24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Musikalisasi Puisi atau Vokal Grup Puisi? | Catatan Lomba Musikalisasi Puisi Festival Bali Jani

Satria Aditya by Satria Aditya
October 28, 2021
in Ulasan
Musikalisasi Puisi atau Vokal Grup Puisi? | Catatan Lomba Musikalisasi Puisi Festival Bali Jani

Salah satu peserta dalam Lomba Musikalisasi Puisi, Festival Seni Bali Jani III/2021

Hampir dua tahun kegiatan-kegiatan sastra terbelenggu karena pandemi. Beberapa penggiat sastra lantas menyiasatinya dengan melakukan olah kreatif melalui digital atau daring. Segalanya sudah serba daring. Yang biasanya setiap acara bedah buku, pembacaan puisi, musikalisasi puisi dan lain-lain, selalu berlangsung secara tatap muka sekarang kita sudah bisa menikmatinya lewat internet.

Akhir-akhir ini kesibukan untuk tugas kuliah, PPL dan juga mulai mengejar judul skripsi membuat saya memaksa untuk meminimalisir kegiatan-kegiatan untuk berporses di dunia sastra. Proses untuk meraih cita-cita untuk menjadi sastrawan yang berbudaya, rajin menabung dan tidak sombong harus terhenti sejenak. Tidak lama, hanya masih menerka.

Syahdan, tempat saya melakukan PPL mempercayakan saya menggarap musikalisasi puisi untuk berlomba di acara Festival Bali Jani III/2021 yang diselenggarakan pada 24 Oktober lalu. Persiapan yang begitu mendadak juga membuat saya harus berpikir dua kali. Ditambah lagi, proses latihan memiliki sejumlah kendala. Apalagi, siswa masih banyak yang labil.

Singkat cerita saja, beberapa peraturan yang ada pada Festival Bali Jani sangat-sangat membuat saya kewalahan. Umumnya, anggota dalam satu kelompok musikalisasi puisi (muspus) hanya berjumlah 6 orang dan maksilmal adalah 8.

Tetapi tidak untuk di Festival Bali Jani, mungkin mereka tidak puas hanya melihat orang dengan jumlah sedikit. Tidak neko-neko kawan-kawan. Panitia mepersilahkan jumlah di masing-masing kelompok sebanyak 11 orang atau lebih. Wah! Luar biasa.

Tetapi, saya tidak akan memaksakan dan mengambil resiko untuk memberikan orang sebanyak itu di atas panggung.

Walhasil, ketika berlomba peserta sudah memenuhi kriteria panitia. Ya, panitia. Tidak tahu juga untuk juri. Ini adalah satu-satunya ketidakpuasan saya untuk mengikuti sebuah lomba muspus.

Lomba diadakan dua hari. 24 dan 25 Oktober. Tetapi, di sinilah peserta bisa saling mengintip kekurangan dan kelebihan lawannya sebelum lomba. Pihak yang diuntungkan adalah mereka yang mendapatkan nomor undi untuk tampil pada tanggal 25. Mereka bisa saling menerka, menyiasati dan merubah alat pada saat akan berlomba ketika melihat lawannya yang berbeda dari mereka.

Ketika perlombaan tanggal 24 ada beberapa catatan yang mungkin harus diubah oleh panitia. Ini menurut saya. Karena saya bukan ahli kritik dan saran ketika menulis sebuah karya ilmiah. Jadi, jikalau ada salah dalam beberapa catatan ini mungkin bisa kawan-kawan telaah kembali atau diabaikan.

Catatan pertama adalah, kecenderungan peserta dalam membawakan sebuah puisi dan dijadikan lagu. Kecendrungan ini adalah ketika membuat sebuah puisi berbahsa Indonesia maupun Bali, mereka masih memilih untuk membawakan khas seperti musik pop Bali pada umumnya.

