13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jagat Batin Bali dalam Sajak-sajak Umbu Landu Paranggi

I Made Sujaya by I Made Sujaya
July 28, 2025
in Esai
Jagat Batin Bali dalam Sajak-sajak Umbu Landu Paranggi

Made Sujaya

Sulit memungkiri betapa kuatnya kecintaan penyair Umbu Landu Paranggi kepada Bali. Dia menghabiskan separuh lebih usianya di Bali. Sejak tahun 1978 dia bermukim di Bali hingga akhir hayatnya pada 6 April 2021. Dengan setia, sejak tahun 1978, Umbu setia mengasuh halaman sastra di sebuah koran tertua di Bali, Bali Post. Melalui halaman bertajuk “Apresiasi” itu, Umbu merangsang gairah kreatif para penulis dan pengarang Bali. Dengan gaya gerilyanya Umbu mencari, menemukan, dan menempa bakat-bakat muda Bali hingga kemudian mampu tampil meramaikan arena sastra Indonesia.

Orang-orang pun mengakui peran besar Umbu membidani kelahiran para penyair dari Bali, kendati pun dia tak pernah mengajari cara-cara menulis puisi. Sastrawan Gde Aryantha Soethama menyebut Umbu sebagai leluhur penyair Bali. Dia menyejajarkan Umbu dengan para pengelana yang kemudian turut membentuk peradaban Bali, seperti Mpu Kuturan, Danghyang Nirartha hingga Walter Spies, Rudolph Bonnet maupun Arie Smith.

Selama di Bali, Umbu sepertinya menyerap pandangan dan falsafah hidup Bali, terutama yang bersumber dari karya-karya pangawi Bali. Pemahamannya terhadap Bali sebagian dituangkan dalam sejumlah kecil sajak-sajaknya tentang Bali, sebagian lagi kerap disampaikan dalam pertemuan-pertemuan atau diskusi sastra.

Meskipun menghabiskan separuh lebih usianya di Bali, tak banyak sajak Umbu yang merepresentasikan Bali. Sejauh ini kita menemukan sedikitnya tujuh sajak Umbu yang mengandung elemen-elemen budaya maupun lanskap Bali, di antaranyta “Upacara XXXVII” (1982), “Ni Reneng” (1984), “Syair Rajer Babat” (1992), “Dari Pura Tanah Lot” (1996), “Jagung Bakar Pantai Sanur” (1996), “Denpasar Selatan Dari Sebuah Lorong” (1997) dan “Pengantar Mantra Batur” (2019).

“Upacara XXXVII” tampaknya yang paling representatif menggambarkan pandangan Umbu tentang Bali. Kata-kata kunci dalam sajak ini berulang muncul dalam sajak-sajak Umbu lainnya tentang Bali, seperti upacara, mantra, purba, semadi, selain kata-kata sunyi, cinta, rindu, rahasia yang sebelumnya selalu muncul sejak periode Yogya. Dalam periode Bali, Umbu makin intens menggunakan kata upacara dalam sajak-sajaknya. Sajak-sajaknya tentang Bali masih mempertahankan kredo “ritual puisi”, puisi sebagai persembahan, seperti sejalan dengan falsafah hidup orang Bali bahwa seni, demikian pula sastra termasuk di dalamnya puisi, adalah sebentuk persembahan.

Puisi “Upacara XXXVII” merupakan semacam mantra, doa, atau liturgi puisi spiritual-modern, yang mengeksplorasi relasi antara manusia, alam, tradisi, dan semesta dalam konteks Bali sebagai ruang sakral sekaligus kultural. Penyair menyatukan elemen-elemen tradisi Bali (Dewi Sri, Besakih, tabuh, gamelan, banjar, pura) dengan kosmologi besar (galaksi, samudera, langit ilmu manusiawi), lalu meracik semuanya dalam bentuk puisi ritualistik-spiritualistik yang menyuarakan pentingnya percakapan ke dalam diri (percakapan sunyi, percintaan sunyi). Di dalamnya tidak hanya terdapat permainan bunyi dan simbol, tapi sebuah doa puitik, puja sastra, yang membaurkan lokalitas Bali dengan spiritualitas universal.

Bali dalam sajak-sajak Umbu adalah dunia magis yang tak mudah dipahami maknanya kecuali dengan kesediaan dan kesuntukan melakukan penjelajahan berlapis-lapis, menautkan dunia besar (makrokosmos) dengan dunia kecil (mikrokosmos), sebagaimana digambarkannya dalam larik: di luar teratai, di dalam semadi, di luar kepala, di dalam semesta. Apa yang terjadi dalam jagat besar (semesta) bertaut dengan apa yang dialami dalam jagat kecil (diri sendiri).

