13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Fenomena Viralnya Selebriti Perempuan Suku Baduy

Asep Kurnia by Asep Kurnia
April 3, 2025
in Esai
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Asep Kurnia

SELEBGRAM dan Seleb TikTok, Youtuber atau sebutan keren lainnya bukanlah hal aneh dan menakjubkan di kalangan manusia-manusia modern penghamba popularitas, pencitraan dan pendulang cuan. Era digitalisasi memang sengaja diciptakan dan menyediakan ruang yang sangat luas bagi siapa pun untuk melakukan tindakan pencitraan sekaligus memviralkan diri atau kelompok demi mendapatkan nilai popularitas sekaligus mendapat insentif cuan yang tiba-tiba melimpah.

Dunia pencarian untuk mendapatkan uang sudah beralih secara sporadis dari sistem manual ke era digital. Sistem digital ini menjanjikan kemudahan, keefisienan dan keefektifan  dalam bertransaksi soal keuangan dan alur perdagangan (bisnis). Termasuk penjualan berita  (konten) dalam bentuk video singkat yang dijamin pembayaran oleh media sebagai pihak yang memiliki kewenangan dalam menentukan syarat dan kriteria yang sudah ditentukan dengan titik fokusnya pada berapa banyak subscribe dan like serta berapa banyak ditonton oleh netizenyang didapat dari penjualan konten tersebut.

Semakin banyak like dan subcribe (follower) didapat, maka semakin menjanjikan mendulang uang di luar ekspetasi dirinya. Bukan lagi di angka puluhan ribu rupiah tapi masuk di angka miliaran, sehingga banyak youtuber menjadi miliarder secara tiba-tiba (jadi sultan dadakan). Faktor profesional dan tinggi rendah sekolah bukan jadi ukuran dan jaminan bisa jadi seorang youtuberyang handal dan hamble. Hal terpenting bagi seorang youtuberadalah memiliki kejelian, kecerdikan, telenta khusus dalam membuat dan menyajikan sebuah konten yang bisa menarik para netizen untuk menjadi follower kontennya.

Pihak YouTube membuka secara vulgar apapun bisa dijadikan konten, YouTube tidak mempersoalkan konten tersebut bermoral atau tidaknya atau ada tidaknya value, yang penting konten tersebut bisa dinikmati dan digemari oleh netizen. Strategi memberi kebebasan berekspresi di Youtube tanpa membatasi status sosial adalah faktor yang kuat dan merangsang para netizen berlomba dan berduyun-duyun membuat konten tanpa pertimbangan moralitas yang sehat. Maka, hati-hatilah dunia digitalisasi telah menjadi sebuah hutan belantara yang menyeramkan dan bisa menjebak siapa pun manusia yang masuk pada pusarannya tanpa bisa kembali atau pulang dengan kondisi psikologis atau moralitas yang utuh.

Peralihan mencari uang dari sistem manual ke era digital ini dengan dibantu alat mempermudahnya berupa HP Android, maka virus menjadi selebgram dan tiktoker cepat menjalar ke setiap pelosok dunia dan lapisan masyarakat tanpa terkecuali termasuk ke wilayah komunitas adat yang notabene masih memegang erat hukum adat atau pikukuh leluhurnya. Suku Baduy adalah salah satu contoh faktual yang terkena dan terjebak oleh virus sistem digitalisasi (perubahan sistem manual ke era digital).

Ketidakberdayaan Menolak Gempuran Digitalisasi

Tak ada alasan dan argumentasi yang kuat dan meyakinkan bahwa Suku Baduy kini masih mampu menolak pembaharuan (modernisasi) terutama digitalisasi. Penggunaan HP yang begitu sporadis di kalangan warga Baduy dengan jumlah ribuan pemilik sekaligus pengguna/pemakai dan menjamurnya akun Facebook, Instagram, Tik tok, WhatsApp  anak-anak Baduy adalah fakta yang tidak terbantahkan bahwa warga Baduy sebagaian besar sedang melintasi moedernisasi dengan ditandai sudah tervirusi dan terjebak dalam pusaran digitalisasi bahkan di kekinian mereka sudah menikmati sistem digital.

