24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Alih Dewa di Deweke: Kearifan Lokal Bali dalam Perspektif Global

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 31, 2025
in Esai
Alih Dewa di Deweke: Kearifan Lokal Bali dalam Perspektif Global

Foto ilustrasi: tatkala.co

Pendahuluan: Meretas Jalan Menuju Tuhan yang Dekat

Dalam berbagai tradisi spiritual Nusantara, khususnya Bali, dikenal prinsip “alih dewa di deweke” — sebuah gagasan mendalam bahwa pencarian akan yang ilahi bukanlah perjalanan menjauhi dunia atau menuju entitas di luar, melainkan penyelaman batin ke dalam diri sendiri. Tuhan tidak berada di langit yang jauh, tetapi dalam kedalaman eksistensi.

Gagasan ini paralel dengan pemikiran Baruch Spinoza yang menyamakan Tuhan dengan alam semesta itu sendiri (Deus sive Natura). Di tengah maraknya formalisme agama yang bersifat seremonial dan eksternal, artikel ini mengajak pembaca menggali kembali spiritualitas yang otentik, nalar yang jernih, dan kesadaran yang menyatu, melalui dialog dengan filsafat Barat — Spinoza, Kierkegaard, Sartre, William James, Nietzsche, Schopenhauer — dan psikologi transpersonal.

Spinoza: Tuhan adalah Alam, Alam adalah Tuhan

Baruch Spinoza (1632–1677) menghapus batas antara yang ilahi dan duniawi. Dalam pandangannya, Tuhan bukan pengatur dari luar, melainkan substansi yang satu dengan segala realitas. Ia menolak konsep teisme tradisional dan mengajukan monisme: Tuhan adalah seluruh keberadaan.

Pokok gagasan Spinoza:

  • Tuhan adalah natura naturans — proses kreatif dalam alam itu sendiri.
  • Etika harus didasarkan pada rasionalitas dan kebebasan batin.
  • Kebahagiaan sejati lahir dari pemahaman akan keterhubungan dengan seluruh eksistensi.

Pandangannya membuka ruang bagi spiritualitas yang imanen dan non-dogmatis, sangat relevan dengan alih dewa di deweke — Tuhan hadir bukan dalam simbol, tetapi dalam realitas hidup sehari-hari.

Eksistensialisme: Kebebasan, Kegelisahan, dan Iman yang Personal

Eksistensialisme mengembalikan makna religiusitas ke pangkuan manusia. Søren Kierkegaard (1813–1855) mengkritik agama massa yang kehilangan keberanian eksistensial. Baginya, iman adalah leap of faith, bukan ritual massal tanpa refleksi.

Di sisi lain, Jean-Paul Sartre (1905–1980), seorang filsuf dan sastrawan, menekankan bahwa manusia bebas sepenuhnya, dan karena itu bertanggung jawab penuh atas makna hidupnya. Tuhan bukan premis, tetapi konsekuensi dari pilihan sadar dan otentik.

Relevansi di Indonesia dan Bali:

Banyak umat kehilangan kedalaman spiritual karena agama menjadi rutinitas simbolik. Eksistensialisme mengajak kita bertanya kembali: “Apa arti Tuhan bagiku secara pribadi?” — bukan sekadar mengulang dogma sosial.

Psikologi Transpersonal: Kesadaran dan Dimensi Ilahi dalam Jiwa

Aliran transpersonal dalam psikologi modern, dipelopori oleh Abraham Maslow, Stanislav Grof, dan Ken Wilber, menjembatani ilmu jiwa dan spiritualitas. Maslow menambahkan self-transcendence di atas self-actualization — menunjukkan bahwa puncak eksistensi adalah pengalaman menyatu dengan Yang Mahatinggi.

Kontribusi tokoh utama:

  • Maslow: Puncak pengalaman spiritual adalah kebutuhan manusiawi yang otentik.
  • Grof: Melalui holotropic breathwork dan eksplorasi kesadaran non-ordinari, Grof menunjukkan bahwa dimensi spiritual inheren dalam diri manusia.
  • Wilber: Memetakan spectrum of consciousness, menyatukan tradisi mistik Timur dan psikoanalisis Barat.

Semua tokoh ini menguatkan kembali bahwa spiritualitas tidak harus di luar, melainkan tumbuh dari kesadaran dalam.

William James: Spiritualitas sebagai Fakta Psikologis dan Praktis

William James (1842–1910), dalam karya klasiknya The Varieties of Religious Experience, membahas agama dari sudut pandang empiris dan introspektif. Ia menekankan bahwa pengalaman religius bersifat pribadi dan tidak bisa direduksi menjadi institusi.

