26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

AI dan Seni, Karya Dialogis yang Sarat Ancaman?

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
May 25, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

“Seni bukanlah cermin bagi kenyataan, tapi palu untuk membentuknya.” — Bertolt Brecht

PARA pembaca yang budiman, kemarin anak saya, yang SMP, mencoba main-main membikin puisi dan naskah drama memakai bantuan AI. Sebagai bukan pelaku seni, saya pikir sungguh menyenangkan ketika anak saya jadi mendadak nyeni dalam hitungan menit tanpa saya repot ngajarin. Di luar sana, bahkan anak-anak muda pun piawai membuat ilustrasi grafis, bikin musik, sampai bikin poster  dengan AI.

Tak pelak, dunia seni sekarang seolah berubah wajah. Bayangkan ada sebuah lukisan surealis, penuh warna, emosi, dan bahkan mungkin mengandung kedalaman simbolik. Tapi ketika kita menengok ke balik kanvas, ke prosesnya,  tidak ada pelukis yang menggenggam kuas. Tidak ada studio, tidak ada clepretan tinta di lantai, tidak ada malam panjang yang penuh kegelisahan artistik. Hanya baris-baris perintah, alur algoritma, dan pemrosesan citra oleh entitas tak bernyawa yang disebut  Artificial Intelligence.

Kini kita hidup di masa di mana karya-karya visual, puisi, musik, bahkan naskah drama bisa diciptakan oleh mesin. Tidak melalui inspirasi ilahi atau pengalaman hidup yang manis getir, tetapi melalui prompt yang diketik cepat: “lukisan bergaya Van Gogh tentang kerinduan.” Enter, klik. Jadi.

Karena saya memang bukan ahli di bidang seni dan filsafat, maka terlintas di benak saya suatu pertanyaan naif. Apakah seni yang dibuat oleh AI masih bisa disebut seni? Dan jika ya, siapa yang menjadi senimannya? Jika bukan, mengapa terlihat indah dan menggugah? Sebenarnya apa yang ingin saya sampaikan di sini lebih berupa sharing uneg-uneg, jadi bukan sebuah telaah akademis apalagi filosofis.

Kreativitas Masihkah Monopoli Manusia?

Selama berabad-abad, kreativitas dianggap sebagai anugerah ilahiah, hadiah bagi manusia untuk mampu menyelami keindahan, menggugat realitas, atau sekadar menumpahkan kecamuk gejolak batin. Namun kini, kecerdasan buatan telah memasuki ranah yang paling intim dalam eksistensi kemanusiaan, yaitu daya cipta. AI, seperti Midjourney, DALL·E, atau ChatGPT, dapat men-generate, menciptakan karya visual dan tekstual yang menggugah, memukau, dan kadang mengejutkan. Dan semuanya dilakukan dalam hitungan detik, tergantung pesanannya, tanpa “merasakan” apa pun.

Filsuf Immanuel Kant dalam Critique of Judgment menyebut bahwa seni sejati  lahir dari niat bebas dan tujuan tanpa tujuan, sebuah aktivitas yang tidak berorientasi pada fungsi, tapi pada ekspresi. Apakah AI memiliki kehendak bebas? Tidak. Apakah ia memiliki niat bebas? Tidak juga. Tapi apakah hasilnya menyentuh kita, manusia, seperti karya seni sejati yang konvensional? Kadang, iya.

Ini membuat kita masuk ke wilayah abu-abu. Mungkin selama ini kita terlalu terobsesi pada proses penciptaan, dan lupa bahwa seni juga adalah tentang apa yang dihadirkan, bukan hanya bagaimana ia hadir. Hal ini tentu menggugat konsep yang kuat yang selama ini kita pegang teguh,  untuk selalu percaya pada proses. Tapi bukankah melatih AI men-generate sesuai keinginan juga juga butuh suatu proses yang spesifik?

Antara Instrumen dan Kolaborator

Sepertinya, hal ini hanya mendaur masa di mana sebagian kalangan melihat AI seperti melihat kemunculan kamera pada awal abad ke-20. Kala itu, para pelukis klasik mencibir fotografi sebagai bukan seni, karena tak melibatkan tangan dan sapuan kuas. Tapi sejarah membalikkan anggapan itu. Justru fotografilah yang kemudian membuka cakrawala baru dalam estetika visual. 

Mungkin AI hanyalah “kamera” baru bagi zaman kita sekarang ini. Jadi AI dianggap sebagai alat. Namun, ada pula yang berpendapat bahwa AI bukan sekadar alat, tapi kolaborator yang aktif. AI mampu menyintesis ide, memadukan gaya, bereksperimen bebas melampaui batas imajinasi manusia, bukan karena ia jenius, tapi karena ia dibanjiri data dan kemungkinan.

