24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Deepfake Porno, Pemerkosaan Simbolik, dan Kejatuhan Etika Digital Kita

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
May 9, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

BEBERAPA hari ini, jagat digital Indonesia kembali gaduh. Bukan karena debat capres, bukan pula karena teori bumi datar kambuhan. Tapi karena satu hal yang jauh lebih serius dan lebih genting, yaitu bahwa seorang mahasiswa dari kampus ternama di Bali, diduga membuat konten deepfake porno menggunakan wajah temannya sendiri. Bukan artis, bukan selebgram, tapi teman sendiri. Bahkan kabarnya, tanpa seizin si korban.

Dia membuat konten pornografi, yang tidak hanya mencoreng nama kampus, tapi juga membuka fakta pahit masyarakat digital kita. Deepfake, teknologi yang lahir dari pesatnya percepatan AI, kini bukan cuma dipakai untuk menciptakan ilusi wajah dia versi muda ala jutawan atau membuat Jokowi dan Prabowo saling endorse dalam video parodi. Tapi menjelma menjadi alat untuk memperkosa citra manusia, secara simbolik, secara brutal, dan secara digital.

Mari kita jangan segera menganggap ini sekadar kenakalan remaja. Kasus ini bukan sekadar iseng namun ini bentuk pemerkosaan. Bukan dengan alat kelamin, tapi dengan algoritma. Tidak menyentuh tubuh, tapi menghancurkan martabat.

Kita sedang menghadapi bentuk baru dari kekerasan seksual yang tak berlebam, tak berteriak, tapi membekas jauh lebih dalam. Dan sialnya, ini dilakukan oleh mereka yang katanya digadang sebagai “generasi emas Indonesia”, yaitu mereka yang tumbuh dengan YouTube, TikTok, dan template PowerPoint.

Teknologi sebagai Pisau Bermata Dua

Deepfake seharusnya jadi bukti betapa canggihnya otak manusia. Ia bisa dipakai untuk membuat video edukasi yang keren, membuat orang lumpuh mampu berbicara lagi lewat suara digitalnya, atau menciptakan seni sinematik baru. Tapi, sama seperti semua ciptaan manusia dari nuklir sampai pisau dapur, teknologi itu sifatnya netral. Barulah nilai moralitasnya terletak pada penggunanya.

Masalahnya, banyak dari kita ini terlalu sering terlena dengan kecanggihan, tapi malas menanamkan kebijaksanaan. Akibatnya, deepfake yang seharusnya bisa jadi alat edukatif malah jadi alat pemuas hasrat. Tubuh digital dijadikan objek visual untuk dikonsumsi, bukan lagi sebagai subjek bermartabat dan setara.

Memproduksi pornografi dengan wajah orang lain, lalu berlindung di balik dalih, “Ini buat konsumsi pribadi, kok.” Dalih yang sama brengseknya dengan orang yang bilang, “Saya cuma ngintip, nggak megang-megang kok.” Padahal, begitu file itu dibuat, maka ia sudah eksis, sudah hidup di semesta digital. Sangat bisa bocor dari cloud, dicuri dari drive, atau bahkan disebar karena iseng, marah, atau putus cinta. Jadi bukan cuma persoalan pribadi. Ini kejahatan, ini pemerkosaan simbolik, suatu bentuk baru dari kekerasan digital.

Kekerasan Simbolik di Era Digital

Pierre Bourdieu , seorang sosiolog Prancis, pernah bicara soal kekerasan simbolik, kekuasaan yang melukai tanpa melukai. Kekuasaan yang menyiksa tanpa menyentuh. Nah, deepfake porno adalah bentuk mutakhir dari kekerasan itu. Di sini, wajah perempuan direduksi jadi properti visual. Martabatnya dipaksa tunduk pada nafsu laki-laki digital yang merasa berhak atas wajah dan tubuh orang lain.

Seperti yang dinyatakan oleh seorang penulis dan aktivis feminis, Bailey Poland, kekerasan digital terhadap perempuan adalah bentuk kekerasan gender yang serius, bukan cuma iseng-iseng memainkan jari. Kita sedang hidup di era di mana wajah seseorang bisa diperkosa, lalu pelakunya bilang bahwa itu toh cuma editan.

Kita sedang hidup di zaman ketika klik di mouse bisa lebih berbahaya daripada todongan pisau. Tapi hukum kita masih belum tahu harus menyebutnya apa. Apakah ini pelecehan, penurunan martabat, pelanggaran ITE atau “hanya” pelanggaran privasi? Saat hukum masih gagap, kita sebagai masyarakat, mestinya tak boleh ikut gagap.

Apakah Kita Gagal Mendidik Generasi Digital?