Lanskap magisme Bali juga terekam dalam sajak “Dari Pura Tanah Lot”. Umbu cukup tersentuh dengan keagungan Pura Tanah Lot, salah satu kosmologi spiritual ikonik Bali. Sampai-sampai dia ingin “menggapai puncak meru” bersama kesunyiannya: /beribu para aku sebrang sana datang/ mengabadikanmu pasang naik pasang surut /dan kini giliran asal bunyi sunyiku menggapai puncak meru/kegunung gunung agung tengadah mataku mengail ufuk/tak teduh mengairi kasihku//

Upaya Umbu memahami tanah Bali tempatnya berjejak ini dilandasi dengan kerendahan hati. Dengan mengambil peribahasa klasik “di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung”, Umbu mengungkapkan sikap kultural untuk berusaha memahami dan memaknai segala gerak di tanah tempatnya berjejak. “Rajer/ bukan ke mana bukan di mana/ bumi dipijak langit dijunjung/ Babat/ bukan di mana bukan ke mana/ langit dijunjung bumi dipijak//” (Sajak “Syair Rajer Babat”).

Selain suasana magis-spiritualnya, yang membuat Umbu tertarik tentu saja cara hidup manusia Bali yang tidak pernah lepas dari seni. Seperti pernah ditulis Subagyo Sastrowardoyo dalam esainya berjudul “Kembali ke Pola Hidup Bali” yang dimuat kembali dalam bukunya, Sekilas Soal Sastra dan Budaya (1992) di Bali kehidupan sehari-hari diresapi dan dikelilingi oleh kesenian. Daya kreasi orang Bali pun begitu liat dan tidak pernah padam, tidak pernah kehabisan angan.

Hal ini pun dirasakan Umbu. Dia mengambil personifikasi seorang maestro penari Bali, Ni Reneng sebagai representasi dari kehidupan yang kental dengan kesenian itu. Lahirlah kemudian sajak Umbu berjudul “Ni Reneng” yang ditulis antara bulan Oktober hingga November 1984. Sajak sepanjang 54 larik ini juga menunjukkan bagaimana hormatnya Umbu kepada sikap berkesenian seniman-seniman otodidak Bali khususnya Ni Reneng. Larik berikut ini membuktikan hal itu. “/Ibu, biar bersimpuh rohku/ pada kedua telapak tanganmu/ bekal ke sepi malam malam mantram/ memetik kidung cipratan bening embun/menyusuri jelajahan jejak aksara/ menjaga kemurnian rasa dahaga/ dan lapar gembala sukma kelana//”

Namun, seiring dengan perkembangan yang dialami Bali, Umbu pun ikut gundah memandang perubahan Bali. Kegundahan Umbu dapat dilihat pada tiga sajaknya yakni “Jagung Bakar Pantai Sanur”, “Dari Pura Tanah Lot” serta “Denpasar Selatan Dari Sebuah Lorong”.

Dalam sajak “Jagung Bakar Pantai Sanur”, Umbu menulis: /Suatu senja/dengus cinta seperti jagung muda dihembus bara purba/seraya pasir/sepasang nganga luka buatan eropa direndam laut sanur/belajar mengunyah berenang dan menyelami pesona timur/berpasang saksi bisu: perahu tembang jukung cakrawala/satu ransel senyum derita//

Pilihan kata Umbu seperti nganga luka, senyum derita dan kesepian moderna di akhir larik merupakan cerminan kegetiran yang mencengkeram begitu kuat batinnya. Sanur yang merupakan salah satu dari tempat eksotik yang dimiliki Bali telah dieskploitasi begitu keras. Karenanya, yang dirasakan Umbu di Sanur bukanlah kesunyian hakiki tetapi kesepian moderna, kesepian artifisial yang diakibatkan oleh eksploitasi tersebut.

Dalam sajak lainnya berjudul “Denpasar Selatan, Dari Sebuah Lorong…” nada getir juga terasa. /bibit cahaya rumpun perdu/inilah perjalanan penemuan siangmalammu/sabankali kau mengidung menembang/dan melabuh bara para kekasih dewata/terowongan penjor nun/didusun dusun jagatraya Bali/resah menanti lalu menyulingmu kembali/memasuki gerbang kotamu tergesa metropolitan// ada juga titipan jalan pasir/gubug ladang garam masa kecilmu/kaligrafi sungai payau, gaib aksara/terbungkus pujapujimu, mutlak laguan kawi/kembali kau menyuruk igauan/limbung menguruk tanah kuru dengan darah cinta/kesuir atau sipongang segara gunungkah itu/gagu merafal, mengeja eja mantra purba/

Sajak ini tampaknya merangkum duka gundah Umbu terhadap tanah dewata yang dijejakinya. Umbu sepertinya mengikuti perubahan yang dialami Bali sebagai akibat penetrasi industry pariwisata yang kian massif pada era tahun 1980-an hingga 1990-an. Pada masa-masa itu, Bali memang menghadapi masalah-masalah tanah, dekadensi moral, serta ketergerusan adat dan budaya.

