24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Muhammad Farhan Azizi | Surat dari Dalam Lemari

Muhammad Farhan Azizi by Muhammad Farhan Azizi
June 29, 2025
in Puisi
Puisi-puisi Muhammad Farhan Azizi | Surat dari Dalam Lemari

Muhammad Farhan Azizi

Surat dari Dalam Lemari


(untuk UA)

Aku menyelipkan rinduku
di antara lipatan bajumu yang belum sempat disetrika.
Kaus putih yang kau pakai tidur
masih menyimpan harum lehermu
dan sedikit gerutu semalam:
“Kenapa kamu pulang terlalu larut?”

Aku minta maaf
pada gantungan baju
yang sudah bosan melihatku memelukmu
dari balik pintu
dengan pandanganku yang tak berani bicara.

Lemari ini
adalah rumah kecil kenangan kita:
tiket bioskop di saku celana,
puisi lusuh di saku jaket,
dan kancing bajumu
yang lepas karena terlalu semangat kugenggam
malam itu.

Aku ingin menjadi kaus dalammu:
selalu dekat
meski tak selalu terlihat.
Atau celana tidurmu,
yang tahu mimpi-mimpimu lebih dulu
sebelum aku.

Tadi pagi, aku mencium sapu tanganmu
yang kau lupa cuci.
Ada noda lipstik di ujungnya.
Warnanya merah jambu.
Aku tahu itu bukan dari wanita lain.
Itu dari ciumanmu sendiri—
yang kau berikan di kaca
karena aku tak sempat pamit.

Kau bilang cinta tak butuh tempat luas,
cukup satu laci kecil
yang bisa kita isi bersama:
dengan tawa, sedikit air mata,
dan nota belanja yang tak pernah kita buang
karena mencatat tanggal-tanggal
kita pernah lapar bersama.

Aku ingin kau tahu
bahwa aku menunggumu di rumah
seperti meja rias menunggu wajahmu kembali.
Sunyi,
tapi tetap setia menatap bayangan
yang tak pernah benar-benar pergi.

Dan kalau kau tanya
kenapa aku tak pernah menuliskan puisi untukmu
di kertas yang wangi—
karena rinduku
lebih nyaman tinggal
di kaus kaki kirimu
yang selalu kau cari tiap pagi.

Pacet, 23 Juni 2025

Cerita Dari Rumah Datok

Di rumah Datok, angin tak pernah benar-benar diam
ia bersiul lewat lubang jendela tua
membawa aroma anyir kayu basah
dan sisa-sisa hujan yang belum tuntas dari kenangan
di sana aku menemukanmu duduk di lantai kayu
dengan rambut tergerai seperti hutan yang sedang merapalkan mantra.

Datok pernah berkata,
cinta yang baik adalah yang tak pernah kau mengerti sepenuhnya
seperti kopi pahit yang tetap kau teguk
walau bibirmu mengernyit tiap pagi
aku percaya itu, sejak melihatmu diam
di balik selendang putih yang pernah kau cuci
dengan air mata ibumu.

Kita duduk di serambi sore itu
kau menyusun daun-daun lontar yang gugur dari loteng langit
sementara aku menuliskan namamu
di atas debu meja
dengan ujung jari yang tak lagi percaya waktu.

Apakah kau tahu, rumah ini
pernah jadi tempat patah hati paling senyap?
di pojok kanan, di dekat peti peninggalan Datok
seorang perempuan pernah tidur berhari-hari
menunggu kekasihnya pulang dari Perang Sabil
yang tak pernah benar-benar usai.

Tapi sejak kau datang
lampu gantung di langit-langit rumah ini
tak lagi padam saat jam dua dini hari
dan suara jangkrik tak lagi terdengar seperti ratapan
mereka berubah jadi irama,
yang meninabobokkan waktu.

Kau menyalakan api di dapur
dengan batu api peninggalan zaman penjajahan
dan aku membayangkan hatiku
adalah panci tua yang kau panaskan perlahan
hingga mendidih dalam rindu
yang tak pernah kau ladeni.

Lalu kau tanya aku:
“Apakah cinta itu bisa diwariskan, seperti kain tenun Datok?”
Aku menjawab tidak
tapi kita bisa menjahit ulang yang koyak
dengan benang sabar dan jarum kenangan.

Kau tertawa
dan tawa itu seperti bayang-bayang dedaunan
yang menari-nari di dinding rumah
membuat perabotan tersipu
dan aku mulai mencemburui udara
yang selalu lebih dulu menyentuh pipimu.

