2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perjalanan Berburu Tetralogi Pulau Buru

Teguh Wahyu Pranata by Teguh Wahyu Pranata
April 3, 2025
in Esai
Perjalanan Berburu Tetralogi Pulau Buru

Foto: Teguh

KISAH ini dimulai pada pertengahan 2022 lalu, ketika saya duduk di semester 3 dan mengikuti kelas sejarah kolonial dan sejarah pergerakan nasional. Dalam momen-momen tersebut, salah satu dosen kami menawarkan roman Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer sebagai bacaan alternatif.

Kami diarahkan untuk menilik jiwa zaman era kolonial dan pergerakan nasional melalui penggambaran Pram dalam empat seri roman buatannya. Adapun Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca adalah judul-judul dari empat seri fenomenal tersebut. Setiap bagiannya membahas tentang perjalanan bapak pers nasional: Raden Mas Tirto Adhi Soerjo. Karya itu disusun Pram ketika ia berada dalam masa pengasingan bersama para tahanan politik Orde Baru di Pulau Buru, Maluku.

Menariknya, Tetralogi Buru adalah karya terlarang selama kekuasaan rezim ketakutan Orde Baru. Setiap bagian Tetralogi Buru selalu dilarang peredarannya oleh pemerintah. Belakangan, ketika Orde Reformasi mulai berjalan, karya ini mulai dicetak ulang dan diedarkan.

Saya sendiri pertama kali membaca Bumi Manusia sebagai seri pertama ketika tidak sengaja menemukannya di perpustakaan fakultas. Perjumpaan pertama dengan Bumi Manusia langsung membuat saya tertarik. Saya tidak berhenti memuji Pram saat membaca buku itu selama satu minggu. Ya, satu minggu. Batas periode peminjaman buku saat itu membuat saya dan Bumi Manusia hanya memiliki waktu 7 hari. Meski akhirnya roman itu habis dalam lima hari enam malam, saya jelas tidak puas hanya sampai di sana.

Ketertarikan dengan Bumi Manusia dan rasa penasaran akan seri-seri selanjutnya membangkitkan keinginan saya untuk memburu Tetralogi Pulau Buru. Saya harus memiliki Bumi Manusia, juga mendapatkan dan membaca habis Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Perjalanan kemudian dimulai dengan pencarian referensi toko-toko buku di Bali, mulai dari gerai-gerai offline hingga toko online, dari toko yang menjual buku baru hingga toko buku bekas.

Setelah mengumpulkan informasi keberadaan toko, menyusun rute perjalanan dan mengumpulkan uang, saya akhirnya memulai perburuan, perjalanan panjang yang tak pernah dibayangkan. Saya ingat betul ketika menyusuri shortcut Singaraja-Denpasar bersama seorang teman untuk mencari tetralogi di Gramedia dan Togamas.

Kami kemudian menyusuri Gramedia Bali Plaza, Gramedia MBG, dan Gramedia Tengku Umar, juga Togamas Hayam Wuruk. Semuanya demi Pram dan tetraloginya. Namun, pencarian hari itu berakhir ketika pihak Togamas menerangkan bahwa stok terakhir Tetralogi Buru terjual tiga bulan sebelumnya sementara pihak Gramedia menyatakan bahwa stok telah kosong di seluruh cabang Gramedia Bali.

Saya pun pulang dengan tangan kosong. Belakangan saya baru mengetahui bahwa terbitan terakhir Tetralogi Buru dicetak tahun 2018. Buku-buku ini juga memang sangat langka, sekalinya ada langsung habis tak tersisa.

Saya terpaksa mencari ke toko online dan pelelangan buku di Twitter. Hasilnya, mayoritas yang dijual adalah bajakan. Jumlah buku tetralogi asli bisa dihitung jari, itupun versi bekas dangan harga yang tak main-main. Satu paket Tetralogi Buru umumnya dijual dengan harga 2 juta hingga 6 juta rupiah, harga yang tidak ramah di kantong mahasiswa. Satu buku bahkan dibandrol dengan harga 400 ribu rupiah belum termasuk ongkir, angka yang masih terlalu mahal untuk kelas menengah ke bawah.

Pada bulan-bulan berikutnya, memasuki tahun 2023, saya mencoba mencari ke Ganesha Book Shop, Ubud. Awal masuk saya disuguhkan dengan buku-buku berbahasa Inggris sepanjang mata memandang. Ketika saya bertanya apakah ada buku Pram, saya langsung diarahkan ke pojok depan di sebelah pintu, bagian yang sebelumnya berada di belakang saya. Tanpa di duga, Ganesha Book Shop yang hanya berjarak 19 km dari rumah saya ternyata menjual buku Pram. Satu buah buku Bumi Manusia, tiga buah buku Jejak Langkah. Masing masing dijual seharga Rp 150 ribu.

