24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merawat Ingatan, Merayakan Warisan: Catatan Gong Mebarung Desa Menyali dan Jagaraga

Jaswanto by Jaswanto
September 27, 2024
in Panggung
Merawat Ingatan, Merayakan Warisan: Catatan Gong Mebarung Desa Menyali dan Jagaraga

Penari Trunajaya dari Sekaa Gong Legendaris Saraswati | Foto: tatkala/Jaswanto

TABUH Bratayuda dimainkan. Penonton bersorak. Lapangan kecil itu bergemuruh. Suara gong dan ramai penonton membaur dalam suasana yang sulit dijelaskan. Mendung yang mendaulat langit Menyali sejak sore hari, bergeming dan seolah tak “berani” meneteskan airnya meski barang sebutir—atau mungkin merasa cukup setelah membuat kuyup Menyali pada siang hari sebelum perayaan dimulai.

Dan di luar dugaan, Made Kranca, yang usianya sudah tak lagi muda itu, bahkan ikut serta membawakan repertoar Bratayuda dengan permainan ugal-nya yang mengesankan. Ah, dasar maestro, ia menabuh gamelan berbilah itu semudah mengedipkan kedua matanya.  

Kranca dan Bratayuda menggila. Sementara penonton semakin girang saat panggul-panggul dan tangan-tangan penabuh mulai mempercepat gerakannya. Saking cepatnya, panggul-panggul itu tampak seperti memukul angin, tak sampai menyentuh gamelan. Saat menjelang akhir, gemuruh sorakan dan tepuk tangan datang dari berbagai arah, tak putus-putus. Malam itu, Sekaa Gong Legendaris Jaya Kusuma Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan, Buleleng, membuka gong mebarung dengan cukup baik.

Malam semakin pecah saat Sekaa Gong Legendaris Saraswati Desa Menyali, Sawan, Buleleng—yang notabene sebagai tuan rumah gong mebarung kali ini—memainkan Tabuh Lelonggoran Ombak Kaulu setelah Bratayuda diperdengarkan. Seakan tak mau kalah dengan kebyar tabuh ciptaan the one and only, sang maestro Gde Manik, tabuh tua karya Guru Cening Beritem dan Guru Gede Negara—dua maestro gong kebyar Menyali—ini mengentak dan mengejutkan.

Made Kranca di tengah-tengah Sekaa Gong Legendaris Jaya Kusuma Jagaraga | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Dengan tabuhan yang kadang-kadang lembut, juga keras, yang harmonis, Ombak Kaulu seperti debur laut yang datang dan pergi di sasih kaulu, deburan maha besar, seakan-akan mendengarkan suara gemuruh. Gelombang suara itu memacak dan menyita mata dan telinga penonton untuk tak berkedip dan menuli. Satu kata yang dapat mewakili tabuh ini ialah: dahsyat. Guru Cening dan Guru Negara telah mewariskan sebuah repertoar yang indah sekaligus enak didengar, meski bagi orang awam barangkali kata “idah” dan “enak” itu terlalu rumit untuk dijelaskan.

Tetapi tabuh lelongoran dalam pengertian identitas musikal adalah sebuah produk budaya-seni karawitan khas Buleleng yang tidak dimiliki oleh daerah manapun di Bali. Komposisi ini secara fungsional digunakan dalam multikonteks kehidupan sosial kultural masyarakat Buleleng.

Dan sebagaimana tuan rumah pada perhelatan apa pun, penonton dari Menyali tentu saja lebih banyak daripada Jagaraga. Maka tak heran jika sorakan dan tepuk tangan untuk Ombak Kaulu terdengar lebih meriah daripada Bratayuda. Tapi sulit juga untuk tidak bersorak dan tepuk tangan saat Bratayuda dimainkan sebelumnya. Artinya, terlepas dari selera pendengaran setiap orang, kedua tabuh ini memang sama-sama menakjubkan.

Menyita perhatian agaknya menjadi frasa yang tepat untuk menyebut pertunjukan gong mebarung yang diselenggarakan Desa Adat Menyali dalam rangka “Otonan Gong dan HUT ke-90 Bendera Saraswati Raja Klungkung” di lapangan Desa Menyali, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Rabu (25/9/2024) malam itu.

Pertunjukan ini digelar sebagai semacam penguat ingatan atas riwayat kesenian dan kebudayaan sekaligus penghormatan kepada para leluhur Desa Menyali. Pula mempererat hubungan antara Menyali dan Jagaraga yang sudah terjalin sejak dulu.

