23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Poleng | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Sri Romdhoni Warta Kuncoro by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
May 3, 2025
in Cerpen
Poleng | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

POLENG kembali ke desa setelah lebih dari dua bulan menghilang. Wajahnya pucat, tatapan matanya kosong dengan kantong mata hitam legam, serta langkahnya canggung mirip bebek berak. Kalau diperhatikan, Poleng seperti benda aneh yang jatuh dari galaksi lain, atau mungkin dari dunia entah berantah yang tidak pernah ada.

Tapi bukan itu yang menjadi bahan pembicaraan utama. Yang lebih menarik perhatian adalah perubahan perilakunya. Poleng yang dulu bertingkah petakilan, caper, membadut, sering mengumbar tawa kini berubah menjadi pendiam, lebih sering duduk di beranda rumah, menatap kosong ke luar, seolah menunggu sesuatu yang tidak pernah datang.

Gosip pun berkembang liar dengan tambahan bumbu recehan. 

“Sejak turun dari Gunung Pengilon, tingkahnya membingungkan.”

“Ngapain dia kesana?”

“Mungkinkah mencari pesugihan?”

“Tidak ada pesugihan di puncak sana,” sanggah yang lain. 

“Lalu, apa yang dia cari?”

“Mana aku tahu, tanya saja sendiri!”

“Pasti ada yang dia sembunyikan!”

Obrolan mengenai Poleng terdengar di mana-mana. Di warung kopi, di depan rumah, di pematang sawah, di pasar tiban, di jalan setapak yang biasa dilalui oleh penduduk desa. Mereka semua berbicara tentangnya, meskipun tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di Gunung Pengilon. Hanya Poleng yang tahu, tetapi dia memilih untuk diam, menyimpan layaknya butiran emas berlian. Memegangnya erat-erat, takut tersebar, apalagi kalau sampai diambil orang. Dia sudah tidak peduli dengan segala gosip murahan. 

Orang-orang mulai memperbincangkan perubahan itu dengan kecurigaan yang besar. Mereka menyebutnya “terpengaruh oleh roh penunggu gunung” atau “dihinggapi makhluk halus”.

Tapi, gosip yang paling hangat adalah tentang suatu kejadian aneh yang mereka yakini terjadi di gunung tersebut. Ada yang mengatakan bahwa Poleng melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat. Ada yang bilang dia telah berbuat mursal secara mengerikan. Dan yang paling menarik perhatian adalah cerita tentang sebuah pembunuhan.

“Siapa yang mau tahu, apa yang dilakukan Poleng di puncak sana?” bisik seorang tetangga di warung kopi.

Orang-orang dibuat penasaran, mereka menunggu jawaban, berkerumun mendekat.

“Yang aku dengar, dia membunuh seseorang, entah siapa. Mungkin itu sebabnya dia sekarang berperilaku aneh!”

“Apakah ceritamu ini bisa dipertanggungjawabkan?”, tanya satu di antara kerumunan itu. Yang ditanya mendelik kepanasan.

“Kan aku sudah bilang: hanya mendengar dari seseorang,” kata si tetangga dengan muka masam. “Masalah benar atau tidak, aku kurang tahu,” sungutnya.

Kabar itu menyebar cepat, seperti api yang menyambar semak ilalang, bunyinya gemeretak garang. Angin pun ikut serta membawa kabar hingga bersemayam ke telinga-telinga warga desa. Poleng, yang sebelumnya hanya dikenal sebagai orang biasa, tiba-tiba menjadi pusat perhatian. Fitnah kepada dirinya tumbuh subur, mengguyur ke seluruh desa tanpa juntrungan. Tidak ada yang tahu pasti siapa yang pertama kali menyebarkan gosip itu, tetapi begitu sudah tersebar, tak ada yang mampu menghentikan.

Sejak turun dari gunung, Poleng selalu mendengar bisikan-bisikan yang tidak jelas, berputar-putar di pikiran sampai menusuk gendang telinga. Dia tidak tahu siapa yang mengucapkannya. Jika pagi, ketika dia berjalan ke pasar untuk membeli kebutuhan, dia merasa seolah-olah dimata-matai sesuatu yang tak terlihat, dipandang dengan curiga oleh setiap orang yang lewat. Orang-orang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di Gunung Pengilon, mereka hanya menduga-duga.

Suatu malam, Poleng memutuskan untuk melakukan tindakan yang tak semestinya. Dia berjalan menuju pemakaman tua di pinggiran desa. Sejak lampau—bahkan ketika ia masih bocah—tempat itu sudah terkenal wingit (angker), banyak roh gentayangan yang terusir dari liang lahat. Tapi Poleng tidak peduli. Dia ingin mengakhiri semua ini—fitnah yang merusak hidupnya, bisikan-bisikan yang mengganggu pikirannya. Dia ingin mencari kebenaran, meskipun kebenaran itu mungkin tak akan pernah ia dapatkan. 

