24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali Bukan untuk Dijual: Seruan Kesadaran untuk Generasi Muda di Tengah Invasi Harapan Semu

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
August 3, 2025
in Esai
Bali Bukan untuk Dijual: Seruan Kesadaran untuk Generasi Muda di Tengah Invasi Harapan Semu

Foto ilustrasi: tatkala.co

“Sanghe Shakti Kaliyuge – Dalam zaman penuh kekacau ini, hanya semangat kebersamaan dan persatuan yang menjadi kekuatan kita.”
– Swami Vivekananda

Pengantar

Pulau Bali, yang selama ini dielu-elukan sebagai “Pulau Dewata”, tengah menghadapi ancaman nyata, bukan dari senjata atau pasukan asing, melainkan dari dominasi modal, infiltrasi budaya, dan perpecahan internal. Sayangnya, banyak generasi muda justru sedang terbuai oleh mimpi semu: hidup nyaman, glamor, viral, dan sukses secara instan. Padahal, di balik kemilau Bali yang tampak di media sosial, ada gejolak serius yang mengancam keberlangsungan jati diri Bali sebagai pusat spiritualitas nusantara.

Bali di Ambang Kehilangan Jiwa

Hari ini, Bali tak lagi hanya dihuni oleh umatnya, namun juga oleh mereka yang datang membawa uang dan ambisi, membeli tanah, membangun imperium pribadi, lalu perlahan mendikte budaya lokal. Salah satu kelompok yang banyak disebut dalam perbincangan publik oleh masyarakat adalah “mafia Rusia” — simbol dari kekuatan asing yang kini menguasai lahan, mengubah wajah desa, dan menjadikan Bali sebagai panggung eksklusif untuk segelintir elite global.

Kompas, 3 Februari 2025 dalam artikel Cikal Bakal Mafia Rusia di Bali mengungkapkan, mereka berkelompok, berbisnis, menguasai properti, membentuk jaringan, dan “membina hubungan” dengan masyarakat yang rentan korupsi. Kriminolog dari Universitas Indonesia Adrianus Meliala yang dihubungi pada Minggu (2/2/2025) berpendapat, peristiwa penculikan dan perampokan oleh geng yang didominasi WNA Rusia tidak bisa dianggap kejadian kriminal biasa, apalagi dianggap sebagai gangguan ketertiban umum. Ini kejahatan serius.

Dan tentu saja ancaman besar bagi Bali

Pertanyaannya: di mana posisi anak-anak muda Bali hari ini?
Apakah hanya sebagai pelayan pesta pora? Atau sebagai penonton yang bertepuk tangan menyaksikan tanah kelahirannya berubah jadi komoditas?

Dresta vs Sampradaya: Konflik yang Sengaja Diciptakan

Seiring makin kuatnya kekuatan luar, terjadi pula perpecahan di dalam. Perselisihan antara dresta (tradisi lokal) dan sampradaya (spiritual lintas budaya) makin diperuncing seolah-olah itu konflik besar. Padahal, secara substansi, keduanya mengajarkan hal yang sama: menegakkan dharma, menjaga keseimbangan, dan menyucikan jiwa. Saat ujian terbuka di kampus UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar 17 Juli 2025 lalu, Bapak Made Mangku Pastika sempat juga mengutarakan kegaluannya atas dikotomi Dresta-Sampradaya ini yang menjadi latar belakang disertasi beliau.

Sebagai penerus Sanatana Dharma, kita semua hendaknya memahami bahwa perbedaan hanya pada kemasan, bukan isi. Tapi celakanya, kita mudah terprovokasi, mudah diadu domba.

Siapa dalangnya? Siapa yang untung bila kita sibuk bertengkar?

Mereka adalah “nakhoda gelap di atas sana” — reinkarnasi dari kekuatan yang dulu menghancurkan Majapahit dari dalam dan luar.

Belajar dari 1995/1996: Ketika Kita Bersatu, Kita Menang

Masih segar dalam ingatan sejarah Bali tahun 1995/1996. Kala itu, pemerintah pusat Orde Baru hendak menggusur Pura Rawamangun. Tapi masyarakat Bali — umat Hindu, anak muda, akademisi, para pemuka adat dan agama, awak media serta seluruh elemen masyarakat — bersatu. Saya menyebutnya 5A: Anak muda, Akademisi, Adat, Agama, Awak Media. Dua hari berturut-turut kita bersama membahas strategi yang tepat untuk menghadang kekuatan besar itu. Ida Pedanda Sebali Tianyar Arimbawa, bersama 14 tokoh lainnya, terbang ke Jakarta. Mereka tak membawa amarah, tapi membawa keyakinan dan keteguhan batin. Hasilnya? Rencana penggusuran dibatalkan.

Hari ini, tokoh-tokoh besar seperti beliau mungkin telah tiada. Tapi semangatnya belum padam — kita yang muda mesti meneruskannya.

