6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ambulan dan Obor Api | Cerpen Sonhaji Abdullah

Son Lomri by Son Lomri
May 11, 2025
in Cerpen
Ambulan dan Obor Api  |  Cerpen Sonhaji Abdullah

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

KOTA ini benar-benar sangat panas. Kaktus-kaktus tumbuh di halaman setiap rumah dan taman-taman mengganti pohonan. Mengganti bunga-bunga.

Setiap pagi yang seharusnya dingin pun justru panas. Orang-orang berkeringat sejak bangun tidur, dan orang-orang berjalan seperti meninggalkan bayangannya sendiri seperti jejak. Jalanan penuh dengan bayangan menggantikan jejak-jejak.

Selain itu, kota ini juga dibisingkan oleh suara ambulan yang tidak pernah berhenti melaju. Padahal di jalan tidak sedang terjadi pembunuhan, atau sedang terjadi kecelakaan lakalantas brutal di perempatan jalan.

Apalagi tidak terjadi pemerkosaan perempuan hingga babak belur di bagian intimnya lalu tergeletak ia di jalan, atau tidak ada laki-laki ditembak polisi dan mati di emperan toko di tepi jalan. Tidak ada kegaduhan apapun soal itu. Aman saja di jalan.

Tapi dua puluh empat jam ambulan mondar-mandir tak henti-henti. Terus melaju seakan selalu ada korban jiwa setiap harinya. Dan semua ambulan warnanya sama; hitam dan merah yang semakin membuat orang mual setiap kali melintas.

Lampunya kelap-kelip warna biru dan ungu jika melaju, dan suara sirinenya bersuara sangat kencang membuat pusing. Benar-benar terdengar seperti suara seekor gagak hitam di atas kepala semua orang yang memekik secara bersamaan.

Ambulan itu mengantarkan perempuan hamil tua hendak melahirkan dan mayat. Hanya dua jenis itu saja. Tiada yang lain. Tidak ada jenis darurat lain selain orang mati dan orang hamil tua.

Para perempuan seakan tak henti-hentinya melahirkan bayi. Tapi ketika mereka dibawa ke rumah sakit untuk persalinan, tidak ada suara bayi yang terdengar di rumah sakit, di rumah-rumah, di mana-mana. Perempuan yang keluar dari rumah sakit seperti apa wujudnya juga tidak pernah diketahui.

Perempuan itu hilang tak pernah dikenali siapanya. Bagaimana ia bisa dibawa oleh ambulan itu, juga tak ada yang tahu soal penyebab pastinya mengapa perempuan itu bisa hamil tua dan tak pernah terlihat oleh laki-laki wujud tubuhnya.

Setiap lelaki di kota ini, hanya bisa melihat satu jenis korban dan jenis kelamin apa di dalam mobil ambulan itu; orang mati, dan wajah laki-laki. Begitupun sebaliknya pada perempuan, mereka hanya bisa melihat satu korban saja di dalam ambulan hanya dua jenis saja; perempuan dan hamil.

Jika laki-laki yang melihat dalam ambulan ada mayat seorang lelaki, maka para perempuan melihat di dalamnya adalah perempuan darurat hendak melahirkan dengan air ketuban sudah pecah. Darah sudah merebah di paha di kaki.

Kota ini seakan menyimpan kerahasiaannya tersendiri soal itu. Belum satupun orang dari sepuluh ribu jiwa manusia di kota ini bisa membongkar. Rumah sakit selalu tampak ramai penuh ambulan membawa mayat, tapi tak pernah ada yang dibawa keluar untuk dikubur atau dibakar.

Seakan semua tak ada wujudnya, ke mana orang mati itu dibawa atau pergi sendiri-sendiri hidup lagi?

Semua koran hanya mengabarkan dua jenis berita yang membosankan; orang melahirkan tanpa bayi, dan orang mati tanpa sebab.

Tak pernah dikabarkan bagaimana para perempuan itu bisa hamil tua dengan singkat dan hilang bayinya ke mana atau dihamili siapa mereka sebelumnya. Yang menjadikan surat kabar itu terasa janggal lagi dan tak lengkap setiap kali terbit di hari Minggu dan Senin, kematian tak lagi dianggap penting sebagai kabar duka karena tak pernah disebutkan alasan mereka sebagai korban, jika memang sebagai korban. Tak pernah tuntas sebagai berita seakan menjadi rashasia semua itu.

