24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Poleng | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Sri Romdhoni Warta Kuncoro by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
May 3, 2025
in Cerpen
Poleng | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

POLENG kembali ke desa setelah lebih dari dua bulan menghilang. Wajahnya pucat, tatapan matanya kosong dengan kantong mata hitam legam, serta langkahnya canggung mirip bebek berak. Kalau diperhatikan, Poleng seperti benda aneh yang jatuh dari galaksi lain, atau mungkin dari dunia entah berantah yang tidak pernah ada.

Tapi bukan itu yang menjadi bahan pembicaraan utama. Yang lebih menarik perhatian adalah perubahan perilakunya. Poleng yang dulu bertingkah petakilan, caper, membadut, sering mengumbar tawa kini berubah menjadi pendiam, lebih sering duduk di beranda rumah, menatap kosong ke luar, seolah menunggu sesuatu yang tidak pernah datang.

Gosip pun berkembang liar dengan tambahan bumbu recehan. 

“Sejak turun dari Gunung Pengilon, tingkahnya membingungkan.”

“Ngapain dia kesana?”

“Mungkinkah mencari pesugihan?”

“Tidak ada pesugihan di puncak sana,” sanggah yang lain. 

“Lalu, apa yang dia cari?”

“Mana aku tahu, tanya saja sendiri!”

“Pasti ada yang dia sembunyikan!”

Obrolan mengenai Poleng terdengar di mana-mana. Di warung kopi, di depan rumah, di pematang sawah, di pasar tiban, di jalan setapak yang biasa dilalui oleh penduduk desa. Mereka semua berbicara tentangnya, meskipun tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di Gunung Pengilon. Hanya Poleng yang tahu, tetapi dia memilih untuk diam, menyimpan layaknya butiran emas berlian. Memegangnya erat-erat, takut tersebar, apalagi kalau sampai diambil orang. Dia sudah tidak peduli dengan segala gosip murahan. 

Orang-orang mulai memperbincangkan perubahan itu dengan kecurigaan yang besar. Mereka menyebutnya “terpengaruh oleh roh penunggu gunung” atau “dihinggapi makhluk halus”.

Tapi, gosip yang paling hangat adalah tentang suatu kejadian aneh yang mereka yakini terjadi di gunung tersebut. Ada yang mengatakan bahwa Poleng melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat. Ada yang bilang dia telah berbuat mursal secara mengerikan. Dan yang paling menarik perhatian adalah cerita tentang sebuah pembunuhan.

“Siapa yang mau tahu, apa yang dilakukan Poleng di puncak sana?” bisik seorang tetangga di warung kopi.

Orang-orang dibuat penasaran, mereka menunggu jawaban, berkerumun mendekat.

“Yang aku dengar, dia membunuh seseorang, entah siapa. Mungkin itu sebabnya dia sekarang berperilaku aneh!”

“Apakah ceritamu ini bisa dipertanggungjawabkan?”, tanya satu di antara kerumunan itu. Yang ditanya mendelik kepanasan.

“Kan aku sudah bilang: hanya mendengar dari seseorang,” kata si tetangga dengan muka masam. “Masalah benar atau tidak, aku kurang tahu,” sungutnya.

Kabar itu menyebar cepat, seperti api yang menyambar semak ilalang, bunyinya gemeretak garang. Angin pun ikut serta membawa kabar hingga bersemayam ke telinga-telinga warga desa. Poleng, yang sebelumnya hanya dikenal sebagai orang biasa, tiba-tiba menjadi pusat perhatian. Fitnah kepada dirinya tumbuh subur, mengguyur ke seluruh desa tanpa juntrungan. Tidak ada yang tahu pasti siapa yang pertama kali menyebarkan gosip itu, tetapi begitu sudah tersebar, tak ada yang mampu menghentikan.

Sejak turun dari gunung, Poleng selalu mendengar bisikan-bisikan yang tidak jelas, berputar-putar di pikiran sampai menusuk gendang telinga. Dia tidak tahu siapa yang mengucapkannya. Jika pagi, ketika dia berjalan ke pasar untuk membeli kebutuhan, dia merasa seolah-olah dimata-matai sesuatu yang tak terlihat, dipandang dengan curiga oleh setiap orang yang lewat. Orang-orang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di Gunung Pengilon, mereka hanya menduga-duga.

Suatu malam, Poleng memutuskan untuk melakukan tindakan yang tak semestinya. Dia berjalan menuju pemakaman tua di pinggiran desa. Sejak lampau—bahkan ketika ia masih bocah—tempat itu sudah terkenal wingit (angker), banyak roh gentayangan yang terusir dari liang lahat. Tapi Poleng tidak peduli. Dia ingin mengakhiri semua ini—fitnah yang merusak hidupnya, bisikan-bisikan yang mengganggu pikirannya. Dia ingin mencari kebenaran, meskipun kebenaran itu mungkin tak akan pernah ia dapatkan. 