Tanpa Poleng sadari, beberapa pasang mata mengintipnya. Ternyata beberapa pria desa menguntit Poleng. 

“Apa yang dia lakukan?” bisik satu di antara mereka. 

“Kita lihat saja kelanjutannya,” ujar yang lain. “Jangan berisik!”

Di tengah kegelapan, Poleng menggali tanah. Dia menggali dengan kekuatan penuh, seolah-olah tanah itu adalah musuh yang harus dihancurkan. 

Para pengintip itu kaget serta merinding melihat Poleng. Dia menggali kubur dengan kedua tangan layaknya cangkul. Tanah berhamburan seperti pancuran. Gundukan itu porak-poranda akibat aksinya yang membabibuta. 

“Edan! Dia kesetanan!”

“Poleng benar-benar sudah tidak waras!”

Saat akhirnya ia menemukan sebuah kotak kayu kecil yang terkubur dalam tanah, Poleng membuka tutupnya. Di dalamnya, terdapat sebuah pisau dengan bercak darah dan sebuah foto usang—sebuah foto yang menunjukkan dirinya, tersenyum lebar bersama seseorang yang tidak ia kenal. Wajah orang itu buram, seperti sengaja digerus oleh benda tumpul. Namun ada gambaran yang sangat mengerikan di balik senyumannya.

Poleng diam membisu, menatap benda yang ada di tangannya. Pikirannya berkecamuk. Pertanyaan-pertanyaan liar berkelindan mencari jawaban. Apa yang terjadi? Apakah dia benar-benar telah membunuh seseorang di Gunung Pengilon? Ataukah ini hanya bagian dari fitnah yang terus disebarliarkan?

Keesokan harinya, desa digegerkan oleh sebuah kabar. Seorang warga ditemukan tewas di pinggir jalan dengan mata melotot penuh luka sayatan di leher serta gumpalan tanah kuburan di dalam mulutnya. Tidak ada saksi, tidak ada yang tahu siapa pelakunya. Tetapi ada yang menduga dengan cepat dan tanpa bukti yang jelas, bahwa itu adalah perbuatan Poleng.

“Jelas dia pelakunya. Siapa lagi?” ucap seorang warga. “Padahal, korban, baru kemarin malam ngobrol denganku. Dua jam kemudian pamit pulang!” 

“Tapi kita tidak punya bukti kalau dia si pembunuh,” sergap warga lain. 

Gosip tentang pembunuhan itu tambah tak karuan, semakin tak terkendali.

Hari-hari berikutnya, penemuan mayat kembali berarak, dan yang kesekian ini memaksa warga desa melaporkan ke aparat. Mereka bela-belain, walaupun jarak ke kantor polisi harus ditempuh dengan berjalan kaki memakan waktu sampai setengah hari penuh. Mereka dibelenggu rasa frustasi.

“Benar, Pak. Demi Tuhan, Poleng yang membunuh Sarmidi, Demung, Tarmin dan Senden!” ucap salah satu warga.

“Kalian punya bukti?” tanya aparat.

“Bukti apa, Pak?” sambung warga bingung

“Ya, bukti bahwa orang yang kalian tuduh benar-benar membunuh!” ucap aparat.

Warga kebingungan saling tatap. Mulut mereka terkatup rapat. Bukankah yang seharusnya mencari bukti adalah aparat? Mereka kan yang punya ilmu, kapasitas, dan wewenang?

Di bawah pohon beringin, Poleng segera menuntaskan aksinya. “Dasar binatang busuk! Merusak tanaman warga saja. Rasakan!”

Hantaman-hantaman pisau jagal itu menyobek kulit, meremukkan tulang tengkorak. Binatang itu ia mutilasi sampai rapi. Tulang-tulang hingga kulitnya sampai daging disayat tipis-tipis. Dulu, kali pertama membunuh binatang pengganggu, Poleng hanya mencekik kemudian menyayat leher sebelum menyumpal mulutnya dengan tanah kuburan. Kemudian dia meletakkan di pinggir jalan. Tapi karena tidak mau merepotkan warga, sekarang ia menjadikan binatang tersebut bagai binatang korban.

“Selesai sudah!” Paras Poleng menggurat puas. “Semoga tanaman warga tidak diobrak-abrik lagi oleh binatang-binatang keparat!”

Sebelumnya, Poleng mendapati beberapa binatang merusak tanaman yang sebentar lagi mau dipanen. Hal ini mengapungkan rasa amarah dalam dirinya. Hingga tindakan terukur terpaksa ia lakukan.

