30 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Terbang di Atas Sepi

Angga Wijaya by Angga Wijaya
May 8, 2026
in Esai
Terbang di Atas Sepi

Foto: Angga

“Kalau gak sabar, silakan terbang di atas sepi.”

Tulisan di bak truk itu mungkin lahir dari kemacetan. Dari jalan yang penuh klakson, pengendara yang saling serobot, dan manusia-manusia yang ingin cepat sampai, tetapi terjebak di jalan yang sama-sama padat. Kalimat itu sederhana, tetapi terasa seperti sindiran sosial yang tajam. Di tengah jalan raya yang panas dan gaduh, seseorang memilih menulis humor. Humor yang pahit.

Di Bali hari ini, terutama kawasan Sarbagita, Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan, tulisan itu terasa makin relevan. Jalan-jalan utama nyaris tak pernah benar-benar lengang. Pagi dan sore macet. Malam kadang masih macet. Orang berangkat kerja dengan emosi yang sudah terkuras bahkan sebelum sampai kantor.

Kemacetan di Bali perlahan bukan lagi peristiwa, melainkan rutinitas. Orang mulai hafal titik-titik yang harus dihindari. Simpang Dewa Ruci padat. Jalan Sunset Road tersendat. Jalur Denpasar menuju Canggu seperti antrean panjang yang tak selesai-selesai. Jalan menuju Ubud makin sesak oleh kendaraan wisatawan dan kendaraan lokal yang bercampur tanpa jeda.

Kita hidup dalam zaman ketika perjalanan sepuluh kilometer bisa menghabiskan waktu satu jam lebih. Ironis untuk pulau yang luasnya bahkan tidak sebesar banyak kota metropolitan dunia.

Namun yang lebih ironis, Bali adalah daerah wisata internasional yang sistem transportasi publiknya justru tertinggal. Orang datang dari negara-negara dengan kereta cepat, metro bawah tanah, bus terintegrasi, jalur sepeda yang nyaman, lalu tiba di Bali dan menyaksikan jalanan yang dipenuhi kendaraan pribadi tanpa sistem transportasi umum yang benar-benar kuat.

Akhirnya semua orang dipaksa menjadi pengendara. Anak muda, pegawai, atau mahasiswa harus punya motor. Bahkan kadang satu rumah memiliki tiga sampai lima kendaraan. Motor menjadi kebutuhan primer, bukan lagi pilihan. Padahal dulu Bali tidak sepenuhnya seperti ini.

Sebelum serbuan kendaraan pribadi, Bali pernah memiliki sistem transportasi publik yang hidup. Terminal-terminal ramai. Mikrolet berseliweran. Bus antarkota menjadi penghubung penting antarkabupaten. Orang pergi dari Negara ke Denpasar naik bus. Dari Singaraja ke Gianyar orang bisa bepergian tanpa harus memiliki kendaraan pribadi.

Terminal bukan hanya tempat transit kendaraan, tetapi ruang sosial. Ada pedagang makanan, tukang koran, dan orang-orang yang menunggu sambil mengobrol. Terminal punya denyut kehidupan.

Kini sebagian terminal seperti monumen yang kehilangan fungsi. Bangunannya masih ada, tetapi jiwanya seperti hilang. Mikrolet makin jarang terlihat. Bus antarkota perlahan kalah oleh kendaraan pribadi dan transportasi online.

Banyak anak muda Bali hari ini bahkan mungkin tidak punya pengalaman naik mikrolet antarkota. Mereka lahir ketika motor kredit sudah menjadi budaya. Ketika dealer kendaraan tumbuh lebih cepat daripada halte bus.

Yang menarik, solusi yang paling sering ditawarkan pemerintah adalah membangun jalan baru. Jalan diperlebar. Underpass dibangun, simpang diurai. Pemerintah percaya kemacetan bisa diatasi dengan memperbesar ruang kendaraan.

Pemerintah Kabupaten Badung, misalnya, menyiapkan skema pembangunan beberapa ruas jalan baru untuk mengatasi kemacetan di Bali Selatan. Nilainya mencapai triliunan rupiah. Jalan-jalan baru dirancang untuk mengurai kepadatan kendaraan yang semakin tidak terkendali. Biayanya fantastis. Namun pertanyaannya sederhana. Sampai kapan jalan baru mampu mengejar pertumbuhan kendaraan pribadi?

