23 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Fenomena Viralnya Selebriti Perempuan Suku Baduy

Asep Kurnia by Asep Kurnia
April 3, 2025
in Esai
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Asep Kurnia

SELEBGRAM dan Seleb TikTok, Youtuber atau sebutan keren lainnya bukanlah hal aneh dan menakjubkan di kalangan manusia-manusia modern penghamba popularitas, pencitraan dan pendulang cuan. Era digitalisasi memang sengaja diciptakan dan menyediakan ruang yang sangat luas bagi siapa pun untuk melakukan tindakan pencitraan sekaligus memviralkan diri atau kelompok demi mendapatkan nilai popularitas sekaligus mendapat insentif cuan yang tiba-tiba melimpah.

Dunia pencarian untuk mendapatkan uang sudah beralih secara sporadis dari sistem manual ke era digital. Sistem digital ini menjanjikan kemudahan, keefisienan dan keefektifan  dalam bertransaksi soal keuangan dan alur perdagangan (bisnis). Termasuk penjualan berita  (konten) dalam bentuk video singkat yang dijamin pembayaran oleh media sebagai pihak yang memiliki kewenangan dalam menentukan syarat dan kriteria yang sudah ditentukan dengan titik fokusnya pada berapa banyak subscribe dan like serta berapa banyak ditonton oleh netizenyang didapat dari penjualan konten tersebut.

Semakin banyak like dan subcribe (follower) didapat, maka semakin menjanjikan mendulang uang di luar ekspetasi dirinya. Bukan lagi di angka puluhan ribu rupiah tapi masuk di angka miliaran, sehingga banyak youtuber menjadi miliarder secara tiba-tiba (jadi sultan dadakan). Faktor profesional dan tinggi rendah sekolah bukan jadi ukuran dan jaminan bisa jadi seorang youtuberyang handal dan hamble. Hal terpenting bagi seorang youtuberadalah memiliki kejelian, kecerdikan, telenta khusus dalam membuat dan menyajikan sebuah konten yang bisa menarik para netizen untuk menjadi follower kontennya.

Pihak YouTube membuka secara vulgar apapun bisa dijadikan konten, YouTube tidak mempersoalkan konten tersebut bermoral atau tidaknya atau ada tidaknya value, yang penting konten tersebut bisa dinikmati dan digemari oleh netizen. Strategi memberi kebebasan berekspresi di Youtube tanpa membatasi status sosial adalah faktor yang kuat dan merangsang para netizen berlomba dan berduyun-duyun membuat konten tanpa pertimbangan moralitas yang sehat. Maka, hati-hatilah dunia digitalisasi telah menjadi sebuah hutan belantara yang menyeramkan dan bisa menjebak siapa pun manusia yang masuk pada pusarannya tanpa bisa kembali atau pulang dengan kondisi psikologis atau moralitas yang utuh.

Peralihan mencari uang dari sistem manual ke era digital ini dengan dibantu alat mempermudahnya berupa HP Android, maka virus menjadi selebgram dan tiktoker cepat menjalar ke setiap pelosok dunia dan lapisan masyarakat tanpa terkecuali termasuk ke wilayah komunitas adat yang notabene masih memegang erat hukum adat atau pikukuh leluhurnya. Suku Baduy adalah salah satu contoh faktual yang terkena dan terjebak oleh virus sistem digitalisasi (perubahan sistem manual ke era digital).

Ketidakberdayaan Menolak Gempuran Digitalisasi

Tak ada alasan dan argumentasi yang kuat dan meyakinkan bahwa Suku Baduy kini masih mampu menolak pembaharuan (modernisasi) terutama digitalisasi. Penggunaan HP yang begitu sporadis di kalangan warga Baduy dengan jumlah ribuan pemilik sekaligus pengguna/pemakai dan menjamurnya akun Facebook, Instagram, Tik tok, WhatsApp  anak-anak Baduy adalah fakta yang tidak terbantahkan bahwa warga Baduy sebagaian besar sedang melintasi moedernisasi dengan ditandai sudah tervirusi dan terjebak dalam pusaran digitalisasi bahkan di kekinian mereka sudah menikmati sistem digital.

