25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [18]: Bau Gosong di “Pantry” Fakultas

Chusmeru by Chusmeru
June 5, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

TAHUN anggaran ini fakultas menerima lima pegawai baru. Mereka adalah Pawit, Hendra, Yitno, Ranto, dan Didin. Sebetulnya fakultas mengajukan sepuluh calon pegawai. Namun karena kebijakan pemerintah terkait efisiensi anggaran, hanya lima orang yang disetujui.

Penambahan pegawai baru itu terkait dengan volume pekerjaan di fakultas yang semakin bertambah. Apalagi kini fakultas memiliki beberapa gedung baru, sehingga memerlukan tambahan pegawai. Jumlah pegawai yang ada saat ini tidak lagi mampu menanggung beban kerja yang terlalu berat.

Pembagian kerja terhadap kelima pegawai baru segera dilakukan. Mereka semua lulusan SMA dan SMK sehingga ditempatkan di bagian administrasi dan teknisi. Pawit, Hendra, dan Yitno di bagian perlengkapan. Sedangkan Ranto dan Didin di bagian teknik.

Meskipun mempunyai bidang kerja yang berbeda, kelima pegawai baru itu menempati ruang yang sama di sebelah timur gedung utama di lantai satu. Maka tidak heran jika mereka hampir setiap hari bertemu dan mengobrol saat istirahat.

Tempat favorit bagi mereka untuk bertemu adalah di pantry, tempat yang difungsikan dan dianggap oleh para pegawai dengan sebutan dapur. Padahal pantry dan dapur merupakan dua hal yang berbeda.

Pantry merupakan ruangan atau lemari yang digunakan untuk menyimpan makanan, minuman, dan perlengkapan masak. Pantry dapat ditemukan di rumah, kantor, hotel, dan rumah sakit. Biasanya berada dekat dapur atau  sederet dengan dapur.

Di kantor, pantry digunakan karyawan untuk bersantai, berkumpul sejenak sesama karyawan sambil berbincang ringan, serta menyiapkan makan. Biasanya hanya sekadar memanaskan makanan atau membuat makanan dan minuman instan.

Begitu pun pantry di fakultas. Beberapa pegawai nongkrong, ngobrol sambil mengopi dan merokok di depan pantry. Kadang pegawai juga memasak mi instan, menanak nasi, atau membuat rica-rica ayam di dapur yang menyatu dengan pantry.  Kebetulan terdapat pintu keluar, sehingga bisa dibuka ketika ada pegawai yang merokok. Bukan hanya pegawai, beberapa dosen yang baru selesai mengajar kadang juga duduk sambil merokok.

Fakultas menyediakan perlengkapan memasak yang komplet. Karenanya pegawai merasa nyaman saat bekerja. Jika ingin membuat kopi panas telah tersedia kompor gas dan panci untuk memasak air. Jia pegawai belum sarapan, mereka dapat memasak nasi dengan lauk telor ceplok. Biasanya pegawai iuran tiap bulan untuk keperluan masak-memasak di dapur.

***

Ruangan kelima pegawai baru fakultas tidak terlalu jauh dari pantry, hanya berkisar sepuluh meter. Pawit, Hendra, dan Yitno menempati ruang di sebelah kiri pantry, sedangkan Ranto dan Didin di sebelah kanan. Jarak yang dekat dari dapur dan pantry membuat ruangan mereka sering tercium aroma makanan yang sedang dimasak.

Apalagi jika suasana fakultas sedang sepi atau saat sore hari, aroma masakan sangat terasa dari ruang mereka. Terlebih jika malam hari. Mereka memang terbiasa bekerja lembur sampai sore, bahkan malam hari. Menjelang yudisium dan pelepasan mahasiswa atau acara-acara seperti dies natalis fakultas membuat mereka harus kerja lembur menyiapkan perlengkapan kegiatan esok harinya.

Hari ini mereka kembali bekerja hingga sore menjelang malam. Pawit dan Hendra menata kursi di dalam aula fakultas yang akan digunakan acara yudisium besok. Ranto dan Didin sedang mempersiapkan mikrofon yang kadang ngadat ketika digunakan. Di tengah kesibukan Ranto dan Didin di ruangan kerja mereka, tercium bau gosong dari arah pantry.

“Bau gosong.. siapa yang memasak di dapur?” tanya Ranto.

Didin bergegas menuju ke dapur untuk melihat masakan apa yang gosong. Namun sampai di dapur ia tak melihat siapa pun sedang memasak. Didin juga tidak melihat ada bekas masakan di atas kompor.

