3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Fenomena Viralnya Selebriti Perempuan Suku Baduy

Asep Kurnia by Asep Kurnia
April 3, 2025
in Esai
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Asep Kurnia

SELEBGRAM dan Seleb TikTok, Youtuber atau sebutan keren lainnya bukanlah hal aneh dan menakjubkan di kalangan manusia-manusia modern penghamba popularitas, pencitraan dan pendulang cuan. Era digitalisasi memang sengaja diciptakan dan menyediakan ruang yang sangat luas bagi siapa pun untuk melakukan tindakan pencitraan sekaligus memviralkan diri atau kelompok demi mendapatkan nilai popularitas sekaligus mendapat insentif cuan yang tiba-tiba melimpah.

Dunia pencarian untuk mendapatkan uang sudah beralih secara sporadis dari sistem manual ke era digital. Sistem digital ini menjanjikan kemudahan, keefisienan dan keefektifan  dalam bertransaksi soal keuangan dan alur perdagangan (bisnis). Termasuk penjualan berita  (konten) dalam bentuk video singkat yang dijamin pembayaran oleh media sebagai pihak yang memiliki kewenangan dalam menentukan syarat dan kriteria yang sudah ditentukan dengan titik fokusnya pada berapa banyak subscribe dan like serta berapa banyak ditonton oleh netizenyang didapat dari penjualan konten tersebut.

Semakin banyak like dan subcribe (follower) didapat, maka semakin menjanjikan mendulang uang di luar ekspetasi dirinya. Bukan lagi di angka puluhan ribu rupiah tapi masuk di angka miliaran, sehingga banyak youtuber menjadi miliarder secara tiba-tiba (jadi sultan dadakan). Faktor profesional dan tinggi rendah sekolah bukan jadi ukuran dan jaminan bisa jadi seorang youtuberyang handal dan hamble. Hal terpenting bagi seorang youtuberadalah memiliki kejelian, kecerdikan, telenta khusus dalam membuat dan menyajikan sebuah konten yang bisa menarik para netizen untuk menjadi follower kontennya.

Pihak YouTube membuka secara vulgar apapun bisa dijadikan konten, YouTube tidak mempersoalkan konten tersebut bermoral atau tidaknya atau ada tidaknya value, yang penting konten tersebut bisa dinikmati dan digemari oleh netizen. Strategi memberi kebebasan berekspresi di Youtube tanpa membatasi status sosial adalah faktor yang kuat dan merangsang para netizen berlomba dan berduyun-duyun membuat konten tanpa pertimbangan moralitas yang sehat. Maka, hati-hatilah dunia digitalisasi telah menjadi sebuah hutan belantara yang menyeramkan dan bisa menjebak siapa pun manusia yang masuk pada pusarannya tanpa bisa kembali atau pulang dengan kondisi psikologis atau moralitas yang utuh.

Peralihan mencari uang dari sistem manual ke era digital ini dengan dibantu alat mempermudahnya berupa HP Android, maka virus menjadi selebgram dan tiktoker cepat menjalar ke setiap pelosok dunia dan lapisan masyarakat tanpa terkecuali termasuk ke wilayah komunitas adat yang notabene masih memegang erat hukum adat atau pikukuh leluhurnya. Suku Baduy adalah salah satu contoh faktual yang terkena dan terjebak oleh virus sistem digitalisasi (perubahan sistem manual ke era digital).

Ketidakberdayaan Menolak Gempuran Digitalisasi

Tak ada alasan dan argumentasi yang kuat dan meyakinkan bahwa Suku Baduy kini masih mampu menolak pembaharuan (modernisasi) terutama digitalisasi. Penggunaan HP yang begitu sporadis di kalangan warga Baduy dengan jumlah ribuan pemilik sekaligus pengguna/pemakai dan menjamurnya akun Facebook, Instagram, Tik tok, WhatsApp  anak-anak Baduy adalah fakta yang tidak terbantahkan bahwa warga Baduy sebagaian besar sedang melintasi moedernisasi dengan ditandai sudah tervirusi dan terjebak dalam pusaran digitalisasi bahkan di kekinian mereka sudah menikmati sistem digital.