Kini, pedoman suku Baduy melarang warganya mengikuti pendidikan dasar ber-Calistung sudah tidak lagi berlaku dan diindahkan oleh sebagian besar warga Baduy terutama oleh generasi mudanya, termasuk kaum perempuan yang dalam tatanan adat tidak diperkenankan untuk berinteraksi dan komunkasi secara vulgar dengan pihak luar.  

Pengaruh digitalisasi yang dibarengi oleh intensifnya interaksi antara warga Baduy dengan pengunjung wisata budaya Baduy dan dalam rangka memenuhi azas kebutuhan kesejahteraan finansial telah ikut menyumbang terjadinya percepatan perubahan sosial di suku Baduy.  Maka, kekinian suku Baduy sudah tidak bisa lagi mengela dan menolak atau melarang warganya untuk tidak masuk pada pusaran sistem era digital.

Para tokoh adat pun sudah berulang kali menyatakan “ketidakberdayaannya menahan gempuran modernisasi melalui digitalisasi”, walaupun terus berupaya untuk tetap meminimalisasi malapetaka terjadinya degradasi moral akibat terjebak digitalisasi. Para tokoh adat sudah merasa kewalahan atas gempuran teknologi komunikasi yang terus mengacak-acak bahkan mulai membunuh budaya lokal mereka.

Mereka sudah sangat khawatir di komunitas adat Baduy akan terjadinya perubahan dan perombakan budaya  (gegar budaya),   atau akan terjadinya perubahan sosial yang sporadis bahkan bisa terjadi apa yang disebut “Kekacauan dan Kebrutalan Sosial” yang tidak bisa lagi dikendalikan. Situasi itu sejalan dengan pendapat Prof. Dr.Alo Liliweri, M.Si di buku karya Prof Sihabudin berjudul Technotronic Etnocide, “Media social dan Teknologi Elektonik (digital) Sebagai Pembunuh Kebudayaan“.

Pengaruh digitalisasi sudah jauh merambah ke semua lapisan masyarakat Baduy tanpa terkecuali. Mulai dari orang dewasa sampai anak-anak, kaum laki-laki dan perempuan, warga Baduy Luar sampai warga Baduy Dalam, warga biasa sampai tokoh adat tertentu pun sudah masuk pada pusaran ikutan menikmati era digital yang menjanjikan berbagai kemudahan dan kebermanfaatannya.

Namun, di balik pengaruh positif yang mereka rasakan muncul pula pengaruh negatif yang ternyata lebih besar dampaknya pada percepatan penggerusan nilai-nilai luhur adat dan budaya mereka. Seratus delapan puluh persen pengaruh digitalisasi telah menggeser perilaku kaum perempuan muda Baduy yang dulunya budaya menutup diri, lugu, sederhana penampilan dan menghindar dari berbagai interaksi, kini menjadi penjemput interaksi, memburu  ketenaran dan popularitas bahkan berlomba ingin menjadi selebriti dan publik figur yang dikenal dan diminati publik atau para netizen.

Keberanian memposting diri dengan berbagai pose foto yang eksotis nyentrik dan memposting berbagai rahasia budaya perempuan Baduy di media sosial telah mengakibatkan perempuan Baduy menjadi bahan ekploitasi yang empuk oleh pihak-pihak yang kurang bertanggungjawab.

Mungkin dengan dibungkus alasan dan beberapa paradigma yang menganggap itu sebagai bentuk mempromosikan Baduy ke ruang publik, sehingga bentuk pengeksploitasian gadis-gadis Baduy oleh berbagai pihak menjadi lolos sensor para tokoh adat. Tapi nyata-nyatanya banyak yang hanya mengambil keuntungan (konten, tambahnya viewer, dapat finasial dengan mudah dll), etika memperlakukan kebudayaan yang pantas dan bertanggungjawab nyaris tidak ada dan tidak dilakukan.

Para pengeksploitasi lupa bahwa Suku Baduy memiliki kearifan lokal (local wisdom) yang harus dijaga dan diselamatkan keutuhannya. Inilah sisi negatif yang berdampak pada tuduhan bahwa Baduy sekarang tidak lagi merupakan suku yang patuh pada hukum adat menghindari atau menolak modernisasi.

