22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Antara Kekuasaan dan Kesadaran: Mencari Makna Spiritual dalam Era Digital Indonesia

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
August 7, 2025
in Esai
Antara Kekuasaan dan Kesadaran: Mencari Makna Spiritual dalam Era Digital Indonesia

Foto ilustrasi: tatkala.co

DI tengah arus digitalisasi dan gempuran media sosial, tokoh-tokoh muda seperti Rico Huang muncul sebagai simbol generasi baru: cepat, adaptif, dan visioner. Ia adalah pengusaha muda yang sukses membangun bisnis digital dari nol. Namun, di balik kisah sukses material itu, muncul pertanyaan reflektif: apakah kita benar-benar berkembang secara spiritual, atau hanya sekadar bergerak secara horizontal di permukaan kehidupan? Di sinilah pentingnya merenungkan ulang arah pertumbuhan manusia, melalui lensa peta kesadaran David R. Hawkins dan filsafat eksistensial Friedrich Nietzsche, pesan kesadaran Guruji Anand Krishna, terutama dalam konteks Indonesia kekinian yang masih berjuang menemukan jati dirinya.

Rico Huang dan Kesadaran Generasi Digital

Rico Huang adalah representasi generasi muda Indonesia yang berdaya secara ekonomi. Ia tak segan berbagi kiat bisnis, motivasi hidup, dan strategi digital marketing kepada jutaan pengikutnya. Namun menariknya, ia pernah mengatakan, “Saat bingung, saya ngobrol sama ChatGPT.” Kalimat itu mencerminkan suatu keterbukaan untuk berdialog bukan hanya dengan manusia, tapi juga dengan kecerdasan buatan, yang bisa jadi adalah simbol kesadaran kolektif baru, asal kita mampu memanfaatkan teknologi secara bijak, untuk mempermudah kehidupan manusia. Bukan untuk disalahgunakan, apalagi menyebabkan kehancuran, kerusakan lingkungan dan kecanduan.

Guruji Anand Krishna pernah mengatakan, sehebat-hebatnya Artificial Intelligence, dia hanya merupakan ekstensi dari mind manusia. Sebuah pandangan yang sangat tepat, karena AI hanya berada pada tataran Manomaya Kosha, belum mampu menapaki tataran Vigyanmaya Kosha, apalagi Anandamaya Kosha.

Jika menggunakan kerangka David Hawkins, kita bisa bertanya: di level manakah kesadaran Rico berada? Hawkins menyusun peta kesadaran dari 0 hingga 1000, dari shame (20), fear (100), courage (200), hingga love (500) dan enlightenment (700+). Rico tampaknya berada di wilayah courage hingga reason (200–400): dia bergerak dari keberanian mengambil risiko hingga logika bisnis dan produktivitas. Namun, apakah dia (dan kita semua) menuju love (500) atau stuck di will to power ala Nietzsche?

Nietzsche: Kehendak Berkuasa dan Krisis Makna

Nietzsche mengatakan bahwa “Tuhan telah mati”, bukan dalam arti harfiah, tetapi sebagai kritik terhadap kehilangan nilai-nilai spiritual dalam masyarakat modern. Dalam Will to Power, Nietzsche menegaskan bahwa manusia terdorong oleh kehendak untuk menguasai, bukan sekadar untuk bertahan hidup. Di dunia digital, kehendak ini mewujud dalam bentuk influencer, algoritma, dan angka followers.

Rico Huang tidak salah—dia hanya bagian dari sistem. Tapi sistem ini sedang mempertontonkan krisis nilai dan spiritualitas di mana ukuran keberhasilan adalah viralitas, bukan kedalaman. Di sini, Nietzsche mengingatkan bahwa manusia modern bisa terjebak menjadi “the last man” — nyaman, aman, dan kosong secara eksistensial.

Indonesia hari ini pun demikian: di satu sisi, pertumbuhan ekonomi digital meningkat; di sisi lain, korupsi merajalela, pendidikan spiritual dangkal, dan mental health generasi muda semakin rapuh. Ini menunjukkan bahwa kemajuan material tidak otomatis membawa kematangan spiritual.

David Hawkins: Dari Rasa Takut ke Kesadaran Murni

David Hawkins menawarkan jalan keluar dari kehampaan ini melalui kenaikan tingkat kesadaran. Dalam skema Hawkins, negara-negara yang mayoritas penduduknya masih berada di bawah level 200 (courage) akan mengalami stagnasi kolektif. Ia menyatakan bahwa sekitar 85% manusia masih berada di bawah level 200, seperti guilt, fear, dan pride. Apakah Indonesia termasuk di dalamnya?

