24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Selendang Putih Bertuliskan Mantra | Cerpen I Wayan Kuntara

I Wayan Kuntara by I Wayan Kuntara
May 10, 2025
in Cerpen
Selendang Putih Bertuliskan Mantra | Cerpen I Wayan Kuntara

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

RASA sakit semakin tak tertahankan. Badra terkapar. Darah segar yang mengalir dari perutnya membanjiri aspal jalan. Belati yang terlanjur menancap, tak mampu untuk ditarik kembali. Kini, tinggal menghitung menit, semuanya akan segera usai. Tapi, pertempuran dua kelompok itu masih berlangsung. Teriakan demi teriakan, darah demi darah, dan nyawa demi nyawa seakan sebagai penghias malam yang suram.

“Waktuku tak banyak lagi, Gopal. Pergilah! Selamatkan dirimu!” kata Badra kepada Gopal, sahabtanya.

“Tidak, aku tak mungkin meninggalkanmu sendiri dalam keadaan seperti ini,” sahut Gopal.

“Tak ada waktu lagi! Pergilah! Temui Laskara. Bangun kembali semua dari awal. Aku Percaya padamu!”

Badra menutup mata dan menghembuskan napas terakhirnya.

***

Seminggu sejak kejadian berdarah itu, Gopal menemui Laskara.

Laskara menyerahkan benda aneh kepada Gopal. Benda itu seperti selendang. Panjang. Berwarna putih dan dipenuhi tulisan mantra-mantra yang sama sekali tak ia mengerti. Gopal menanyakan tentang selendang itu pada Laskara.

“Itu adalah selendang keramat milik Badra,” ucap Laskara pada Gopal.

Gopal memandang selendang itu. Ia belum paham apa yang dikatakan Laskara.

“Sehari sebelum kepergiannya, ia menitip pesan padaku agar aku menyerahkan selendang ini padamu. Selendang ini akan membuatmu tak terkalahkan, kebal dari serangan apa pun. Tapi dengan satu syarat. Pemilik selendang ini tidak boleh menikah. Kekuatan selendang ini akan hilang jika sampai si pemilik menikah,” kata Laskara.

Gopal menerimanya, namun ia semakin penasaran. Setelah keluar dari rumah Laskara, ia menanyakan tentang seluk-beluk selendang itu kepada orang-orang terdekatnya. Gopal mendapatkan jawaban yang sama seperti perkataan Laskara. Jawaban-jawaban itu belum bisa membuat Gopal puas. Namun, untuk sementara waktu ia harus percaya.

Hingga suatu hari, di Markas Besar, Gopal menyuruh Laskara untuk melempar batu sebesar bola tenis ke kepalanya. Laskara menolak keras. Hal itu membuat Gopal kecewa.

Keesokan hari, di tempat yang sama, Gopal memandang jauh ke arah langit. Seakan ia memikirkan sesuatu.

“Laskara, kau dulu adalah tangan kanan Badra. Kau kuat. Aku ingin bertarung denganmu. Kita buktikan siapa yang terkuat saat ini,” cetus Gopal dengan tiba-tiba.

Sebenarnya sejak dulu Gopal punya dendam kepada Laskara. Karena semasa hidup Badra sebagai pemimpin kelompok, ia dianggap lebih lemah oleh Badra dan lebih percaya kepada Laskara.

Laskara terdiam. Lagi-lagi dia menolak permintaan Gopal, dan pergi dari Markas Besar.

Gopal kembali menelan kekecewaan. Ia berpikir jika memang saat ini tak mampu melawan Laskara, ia mencari lawan lain. Dengan rasa penasaran yang menggebu-gebu, Gopal pergi menuju pasar. Sesampainya di pasar, Gopal menemui preman pasar yang saat ini menguasai pasar. Preman itu bernama Garda. Tanpa basa-basi Gopal menempelkan pukulan tepat di pipi kanan Garda. Sontak Garda pun tersungkur.

