2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Fenomena Viralnya Selebriti Perempuan Suku Baduy

Asep Kurnia by Asep Kurnia
April 3, 2025
in Esai
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Asep Kurnia

SELEBGRAM dan Seleb TikTok, Youtuber atau sebutan keren lainnya bukanlah hal aneh dan menakjubkan di kalangan manusia-manusia modern penghamba popularitas, pencitraan dan pendulang cuan. Era digitalisasi memang sengaja diciptakan dan menyediakan ruang yang sangat luas bagi siapa pun untuk melakukan tindakan pencitraan sekaligus memviralkan diri atau kelompok demi mendapatkan nilai popularitas sekaligus mendapat insentif cuan yang tiba-tiba melimpah.

Dunia pencarian untuk mendapatkan uang sudah beralih secara sporadis dari sistem manual ke era digital. Sistem digital ini menjanjikan kemudahan, keefisienan dan keefektifan  dalam bertransaksi soal keuangan dan alur perdagangan (bisnis). Termasuk penjualan berita  (konten) dalam bentuk video singkat yang dijamin pembayaran oleh media sebagai pihak yang memiliki kewenangan dalam menentukan syarat dan kriteria yang sudah ditentukan dengan titik fokusnya pada berapa banyak subscribe dan like serta berapa banyak ditonton oleh netizenyang didapat dari penjualan konten tersebut.

Semakin banyak like dan subcribe (follower) didapat, maka semakin menjanjikan mendulang uang di luar ekspetasi dirinya. Bukan lagi di angka puluhan ribu rupiah tapi masuk di angka miliaran, sehingga banyak youtuber menjadi miliarder secara tiba-tiba (jadi sultan dadakan). Faktor profesional dan tinggi rendah sekolah bukan jadi ukuran dan jaminan bisa jadi seorang youtuberyang handal dan hamble. Hal terpenting bagi seorang youtuberadalah memiliki kejelian, kecerdikan, telenta khusus dalam membuat dan menyajikan sebuah konten yang bisa menarik para netizen untuk menjadi follower kontennya.

Pihak YouTube membuka secara vulgar apapun bisa dijadikan konten, YouTube tidak mempersoalkan konten tersebut bermoral atau tidaknya atau ada tidaknya value, yang penting konten tersebut bisa dinikmati dan digemari oleh netizen. Strategi memberi kebebasan berekspresi di Youtube tanpa membatasi status sosial adalah faktor yang kuat dan merangsang para netizen berlomba dan berduyun-duyun membuat konten tanpa pertimbangan moralitas yang sehat. Maka, hati-hatilah dunia digitalisasi telah menjadi sebuah hutan belantara yang menyeramkan dan bisa menjebak siapa pun manusia yang masuk pada pusarannya tanpa bisa kembali atau pulang dengan kondisi psikologis atau moralitas yang utuh.

Peralihan mencari uang dari sistem manual ke era digital ini dengan dibantu alat mempermudahnya berupa HP Android, maka virus menjadi selebgram dan tiktoker cepat menjalar ke setiap pelosok dunia dan lapisan masyarakat tanpa terkecuali termasuk ke wilayah komunitas adat yang notabene masih memegang erat hukum adat atau pikukuh leluhurnya. Suku Baduy adalah salah satu contoh faktual yang terkena dan terjebak oleh virus sistem digitalisasi (perubahan sistem manual ke era digital).

Ketidakberdayaan Menolak Gempuran Digitalisasi

Tak ada alasan dan argumentasi yang kuat dan meyakinkan bahwa Suku Baduy kini masih mampu menolak pembaharuan (modernisasi) terutama digitalisasi. Penggunaan HP yang begitu sporadis di kalangan warga Baduy dengan jumlah ribuan pemilik sekaligus pengguna/pemakai dan menjamurnya akun Facebook, Instagram, Tik tok, WhatsApp  anak-anak Baduy adalah fakta yang tidak terbantahkan bahwa warga Baduy sebagaian besar sedang melintasi moedernisasi dengan ditandai sudah tervirusi dan terjebak dalam pusaran digitalisasi bahkan di kekinian mereka sudah menikmati sistem digital.