Ada kisah yang tak kita ceritakan pada siapa pun
tentang malam ketika lilin mati,
dan tanganmu menyentuh tanganku
seolah mencari denyut
yang belum sempat tumbuh di tubuh masa lalu.

Kita bicara tentang Datok yang keras kepala
dan kau bilang, cinta juga keras kepala
sebab ia tetap bertahan
meski tak diberi tempat
di ruang tamu doa-doa kita.

Ada genteng yang pecah di atas kamar kita
dan tiap hujan datang
aku berharap rintik-rintik itu
menuliskan puisi di tubuhmu
seperti yang tak pernah sempat aku tulis
dengan bibirku.

Kau tidur dengan selimut tipis
dan aku menjadi angin
yang menghangatkanmu dengan cerita-cerita
tentang kota yang tak jadi kita tinggalkan
karena rumah ini terlalu penuh oleh doa Datok.

Aku mencintaimu,
seperti suara petikan siter yang diputar
dari radio tua di sudut ruang
suaranya serak, tapi jujur
dan tak pernah bosan meski diputar ulang-ulang.

Kau bertanya,
jika suatu hari rumah ini roboh
kemana cinta akan pindah?
Aku bilang: ke dadamu
yang sudah lama jadi halaman depan
dari seluruh perasaanku.

Kita menanam pohon jambu di pekarangan
dan aku memberinya nama dari huruf awalmu
kau tersenyum,
katamu, cinta adalah benih
yang cukup disirami kesetiaan dan sedikit lelucon
agar tidak tumbuh jadi beban.

Malam-malam di rumah Datok
adalah puisi tanpa bait
hanya deru napas, bisik tikar, dan bayang lampu
yang saling menyapa
tanpa kata-kata
seperti cinta yang tak perlu dijelaskan.

Kau mengajarkanku
bahwa pulang bukan soal arah mata angin
tapi tentang siapa yang menyambut
dan untuk siapa kau sempatkan diam
meski hanya lima menit
di beranda waktu.

Datok sudah lama pergi
tapi rumah ini tak pernah merasa sepi
sebab suaramu
lebih abadi dari suara lonceng masjid
dan lebih lirih dari doa
yang pernah ditulis di tembok kamar belakang.

Di rumah ini
aku tak butuh cermin
sebab matamu sudah cukup
untuk membuatku mengenali siapa aku
dan siapa aku di hadapanmu.

Jika suatu hari kisah ini dibacakan ulang
oleh cucu kita yang belum lahir
biarkan ia tahu
bahwa rumah Datok pernah menjadi
satu-satunya tempat
di mana cinta tak pernah kehabisan musim.

Pacet, 23 Juni 2025

Jika Aku Menjadi Hujan


(untuk UA)

Jika aku menjadi hujan,
aku tak akan minta izin untuk jatuh
pada tubuhmu yang sedang berdiri menunggu senja.

Aku akan menjelma getar di helai rambutmu,
diam di jemarimu,
dan pelan-pelan menyelinap ke matamu
untuk mencuci rindu yang tak sempat kausampaikan.

Aku tak ingin menjadi badai,
cukup gerimis yang sabar mengetuk
sampai kamu bersedia membuka jendela.

Aku tidak ingin kau tahu aku datang,
aku hanya ingin kamu merasa basah
di titik paling sunyi dalam dada.

Pacet, 23 Juni 2025

Aku Ingin Mencintaimu dengan Tenang

Aku ingin mencintaimu dengan tenang
seperti laut mencintai karang,
tak pernah bertanya kenapa harus tetap tinggal.

Aku ingin mencintaimu
dengan cahaya matahari pukul lima pagi,
yang menyusup ke sela daun
tanpa mengganggu tidur burung-burung.

Aku ingin mencintaimu seperti waktu—
datang, lewat,
tapi tak pernah bisa ditolak.

Tak usah kau jawab.
Biarkan cinta ini tumbuh di luar pengetahuanmu,
di taman yang hanya aku tahu pintunya.

Pacet, 23 Juni 2025

Di Antara Dua Payung

Kita pernah berjalan beriringan
dengan dua payung berbeda.
Langit menangis
tapi kita tetap berpura-pura tertawa.

Aku ingin kau tahu:
yang kuyakini bukan atap dari kain itu,
tapi kemungkinan tanganmu
menyentuhku tanpa sengaja.

Payung itu terlalu lebar untuk kita yang takut dekat,
dan terlalu rapuh untuk kita yang pura-pura kuat.

Maka aku memilih basah,
daripada harus kehilangan
tatap matamu
yang pernah berlindung padaku.