***

Di sebuah lampu merah perempatan jantung kota dekat tugu monumen kuda poni, yang tentu saja ambulan itu terus bergegas melewati kaktus-kaktus tumbuh di taman jalan dekat monumen kuda poni.

Tanpa mesti lebih dulu berhenti-bersabar ketika di lampu merah, seakan mereka lewat saling tembak suara. Ramai suara ambulan itu dengan kecepatan 40km/jam.

Walaupun berlawanan arah saling terobos lampu merah kencang-kencang, tapi mereka tak pernah sekalipun tabrakan satu sama lain.

Di belakangku, orang-orang masih antre menunggu lampu hijau tinggal sepuluh menit lagi setelah lima puluh menit kami menunggu kepanasan. Semua klakson hidup, tapi kecil suaranya. Lebih nyaring suara sirine ambulan. Semua orang mengganti dengan suara seperti memaki-maki ambulan yang tak sabar itu terus menyalip dan tembak suara.

Kendaraan di belakangku seperti kuda-kuda hitam yang menantikan mati tuannya di pintu masuk giliran.

“Di mana Kau pegang obor api itu menyerangku?” kata seseorang di belakangku ngedumel pada Tuhan karena mereka merasa diri hampa.

Orang-orang tampaknya bosan dengan suasana seperti ini, tapi tak ada yang bisa berbuat apa-apa. Bahkan mereka tak lagi iba pada perempuan yang melahirkan dan orang mati. Tak lagi penasaran mengapa orang bisa mati tanpa sebab.

Satu fakta yang dikabarkan surat kabar tadi pagi baru-baru ini, ruang-ruang di rumah sakit, katanya, bangsal-bangsal rumah sakit hanya dipenuhi bayangan pasien tanpa seseorang ada di sana, dan jururawat hanya menunduk kepala dengan tangan berdarah di depan bangsal.

Semua seperti dilenyapkan oleh angin. Tapi orang-orang sudah tidak lagi peduli dan penasaran soal itu. Dan orang-orang sudah meninggalkan surat kabar sejak lama. Memilih tak peduli.

Tepat di jam 12.00 siang. Matahari seperti bersinar hanya sejengkal di depan mata semua orang secara bersamaan. Panas sangat silau. Lampu itu segera menjadi hijau setelah sepuluh menit terakhir selesai. Kulitku menjadi belang, dan mereka dibelakangku juga sama belangnya warna kulit coklat hitam.

Tubuh semua orang tak terurus dengan baik. Nyaris semua punya kangker kulit yang sama di tangan dan wajah.

Dan lampu merah terlalu lama hitungannya satu jam, hanya untuk ambulan bisa lewat sebebas-bebasnya telah diatur entah oleh siapa atau dewa apa. Kota ini dipenuhi ambulan dan lampu merah yang lama berdurasi satu jam.

Sebagaimana nasib itu masing-masing, semua orang mengeluh di dalam batinnya. Mengeluh itu sendiri-sendiri.

Tak peduli ditabrak atau menabrak apa atau siapa, aku segera melaju dengan kecepatan penuh setelah lampu hijau itu menyala. Dari belakang, salah satu ambulan membersamai ke sisi kananku hendak pergi ke arah yang sama ke selatan setelah satu kilo meter tempuh.

Aku pergi hendak menemui perempuan satu-satunya yang tidak dibawa oleh ambulan manapun, yang tak pernah dilihat oleh siapapun. Entah ambulan itu mau apa ke arah yang sama, ke selatan.

Kota ini masih banyak perempuan yang lain selain perempuan yang akan aku temui, yang akan aku kencani hingga malam itu. Di kota ini, setiap laki-laki, atau perempuan hanya dianugerahi bisa melihat lawan jenisnya masing-masing.

Dan setiap lawan jenis—yang bisa dikencani berawal dari mimpi. Semacam wangsit, orang-orang menemukan pasangannya melalui mimpi tidur. Siang atau malam.

Jika tidak begitu, yang akan saling tampak dalam hidup hanya sesama jenis saja. Laki-laki dengan laki-laki, begitupun sebaliknya perempuan hanya dengan perempuan.

Dan yang paling mengutuk dari kota ini, lelaki bisa kecut kering jika hidup tak satupun bisa melihat perempuan yang diidamkan hadir dalam mimpinya, begitupun sebaliknya kepada perempuan. Bisa hambar hidup. Sehambar-hambarnya roti tawar tanpa selai.