Pada tahun 1990-an, isu sosial memang menjadi tema mayor sajak karya penyair Bali sejalan dengan dahsyatnya perubahan sosial yang dialami daerahnya. Guru besar sastra Indonesia Unud, I Nyoman Darma Putra melalui esainya yang berjudul “Sajak Protes Penyair Bali 1990-an” dalam buku Proses & Protes Budaya Persembahan untuk Ngurah Bagus (1998) mencatat, penyair yang sudah menulis tahun 1980-an, ikut mengubah fokus penulisannya. Pergeseran estetik penyair Bali ini terjadi berkoinsidensi dengan perubahan besar di bidang kebijakan pemerintah.

Umbu tampaknya ikut tergoda untuk turut merespons fenomena Bali pada masa itu. Namun, respons Umbu tetap dalam kerangka kesediaan berdialog ke dalam diri sebagai sebuah percakapan sunyi, sebuah percintaan sunyi.

Dalam berbagai kesempatan, Umbu memang kerap mengingatkan orang-orang di Bali untuk mensyukuri tradisi nyepi. Menurut Umbu, Bali sangat beruntung mewarisi tradisi nyepi. Bagi Umbu, nyepi bukan semata kesediaan menyelami sepi, tetapi sebuah cermin kearifan untuk memahami apa yang ada di luar diri melalui perjalanan ke dalam diri. Melalui tradisi nyepi, tradisi nyastra, orang akan diajak berkelana untuk menemukan sangkan paraning dumadi (dari mana manusia berasal). Tatkala pandemi Covid-19 menghantam, nyepi terbukti sebagai jalan keluar. Ketika manusia tak berdaya menghadapi dahsyatnya bahaya virus Covid-19, nyepi menjadi resolusi. Emha Ainun Najib menyebut “Resolusi Nyepi” sebagai ajakan untuk meneladani tradisi Nyepi masyarakat Hindu-Bali sebagai isolasi mandiri total nasional menghadapi pandemi Covid-19.

“Beruntunglah Bali karena mewarisi tradisi nyepi dan tradisi nyastra. Kelebihan nyepi di Bali karena dilakoni 24 jam penuh. Tapi kitalah yang menerjemahkannya dalam laku hidup sehari-hari sebagai upaya MERaih DEtik KArunia (MERDEKA/mer-DK)”. Begitu Umbu menulis dalam pengantarnya atas buku puisi “Luka Purnama” karya IBG Parwita.

Umbu juga kerap menyampaikan keterpesonaannya pada konsep-konsep sastrawan Ida Pedanda Made Sidemen, antara lain tong ngelah karang sawah, karang awake tandurin (tidak memiliki tanah sawah, tanamilah tubuh sendiri). Umbu secara kreatif mengubah ungkapan itu menjadi karang awake tandurin aksara (KATA) sebagai caranya memotivasi para pengarang muda Bali untuk bersetia di jalan nyastra. Melalui jalan nyastra, menjalani salampah laku (perjalanan diri mencari ilmu pengetahuan), manusia akan menemukan kesejatian dirinya. Salampah laku merupakan judul salah satu karya Ida Pedanda Made Sidemen yang melukiskan perjalanan hidup sang kawi-wiku melakukan dharma yatra, mencari kesejatian ilmu pengetahuan.

Umbu tak sulit memasuki cara pandang dan falsafah hidup Bali semacam itu karena dia sendiri melakoni perjalanan menemukan kesejatian dirinya juga melalui jalan nyastra, jalan puisi. Yogya mungkin menjadi fase penempaan dan pematangan diri Umbu. Namun, di Bali Umbu menemukan kesejatian dirinya. [T]

Artikel disampaikan dalam acara Singaraja Literary Festival (SLF), 25-27 Juli 2025 di Singaraja, Bali

“Mission Sacree” dan Puisi yang Terjangkau
Buku Saya, Islam Noah, dan Lontar Husada Sasak
“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra
Pengobatan dalam Teks Lama dan Baru, dari Wahyu ke Kedokteran Berbasis Bukti dan Genomik
Darma Kosmik “Usada Budha Kecapi”
(Gangguan) Pikiran dan Motif Penggandaan
Tags: Singaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025Umbu Landu Paranggi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Semesta Suara Pujangga” di Festival Seni Bali Jani 2025: Ketika Puisi Jadi Panggung Merawat Harmoni

Next Post

Parade Monolog dengan Refleksi Mendalam Tentang Ekologi, Budaya dan Nurani Manusia di Festival Seni Bali Jani 2025

I Made Sujaya

I Made Sujaya

Wartawan, sastrawan, dosen. Pengelola balisaja.com

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Parade Monolog dengan Refleksi Mendalam Tentang Ekologi, Budaya dan Nurani Manusia di Festival Seni Bali Jani 2025

Parade Monolog dengan Refleksi Mendalam Tentang Ekologi, Budaya dan Nurani Manusia di Festival Seni Bali Jani 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co