Pacet, 23 Juni 2025

Surat yang Tak Pernah Sampai

Aku menulis surat dengan tinta kesunyian
di atas kertas yang ditiupkan dari napasku sendiri.
Tak ada alamat.
Tak ada nama.

Aku hanya ingin kamu tahu,
ada rindu yang terlalu sabar menunggu,
bahkan ketika pintu tak pernah dibuka.

Kau tak perlu membalas.
Cukup dengarkan:
di dalam setiap kalimat,
ada langkahmu yang berjalan kembali.

Pacet, 23 Juni 2025

Pada Hari yang Tak Bernama

Pada hari yang tak bernama,
kau akan menyeduh teh dan tak mengerti
kenapa harumnya mengingatkanmu pada seseorang
yang pernah bicara lewat diam.

Kau akan membuka buku lama
dan menemukan secarik catatan
berisi bait tak selesai.
Itu aku.
Yang selalu lupa menulis akhir dari cinta.

Kau tak akan menangis,
tapi dadamu akan sedikit lebih sempit,
seperti pagi yang terlalu penuh kabut.

Pacet, 23 Juni 2025

Langit yang Tak Sempat Kita Namai

Kita pernah menatap langit dan hampir memberi nama.
Tapi waktu memanggil kita terlalu cepat.
Kau menoleh,
aku diam.

Langit itu kini menjadi milik sore
dan angin yang membawa daun gugur.

Aku masih menyebutnya: langitmu,
meski warnanya telah pudar
dan tak satu pun burung kembali dari arah yang sama.

Kalau langit bisa lupa,
aku tidak.
Aku menyimpannya
di sela helaan napas yang kau tinggalkan.

Pacet, 23 Juni 2025

Namamu Masih Tertulis di Udara

Aku tak lagi menyebut namamu
tapi udara masih mengucapkannya
setiap kali aku bernapas terlalu dalam.

Namamu menyelinap ke dalam hujan,
menetap di bawah payung orang lain,
dan kembali padaku saat aku sendirian.

Aku tidak mengusirmu.
Aku hanya memberi waktu
agar rinduku tumbuh menjadi puisi
yang tak perlu lagi menyebutmu dengan sedih.

Pacet, 23 Juni 2025

Seperti Kopi yang Tak Pernah Dingin

Kamu adalah pahit
yang selalu kucari tiap pagi,
meski aku tahu lidahku tak pernah terbiasa.

Kamu adalah aroma
yang tinggal lebih lama dari percakapan.
Bahkan ketika gelas telah kosong,
rasa itu masih mengendap di dasar harap.

Aku menyeruputmu dengan takut
seperti seseorang membaca surat warisan
yang ia tahu isinya akan mengubah segalanya.

Dan tetap, aku memilih minum sampai habis
meski yang tersisa hanya detak jantung
dan kenangan.

Pacet, 23 Juni 2025

Balasan dari Cangkir yang Kau Letakkan Pelan

Aku adalah getir
yang kau nikmati dengan alasan tak masuk akal.
Kau bilang: cinta tak harus manis—
cukup hangat, cukup jujur,
cukup hadir di pagi buta
saat dunia masih malas membuka mata.

Aku tahu
kau takut menyeruputku sepenuhnya,
seperti takut mencintai tanpa syarat.
Tapi bukankah cinta selalu seperti itu:
goyah, tapi diminum juga?

Kau menyentuh cangkirku dengan dua tangan
seperti memegang rahasia yang tidak ingin tumpah.
Aku diam,
sebab hangatku memang tak bisa menjawab.

Ketika kau pergi
aku tetap menunggu di atas meja
di antara remah roti dan sisa dialog yang tak selesai.
Harumku menetap,
tapi rasaku mulai berubah:
dingin, seperti jarak
yang kau simpan di kerah kemejamu.

Jika suatu saat kau kembali,
aku mungkin sudah basi.
Tapi bukankah cinta
bisa kita panaskan kembali,
meski tidak akan pernah sama?

Pacet, 23 Juni 2025
(dari seseorang yang kau minum tanpa benar-benar tenggelam)

Kamu Tak Pernah Tahu

Kamu tak pernah tahu
bahwa aku menyebut namamu
dalam doa paling rahasia,
yang bahkan langit pun terlalu malu untuk menjawab.

Kamu tak pernah tahu
bahwa aku pernah berdiri
di depan pintumu
tanpa mengetuk,
karena takut kau benar-benar membukanya.

Cinta, katamu, harus lantang.
Tapi aku percaya cinta yang baik
adalah yang tetap bertahan
meski hanya dalam bisik paling lirih.

