2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ogoh-Ogoh Makin Gagah | Catatan Usai Nyepi

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
April 3, 2025
in Esai
Ogoh-Ogoh Makin Gagah | Catatan Usai Nyepi

Parade Ogoh-Ogoh di Desa Adat Kutuh, Gumi Delod Ceking (Foto : Sury

SEJAK awal 1980-an,ogoh-ogoh menjadi tradisi baru menyertai upacara ngerupuk menjelang Nyepi. Tradisi ini dimulai dari Kota Denpasar yang kala itu menjadi ibu kota Kabupaten Badung sekaligus ibu kota Provinsi Bali. Dari Kota Denpasar, ogoh-ogoh lalu menyebar ke kota kabupaten, terus menyeruak sampai ke desa-desa. Denpasar sebagai kota urban adalah tempat pergulatan dan pergumulan orang-orang hebat desa berdialektika menciptakan inovasi dan kreativitas, termasuk dalam membuat ogoh-ogoh.

Kini ogoh-ogoh bukan hanya di Bali, melainkan juga menggedor orang-orang Bali di daerah trasmigran bahkan sampai kaum diaspora Bali di luar negeri. Karya manusia Bali begitu mendunia.

Kini, setiap ngerupuk menjelang Nyepi ogoh-ogoh selalu ditunggu-tunggu. Bahkan, ngerupuk itu identik dengan ogoh-ogoh itu sendiri. Ngerupuk tanpa ogoh-ogoh identik dengan ngaben tanpa wadah bade. Padahal, keduanya tidak wajib. Namun, saya sadar sesuatu yang diulang-ulang dan diviralkan melalui medsos, bisa dipercaya secara membabi buta, sebagai kebenaran baru.

Kebenaran baru berbeda dengan dengan kebenaran itu sendiri. Apa boleh buat, rendahnya literasi membuat netizen tidak sadar untuk mencermati dan mengkritisi. Inilah buah dari pendidikan berbasis schrool yang mengabaikan etika school academic. Kecepatan diburu mengabaikan kedalaman. Pembelajaran berbasis deef learning yang digagas Mendikdasmen Abdul Mu’ti hanya nyaring di permukaan sebagai representasi politik pencitraan dengan mengedepankan pilihan berbasis jaya suara, minim jaya laksana niretika.

Ketika terjadi musibah badai angin ribut menjelang ngerupuk pada Nyepi Isaka 1947 pada Jumat, 28 Maret 2025 dan Nyepi yang bersamaan dengan Tumpek Wariga, Sabtu Kliwon 29 Maret 2025, Festival Ogoh-ogoh pun dijadikan kambing hitam oleh seorang tokoh. Tidak pelak lagi, terjadi silang wacana dengan kekuatan argumentasi masing-masing.

Bahkan, ada juga yang netizen menyebut bahwa Nyepi 1947 telah bergeser waktunya, yang katanya seharusnya jatuh pada Tilem Kasanga, 28 Maret 2025. Maka, makin lengkaplah rumpangnya paragraf kebalian dengan kedangkalan pemahaman. Maklumlah, tokoh tertentu menjadikan wacana ogoh-ogoh ngerupuk sebagai panggung untuk meraih simpatik.

Sementara itu, netizen berupaya mendapat follower sebanyak-banyaknya.  Sampai kapan musibah komunikasi ini akan berakhir ?

Baiklah tinggalkan saja wacana rumpang itu, kita fokuskan pada Festival Ogoh-ogoh yang bergelegar makin gagah menyeruak sampai ke desa-desa hingga ke pelosok-plosok. Ini mengingatkan saya pidato Bung Karno yang menusuk jantung hati para pengagumnya yang buta huruf. Bung Karno memiliki kekuatan seni orator tingkat dunia, kini level Bung Karno tak terkejar. Bahkan sekelas pemimpin nasional pun, bahasa komunikasinya belepotan dan menjadi bahan ledekan. Festival Ogoh-ogoh di Bali menjelang Nyepi mengalahkan wacana pemimpin.

Pertama, viralitas komunikasi ogoh-ogoh menyentuh jantung emosi masyarakat sebagai hiburan berbasis kerja kreativitas dan inovasi berkearifan lokal. Prof.Dr. Ida Bagus Mantra, mantan Gubernur Bali, berujar, “Orang Bali mesti menyadari diri. Menyadari diri adalah sumber kreativitas”. Pernyataan penggagas Pesta Kesenian Bali itu  diterjemahkan oleh seniman muda ogoh-ogoh dengan karya estetik dan kritis menangkap fenomena aktual yang terjadi menimpa Bali, seperti kisah hantu yang disebut tonya kehilangan tempat tinggal divisualisasi dalam Ogoh-ogoh Bregan Pering.

Atau Ogoh-ogoh Tulak Tunggul yang bermaterikan bacaan spiritual untuk menolak energi negatif yang mengintip kelalaian manusia. Kedua ogoh-ogoh ini menyajikan kebaruan (novelty) setara karya disertasi (S-3). Sungguh pencapaian estetik memantik empatik penonton yang terhibur dan tertuntun dengan mahakarya otentik anak muda Bali. Capaian itu mengingatkan  saya ketika prosesi ngajum sawa saat ngaben digelar. Badan manusia disimbolkan dalam kajang (kain berlukis simbol badan manusia) dengan aneka aksara di dalamnya.

