31 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kulihat Kematian | Cerpen Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
June 29, 2025
in Cerpen
Kulihat Kematian | Cerpen Mas Ruscitadewi

Ilustrasi tatkala.co by Canva

Kulihat tubuh uwakku, Salit Penur, di tungku perapian. Mataku tak lepas dari tubuhnya dalam jilatan api. Membakar kain yang membungkus tubuhnya, rambut, daging, dan tubuhnya.

Rasaku, kadang menjadi api, yang membakar, menjadi kayu-kayu yang terbakar, menjadi tubuh yang terbakar, menjadi asap, yang kadang hitam, kelabu, dan putih. Kadang tak terlihat terhirup orang-orang, pohon-pohon, dan lenyap dalam ruang dan waktu.

Saat mata kanak-kanakku melihat kematian, aku menjadi jasad yang dijilat api perapian. Rasaku berontak.

“Panas, panas.. ,” igauku dalam mimpi tidurku di malam yang panjang.

“Ha ha ha… !” Tawa uwakku, masih tersimpan dalam denyar telingaku, memberi rasa riang.

Elusan tangan lembutnya yang mengucak- ngucak kepalaku, masih menyamankan. Sentuhan rasa sayang yang memekarkan keberanian, semangat, melahirkan bahagia, yang terkatakan.

Kulihat kematian ibu, dalam satu embusan nafas, yang merontokkan seluruh keangkuhanku.

“Ternyata kita hanya bergantung pada satu hembusan nafas,” batinku lemas, tak berdaya.

Terbayang keangkuhan-keangkuhanku selama ini. Merasa pintar, berpengetahuan, kritis dengan pertanyaan-bertanyaan tak terjawab, lihai menjawab dan tangkas berargumentasi..

Jiwaku jatuh, tersungkur.

Malam setelah upacara pengabenan ibu, kurasakan kekosongan, aku menangis.

Tapi hatiku menyejek, tertawa sinis pada air mata yang merembes ke luar.

“Kau menangisi siapa? Mengasihani siapa? Ibumu? Untuk apa?” Hatiku malah mentertawakan dan mengejek tangisanku.

“Kau menangisi dirimu sendiri karena sudah tak punya ibu, yang bisa kau peluk, kau cium, kau ajak bercerita, kau egois…,” kata batinku , menghentikan tangisku.

Aku tersenyum, mengutuki keegoisanku sendiri.

Kulihat, kudengar dan kurasakan kematian-kematian, guru, saudara, teman, sahabat, orang-orang, binatang- binatang, pohon-pohon.

Pada kematian binatang dan pohon-pohon aku berontak.

“Binatang dan pohon juga punya satu nyawa seperti kita, kenapa harus membunuh,” kataku dalam hati saat teman-teman dengan mudah membunuh semut atau nyamuk yang inggap di dekatnya. Tapi hanya dalam hati.

Kupahami, sehembus nafas yang pergi dengan cara dan jalannya sendiri-sendiri. Oleh orang lain, mahluk lain, atau dirinya sendiri.

“Guru kami bisa melihat jalan kematiannya sendiri. Setelah merasakan sakit dalam tubuhnya yang berkepanjangan, beliau memilih pergi, kembali ke alam brahman. Beliau melihat jalan nafasnya yang pergi dari jiwa, menuju ubun-ubun dengan mata membelalak, ” cerita salah seorang muridnya.

Aku hanya mendengar, mencoba memahami. Ingatanku kembali pada pertemuan dengan almarhum penglingsir puri Ubud, yang bercerita tentang ajaran ayahnya.

“Kematian itu adalah perginya atma, nafas sejati dari tubuh. Kepergian nafas dari mulut akan dirasakan agak sakit oleh tubuh, kepergian dari hidung lebih tidak sakit dan kepergian nafas dari ubun-ubun paling tidak sakit. Itu adalah kematian yang paling tenang,” cerita penglingsir itu.

