23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perjalanan Berburu Tetralogi Pulau Buru

Teguh Wahyu Pranata, by Teguh Wahyu Pranata,
April 3, 2025
in Esai
Perjalanan Berburu Tetralogi Pulau Buru

Foto: Teguh

KISAH ini dimulai pada pertengahan 2022 lalu, ketika saya duduk di semester 3 dan mengikuti kelas sejarah kolonial dan sejarah pergerakan nasional. Dalam momen-momen tersebut, salah satu dosen kami menawarkan roman Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer sebagai bacaan alternatif.

Kami diarahkan untuk menilik jiwa zaman era kolonial dan pergerakan nasional melalui penggambaran Pram dalam empat seri roman buatannya. Adapun Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca adalah judul-judul dari empat seri fenomenal tersebut. Setiap bagiannya membahas tentang perjalanan bapak pers nasional: Raden Mas Tirto Adhi Soerjo. Karya itu disusun Pram ketika ia berada dalam masa pengasingan bersama para tahanan politik Orde Baru di Pulau Buru, Maluku.

Menariknya, Tetralogi Buru adalah karya terlarang selama kekuasaan rezim ketakutan Orde Baru. Setiap bagian Tetralogi Buru selalu dilarang peredarannya oleh pemerintah. Belakangan, ketika Orde Reformasi mulai berjalan, karya ini mulai dicetak ulang dan diedarkan.

Saya sendiri pertama kali membaca Bumi Manusia sebagai seri pertama ketika tidak sengaja menemukannya di perpustakaan fakultas. Perjumpaan pertama dengan Bumi Manusia langsung membuat saya tertarik. Saya tidak berhenti memuji Pram saat membaca buku itu selama satu minggu. Ya, satu minggu. Batas periode peminjaman buku saat itu membuat saya dan Bumi Manusia hanya memiliki waktu 7 hari. Meski akhirnya roman itu habis dalam lima hari enam malam, saya jelas tidak puas hanya sampai di sana.

Ketertarikan dengan Bumi Manusia dan rasa penasaran akan seri-seri selanjutnya membangkitkan keinginan saya untuk memburu Tetralogi Pulau Buru. Saya harus memiliki Bumi Manusia, juga mendapatkan dan membaca habis Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Perjalanan kemudian dimulai dengan pencarian referensi toko-toko buku di Bali, mulai dari gerai-gerai offline hingga toko online, dari toko yang menjual buku baru hingga toko buku bekas.

Setelah mengumpulkan informasi keberadaan toko, menyusun rute perjalanan dan mengumpulkan uang, saya akhirnya memulai perburuan, perjalanan panjang yang tak pernah dibayangkan. Saya ingat betul ketika menyusuri shortcut Singaraja-Denpasar bersama seorang teman untuk mencari tetralogi di Gramedia dan Togamas.

Kami kemudian menyusuri Gramedia Bali Plaza, Gramedia MBG, dan Gramedia Tengku Umar, juga Togamas Hayam Wuruk. Semuanya demi Pram dan tetraloginya. Namun, pencarian hari itu berakhir ketika pihak Togamas menerangkan bahwa stok terakhir Tetralogi Buru terjual tiga bulan sebelumnya sementara pihak Gramedia menyatakan bahwa stok telah kosong di seluruh cabang Gramedia Bali.

Saya pun pulang dengan tangan kosong. Belakangan saya baru mengetahui bahwa terbitan terakhir Tetralogi Buru dicetak tahun 2018. Buku-buku ini juga memang sangat langka, sekalinya ada langsung habis tak tersisa.

Saya terpaksa mencari ke toko online dan pelelangan buku di Twitter. Hasilnya, mayoritas yang dijual adalah bajakan. Jumlah buku tetralogi asli bisa dihitung jari, itupun versi bekas dangan harga yang tak main-main. Satu paket Tetralogi Buru umumnya dijual dengan harga 2 juta hingga 6 juta rupiah, harga yang tidak ramah di kantong mahasiswa. Satu buku bahkan dibandrol dengan harga 400 ribu rupiah belum termasuk ongkir, angka yang masih terlalu mahal untuk kelas menengah ke bawah.

Pada bulan-bulan berikutnya, memasuki tahun 2023, saya mencoba mencari ke Ganesha Book Shop, Ubud. Awal masuk saya disuguhkan dengan buku-buku berbahasa Inggris sepanjang mata memandang. Ketika saya bertanya apakah ada buku Pram, saya langsung diarahkan ke pojok depan di sebelah pintu, bagian yang sebelumnya berada di belakang saya. Tanpa di duga, Ganesha Book Shop yang hanya berjarak 19 km dari rumah saya ternyata menjual buku Pram. Satu buah buku Bumi Manusia, tiga buah buku Jejak Langkah. Masing masing dijual seharga Rp 150 ribu.

