25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali Bukan untuk Dijual: Seruan Kesadaran untuk Generasi Muda di Tengah Invasi Harapan Semu

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
August 3, 2025
in Esai
Bali Bukan untuk Dijual: Seruan Kesadaran untuk Generasi Muda di Tengah Invasi Harapan Semu

Foto ilustrasi: tatkala.co

“Sanghe Shakti Kaliyuge – Dalam zaman penuh kekacau ini, hanya semangat kebersamaan dan persatuan yang menjadi kekuatan kita.”
– Swami Vivekananda

Pengantar

Pulau Bali, yang selama ini dielu-elukan sebagai “Pulau Dewata”, tengah menghadapi ancaman nyata, bukan dari senjata atau pasukan asing, melainkan dari dominasi modal, infiltrasi budaya, dan perpecahan internal. Sayangnya, banyak generasi muda justru sedang terbuai oleh mimpi semu: hidup nyaman, glamor, viral, dan sukses secara instan. Padahal, di balik kemilau Bali yang tampak di media sosial, ada gejolak serius yang mengancam keberlangsungan jati diri Bali sebagai pusat spiritualitas nusantara.

Bali di Ambang Kehilangan Jiwa

Hari ini, Bali tak lagi hanya dihuni oleh umatnya, namun juga oleh mereka yang datang membawa uang dan ambisi, membeli tanah, membangun imperium pribadi, lalu perlahan mendikte budaya lokal. Salah satu kelompok yang banyak disebut dalam perbincangan publik oleh masyarakat adalah “mafia Rusia” — simbol dari kekuatan asing yang kini menguasai lahan, mengubah wajah desa, dan menjadikan Bali sebagai panggung eksklusif untuk segelintir elite global.

Kompas, 3 Februari 2025 dalam artikel Cikal Bakal Mafia Rusia di Bali mengungkapkan, mereka berkelompok, berbisnis, menguasai properti, membentuk jaringan, dan “membina hubungan” dengan masyarakat yang rentan korupsi. Kriminolog dari Universitas Indonesia Adrianus Meliala yang dihubungi pada Minggu (2/2/2025) berpendapat, peristiwa penculikan dan perampokan oleh geng yang didominasi WNA Rusia tidak bisa dianggap kejadian kriminal biasa, apalagi dianggap sebagai gangguan ketertiban umum. Ini kejahatan serius.

Dan tentu saja ancaman besar bagi Bali

Pertanyaannya: di mana posisi anak-anak muda Bali hari ini?
Apakah hanya sebagai pelayan pesta pora? Atau sebagai penonton yang bertepuk tangan menyaksikan tanah kelahirannya berubah jadi komoditas?

Dresta vs Sampradaya: Konflik yang Sengaja Diciptakan

Seiring makin kuatnya kekuatan luar, terjadi pula perpecahan di dalam. Perselisihan antara dresta (tradisi lokal) dan sampradaya (spiritual lintas budaya) makin diperuncing seolah-olah itu konflik besar. Padahal, secara substansi, keduanya mengajarkan hal yang sama: menegakkan dharma, menjaga keseimbangan, dan menyucikan jiwa. Saat ujian terbuka di kampus UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar 17 Juli 2025 lalu, Bapak Made Mangku Pastika sempat juga mengutarakan kegaluannya atas dikotomi Dresta-Sampradaya ini yang menjadi latar belakang disertasi beliau.

Sebagai penerus Sanatana Dharma, kita semua hendaknya memahami bahwa perbedaan hanya pada kemasan, bukan isi. Tapi celakanya, kita mudah terprovokasi, mudah diadu domba.

Siapa dalangnya? Siapa yang untung bila kita sibuk bertengkar?

Mereka adalah “nakhoda gelap di atas sana” — reinkarnasi dari kekuatan yang dulu menghancurkan Majapahit dari dalam dan luar.

Belajar dari 1995/1996: Ketika Kita Bersatu, Kita Menang

Masih segar dalam ingatan sejarah Bali tahun 1995/1996. Kala itu, pemerintah pusat Orde Baru hendak menggusur Pura Rawamangun. Tapi masyarakat Bali — umat Hindu, anak muda, akademisi, para pemuka adat dan agama, awak media serta seluruh elemen masyarakat — bersatu. Saya menyebutnya 5A: Anak muda, Akademisi, Adat, Agama, Awak Media. Dua hari berturut-turut kita bersama membahas strategi yang tepat untuk menghadang kekuatan besar itu. Ida Pedanda Sebali Tianyar Arimbawa, bersama 14 tokoh lainnya, terbang ke Jakarta. Mereka tak membawa amarah, tapi membawa keyakinan dan keteguhan batin. Hasilnya? Rencana penggusuran dibatalkan.

Hari ini, tokoh-tokoh besar seperti beliau mungkin telah tiada. Tapi semangatnya belum padam — kita yang muda mesti meneruskannya.