Aku berterima kasih pada penglingsir Ubud yang telah mengajarkan tentang nafas yang menjadi dasar pengetahuanku untuk memahami cara-cara dan jenis-jenis kematian manusia.

“Kematian karena kecelakaan, atau bunuh diri, mungkin nafasnya keluar lewat darah dari tubuh yang terluka, sehingga oleh leluhur Bali, dibuatkan upacara ‘pengulapan’, pemanggilan roh, yang tercecer di jauh dari jasadnya,” pikirku.

Pernah kulihat kematianku, jazadku dimandikan di mrajan (tempat suci keluarga Hindu Bali) rumahku, sejenak aku merasa aneh.

“Mrajan adalah tempat suci, kematian atau jasad dianggap kotor dan mengetori,” logikaku tak bisa terima.

Sungguh aku tak mengerti dan habis mengerti sehingga aku merasa layak untuk menanyakannya pada penguasa mrajan.

Kubuat persembahan sebisanya, buah dan bunga, sembari kutanya maknanya, dan apa yang bisa kulakukan.

Tak ada jawaban, hanya yang kulihat samar-samar dalam cahaya matahari seekor ikan berwarna putih dalam samudra.

Namaku dipersembahkan oleh seorang perempuan tua pertapa di Pantai Parang Tritis.

Lempengan mengkilat bertulis namaku naik turun dalam ombak lautan. Kulihat sebuah batu bertuliskan namaku dan sebuah upacara pengabenan atau pembakaran mayat, yang dipersiapkan pada hari otonanku (wetonku).

Sungguh aku tak tahu dan tak mengerti.
Aku hanya bisa berdoa, berterima kasih dan minta maaf pada penguasa pantai.

Pantai Selatan membawaku ke Pantai Utara Bali, sebuah tempat yang disebut Kuburan Jayaprana, di Teluk Terima Buleleng.

Tempat berbukit, dipenuhi batu-batu besar yang ditumbuhi pohon-pohon besar, seperti sebuah alam yang berbeda.

Ada bayang-bayang pasangan-pasangan para pendeta brahmana.

“Mereka seperti berkemah, menginap, bertapa di atas batu-batu besar, ” simpulku.

Di atas, tempat orang-orang bersembahyang aku agak kaget, ternyata yang disebut kuburan Jayaprana adalah sebuah lingga yang ditutupi kain dan isi patung laku perempuan.

“Lingga adalah sarana pemujaan pada Dewa Siwa, para pendeta yang menginap itu sedang memuja Siwa. Kenapa disebut kuburan Jayaprana?” Berbagai tanya dalam kepalaku.

Kulihat kematian seorang suci yang membakar sendiri badan kasarnya, menitipkan energi-energi murninya pada lingga, pada batu-batu, genta tongkat, ketu, rambut, jejak tangan dan kaki serta pada keturunan-keturunannya.

Kulihat kematian, seseorang yang tak mati, tak mati- mati. [T]

Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Lengkingan Gagak Hitam | Cerpen Mas Ruscitadewi
Leaaaaakkk | Cerpen Mas Ruscitadewi
Toh Langkir dan Perang Itu | Cerpen Mas Ruscitadewi
Rudra Tiga | Cerpen Mas Ruscitadewi
Mimpi-mimpi Dewi Sri | Cerpen Mas Ruscitadewi
Gosip Apsara-Apsari | Cerpen Mas Ruscitadewi
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Muhammad Farhan Azizi | Surat dari Dalam Lemari

Next Post

Di Balik Keajaiban AI: Wawasan Kritis dari Riset Otak MIT Terkait Penggunaan ChatGPT

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails
Next Post
Militerisasi Pendidikan dan Ancaman Terhadap Demokrasi

Di Balik Keajaiban AI: Wawasan Kritis dari Riset Otak MIT Terkait Penggunaan ChatGPT

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota
Esai

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan
Tualang

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu
Esai

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana
Khas

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan
Khas

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto
Cerpen

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas
Puisi

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

by Supali Kasim
August 30, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
August 30, 2026
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?
Esai

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co