1 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kosa Poetika Senirupa Anak Agung Gede Eka Putra Dela

Hartanto by Hartanto
April 28, 2025
in Ulas Rupa
Kosa Poetika Senirupa Anak Agung Gede Eka Putra Dela

Berproses, karya Anak Agung Gede Eka Putra Dela, acrylic on canvas

SEBUAH kejujuran, sangat diperlukan dalam proses kreatif berkesenian. Ini, ditunjukkan  oleh  Anak Agung Gede Eka Putra Dela. Beliau, secara jujur mengaku sudah 5-6 tahun ini vakum, tidak melukis. Pada pameran kali ini Gung Putra menampilkan 10 karya kecil-kecil dengan goresan dan ekspresi warna yang berbeda. “Ini menandakan saya masih berproses. Saya seperti anak kecil yang baru belajar melukis lagi”, Gung Putra menjelaskan. Oleh karenanya, ia memberi Judul karyanya ; “Berproses”.

Karya lukis abstrak Gung Putra berukuran 40 x 40 cm, sebanyak 10 panel tersebut, tergantung pada sebuah sisi dinding di ruang pamer Neka Art Museum Ubud, dalam rangka pameran “Metastomata : Metamorphosis Manifesto Galang Kangin”, yang digelar dari tanggal 18 April hingga 18 Mei 2025. Pameran ini selain meramaikan 29 tahun usia Komunitas Seni Galang Kangin (KSGK) juga untuk memperingati hari lahir almarhum Arie Smit (15 April) tokoh yang memberi warna penting dalam perkembangan seni rupa di Bali. Beliau, adalah tokoh yang membidani lahirnya mazhab senirupa Young Artist.

Konsep “Berproses” yang diusung oleh Gung Putra dapat dianalisis dengan mengadopsi berbagai pendekatan teoritis dan perspektif seni kontemporer, yang menekankan pentingnya perjalanan kreatif sebagai esensi dari ekspresi individu.  Bisa kita awali dengan pendekatan psikologi, Dalam psikologi seni, konsep “Berproses” sejalan dengan teori perkembangan kreativitas yang menekankan pentingnya eksplorasi, eksperimen, dan keberanian untuk kembali ke “langkah awal.”

Anatomi 1, Anak Agung Gede Eka Putra Dela, acrylic on canvas

Psikolog Graham Wallas dalam bukunya “The Art of Thought” (1926) menyebutkan empat tahap proses kreatif: persiapan, inkubasi, iluminasi (pencerahan), dan verifikasi (Wallas, 1926, hlm. 10). Vakum yang dialami Gung Putra bisa dimaknai sebagai tahap inkubasi, di mana pemikiran kreatif berada dalam jeda untuk memungkinkan fase baru dari iluminasi dan eksplorasi.

Dengan menampilkan 10 karya kecil, yang bervariasi goresan dan warna, konsep karya Gung Putra ini, dapat dianalisis melalui pendekatan “visual honesty.” Teori ini menekankan bahwa setiap elemen dalam karya seni, seperti tekstur, warna, dan bentuk, mencerminkan kondisi emosional seniman. Goresan yang mentah dan penggunaan warna yang spontan mengomunikasikan perjuangan serta semangat pembelajaran ulang dalam fase ini.

Seperti sudah saya sebutkan di atas – tentang kejujuran Gung Putra. Pendekatan “visual honesty” dalam seni rupa memang merujuk pada kejujuran dalam representasi visual. Maksudnya,  seniman menampilkan karya mereka tanpa manipulasi berlebihan atau upaya untuk menyembunyikan proses kreatif nya.

Mengutip dari buku Working Space, Karya Frank Stella (Harvard University Press, 1986), pendekatan ini menekankan pentingnya menunjukkan proses yang mencakup kejujuran dalam ekspresi emosi atau ide. Bukankah karya seni mencerminkan pengalaman atau pandangan seniman tanpa mencoba menyesuaikan diri dengan ekspektasi eksternal?.