Kini, pedoman suku Baduy melarang warganya mengikuti pendidikan dasar ber-Calistung sudah tidak lagi berlaku dan diindahkan oleh sebagian besar warga Baduy terutama oleh generasi mudanya, termasuk kaum perempuan yang dalam tatanan adat tidak diperkenankan untuk berinteraksi dan komunkasi secara vulgar dengan pihak luar.  

Pengaruh digitalisasi yang dibarengi oleh intensifnya interaksi antara warga Baduy dengan pengunjung wisata budaya Baduy dan dalam rangka memenuhi azas kebutuhan kesejahteraan finansial telah ikut menyumbang terjadinya percepatan perubahan sosial di suku Baduy.  Maka, kekinian suku Baduy sudah tidak bisa lagi mengela dan menolak atau melarang warganya untuk tidak masuk pada pusaran sistem era digital.

Para tokoh adat pun sudah berulang kali menyatakan “ketidakberdayaannya menahan gempuran modernisasi melalui digitalisasi”, walaupun terus berupaya untuk tetap meminimalisasi malapetaka terjadinya degradasi moral akibat terjebak digitalisasi. Para tokoh adat sudah merasa kewalahan atas gempuran teknologi komunikasi yang terus mengacak-acak bahkan mulai membunuh budaya lokal mereka.

Mereka sudah sangat khawatir di komunitas adat Baduy akan terjadinya perubahan dan perombakan budaya  (gegar budaya),   atau akan terjadinya perubahan sosial yang sporadis bahkan bisa terjadi apa yang disebut “Kekacauan dan Kebrutalan Sosial” yang tidak bisa lagi dikendalikan. Situasi itu sejalan dengan pendapat Prof. Dr.Alo Liliweri, M.Si di buku karya Prof Sihabudin berjudul Technotronic Etnocide, “Media social dan Teknologi Elektonik (digital) Sebagai Pembunuh Kebudayaan“.

Pengaruh digitalisasi sudah jauh merambah ke semua lapisan masyarakat Baduy tanpa terkecuali. Mulai dari orang dewasa sampai anak-anak, kaum laki-laki dan perempuan, warga Baduy Luar sampai warga Baduy Dalam, warga biasa sampai tokoh adat tertentu pun sudah masuk pada pusaran ikutan menikmati era digital yang menjanjikan berbagai kemudahan dan kebermanfaatannya.

Namun, di balik pengaruh positif yang mereka rasakan muncul pula pengaruh negatif yang ternyata lebih besar dampaknya pada percepatan penggerusan nilai-nilai luhur adat dan budaya mereka. Seratus delapan puluh persen pengaruh digitalisasi telah menggeser perilaku kaum perempuan muda Baduy yang dulunya budaya menutup diri, lugu, sederhana penampilan dan menghindar dari berbagai interaksi, kini menjadi penjemput interaksi, memburu  ketenaran dan popularitas bahkan berlomba ingin menjadi selebriti dan publik figur yang dikenal dan diminati publik atau para netizen.

Keberanian memposting diri dengan berbagai pose foto yang eksotis nyentrik dan memposting berbagai rahasia budaya perempuan Baduy di media sosial telah mengakibatkan perempuan Baduy menjadi bahan ekploitasi yang empuk oleh pihak-pihak yang kurang bertanggungjawab.

Mungkin dengan dibungkus alasan dan beberapa paradigma yang menganggap itu sebagai bentuk mempromosikan Baduy ke ruang publik, sehingga bentuk pengeksploitasian gadis-gadis Baduy oleh berbagai pihak menjadi lolos sensor para tokoh adat. Tapi nyata-nyatanya banyak yang hanya mengambil keuntungan (konten, tambahnya viewer, dapat finasial dengan mudah dll), etika memperlakukan kebudayaan yang pantas dan bertanggungjawab nyaris tidak ada dan tidak dilakukan.

Para pengeksploitasi lupa bahwa Suku Baduy memiliki kearifan lokal (local wisdom) yang harus dijaga dan diselamatkan keutuhannya. Inilah sisi negatif yang berdampak pada tuduhan bahwa Baduy sekarang tidak lagi merupakan suku yang patuh pada hukum adat menghindari atau menolak modernisasi.

