KABUPATEN Buleleng punya satu lagi sekaa gong legendaris yang berdiri sejak delapan dekade lalu. Ialah Sekaa Gong Kebyar Giri Kusuma dari Desa Bontihing, Kecamatan Kubutambahan. Sekaa gong itu tampil memukau dalam Utsawa Gong Legendaris Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47 tahun 2025 di Panggung Terbuka Ardha Candra Denpasar, Sabtu malam, 28 Juni 2025.
Sebagaimana ciri gong kebyar yang lahir di Buleleng, tabuh-tabuh yang dibawakan sekaa dari Desa Bontihing itu terkesan cepat, atrakti, namun tidak kehilangan harmoni dalam nada-nadanya.
“Kami latihan sejak Desember 2024 untuk memainkan kembali gending-gending yang pernah populer di Bontihing,” kata I Putu Sudiarsa selaku koordinator sekaa.


Penampilan Sekaa Gong Kebyar Giri Kusuma dari Desa Bontihing, Kecamatan Kubutambahan di Panggung Terbuka Ardha Candra Denpasar, Sabtu malam, 28 Juni 2025
Di panggung Ardha Candra, sekaa ini membawakan empat garapan unggulan, yakni dua tabuh dan dua tari yang sarat makna sejarah dan spiritualitas.
Salah satunya adalah Tabuh Kreasi “Pudak Sumekar”, ciptaan maestro Made Keranca. Komposisi ini menggambarkan keindahan bunga pudak yang bermekaran di sekitar Pura Beji dan sumber air kayoan pusat spiritual warga Bontihing. Suara gemericik air, semerbak bunga, dan nyanyian burung menjadi napas musikal garapan ini.
“Karya ini adalah doa alam yang kami wujudkan dalam suara,” tutur Sudiarsa.
Dari dekade yang berbeda, muncul Tabuh Telu “Dwi Mekar” lahir pada 1984 sebagai upaya menyelaraskan eksperimentasi musikal dengan pakem lelambatan klasik. Sebuah karya yang menandai keberanian Giri Kusuma menjelajahi batas-batas musikalitas gamelan Bali.


Penampilan Sekaa Gong Kebyar Giri Kusuma dari Desa Bontihing, Kecamatan Kubutambahan di Panggung Terbuka Ardha Candra Denpasar, Sabtu malam, 28 Juni 2025
Kekuatan cerita juga menyatu dalam Tari Kekelik, garapan I Nyoman Durpa. Mengisahkan burung besar yang angkuh, sang Kekelik, yang kerap menindas burung-burung kecil. Namun dalam persatuan, kawanan kecil itu bangkit dan menggulingkan keangkuhan.
“Kekelik adalah cermin zaman. Ketika kesombongan dilawan dengan kebersamaan,” ujar Sudiarsa.
Tak kalah menggugah, Tari Baris “Sura Murti” menyuarakan heroisme. Terinspirasi dari sosok Bimasena dalam kisah Mahabharata, karya I Nyoman Kartina Laksana ini menampilkan pasukan Baris bergada dalam semangat Baratayuda penuh keberanian dan bakti pada ibu pertiwi.
Sudiarsa berharap bahwa karya yang dihadirkan tak berhenti sebagai tontonan, tapi menjadi tuntunan menginspirasi generasi muda di Bali khususnya di Buleleng untuk terus merawat seni tradisi sebagai identitas dan kebanggaan daerah. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole



