Aksara itulah yang diolah kemudian divisualisasikan dan dihidupkan dalam karya estetis etis humanis.  Aksara adalah simbol dan simptom peradaban dengan jumlah terbatas (18 aksara Bali) tetapi dengan produk narasi yang tidak terbatas. Ini juga mengingatkan saya pada teori trasformatif generatif dalam studi linguistik dari Chomsky linguis berkebangsaan  Amerika.

Kedua, festival ogoh-ogoh mendekatkan anak muda Bali ke guyub banjar sebuah organisasi tradisional yang visioner menangkap dinamika zaman. Di sini mereka belajar ilmu kehidupan berbasis sejarah berpendekatan trisemaya dalam linearitas garis waktu. Trisemaya yaitu atita (masa lalu), wartamana (kini), anagata (masa depan) sejalan dengan pidato Bung Karno tentang Jas Merah (jangan sekali-kali meninggalkan sejarah).

Begitulah, tetua Bali mendidik dengan laku tindak (kerja) yang disebut karmayoga buat generasi mudanya sebagai bagian dari ibadah persembahan. Galib diketahui Bali dikenal dengan Pulau Persembahan termasuk festival ogoh-ogoh sebagai karya seni. Tidak berlebihan bila orang luar Bali mengaku selalu menemukan sudut lain dan inspiratif di Bali walaupun berkali-kali datang kembali. Seakan Bali berbisik, “Barang siapa pernah menginjakkan kaki di Bali, Dewata akan memanggilmu kembali. Datanglah ke Bali sebelum kau mati”.

Ketiga, ogoh-ogoh yang hadir belakangan sedangkan ngerupuk sudah diimani sejak dulu kala dengan tradisi mabuhu-buhu (mengelilingi desa membawa api obor) mengiringi tradisi tawur agung secara berjenjang dari tingkat desa adat, kecamatan, kabupaten, hingga  tingkat Povinsi Bali yang dipusatkan di Madya Mandala Besakih sebagai  Pura Ibu (mother tample).

Melalui utusan kabupaten/kecamatan/desa adat se-Bali nunas tirta  dan nasi tawur ke Besakih sebagai anugrah untuk nyomia buta kala dengan harapan Bali aman, nyaman, tenang, degdeg ajeg. Tatanan itu menandakan bahwa spiritual manusia Bali seirama dengan sistem birokrasi berjenjang bermula dari tingkat desa. Jika di Bali dikenal adanya dua desa yang menyatu (desa adat dan desa dinas) adalah cermin menyatunya kekuatan purusa (ayah) dan pradana (ibu).

Itulah gambaran manunggalnya Kawula-Gusti, menyatunya pemimpin dengan rakyat yang dipimpin, tak ubahnya bunga kamboja (Bahasa Bali : Jepun) yang menyatu antara bunga dan sarinya.

Begitulah Bali beritual menyambut Tahun Baru Isaka 1947 penuh simbolik yang mungkin tidak banyak dihayati maknanya oleh para pengarak ogoh-ogoh. Mereka meluber dalam euphoria persembahan menuju proses menjadi sebagai mana diisyaratkan dalam dunia pendidikan. Mendidik tidaklah mendadak, perlu waktu berproses untuk menjadi.

Berbeda dengan perayaan menyambut Tahun Baru Masehi, Nyepi sebagai pergantian tahun hingar-bingar semalam sebelumnya, sepi hening gelap sesudahnya, walaupun hanya sehari. Inilah furifikasi ala Bali masuk ruang gelap dalam sepi hening reflektif, kontemplatif, meditatif menuju kebaruan dan kedewasaan sebagai cara mengaktualisasikan pembangunan berkelanjutan dan berkeseimbangan.

Dengan begitu, Nyepi adalah teks kehidupan yang padu bersenyawa secara kohesif dan koherensif menjaga Bali dari kedalaman makna di tengah kedangkalan informasi pendek di media sosial. Jangan sampai berenang dikedangkalan tanpa menyelam di kedalaman samudera luas mengangkat Mutiara ke permukaan yang terpendam di dasarnya.

Begitulah Hindu tampil di permukaan dengan meriah  ogoh-ogoh penuh simbolik. Diperlukan pisau tajam analisis agar bisa dikupas dengan baik dan benar. Ibarat mengupas bawang, lapis demi lapis yang berakhir dengan tetesan air mata untuk penyucian agar bisa melihat yang sepantasnya dan sepatutnya.

Begitulah Ogoh-ogoh yang makin gagah menyambut sepi hening Nyepi. Festival Ogoh-ogoh di seluruh Bali saat ngerupuk pada Jumat, 28 Maret 2025 makin mengukuhkan Bali sebagai negara teater sebagai dilekatkan oleh Clifford Geertz.  

Festival ini nyaris berimpitan dengan malam takbiran yang ditandai dengan kemeriahan merayakan kemenangan setelah berperang melawan hawa nafsu sebulan dalam puasa Ramadan bagi umat Islam. Sungguh toleransi indah dalam keberagaman yang saling beriringan. Selamat Nyepi Tahun Baru Isaka 1947. Selamat Idul Fitri 1446 H. Mohon maaf lahir batin. [T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT
Serba-serbi Melasti di Gumi Delod Ceking 
Nyepi di Gumi Delod Ceking Dekade 1970-an
Ogoh-Ogoh, Nyepi, dan Idulfitri 
Tags: baliBudaya BaliHari Raya Nyepihinduogoh-ogoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Film “Mungkin Kita Perlu Waktu” Tayang 15 Mei 2025 di Bioskop

Next Post

Fenomena Viralnya Selebriti Perempuan Suku Baduy

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Fenomena Viralnya Selebriti Perempuan Suku Baduy

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co