Pengeksploitasian kaum perempuan Baduy oleh pihak yang hanya mencari keuntungan semakin menjadi-jadi dan sudah melampaui batas kewajaran. Mengajak dan membawa gadis perempuan Baduy untuk membuat konten di mall, di tempat modern pusat kota dan memperkenalkan pola hidup pemodernan apapun alasannya adalah contoh dan fakta bahwa mereka telah dengan sengaja meracuni mental anak-anak perempuan Baduy untuk melanggar hukum adat mereka dan menggeser moralitas generasi muda kaum perempuan Baduy untuk melintasi modernisasi.

Muncul Diksi Selebgram dan Artis Baduy

Kebebasan perilaku kaum perempuan Baduy yang sepertinya tidak terkontrol di media sosial dan teknologi elektronik, ditambah dengan pembiaran yang terlalu lama terhadap para pelanggar-pelanggar hukum adat yang melintasi modernisasi, menyebabkan hebitasi memposting apa yang kurang pantas diposting menjadi pembiasaan diri dan dianggap perilaku tersebut tidak merugikan masa depan adat budaya mereka.

Dari data yang ada, kaum muda perempuan Baduy sudah biasa menggunakan media sosial untuk memposting berbagai kejadian termasuk curhatan pribadi. Dan efek domino postingan berupa konten atau video singkat tersebut mengakibatkan banyak follower sehingga menjadi viral dan terkenal. Di sisi lain dengan seringnya mem-publish konten dan viral, Youtube memberi konpensasi finansial yang cukup mengagetkan dan menggiurkan (menghasilkan uang). Akhirnya gadis muda Baduy yang berparas cantik menjadi selebriti, ketagihan untuk terus mem-publish dirinya karena merasa dapat berbagai keuntungan dan penghasilan.

Postingan mereka dapat tanggapan berbagai pihak terutama para follower dengan sebutan Artis Baduy, Selebgram Baduy, Tiktoker Baduy, Selebriti Baduy, dan sebutan Youtuber Baduy. Nama Sari Dewi mengawali popular di medsos, kemudian diikuti oleh Rumsah dan yang kini sedang melejit atau viral adalah Sarti. Itu nama-nama perempuan Baduy yang mampu mendomisasi kepopuleran di medsos. Nama-nama lainnya ada dan muncul tetapi tidak seviral ketiga nama di atas.

Kepopuleran gadis Baduy tersebut tidak terjadi secara alamiah tapi berkat ikut campurnya para penggiat medsos (channel) yang membantu mengekpos mereka dengan konten yang dibuatnya. Akhirnya munculah sosok yang diidentikkan sebagai Selebgram Baduy, Artis Baduy, Tiktoker Baduy dan Youtber Baduy.

Apa pun yang mereka lakukan adalah hak prerogatif mereka, termasuk kaum perempuan Baduy yang kini sedang melintasi moderninasi dan melibatkan diri menjadi publik figur melalui medsos lalu menjadi Selebgram dan Youtuber yang top dan viral. Kita tidak bisa menjustifikasi itu semua adalah kesalahan atau pelanggaran. Merekalah yang lebih tahu dan faham mengapa mereka sudah berani melalukan tindakan tersebut.  Kita juga tidak berkompeten untuk melarang dan mengatur-atur kehidupan mereka, mereka memilih pola hidup seperti itu adalah haknya dengan segala konsekuensinya.

Sudut pandang kita dan sudut pandang mereka berbeda dalam memaknai dinamisasi perubahan yang terjadi di suku Baduy. Kita hanya bisa melihat, dampak apa yang akan terjadi di masa depan kehidupan mereka. [T]

Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole

  • BACA esai-esai tentang BADUY
  • BACA esai-esai lain dari penulis ASEP KURNIA
Mitos Liar Baduy 40 “Suhunan”
Narman, Sang “Entrepreneur” Etnis Baduy
Para Pejuang dan Pengabdi Suku Baduy
Sekilas Informasi Wisata  Saba Budaya  Baduy
Pengabdi Suku Baduy: Dua Tahun Ditolak, Kini Disayangi
Tags: masyarakat adatSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ogoh-Ogoh Makin Gagah | Catatan Usai Nyepi

Next Post

Perjalanan Berburu Tetralogi Pulau Buru

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Perjalanan Berburu Tetralogi Pulau Buru

Perjalanan Berburu Tetralogi Pulau Buru

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co