Konsep ini sering dikaitkan dengan transparansi dalam teknik, material, dan niat artistik. Bisa juga diartikan, seniman menggunakan material sebagaimana adanya, tanpa mencoba mengubah sifat dasar material tersebut. Misalnya, tekstur alami kanvas atau goresan kuas yang terlihat jelas. Saya melihat ‘kejujuran’ atau ‘kepolosan’ Gung Putra pada proses maupun karya kreatifnya tersebut.

Dalam konteks modern, pendekatan ini dapat berarti menghindari manipulasi digital atau teknik yang terlalu “dipoles,” sehingga karya tetap terasa organik dan autentik. Ini, sesuai dengan pernyataan Frank Stella yang terkenal “What you see is what you see,” yang mencerminkan gagasan bahwa seni mesti apa adanya terhadap bentuk dan materialnya. Kendatipun demikian, dalam seni rupa ada istilah yang sering digunakan yakni ‘artistic license’.

‘Artistic license’ Ini merujuk pada kebebasan seniman untuk menyimpang dari kenyataan atau aturan konvensional demi menciptakan karya yang lebih ekspresif, menarik, atau bermakna – namun ‘kejujuran’ juga merupakan hal penting dalam proses kreatif penciptaan. Dalam dunia sastra, ‘Artistic license’ ini acap disebut ‘licentia poetica’. Untuk itu, menarik jika kita surut ke belakang menelisik proses kreatif Gung Putra di masa lalu.

Anatomi 2, Anak Agung Gede Eka Putra Dela, acrylic on canvas

Jejak kreatifitas Gung Putra bisa kita simak dari kemampuannya merestorasi beberapa karya  maestro, Affandi. Pada katalog pameran pelukis maestro tersebut bersama Nasirun, Putu Sutawijaya, dan Entang Wiharso yang bertajuk “The (Un) Real”, disebutkan bahwa tindakan preservasi karya-karya Afandi sangatlah sempurna, hingga seperti Afandi sedang menghadirkan karya baru. Kendatipun demikian, Gung Putra tetap merendah bahwa semua itu berkat kesempatan dan bimbingan yang diberikan oleh Thomas Freitag, mentor KSKG.

Jejak yang lain  adalah tentang karya rupa dari Gung Putra yang berjumlah 3 panel berukuran 150 x 120 cm per panelnya. Hal itu menunjukkan keahlian luar biasa dalam menggambarkan anatomi manusia secara realistis. Fokus pada detail tekstur kulit, lipatan, dan kontur jari-jari memberikan kesan mendalam tentang pengamatan dan teknik yang sangat terlatih. Penggunaan grayscale menonjolkan permainan bayangan dan pencahayaan, menciptakan dimensi yang hidup dalam beberapa karya lukis anatominya. Kini, ke 3 karya tersebut dikoleksi oleh kolektor dari Belanda.

Beberapa karya lukisnya di masa lalu  ini tidak hanya menunjukkan kemampuan teknis, tetapi juga sensitivitas artistik dalam menangkap keunikan setiap elemen. Ini adalah contoh yang kuat dari bagaimana studi anatomi dapat menjadi karya seni yang berdiri sendiri. Teknik yang digunakan menunjukkan kualitas realistis yang sangat tinggi, seperti tekstur kulit, kerutan, dan bayangan.

Semua elemen ini memberikan kedalaman dan efek cahaya yang khas, yang biasanya dicapai melalui medium cat Acrylic. Lukisan ini juga mencerminkan tingkat keahlian yang luar biasa dalam menggabungkan anatomi manusia dan permainan cahaya. Yang paling saya suka adalah kemampuan Chiaroscuro (kemampuan tentang teknik pembagian kualitas gelap terang) .Gung Putra.