Pengeksploitasian kaum perempuan Baduy oleh pihak yang hanya mencari keuntungan semakin menjadi-jadi dan sudah melampaui batas kewajaran. Mengajak dan membawa gadis perempuan Baduy untuk membuat konten di mall, di tempat modern pusat kota dan memperkenalkan pola hidup pemodernan apapun alasannya adalah contoh dan fakta bahwa mereka telah dengan sengaja meracuni mental anak-anak perempuan Baduy untuk melanggar hukum adat mereka dan menggeser moralitas generasi muda kaum perempuan Baduy untuk melintasi modernisasi.

Muncul Diksi Selebgram dan Artis Baduy

Kebebasan perilaku kaum perempuan Baduy yang sepertinya tidak terkontrol di media sosial dan teknologi elektronik, ditambah dengan pembiaran yang terlalu lama terhadap para pelanggar-pelanggar hukum adat yang melintasi modernisasi, menyebabkan hebitasi memposting apa yang kurang pantas diposting menjadi pembiasaan diri dan dianggap perilaku tersebut tidak merugikan masa depan adat budaya mereka.

Dari data yang ada, kaum muda perempuan Baduy sudah biasa menggunakan media sosial untuk memposting berbagai kejadian termasuk curhatan pribadi. Dan efek domino postingan berupa konten atau video singkat tersebut mengakibatkan banyak follower sehingga menjadi viral dan terkenal. Di sisi lain dengan seringnya mem-publish konten dan viral, Youtube memberi konpensasi finansial yang cukup mengagetkan dan menggiurkan (menghasilkan uang). Akhirnya gadis muda Baduy yang berparas cantik menjadi selebriti, ketagihan untuk terus mem-publish dirinya karena merasa dapat berbagai keuntungan dan penghasilan.

Postingan mereka dapat tanggapan berbagai pihak terutama para follower dengan sebutan Artis Baduy, Selebgram Baduy, Tiktoker Baduy, Selebriti Baduy, dan sebutan Youtuber Baduy. Nama Sari Dewi mengawali popular di medsos, kemudian diikuti oleh Rumsah dan yang kini sedang melejit atau viral adalah Sarti. Itu nama-nama perempuan Baduy yang mampu mendomisasi kepopuleran di medsos. Nama-nama lainnya ada dan muncul tetapi tidak seviral ketiga nama di atas.

Kepopuleran gadis Baduy tersebut tidak terjadi secara alamiah tapi berkat ikut campurnya para penggiat medsos (channel) yang membantu mengekpos mereka dengan konten yang dibuatnya. Akhirnya munculah sosok yang diidentikkan sebagai Selebgram Baduy, Artis Baduy, Tiktoker Baduy dan Youtber Baduy.

Apa pun yang mereka lakukan adalah hak prerogatif mereka, termasuk kaum perempuan Baduy yang kini sedang melintasi moderninasi dan melibatkan diri menjadi publik figur melalui medsos lalu menjadi Selebgram dan Youtuber yang top dan viral. Kita tidak bisa menjustifikasi itu semua adalah kesalahan atau pelanggaran. Merekalah yang lebih tahu dan faham mengapa mereka sudah berani melalukan tindakan tersebut.  Kita juga tidak berkompeten untuk melarang dan mengatur-atur kehidupan mereka, mereka memilih pola hidup seperti itu adalah haknya dengan segala konsekuensinya.

Sudut pandang kita dan sudut pandang mereka berbeda dalam memaknai dinamisasi perubahan yang terjadi di suku Baduy. Kita hanya bisa melihat, dampak apa yang akan terjadi di masa depan kehidupan mereka. [T]

Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole

  • BACA esai-esai tentang BADUY
  • BACA esai-esai lain dari penulis ASEP KURNIA
Mitos Liar Baduy 40 “Suhunan”
Narman, Sang “Entrepreneur” Etnis Baduy
Para Pejuang dan Pengabdi Suku Baduy
Sekilas Informasi Wisata  Saba Budaya  Baduy
Pengabdi Suku Baduy: Dua Tahun Ditolak, Kini Disayangi
Tags: masyarakat adatSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ogoh-Ogoh Makin Gagah | Catatan Usai Nyepi

Next Post

Perjalanan Berburu Tetralogi Pulau Buru

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Perjalanan Berburu Tetralogi Pulau Buru

Perjalanan Berburu Tetralogi Pulau Buru

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co