Ambulan masih terus bergegas, dan di perjalanan yang agaknya sudah jauh melewati beberapa lampu merah, ambulan yang berbarengan denganku itu tak mau mendahuluiku pergi duluan seperti beberapa ambulan yang lain.

Ia memelankan lajunya dan mengekor dibelakangku seperti mengikuti. Agar ia bisa menyalip lebih mudah, aku memelankan laju motorku sepelan-pelannya. Tapi ambulan itu justru sama melajunya bertambah pelan. Sangat pelan. Sepelan-pelannya…

Dan suara sirinenya terdengar lebih keras dan nyaring pekiknya seperti burung gagak di atas kepala. Sampai di lampu merah yang ke lima di jam 19.30, atau tiga puluh menit lagi aku akan sampai di sebuah restoran—tempat di mana aku akan berjumpa dengan perempuanku, yang manis dan putih langsat sipit matanya.

***

Setelah sampai di sana, ambulan itu ikut berhenti. Ia berhenti di tengah jalan tanpa mau pergi ke samping jalan dekat trotoar, atau ke parkiran mengamankan diri. Ia mematung di tengah jalan dengan suara sirine masih menantang.

Tak mau aku pusing sendiri, aku melengos pergi dari parkiran restoran meninggalkan ambulan itu di sana. Aku tak ada urusan dengannya.

Di pintu masuk restoran seseorang tengah menungguku. Pria itu memberiku nomor 25 dari kertas tebal berwarna krem.  

“Di sana!” kata salah seorang pelayan setelah membukakan pintu untukku. Ia menunjukkan arah di mana pujaanku itu duduk.

Aku berjalan ke arah kanan dari pintu masuk. Aku melewati bar kecil. Disambutnya aku oleh pelayan lain.

“Ini, Tuan!” kata si pelayan berwajah datar itu sembari menyodorkan sebotol wine anggur putih kepadaku.

“Di sana!” katanya lagi menunjuk arah nomor 25 dengan tegas.

Tinggal sepuluh kaki menuju nomor itu. Aku sudah melihat perempuan itu dari meja nomor 18. Ia mengenakan gaun hitam berpita merah dari kain perca dengan motif hitam putih bunga-bunga, dan motif akar seperti kilat.

Di tempat duduk yang lain, para lelaki saling berhadapan. Di atas mejanya ada satu botol anggur putih—yang bertuliskan Gravner Ribolla Gialla, dan bunga kaktus berwarna putih kemerahan nyaris mirip warna pink muda, tertancap di pot kecil indah sekali. Sama seperti di mejaku.

Sepanjang waktu lima tahun aku berjumpa dengan perempuan itu di sini. Para pelayan itu, menyambutku selalu dengan bibir tersenyum. Tapi kali ini keramahan hanya dengan cara menyambutku di depan pintu, dan memberiku wine itudengan air mukanya yang datar.

“Aku tidak tahu sampai kapan aku duduk, menemanimu setiap malam,” kata perempuan itu memulai pembicaraan.

Udara malam yang panas, rasanya mendingin di dalam tubuhku oleh kalimat itu setelah dari tenggorokkan. Dan lilin pesta di atas meja kami bergoyang-goyang tertiup angin yang merangkak masuk dari celah pintu.

“Maksudmu?” tanyaku mulai khawatir, dan tubuhku menggigil seperti ganasnya sekarat mati.

“Aku melihat sepintas lelaki lain dari mimpi tidur kemarin. Dan aku penasaran. Ia menggunakan warna baju biru, ya, di mimpi itu, ia melambaikan tangan, ia mengenakan baju biru!” katanya bersikekeh dengan mimpinya itu sebagai mimpi penasaran yang indah.

“Tentu aku harus segera mencarinya!” katanya lagi sangat yakin akan mencarinya dan pasti bertemu. Lantas ia menatapku dengan berkaca-kaca matanya seakan melempar maaf yang tak bisa terucap dengan mudah. Lalu kosong pandangnya menatapku seperti tak ada rasa apapun.

Pertemuan kami berawal dari mimpi tidur. Begitu pula dengan semua orang yang ada di kota ini, semua pertemuan dilalui lebih dulu dari mimpi tidur. Dan pertemuan kali ini tidak biasa. Wajahnya biasanya berseri dan tampak lebih hidup—seperti bunga kaktus yang mekar di musim semi— ketika tersenyum, kini tidak.

Matanya coklat. Manis jika tersenyum itu, juga kini tidak. Tampak biasa saja walaupun bibirnya merah rambutnya diikat ke belakang dengan sisa rambut masih tergerai di depan.