Lebih lanjut, hal lain yang menjadi perhatian saya, adalah keinginan saya memadankan karya lukis Gung Putra yang berjudul ‘Berproses’ dengan puisi Mantra karya Sutardji Calzoum Bachri (STB). Khususnya puisi yang berjudul ‘Mantera’. Penilaian saya, puisi STB ini merupakan karya sastra dengan medium kata yang ‘abstrak’. STB tercatat dalam sejarah sastra Indonesia dengan kredonya : “membebaskan kata dari makna”. Sementara itu, saya menganggap karya lukis Gung Putra adalah puisi visual.

Mari simak puisi berjudul ‘Mantera’ karya STB. //lima percik mawar//tujuh sayap merpati//sesayat langit perih//dicabik puncak gunung//sebelas duri sepi//dalam dupa rupa//tiga menyan luka//mengasapi duka//puu…… aah!//kau jadi Kau!//Kasihku. Terasa sekali ‘abstraknya’ puisi karya STB ini. Tak mudah untuk menangkap makna yang tersurat. Demikian juga dengan Karya abstrak Gung Putra yang penuh dengan kebebasan ekspresi dan dinamika warna. Ini sangat cocok dipadankan dengan puisi-puisi STB, terutama karena gaya puisinya yang sering disebut sebagai “puisi mantra”. Mungkin karena STB membebaskan kata-kata dari makna konvensional, menciptakan pengalaman yang lebih intuitif dan emosional— maka mirip dengan cara seni rupa abstrak yang mengundang interpretasi bebas.

Anatomi 3, Anak Agung Gede Eka Putra Dela, acrylic on canvas

Menurut saya, yang dinyatakan STB pada puisi di atas adalah pengekpresian pengalaman estetika penyairnya. Makna yang dihadirkan penyairnya  tidak harus hadir dari rangkaian kata yang dapat dipahami. Mungkin saja makna yang dihadirkan adalah senyawa bebas dari pengalaman estetik dan spiritual pribadi penyairnya. Selanjutnya, bisa saja makna yang hadir berdasar dari interpretasi penikmatnya. Begitulah upaya STB membebaskan kata dari makna, yang justru menghadirkan ‘makna yang lain’.

Seperti kita ketahui,  anasir penting puisi adalah diksi, ijaminasi,  gaya bahasa atau majas, bunyi, rima, ritme, larik, bait, stanza, enjambement, metrum, repetisi, metafora, personifikasi, hiperbola dan tema. Jika saya boleh memaknai unsur-unsur ini, maka saya menyebutnya : Kosa Poetika.  Unsur-unsur puisi ini memang bisa dipadankan/dipergunakan menganalisa karya senirupa.

Lantas bagaimana kalau kita hendak mempergunakan istilah ‘kosa poetika’ untuk karya seni rupa?? Tentu bisa, meski biasanya ‘kosa poetika’ berkait dengan seni sastra. Namun, tidak keseluruhan anasir seni sastra  tersebut bisa dipergunakan pada seni rupa. Menurut saya, kosa poetika atau elemen-elemen puisi seperti narasi, emosi, simbolisme, metafora, ritme, dan lain-lain – bisa diimplementasi kan ke seni rupa. Hanya mediumnya saja yang berbeda dari kedua bidang seni ini.

Berkait dengan pemadanan karya rupa Gung Putra dengan puisi STB, menurut saya jika sastra menggunakan kata (verbal) sebagai medium ekspresinya, maka lukisan menggunakan warna, garis, bentuk, tekstur, dan komposisi visual sebagai medianya. Elemen-elemen ini berperan sebagai “bahasa visual” yang menyampaikan kepada penikmatnya. Sebagaimana kata-kata membangun suasana dalam sastra – sapuan kuas, gradasi warna, atau garis dalam lukisan juga bisa menciptakan cerita atau suasana tanpa perlu menggunakan kata-kata.

Dengan kata lain, lukisan berbicara melalui visual, membiarkan imajinasi dan persepsi pemirsa menjadi bagian dari interpretasinya. Medium ini begitu luas dan fleksibel, sehingga seniman dapat menciptakan segalanya mulai dari sesuatu yang realistis hingga abstrak. Coba simak bagaimana Gung Putra menggunakan palet warna yang berani dan kontras, seperti oranye, biru, hijau, merah, dan hitam. Kombinasi warna ini menciptakan suasana yang dinamis dan penuh energi. Beberapa karya memiliki tema warna dominan, sementara yang lain lebih seimbang dalam distribusi warnanya.