Dua saksi hidup yang saat itu ikut ke Jakarta masih ada di Bali. Namun karena kini telah menduduki kursi nyaman, tentu perspektifnya berbeda. Bukan berarti mereka tak lagi peduli — mungkin hanya perlu diingatkan kembali bahwa sejarah tak boleh dilupakan, dan kenyamanan jabatan bukan alasan untuk menunda keberpihakan pada dharma.

Kita Harus Berhenti Bermimpi dan Mulai Bergerak

Mimpi jadi YouTuber sukses, selebgram terkenal, atau pengusaha vila mungkin tampak menarik. Tapi apa artinya sukses di atas tanah yang sudah bukan milik kita sendiri? Apa artinya viral jika nilai luhur kita perlahan punah?

Kita tak perlu menjadi ekstremis. Tapi kita perlu menjadi pelindung budaya.
Kita tak harus menolak semua yang datang dari luar, tapi kita harus tahu batasnya.

Apa yang Bisa Dilakukan Anak Muda Bali?

  1. Kembali pada Jati Diri
    Pahami bahwa menjadi orang Bali bukan sekadar mengenakan udeng atau sarung saat upacara. Dharma sebagai inti ajaran leluhur harus dihayati, bukan hanya dihafal. Kita perlu belajar langsung dari teks-teks suci maupun para guru sejati yang tidak menjual ajaran demi popularitas. Spiritualitas Bali bukan untuk dipertontonkan, tapi untuk membentuk karakter luhur dan ketahanan batin. Bila jati diri hilang, kita hanya jadi turis di tanah sendiri.
  2. Rawat Tanah Leluhur
    Tanah bukan sekadar benda mati. Dalam pandangan Hindu, tanah adalah ibu (Ibu Pertiwi) yang wajib dihormati. Banyak kasus di mana tanah adat dan pertanian produktif dijual murah untuk pembangunan vila asing. Anak muda perlu terlibat aktif dalam gerakan advokasi dan edukasi hukum tanah, mendukung perda perlindungan lahan, serta menciptakan model ekonomi lokal yang tidak bergantung pada penjualan aset.
  3. Bangun Ekonomi Kerakyatan
    Jangan hanya bangga kerja di vila mewah atau beach club milik asing. Jadilah pelaku ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal dan nilai spiritual. Produk olahan hasil bumi, kerajinan, atau even spiritual tourism yang berakar pada budaya Bali jauh lebih bermartabat daripada sekadar jadi “waiter mewah” dengan gaji tinggi tapi tanpa kontrol atas nasib sendiri.
  4. Media sebagai Senjata
    Alihkan energi dari konten “prank”, “flexing”, dan “drama” ke hal yang mendidik dan membangkitkan kesadaran. Buat video tentang sejarah desa, tokoh spiritual, atau potensi budaya lokal. Gunakan TikTok, Instagram, dan YouTube sebagai alat perjuangan kultural dan pembentuk opini publik. Ingat, narasi bisa menyelamatkan atau menghancurkan — tergantung siapa yang mengendalikannya.
  5. Satu Suara untuk Bali
    Hentikan debat Dresta vs Sampradaya yang justru melemahkan barisan. Jangan terjebak pada simbolisme dan klaim kebenaran tunggal. Esensinya sama: dharma sebagai cahaya kehidupan. Jangan biarkan perbedaan tafsir dijadikan celah oleh kekuatan luar untuk memecah kita. Saat Bali menghadapi krisis identitas dan invasi modal, hanya suara yang padu bisa menjadi tembok pertahanan terakhir.

Penutup: Bali Menunggu Kesadaranmu

Bali sedang menanti: bukan generasi yang hanya pintar bicara, tapi berani bertindak dan berdiri untuk tanah leluhurnya.

Seperti kata Veda:

“Satyameva Jayate” – Hanya kebenaran yang akan menang.

Tapi kebenaran hanya bisa menang jika diperjuangkan. Kini waktunya kita semua bangkit — berhenti bermimpi semu dan mulai terjaga.

Bali bukan untuk dijual.
Bali untuk diwarisi dengan bijak dan dijaga dengan cinta. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Mula Keto: Membaca Ulang Kearifan Lokal Bali dalam Cahaya Kesadaran
Alih Dewa di Deweke: Kearifan Lokal Bali dalam Perspektif Global
Sreya atau Preya: Saatnya Memilih Jalan yang Memuliakan Ibu Bumi
Melampaui Logika: Memaknai Kembali Mistisisme dalam Cahaya Filsafat Timur, Kritik atas Bertrand Russell
Tags: baligenerasi muda
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

HERBALOVA, Mendokumentasikan Tanaman Obat Tradisional di Desa Guwang-Sukawati dengan Metoda Scanografi

Next Post

Mahanada di UVJF 2025: Bukan Sekadar Anak Muda Bernyanyi Jazz, Tapi Generasi Penerus Jazz

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Mahanada di UVJF 2025: Bukan Sekadar Anak Muda Bernyanyi Jazz, Tapi Generasi Penerus Jazz

Mahanada di UVJF 2025: Bukan Sekadar Anak Muda Bernyanyi Jazz, Tapi Generasi Penerus Jazz

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co