akan nyaris ambruk ke belakang, untuk memberi warna lain untuk penari Bumi Bajra.  Sensasi gerakan rebah, nyaris ambruk, namun tak ambruk-ambruk, adalah sebuah kosa gerak tersendiri dalam dunia tari, terutama pada tari-tari garapan Bumi Bajra Sandhi.   

Penari laki-kali dalam pentas Tadah asih, Bumi Bajra Sandhi [Foto: Pan Amri]

Dengan “modal tubuh” semacam itu, Dayu Ani sebagai sutradara bisa saja mempertunjukkan semua kelebihan yang dimiliki tubuh pemainnya. Namun, Dayu Ani dengan sabar menentukan pilihan-pilihan serius untuk membuat garapannya tak terbayangkan sebagai tari Bali, sekaligus juga tak terbayangkan sebagai tari dengan kelatahan kontemporer. Ia serius menemukan, meramu, dan memperkenalkan gerakan yang “berbeda”, yang mungkin tak bisa disebut bersumber dari gerakan tari tradisional dan tak bisa juga disebut meniru-niru gerakan tari-tari kontemporer yang selama ini kerap diperkenalkan pada panggung kesenian di Bali.

Jika pun Dayu Ani dalam pentas ini memiliki kecenderungan untuk memainkan tata artistik dan properti, semisal penggunaan cerpen, kursi dan lampu senter, ia tetap meleburkan seluruh kekuatan tata artistik panggung dan properti itu kepada tubuh-tubuh para penarinya. Misalnya, latar yang memunculkan pantulan seperti cermin dalam pertunjukan di Ksirarnawa itu tak sekadar menjadi latar gerakan tubuh, tapi latar itu menangkap tubuh penari untuk dipantulkan lagi menjadi tarian yang berbeda, yang disulam sedemikin rupa sehingga secara keselurahan dalam imajinasi tak bisa dibedakan mana bayangan mana tubuh asli.

Seperti burung Tadah Asih, gerakan-gerakan baru dalam seni pertunjukan tari mungkin dianggap sebagai penanda kematian gerakan-gerakan lama yang sudah sah menjadi pakem. Namun jika tak ada upaya untuk menciptakan gerakan-gerakan baru, bukankah itu juga sebagai penanda kematian semua gerak di dunia tari? [T]

Tags: Bumi BajraBumi Bajra SandhiFestival Seni Bali Janiseni taritari kontemporer
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sumpah Pemuda, Inspirasi Kepemimpinan Visioner Bangsa

Next Post

Musikalisasi Puisi atau Vokal Grup Puisi? | Catatan Lomba Musikalisasi Puisi Festival Bali Jani

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Musikalisasi Puisi atau Vokal Grup Puisi? | Catatan Lomba Musikalisasi Puisi Festival Bali Jani

Musikalisasi Puisi atau Vokal Grup Puisi? | Catatan Lomba Musikalisasi Puisi Festival Bali Jani

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co