4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merawat Ingatan, Merayakan Warisan: Catatan Gong Mebarung Desa Menyali dan Jagaraga

Jaswanto by Jaswanto
September 27, 2024
in Panggung
Merawat Ingatan, Merayakan Warisan: Catatan Gong Mebarung Desa Menyali dan Jagaraga

Penari Trunajaya dari Sekaa Gong Legendaris Saraswati | Foto: tatkala/Jaswanto

TABUH Bratayuda dimainkan. Penonton bersorak. Lapangan kecil itu bergemuruh. Suara gong dan ramai penonton membaur dalam suasana yang sulit dijelaskan. Mendung yang mendaulat langit Menyali sejak sore hari, bergeming dan seolah tak “berani” meneteskan airnya meski barang sebutir—atau mungkin merasa cukup setelah membuat kuyup Menyali pada siang hari sebelum perayaan dimulai.

Dan di luar dugaan, Made Kranca, yang usianya sudah tak lagi muda itu, bahkan ikut serta membawakan repertoar Bratayuda dengan permainan ugal-nya yang mengesankan. Ah, dasar maestro, ia menabuh gamelan berbilah itu semudah mengedipkan kedua matanya.  

Kranca dan Bratayuda menggila. Sementara penonton semakin girang saat panggul-panggul dan tangan-tangan penabuh mulai mempercepat gerakannya. Saking cepatnya, panggul-panggul itu tampak seperti memukul angin, tak sampai menyentuh gamelan. Saat menjelang akhir, gemuruh sorakan dan tepuk tangan datang dari berbagai arah, tak putus-putus. Malam itu, Sekaa Gong Legendaris Jaya Kusuma Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan, Buleleng, membuka gong mebarung dengan cukup baik.

Malam semakin pecah saat Sekaa Gong Legendaris Saraswati Desa Menyali, Sawan, Buleleng—yang notabene sebagai tuan rumah gong mebarung kali ini—memainkan Tabuh Lelonggoran Ombak Kaulu setelah Bratayuda diperdengarkan. Seakan tak mau kalah dengan kebyar tabuh ciptaan the one and only, sang maestro Gde Manik, tabuh tua karya Guru Cening Beritem dan Guru Gede Negara—dua maestro gong kebyar Menyali—ini mengentak dan mengejutkan.

Made Kranca di tengah-tengah Sekaa Gong Legendaris Jaya Kusuma Jagaraga | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Dengan tabuhan yang kadang-kadang lembut, juga keras, yang harmonis, Ombak Kaulu seperti debur laut yang datang dan pergi di sasih kaulu, deburan maha besar, seakan-akan mendengarkan suara gemuruh. Gelombang suara itu memacak dan menyita mata dan telinga penonton untuk tak berkedip dan menuli. Satu kata yang dapat mewakili tabuh ini ialah: dahsyat. Guru Cening dan Guru Negara telah mewariskan sebuah repertoar yang indah sekaligus enak didengar, meski bagi orang awam barangkali kata “idah” dan “enak” itu terlalu rumit untuk dijelaskan.

Tetapi tabuh lelongoran dalam pengertian identitas musikal adalah sebuah produk budaya-seni karawitan khas Buleleng yang tidak dimiliki oleh daerah manapun di Bali. Komposisi ini secara fungsional digunakan dalam multikonteks kehidupan sosial kultural masyarakat Buleleng.

Dan sebagaimana tuan rumah pada perhelatan apa pun, penonton dari Menyali tentu saja lebih banyak daripada Jagaraga. Maka tak heran jika sorakan dan tepuk tangan untuk Ombak Kaulu terdengar lebih meriah daripada Bratayuda. Tapi sulit juga untuk tidak bersorak dan tepuk tangan saat Bratayuda dimainkan sebelumnya. Artinya, terlepas dari selera pendengaran setiap orang, kedua tabuh ini memang sama-sama menakjubkan.

Menyita perhatian agaknya menjadi frasa yang tepat untuk menyebut pertunjukan gong mebarung yang diselenggarakan Desa Adat Menyali dalam rangka “Otonan Gong dan HUT ke-90 Bendera Saraswati Raja Klungkung” di lapangan Desa Menyali, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Rabu (25/9/2024) malam itu.

Pertunjukan ini digelar sebagai semacam penguat ingatan atas riwayat kesenian dan kebudayaan sekaligus penghormatan kepada para leluhur Desa Menyali. Pula mempererat hubungan antara Menyali dan Jagaraga yang sudah terjalin sejak dulu.

