23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Fenomena Viralnya Selebriti Perempuan Suku Baduy

Asep Kurnia by Asep Kurnia
April 3, 2025
in Esai
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Asep Kurnia

SELEBGRAM dan Seleb TikTok, Youtuber atau sebutan keren lainnya bukanlah hal aneh dan menakjubkan di kalangan manusia-manusia modern penghamba popularitas, pencitraan dan pendulang cuan. Era digitalisasi memang sengaja diciptakan dan menyediakan ruang yang sangat luas bagi siapa pun untuk melakukan tindakan pencitraan sekaligus memviralkan diri atau kelompok demi mendapatkan nilai popularitas sekaligus mendapat insentif cuan yang tiba-tiba melimpah.

Dunia pencarian untuk mendapatkan uang sudah beralih secara sporadis dari sistem manual ke era digital. Sistem digital ini menjanjikan kemudahan, keefisienan dan keefektifan  dalam bertransaksi soal keuangan dan alur perdagangan (bisnis). Termasuk penjualan berita  (konten) dalam bentuk video singkat yang dijamin pembayaran oleh media sebagai pihak yang memiliki kewenangan dalam menentukan syarat dan kriteria yang sudah ditentukan dengan titik fokusnya pada berapa banyak subscribe dan like serta berapa banyak ditonton oleh netizenyang didapat dari penjualan konten tersebut.

Semakin banyak like dan subcribe (follower) didapat, maka semakin menjanjikan mendulang uang di luar ekspetasi dirinya. Bukan lagi di angka puluhan ribu rupiah tapi masuk di angka miliaran, sehingga banyak youtuber menjadi miliarder secara tiba-tiba (jadi sultan dadakan). Faktor profesional dan tinggi rendah sekolah bukan jadi ukuran dan jaminan bisa jadi seorang youtuberyang handal dan hamble. Hal terpenting bagi seorang youtuberadalah memiliki kejelian, kecerdikan, telenta khusus dalam membuat dan menyajikan sebuah konten yang bisa menarik para netizen untuk menjadi follower kontennya.

Pihak YouTube membuka secara vulgar apapun bisa dijadikan konten, YouTube tidak mempersoalkan konten tersebut bermoral atau tidaknya atau ada tidaknya value, yang penting konten tersebut bisa dinikmati dan digemari oleh netizen. Strategi memberi kebebasan berekspresi di Youtube tanpa membatasi status sosial adalah faktor yang kuat dan merangsang para netizen berlomba dan berduyun-duyun membuat konten tanpa pertimbangan moralitas yang sehat. Maka, hati-hatilah dunia digitalisasi telah menjadi sebuah hutan belantara yang menyeramkan dan bisa menjebak siapa pun manusia yang masuk pada pusarannya tanpa bisa kembali atau pulang dengan kondisi psikologis atau moralitas yang utuh.

Peralihan mencari uang dari sistem manual ke era digital ini dengan dibantu alat mempermudahnya berupa HP Android, maka virus menjadi selebgram dan tiktoker cepat menjalar ke setiap pelosok dunia dan lapisan masyarakat tanpa terkecuali termasuk ke wilayah komunitas adat yang notabene masih memegang erat hukum adat atau pikukuh leluhurnya. Suku Baduy adalah salah satu contoh faktual yang terkena dan terjebak oleh virus sistem digitalisasi (perubahan sistem manual ke era digital).

Ketidakberdayaan Menolak Gempuran Digitalisasi

Tak ada alasan dan argumentasi yang kuat dan meyakinkan bahwa Suku Baduy kini masih mampu menolak pembaharuan (modernisasi) terutama digitalisasi. Penggunaan HP yang begitu sporadis di kalangan warga Baduy dengan jumlah ribuan pemilik sekaligus pengguna/pemakai dan menjamurnya akun Facebook, Instagram, Tik tok, WhatsApp  anak-anak Baduy adalah fakta yang tidak terbantahkan bahwa warga Baduy sebagaian besar sedang melintasi moedernisasi dengan ditandai sudah tervirusi dan terjebak dalam pusaran digitalisasi bahkan di kekinian mereka sudah menikmati sistem digital.