Tanpa Poleng sadari, beberapa pasang mata mengintipnya. Ternyata beberapa pria desa menguntit Poleng. 

“Apa yang dia lakukan?” bisik satu di antara mereka. 

“Kita lihat saja kelanjutannya,” ujar yang lain. “Jangan berisik!”

Di tengah kegelapan, Poleng menggali tanah. Dia menggali dengan kekuatan penuh, seolah-olah tanah itu adalah musuh yang harus dihancurkan. 

Para pengintip itu kaget serta merinding melihat Poleng. Dia menggali kubur dengan kedua tangan layaknya cangkul. Tanah berhamburan seperti pancuran. Gundukan itu porak-poranda akibat aksinya yang membabibuta. 

“Edan! Dia kesetanan!”

“Poleng benar-benar sudah tidak waras!”

Saat akhirnya ia menemukan sebuah kotak kayu kecil yang terkubur dalam tanah, Poleng membuka tutupnya. Di dalamnya, terdapat sebuah pisau dengan bercak darah dan sebuah foto usang—sebuah foto yang menunjukkan dirinya, tersenyum lebar bersama seseorang yang tidak ia kenal. Wajah orang itu buram, seperti sengaja digerus oleh benda tumpul. Namun ada gambaran yang sangat mengerikan di balik senyumannya.

Poleng diam membisu, menatap benda yang ada di tangannya. Pikirannya berkecamuk. Pertanyaan-pertanyaan liar berkelindan mencari jawaban. Apa yang terjadi? Apakah dia benar-benar telah membunuh seseorang di Gunung Pengilon? Ataukah ini hanya bagian dari fitnah yang terus disebarliarkan?

Keesokan harinya, desa digegerkan oleh sebuah kabar. Seorang warga ditemukan tewas di pinggir jalan dengan mata melotot penuh luka sayatan di leher serta gumpalan tanah kuburan di dalam mulutnya. Tidak ada saksi, tidak ada yang tahu siapa pelakunya. Tetapi ada yang menduga dengan cepat dan tanpa bukti yang jelas, bahwa itu adalah perbuatan Poleng.

“Jelas dia pelakunya. Siapa lagi?” ucap seorang warga. “Padahal, korban, baru kemarin malam ngobrol denganku. Dua jam kemudian pamit pulang!” 

“Tapi kita tidak punya bukti kalau dia si pembunuh,” sergap warga lain. 

Gosip tentang pembunuhan itu tambah tak karuan, semakin tak terkendali.

Hari-hari berikutnya, penemuan mayat kembali berarak, dan yang kesekian ini memaksa warga desa melaporkan ke aparat. Mereka bela-belain, walaupun jarak ke kantor polisi harus ditempuh dengan berjalan kaki memakan waktu sampai setengah hari penuh. Mereka dibelenggu rasa frustasi.

“Benar, Pak. Demi Tuhan, Poleng yang membunuh Sarmidi, Demung, Tarmin dan Senden!” ucap salah satu warga.

“Kalian punya bukti?” tanya aparat.

“Bukti apa, Pak?” sambung warga bingung

“Ya, bukti bahwa orang yang kalian tuduh benar-benar membunuh!” ucap aparat.

Warga kebingungan saling tatap. Mulut mereka terkatup rapat. Bukankah yang seharusnya mencari bukti adalah aparat? Mereka kan yang punya ilmu, kapasitas, dan wewenang?

Di bawah pohon beringin, Poleng segera menuntaskan aksinya. “Dasar binatang busuk! Merusak tanaman warga saja. Rasakan!”

Hantaman-hantaman pisau jagal itu menyobek kulit, meremukkan tulang tengkorak. Binatang itu ia mutilasi sampai rapi. Tulang-tulang hingga kulitnya sampai daging disayat tipis-tipis. Dulu, kali pertama membunuh binatang pengganggu, Poleng hanya mencekik kemudian menyayat leher sebelum menyumpal mulutnya dengan tanah kuburan. Kemudian dia meletakkan di pinggir jalan. Tapi karena tidak mau merepotkan warga, sekarang ia menjadikan binatang tersebut bagai binatang korban.

“Selesai sudah!” Paras Poleng menggurat puas. “Semoga tanaman warga tidak diobrak-abrik lagi oleh binatang-binatang keparat!”

Sebelumnya, Poleng mendapati beberapa binatang merusak tanaman yang sebentar lagi mau dipanen. Hal ini mengapungkan rasa amarah dalam dirinya. Hingga tindakan terukur terpaksa ia lakukan.

