25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Alih Dewa di Deweke: Kearifan Lokal Bali dalam Perspektif Global

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 31, 2025
in Esai
Alih Dewa di Deweke: Kearifan Lokal Bali dalam Perspektif Global

Foto ilustrasi: tatkala.co

Pendahuluan: Meretas Jalan Menuju Tuhan yang Dekat

Dalam berbagai tradisi spiritual Nusantara, khususnya Bali, dikenal prinsip “alih dewa di deweke” — sebuah gagasan mendalam bahwa pencarian akan yang ilahi bukanlah perjalanan menjauhi dunia atau menuju entitas di luar, melainkan penyelaman batin ke dalam diri sendiri. Tuhan tidak berada di langit yang jauh, tetapi dalam kedalaman eksistensi.

Gagasan ini paralel dengan pemikiran Baruch Spinoza yang menyamakan Tuhan dengan alam semesta itu sendiri (Deus sive Natura). Di tengah maraknya formalisme agama yang bersifat seremonial dan eksternal, artikel ini mengajak pembaca menggali kembali spiritualitas yang otentik, nalar yang jernih, dan kesadaran yang menyatu, melalui dialog dengan filsafat Barat — Spinoza, Kierkegaard, Sartre, William James, Nietzsche, Schopenhauer — dan psikologi transpersonal.

Spinoza: Tuhan adalah Alam, Alam adalah Tuhan

Baruch Spinoza (1632–1677) menghapus batas antara yang ilahi dan duniawi. Dalam pandangannya, Tuhan bukan pengatur dari luar, melainkan substansi yang satu dengan segala realitas. Ia menolak konsep teisme tradisional dan mengajukan monisme: Tuhan adalah seluruh keberadaan.

Pokok gagasan Spinoza:

  • Tuhan adalah natura naturans — proses kreatif dalam alam itu sendiri.
  • Etika harus didasarkan pada rasionalitas dan kebebasan batin.
  • Kebahagiaan sejati lahir dari pemahaman akan keterhubungan dengan seluruh eksistensi.

Pandangannya membuka ruang bagi spiritualitas yang imanen dan non-dogmatis, sangat relevan dengan alih dewa di deweke — Tuhan hadir bukan dalam simbol, tetapi dalam realitas hidup sehari-hari.

Eksistensialisme: Kebebasan, Kegelisahan, dan Iman yang Personal

Eksistensialisme mengembalikan makna religiusitas ke pangkuan manusia. Søren Kierkegaard (1813–1855) mengkritik agama massa yang kehilangan keberanian eksistensial. Baginya, iman adalah leap of faith, bukan ritual massal tanpa refleksi.

Di sisi lain, Jean-Paul Sartre (1905–1980), seorang filsuf dan sastrawan, menekankan bahwa manusia bebas sepenuhnya, dan karena itu bertanggung jawab penuh atas makna hidupnya. Tuhan bukan premis, tetapi konsekuensi dari pilihan sadar dan otentik.

Relevansi di Indonesia dan Bali:

Banyak umat kehilangan kedalaman spiritual karena agama menjadi rutinitas simbolik. Eksistensialisme mengajak kita bertanya kembali: “Apa arti Tuhan bagiku secara pribadi?” — bukan sekadar mengulang dogma sosial.

Psikologi Transpersonal: Kesadaran dan Dimensi Ilahi dalam Jiwa

Aliran transpersonal dalam psikologi modern, dipelopori oleh Abraham Maslow, Stanislav Grof, dan Ken Wilber, menjembatani ilmu jiwa dan spiritualitas. Maslow menambahkan self-transcendence di atas self-actualization — menunjukkan bahwa puncak eksistensi adalah pengalaman menyatu dengan Yang Mahatinggi.

Kontribusi tokoh utama:

  • Maslow: Puncak pengalaman spiritual adalah kebutuhan manusiawi yang otentik.
  • Grof: Melalui holotropic breathwork dan eksplorasi kesadaran non-ordinari, Grof menunjukkan bahwa dimensi spiritual inheren dalam diri manusia.
  • Wilber: Memetakan spectrum of consciousness, menyatukan tradisi mistik Timur dan psikoanalisis Barat.

Semua tokoh ini menguatkan kembali bahwa spiritualitas tidak harus di luar, melainkan tumbuh dari kesadaran dalam.

William James: Spiritualitas sebagai Fakta Psikologis dan Praktis

William James (1842–1910), dalam karya klasiknya The Varieties of Religious Experience, membahas agama dari sudut pandang empiris dan introspektif. Ia menekankan bahwa pengalaman religius bersifat pribadi dan tidak bisa direduksi menjadi institusi.

Poin penting dari James:

  • Spiritualitas adalah direct experience, bukan produk otoritas agama.
  • Iman bisa rasional bila memberi manfaat praktis dan batiniah (pragmatism).
  • Agama yang otentik memunculkan transformasi karakter, bukan sekadar kepatuhan simbolik.