Poin penting dari James:

  • Spiritualitas adalah direct experience, bukan produk otoritas agama.
  • Iman bisa rasional bila memberi manfaat praktis dan batiniah (pragmatism).
  • Agama yang otentik memunculkan transformasi karakter, bukan sekadar kepatuhan simbolik.

Dengan demikian, alih dewa di deweke bukan hanya tradisi lokal, tetapi beresonansi dengan pragmatic mysticism ala James.

Nietzsche dan Schopenhauer: Tuhan, Nilai, dan Penderitaan

Walau dikenal sebagai kritikus agama, baik Friedrich Nietzsche maupun Arthur Schopenhauer justru menyingkap sisi gelap dari kehilangan makna spiritual.

  • Nietzsche (1844–1900) menyatakan “Tuhan telah mati” — bukan sebagai klaim ateistik semata, tetapi sebagai peringatan bahwa modernitas telah kehilangan pusat nilai. Ia menawarkan “kehendak untuk berkuasa” sebagai dorongan kreatif menggantikan agama formal. Namun, dalam Thus Spoke Zarathustra, Nietzsche juga mengusulkan spiritualitas baru yang lahir dari kesadaran atas penderitaan dan keberanian untuk mencipta makna.
  • Schopenhauer (1788–1860) melihat dunia sebagai manifestasi dari kehendak buta, dan penderitaan sebagai dasar eksistensi. Solusinya bukan dogma, tapi compassion dan kontemplasi — nilai-nilai yang mirip dengan Buddhisme dan spiritualitas Timur.

Keduanya menunjukkan bahwa religiositas sejati harus melewati kesadaran akan penderitaan dan kehampaan simbolik — sehingga membuka pintu ke spiritualitas yang otentik.

Alih Dewa di Deweke: Sintesis Lokal-Universal

Prinsip “alih dewa di deweke” menegaskan bahwa Tuhan tidak eksklusif, tidak terbatas dalam dogma atau kitab suci manapun. Ia hadir dalam denyut alam, dalam keheningan batin, dalam tindakan kasih, dan dalam pelayanan kepada sesama.

Nilai ini selaras dengan prinsip Guruji Anand Krishna: “Serve the Almighty by Serving Society and Humanity.”

Alih dewa di deweke adalah refleksi lokal dari kesadaran spiritual universal. Ia menantang kita untuk melampaui seremonial kosong, dan menggali makna terdalam dari keyakinan (trust) sebagai pengalaman, bukan semata tradisi turun menurun tanpa nalar kritis.

Kesimpulan dan Refleksi: Menemukan Tuhan di Dalam, Menyapa Sesama di Luar

Seperti Spinoza yang menemukan Tuhan dalam tatanan alam, Kierkegaard dalam kesunyian iman, Maslow dalam pengalaman puncak, James dalam praktik kehidupan, Nietzsche dalam keberanian kreatif, dan Schopenhauer dalam welas asih — kita pun bisa menemukan Tuhan dalam diri (deweke), dalam kesadaran yang jernih dan hati yang penuh cinta.

Tuhan tidak jauh, dan tidak eksklusif. Ia hadir dalam tetes hujan, alisan sungai, hembusan angin, hamparan sawah, hijau pegunungan, jerit tangis penderitaan rakyat kecil yang dijerat kemiskinan struktural, dan panggilan nurani. Dari kesadaran inilah tumbuh tanggung jawab sosial. Melayani sesama adalah jalan spiritual tertinggi, sebab dalam wajah manusia lain — kita menyapa Yang Ilahi.

Alih dewa di deweke adalah revolusi sunyi: spiritualitas tanpa hiruk-pikuk, tetapi penuh daya ubah dan kasih sejati. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Sreya atau Preya: Saatnya Memilih Jalan yang Memuliakan Ibu Bumi
Melampaui Logika: Memaknai Kembali Mistisisme dalam Cahaya Filsafat Timur, Kritik atas Bertrand Russell
Pertemuan Batin Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara: Refleksi atas Dialog Budaya India-Indonesia
Membaca Pesan Kehidupan: Refleksi  atas Pembongkaran Bangunan di Pantai Bingin
“Perintis? Ah, Kita Semua Pewaris..! ” — Menelusuri Jejak Identitas Budaya di Balik Nama Keluarga, Darah, dan Warisan Psikologis
Tags: filsafatKetuhanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Buda Kecapi Sastrasanga: Membaca Hari, Harmoni Bumi

Next Post

Kisah Dee Lestari Mengejar Lumba-lumba di Pantai Lovina — Catatan Proses Kreatif dari Singaraja Literary Festival 2025

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Kisah Dee Lestari Mengejar Lumba-lumba di Pantai Lovina — Catatan Proses Kreatif dari Singaraja Literary Festival 2025

Kisah Dee Lestari Mengejar Lumba-lumba di Pantai Lovina -- Catatan Proses Kreatif dari Singaraja Literary Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co