Di sinilah kegagalan literasi kita. Bukan model digital ala-ala yang diajarkan lewat poster Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang bilang “hati-hati klik tautan mencurigakan.” Tapi literasi etika, literasi moral, literasi menjadi manusia. Kita bisa saja sibuk mengajari anak coding, tapi terlewat lupa mengajari mereka empati. Rajin membuat workshop AI di kampus, tapi di dalamnya jarang sekali fokus membicarakan batas etis dan tanggung jawab moral dari penggunaan AI itu sendiri.

Sekolah dan kampus sepertinya harus segera siap membentuk warga digital yang bermartabat. Bisa mulai membuat  Standard Operating Procedure (SOP )yang jelas saat kekerasan digital terjadi. Segera dibentuk unit tanggap darurat untuk korban. Dan semua itu harus diawali dengan menganggap ini sebagai masalah serius. Sebab dalam kekerasan digital semacam ini korban bisa trauma, malu, bisa depresi, bisa bunuh diri. Kalau itu belum cukup untuk kita marah, berarti kita memang sudah rusak sebagai masyarakat Indonesia yang konon sarat dengan nilai-nilai luhur.

Kasus ini membuka mata kita bahwa sepertinya kita butuh hukum yang bisa mengejar kecepatan kejahatan digital, tapi tetap berprinsip bahwa hukum tak boleh lebih biadab dari pelaku. Tak perlu dibakar hidup-hidup si pelakunya atau dihajar sampai patah tulang. Tapi pelaku tetap harus dihukum secara tegas dan jelas dengan proses hukum yang adil.

Sanksi sosial juga penting, tapi sistem hukum dan sistem pendidikan memiliki posisi krusial dalam jangka panjang. Mestinya literasi digital etis harus jadi pelajaran wajib. Bukan sekadar tahu cara pakai Google Drive, tapi juga tahu bahwa tubuh digital punya hak yang sama dengan tubuh fisik. Setiap klik harus ditimbang dengan empati dan setiap unggahan harus disertai tanggung jawab.

Meski demikian, usaha-usaha diatas hanya akan menjadi bentuk usaha normatif dan bisa keteteran, jika pendidikan moral dan kesadaran etika berteknologi tidak ditanamkan pada masyarakat luas. Seperti dikatakan oleh Yuval Noah Harari dalam bukunya “Homo Deus” (2015), dia mengingatkan bahwa perkembangan teknologi yang sangat cepat memerlukan kesadaran etis untuk mencegah penyalahgunaan yang dapat merugikan kebebasan dan hak asasi manusia.

Rapuhnya Batasan Moral Dunia Digital

Deepfake tidak bisa semata-mata lalu kita tuduh sebagai alat perusak, justru manusia yang menyalahgunakannya yang harus diurus dengan benar. Kasus mahasiswa di atas, yang memanipulasi foto rekannya menjadi konten pornografi palsu adalah contoh nyata bagaimana teknologi bisa disalahgunakan.

Akibat yang ditimbulkannya telah merusak dan menghancurkan kehidupan orang lain. Tindakan seperti ini menunjukkan betapa rapuhnya batasan moral kita di dunia digital, di mana hanya dengan beberapa klik, seseorang bisa menghancurkan reputasi, karier, dan harga diri orang lain.

Perlu ada langkah-langkah mencegah teknologi digunakan untuk mengeksploitasi dan menyakiti orang lain, dan mulai membangun kesadaran bersama tentang pentingnya etika digital yang tangguh. Teknologi yang canggih mau tak mau menuntut masyarakat untuk tidak hanya cerdas secara digital, tapi juga dewasa secara moral. Cukup satu klik, satu proses kerja chip bisa menghancurkan semuanya. Ke depan, tentu perlu sekali usaha-usaha untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya kekerasan digital, dan pentingnya membangun etika teknologi sejak dini. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Pendidikan Kita Sedang Tersesat?
Apakah Menulis Masih Relevan di Era Kecerdasan Buatan?
Ogah Baca, Nyalakan Bom Waktu
Misteri Layar Lebar: Mengapa Film Horor Merajai Bioskop Indonesia?
Pembatasan Media Sosial Kebijakan Tepat, tetapi Bukan Satu-Satunya Solusi
Tags: digitalmediamedia sosialPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Bali Stroke Care”: Golden Period, Membangun Sistem di Tengah Detik yang Maut

Next Post

Kreativitas dan Imajinasi: Dua Modal Utama Seorang Seniman

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Kreativitas dan Imajinasi: Dua Modal Utama Seorang Seniman

Kreativitas dan Imajinasi: Dua Modal Utama Seorang Seniman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co