“Nggak ada siapa-siapa,” kata Didin pada Ranto.

“Sekarang malam Jumat Kliwon..,” kata Ranto membuat Didin ketakutan.

Bau gosong yang tercium di malam Jumat Kliwon sering diartikan sebagai hadirnya makhluk halus di sekitar tempat itu. Ranto dan Didin saling pandang. Belum lama ia bekerja sudah harus berhadapan dengan peristiwa aneh di kampus. Mereka cepat-cepat keluar dari ruangan dan berkumpul dengan pegawai lain yang sedang menghias aula.

Kejadian serupa dialami Pawit dan Hendra. Hari yang sama, Kamis Wage malam Jumat Kliwon. Pawit dan Hendra bekerja lembur hingga malam untuk persiapan dies natalis pada dua hari ke depan. Saat itu mereka sedang menyiapkan spanduk untuk dipasang di aula.

Malam yang dingin membuat mereka lapar. Hendra minta kepada Pawit untuk membuat mi instan setelah urusan spanduk selesai. Belum lagi Pawit beranjak ke dapur, mereka mencium bau terasi digoreng. Tercium jelas di hudung mereka yang hanya berjarak lima meter dari arah pantry dan dapur. Padahal mereka tidak melihat seseorang melintas ke pantry.

“Siapa yang menggoreng terasi malam-malam?” tanya Hendra kepada Pawit.

“Coba aku lihat,” kata Pawit sambil berjalan menuju ke dapur.

Pawit sangat terkejut. Ia menghentikan langkahnya menuju dapur. Terlihat sosok perempuan sedang berada di depan kompor. Berambut hitam keriting, perempuan itu memakai daster putih. Pawit tak melihat wajah perempuan itu, karena menghadap kompor. Pawit pun tak meneruskan langkahnya. Siapakah perempuan itu? Apakah dia hantu? Begitu pikir Pawit.

Pawit memutuskan untuk kembali menemui Hendra. Ia tidak ingin hantu perempuan itu membalikkan badan dan melihatnya. Pawit menduga wajah hantu perempuan itu pasti menyeramkan. Apalagi di malam Jumat Kliwon.

“Siapa yang di dapur?” tanya Hendra.

“Hantu..,” jawab Pawit sedikit ketakutan.

“Ah.. yang benar saja…?” Hendra seakan tak percaya.

“Iya.. hantu perempuan!” Pawit meyakinkan Hendra.

Hendra terdiam. Mulutnya terkatup. Tampak wajahnya juga ketakutan. Namun seolah ia tak percaya ada hantu di pantry. Berjingkat ia berjalan menuju dapur. Tidak dilihatnya siapa pun. Hendra tidak melihat hantu perempuan seperti yang dikatakan Pawit. Namun bau terasi goreng masih tercium di sekitar pantry. Merinding juga Hendra.

Munculnya sosok hantu perempuan di pantry fakultas menjadi bahan perbincangan di kalangan pegawai dan dosen. Ada yang percaya, ada pula yang tidak. Tetapi bagi Pawit hantu perempuan itu memang dilihatnya. Terserah bila orang lain tak percaya.

***

Bagi Yitno, cerita teman-teman pegawai tentang hantu perempuan sungguh menciutkan nyalinya untuk bekerja di kampus hingga larut malam. Apalagi bila sendirian. Yitno dikenal sebagai penakut. Jangankan malam hari, siang hari pun jika sedang sendirian ia akan mencari teman lain untuk mengobrol. Oleh karenanya, cerita tentang hantu perempuan yang muncul di pantry membuatnya takut jika berada sendiri di ruang kerjanya.

Namun sial tak bisa ditolak. Ia harus melakukan rekapitulasi barang-barang inventaris fakultas sendirian hingga malam. Ia harus mengerjakan laporan itu di komputer sendirian. Hendra dan Pawit sudah melakukan cek fisik barang inventaris sejak pagi hingga sore. Yitno mendapat tugas menginput data di komputer. Tugas yang rumit, karena harus detail data spesifikasi barang yang diinput.

Yitno baru sadar bahwa hari ini adalah malam Jumat Kliwon, ketika tak sengaja ia melihat kalender yang terpajang di tembok. Sudah pasti Yitno terbayang cerita teman-temannya, sosok hantu perempuan di pantry. Yitno hendak mengakhiri saja pekerjaannya. Ia akan lanjutkan besok saja.