Garis-garis dalam karya ini bervariasi dari tebal dan tegas hingga tipis dan halus. Garis-garis tersebut memberikan arah dan gerakan dalam komposisi, menciptakan dinamika yang menarik. Ada garis yang terstruktur dan lurus, serta garis yang lebih tegas dan mengalir. Sementara itu, bentuk-bentuk yang dihadirkan sebagian besar bersifat abstrak dan tidak beraturan. Ada perpaduan antara bentuk geometris dan bentuk bebas yang memberikan kedalaman dan kompleksitas pada karya. Interaksi antara bentuk-bentuk ini membuat setiap karya memiliki keunikan tersendiri. Tekstur dalam karya-karya ini sangat kaya dan beragam.

Gung Putra menggunakan teknik yang menghasilkan efek visual yang mendalam, seperti area yang halus dan datar, serta area yang lebih berlapis dan kasar. Tekstur ini memberikan dimensi tambahan pada karya. Melangkapi anasir tersebut, Gung Putra menata komposisi visual di setiap karya dengan seimbang dan terencana dengan baik. Elemen warna, garis, bentuk, dan tekstur disusun sedemikian rupa sehingga menciptakan harmoni dan kesatuan. Meskipun bersifat abstrak, setiap karya memiliki titik fokus yang menarik perhatian, sementara elemen-elemen lainnya mendukung keseluruhan visual. Begitulah tafsir saya pada ‘puisi visual’ yang dihadirkan Gung Putra, dengan pendekatan Kosa Poetika. [T]

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA
Trimatra Galung Wiratmaja
Selilit: Perlawanan Simbolik Ketut Putrayasa
Memorial Made Supena
METASTOMATA: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin  di Neka Art Museum, Ubud
Sekilas Pentas “Kekecewaan” Wayan Jengki Sunarta : Narasi Tekstual ke Narasi Teaterikal
Tags: Komunitas Galang KanginNeka Art MuseumPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perempuan Dalam Sinema di Living World Denpasar, Tayangkan 12 Film Peran Perempuan

Next Post

TANAH, NATAH, DAN  PENANAMAN MODAL

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

by Mahesa Putra
June 30, 2026
0
Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana,...

Read moreDetails

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

by Hartanto
June 29, 2026
0
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

Read moreDetails

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

by Mahesa Putra
June 18, 2026
0
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini...

Read moreDetails

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

by Oka Rusmini
June 15, 2026
0
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

Read moreDetails

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
0
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

Read moreDetails

Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

by Made Chandra
June 8, 2026
0
Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan,...

Read moreDetails

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

by Made Chandra
June 2, 2026
0
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

Read moreDetails

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

by Made Chandra
May 4, 2026
0
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

Read moreDetails

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails
Next Post
TANAH, NATAH, DAN  PENANAMAN MODAL

TANAH, NATAH, DAN  PENANAMAN MODAL

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama
Ulas Buku

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata
Esai

Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali....

by Agung Sudarsa
July 1, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi
Ulas Rupa

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana,...

by Mahesa Putra
June 30, 2026
Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise
Esai

Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat,...

by Iko Amadeus
June 30, 2026
Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan
Khas

Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan

Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi...

by Wahyu Mahaputra
June 30, 2026
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja
Ulas Pentas

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan
Esai

Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah...

by Wayan Gde Yudane
June 30, 2026
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya
Ulas Rupa

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

by Hartanto
June 29, 2026
Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?
Esai

Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
June 29, 2026
Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival
Bahasa

Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali...

by I Made Sudiana
June 29, 2026
Teringat Mendiang Bang DS. Putra
Esai

Teringat Mendiang Bang DS. Putra

PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya...

by Angga Wijaya
June 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co