25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

AI dan Seni, Karya Dialogis yang Sarat Ancaman?

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
May 25, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

“Seni bukanlah cermin bagi kenyataan, tapi palu untuk membentuknya.” — Bertolt Brecht

PARA pembaca yang budiman, kemarin anak saya, yang SMP, mencoba main-main membikin puisi dan naskah drama memakai bantuan AI. Sebagai bukan pelaku seni, saya pikir sungguh menyenangkan ketika anak saya jadi mendadak nyeni dalam hitungan menit tanpa saya repot ngajarin. Di luar sana, bahkan anak-anak muda pun piawai membuat ilustrasi grafis, bikin musik, sampai bikin poster  dengan AI.

Tak pelak, dunia seni sekarang seolah berubah wajah. Bayangkan ada sebuah lukisan surealis, penuh warna, emosi, dan bahkan mungkin mengandung kedalaman simbolik. Tapi ketika kita menengok ke balik kanvas, ke prosesnya,  tidak ada pelukis yang menggenggam kuas. Tidak ada studio, tidak ada clepretan tinta di lantai, tidak ada malam panjang yang penuh kegelisahan artistik. Hanya baris-baris perintah, alur algoritma, dan pemrosesan citra oleh entitas tak bernyawa yang disebut  Artificial Intelligence.

Kini kita hidup di masa di mana karya-karya visual, puisi, musik, bahkan naskah drama bisa diciptakan oleh mesin. Tidak melalui inspirasi ilahi atau pengalaman hidup yang manis getir, tetapi melalui prompt yang diketik cepat: “lukisan bergaya Van Gogh tentang kerinduan.” Enter, klik. Jadi.

Karena saya memang bukan ahli di bidang seni dan filsafat, maka terlintas di benak saya suatu pertanyaan naif. Apakah seni yang dibuat oleh AI masih bisa disebut seni? Dan jika ya, siapa yang menjadi senimannya? Jika bukan, mengapa terlihat indah dan menggugah? Sebenarnya apa yang ingin saya sampaikan di sini lebih berupa sharing uneg-uneg, jadi bukan sebuah telaah akademis apalagi filosofis.

Kreativitas Masihkah Monopoli Manusia?

Selama berabad-abad, kreativitas dianggap sebagai anugerah ilahiah, hadiah bagi manusia untuk mampu menyelami keindahan, menggugat realitas, atau sekadar menumpahkan kecamuk gejolak batin. Namun kini, kecerdasan buatan telah memasuki ranah yang paling intim dalam eksistensi kemanusiaan, yaitu daya cipta. AI, seperti Midjourney, DALL·E, atau ChatGPT, dapat men-generate, menciptakan karya visual dan tekstual yang menggugah, memukau, dan kadang mengejutkan. Dan semuanya dilakukan dalam hitungan detik, tergantung pesanannya, tanpa “merasakan” apa pun.

Filsuf Immanuel Kant dalam Critique of Judgment menyebut bahwa seni sejati  lahir dari niat bebas dan tujuan tanpa tujuan, sebuah aktivitas yang tidak berorientasi pada fungsi, tapi pada ekspresi. Apakah AI memiliki kehendak bebas? Tidak. Apakah ia memiliki niat bebas? Tidak juga. Tapi apakah hasilnya menyentuh kita, manusia, seperti karya seni sejati yang konvensional? Kadang, iya.

Ini membuat kita masuk ke wilayah abu-abu. Mungkin selama ini kita terlalu terobsesi pada proses penciptaan, dan lupa bahwa seni juga adalah tentang apa yang dihadirkan, bukan hanya bagaimana ia hadir. Hal ini tentu menggugat konsep yang kuat yang selama ini kita pegang teguh,  untuk selalu percaya pada proses. Tapi bukankah melatih AI men-generate sesuai keinginan juga juga butuh suatu proses yang spesifik?

Antara Instrumen dan Kolaborator

Sepertinya, hal ini hanya mendaur masa di mana sebagian kalangan melihat AI seperti melihat kemunculan kamera pada awal abad ke-20. Kala itu, para pelukis klasik mencibir fotografi sebagai bukan seni, karena tak melibatkan tangan dan sapuan kuas. Tapi sejarah membalikkan anggapan itu. Justru fotografilah yang kemudian membuka cakrawala baru dalam estetika visual. 

Mungkin AI hanyalah “kamera” baru bagi zaman kita sekarang ini. Jadi AI dianggap sebagai alat. Namun, ada pula yang berpendapat bahwa AI bukan sekadar alat, tapi kolaborator yang aktif. AI mampu menyintesis ide, memadukan gaya, bereksperimen bebas melampaui batas imajinasi manusia, bukan karena ia jenius, tapi karena ia dibanjiri data dan kemungkinan.