Dalam konteks ini, manusialah yang menjadi sutradara konseptual. Kitalah yang menentukan arah, niat, emosi, dan konteks. Maka karya seni AI sebetulnya adalah hasil dari kehendak manusia, hanya saja diperluas oleh kekuatan mesin. Seperti yang dikatakan Martin Heidegger, teknologi bukan hanya alat, tapi juga cara mengungkap kebenaran. Dalam pandangannya, teknologi modern memiliki sifat yang lebih dari sekadar instrumen, teknologi membentuk cara manusia memahami dan berinteraksi dengan dunia.  Heidegger menggunakan konsep Gestell (Enframing), yang berarti bahwa teknologi membingkai segala sesuatu, sebagai sumber daya yang siap dieksploitasi. Dan apa yang dikatakannya bisa kita pahami dalam hal ini.

Apakah “Menyuruh” Itu Seni?

Kritik paling umum terhadap seni AI adalah, “Ah, itu mah tinggal nyuruh. Tinggal ketik doang.” Jadi, apakah seni hanya soal tangan yang bekerja? Apakah tidak mungkin jika seni lahir dari ide yang kuat dan perintah yang tepat?

Logikanya begini, seorang koreografer tidak menari, seorang arsitek tidak membangun, dan seorang sutradara tidak memegang kamera. Tapi mereka semua adalah seniman, karena mereka mengarahkan dunia dan perwujudan seni yang akan tercipta. Dengan sudut pandang ini, pada hemat saya, menyuruh AI bisa menjadi bagian dari proses kreatif yang sah, selama ada kehendak artistik, refleksi, dan pengolahan makna yang terlibat.

Yang membuat AI menarik dan menggelisahkan, bukan karena ia bisa sekadar meniru manusia, tapi karena ia bisa melampaui batas manusiawi dalam hal jumlah referensi, kombinasi gaya, dan kecepatan eksplorasi. Tapi ada juga juga kelemahannya. AI tidak punya luka. Tidak punya cinta. Tidak punya kesadaran tentang kefanaan.

Oleh karena itu, justru kolaborasi antara manusia dan AI, bisa melahirkan sesuatu yang belum pernah ada, yaitu karya yang lahir dari intuisi manusia, tapi diperkuat oleh kekuatan sintesis superhuman. Kita sepertinya butuh istilah baru di sini. Ini bukan “seni manusia” atau “seni mesin”, tapi barangkali, Seni Sintesis. Suatu seni dari hasil perjumpaan antara niat dan nalar, antara emosi dan kalkulasi algoritma.

Menjadi Bebas atau Kehilangan Keistimewaan?

Pada akhirnya, kegelisahan tentang seni AI bukan hanya soal estetika. Ini kemungkinan kegelisahan yang sudah mengintai semenjak AI lahir, yaitu soal identitas manusia. Entah dalam pekerjaan, pendidikan, industri, AI dikhawatirkan akan mengancam eksistensi manusia.

Apakah kita masih istimewa jika mesin bisa mencipta? Apakah kita siap menerima bahwa proses kreatif bukan milik kita sendiri?  Jean-Paul Sartre menyatakan dalam bukunya, Being and Nothingness, “Manusia dikutuk untuk bebas.” Tapi barangkali kini kita menghadapi paradoks baru. Manusia dibebastugaskan oleh mesin, tapi bukannya menjadi  rileks, justru membuat kita merasa terancam.

Seni AI mungkin tidak menggantikan seni manusia, tapi ada masa di mana ia memaksa kita untuk mengubah cara kita melihat seni itu sendiri. Bukan lagi tentang siapa yang membuat, tapi apa yang diungkap. Bukan lagi soal ekspresi pribadi soal seni semata, tapi juga eksplorasi masyarakat tentang apa artinya menjadi manusia berseni di zaman pasca-manusia. Dan tentunya kegelisahan ini tak bisa mereda hanya dengan satu helaan napas panjang.

Jika para pembaca yang budiman merasa juga gelisah, mungkin lebih bijak jika tidak buru-buru menghakimi. Mari kita coba bukan hanya menilai hasilnya, tapi berani juga untuk mencoba satu langkah ke depan dengan mengajukan pertanyaan. Apa yang bisa kita ciptakan, jika kita bersedia berdialog dengan mesin? Karena mungkin, Bertolt Brecht jauh hari sudah paham, masa depan seni bukan tentang mesin yang menggantikan manusia, melainkan tentang manusia yang berani menciptakan sesuatu, yang bahkan lebih besar dari dirinya sendiri. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Apakah Menulis Masih Relevan di Era Kecerdasan Buatan?
Ogah Baca, Nyalakan Bom Waktu
Teater Ditikam, Akal Sehat yang Mati
Tags: AIkecerdasan buatanSeni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menunggu Istri | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Next Post

Abstrak Ekspresionisme dan Psikologi Seni

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Abstrak Ekspresionisme dan Psikologi Seni

Abstrak Ekspresionisme dan Psikologi Seni

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co