Penabuh Sekaa Gong Legendaris Saraswati Menyali | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Desa Menyali, sebagaimana keterangan Kelian Desa Adat Menyali, Jro Gede Carita, memiliki dua, katakanlah, “pusaka” berupa gong gantung (lanang) dan kemong. Gong gantung yang diberi nama Sekar Gadung ini merupakan anugerah—atau pemberian—dari Raja Buleleng pertama Ki Barak Panji Sakti atas rasa terima kasih sekaligus penghormatan kepada Pasek Menyali, pengelingsir Desa Menyali, yang telah ikut-serta Ki Barak saat membantu kapal dagang Cina yang kandas di Pantai Penimbangan pada tahun 1640—seperti yang tercatat dalam Babad Buleleng yang tersimpan di Gedong Kirtya. Sedangkan kemong yang diberi nama Sekar Taji itu, adalah warisan dari Jro Pasek Bulian, Jro Pasek Kubutambahan, dan Jro Pasek Menyali.

Tak hanya gong, Menyali juga memiliki panji/bendera bersejarah yang didapat dari Raja Klungkung Anak Agung Geg pada 10 November 1934, 90 tahun silam. Bendera Saraswati ini semacam piala atas kemenangan Sekaa Gong Desa Menyali saat Parade Gong Mebarung di Puri Klungkung zaman itu. Saat ini, panji Raja Klungkung itu kondisinya masih tampak baik meski terdapat beberapa lubang. Dan pada saat ulang tahunnya yang ke-90, bendera ini ditancapkan di antara gamelan kebyar bersama pusaka gong dan kemong pada mebarung malam kemarin.

Dalam khazanah kebyar, Menyali dan Jagaraga merupakan dua desa penting yang sama-sama dianggap sebagai “ibu kandung”—walaupun masih terjadi perdebatan—kesenian gong Bali yang lahir pada abad ke-20 ini. Jauh sebelum kebyar menjadi pelebur gong-gong tua dan menggerakkan revolusi kesenian Bali, menurut Jro Gede Carita, pada kisaran tahun 1640-an, Sekaa Gong Desa Menyali sudah lahir dengan nama Sekaa Gong Sekar Gadung.

“Nama itu kemudian berganti menjadi Sekaa Gong Saraswati Menyali saat mendapat penghargaan dari Raja Klungkung. Saraswati itu sesuai dengan nama bendera yang diberikan,” ujar lelaki paruh baya yang fasih berbahasa Bali halus itu.

Penari Trunajaya Sekaa Gong Legendaris Jaya Kusuma Jagaraga | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Jika di Jagaraga ada nama I Wayan Paraupan—atau yang lebih dikenal dengan nama Pan Wandres—dan Pan Cening Liyana yang dianggap sebagai pelopor gong kebyar pada tahun 1910-an, di Menyali tersebut nama Guru Cening Beritem dan Guru Gede Negara—sebagaimana orang Menyali memanggil dua sosok tersebut. Pan Wandres dan Pan Cening Liyana menelurkan Kebyar Legong, sedangkan Cening Beritem dan Gede Negara melahirkan Legong Pengeleb pada kisaran tahun 1930-an.

Pada 1937, berdasarkan keterangan Anak Agung Gde Gusti Djelantik (Regen Buleleng saat itu), dalam catatannya yang berjudul Music in From and Instrumental, Organization in Balinese Orchestral Music yang diterbitkan pada 1986, Colin McPhee menyebutkan bahwa gong kebyar, untuk pertama kalinya, diperdengarkan kepada khalayak umum pada Desember 1915, yakni pada saat beberapa sekaa gamelan terbaik di Bali Utara mengikuti perlombaan gamelan di Jagaraga.

Dan sangat memungkinkan Menyali juga ikut serta dalam perlombaan tersebut. Mengingat, dalam buku I Wayan Senen yang berjudul Wayan Beratha Pembaharu Gamelan Kebyar Bali (2002), selain eksis di Desa Jagaraga, sebenarnya gong kebyar juga sudah eksis di beberapa desa lain di Bali Utara, seperti Desa Bungkulan, Ringdikit, Sawan, Banyuatis, Nagasepa, Patemon, Menyali, Bebetin, Bubunan, Bantiran, dan Kedis. Sekali lagi, soal gong kebyar, bisa jadi Menyali dan Jagaraga memang sama tuanya.

Merayakan Warisan

Semalam, masing-masing sekaa gong membawakan dua tabuhan (repertoar) dan tarian. Sekaa Gong Legendaris Jaya Kusuma membawakan Tabuh Pepanggulan Bratayuda dan Manik Amutus, pula Tari Trunajaya dan Palawakya. Sedangkan Sekaa Gong Legendaris Saraswati dengan percaya diri memperdengarkan Tabuh Lelonggoran Ombak Kaulu dan Tabuh Kreasi Sri Wijaya serta Tari Trunajaya dan Tari Legong Pengeleb.