Kini, pedoman suku Baduy melarang warganya mengikuti pendidikan dasar ber-Calistung sudah tidak lagi berlaku dan diindahkan oleh sebagian besar warga Baduy terutama oleh generasi mudanya, termasuk kaum perempuan yang dalam tatanan adat tidak diperkenankan untuk berinteraksi dan komunkasi secara vulgar dengan pihak luar.  

Pengaruh digitalisasi yang dibarengi oleh intensifnya interaksi antara warga Baduy dengan pengunjung wisata budaya Baduy dan dalam rangka memenuhi azas kebutuhan kesejahteraan finansial telah ikut menyumbang terjadinya percepatan perubahan sosial di suku Baduy.  Maka, kekinian suku Baduy sudah tidak bisa lagi mengela dan menolak atau melarang warganya untuk tidak masuk pada pusaran sistem era digital.

Para tokoh adat pun sudah berulang kali menyatakan “ketidakberdayaannya menahan gempuran modernisasi melalui digitalisasi”, walaupun terus berupaya untuk tetap meminimalisasi malapetaka terjadinya degradasi moral akibat terjebak digitalisasi. Para tokoh adat sudah merasa kewalahan atas gempuran teknologi komunikasi yang terus mengacak-acak bahkan mulai membunuh budaya lokal mereka.

Mereka sudah sangat khawatir di komunitas adat Baduy akan terjadinya perubahan dan perombakan budaya  (gegar budaya),   atau akan terjadinya perubahan sosial yang sporadis bahkan bisa terjadi apa yang disebut “Kekacauan dan Kebrutalan Sosial” yang tidak bisa lagi dikendalikan. Situasi itu sejalan dengan pendapat Prof. Dr.Alo Liliweri, M.Si di buku karya Prof Sihabudin berjudul Technotronic Etnocide, “Media social dan Teknologi Elektonik (digital) Sebagai Pembunuh Kebudayaan“.

Pengaruh digitalisasi sudah jauh merambah ke semua lapisan masyarakat Baduy tanpa terkecuali. Mulai dari orang dewasa sampai anak-anak, kaum laki-laki dan perempuan, warga Baduy Luar sampai warga Baduy Dalam, warga biasa sampai tokoh adat tertentu pun sudah masuk pada pusaran ikutan menikmati era digital yang menjanjikan berbagai kemudahan dan kebermanfaatannya.

Namun, di balik pengaruh positif yang mereka rasakan muncul pula pengaruh negatif yang ternyata lebih besar dampaknya pada percepatan penggerusan nilai-nilai luhur adat dan budaya mereka. Seratus delapan puluh persen pengaruh digitalisasi telah menggeser perilaku kaum perempuan muda Baduy yang dulunya budaya menutup diri, lugu, sederhana penampilan dan menghindar dari berbagai interaksi, kini menjadi penjemput interaksi, memburu  ketenaran dan popularitas bahkan berlomba ingin menjadi selebriti dan publik figur yang dikenal dan diminati publik atau para netizen.

Keberanian memposting diri dengan berbagai pose foto yang eksotis nyentrik dan memposting berbagai rahasia budaya perempuan Baduy di media sosial telah mengakibatkan perempuan Baduy menjadi bahan ekploitasi yang empuk oleh pihak-pihak yang kurang bertanggungjawab.

Mungkin dengan dibungkus alasan dan beberapa paradigma yang menganggap itu sebagai bentuk mempromosikan Baduy ke ruang publik, sehingga bentuk pengeksploitasian gadis-gadis Baduy oleh berbagai pihak menjadi lolos sensor para tokoh adat. Tapi nyata-nyatanya banyak yang hanya mengambil keuntungan (konten, tambahnya viewer, dapat finasial dengan mudah dll), etika memperlakukan kebudayaan yang pantas dan bertanggungjawab nyaris tidak ada dan tidak dilakukan.

Para pengeksploitasi lupa bahwa Suku Baduy memiliki kearifan lokal (local wisdom) yang harus dijaga dan diselamatkan keutuhannya. Inilah sisi negatif yang berdampak pada tuduhan bahwa Baduy sekarang tidak lagi merupakan suku yang patuh pada hukum adat menghindari atau menolak modernisasi.