Saya tidak tahu ini benar atau salah, tetapi seperti pengalaman yang sudah saya jalani dalam dunia muspus ini, kecendrungan itu akan membuat puisi itu biasa saja. Dalam artian, musikalitas dari puisi itu hanya itu-itu saja, tidak ada musiklaitas yang benar-benar merasuk ke dalam setiap bait dan baris puisi.

Catatan kedua adalah, kecendrungan ketika membawakan sebuah alat yang sesuai dengan interpretasi puisi itu sendiri. Kebanyak peserta seperti memaksanakan dengan membawakan gambelan Bali, padahal alat itu sebenarnya tidak sangat dibutuhkan dalam puisi yang dibawakan.

Catatan ketiga, dalam hal berpakaian. Sebenarnya saya tidak mempermasalahkan peserta memakai pakaian adat bali, payas agung ataupun pakaian untuk parade. Tetapi apakah hal itu sangat-sangat diperlukan dalam membawakan musikalisasi puisi? Atau mereka hanya memikirkan estetika dalam hal berpakian?

Jikalau mereka membawakan puisi bertema pahlawan misalnya, lalu mereka memakai pakaian Bali seperti payasan agung sudah pasti itu melenceng dalam hubungan tema puisi dan pembawaan nyatanya.

Catatan keempat. Orang-orang yang terlalu banyak dan menjadi tidak diperlukan dalam panggung. Ini adalah hal yang paling membuat saya bingung. Terlalu banyak orang dalam setiap kelompok. Sebagian besar kelompok musikalisasi puisi menempatkan 11 sampai 15 orang di atas panggung. Ini menjadikan lomba ini seperti lomba vokal grup. Ada yang memegang perananan sebagai pemain gitar, pemain gangsa, vokal yang mencapai 5 orang dan beberapa instrumen yang mirip vokal grup.

Catatan terakhir adalah kecendrungan membawakan puisi dan interpretasi dalam menyanyikan puisi. Ini adalah catatan terpenting. Saya rasa, sebagian peserta tidak terlalu perduli dengan penyampian puisi dari penulis yang seharunya disalurkan ke penonton, juri dan diri mereka sendiri.

Hanya 1 atau 2 peserta yang saya lihat dapat membawakan puisi itu dengan dinamika yang tepat. Mereka saya lihat hanya memikirkan estetika dan tidak terlalu peduli dalam hal penyampian puisi itu sendiri. Puisi bahasa Indonesia maupun bahasa Bali. Musiklitas dan puisi itu sangat jauh dari penyampiannya.

Kesimpulannya kawan-kawan, apa pun yang terlalu dipaksakan kecenderungan hasilnya akan menjadi tidak baik. Banyak penikmat musikalisasi puisi sebenarnya tidak terlalu mementingkan bagaimana kita bagusnya cara berpakaian kita, senyum sumringah ketika bernyanyi seperti di cafe dan akting di atas panggung terlalu berlebihan.

Catatan-catatan itu sebenarnya tidak akan ada jika mereka mengerti apa itu musikalisai puisi. Sayangnya, ketika tanggal 25 saya tidak sempat untuk menonton peserta lain karena kesibukan yang mendakan. Lomba ini sangat-sangat tidak terlihat seperti perlombaan musikalisasi puisi melainkan vokal grup.

Akhir dari catatan ini adalah, jangan terlalu dihiraukan. Ini adalah catatan orang yang masih menerka jati diri. [T]

Tags: Festival Bali Janimusikalisasi puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tubuh Tradisional + Tubuh Modern = Bukan Kelatahan Kontemporer | Dari Pentas “Tadah Asih” Bumi Bajra Sandhi

Next Post

Menemukan Mindfulness dan Cinta pada Titik Keseimbangan Chaos dan Cosmos | Catatan Jelang Pentas “Raya Raya Cinta”

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Menemukan Mindfulness dan Cinta pada Titik Keseimbangan Chaos dan Cosmos | Catatan Jelang Pentas “Raya Raya Cinta”

Menemukan Mindfulness dan Cinta pada Titik Keseimbangan Chaos dan Cosmos | Catatan Jelang Pentas “Raya Raya Cinta”

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co