2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perjalanan Berburu Tetralogi Pulau Buru

Teguh Wahyu Pranata, by Teguh Wahyu Pranata,
April 3, 2025
in Esai
Perjalanan Berburu Tetralogi Pulau Buru

Foto: Teguh

KISAH ini dimulai pada pertengahan 2022 lalu, ketika saya duduk di semester 3 dan mengikuti kelas sejarah kolonial dan sejarah pergerakan nasional. Dalam momen-momen tersebut, salah satu dosen kami menawarkan roman Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer sebagai bacaan alternatif.

Kami diarahkan untuk menilik jiwa zaman era kolonial dan pergerakan nasional melalui penggambaran Pram dalam empat seri roman buatannya. Adapun Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca adalah judul-judul dari empat seri fenomenal tersebut. Setiap bagiannya membahas tentang perjalanan bapak pers nasional: Raden Mas Tirto Adhi Soerjo. Karya itu disusun Pram ketika ia berada dalam masa pengasingan bersama para tahanan politik Orde Baru di Pulau Buru, Maluku.

Menariknya, Tetralogi Buru adalah karya terlarang selama kekuasaan rezim ketakutan Orde Baru. Setiap bagian Tetralogi Buru selalu dilarang peredarannya oleh pemerintah. Belakangan, ketika Orde Reformasi mulai berjalan, karya ini mulai dicetak ulang dan diedarkan.

Saya sendiri pertama kali membaca Bumi Manusia sebagai seri pertama ketika tidak sengaja menemukannya di perpustakaan fakultas. Perjumpaan pertama dengan Bumi Manusia langsung membuat saya tertarik. Saya tidak berhenti memuji Pram saat membaca buku itu selama satu minggu. Ya, satu minggu. Batas periode peminjaman buku saat itu membuat saya dan Bumi Manusia hanya memiliki waktu 7 hari. Meski akhirnya roman itu habis dalam lima hari enam malam, saya jelas tidak puas hanya sampai di sana.

Ketertarikan dengan Bumi Manusia dan rasa penasaran akan seri-seri selanjutnya membangkitkan keinginan saya untuk memburu Tetralogi Pulau Buru. Saya harus memiliki Bumi Manusia, juga mendapatkan dan membaca habis Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Perjalanan kemudian dimulai dengan pencarian referensi toko-toko buku di Bali, mulai dari gerai-gerai offline hingga toko online, dari toko yang menjual buku baru hingga toko buku bekas.

Setelah mengumpulkan informasi keberadaan toko, menyusun rute perjalanan dan mengumpulkan uang, saya akhirnya memulai perburuan, perjalanan panjang yang tak pernah dibayangkan. Saya ingat betul ketika menyusuri shortcut Singaraja-Denpasar bersama seorang teman untuk mencari tetralogi di Gramedia dan Togamas.

Kami kemudian menyusuri Gramedia Bali Plaza, Gramedia MBG, dan Gramedia Tengku Umar, juga Togamas Hayam Wuruk. Semuanya demi Pram dan tetraloginya. Namun, pencarian hari itu berakhir ketika pihak Togamas menerangkan bahwa stok terakhir Tetralogi Buru terjual tiga bulan sebelumnya sementara pihak Gramedia menyatakan bahwa stok telah kosong di seluruh cabang Gramedia Bali.

Saya pun pulang dengan tangan kosong. Belakangan saya baru mengetahui bahwa terbitan terakhir Tetralogi Buru dicetak tahun 2018. Buku-buku ini juga memang sangat langka, sekalinya ada langsung habis tak tersisa.

Saya terpaksa mencari ke toko online dan pelelangan buku di Twitter. Hasilnya, mayoritas yang dijual adalah bajakan. Jumlah buku tetralogi asli bisa dihitung jari, itupun versi bekas dangan harga yang tak main-main. Satu paket Tetralogi Buru umumnya dijual dengan harga 2 juta hingga 6 juta rupiah, harga yang tidak ramah di kantong mahasiswa. Satu buku bahkan dibandrol dengan harga 400 ribu rupiah belum termasuk ongkir, angka yang masih terlalu mahal untuk kelas menengah ke bawah.

Pada bulan-bulan berikutnya, memasuki tahun 2023, saya mencoba mencari ke Ganesha Book Shop, Ubud. Awal masuk saya disuguhkan dengan buku-buku berbahasa Inggris sepanjang mata memandang. Ketika saya bertanya apakah ada buku Pram, saya langsung diarahkan ke pojok depan di sebelah pintu, bagian yang sebelumnya berada di belakang saya. Tanpa di duga, Ganesha Book Shop yang hanya berjarak 19 km dari rumah saya ternyata menjual buku Pram. Satu buah buku Bumi Manusia, tiga buah buku Jejak Langkah. Masing masing dijual seharga Rp 150 ribu.