Berputarnya hari, aura gelap kian membelit lingkungan desa. Penemuan mayat tambah sering terjadi sampai warga dirajam ketakutan. Kenapa warga tidak bersatupadu meringkus Poleng?  Ternyata, kekuatan serta keberingasan Poleng membuat mereka jeri. Akhirnya, aparat dipaksa turun untuk membereskan masalah. Mereka melakukan penyelidikan. Poleng diinterogasi secara cermat. Warga berkerumun bersama umpatan-umpatan.

“Benar, Pak! Dia pembunuhnya!”

Udara langit dipenuhi kata-kata kasar hingga makian kencang.

“Seret ke penjara, Pak! Biar desa kami aman kembali”

Jawaban-jawaban yang keluar dari mulut Poleng menyiratkan keganjilan. Aparat mengetahui bahwa yang dihadapi manusia abnormal. Kasus ini hanya akan membuang waktu mereka. Mereka enggan berlama-lama di tempat tersebut. Dirasa cukup, aparat pergi bersama harapan tipis warga desa.

Hal lain tentang Poleng, ia merasa terganggu oleh kedatangan rombongan yang bikin gaduh kediamannya. Ia heran, apa salahnya sampai warga mengumpat dirinya? Bukankah selama ini malah ia telah membantu mereka? Benar-benar konyol, batin Poleng.

Poleng yang merasa terpojok oleh tuduhan itu, akhirnya bertekad pergi ke tempat di mana semuanya dimulai, Gunung Pengilon. Di sana, di tengah lautan kabut tebal, dia berdiri menantang, dengan mata jelalatan mencari sesuatu di dalam pikiran. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di gunung. Lebih jelasnya, tidak ada yang tahu kebenaran sesungguhnya. Bisa jadi, kebenaran itu hanyalah ilusi yang diciptakan oleh kebohongan dan ketakutan.

Pada saat itu, Poleng menyadari sesuatu yang lebih mengerikan dari segala fitnah yang menimpannya: Mungkin dia tidak pernah melakukan pembunuhan sama sekali. Tetapi, ketakutan dan fitnah telah mengubahnya menjadi makhluk yang lebih buruk-sebuah korban yang terus-menerus dikejar oleh sugestinya sendiri.

Poleng tertawa, namun tawa itu terdengar aneh nan mengerikan, sanggup membuat bulu kuduk orang-orang berdiri jika mendengar. Semua yang terjadi, semua yang dia alami, mungkin hanya sebuah permainan yang diciptakan oleh pikirannya. Di dalam dunia yang penuh dengan fitnah dan kebohongan ini, siapa yang bisa mengetahui mana yang nyata dan mana yang hanya ilusi?

Poleng akhirnya pulang dengan membawa beban tanpa ujud. Langkahnya terhuyung-huyung, kakinya berat seperti tersedot pasir hisap. Di ujung sana, dunia tak lelah berputar dengan orang-orang yang terus berbicara, menilai dan menghakimi. Tetapi Poleng tahu atau mungkin dia hanya berpikir dia tahu, bahwa tidak ada yang benar-benar peduli. Di dunia ini kebenaran hanyalah sebuah konstruksi yang rapuh, dan kadang-kadang kebenaran yang paling pahit adalah yang tidak pernah terungkapkan.

Malam itu, Poleng kembali ke rumahnya. Ia duduk di salah satu ruangan yang temaram, menatap bayangannya di kaca. Dia melihat kerutan wajahnya bak akar sungai, dalam dan penuh gurat penderitaan. Menggambarkan peta hidupnya yang jauh dari jalan lurus.

“Betapa kasar wajahku!” ucapnya lirih, “Sebenarnya, apa yang terjadi denganku? Kenapa orang-orang memusuhiku?”

Semakin membingungkan serta ngilu. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.  [T]

Penulis: Sri Romdhoni Warta Kuncoro
Editor: Made Adnyana Ole

Lebih Gelap dari Palung Mariana | Cerpen Anggit Rizkianto
Ketut Asti | Cerpen Yuditeha
Lelaki yang Menghilang di Tengah Laut | Cerpen Pry S.
Perbincangan Rindu | Cerpen Lanang Taji
Daging Sapi Pesanan Ibu | Cerpen Eyok El-Abrorii
Doa Kembang Turi |  Cerpen Heri Haliling
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Muhammad Rafi’ Hanif | Kenang-Kenangan Seorang Mahasiswa

Next Post

“Unity Concert“ dari Prodi Musik ISI Bali:  Musik Membentuk dan Menyatukan Generasi

Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Beberapa artikel, puisi, cerpen yang ditulis pernah dimuat di beberapa media cetak dan online. Cerpennya berjudul 'Seterika Jago' masuk dalam antologi 'Berita Kehilangan'(2021)-KontraS

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
“Unity Concert“ dari Prodi Musik ISI Bali:  Musik Membentuk dan Menyatukan Generasi

“Unity Concert“ dari Prodi Musik ISI Bali:  Musik Membentuk dan Menyatukan Generasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co