Sebab pengalaman banyak kota di dunia menunjukkan bahwa semakin banyak jalan dibangun, semakin banyak pula kendaraan yang muncul. Fenomena ini sering disebut induced demand. Ketika jalan diperlebar, orang merasa berkendara menjadi lebih mudah, lalu lebih banyak kendaraan masuk. Kemacetan akhirnya kembali muncul. Kita seperti terus menuang air ke ember bocor.

Masalah Bali mungkin bukan semata kekurangan jalan, melainkan ketergantungan yang terlalu besar pada kendaraan pribadi. Transportasi publik kalah nyaman, kalah cepat, kalah aman, dan kalah terintegrasi. Akibatnya hampir semua orang merasa wajib memiliki kendaraan sendiri.

Bandingkan dengan beberapa negara lain. Di Tokyo, jutaan orang bergerak setiap hari menggunakan transportasi publik. Kereta datang tepat waktu. Jalur antarkota saling terhubung. Orang bisa hidup tanpa memiliki mobil pribadi. Bahkan banyak pekerja kantoran di Tokyo tidak merasa perlu membeli kendaraan.

Di Singapura, pemerintah sejak lama sadar bahwa jalan tidak mungkin terus diperluas. Negara itu kecil. Maka yang diperkuat adalah sistem transportasi publik. MRT dibuat nyaman dan efisien. Bus terhubung dengan baik. Kepemilikan kendaraan pribadi dibatasi dengan pajak dan biaya yang tinggi. Hasilnya bukan berarti Singapura bebas macet sepenuhnya, tetapi masyarakat memiliki alternatif yang jelas selain kendaraan pribadi.

Di Seoul, sistem transportasi publik menjadi bagian penting kehidupan kota. Subway, bus, dan jalur pejalan kaki dirancang saling mendukung. Orang berjalan kaki menuju halte tanpa rasa takut karena trotoar tersedia dengan baik. Sementara di Bali, berjalan kaki kadang terasa seperti aktivitas ekstrem. Trotoar putus-putus. Dipenuhi motor parkir. Bahkan ada jalan tanpa ruang aman bagi pejalan kaki.

Di banyak negara Eropa, transportasi publik tidak dianggap sekadar fasilitas bagi orang miskin. Ia adalah bagian dari budaya kota. Di Amsterdam misalnya, orang naik tram, bus, dan sepeda karena memang nyaman digunakan siapa saja. Menteri, pegawai, mahasiswa, dan wisatawan bisa memakai sistem yang sama.

Sementara di Indonesia, terutama Bali, transportasi publik sering kehilangan prestise. Orang merasa naik kendaraan umum identik dengan keterpaksaan. Begitu mampu membeli motor, mereka meninggalkan angkutan umum. Di sinilah persoalannya menjadi lebih kompleks. Ini bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga soal budaya dan arah pembangunan.

Pariwisata Bali berkembang pesat, tetapi pertumbuhan itu tidak selalu diikuti tata ruang dan sistem transportasi yang matang. Hotel, vila, dan kafe-kafe tumbuh. Kendaraan wisata bertambah. Namun jalan-jalan tetap relatif sama. Angkutan publik tidak berkembang secepat industri pariwisata.

Akibatnya jalan raya menjadi ruang rebutan. Wisatawan ingin cepat sampai ke tempat liburan. Pekerja ingin cepat sampai ke kantor. Sopir logistik harus mengantar barang. Pengemudi ojek online mengejar order. Semua bergerak di ruang yang sama. Di tengah situasi itu, tulisan di bak truk tadi terasa seperti suara kecil dari jalanan yang lelah. “Kalau gak sabar, silakan terbang di atas sepi.”

Kalimat itu terdengar lucu, tetapi juga tragis. Sebab tidak ada yang benar-benar bisa terbang dari kemacetan ini. Bahkan orang kaya sekalipun tetap terjebak lampu merah yang sama. Mobil mewah tetap harus mengantre di jalan yang sama dengan motor tua dan truk pengangkut pasir. Kemacetan pada akhirnya seperti bentuk demokrasi paling absurd di jalan raya. Semua kena.

Namun ada hal lain yang perlahan hilang akibat kemacetan dan dominasi kendaraan pribadi, yakni pengalaman sosial dalam perjalanan. Dulu orang naik bus dan bertemu banyak cerita. Ada percakapan antarpedagang, sopir yang hafal penumpang langganan., atau kernet yang bercanda sepanjang jalan. Perjalanan menjadi ruang interaksi manusia.