Seolah sudah menjadi pengetahuan umum, Tabuh Pepanggulan Bratayuda lahir dari tangan dingin Gde Manik di mana tabuh ini terinspirasi dari perang besar dari epos Mahabarata, Perang Bharatayudha—atau Perang Kurukshetra karena terjadi di Padang Kurukshetra. Karya ini tercipta pada era 1950-an. Melalui repertoar ini, sebagai sebuah komposisi karawitan baru pada zamannya, Gde Manik mengemas nada-nada dalam struktur dan garap yang bebas, tapi tetap tidak meninggalkan unsur-unsur garap tradisi, seperti gilak, kebyar, pengadeng, dan gegenderan.

“Tempo, dinamika, suasana dan struktur, digarap sesuai dengan dramaturgikal Perang Bharatayudha,” ujar Nyoman Arya Suriawan, Kelian Sekaa Gong Legendaris Jaya Kusuma, suatu ketika.

Pada 1970-an, seorang murid Gde Manik yang masih hidup hingga kini, Made Kranca, mencoba membuat sebuah komposisi baru untuk Sekaa Gong Jagaraga. Bersama sang guru akhirnya Kranca melahirkan sebuah tabuh yang mengambil ide dan roh dari beberapa komposisi gamelan sebelumnya, seperti gender wayang, lelonggoran, dan gambang. Komposisi itu kemudian dikenal dengan nama Tabuh Manik Amutus.

Namun, jauh sebelum Bratayuda dan Manik Amutus diciptakan, Tabuh Lelonggoran Ombak Kaulu dan Tabuh Kreasi Sri Wijaya yang dibawakan Sekaa Gong Legendaris Saraswati malam itu, lahir pada tahun 1913. Seperti yang sudah disinggung di atas, Ombak Kaulu lahir dari dua orang seniman Menyali bernama Guru Cening Beritem dan Guru Gede Negara.

Penari Palawakya Sekaa Gong Legendaris Jaya Kusuma Jagaraga | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Sedangkan Kreasi Sri Wijaya ditelurkan oleh Putu Kota dan Gede Negara. Jika Ombak Kaulu terinspirasi dari gerakan gelombang, Sri Wijaya lahir dari petani panen padi. Sri Wijaya dipersembahkan kepada petani dan segala kesuburan tanah Menyali—Ida Betara Sri.

Sri Wijaya diaransemen oleh Ketut Rediasa dan Kadek Adi Atmajaya. Tabuh ini diawali dengan gegenderan klasik, selanjutnya diiringi oleh instrumen-instrumen gamelan lainnya secara berbarengan. Tabuh ini didominasi oleh instrumen reong dan silih berganti dengan instrumen-instrumen lainnya.

Selain tabuh, setidaknya ada tiga tarian yang dipentaskan malam itu, yaitu Trunajaya, Palawakya, dan Legong Pengeleb. Trunajaya dan Palawakya menjadi salah dua tarian kebyar yang populer dari Desa Jagaraga. Tari Trunajaya berserta kisah di baliknya, nyaris selalu disebut saat berbicara gong kebyar. Sedangkan Palawakya jelas sebuah masterpiece dari Wayan Paraupan—atau Pan Wandres, guru Gde Manik, juga kakek kandung Made Kranca.

Palawakya merupakan tarian kebyar yang menuntut penarinya untuk memiliki kemampuan yang virtuistik. Pasalnya, saat menarikan Palawakya penari harus menguasi tiga keahlian sekaligus, yaitu menari, menabuh, dan menembang (malawakya/mekekawin). Ini seolah menunjukkan bahwa Pan Wandres bisa dan mampu menguasai ketiga kemampuan terebut.

Dan Tari Legong Pengeleb yang diciptakan pada tahun 1934 oleh Guru Cening Baritem dan Guru Gede Negara itu menjadi penutup gong mebarung yang diadakan Desa Adat Menyali malam itu. Lengong Pengeleb menggambarkan suasana hati kaum perempuan yang penuh kegembiraan dengan ekspresi bahagia, suka cita, dan keagresifan karena telah terbebas. Kata “pengeleb” berarti bebas. Tarian ini lahir di zaman pergerakan nasional dan emansipasi wanita.

Menyaksikan gong mebarung antara Menyali dan Jagaraga malam kemarin, penonton seperti bernostalgia saat kedua desa tersebut pentas di panggung Pesta Kesenian Bali—walaupun pada saat itu mereka tidak bertemu dalam satu waktu dan panggung. Sekaa Gong Desa Menyali tampil di panggung Ardha Candra, Denpasar, 28 Juni 2023 yang lalu. Mereka juga menampilkan tabuh dan tari seperti yang dipentaskan di panggung yang berdiri di lapangan Desa Menyali malam kemarin.