Berputarnya hari, aura gelap kian membelit lingkungan desa. Penemuan mayat tambah sering terjadi sampai warga dirajam ketakutan. Kenapa warga tidak bersatupadu meringkus Poleng?  Ternyata, kekuatan serta keberingasan Poleng membuat mereka jeri. Akhirnya, aparat dipaksa turun untuk membereskan masalah. Mereka melakukan penyelidikan. Poleng diinterogasi secara cermat. Warga berkerumun bersama umpatan-umpatan.

“Benar, Pak! Dia pembunuhnya!”

Udara langit dipenuhi kata-kata kasar hingga makian kencang.

“Seret ke penjara, Pak! Biar desa kami aman kembali”

Jawaban-jawaban yang keluar dari mulut Poleng menyiratkan keganjilan. Aparat mengetahui bahwa yang dihadapi manusia abnormal. Kasus ini hanya akan membuang waktu mereka. Mereka enggan berlama-lama di tempat tersebut. Dirasa cukup, aparat pergi bersama harapan tipis warga desa.

Hal lain tentang Poleng, ia merasa terganggu oleh kedatangan rombongan yang bikin gaduh kediamannya. Ia heran, apa salahnya sampai warga mengumpat dirinya? Bukankah selama ini malah ia telah membantu mereka? Benar-benar konyol, batin Poleng.

Poleng yang merasa terpojok oleh tuduhan itu, akhirnya bertekad pergi ke tempat di mana semuanya dimulai, Gunung Pengilon. Di sana, di tengah lautan kabut tebal, dia berdiri menantang, dengan mata jelalatan mencari sesuatu di dalam pikiran. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di gunung. Lebih jelasnya, tidak ada yang tahu kebenaran sesungguhnya. Bisa jadi, kebenaran itu hanyalah ilusi yang diciptakan oleh kebohongan dan ketakutan.

Pada saat itu, Poleng menyadari sesuatu yang lebih mengerikan dari segala fitnah yang menimpannya: Mungkin dia tidak pernah melakukan pembunuhan sama sekali. Tetapi, ketakutan dan fitnah telah mengubahnya menjadi makhluk yang lebih buruk-sebuah korban yang terus-menerus dikejar oleh sugestinya sendiri.

Poleng tertawa, namun tawa itu terdengar aneh nan mengerikan, sanggup membuat bulu kuduk orang-orang berdiri jika mendengar. Semua yang terjadi, semua yang dia alami, mungkin hanya sebuah permainan yang diciptakan oleh pikirannya. Di dalam dunia yang penuh dengan fitnah dan kebohongan ini, siapa yang bisa mengetahui mana yang nyata dan mana yang hanya ilusi?

Poleng akhirnya pulang dengan membawa beban tanpa ujud. Langkahnya terhuyung-huyung, kakinya berat seperti tersedot pasir hisap. Di ujung sana, dunia tak lelah berputar dengan orang-orang yang terus berbicara, menilai dan menghakimi. Tetapi Poleng tahu atau mungkin dia hanya berpikir dia tahu, bahwa tidak ada yang benar-benar peduli. Di dunia ini kebenaran hanyalah sebuah konstruksi yang rapuh, dan kadang-kadang kebenaran yang paling pahit adalah yang tidak pernah terungkapkan.

Malam itu, Poleng kembali ke rumahnya. Ia duduk di salah satu ruangan yang temaram, menatap bayangannya di kaca. Dia melihat kerutan wajahnya bak akar sungai, dalam dan penuh gurat penderitaan. Menggambarkan peta hidupnya yang jauh dari jalan lurus.

“Betapa kasar wajahku!” ucapnya lirih, “Sebenarnya, apa yang terjadi denganku? Kenapa orang-orang memusuhiku?”

Semakin membingungkan serta ngilu. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.  [T]

Penulis: Sri Romdhoni Warta Kuncoro
Editor: Made Adnyana Ole

Lebih Gelap dari Palung Mariana | Cerpen Anggit Rizkianto
Ketut Asti | Cerpen Yuditeha
Lelaki yang Menghilang di Tengah Laut | Cerpen Pry S.
Perbincangan Rindu | Cerpen Lanang Taji
Daging Sapi Pesanan Ibu | Cerpen Eyok El-Abrorii
Doa Kembang Turi |  Cerpen Heri Haliling
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Muhammad Rafi’ Hanif | Kenang-Kenangan Seorang Mahasiswa

Next Post

“Unity Concert“ dari Prodi Musik ISI Bali:  Musik Membentuk dan Menyatukan Generasi

Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Beberapa artikel, puisi, cerpen yang ditulis pernah dimuat di beberapa media cetak dan online. Cerpennya berjudul 'Seterika Jago' masuk dalam antologi 'Berita Kehilangan'(2021)-KontraS

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post
“Unity Concert“ dari Prodi Musik ISI Bali:  Musik Membentuk dan Menyatukan Generasi

“Unity Concert“ dari Prodi Musik ISI Bali:  Musik Membentuk dan Menyatukan Generasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co