Kini, pedoman suku Baduy melarang warganya mengikuti pendidikan dasar ber-Calistung sudah tidak lagi berlaku dan diindahkan oleh sebagian besar warga Baduy terutama oleh generasi mudanya, termasuk kaum perempuan yang dalam tatanan adat tidak diperkenankan untuk berinteraksi dan komunkasi secara vulgar dengan pihak luar.  

Pengaruh digitalisasi yang dibarengi oleh intensifnya interaksi antara warga Baduy dengan pengunjung wisata budaya Baduy dan dalam rangka memenuhi azas kebutuhan kesejahteraan finansial telah ikut menyumbang terjadinya percepatan perubahan sosial di suku Baduy.  Maka, kekinian suku Baduy sudah tidak bisa lagi mengela dan menolak atau melarang warganya untuk tidak masuk pada pusaran sistem era digital.

Para tokoh adat pun sudah berulang kali menyatakan “ketidakberdayaannya menahan gempuran modernisasi melalui digitalisasi”, walaupun terus berupaya untuk tetap meminimalisasi malapetaka terjadinya degradasi moral akibat terjebak digitalisasi. Para tokoh adat sudah merasa kewalahan atas gempuran teknologi komunikasi yang terus mengacak-acak bahkan mulai membunuh budaya lokal mereka.

Mereka sudah sangat khawatir di komunitas adat Baduy akan terjadinya perubahan dan perombakan budaya  (gegar budaya),   atau akan terjadinya perubahan sosial yang sporadis bahkan bisa terjadi apa yang disebut “Kekacauan dan Kebrutalan Sosial” yang tidak bisa lagi dikendalikan. Situasi itu sejalan dengan pendapat Prof. Dr.Alo Liliweri, M.Si di buku karya Prof Sihabudin berjudul Technotronic Etnocide, “Media social dan Teknologi Elektonik (digital) Sebagai Pembunuh Kebudayaan“.

Pengaruh digitalisasi sudah jauh merambah ke semua lapisan masyarakat Baduy tanpa terkecuali. Mulai dari orang dewasa sampai anak-anak, kaum laki-laki dan perempuan, warga Baduy Luar sampai warga Baduy Dalam, warga biasa sampai tokoh adat tertentu pun sudah masuk pada pusaran ikutan menikmati era digital yang menjanjikan berbagai kemudahan dan kebermanfaatannya.

Namun, di balik pengaruh positif yang mereka rasakan muncul pula pengaruh negatif yang ternyata lebih besar dampaknya pada percepatan penggerusan nilai-nilai luhur adat dan budaya mereka. Seratus delapan puluh persen pengaruh digitalisasi telah menggeser perilaku kaum perempuan muda Baduy yang dulunya budaya menutup diri, lugu, sederhana penampilan dan menghindar dari berbagai interaksi, kini menjadi penjemput interaksi, memburu  ketenaran dan popularitas bahkan berlomba ingin menjadi selebriti dan publik figur yang dikenal dan diminati publik atau para netizen.

Keberanian memposting diri dengan berbagai pose foto yang eksotis nyentrik dan memposting berbagai rahasia budaya perempuan Baduy di media sosial telah mengakibatkan perempuan Baduy menjadi bahan ekploitasi yang empuk oleh pihak-pihak yang kurang bertanggungjawab.

Mungkin dengan dibungkus alasan dan beberapa paradigma yang menganggap itu sebagai bentuk mempromosikan Baduy ke ruang publik, sehingga bentuk pengeksploitasian gadis-gadis Baduy oleh berbagai pihak menjadi lolos sensor para tokoh adat. Tapi nyata-nyatanya banyak yang hanya mengambil keuntungan (konten, tambahnya viewer, dapat finasial dengan mudah dll), etika memperlakukan kebudayaan yang pantas dan bertanggungjawab nyaris tidak ada dan tidak dilakukan.

Para pengeksploitasi lupa bahwa Suku Baduy memiliki kearifan lokal (local wisdom) yang harus dijaga dan diselamatkan keutuhannya. Inilah sisi negatif yang berdampak pada tuduhan bahwa Baduy sekarang tidak lagi merupakan suku yang patuh pada hukum adat menghindari atau menolak modernisasi.