Penari Legong Pengeleb Sekaa Gong Legendaris Saraswati Menyali | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Sedangkan Sekaa Gong Jagaraga pentas di panggung Ardha Candra Pesta Kesenian Bali pada 10 Juli 2024. Dan apa yang ditampilkan Sekaa Gong Jagaraga malam kemarin juga dipentaskan di PKB beberapa bulan yang lalu.

Sampai di sini, apa yang dipentaskan oleh kedua sekaa malam kemarin seluruhnya adalah karya “warisan”  para seniman terdahulu yang lahir dan hidup di kedua desa tersebut. Tak ada garapan baru entah dari Jagaraga maupu Menyali—kecuali Legong Pengeleb yang merupakan hasil rekonstruksi I Made Redita (Pan Carik), I Made Kranca, dan I Made Panca Wirsutha. Itupun bukan karya baru, hanya sekadar rekonstruksi dari karya yang sudah ada sebelumnya.

Namun, meski demikian, warisan juga tetap harus dirayakan. Merayakan warisan ini dapat kita baca sebagai bentuk penghormatan, juga dalam rangka pelestarian dan merawat ingatan akan mahakarya yang pernah lahir dari Jagaraga dan Menyali beserta sosok yang telah menciptakannya. Dengan adanya acara semacam ini, nama-nama lama seperti Guru Cening Baritem, Guru Gede Negara, Pan Wandres, dan Gde Manik kembali diperdengarkan—walaupun barangkali lamat-lamat dan sepintas lalu.

Menyali dan Jagaraga tentu saja memiliki seni-budaya yang kaya, baik yang bersifat tangible maupun intangible. Warisan seni-budaya ini menyimpan banyak kearifan masa lalu dari nenek moyang mereka. Namun, perlu digarisbawahi, tak berhenti di masa lalu, mereka juga harus menjadikan kearifan masa lalu tersebut sebagai inspirasi untuk menghadapi tantangan masa depan dan membangun kehidupan seni-budaya yang berkelanjutan, salah satunya barangkali mulai berusaha untuk melahirkan garapan tabuh atau tari kekebyaran baru.

Untuk itu, selain mementaskan, atau katakanlah merayakan warisan, sepertinya Jagaraga dan Menyali perlu juga menghadirkan kesenian serta kebudayaan yang dapat dilihat relevansinya antara kearifan masa lalu dan kehidupan masa kini. Seniman muda dari kedua desa tersebut perlu hadir untuk menerjemahkan kekayaan pengetahuan tradisional ke dalam bentuk seni kontemporer yang lebih mudah dinikmati masyarakat. Dengan begitu, masyarakat dapat merasakan kedekatan dengan kekayaan budaya Bali yang sesungguhnya.[T]

Sekaa Gong Legendaris Jagaraga, Momentum Menghidupkan Kembali Jiwa dan Spirit Gde Manik
Gong Kebyar Desa Kedis, Setelah 32 Tahun Mati Suri
Gong Mebarung Banjar Paketan dan Desa Umejero: Karya Rekonstruksi dan Reinterpretasi
Gong Mebarung Wahana Santhi dan Santhi Budaya di Singaraja: Wiranjaya yang Masih Tetap Memberi Pertanyaan
Tags: Desa JagaragaDesa Menyaligong kebyargong mebarungSekaa Gong Legendaris Jaya KusumaSekaa Gong Legendaris Saraswati
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merekonstruksi Gending Lelambatan Klasik Gilak Embat dan Tabuh Pisan Sekaa Gong Desa Kwanji Sempidi

Next Post

Malam Manis Galungan di Desa Alasangker, Hiburan Rakyat dan Aspirasi untuk Sang Calon Bupati

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
0
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

Read moreDetails

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

Read moreDetails

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

Read moreDetails

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
0
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

Read moreDetails

13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Wahyu Mahaputra
July 30, 2026
0
13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Di tengah menjamurnya festival musik yang kian mengaburkan batas antar-genre demi menjangkau pasar yang lebih luas, Sthala Ubud Village Jazz...

Read moreDetails

“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

by Yahya Umar
July 28, 2026
0
“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

jika rakyat pergiketika penguasa pidatokita harus hati-hatibarangkali mereka putus asa kalau rakyat sembunyidan berbisik-bisikketika membicarakan masalahnya sendiripenguasa harus waspada dan...

Read moreDetails

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

Read moreDetails

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

Read moreDetails

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
0
Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

Read moreDetails

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
0
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

Read moreDetails
Next Post
Malam Manis Galungan di Desa Alasangker, Hiburan Rakyat dan Aspirasi untuk Sang Calon Bupati

Malam Manis Galungan di Desa Alasangker, Hiburan Rakyat dan Aspirasi untuk Sang Calon Bupati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co