24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Alih Dewa di Deweke: Kearifan Lokal Bali dalam Perspektif Global

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 31, 2025
in Esai
Alih Dewa di Deweke: Kearifan Lokal Bali dalam Perspektif Global

Foto ilustrasi: tatkala.co

Pendahuluan: Meretas Jalan Menuju Tuhan yang Dekat

Dalam berbagai tradisi spiritual Nusantara, khususnya Bali, dikenal prinsip “alih dewa di deweke” — sebuah gagasan mendalam bahwa pencarian akan yang ilahi bukanlah perjalanan menjauhi dunia atau menuju entitas di luar, melainkan penyelaman batin ke dalam diri sendiri. Tuhan tidak berada di langit yang jauh, tetapi dalam kedalaman eksistensi.

Gagasan ini paralel dengan pemikiran Baruch Spinoza yang menyamakan Tuhan dengan alam semesta itu sendiri (Deus sive Natura). Di tengah maraknya formalisme agama yang bersifat seremonial dan eksternal, artikel ini mengajak pembaca menggali kembali spiritualitas yang otentik, nalar yang jernih, dan kesadaran yang menyatu, melalui dialog dengan filsafat Barat — Spinoza, Kierkegaard, Sartre, William James, Nietzsche, Schopenhauer — dan psikologi transpersonal.

Spinoza: Tuhan adalah Alam, Alam adalah Tuhan

Baruch Spinoza (1632–1677) menghapus batas antara yang ilahi dan duniawi. Dalam pandangannya, Tuhan bukan pengatur dari luar, melainkan substansi yang satu dengan segala realitas. Ia menolak konsep teisme tradisional dan mengajukan monisme: Tuhan adalah seluruh keberadaan.

Pokok gagasan Spinoza:

  • Tuhan adalah natura naturans — proses kreatif dalam alam itu sendiri.
  • Etika harus didasarkan pada rasionalitas dan kebebasan batin.
  • Kebahagiaan sejati lahir dari pemahaman akan keterhubungan dengan seluruh eksistensi.

Pandangannya membuka ruang bagi spiritualitas yang imanen dan non-dogmatis, sangat relevan dengan alih dewa di deweke — Tuhan hadir bukan dalam simbol, tetapi dalam realitas hidup sehari-hari.

Eksistensialisme: Kebebasan, Kegelisahan, dan Iman yang Personal

Eksistensialisme mengembalikan makna religiusitas ke pangkuan manusia. Søren Kierkegaard (1813–1855) mengkritik agama massa yang kehilangan keberanian eksistensial. Baginya, iman adalah leap of faith, bukan ritual massal tanpa refleksi.

Di sisi lain, Jean-Paul Sartre (1905–1980), seorang filsuf dan sastrawan, menekankan bahwa manusia bebas sepenuhnya, dan karena itu bertanggung jawab penuh atas makna hidupnya. Tuhan bukan premis, tetapi konsekuensi dari pilihan sadar dan otentik.

Relevansi di Indonesia dan Bali:

Banyak umat kehilangan kedalaman spiritual karena agama menjadi rutinitas simbolik. Eksistensialisme mengajak kita bertanya kembali: “Apa arti Tuhan bagiku secara pribadi?” — bukan sekadar mengulang dogma sosial.

Psikologi Transpersonal: Kesadaran dan Dimensi Ilahi dalam Jiwa

Aliran transpersonal dalam psikologi modern, dipelopori oleh Abraham Maslow, Stanislav Grof, dan Ken Wilber, menjembatani ilmu jiwa dan spiritualitas. Maslow menambahkan self-transcendence di atas self-actualization — menunjukkan bahwa puncak eksistensi adalah pengalaman menyatu dengan Yang Mahatinggi.

Kontribusi tokoh utama:

  • Maslow: Puncak pengalaman spiritual adalah kebutuhan manusiawi yang otentik.
  • Grof: Melalui holotropic breathwork dan eksplorasi kesadaran non-ordinari, Grof menunjukkan bahwa dimensi spiritual inheren dalam diri manusia.
  • Wilber: Memetakan spectrum of consciousness, menyatukan tradisi mistik Timur dan psikoanalisis Barat.

Semua tokoh ini menguatkan kembali bahwa spiritualitas tidak harus di luar, melainkan tumbuh dari kesadaran dalam.

William James: Spiritualitas sebagai Fakta Psikologis dan Praktis

William James (1842–1910), dalam karya klasiknya The Varieties of Religious Experience, membahas agama dari sudut pandang empiris dan introspektif. Ia menekankan bahwa pengalaman religius bersifat pribadi dan tidak bisa direduksi menjadi institusi.