Belum sempat mematikan komputer, Yitno dikejutkan oleh suara orang memasak di dapur fakultas. Terdengar suara spatula yang bergesekan dengan wajan, seolah ada orang yang sedang memasak sayur tumis. Yitno langsung gemetaran. Ini pasti hantu perempuan itu, pikirnya.

Suara gesekan spatula itu semakin keras terdengar. Anehnya, Yitno  mencium bau sayur yang gosong. Padahal belum ada lima menit ia dengar suara orang memasak. Yitno jadi penasaran. Mengapa orang memasak sayur sampai gosong. Rasa takut dan rasa ingin tahunya berbaur yang membuatnya tergerak untuk menuju dapur.

Perlahan Yitno berjalan ke pantry. Ia ingin mengintip terlebih dahulu siapa yang sedang memasak di dapur. Dari balik tembok matanya tertuju ke dapur. Terkejut Yitno ketika terlihat sosok perempuan sedang memasak sayuran. Tangannya gemetaran sambil bersandar di tembok. Dan, ketika perempuan itu tiba-tiba membalikkan badan, detak jantung Yitno seakan berhenti. Wajah perempuan itu rusak, begitu menyeramkan. Keringat dingin bercucuran. Yitno serasa mau pingsan.

Ketakutan Yitno terbawa hingga ke rumah. Badannya menggigil. Perutnya terasa mual. Ia hendak muntah, tapi tak ada yang dimuntahkan. Ia berbaring di tempat tidur. Wajah perempuan yang rusak dan menyeramkan itu masih terbayang. Yitno menyelimuti tubuhnya.

Orang tua Yitno terkejut melihat anaknya pulang kerja dengan badan menggigil. Mereka pikir Yitno terserang demam. Ayah Yitno memegang kening anaknya. Tidak begitu panas. Ia bertanya pada Yitno apa yang terjadi. Yitno pun menceritakan tentang sosok perempuan menyeramkan di dapur fakultas.

Ayah Yitno tidak terkejut. Ia tahu persis seperti apa kampus tempat anaknya bekerja di masa lalu. Kampus yang sekarang berdiri megah gedung-gedung baru, dahulu adalah sawah di dalam hutan. Ayah Yitno sering bermain ke hutan itu untuk mencari kayu bakar dan berburu burung. Hutan itu dikenal angker, banyak dihuni makhluk halus dengan berbagai bentuk.

Ayah Yitno menyarankan agar di pantry dipasang Gunungan wayang kulit. Gunungan dalam pewayangan Jawa digambarkan sebagai hutan belantara dan seisinya sebagai simbol kehidupan. Harapannya, hantu perempuan yang ada di kampus kembali ke alam masa lalunya, di hutan belantara melalui simbol Gunungan.

Esoknya, para pegawai baru di fakultas iuran untuk membeli dua Gunungan dari seorang perajin wayang kulit. Gunungan itu dipasang di tembok kiri dan kanan antara pantry dan pintu masuk dapur. Sepintas memang aneh, Gunungan wayang kulit dipajang di tembok dapur.

Tetapi begitulah. Saran ayah Yitno yang paham tentang simbol-simbol pewayangan dan dunia gaib terbukti. Sejak terpasang Gunungan tidak tercium lagi bau gosong dari arah pantry. Tidak tampak hantu perempuan memasak di dapur. Ia telah kembali ke belantara, ke alam tempatnya bermukim di masa lalu. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Kampusku Sarang Hantu [17]: Wanita Tua dari Jalur Kereta
Kampusku Sarang Hantu [16]: Genderuwo di Pohon Besar Kampus
Kampusku Sarang Hantu [15]: Memeluk Mayat di Kamar Jenazah
Kampusku Sarang Hantu [14]: Ayam Kampus Bersimbah Darah
Kampusku Sarang Hantu [13]: Cek Khodam Muncul Pocong
Kampusku Sarang Hantu [12]: Anak-Anak Bermain di Sungai Kecil
Kampusku Sarang Hantu [11]: Dosen Tak Kasat Mata
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tidak Ada Definisi untuk Anak Pertama Saya

Next Post

Kopernik dan Jejak Timor di Ubud Food Festival 2025

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
0
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

Read moreDetails

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Kemping yang Mencekam

by Chusmeru
October 15, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Suara dari Dalam Lemari

by Chusmeru
September 17, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails
Next Post
Kopernik dan Jejak Timor di Ubud Food Festival 2025

Kopernik dan Jejak Timor di Ubud Food Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co