Dalam konteks ini, manusialah yang menjadi sutradara konseptual. Kitalah yang menentukan arah, niat, emosi, dan konteks. Maka karya seni AI sebetulnya adalah hasil dari kehendak manusia, hanya saja diperluas oleh kekuatan mesin. Seperti yang dikatakan Martin Heidegger, teknologi bukan hanya alat, tapi juga cara mengungkap kebenaran. Dalam pandangannya, teknologi modern memiliki sifat yang lebih dari sekadar instrumen, teknologi membentuk cara manusia memahami dan berinteraksi dengan dunia.  Heidegger menggunakan konsep Gestell (Enframing), yang berarti bahwa teknologi membingkai segala sesuatu, sebagai sumber daya yang siap dieksploitasi. Dan apa yang dikatakannya bisa kita pahami dalam hal ini.

Apakah “Menyuruh” Itu Seni?

Kritik paling umum terhadap seni AI adalah, “Ah, itu mah tinggal nyuruh. Tinggal ketik doang.” Jadi, apakah seni hanya soal tangan yang bekerja? Apakah tidak mungkin jika seni lahir dari ide yang kuat dan perintah yang tepat?

Logikanya begini, seorang koreografer tidak menari, seorang arsitek tidak membangun, dan seorang sutradara tidak memegang kamera. Tapi mereka semua adalah seniman, karena mereka mengarahkan dunia dan perwujudan seni yang akan tercipta. Dengan sudut pandang ini, pada hemat saya, menyuruh AI bisa menjadi bagian dari proses kreatif yang sah, selama ada kehendak artistik, refleksi, dan pengolahan makna yang terlibat.

Yang membuat AI menarik dan menggelisahkan, bukan karena ia bisa sekadar meniru manusia, tapi karena ia bisa melampaui batas manusiawi dalam hal jumlah referensi, kombinasi gaya, dan kecepatan eksplorasi. Tapi ada juga juga kelemahannya. AI tidak punya luka. Tidak punya cinta. Tidak punya kesadaran tentang kefanaan.

Oleh karena itu, justru kolaborasi antara manusia dan AI, bisa melahirkan sesuatu yang belum pernah ada, yaitu karya yang lahir dari intuisi manusia, tapi diperkuat oleh kekuatan sintesis superhuman. Kita sepertinya butuh istilah baru di sini. Ini bukan “seni manusia” atau “seni mesin”, tapi barangkali, Seni Sintesis. Suatu seni dari hasil perjumpaan antara niat dan nalar, antara emosi dan kalkulasi algoritma.

Menjadi Bebas atau Kehilangan Keistimewaan?

Pada akhirnya, kegelisahan tentang seni AI bukan hanya soal estetika. Ini kemungkinan kegelisahan yang sudah mengintai semenjak AI lahir, yaitu soal identitas manusia. Entah dalam pekerjaan, pendidikan, industri, AI dikhawatirkan akan mengancam eksistensi manusia.

Apakah kita masih istimewa jika mesin bisa mencipta? Apakah kita siap menerima bahwa proses kreatif bukan milik kita sendiri?  Jean-Paul Sartre menyatakan dalam bukunya, Being and Nothingness, “Manusia dikutuk untuk bebas.” Tapi barangkali kini kita menghadapi paradoks baru. Manusia dibebastugaskan oleh mesin, tapi bukannya menjadi  rileks, justru membuat kita merasa terancam.

Seni AI mungkin tidak menggantikan seni manusia, tapi ada masa di mana ia memaksa kita untuk mengubah cara kita melihat seni itu sendiri. Bukan lagi tentang siapa yang membuat, tapi apa yang diungkap. Bukan lagi soal ekspresi pribadi soal seni semata, tapi juga eksplorasi masyarakat tentang apa artinya menjadi manusia berseni di zaman pasca-manusia. Dan tentunya kegelisahan ini tak bisa mereda hanya dengan satu helaan napas panjang.

Jika para pembaca yang budiman merasa juga gelisah, mungkin lebih bijak jika tidak buru-buru menghakimi. Mari kita coba bukan hanya menilai hasilnya, tapi berani juga untuk mencoba satu langkah ke depan dengan mengajukan pertanyaan. Apa yang bisa kita ciptakan, jika kita bersedia berdialog dengan mesin? Karena mungkin, Bertolt Brecht jauh hari sudah paham, masa depan seni bukan tentang mesin yang menggantikan manusia, melainkan tentang manusia yang berani menciptakan sesuatu, yang bahkan lebih besar dari dirinya sendiri. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Apakah Menulis Masih Relevan di Era Kecerdasan Buatan?
Ogah Baca, Nyalakan Bom Waktu
Teater Ditikam, Akal Sehat yang Mati
Tags: AIkecerdasan buatanSeni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menunggu Istri | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Next Post

Abstrak Ekspresionisme dan Psikologi Seni

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails
Next Post
Abstrak Ekspresionisme dan Psikologi Seni

Abstrak Ekspresionisme dan Psikologi Seni

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co