2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Poleng | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Sri Romdhoni Warta Kuncoro by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
May 3, 2025
in Cerpen
Poleng | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

POLENG kembali ke desa setelah lebih dari dua bulan menghilang. Wajahnya pucat, tatapan matanya kosong dengan kantong mata hitam legam, serta langkahnya canggung mirip bebek berak. Kalau diperhatikan, Poleng seperti benda aneh yang jatuh dari galaksi lain, atau mungkin dari dunia entah berantah yang tidak pernah ada.

Tapi bukan itu yang menjadi bahan pembicaraan utama. Yang lebih menarik perhatian adalah perubahan perilakunya. Poleng yang dulu bertingkah petakilan, caper, membadut, sering mengumbar tawa kini berubah menjadi pendiam, lebih sering duduk di beranda rumah, menatap kosong ke luar, seolah menunggu sesuatu yang tidak pernah datang.

Gosip pun berkembang liar dengan tambahan bumbu recehan. 

“Sejak turun dari Gunung Pengilon, tingkahnya membingungkan.”

“Ngapain dia kesana?”

“Mungkinkah mencari pesugihan?”

“Tidak ada pesugihan di puncak sana,” sanggah yang lain. 

“Lalu, apa yang dia cari?”

“Mana aku tahu, tanya saja sendiri!”

“Pasti ada yang dia sembunyikan!”

Obrolan mengenai Poleng terdengar di mana-mana. Di warung kopi, di depan rumah, di pematang sawah, di pasar tiban, di jalan setapak yang biasa dilalui oleh penduduk desa. Mereka semua berbicara tentangnya, meskipun tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di Gunung Pengilon. Hanya Poleng yang tahu, tetapi dia memilih untuk diam, menyimpan layaknya butiran emas berlian. Memegangnya erat-erat, takut tersebar, apalagi kalau sampai diambil orang. Dia sudah tidak peduli dengan segala gosip murahan. 

Orang-orang mulai memperbincangkan perubahan itu dengan kecurigaan yang besar. Mereka menyebutnya “terpengaruh oleh roh penunggu gunung” atau “dihinggapi makhluk halus”.

Tapi, gosip yang paling hangat adalah tentang suatu kejadian aneh yang mereka yakini terjadi di gunung tersebut. Ada yang mengatakan bahwa Poleng melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat. Ada yang bilang dia telah berbuat mursal secara mengerikan. Dan yang paling menarik perhatian adalah cerita tentang sebuah pembunuhan.

“Siapa yang mau tahu, apa yang dilakukan Poleng di puncak sana?” bisik seorang tetangga di warung kopi.

Orang-orang dibuat penasaran, mereka menunggu jawaban, berkerumun mendekat.

“Yang aku dengar, dia membunuh seseorang, entah siapa. Mungkin itu sebabnya dia sekarang berperilaku aneh!”

“Apakah ceritamu ini bisa dipertanggungjawabkan?”, tanya satu di antara kerumunan itu. Yang ditanya mendelik kepanasan.

“Kan aku sudah bilang: hanya mendengar dari seseorang,” kata si tetangga dengan muka masam. “Masalah benar atau tidak, aku kurang tahu,” sungutnya.

Kabar itu menyebar cepat, seperti api yang menyambar semak ilalang, bunyinya gemeretak garang. Angin pun ikut serta membawa kabar hingga bersemayam ke telinga-telinga warga desa. Poleng, yang sebelumnya hanya dikenal sebagai orang biasa, tiba-tiba menjadi pusat perhatian. Fitnah kepada dirinya tumbuh subur, mengguyur ke seluruh desa tanpa juntrungan. Tidak ada yang tahu pasti siapa yang pertama kali menyebarkan gosip itu, tetapi begitu sudah tersebar, tak ada yang mampu menghentikan.

Sejak turun dari gunung, Poleng selalu mendengar bisikan-bisikan yang tidak jelas, berputar-putar di pikiran sampai menusuk gendang telinga. Dia tidak tahu siapa yang mengucapkannya. Jika pagi, ketika dia berjalan ke pasar untuk membeli kebutuhan, dia merasa seolah-olah dimata-matai sesuatu yang tak terlihat, dipandang dengan curiga oleh setiap orang yang lewat. Orang-orang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di Gunung Pengilon, mereka hanya menduga-duga.

Suatu malam, Poleng memutuskan untuk melakukan tindakan yang tak semestinya. Dia berjalan menuju pemakaman tua di pinggiran desa. Sejak lampau—bahkan ketika ia masih bocah—tempat itu sudah terkenal wingit (angker), banyak roh gentayangan yang terusir dari liang lahat. Tapi Poleng tidak peduli. Dia ingin mengakhiri semua ini—fitnah yang merusak hidupnya, bisikan-bisikan yang mengganggu pikirannya. Dia ingin mencari kebenaran, meskipun kebenaran itu mungkin tak akan pernah ia dapatkan. 