Dengan demikian, alih dewa di deweke bukan hanya tradisi lokal, tetapi beresonansi dengan pragmatic mysticism ala James.

Nietzsche dan Schopenhauer: Tuhan, Nilai, dan Penderitaan

Walau dikenal sebagai kritikus agama, baik Friedrich Nietzsche maupun Arthur Schopenhauer justru menyingkap sisi gelap dari kehilangan makna spiritual.

  • Nietzsche (1844–1900) menyatakan “Tuhan telah mati” — bukan sebagai klaim ateistik semata, tetapi sebagai peringatan bahwa modernitas telah kehilangan pusat nilai. Ia menawarkan “kehendak untuk berkuasa” sebagai dorongan kreatif menggantikan agama formal. Namun, dalam Thus Spoke Zarathustra, Nietzsche juga mengusulkan spiritualitas baru yang lahir dari kesadaran atas penderitaan dan keberanian untuk mencipta makna.
  • Schopenhauer (1788–1860) melihat dunia sebagai manifestasi dari kehendak buta, dan penderitaan sebagai dasar eksistensi. Solusinya bukan dogma, tapi compassion dan kontemplasi — nilai-nilai yang mirip dengan Buddhisme dan spiritualitas Timur.

Keduanya menunjukkan bahwa religiositas sejati harus melewati kesadaran akan penderitaan dan kehampaan simbolik — sehingga membuka pintu ke spiritualitas yang otentik.

Alih Dewa di Deweke: Sintesis Lokal-Universal

Prinsip “alih dewa di deweke” menegaskan bahwa Tuhan tidak eksklusif, tidak terbatas dalam dogma atau kitab suci manapun. Ia hadir dalam denyut alam, dalam keheningan batin, dalam tindakan kasih, dan dalam pelayanan kepada sesama.

Nilai ini selaras dengan prinsip Guruji Anand Krishna: “Serve the Almighty by Serving Society and Humanity.”

Alih dewa di deweke adalah refleksi lokal dari kesadaran spiritual universal. Ia menantang kita untuk melampaui seremonial kosong, dan menggali makna terdalam dari keyakinan (trust) sebagai pengalaman, bukan semata tradisi turun menurun tanpa nalar kritis.

Kesimpulan dan Refleksi: Menemukan Tuhan di Dalam, Menyapa Sesama di Luar

Seperti Spinoza yang menemukan Tuhan dalam tatanan alam, Kierkegaard dalam kesunyian iman, Maslow dalam pengalaman puncak, James dalam praktik kehidupan, Nietzsche dalam keberanian kreatif, dan Schopenhauer dalam welas asih — kita pun bisa menemukan Tuhan dalam diri (deweke), dalam kesadaran yang jernih dan hati yang penuh cinta.

Tuhan tidak jauh, dan tidak eksklusif. Ia hadir dalam tetes hujan, alisan sungai, hembusan angin, hamparan sawah, hijau pegunungan, jerit tangis penderitaan rakyat kecil yang dijerat kemiskinan struktural, dan panggilan nurani. Dari kesadaran inilah tumbuh tanggung jawab sosial. Melayani sesama adalah jalan spiritual tertinggi, sebab dalam wajah manusia lain — kita menyapa Yang Ilahi.

Alih dewa di deweke adalah revolusi sunyi: spiritualitas tanpa hiruk-pikuk, tetapi penuh daya ubah dan kasih sejati. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Sreya atau Preya: Saatnya Memilih Jalan yang Memuliakan Ibu Bumi
Melampaui Logika: Memaknai Kembali Mistisisme dalam Cahaya Filsafat Timur, Kritik atas Bertrand Russell
Pertemuan Batin Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara: Refleksi atas Dialog Budaya India-Indonesia
Membaca Pesan Kehidupan: Refleksi  atas Pembongkaran Bangunan di Pantai Bingin
“Perintis? Ah, Kita Semua Pewaris..! ” — Menelusuri Jejak Identitas Budaya di Balik Nama Keluarga, Darah, dan Warisan Psikologis
Tags: filsafatKetuhanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Buda Kecapi Sastrasanga: Membaca Hari, Harmoni Bumi

Next Post

Kisah Dee Lestari Mengejar Lumba-lumba di Pantai Lovina — Catatan Proses Kreatif dari Singaraja Literary Festival 2025

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
0
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

Read moreDetails

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Dee Lestari Mengejar Lumba-lumba di Pantai Lovina — Catatan Proses Kreatif dari Singaraja Literary Festival 2025

Kisah Dee Lestari Mengejar Lumba-lumba di Pantai Lovina -- Catatan Proses Kreatif dari Singaraja Literary Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co