Layaknya naluri seorang lelaki, Garda pun tidak tinggal diam. Garda membalas pukulan tersebut. Kini dua preman itu saling balas pukul. Masing-masing mengadu kekuatan. Garda berkali-kali tersungkur, tapi ia tetap bisa bangkit. Dan Gopal benar-benar unggul pada pertarungan itu.

Pertarungan itu berakhir ketika Gopal sadar, dirinya telah berbuat lewat batas. Ia melihat lawannya sudah tersungkur tak berdaya. Ia menghentikan pukulannya. Kini Garda tergeletak tak sadarkan diri akibat pukulan Gopal yang bertubi-tubi menghantam tubuhnya. Sementara itu, Gopal yang juga menerima pukulan bertubi-tubi dari Garda, tidak sedikit pun merasa kesakitan.

Kini Gopal percaya dengan kekuatan selendang putih bertuliskan mantra itu. Ia tersenyum sembari memandang kepalan tangannya sendiri. Setelah para warga pasar berkerumun melihat Garda yang tergeletak, Gopal pun pergi meninggalkan keramaian pasar. Dan sejak saat itu, Gopal menjadi kepala pasar, dan tak ada satu pun yang mampu menandinginya.  Dan sejak saat itu juga tak terdengar lagi kabar tentang Laskara. Ia menghilang bak ditelan bumi.

***

Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa dua puluh tahun telah berlalu. Setelah Gopal berhasil mengalahkan semua preman, menguasai pasar, menjadi ketua dan membuat kelompoknya kembali berjaya, ia masih belum merasa puas. Untuk menjaga dan menambah kesaktiannya, ia pergi ke tengah hutan dan menemui Ki Jagal, seseorang yang amat sakti mandraguna, yang telah berpuluh-puluh tahun menghabiskan waktunya untuk bertapa semedi di tengah hutan.

“Sebenarnya, selain pantangan tidak menikah, ada satu hal yang bisa menumbangkanmu. Seseorang yang memiliki keris panca datu,” kata Ki Jagal.

Gopal memandang Ki Jagal.

“Tapi kau beruntung,” lanjut Ki Jagal. “Keris panca datu itu telah dikubur oleh seorang mahapatih. Dan tak ada satu pun yang tahu tempatnya. Jadi, untuk saat ini kau fokus untuk menambah kesaktianmu. Setiap bulan purnama kau harus datang ke sini menjalani ritual mandi kembang lima rupa!”

***

Sebagai kepala pasar yang ditakuti, setiap hari Gopal menagih uang keamanan kepada semua pedagang di pasar.  Gopal  dan anak buahnya dikenal kejam. Jika ada pedagang yang membangkang, Gopal dan anak buahnya tak segan-segan menggunakan kekerasan. Tak ayal, membuat semua pedagang takut padanya. Semenjak selendang itu melingkar di pinggangnya, Gopal benar-benar menguasai semuanya. Dan ia mendapatkan semua yang ia inginkan.

Matahari sudah tepat berada di atas kepala. Tugas menagih uang keamanan sudah rampung. Seporsi nasi padang dan secangkir kopi hitam sudah tersedia di atas meja. Gopal melahapnya tuntas. Sementara kopi hitamnya sisa seperempat gelas. Si pedagang nasi padang tak pernah menagih bayaran. Karena ia tahu, siapa orang yang dihadapinya.

Setelah kopi hitam hanya tersisa ampas, Gopal kembali keliling pasar untuk melihat keadaan. Setelah semuanya dirasa aman dan terkendali, Gopal lalu pulang ke rumahnya.

Keesokan paginya, Gopal bersama anak buahnya menagih uang keamanan, seorang pedagang tahu menolak membayar. Gopal berkali-kali mengancam. Namun, si pedagang tahu tetap tak mau membayar.

“Mohon ampun, Bang Gopal. Daganganku belum ada yang laku,” kata si pedagang tahu.

Dengan terpaksa Gopal harus menggunakan kepalan tangannya ketika ada pedagang yang tak mampu membayar uang keamanan. Jelas saja, kepalan tangan Gopal membuat pedagang tahu itu tersungkur. Ketika hendak bangkit, kepalan tangan anak buah Gopal mendarat kembali di wajah si pedagang tahu. Para pedagang lain yang melihat kejadian itu hanya bisa terdiam. Sebab mereka tahu, melawan Gopal dan anak buahnya ibarat menyerahkan nyawa secara cuma-cuma. Gopal menghentikan pukulannya. Si pedagang tahu terkapar di depan barang dagangannya.