Tanpa Poleng sadari, beberapa pasang mata mengintipnya. Ternyata beberapa pria desa menguntit Poleng. 

“Apa yang dia lakukan?” bisik satu di antara mereka. 

“Kita lihat saja kelanjutannya,” ujar yang lain. “Jangan berisik!”

Di tengah kegelapan, Poleng menggali tanah. Dia menggali dengan kekuatan penuh, seolah-olah tanah itu adalah musuh yang harus dihancurkan. 

Para pengintip itu kaget serta merinding melihat Poleng. Dia menggali kubur dengan kedua tangan layaknya cangkul. Tanah berhamburan seperti pancuran. Gundukan itu porak-poranda akibat aksinya yang membabibuta. 

“Edan! Dia kesetanan!”

“Poleng benar-benar sudah tidak waras!”

Saat akhirnya ia menemukan sebuah kotak kayu kecil yang terkubur dalam tanah, Poleng membuka tutupnya. Di dalamnya, terdapat sebuah pisau dengan bercak darah dan sebuah foto usang—sebuah foto yang menunjukkan dirinya, tersenyum lebar bersama seseorang yang tidak ia kenal. Wajah orang itu buram, seperti sengaja digerus oleh benda tumpul. Namun ada gambaran yang sangat mengerikan di balik senyumannya.

Poleng diam membisu, menatap benda yang ada di tangannya. Pikirannya berkecamuk. Pertanyaan-pertanyaan liar berkelindan mencari jawaban. Apa yang terjadi? Apakah dia benar-benar telah membunuh seseorang di Gunung Pengilon? Ataukah ini hanya bagian dari fitnah yang terus disebarliarkan?

Keesokan harinya, desa digegerkan oleh sebuah kabar. Seorang warga ditemukan tewas di pinggir jalan dengan mata melotot penuh luka sayatan di leher serta gumpalan tanah kuburan di dalam mulutnya. Tidak ada saksi, tidak ada yang tahu siapa pelakunya. Tetapi ada yang menduga dengan cepat dan tanpa bukti yang jelas, bahwa itu adalah perbuatan Poleng.

“Jelas dia pelakunya. Siapa lagi?” ucap seorang warga. “Padahal, korban, baru kemarin malam ngobrol denganku. Dua jam kemudian pamit pulang!” 

“Tapi kita tidak punya bukti kalau dia si pembunuh,” sergap warga lain. 

Gosip tentang pembunuhan itu tambah tak karuan, semakin tak terkendali.

Hari-hari berikutnya, penemuan mayat kembali berarak, dan yang kesekian ini memaksa warga desa melaporkan ke aparat. Mereka bela-belain, walaupun jarak ke kantor polisi harus ditempuh dengan berjalan kaki memakan waktu sampai setengah hari penuh. Mereka dibelenggu rasa frustasi.

“Benar, Pak. Demi Tuhan, Poleng yang membunuh Sarmidi, Demung, Tarmin dan Senden!” ucap salah satu warga.

“Kalian punya bukti?” tanya aparat.

“Bukti apa, Pak?” sambung warga bingung

“Ya, bukti bahwa orang yang kalian tuduh benar-benar membunuh!” ucap aparat.

Warga kebingungan saling tatap. Mulut mereka terkatup rapat. Bukankah yang seharusnya mencari bukti adalah aparat? Mereka kan yang punya ilmu, kapasitas, dan wewenang?

Di bawah pohon beringin, Poleng segera menuntaskan aksinya. “Dasar binatang busuk! Merusak tanaman warga saja. Rasakan!”

Hantaman-hantaman pisau jagal itu menyobek kulit, meremukkan tulang tengkorak. Binatang itu ia mutilasi sampai rapi. Tulang-tulang hingga kulitnya sampai daging disayat tipis-tipis. Dulu, kali pertama membunuh binatang pengganggu, Poleng hanya mencekik kemudian menyayat leher sebelum menyumpal mulutnya dengan tanah kuburan. Kemudian dia meletakkan di pinggir jalan. Tapi karena tidak mau merepotkan warga, sekarang ia menjadikan binatang tersebut bagai binatang korban.

“Selesai sudah!” Paras Poleng menggurat puas. “Semoga tanaman warga tidak diobrak-abrik lagi oleh binatang-binatang keparat!”

Sebelumnya, Poleng mendapati beberapa binatang merusak tanaman yang sebentar lagi mau dipanen. Hal ini mengapungkan rasa amarah dalam dirinya. Hingga tindakan terukur terpaksa ia lakukan.