Kini perjalanan lebih individual. Orang memakai helm, memasang earphone, menatap peta digital, lalu melaju sendiri-sendiri. Jalan raya menjadi lebih sunyi secara sosial meskipun bising oleh mesin kendaraan. Mungkin karena itu tulisan di bak truk masih terasa penting. Ia seperti pengingat bahwa di jalan raya masih ada manusia yang ingin berbicara, meski lewat kalimat pendek di belakang kendaraan.

Sastra jalanan seperti ini sering dianggap receh, padahal ia merekam psikologi masyarakat. Dari tulisan bak truk, kita bisa membaca humor kelas pekerja, kejengkelan sopir, romantisme rakyat kecil, bahkan kritik sosial. Dan sering kali, kritik paling jujur memang lahir dari jalan. Bukan dari seminar atau ruang rapat hotel, melainkan dari sopir truk yang berjam-jam menghadapi kemacetan sambil mendengar klakson dari belakang.

Barangkali Bali memang membutuhkan jalan baru. Mungkin underpass dan flyover memang perlu. Tetapi tanpa pembenahan transportasi publik yang serius, kemacetan hanya akan dipindahkan dari satu titik ke titik lain. Kita tidak bisa terus bergantung pada kendaraan pribadi sambil berharap jalan raya tetap lengang. Sebab ruang jalan selalu terbatas. Dan pada titik tertentu, kota akan kelelahan menampung kendaraan.

Mungkin suatu hari Bali perlu belajar lagi bahwa transportasi publik bukan simbol kemunduran. Bahwa naik bus bukan aib. Bahwa berjalan kaki bukan aktivitas kelas bawah. Bahwa kota yang sehat bukan kota dengan kendaraan terbanyak, melainkan kota yang memungkinkan manusia bergerak dengan nyaman tanpa harus memiliki kendaraan sendiri.

Sebab jika tidak, kita akan terus hidup dalam perlombaan yang melelahkan. Semua terburu-buru. Semua ingin cepat. Semua ingin mendahului. Padahal ujungnya sama-sama berhenti di lampu merah. Dan di tengah antrean panjang itu, sebuah tulisan di bak truk tiba-tiba terasa seperti filsafat kecil tentang hidup modern. Kalau gak sabar, silakan terbang di atas sepi. Masalahnya, manusia tidak punya sayap. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: gaya hidup
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Filla, Unit Rock Tunanetra asal Bali Resmi Bertransformasi Jadi Solo Project Setelah Merilis Tiga Single

Next Post

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Kuta dan Peradaban Palegongan: Radikalisme Estetika di Ambang Pesisir

by I Gusti Made Darma Putra
May 29, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

KETIKA dunia menyebut Kuta hari ini, ingatan kolektif yang muncul hampir selalu seragam, pesisir yang riuh, lanskap global pariwisata, komodifikasi...

Read moreDetails

‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

by Ruben Cornelius Siagian
May 29, 2026
0
‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

TERBITNYA ensiklik Magnifica Humanitas: On Safeguarding the Human Person in the Time of Artificial Intelligence karya Paus Leo XIV menandai...

Read moreDetails

Pucuk Dicinta, Akar Terlupa  — [Ketika Kritik Berlimpah, Namun Perubahan Tak Kunjung Tiba]

by Afgan Fadilla
May 29, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

SALAH satu paradoks kehidupan politik hari ini adalah semakin melimpahnya kritik di ruang publik tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan...

Read moreDetails

Ruang Publik [Semestinya] Menjadi Cermin Jiwa

by Ahmad Sihabudin
May 28, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

RUANG publik dalam sebuah negara semestinya menjadi tempat di mana akal sehat, etika, dan tanggung jawab bertemu. Ia bukan sekadar...

Read moreDetails

Orang Bali Tetaplah Orang Bali

by Angga Wijaya
May 26, 2026
0
Orang Bali Tetaplah Orang Bali

WARUNG kopi itu berdiri di pinggir jalan kawasan Dalung, Kuta Utara. Siang mulai beranjak perlahan. Lalu lintas tak pernah benar-benar...