Penabuh Sekaa Gong Legendaris Saraswati Menyali | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Desa Menyali, sebagaimana keterangan Kelian Desa Adat Menyali, Jro Gede Carita, memiliki dua, katakanlah, “pusaka” berupa gong gantung (lanang) dan kemong. Gong gantung yang diberi nama Sekar Gadung ini merupakan anugerah—atau pemberian—dari Raja Buleleng pertama Ki Barak Panji Sakti atas rasa terima kasih sekaligus penghormatan kepada Pasek Menyali, pengelingsir Desa Menyali, yang telah ikut-serta Ki Barak saat membantu kapal dagang Cina yang kandas di Pantai Penimbangan pada tahun 1640—seperti yang tercatat dalam Babad Buleleng yang tersimpan di Gedong Kirtya. Sedangkan kemong yang diberi nama Sekar Taji itu, adalah warisan dari Jro Pasek Bulian, Jro Pasek Kubutambahan, dan Jro Pasek Menyali.

Tak hanya gong, Menyali juga memiliki panji/bendera bersejarah yang didapat dari Raja Klungkung Anak Agung Geg pada 10 November 1934, 90 tahun silam. Bendera Saraswati ini semacam piala atas kemenangan Sekaa Gong Desa Menyali saat Parade Gong Mebarung di Puri Klungkung zaman itu. Saat ini, panji Raja Klungkung itu kondisinya masih tampak baik meski terdapat beberapa lubang. Dan pada saat ulang tahunnya yang ke-90, bendera ini ditancapkan di antara gamelan kebyar bersama pusaka gong dan kemong pada mebarung malam kemarin.

Dalam khazanah kebyar, Menyali dan Jagaraga merupakan dua desa penting yang sama-sama dianggap sebagai “ibu kandung”—walaupun masih terjadi perdebatan—kesenian gong Bali yang lahir pada abad ke-20 ini. Jauh sebelum kebyar menjadi pelebur gong-gong tua dan menggerakkan revolusi kesenian Bali, menurut Jro Gede Carita, pada kisaran tahun 1640-an, Sekaa Gong Desa Menyali sudah lahir dengan nama Sekaa Gong Sekar Gadung.

“Nama itu kemudian berganti menjadi Sekaa Gong Saraswati Menyali saat mendapat penghargaan dari Raja Klungkung. Saraswati itu sesuai dengan nama bendera yang diberikan,” ujar lelaki paruh baya yang fasih berbahasa Bali halus itu.

Penari Trunajaya Sekaa Gong Legendaris Jaya Kusuma Jagaraga | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Jika di Jagaraga ada nama I Wayan Paraupan—atau yang lebih dikenal dengan nama Pan Wandres—dan Pan Cening Liyana yang dianggap sebagai pelopor gong kebyar pada tahun 1910-an, di Menyali tersebut nama Guru Cening Beritem dan Guru Gede Negara—sebagaimana orang Menyali memanggil dua sosok tersebut. Pan Wandres dan Pan Cening Liyana menelurkan Kebyar Legong, sedangkan Cening Beritem dan Gede Negara melahirkan Legong Pengeleb pada kisaran tahun 1930-an.

Pada 1937, berdasarkan keterangan Anak Agung Gde Gusti Djelantik (Regen Buleleng saat itu), dalam catatannya yang berjudul Music in From and Instrumental, Organization in Balinese Orchestral Music yang diterbitkan pada 1986, Colin McPhee menyebutkan bahwa gong kebyar, untuk pertama kalinya, diperdengarkan kepada khalayak umum pada Desember 1915, yakni pada saat beberapa sekaa gamelan terbaik di Bali Utara mengikuti perlombaan gamelan di Jagaraga.

Dan sangat memungkinkan Menyali juga ikut serta dalam perlombaan tersebut. Mengingat, dalam buku I Wayan Senen yang berjudul Wayan Beratha Pembaharu Gamelan Kebyar Bali (2002), selain eksis di Desa Jagaraga, sebenarnya gong kebyar juga sudah eksis di beberapa desa lain di Bali Utara, seperti Desa Bungkulan, Ringdikit, Sawan, Banyuatis, Nagasepa, Patemon, Menyali, Bebetin, Bubunan, Bantiran, dan Kedis. Sekali lagi, soal gong kebyar, bisa jadi Menyali dan Jagaraga memang sama tuanya.