Berputarnya hari, aura gelap kian membelit lingkungan desa. Penemuan mayat tambah sering terjadi sampai warga dirajam ketakutan. Kenapa warga tidak bersatupadu meringkus Poleng?  Ternyata, kekuatan serta keberingasan Poleng membuat mereka jeri. Akhirnya, aparat dipaksa turun untuk membereskan masalah. Mereka melakukan penyelidikan. Poleng diinterogasi secara cermat. Warga berkerumun bersama umpatan-umpatan.

“Benar, Pak! Dia pembunuhnya!”

Udara langit dipenuhi kata-kata kasar hingga makian kencang.

“Seret ke penjara, Pak! Biar desa kami aman kembali”

Jawaban-jawaban yang keluar dari mulut Poleng menyiratkan keganjilan. Aparat mengetahui bahwa yang dihadapi manusia abnormal. Kasus ini hanya akan membuang waktu mereka. Mereka enggan berlama-lama di tempat tersebut. Dirasa cukup, aparat pergi bersama harapan tipis warga desa.

Hal lain tentang Poleng, ia merasa terganggu oleh kedatangan rombongan yang bikin gaduh kediamannya. Ia heran, apa salahnya sampai warga mengumpat dirinya? Bukankah selama ini malah ia telah membantu mereka? Benar-benar konyol, batin Poleng.

Poleng yang merasa terpojok oleh tuduhan itu, akhirnya bertekad pergi ke tempat di mana semuanya dimulai, Gunung Pengilon. Di sana, di tengah lautan kabut tebal, dia berdiri menantang, dengan mata jelalatan mencari sesuatu di dalam pikiran. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di gunung. Lebih jelasnya, tidak ada yang tahu kebenaran sesungguhnya. Bisa jadi, kebenaran itu hanyalah ilusi yang diciptakan oleh kebohongan dan ketakutan.

Pada saat itu, Poleng menyadari sesuatu yang lebih mengerikan dari segala fitnah yang menimpannya: Mungkin dia tidak pernah melakukan pembunuhan sama sekali. Tetapi, ketakutan dan fitnah telah mengubahnya menjadi makhluk yang lebih buruk-sebuah korban yang terus-menerus dikejar oleh sugestinya sendiri.

Poleng tertawa, namun tawa itu terdengar aneh nan mengerikan, sanggup membuat bulu kuduk orang-orang berdiri jika mendengar. Semua yang terjadi, semua yang dia alami, mungkin hanya sebuah permainan yang diciptakan oleh pikirannya. Di dalam dunia yang penuh dengan fitnah dan kebohongan ini, siapa yang bisa mengetahui mana yang nyata dan mana yang hanya ilusi?

Poleng akhirnya pulang dengan membawa beban tanpa ujud. Langkahnya terhuyung-huyung, kakinya berat seperti tersedot pasir hisap. Di ujung sana, dunia tak lelah berputar dengan orang-orang yang terus berbicara, menilai dan menghakimi. Tetapi Poleng tahu atau mungkin dia hanya berpikir dia tahu, bahwa tidak ada yang benar-benar peduli. Di dunia ini kebenaran hanyalah sebuah konstruksi yang rapuh, dan kadang-kadang kebenaran yang paling pahit adalah yang tidak pernah terungkapkan.

Malam itu, Poleng kembali ke rumahnya. Ia duduk di salah satu ruangan yang temaram, menatap bayangannya di kaca. Dia melihat kerutan wajahnya bak akar sungai, dalam dan penuh gurat penderitaan. Menggambarkan peta hidupnya yang jauh dari jalan lurus.

“Betapa kasar wajahku!” ucapnya lirih, “Sebenarnya, apa yang terjadi denganku? Kenapa orang-orang memusuhiku?”

Semakin membingungkan serta ngilu. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.  [T]

Penulis: Sri Romdhoni Warta Kuncoro
Editor: Made Adnyana Ole

Lebih Gelap dari Palung Mariana | Cerpen Anggit Rizkianto
Ketut Asti | Cerpen Yuditeha
Lelaki yang Menghilang di Tengah Laut | Cerpen Pry S.
Perbincangan Rindu | Cerpen Lanang Taji
Daging Sapi Pesanan Ibu | Cerpen Eyok El-Abrorii
Doa Kembang Turi |  Cerpen Heri Haliling
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Muhammad Rafi’ Hanif | Kenang-Kenangan Seorang Mahasiswa

Next Post

“Unity Concert“ dari Prodi Musik ISI Bali:  Musik Membentuk dan Menyatukan Generasi

Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Beberapa artikel, puisi, cerpen yang ditulis pernah dimuat di beberapa media cetak dan online. Cerpennya berjudul 'Seterika Jago' masuk dalam antologi 'Berita Kehilangan'(2021)-KontraS

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
“Unity Concert“ dari Prodi Musik ISI Bali:  Musik Membentuk dan Menyatukan Generasi

“Unity Concert“ dari Prodi Musik ISI Bali:  Musik Membentuk dan Menyatukan Generasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co