Read moreDetails

Pertumbuhan Ekonomi Saja Tidak Cukup  

by Faris Widiyatmoko
May 26, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

DI sebuah obrolan sore yang dipenuhi asap kopi, suara kendaraan berlalu-lalang, dan pemberitaan tumbuhnya perekonomian kuartal I 2026 (5,61 persen),...

Read moreDetails

Buzzer Rakyat

by Hartanto
May 25, 2026
0
Buzzer Rakyat

DALAM diskusi dengan beberapa teman di grup WA, saya tidak menolak diposisikan sebagai ‘buzzer’. Tapi, dengan catatan (cetak tebal, miring,...

Read moreDetails

Perokok Bertanggung Jawab

by Angga Wijaya
May 25, 2026
0
Perokok Bertanggung Jawab

Di atas meja kayu panjang di beranda sebuah toko modern, sebuah kaleng bekas diletakkan begitu saja. Bentuknya sudah penyok di...

Read moreDetails

Pesta Babi: Membuka Hutan, Menutup Layar

by Luthfi Hasanal Bolqiah
May 25, 2026
0
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

DI Mataram, pemutaran film Pesta Babi baru berjalan tiga menit ketika dibubarkan. Di kota lainnya, penyelenggara didatangi, diawasi, atau ditekan...

Read moreDetails

Pulau Serangan dalam Serangan Zaman

by Agung Sudarsa
May 23, 2026
0
Pulau Serangan dalam Serangan Zaman

Pulau Kecil yang Pernah Sunyi DAHULU, Pulau Serangan adalah pulau kecil yang sunyi di selatan Bali. Laut mengelilinginya dengan tenang,...

Read moreDetails
Next Post
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Kuta dan Peradaban Palegongan: Radikalisme Estetika di Ambang Pesisir

KETIKA dunia menyebut Kuta hari ini, ingatan kolektif yang muncul hampir selalu seragam, pesisir yang riuh, lanskap global pariwisata, komodifikasi...

by I Gusti Made Darma Putra
May 29, 2026
Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia
Panggung

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

MEMASUKI tahun kesebelas penyelenggaraannya, Ubud Food Festival kembali digelar di Taman Kuliner Ubud dengan mengusung tema “Farmers: Guardians of Land...

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
Mereka Menunggu di Setia Darma 
Tualang

Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
5 Kesalahan Fatal Saat Pakai Parfum Wanita —Nomor 3 Paling Sering!
Gaya

5 Kesalahan Fatal Saat Pakai Parfum Wanita —Nomor 3 Paling Sering!

MENGGUNAKAN parfum wanita memang jadi cara paling simpel untuk meningkatkan rasa percaya diri dan meninggalkan kesan yang elegan. Tapi, tahukah...

by tatkala
May 29, 2026
‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI
Esai

‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

TERBITNYA ensiklik Magnifica Humanitas: On Safeguarding the Human Person in the Time of Artificial Intelligence karya Paus Leo XIV menandai...

by Ruben Cornelius Siagian
May 29, 2026
(Bukan) Demokrasi Kita
Esai

Pucuk Dicinta, Akar Terlupa  — [Ketika Kritik Berlimpah, Namun Perubahan Tak Kunjung Tiba]

SALAH satu paradoks kehidupan politik hari ini adalah semakin melimpahnya kritik di ruang publik tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan...

by Afgan Fadilla
May 29, 2026
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia
Cerpen

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam
Puisi

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

ASIMTOTE sebentar nyala mataharidari pagimenyalak matakudan matamuselalu silau ada jeda tersembunyidi bibir sianglebih sunyidari celah renggang akan tetapi, bayangmemanjang satu...

by Sholihul Mubarok
May 29, 2026
Ritual Menanam Beras Merah
Liputan Khusus

Ritual Menanam Beras Merah

“RASANYA legit, gurih, dan lebih bertekstur,” ujar I Wayan Agus Saputra di suatu siang yang mendung di Kantor Desa Jatiluwih,...

by Jaswanto
May 28, 2026
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan
Khas

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

SEKITAR 40 mahasiswa dari Korea, laki-laki dan perempuan, bersiap mementaskan kecak di Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII-2026. Cak cak cak…...

by Nyoman Budarsana
May 28, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ruang Publik [Semestinya] Menjadi Cermin Jiwa

RUANG publik dalam sebuah negara semestinya menjadi tempat di mana akal sehat, etika, dan tanggung jawab bertemu. Ia bukan sekadar...

by Ahmad Sihabudin
May 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co