Kini, pedoman suku Baduy melarang warganya mengikuti pendidikan dasar ber-Calistung sudah tidak lagi berlaku dan diindahkan oleh sebagian besar warga Baduy terutama oleh generasi mudanya, termasuk kaum perempuan yang dalam tatanan adat tidak diperkenankan untuk berinteraksi dan komunkasi secara vulgar dengan pihak luar.  

Pengaruh digitalisasi yang dibarengi oleh intensifnya interaksi antara warga Baduy dengan pengunjung wisata budaya Baduy dan dalam rangka memenuhi azas kebutuhan kesejahteraan finansial telah ikut menyumbang terjadinya percepatan perubahan sosial di suku Baduy.  Maka, kekinian suku Baduy sudah tidak bisa lagi mengela dan menolak atau melarang warganya untuk tidak masuk pada pusaran sistem era digital.

Para tokoh adat pun sudah berulang kali menyatakan “ketidakberdayaannya menahan gempuran modernisasi melalui digitalisasi”, walaupun terus berupaya untuk tetap meminimalisasi malapetaka terjadinya degradasi moral akibat terjebak digitalisasi. Para tokoh adat sudah merasa kewalahan atas gempuran teknologi komunikasi yang terus mengacak-acak bahkan mulai membunuh budaya lokal mereka.

Mereka sudah sangat khawatir di komunitas adat Baduy akan terjadinya perubahan dan perombakan budaya  (gegar budaya),   atau akan terjadinya perubahan sosial yang sporadis bahkan bisa terjadi apa yang disebut “Kekacauan dan Kebrutalan Sosial” yang tidak bisa lagi dikendalikan. Situasi itu sejalan dengan pendapat Prof. Dr.Alo Liliweri, M.Si di buku karya Prof Sihabudin berjudul Technotronic Etnocide, “Media social dan Teknologi Elektonik (digital) Sebagai Pembunuh Kebudayaan“.

Pengaruh digitalisasi sudah jauh merambah ke semua lapisan masyarakat Baduy tanpa terkecuali. Mulai dari orang dewasa sampai anak-anak, kaum laki-laki dan perempuan, warga Baduy Luar sampai warga Baduy Dalam, warga biasa sampai tokoh adat tertentu pun sudah masuk pada pusaran ikutan menikmati era digital yang menjanjikan berbagai kemudahan dan kebermanfaatannya.

Namun, di balik pengaruh positif yang mereka rasakan muncul pula pengaruh negatif yang ternyata lebih besar dampaknya pada percepatan penggerusan nilai-nilai luhur adat dan budaya mereka. Seratus delapan puluh persen pengaruh digitalisasi telah menggeser perilaku kaum perempuan muda Baduy yang dulunya budaya menutup diri, lugu, sederhana penampilan dan menghindar dari berbagai interaksi, kini menjadi penjemput interaksi, memburu  ketenaran dan popularitas bahkan berlomba ingin menjadi selebriti dan publik figur yang dikenal dan diminati publik atau para netizen.

Keberanian memposting diri dengan berbagai pose foto yang eksotis nyentrik dan memposting berbagai rahasia budaya perempuan Baduy di media sosial telah mengakibatkan perempuan Baduy menjadi bahan ekploitasi yang empuk oleh pihak-pihak yang kurang bertanggungjawab.

Mungkin dengan dibungkus alasan dan beberapa paradigma yang menganggap itu sebagai bentuk mempromosikan Baduy ke ruang publik, sehingga bentuk pengeksploitasian gadis-gadis Baduy oleh berbagai pihak menjadi lolos sensor para tokoh adat. Tapi nyata-nyatanya banyak yang hanya mengambil keuntungan (konten, tambahnya viewer, dapat finasial dengan mudah dll), etika memperlakukan kebudayaan yang pantas dan bertanggungjawab nyaris tidak ada dan tidak dilakukan.

Para pengeksploitasi lupa bahwa Suku Baduy memiliki kearifan lokal (local wisdom) yang harus dijaga dan diselamatkan keutuhannya. Inilah sisi negatif yang berdampak pada tuduhan bahwa Baduy sekarang tidak lagi merupakan suku yang patuh pada hukum adat menghindari atau menolak modernisasi.