Bisa jadi. Budaya kita masih sering dibentuk oleh rasa takut: takut tidak diterima, takut miskin, takut salah, dan takut kehilangan pengaruh. Dalam politik, ketakutan ini dieksploitasi. Dalam agama, dogma menjadi alat kontrol. Dalam pendidikan, kreativitas dibungkam oleh sistem nilai usang. Maka, menaikkan kesadaran kolektif menjadi tugas nasional, bukan sekadar urusan personal.

Guruji Anand Krishna: Tantangan dan Spiritualitas

Guruji Anand Krishna dalam Youth Challenges and Empowerment: Taklukkan Tantangan dan Berdayakan Dirimu mengatakan:

“Makin berat tantangan yang kau hadapi, makin sehat bagi jiwamu. Dengan cara itulah, Keberadaan memperkuat jiwamu. Terimalah tantangan sebagai berkah dari Keberadaan, dari Tuhan, Allah, Gusti Pangeran, Bapa di Surga, Tao, Buddha, Widhi, atau apa pun sebutanmu bagi Hyang Mahamenantang itu.”

Mengutip Swami Vivekananda, Guruji melanjutkan:

“Spiritualitas adalah darah kehidupan yang mengalir dalam tubuh kita. Penyakit sosial, politik, dan sebagainya — termasuk kemiskinan — akan sembuh bila darah kita bersih.”

Rico, Refleksi, dan Jalan Tengah

Menariknya, Rico Huang tetap menunjukkan sisi kontemplatif. Ia mengakui pentingnya restu orang tua, dan ia terbuka terhadap teknologi seperti ChatGPT untuk mencari kejelasan. Ini adalah langkah kecil ke arah awareness: menyadari kebingungan, dan mencari jalan keluar dengan jujur.

Jika kita tarik ke peta Hawkins, Rico (dan banyak anak muda sejenisnya) sedang bertransisi dari level reason (analitik, produktivitas) menuju love (melayani, memberi makna). Namun untuk mencapai itu, dibutuhkan refleksi eksistensial ala Nietzsche: apakah semua yang saya lakukan sungguh bernilai? Apa yang saya cari, uang atau makna? Apakah saya menjalani hidup sebagai authentic self atau hanya sebagai produk algoritma?

Indonesia dan Kebutuhan Kesadaran Baru

Dalam konteks Indonesia hari ini, kita sedang berada di persimpangan: antara menjadi bangsa konsumen digital yang reaktif, atau menjadi bangsa yang sadar, merdeka, dan kreatif. Di sinilah pentingnya membentuk ekosistem kesadaran, bukan hanya ekosistem ekonomi.

Pendidikan perlu berubah, bukan sekadar mencetak tenaga kerja, tetapi membentuk manusia berkesadaran. Media sosial perlu didorong untuk tidak hanya menjadi ruang pamer, tetapi ruang kontemplasi. Dan bisnis seperti yang dibangun Rico Huang perlu mengambil peran spiritual baru: menginspirasi bukan hanya untuk sukses, tetapi untuk bermakna.

Dari Power Menuju Consciousness

Kisah Rico Huang adalah contoh baik dari perjuangan manusia modern: merangkak dari nol, menginspirasi jutaan orang, dan terus mencari makna di tengah kebingungan digital. Namun, kekuatan tanpa kesadaran adalah bahaya. Di sinilah peran peta kesadaran Hawkins, pesan kesadaran Guruji Anand Krishna dan pemikiran Nietzsche sangat relevan: mengajak kita naik level, dari will to power menuju state of consciousness yang penuh kasih dan keutuhan.

Indonesia membutuhkan lebih banyak manusia seperti Rico—yang tidak hanya sukses, tapi juga sadar dan reflektif, yang tidak hanya menguasai pasar, tapi juga menyentuh hati dan jiwa bangsa ini. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Bali Bukan untuk Dijual: Seruan Kesadaran untuk Generasi Muda di Tengah Invasi Harapan Semu
Mula Keto: Membaca Ulang Kearifan Lokal Bali dalam Cahaya Kesadaran
Alih Dewa di Deweke: Kearifan Lokal Bali dalam Perspektif Global
Sreya atau Preya: Saatnya Memilih Jalan yang Memuliakan Ibu Bumi
Melampaui Logika: Memaknai Kembali Mistisisme dalam Cahaya Filsafat Timur, Kritik atas Bertrand Russell
Tags: digitalRico HuangSpiritual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

 Kampusku Sarang Hantu [27]: Taman Kampus, Taman Hantu

Next Post

Wartawan, Kuli Tinta, Tukang Berita

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Wartawan, Kuli Tinta, Tukang Berita

Wartawan, Kuli Tinta, Tukang Berita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co