Harga tersebut mungkin sedikit lebih mahal dari harga asli, terlebih yang dijual adalah buku bekas. Tetapi biar bagaimanapun ini adalah harta karun, paling tidak masih jauh di bawah Rp 400 ribu.

Karena saat itu kantong saya hanya berisi uang Rp 200 ribu, saya memutuskan untuk membeli Bumi Manusia. Saya berpikir bahwa belum saatnya membeli buku Jejak Langkah, lagipula saya belum memiliki buku Anak Semua Bangsa sebagai seri kedua. Saya berencana untuk membeli seri Jejak Langkah ketika sudah memiliki uang. Sambil menabung, saya melakukan bulan madu kedua dengan Bumi Manusia, membaca ulang roman indah itu, novel ke-2 saya.

Ya, saya jarang membaca novel sebelumnya. Satu-satunya novel yang saya baca sebelum Bumi Manusia adalah tulisan Gerson Poyk bertajuk Sang Guru. Membaca Bumi Manusia membangkitkan gairah saya untuk membaca karya fiksi. Saya membaca Bumi Manusia berulang kali untuk bertemu kembali dengan Minke, Anellies, Nyai Ontosoroh, dan yang lain. Menemukan kembali detail-detail kecil yang terlewat, tentang kelas sosial, pergundikan, dinamika masyarakat, pers, hingga perlawanan.

Setelah beberapa waktu, saya telah banyak mendapatkan informasi tambahan. Uang untuk membeli seri Jejak Langkah juga sudah cukup. Saya kemudian segara mencarinya, mencegah kalau-kalau seri itu juga habis terjual.

Siang hari, pada bulan-bulan akhir tahun 2023, saya berangkat dari rumah menuju Ubud, menuju Ganesha Bookshop. Saya berniat meminang seri Jejak Langkah. Namun, sesampainya di sana saya tidak menemukan apa yang saya cari. Setelah ditelusuri ternyata memang tidak ada. Naas, seri tersebut habis terjual. Buku yang sebelumnya tersisa tiga, dengan harga bekas Rp 150 ribu, habis tak tersisa.

Nampaknya diri ini memang terlalu meremehkan kelangkaan karya Pram. Di detik tersebut semua kesadaran akan kecerobohan muncul bersamaan. Ternyata saya bahkan tidak belajar dari buku Laut Bercerita, tidak belajar dari Biru Laut Wibisana. Wahai Pram, untuk bisa membaca karyamu sungguh serumit ini. Tetapi biar bagaimanapun perjalanan tetap berlanjut, walau sejauh ini masih tanpa arti.

Awal tahun 2024, saya kemudian berkesempatan mengunjungi Yogyakarta melalui program Kuliah Kerja Lapangan. Salah satu agenda pribadi saat itu adalah menemukan buku-buku Pram di toko-toko preloved. Bisa ditebak, lagi-lagi saya gagal atas beberapa sebab. Memasuki akhir tahun 2024, kabar burung beredar mengenai cetak ulang buku-buku Pram. Kabar yang belakangan dikonfirmasi penerbit Lentera Dipantara sebagai kebenaran. Spesial perayaan “Seabad Pram 2025” buku-buku akan dicetak ulang. Pada bulan februari, launching pun dilakukan di Blora, tempat kelahiran Pram. Disusul mulainya pre-order di platform-platform digital.

Saya tidak menyianyiakan kesempatan ini dan segera membeli sepaket Tetralogi Buru edisi khusus secara online. Setelah menunggu 18 hari, pesanan saya pun sampai. Tetralogi Buru yg telah lama saya buru. Namun, sementara masih banyak buku Pram yang belum dicetak ulang, RUU TNI disahkan. Buku Pram kembali dalam bayang-bayang pelarangan. [T]

Penulis: Teguh Wahyu Pranata
Editor: Adnyana Ole

Soesilo Toer, 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer, dan Cerita Tak Biasa  di UWRF 2024
Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer, Relasi Kuasa dan Perlawanan
Memantik Kesadaran Berbangsa Melalui Buku “Bumi Manusia”
Tags: Pramoedya Ananta ToersastraSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Fenomena Viralnya Selebriti Perempuan Suku Baduy

Next Post

Kembang Rampe dan Kebodohan yang Dipelihara

Teguh Wahyu Pranata,

Teguh Wahyu Pranata,

I Nengah Teguh Wahyu Pranata, lahir di Demulih, Susut, Bangli. Pecinta Sejarah, anak ideologis Multatuli. Memiliki ketertarikan dengan perempuan juga kronik-kronik peristiwa 65. Dapat ditemukan di Instagram sebagai teguh.inst.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Kembang Rampe dan Kebodohan yang Dipelihara

Kembang Rampe dan Kebodohan yang Dipelihara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co