Poin penting dari James:

  • Spiritualitas adalah direct experience, bukan produk otoritas agama.
  • Iman bisa rasional bila memberi manfaat praktis dan batiniah (pragmatism).
  • Agama yang otentik memunculkan transformasi karakter, bukan sekadar kepatuhan simbolik.

Dengan demikian, alih dewa di deweke bukan hanya tradisi lokal, tetapi beresonansi dengan pragmatic mysticism ala James.

Nietzsche dan Schopenhauer: Tuhan, Nilai, dan Penderitaan

Walau dikenal sebagai kritikus agama, baik Friedrich Nietzsche maupun Arthur Schopenhauer justru menyingkap sisi gelap dari kehilangan makna spiritual.

  • Nietzsche (1844–1900) menyatakan “Tuhan telah mati” — bukan sebagai klaim ateistik semata, tetapi sebagai peringatan bahwa modernitas telah kehilangan pusat nilai. Ia menawarkan “kehendak untuk berkuasa” sebagai dorongan kreatif menggantikan agama formal. Namun, dalam Thus Spoke Zarathustra, Nietzsche juga mengusulkan spiritualitas baru yang lahir dari kesadaran atas penderitaan dan keberanian untuk mencipta makna.
  • Schopenhauer (1788–1860) melihat dunia sebagai manifestasi dari kehendak buta, dan penderitaan sebagai dasar eksistensi. Solusinya bukan dogma, tapi compassion dan kontemplasi — nilai-nilai yang mirip dengan Buddhisme dan spiritualitas Timur.

Keduanya menunjukkan bahwa religiositas sejati harus melewati kesadaran akan penderitaan dan kehampaan simbolik — sehingga membuka pintu ke spiritualitas yang otentik.

Alih Dewa di Deweke: Sintesis Lokal-Universal

Prinsip “alih dewa di deweke” menegaskan bahwa Tuhan tidak eksklusif, tidak terbatas dalam dogma atau kitab suci manapun. Ia hadir dalam denyut alam, dalam keheningan batin, dalam tindakan kasih, dan dalam pelayanan kepada sesama.

Nilai ini selaras dengan prinsip Guruji Anand Krishna: “Serve the Almighty by Serving Society and Humanity.”

Alih dewa di deweke adalah refleksi lokal dari kesadaran spiritual universal. Ia menantang kita untuk melampaui seremonial kosong, dan menggali makna terdalam dari keyakinan (trust) sebagai pengalaman, bukan semata tradisi turun menurun tanpa nalar kritis.

Kesimpulan dan Refleksi: Menemukan Tuhan di Dalam, Menyapa Sesama di Luar

Seperti Spinoza yang menemukan Tuhan dalam tatanan alam, Kierkegaard dalam kesunyian iman, Maslow dalam pengalaman puncak, James dalam praktik kehidupan, Nietzsche dalam keberanian kreatif, dan Schopenhauer dalam welas asih — kita pun bisa menemukan Tuhan dalam diri (deweke), dalam kesadaran yang jernih dan hati yang penuh cinta.

Tuhan tidak jauh, dan tidak eksklusif. Ia hadir dalam tetes hujan, alisan sungai, hembusan angin, hamparan sawah, hijau pegunungan, jerit tangis penderitaan rakyat kecil yang dijerat kemiskinan struktural, dan panggilan nurani. Dari kesadaran inilah tumbuh tanggung jawab sosial. Melayani sesama adalah jalan spiritual tertinggi, sebab dalam wajah manusia lain — kita menyapa Yang Ilahi.

Alih dewa di deweke adalah revolusi sunyi: spiritualitas tanpa hiruk-pikuk, tetapi penuh daya ubah dan kasih sejati. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Sreya atau Preya: Saatnya Memilih Jalan yang Memuliakan Ibu Bumi
Melampaui Logika: Memaknai Kembali Mistisisme dalam Cahaya Filsafat Timur, Kritik atas Bertrand Russell
Pertemuan Batin Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara: Refleksi atas Dialog Budaya India-Indonesia
Membaca Pesan Kehidupan: Refleksi  atas Pembongkaran Bangunan di Pantai Bingin
“Perintis? Ah, Kita Semua Pewaris..! ” — Menelusuri Jejak Identitas Budaya di Balik Nama Keluarga, Darah, dan Warisan Psikologis
Tags: filsafatKetuhanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Buda Kecapi Sastrasanga: Membaca Hari, Harmoni Bumi

Next Post

Kisah Dee Lestari Mengejar Lumba-lumba di Pantai Lovina — Catatan Proses Kreatif dari Singaraja Literary Festival 2025

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Dee Lestari Mengejar Lumba-lumba di Pantai Lovina — Catatan Proses Kreatif dari Singaraja Literary Festival 2025

Kisah Dee Lestari Mengejar Lumba-lumba di Pantai Lovina -- Catatan Proses Kreatif dari Singaraja Literary Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co