Merayakan Warisan

Semalam, masing-masing sekaa gong membawakan dua tabuhan (repertoar) dan tarian. Sekaa Gong Legendaris Jaya Kusuma membawakan Tabuh Pepanggulan Bratayuda dan Manik Amutus, pula Tari Trunajaya dan Palawakya. Sedangkan Sekaa Gong Legendaris Saraswati dengan percaya diri memperdengarkan Tabuh Lelonggoran Ombak Kaulu dan Tabuh Kreasi Sri Wijaya serta Tari Trunajaya dan Tari Legong Pengeleb.

Seolah sudah menjadi pengetahuan umum, Tabuh Pepanggulan Bratayuda lahir dari tangan dingin Gde Manik di mana tabuh ini terinspirasi dari perang besar dari epos Mahabarata, Perang Bharatayudha—atau Perang Kurukshetra karena terjadi di Padang Kurukshetra. Karya ini tercipta pada era 1950-an. Melalui repertoar ini, sebagai sebuah komposisi karawitan baru pada zamannya, Gde Manik mengemas nada-nada dalam struktur dan garap yang bebas, tapi tetap tidak meninggalkan unsur-unsur garap tradisi, seperti gilak, kebyar, pengadeng, dan gegenderan.

“Tempo, dinamika, suasana dan struktur, digarap sesuai dengan dramaturgikal Perang Bharatayudha,” ujar Nyoman Arya Suriawan, Kelian Sekaa Gong Legendaris Jaya Kusuma, suatu ketika.

Pada 1970-an, seorang murid Gde Manik yang masih hidup hingga kini, Made Kranca, mencoba membuat sebuah komposisi baru untuk Sekaa Gong Jagaraga. Bersama sang guru akhirnya Kranca melahirkan sebuah tabuh yang mengambil ide dan roh dari beberapa komposisi gamelan sebelumnya, seperti gender wayang, lelonggoran, dan gambang. Komposisi itu kemudian dikenal dengan nama Tabuh Manik Amutus.

Namun, jauh sebelum Bratayuda dan Manik Amutus diciptakan, Tabuh Lelonggoran Ombak Kaulu dan Tabuh Kreasi Sri Wijaya yang dibawakan Sekaa Gong Legendaris Saraswati malam itu, lahir pada tahun 1913. Seperti yang sudah disinggung di atas, Ombak Kaulu lahir dari dua orang seniman Menyali bernama Guru Cening Beritem dan Guru Gede Negara.

Penari Palawakya Sekaa Gong Legendaris Jaya Kusuma Jagaraga | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Sedangkan Kreasi Sri Wijaya ditelurkan oleh Putu Kota dan Gede Negara. Jika Ombak Kaulu terinspirasi dari gerakan gelombang, Sri Wijaya lahir dari petani panen padi. Sri Wijaya dipersembahkan kepada petani dan segala kesuburan tanah Menyali—Ida Betara Sri.

Sri Wijaya diaransemen oleh Ketut Rediasa dan Kadek Adi Atmajaya. Tabuh ini diawali dengan gegenderan klasik, selanjutnya diiringi oleh instrumen-instrumen gamelan lainnya secara berbarengan. Tabuh ini didominasi oleh instrumen reong dan silih berganti dengan instrumen-instrumen lainnya.

Selain tabuh, setidaknya ada tiga tarian yang dipentaskan malam itu, yaitu Trunajaya, Palawakya, dan Legong Pengeleb. Trunajaya dan Palawakya menjadi salah dua tarian kebyar yang populer dari Desa Jagaraga. Tari Trunajaya berserta kisah di baliknya, nyaris selalu disebut saat berbicara gong kebyar. Sedangkan Palawakya jelas sebuah masterpiece dari Wayan Paraupan—atau Pan Wandres, guru Gde Manik, juga kakek kandung Made Kranca.

Palawakya merupakan tarian kebyar yang menuntut penarinya untuk memiliki kemampuan yang virtuistik. Pasalnya, saat menarikan Palawakya penari harus menguasi tiga keahlian sekaligus, yaitu menari, menabuh, dan menembang (malawakya/mekekawin). Ini seolah menunjukkan bahwa Pan Wandres bisa dan mampu menguasai ketiga kemampuan terebut.

Dan Tari Legong Pengeleb yang diciptakan pada tahun 1934 oleh Guru Cening Baritem dan Guru Gede Negara itu menjadi penutup gong mebarung yang diadakan Desa Adat Menyali malam itu. Lengong Pengeleb menggambarkan suasana hati kaum perempuan yang penuh kegembiraan dengan ekspresi bahagia, suka cita, dan keagresifan karena telah terbebas. Kata “pengeleb” berarti bebas. Tarian ini lahir di zaman pergerakan nasional dan emansipasi wanita.