Dua saksi hidup yang saat itu ikut ke Jakarta masih ada di Bali. Namun karena kini telah menduduki kursi nyaman, tentu perspektifnya berbeda. Bukan berarti mereka tak lagi peduli — mungkin hanya perlu diingatkan kembali bahwa sejarah tak boleh dilupakan, dan kenyamanan jabatan bukan alasan untuk menunda keberpihakan pada dharma.

Kita Harus Berhenti Bermimpi dan Mulai Bergerak

Mimpi jadi YouTuber sukses, selebgram terkenal, atau pengusaha vila mungkin tampak menarik. Tapi apa artinya sukses di atas tanah yang sudah bukan milik kita sendiri? Apa artinya viral jika nilai luhur kita perlahan punah?

Kita tak perlu menjadi ekstremis. Tapi kita perlu menjadi pelindung budaya.
Kita tak harus menolak semua yang datang dari luar, tapi kita harus tahu batasnya.

Apa yang Bisa Dilakukan Anak Muda Bali?

  1. Kembali pada Jati Diri
    Pahami bahwa menjadi orang Bali bukan sekadar mengenakan udeng atau sarung saat upacara. Dharma sebagai inti ajaran leluhur harus dihayati, bukan hanya dihafal. Kita perlu belajar langsung dari teks-teks suci maupun para guru sejati yang tidak menjual ajaran demi popularitas. Spiritualitas Bali bukan untuk dipertontonkan, tapi untuk membentuk karakter luhur dan ketahanan batin. Bila jati diri hilang, kita hanya jadi turis di tanah sendiri.
  2. Rawat Tanah Leluhur
    Tanah bukan sekadar benda mati. Dalam pandangan Hindu, tanah adalah ibu (Ibu Pertiwi) yang wajib dihormati. Banyak kasus di mana tanah adat dan pertanian produktif dijual murah untuk pembangunan vila asing. Anak muda perlu terlibat aktif dalam gerakan advokasi dan edukasi hukum tanah, mendukung perda perlindungan lahan, serta menciptakan model ekonomi lokal yang tidak bergantung pada penjualan aset.
  3. Bangun Ekonomi Kerakyatan
    Jangan hanya bangga kerja di vila mewah atau beach club milik asing. Jadilah pelaku ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal dan nilai spiritual. Produk olahan hasil bumi, kerajinan, atau even spiritual tourism yang berakar pada budaya Bali jauh lebih bermartabat daripada sekadar jadi “waiter mewah” dengan gaji tinggi tapi tanpa kontrol atas nasib sendiri.
  4. Media sebagai Senjata
    Alihkan energi dari konten “prank”, “flexing”, dan “drama” ke hal yang mendidik dan membangkitkan kesadaran. Buat video tentang sejarah desa, tokoh spiritual, atau potensi budaya lokal. Gunakan TikTok, Instagram, dan YouTube sebagai alat perjuangan kultural dan pembentuk opini publik. Ingat, narasi bisa menyelamatkan atau menghancurkan — tergantung siapa yang mengendalikannya.
  5. Satu Suara untuk Bali
    Hentikan debat Dresta vs Sampradaya yang justru melemahkan barisan. Jangan terjebak pada simbolisme dan klaim kebenaran tunggal. Esensinya sama: dharma sebagai cahaya kehidupan. Jangan biarkan perbedaan tafsir dijadikan celah oleh kekuatan luar untuk memecah kita. Saat Bali menghadapi krisis identitas dan invasi modal, hanya suara yang padu bisa menjadi tembok pertahanan terakhir.

Penutup: Bali Menunggu Kesadaranmu

Bali sedang menanti: bukan generasi yang hanya pintar bicara, tapi berani bertindak dan berdiri untuk tanah leluhurnya.

Seperti kata Veda:

“Satyameva Jayate” – Hanya kebenaran yang akan menang.

Tapi kebenaran hanya bisa menang jika diperjuangkan. Kini waktunya kita semua bangkit — berhenti bermimpi semu dan mulai terjaga.

Bali bukan untuk dijual.
Bali untuk diwarisi dengan bijak dan dijaga dengan cinta. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Mula Keto: Membaca Ulang Kearifan Lokal Bali dalam Cahaya Kesadaran
Alih Dewa di Deweke: Kearifan Lokal Bali dalam Perspektif Global
Sreya atau Preya: Saatnya Memilih Jalan yang Memuliakan Ibu Bumi
Melampaui Logika: Memaknai Kembali Mistisisme dalam Cahaya Filsafat Timur, Kritik atas Bertrand Russell
Tags: baligenerasi muda
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

HERBALOVA, Mendokumentasikan Tanaman Obat Tradisional di Desa Guwang-Sukawati dengan Metoda Scanografi

Next Post

Mahanada di UVJF 2025: Bukan Sekadar Anak Muda Bernyanyi Jazz, Tapi Generasi Penerus Jazz

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
0
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

Read moreDetails

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails
Next Post
Mahanada di UVJF 2025: Bukan Sekadar Anak Muda Bernyanyi Jazz, Tapi Generasi Penerus Jazz

Mahanada di UVJF 2025: Bukan Sekadar Anak Muda Bernyanyi Jazz, Tapi Generasi Penerus Jazz

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co