Harga tersebut mungkin sedikit lebih mahal dari harga asli, terlebih yang dijual adalah buku bekas. Tetapi biar bagaimanapun ini adalah harta karun, paling tidak masih jauh di bawah Rp 400 ribu.

Karena saat itu kantong saya hanya berisi uang Rp 200 ribu, saya memutuskan untuk membeli Bumi Manusia. Saya berpikir bahwa belum saatnya membeli buku Jejak Langkah, lagipula saya belum memiliki buku Anak Semua Bangsa sebagai seri kedua. Saya berencana untuk membeli seri Jejak Langkah ketika sudah memiliki uang. Sambil menabung, saya melakukan bulan madu kedua dengan Bumi Manusia, membaca ulang roman indah itu, novel ke-2 saya.

Ya, saya jarang membaca novel sebelumnya. Satu-satunya novel yang saya baca sebelum Bumi Manusia adalah tulisan Gerson Poyk bertajuk Sang Guru. Membaca Bumi Manusia membangkitkan gairah saya untuk membaca karya fiksi. Saya membaca Bumi Manusia berulang kali untuk bertemu kembali dengan Minke, Anellies, Nyai Ontosoroh, dan yang lain. Menemukan kembali detail-detail kecil yang terlewat, tentang kelas sosial, pergundikan, dinamika masyarakat, pers, hingga perlawanan.

Setelah beberapa waktu, saya telah banyak mendapatkan informasi tambahan. Uang untuk membeli seri Jejak Langkah juga sudah cukup. Saya kemudian segara mencarinya, mencegah kalau-kalau seri itu juga habis terjual.

Siang hari, pada bulan-bulan akhir tahun 2023, saya berangkat dari rumah menuju Ubud, menuju Ganesha Bookshop. Saya berniat meminang seri Jejak Langkah. Namun, sesampainya di sana saya tidak menemukan apa yang saya cari. Setelah ditelusuri ternyata memang tidak ada. Naas, seri tersebut habis terjual. Buku yang sebelumnya tersisa tiga, dengan harga bekas Rp 150 ribu, habis tak tersisa.

Nampaknya diri ini memang terlalu meremehkan kelangkaan karya Pram. Di detik tersebut semua kesadaran akan kecerobohan muncul bersamaan. Ternyata saya bahkan tidak belajar dari buku Laut Bercerita, tidak belajar dari Biru Laut Wibisana. Wahai Pram, untuk bisa membaca karyamu sungguh serumit ini. Tetapi biar bagaimanapun perjalanan tetap berlanjut, walau sejauh ini masih tanpa arti.

Awal tahun 2024, saya kemudian berkesempatan mengunjungi Yogyakarta melalui program Kuliah Kerja Lapangan. Salah satu agenda pribadi saat itu adalah menemukan buku-buku Pram di toko-toko preloved. Bisa ditebak, lagi-lagi saya gagal atas beberapa sebab. Memasuki akhir tahun 2024, kabar burung beredar mengenai cetak ulang buku-buku Pram. Kabar yang belakangan dikonfirmasi penerbit Lentera Dipantara sebagai kebenaran. Spesial perayaan “Seabad Pram 2025” buku-buku akan dicetak ulang. Pada bulan februari, launching pun dilakukan di Blora, tempat kelahiran Pram. Disusul mulainya pre-order di platform-platform digital.

Saya tidak menyianyiakan kesempatan ini dan segera membeli sepaket Tetralogi Buru edisi khusus secara online. Setelah menunggu 18 hari, pesanan saya pun sampai. Tetralogi Buru yg telah lama saya buru. Namun, sementara masih banyak buku Pram yang belum dicetak ulang, RUU TNI disahkan. Buku Pram kembali dalam bayang-bayang pelarangan. [T]

Penulis: Teguh Wahyu Pranata
Editor: Adnyana Ole

Soesilo Toer, 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer, dan Cerita Tak Biasa  di UWRF 2024
Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer, Relasi Kuasa dan Perlawanan
Memantik Kesadaran Berbangsa Melalui Buku “Bumi Manusia”
Tags: Pramoedya Ananta ToersastraSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Fenomena Viralnya Selebriti Perempuan Suku Baduy

Next Post

Kembang Rampe dan Kebodohan yang Dipelihara

Teguh Wahyu Pranata,

Teguh Wahyu Pranata,

I Nengah Teguh Wahyu Pranata, lahir di Demulih, Susut, Bangli. Pecinta Sejarah, anak ideologis Multatuli. Memiliki ketertarikan dengan perempuan juga kronik-kronik peristiwa 65. Dapat ditemukan di Instagram sebagai teguh.inst.

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Kembang Rampe dan Kebodohan yang Dipelihara

Kembang Rampe dan Kebodohan yang Dipelihara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co