“Hari ini kau berhutang padaku, dan besok kau harus membayar dua kali lipat. Jika tidak, kau akan menanggung sendiri akibatnya!” Gopal meraung, lalu pergi meninggalkan si pedagang tahu dan melanjutkan menagih ke pedagang-pedagang lain.

Setelah Gopal benar-benar meninggalkan pasar, para pedagang satu persatu datang menemui pedagang tahu. Para pedagang segera menanyakan keadaan si pedagang tahu dan membantu mengobati lebam di wajah si pedagang tahu.

Keesokan harinya Gopal dan anak buahnya kembali menemui pedagang tahu. Dan kisah tragis pun tak terhindarkan.

“Kau adalah orang yang tak tahu diampun,” ucap Gopal.

Anak buah Gopal mengacak-acak barang dagangan si pedagang tahu karena saat itu si pedagang tahu tak mampu membayar uang keamanan dua kali lipat sesuai yang diminta gopal kemarin. Dan seperti biasa, Gopal mendaratkan kepalan tangannya tepat pada wajah si pedagang tahu. Bekas luka kemarin kini terasa berkali lipat perih setelah kembali menerima pukulan. Perih dan semakin perih. Si pedagang tahu sudah tak berdaya.

Sementara Gopal tanpa henti mendaratkan pukulan-pukulannya. Para pedagang lain seperti biasa hanya bisa menyaksikan kejadian tragis itu. Tak satu pun yang berani mendekat. Namun, tiba-tiba ada satu pedagang yang menepuk pundak Gopal. Ia adalah pedagang baru di pasar itu.

“Beri dia kesempatan!” Tangan pedagang itu masih menempel di atas pundak preman pasar itu. Gopal mengehentikan pukulannya. Gopal bertatapan dengan pedagang itu. Tiba-tiba dendam yang sudah mendarah daging kini kembali membara.

“Akhirnya. Setalah dua puluh tahun kau muncul kembali, Laskara! Bergabunglah bersamaku. Dan kita nikmati hal-hal yang dulu kita nikmati bersama Badra. Menguasai pasar ini,” kata Gopal.

Laskara hanya terdiam. Ia tak satu pun menyahut ajakan Gopal.

“Mungkin setelah sekian lama, kau butuh waktu  untuk berpikir. Tapi pintu Markas Besar selalu terbuka untukmu.” Gopal menepuk pundak Laskara lalu pergi bersama anak buahnya.

Sedangkan Laskara hanya bisa berdiri terdiam tanpa sepatah kata pun.

Keesokan harinya lagi, si pedagang tahu melihat Gopal berjalan mendekatinya. Ia segera lari ke tempat Laskara untuk mencari perlindungan. Hari ini Gopal datang sendiri tanpa anak buahnya.

“Mana si brengsek pedagang tahu busuk itu?” Gopal meraung.

Laskara sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan Gopal. Ia kemudian pasang badan untuk melindungi si pedagang tahu.

“Minggir!” Gopal kembali meraung.

Laskara tetap bersikukuh tak mau berpindah.

“Kali ini jangan halangi aku!”

Satu senti pun Laskara tak berpindah dari tempatnya berdiri. Kali ini Gopal benar-benar marah. Tangannya mengibas tubuh Laskara. Laskara pun terhempas. Gopal bak singa yang akan menyergap mangsa di depannya. Kepalan tangannya sudah siap ia daratkan kembali di wajah si pedagang tahu.

“Tunggu! Lawanmu bukan dia, tapi aku!” ucap Laskara secara tiba-tiba.

Sontak Gopal dan para pedagang terkejut mendengar perkataan Laskara. Selama ini belum ada yang berani menantang Gopal. Para pedagang mulai panik. Takut jika terjadi sesuatu pada Laskara. Walau pun mereka tahu Laskara juga mantan preman yang dulu dikenal kuat. Tapi untuk saat ini Gopal bukanlah tandingannya. Laskara telah bertindak ceroboh dengan menantang Gopal.