Pengeksploitasian kaum perempuan Baduy oleh pihak yang hanya mencari keuntungan semakin menjadi-jadi dan sudah melampaui batas kewajaran. Mengajak dan membawa gadis perempuan Baduy untuk membuat konten di mall, di tempat modern pusat kota dan memperkenalkan pola hidup pemodernan apapun alasannya adalah contoh dan fakta bahwa mereka telah dengan sengaja meracuni mental anak-anak perempuan Baduy untuk melanggar hukum adat mereka dan menggeser moralitas generasi muda kaum perempuan Baduy untuk melintasi modernisasi.

Muncul Diksi Selebgram dan Artis Baduy

Kebebasan perilaku kaum perempuan Baduy yang sepertinya tidak terkontrol di media sosial dan teknologi elektronik, ditambah dengan pembiaran yang terlalu lama terhadap para pelanggar-pelanggar hukum adat yang melintasi modernisasi, menyebabkan hebitasi memposting apa yang kurang pantas diposting menjadi pembiasaan diri dan dianggap perilaku tersebut tidak merugikan masa depan adat budaya mereka.

Dari data yang ada, kaum muda perempuan Baduy sudah biasa menggunakan media sosial untuk memposting berbagai kejadian termasuk curhatan pribadi. Dan efek domino postingan berupa konten atau video singkat tersebut mengakibatkan banyak follower sehingga menjadi viral dan terkenal. Di sisi lain dengan seringnya mem-publish konten dan viral, Youtube memberi konpensasi finansial yang cukup mengagetkan dan menggiurkan (menghasilkan uang). Akhirnya gadis muda Baduy yang berparas cantik menjadi selebriti, ketagihan untuk terus mem-publish dirinya karena merasa dapat berbagai keuntungan dan penghasilan.

Postingan mereka dapat tanggapan berbagai pihak terutama para follower dengan sebutan Artis Baduy, Selebgram Baduy, Tiktoker Baduy, Selebriti Baduy, dan sebutan Youtuber Baduy. Nama Sari Dewi mengawali popular di medsos, kemudian diikuti oleh Rumsah dan yang kini sedang melejit atau viral adalah Sarti. Itu nama-nama perempuan Baduy yang mampu mendomisasi kepopuleran di medsos. Nama-nama lainnya ada dan muncul tetapi tidak seviral ketiga nama di atas.

Kepopuleran gadis Baduy tersebut tidak terjadi secara alamiah tapi berkat ikut campurnya para penggiat medsos (channel) yang membantu mengekpos mereka dengan konten yang dibuatnya. Akhirnya munculah sosok yang diidentikkan sebagai Selebgram Baduy, Artis Baduy, Tiktoker Baduy dan Youtber Baduy.

Apa pun yang mereka lakukan adalah hak prerogatif mereka, termasuk kaum perempuan Baduy yang kini sedang melintasi moderninasi dan melibatkan diri menjadi publik figur melalui medsos lalu menjadi Selebgram dan Youtuber yang top dan viral. Kita tidak bisa menjustifikasi itu semua adalah kesalahan atau pelanggaran. Merekalah yang lebih tahu dan faham mengapa mereka sudah berani melalukan tindakan tersebut.  Kita juga tidak berkompeten untuk melarang dan mengatur-atur kehidupan mereka, mereka memilih pola hidup seperti itu adalah haknya dengan segala konsekuensinya.

Sudut pandang kita dan sudut pandang mereka berbeda dalam memaknai dinamisasi perubahan yang terjadi di suku Baduy. Kita hanya bisa melihat, dampak apa yang akan terjadi di masa depan kehidupan mereka. [T]

Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole

  • BACA esai-esai tentang BADUY
  • BACA esai-esai lain dari penulis ASEP KURNIA
Mitos Liar Baduy 40 “Suhunan”
Narman, Sang “Entrepreneur” Etnis Baduy
Para Pejuang dan Pengabdi Suku Baduy
Sekilas Informasi Wisata  Saba Budaya  Baduy
Pengabdi Suku Baduy: Dua Tahun Ditolak, Kini Disayangi
Tags: masyarakat adatSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ogoh-Ogoh Makin Gagah | Catatan Usai Nyepi

Next Post

Perjalanan Berburu Tetralogi Pulau Buru

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Perjalanan Berburu Tetralogi Pulau Buru

Perjalanan Berburu Tetralogi Pulau Buru

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co