Dalam pertemuan ini, ia menceritakan mimpinya yang seperti aku bercerita lima tahun yang lalu tentang mimpi bertemu dengannya, dengan senyum pertamanya terpandang indah melekat manis di mimpi.

Tanpa kalimat perpisahan atau kalimat apapun untuk mengakhiri pertemuan ini dengan satu kali kecupan. Dua kali kecupan. Atau tiga kali kecupan sebagai penutup, ia justru beranjak dari kursinya dan terus pergi. Tanpa menoleh.

Melihat perempuan itu keluar pintu, jiwaku seperti pegat dari tubuh sendiri dan melayang di antara kaca-kaca jendela restoran. Dari kejauhan, perempuan itu menghilang ditelan gelap setelah lampu-lampu jalan mati beberapa saat.

Setelah lampu jalan menyala, hanya terlihat seorang lelaki berjubah hitam pergi di garis malam di jalan hendak pergi ke mana. Dua orang membawa obor kematian juga terlihat melintas tiba-tiba. Lalu sebuah ambulan melintas cepat-cepat dan orang-orang itu hilang sekejap mata.

Mejaku berubah jadi hitam. Pula wine itu di mejaku berubah menjadi hitam pekat seperti darah. Bunga kaktus berubah menjadi layu dengan batangnya yang kering. Warnanya menjadi coklat tua dengan kelopaknya yang kering. Sangat kering sebagaimana kota ini sangat kering.

O, wajahku yang pucat pasi. Hidupku dilumuri gelap. Dan, malam seperti darah menguar anyir baunya dari kanker kulit tubuhku tercium.

Aku beranjak dari kursiku.

(Di tengah jalan ambulan itu mesinnya masih setengah menderu, sirinenya masih menyala—seperti sedang menungguku keluar dari pintu.)

Dengan sikap yang menggigil patah cinta, aku menghampiri mobil itu dengan langkah tergesa-gesa. Aku banting pintu mobil tempat di mana si sopir itu duduk. Aku pukul si sopir dan aku seret ia keluar hingga terpelanting ke jalan.

Sang sopir hanya menatapku dengan mata tajam tapi tidak melawan.

O, aku injak-injak ia di jalan dengan bengis sambil tertawa. Kepalanya aku injak-injak pula. Aku sumpah serapahi ia dengan perasaan sangat kesal ketika menendang bringas wajahnya. Matanya semakin melotot dengan hidung berdarah dan pelipis matanya juga berdarah. Kepalanya juga berdarah.

Kekesalanku nyaris membunuhnya. Tapi aku tahu, aku tak mungkin membunuh si sopir yang tak melawan itu telah dibanjiri darah.

Karena aku tak mau menjadi kabar berita utama alasan seorang bisa mati di kota ini, dengan satu-satunya pelaku pembunuhan tertangkap—adalah aku. Maka, dengan benci aku pergi ke belakang mobil tempat di mana mayat itu disimpan.

Aku buka pintu belakang mobil dengan keras. Aku tarik keranda itu hingga keluar, hingga terjatuh dan terpelantinglah si mayat ke jalan. Mampus kataku!

Di garis malam, tiga orang berjalan dengan langkah kaki pelan membawa obor meninggalkan bayangannya sendiri dari depan mobil—entah muncul dari mana. Mereka mengenakan jubah hitam. Lima ekor gagak terbang dari bokong mobil sembari mengeluarkan suara pekiknya yang nyaring.

Dan lampu jalan menjadi gelap sepanjang-panjangnya jalan, dan tiga orang itu hilang. Tapi obor itu tetap menyala seperti dipegang angin. Terus menyala menciptakan bayangan hitam tiga orang tadi entah ke mana. Restoran itu pun berubah jadi padang pasir ditumbuhi kaktus-kaktus.

Dan melihatnya tubuhku ambruk. Jiwaku melayang menyatu dengan mayat dibawa pergi mobil itu entah ke mana. [T]

Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

KLIK untuk BACA cerpen lain

Go-Sex | Cerpen Sonhaji Abdullah
Masak Apa Hari Ini?   |   Cerpen Lanang Taji
Gendewa   |   Cerpen Dian Havivia
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

Next Post

Puisi-puisi Hidayatul Ulum | Selasar Sebelum Selasa

Son Lomri

Son Lomri

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Hidayatul Ulum | Selasar Sebelum Selasa

Puisi-puisi Hidayatul Ulum | Selasar Sebelum Selasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co