Menyaksikan gong mebarung antara Menyali dan Jagaraga malam kemarin, penonton seperti bernostalgia saat kedua desa tersebut pentas di panggung Pesta Kesenian Bali—walaupun pada saat itu mereka tidak bertemu dalam satu waktu dan panggung. Sekaa Gong Desa Menyali tampil di panggung Ardha Candra, Denpasar, 28 Juni 2023 yang lalu. Mereka juga menampilkan tabuh dan tari seperti yang dipentaskan di panggung yang berdiri di lapangan Desa Menyali malam kemarin.

Penari Legong Pengeleb Sekaa Gong Legendaris Saraswati Menyali | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Sedangkan Sekaa Gong Jagaraga pentas di panggung Ardha Candra Pesta Kesenian Bali pada 10 Juli 2024. Dan apa yang ditampilkan Sekaa Gong Jagaraga malam kemarin juga dipentaskan di PKB beberapa bulan yang lalu.

Sampai di sini, apa yang dipentaskan oleh kedua sekaa malam kemarin seluruhnya adalah karya “warisan”  para seniman terdahulu yang lahir dan hidup di kedua desa tersebut. Tak ada garapan baru entah dari Jagaraga maupu Menyali—kecuali Legong Pengeleb yang merupakan hasil rekonstruksi I Made Redita (Pan Carik), I Made Kranca, dan I Made Panca Wirsutha. Itupun bukan karya baru, hanya sekadar rekonstruksi dari karya yang sudah ada sebelumnya.

Namun, meski demikian, warisan juga tetap harus dirayakan. Merayakan warisan ini dapat kita baca sebagai bentuk penghormatan, juga dalam rangka pelestarian dan merawat ingatan akan mahakarya yang pernah lahir dari Jagaraga dan Menyali beserta sosok yang telah menciptakannya. Dengan adanya acara semacam ini, nama-nama lama seperti Guru Cening Baritem, Guru Gede Negara, Pan Wandres, dan Gde Manik kembali diperdengarkan—walaupun barangkali lamat-lamat dan sepintas lalu.

Menyali dan Jagaraga tentu saja memiliki seni-budaya yang kaya, baik yang bersifat tangible maupun intangible. Warisan seni-budaya ini menyimpan banyak kearifan masa lalu dari nenek moyang mereka. Namun, perlu digarisbawahi, tak berhenti di masa lalu, mereka juga harus menjadikan kearifan masa lalu tersebut sebagai inspirasi untuk menghadapi tantangan masa depan dan membangun kehidupan seni-budaya yang berkelanjutan, salah satunya barangkali mulai berusaha untuk melahirkan garapan tabuh atau tari kekebyaran baru.

Untuk itu, selain mementaskan, atau katakanlah merayakan warisan, sepertinya Jagaraga dan Menyali perlu juga menghadirkan kesenian serta kebudayaan yang dapat dilihat relevansinya antara kearifan masa lalu dan kehidupan masa kini. Seniman muda dari kedua desa tersebut perlu hadir untuk menerjemahkan kekayaan pengetahuan tradisional ke dalam bentuk seni kontemporer yang lebih mudah dinikmati masyarakat. Dengan begitu, masyarakat dapat merasakan kedekatan dengan kekayaan budaya Bali yang sesungguhnya.[T]

Sekaa Gong Legendaris Jagaraga, Momentum Menghidupkan Kembali Jiwa dan Spirit Gde Manik
Gong Kebyar Desa Kedis, Setelah 32 Tahun Mati Suri
Gong Mebarung Banjar Paketan dan Desa Umejero: Karya Rekonstruksi dan Reinterpretasi
Gong Mebarung Wahana Santhi dan Santhi Budaya di Singaraja: Wiranjaya yang Masih Tetap Memberi Pertanyaan
Tags: Desa JagaragaDesa Menyaligong kebyargong mebarungSekaa Gong Legendaris Jaya KusumaSekaa Gong Legendaris Saraswati
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merekonstruksi Gending Lelambatan Klasik Gilak Embat dan Tabuh Pisan Sekaa Gong Desa Kwanji Sempidi

Next Post

Malam Manis Galungan di Desa Alasangker, Hiburan Rakyat dan Aspirasi untuk Sang Calon Bupati

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
0
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails
Next Post
Malam Manis Galungan di Desa Alasangker, Hiburan Rakyat dan Aspirasi untuk Sang Calon Bupati

Malam Manis Galungan di Desa Alasangker, Hiburan Rakyat dan Aspirasi untuk Sang Calon Bupati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co