Pengeksploitasian kaum perempuan Baduy oleh pihak yang hanya mencari keuntungan semakin menjadi-jadi dan sudah melampaui batas kewajaran. Mengajak dan membawa gadis perempuan Baduy untuk membuat konten di mall, di tempat modern pusat kota dan memperkenalkan pola hidup pemodernan apapun alasannya adalah contoh dan fakta bahwa mereka telah dengan sengaja meracuni mental anak-anak perempuan Baduy untuk melanggar hukum adat mereka dan menggeser moralitas generasi muda kaum perempuan Baduy untuk melintasi modernisasi.

Muncul Diksi Selebgram dan Artis Baduy

Kebebasan perilaku kaum perempuan Baduy yang sepertinya tidak terkontrol di media sosial dan teknologi elektronik, ditambah dengan pembiaran yang terlalu lama terhadap para pelanggar-pelanggar hukum adat yang melintasi modernisasi, menyebabkan hebitasi memposting apa yang kurang pantas diposting menjadi pembiasaan diri dan dianggap perilaku tersebut tidak merugikan masa depan adat budaya mereka.

Dari data yang ada, kaum muda perempuan Baduy sudah biasa menggunakan media sosial untuk memposting berbagai kejadian termasuk curhatan pribadi. Dan efek domino postingan berupa konten atau video singkat tersebut mengakibatkan banyak follower sehingga menjadi viral dan terkenal. Di sisi lain dengan seringnya mem-publish konten dan viral, Youtube memberi konpensasi finansial yang cukup mengagetkan dan menggiurkan (menghasilkan uang). Akhirnya gadis muda Baduy yang berparas cantik menjadi selebriti, ketagihan untuk terus mem-publish dirinya karena merasa dapat berbagai keuntungan dan penghasilan.

Postingan mereka dapat tanggapan berbagai pihak terutama para follower dengan sebutan Artis Baduy, Selebgram Baduy, Tiktoker Baduy, Selebriti Baduy, dan sebutan Youtuber Baduy. Nama Sari Dewi mengawali popular di medsos, kemudian diikuti oleh Rumsah dan yang kini sedang melejit atau viral adalah Sarti. Itu nama-nama perempuan Baduy yang mampu mendomisasi kepopuleran di medsos. Nama-nama lainnya ada dan muncul tetapi tidak seviral ketiga nama di atas.

Kepopuleran gadis Baduy tersebut tidak terjadi secara alamiah tapi berkat ikut campurnya para penggiat medsos (channel) yang membantu mengekpos mereka dengan konten yang dibuatnya. Akhirnya munculah sosok yang diidentikkan sebagai Selebgram Baduy, Artis Baduy, Tiktoker Baduy dan Youtber Baduy.

Apa pun yang mereka lakukan adalah hak prerogatif mereka, termasuk kaum perempuan Baduy yang kini sedang melintasi moderninasi dan melibatkan diri menjadi publik figur melalui medsos lalu menjadi Selebgram dan Youtuber yang top dan viral. Kita tidak bisa menjustifikasi itu semua adalah kesalahan atau pelanggaran. Merekalah yang lebih tahu dan faham mengapa mereka sudah berani melalukan tindakan tersebut.  Kita juga tidak berkompeten untuk melarang dan mengatur-atur kehidupan mereka, mereka memilih pola hidup seperti itu adalah haknya dengan segala konsekuensinya.

Sudut pandang kita dan sudut pandang mereka berbeda dalam memaknai dinamisasi perubahan yang terjadi di suku Baduy. Kita hanya bisa melihat, dampak apa yang akan terjadi di masa depan kehidupan mereka. [T]

Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole

  • BACA esai-esai tentang BADUY
  • BACA esai-esai lain dari penulis ASEP KURNIA
Mitos Liar Baduy 40 “Suhunan”
Narman, Sang “Entrepreneur” Etnis Baduy
Para Pejuang dan Pengabdi Suku Baduy
Sekilas Informasi Wisata  Saba Budaya  Baduy
Pengabdi Suku Baduy: Dua Tahun Ditolak, Kini Disayangi
Tags: masyarakat adatSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ogoh-Ogoh Makin Gagah | Catatan Usai Nyepi

Next Post

Perjalanan Berburu Tetralogi Pulau Buru

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Perjalanan Berburu Tetralogi Pulau Buru

Perjalanan Berburu Tetralogi Pulau Buru

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co