Harga tersebut mungkin sedikit lebih mahal dari harga asli, terlebih yang dijual adalah buku bekas. Tetapi biar bagaimanapun ini adalah harta karun, paling tidak masih jauh di bawah Rp 400 ribu.

Karena saat itu kantong saya hanya berisi uang Rp 200 ribu, saya memutuskan untuk membeli Bumi Manusia. Saya berpikir bahwa belum saatnya membeli buku Jejak Langkah, lagipula saya belum memiliki buku Anak Semua Bangsa sebagai seri kedua. Saya berencana untuk membeli seri Jejak Langkah ketika sudah memiliki uang. Sambil menabung, saya melakukan bulan madu kedua dengan Bumi Manusia, membaca ulang roman indah itu, novel ke-2 saya.

Ya, saya jarang membaca novel sebelumnya. Satu-satunya novel yang saya baca sebelum Bumi Manusia adalah tulisan Gerson Poyk bertajuk Sang Guru. Membaca Bumi Manusia membangkitkan gairah saya untuk membaca karya fiksi. Saya membaca Bumi Manusia berulang kali untuk bertemu kembali dengan Minke, Anellies, Nyai Ontosoroh, dan yang lain. Menemukan kembali detail-detail kecil yang terlewat, tentang kelas sosial, pergundikan, dinamika masyarakat, pers, hingga perlawanan.

Setelah beberapa waktu, saya telah banyak mendapatkan informasi tambahan. Uang untuk membeli seri Jejak Langkah juga sudah cukup. Saya kemudian segara mencarinya, mencegah kalau-kalau seri itu juga habis terjual.

Siang hari, pada bulan-bulan akhir tahun 2023, saya berangkat dari rumah menuju Ubud, menuju Ganesha Bookshop. Saya berniat meminang seri Jejak Langkah. Namun, sesampainya di sana saya tidak menemukan apa yang saya cari. Setelah ditelusuri ternyata memang tidak ada. Naas, seri tersebut habis terjual. Buku yang sebelumnya tersisa tiga, dengan harga bekas Rp 150 ribu, habis tak tersisa.

Nampaknya diri ini memang terlalu meremehkan kelangkaan karya Pram. Di detik tersebut semua kesadaran akan kecerobohan muncul bersamaan. Ternyata saya bahkan tidak belajar dari buku Laut Bercerita, tidak belajar dari Biru Laut Wibisana. Wahai Pram, untuk bisa membaca karyamu sungguh serumit ini. Tetapi biar bagaimanapun perjalanan tetap berlanjut, walau sejauh ini masih tanpa arti.

Awal tahun 2024, saya kemudian berkesempatan mengunjungi Yogyakarta melalui program Kuliah Kerja Lapangan. Salah satu agenda pribadi saat itu adalah menemukan buku-buku Pram di toko-toko preloved. Bisa ditebak, lagi-lagi saya gagal atas beberapa sebab. Memasuki akhir tahun 2024, kabar burung beredar mengenai cetak ulang buku-buku Pram. Kabar yang belakangan dikonfirmasi penerbit Lentera Dipantara sebagai kebenaran. Spesial perayaan “Seabad Pram 2025” buku-buku akan dicetak ulang. Pada bulan februari, launching pun dilakukan di Blora, tempat kelahiran Pram. Disusul mulainya pre-order di platform-platform digital.

Saya tidak menyianyiakan kesempatan ini dan segera membeli sepaket Tetralogi Buru edisi khusus secara online. Setelah menunggu 18 hari, pesanan saya pun sampai. Tetralogi Buru yg telah lama saya buru. Namun, sementara masih banyak buku Pram yang belum dicetak ulang, RUU TNI disahkan. Buku Pram kembali dalam bayang-bayang pelarangan. [T]

Penulis: Teguh Wahyu Pranata
Editor: Adnyana Ole

Soesilo Toer, 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer, dan Cerita Tak Biasa  di UWRF 2024
Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer, Relasi Kuasa dan Perlawanan
Memantik Kesadaran Berbangsa Melalui Buku “Bumi Manusia”
Tags: Pramoedya Ananta ToersastraSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Fenomena Viralnya Selebriti Perempuan Suku Baduy

Next Post

Kembang Rampe dan Kebodohan yang Dipelihara

Teguh Wahyu Pranata

Teguh Wahyu Pranata

I Nengah Teguh Wahyu Pranata, lahir di Demulih, Susut, Bangli. Pecinta Sejarah, anak ideologis Multatuli. Memiliki ketertarikan dengan perempuan juga kronik-kronik peristiwa 65. Dapat ditemukan di Instagram sebagai teguh.inst.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Kembang Rampe dan Kebodohan yang Dipelihara

Kembang Rampe dan Kebodohan yang Dipelihara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co