Pengeksploitasian kaum perempuan Baduy oleh pihak yang hanya mencari keuntungan semakin menjadi-jadi dan sudah melampaui batas kewajaran. Mengajak dan membawa gadis perempuan Baduy untuk membuat konten di mall, di tempat modern pusat kota dan memperkenalkan pola hidup pemodernan apapun alasannya adalah contoh dan fakta bahwa mereka telah dengan sengaja meracuni mental anak-anak perempuan Baduy untuk melanggar hukum adat mereka dan menggeser moralitas generasi muda kaum perempuan Baduy untuk melintasi modernisasi.

Muncul Diksi Selebgram dan Artis Baduy

Kebebasan perilaku kaum perempuan Baduy yang sepertinya tidak terkontrol di media sosial dan teknologi elektronik, ditambah dengan pembiaran yang terlalu lama terhadap para pelanggar-pelanggar hukum adat yang melintasi modernisasi, menyebabkan hebitasi memposting apa yang kurang pantas diposting menjadi pembiasaan diri dan dianggap perilaku tersebut tidak merugikan masa depan adat budaya mereka.

Dari data yang ada, kaum muda perempuan Baduy sudah biasa menggunakan media sosial untuk memposting berbagai kejadian termasuk curhatan pribadi. Dan efek domino postingan berupa konten atau video singkat tersebut mengakibatkan banyak follower sehingga menjadi viral dan terkenal. Di sisi lain dengan seringnya mem-publish konten dan viral, Youtube memberi konpensasi finansial yang cukup mengagetkan dan menggiurkan (menghasilkan uang). Akhirnya gadis muda Baduy yang berparas cantik menjadi selebriti, ketagihan untuk terus mem-publish dirinya karena merasa dapat berbagai keuntungan dan penghasilan.

Postingan mereka dapat tanggapan berbagai pihak terutama para follower dengan sebutan Artis Baduy, Selebgram Baduy, Tiktoker Baduy, Selebriti Baduy, dan sebutan Youtuber Baduy. Nama Sari Dewi mengawali popular di medsos, kemudian diikuti oleh Rumsah dan yang kini sedang melejit atau viral adalah Sarti. Itu nama-nama perempuan Baduy yang mampu mendomisasi kepopuleran di medsos. Nama-nama lainnya ada dan muncul tetapi tidak seviral ketiga nama di atas.

Kepopuleran gadis Baduy tersebut tidak terjadi secara alamiah tapi berkat ikut campurnya para penggiat medsos (channel) yang membantu mengekpos mereka dengan konten yang dibuatnya. Akhirnya munculah sosok yang diidentikkan sebagai Selebgram Baduy, Artis Baduy, Tiktoker Baduy dan Youtber Baduy.

Apa pun yang mereka lakukan adalah hak prerogatif mereka, termasuk kaum perempuan Baduy yang kini sedang melintasi moderninasi dan melibatkan diri menjadi publik figur melalui medsos lalu menjadi Selebgram dan Youtuber yang top dan viral. Kita tidak bisa menjustifikasi itu semua adalah kesalahan atau pelanggaran. Merekalah yang lebih tahu dan faham mengapa mereka sudah berani melalukan tindakan tersebut.  Kita juga tidak berkompeten untuk melarang dan mengatur-atur kehidupan mereka, mereka memilih pola hidup seperti itu adalah haknya dengan segala konsekuensinya.

Sudut pandang kita dan sudut pandang mereka berbeda dalam memaknai dinamisasi perubahan yang terjadi di suku Baduy. Kita hanya bisa melihat, dampak apa yang akan terjadi di masa depan kehidupan mereka. [T]

Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole

  • BACA esai-esai tentang BADUY
  • BACA esai-esai lain dari penulis ASEP KURNIA
Mitos Liar Baduy 40 “Suhunan”
Narman, Sang “Entrepreneur” Etnis Baduy
Para Pejuang dan Pengabdi Suku Baduy
Sekilas Informasi Wisata  Saba Budaya  Baduy
Pengabdi Suku Baduy: Dua Tahun Ditolak, Kini Disayangi
Tags: masyarakat adatSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ogoh-Ogoh Makin Gagah | Catatan Usai Nyepi

Next Post

Perjalanan Berburu Tetralogi Pulau Buru

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Perjalanan Berburu Tetralogi Pulau Buru

Perjalanan Berburu Tetralogi Pulau Buru

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co