“Sebenarnya aku paling benci dengan tantangan. Apalagi yang menantang adalah sahabatku sendiri. Tapi, sudah lama aku menantikan saat ini. Mungkin ini saatnya pembuktian bahwa dulu Badra sudah salah menganggapmu lebih kuat dari pada aku.”

“Ingat, Gopal! Kau tak bisa apa-apa tanpa selendang itu. Selendang yang sebenarnya Badra titahkan padaku. Tapi, aku merelakannya padamu karena aku memilih hidup berkeluarga dengan damai, tanpa kekerasan.”

“Apa maksudmu? Kau jangan mengada-ada!”

“Semua perkataanku saat pertemuan itu adalah rekayasaku. Aku sengaja memberikan selendang itu padamu. Karena aku tahu ambisimu. Dan aku yakin kau bisa bijak seperti Badra. Tapi sayang, kau menyalahgunakannya. Kau menindas yang lemah. Kau terlalu menuruti ambisi keserakahan yang ada pada dirimu.”

Mendengar perkataan Laskara, Gopal semakin marah. Ia segera berlari ke arah Laskara. Tangannya sudah mengepal keras dan pukulan siap ia daratkan ke wajah Laskara. Pukulan pertama Gopal berhasil ditangkis. Gopal tercengang. Baru kali ini ada orang yang mampu menangkis pukulannya. Ia juga sempat berpikir, apakah Laskara adalah orang yang dimaksud Ki Jagal? “Tidak mungkin!”

Gopal kembali mengepalkan tangannya. Kali ini kepalannya sangat kuat. Ia bersiap untuk meluncurkan pukulannya lagi. Pukulan kedua, ketiga, dan pukulan-pukulan selanjutnya tak satu pun mengenai Laskara. Laskara berhasil menghindar. Kali ini giliran Laskara. Tangannya sudah mengepal keras, dan pukulan siap ia daratkan di wajah Gopal.

“Bbuagg!” pukulan Laskara mendarat tepat di rahang kiri Gopal.

Para pedagang seketika bersorak. Laskara melanjutkan pukulan kedua, ketiga, dan yang keempat. Gopal terkapar. Matanya berkunang-kunang. Lalu ia tak sadarkan diri.

Para pedagang bersorak-sorai menyambut kemenangan Laskara. Mereka semua berhamburan berlari ke arah Laskara. Sedangkan Laskara masih memandangi kepalan tangannya. Ia tak menyangka bisa menumbangkan Gopal.

***

Di tengah hutan, petir mulai menyambar dan angin berhembus kencang. Hujan deras pun turun. Di dalam gubuk tua, Ki Jagal terbangun dari tapa semedinya. Ia tersenyum  puas.

“Pantaslah kali ini kau kalah. Selendang itu sudah kutukar. Kini aku menjadi tak terkalahkan!” [T]

Penulis: I Wayan Kuntara
Editor: Made Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Perempuan di Mata Mak Kaeh | Cerpen Khairul A. El Maliky
Poleng | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro
Lebih Gelap dari Palung Mariana | Cerpen Anggit Rizkianto
Ketut Asti | Cerpen Yuditeha
Lelaki yang Menghilang di Tengah Laut | Cerpen Pry S.
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Pramita Shade | Peranjakan Dua Puluhan

Next Post

Fenomena Alam dari 34 Karya Perupa Jago Tarung Yogyakarta di Santrian Art Gallery

I Wayan Kuntara

I Wayan Kuntara

Lahir dan tinggal di Bedulu. Alumnus Jurusan Pendidikan Bahasa Bali Undiksha Singaraja Tahun 2015. Penikmat kata, penikmat cerita, penikmat rasa.

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post
Fenomena Alam dari 34 Karya Perupa Jago Tarung Yogyakarta di Santrian Art Gallery

Fenomena Alam dari 34 Karya Perupa Jago Tarung Yogyakarta di Santrian Art Gallery

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co