Pacet, 23 Juni 2025

Dan Aku Tetap di Sini

Dan aku tetap di sini,
di bangku paling sunyi
dalam hatiku sendiri.

Bukan karena menunggu,
tapi karena tidak ada arah
yang lebih layak dari namamu.

Kau telah lama pergi,
tapi aku masih menata kata
seperti meja makan yang tak pernah dibereskan.

Aku tak pernah berharap kau kembali,
aku hanya ingin
kamu tahu:
tempatmu belum pernah diganti.

Pacet 23 Juni 2025

Penulis: Muhammad Farhan Azizi
Editor: Adnyana Ole


[][] Klik untuk BACA puisi-puisi lain

Puisi-puisi Tjahjono Widarmanto | Riwayat, Takziah, Pulung Gantung
Puisi-puisi Sonhaji Abdullah | Menyesap Manis Perih Hidup
Puisi-puisi Muhammad Rifan Prianto | Setelah Membaca 100 Soneta Cinta Pablo Neruda
Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Karya-karya Bersejarah dari Sekaa Gong Legendaris Giri Kusuma Bontihing-Buleleng di Pesta Kesenian Bali

Next Post

Kulihat Kematian | Cerpen Mas Ruscitadewi

Muhammad Farhan Azizi

Muhammad Farhan Azizi

Hidup di Jembrana, Penulis lepas di media massa. Anggota Rumah Baca Loloan (Jembrana Bali) dan kini sedang menjalankan tugas sebagai TP2D (Tim Percepatan Pembangunan Daerah) Kabupaten Mojokerto

Related Posts

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

by Wayan Esa Bhaskara
April 18, 2026
0
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Irama Nada Hujan aroma tanah selepas hujansisakan nafasnya yang gemetardingin pagikekecewaan yang bersandar yang tak pernah dicapai mataharitak berikan waktu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

by Gus Surya Bharata
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

MESEH LAWANG Nuju dinane anulampahe napak lawangannilar pekaranganngapti segere tan mari lali napak lawangane di arepanggane matureksasungkan tan pasangkanmeduuh aduh...

Read moreDetails

Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

by Senny Suzanna Alwasilah
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

ANTARA JAKARTA DAN SEOUL Aku tiba di negerimu yang terik di bulan Agustussaat Jakarta telah jauh kutinggalkan dalam larik-larik sajakSejenak...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

by Kim Young Soo
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

MELINTASI LANGIT KALIMANTAN Pada puncak antara umur 20-an dan 30-an aku pernah lihatair anak sungai berwarna tanah liat merah mengalir...

Read moreDetails

Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

by Zahra Vatim
April 11, 2026
0
Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

PERAHU KATA Ingin kau tatap ombak dari tepi gunungterlintas segala pelayaran yang usai dan landaidaun kering terpantul cahayabatu pijak dipeluk...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

by Chusmeru
April 10, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

Lagu Terlewat Tak mengapa bila senyum itu bukan untukkuKarena tawa usai berpestaTapi cinta adakah meranaBila setapak pernah bersamaSemai akan tetap...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

by IBW Widiasa Keniten
April 5, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

Beri Aku Tuhan beri aku bersimpuh, tuhandi kaki padma sucimu beri aku bersujud, tuhanjiwa raga terselimuti jelaga kehidupan beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

by Made Bryan Mahararta
April 4, 2026
0
Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

Perang Teluk Peristiwa penting dalam babak sejarah duniaGeopolitik modern yang tersirat krisis internasionalKonflik regional yang penuh ambisi dan amarahNegara kawasan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja yang Tersesat di Rambut Seorang Perempuan

by Iwan Setiawan
March 28, 2026
0
Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja yang Tersesat di Rambut Seorang Perempuan

SENJA YANG TERSESAT DI RAMBUT SEORANG PEREMPUAN Puisi ini aku dedikasikan untuk Lea Kathe Ritonga di rambutnya, senja tersesat seperti...

Read moreDetails

Puisi-puisi Alfiansyah Bayu Wardhana | Taman yang Diam-diam Bersemi

by Alfiansyah Bayu Wardhana
March 27, 2026
0
Puisi-puisi Alfiansyah Bayu Wardhana | Taman yang Diam-diam Bersemi

Taman yang Diam-diam Bersemi Maka pada suatu pagi yang heningkutemukan namamu tumbuh di dalam hatiku,sebagaimana benih yang lama tersembunyitiba-tiba mengenal...

Read moreDetails
Next Post
Kulihat Kematian | Cerpen Mas Ruscitadewi

Kulihat Kematian | Cerpen Mas Ruscitadewi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co