23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ogoh-Ogoh Makin Gagah | Catatan Usai Nyepi

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
April 3, 2025
in Esai
Ogoh-Ogoh Makin Gagah | Catatan Usai Nyepi

Parade Ogoh-Ogoh di Desa Adat Kutuh, Gumi Delod Ceking (Foto : Sury

SEJAK awal 1980-an,ogoh-ogoh menjadi tradisi baru menyertai upacara ngerupuk menjelang Nyepi. Tradisi ini dimulai dari Kota Denpasar yang kala itu menjadi ibu kota Kabupaten Badung sekaligus ibu kota Provinsi Bali. Dari Kota Denpasar, ogoh-ogoh lalu menyebar ke kota kabupaten, terus menyeruak sampai ke desa-desa. Denpasar sebagai kota urban adalah tempat pergulatan dan pergumulan orang-orang hebat desa berdialektika menciptakan inovasi dan kreativitas, termasuk dalam membuat ogoh-ogoh.

Kini ogoh-ogoh bukan hanya di Bali, melainkan juga menggedor orang-orang Bali di daerah trasmigran bahkan sampai kaum diaspora Bali di luar negeri. Karya manusia Bali begitu mendunia.

Kini, setiap ngerupuk menjelang Nyepi ogoh-ogoh selalu ditunggu-tunggu. Bahkan, ngerupuk itu identik dengan ogoh-ogoh itu sendiri. Ngerupuk tanpa ogoh-ogoh identik dengan ngaben tanpa wadah bade. Padahal, keduanya tidak wajib. Namun, saya sadar sesuatu yang diulang-ulang dan diviralkan melalui medsos, bisa dipercaya secara membabi buta, sebagai kebenaran baru.

Kebenaran baru berbeda dengan dengan kebenaran itu sendiri. Apa boleh buat, rendahnya literasi membuat netizen tidak sadar untuk mencermati dan mengkritisi. Inilah buah dari pendidikan berbasis schrool yang mengabaikan etika school academic. Kecepatan diburu mengabaikan kedalaman. Pembelajaran berbasis deef learning yang digagas Mendikdasmen Abdul Mu’ti hanya nyaring di permukaan sebagai representasi politik pencitraan dengan mengedepankan pilihan berbasis jaya suara, minim jaya laksana niretika.

Ketika terjadi musibah badai angin ribut menjelang ngerupuk pada Nyepi Isaka 1947 pada Jumat, 28 Maret 2025 dan Nyepi yang bersamaan dengan Tumpek Wariga, Sabtu Kliwon 29 Maret 2025, Festival Ogoh-ogoh pun dijadikan kambing hitam oleh seorang tokoh. Tidak pelak lagi, terjadi silang wacana dengan kekuatan argumentasi masing-masing.

Bahkan, ada juga yang netizen menyebut bahwa Nyepi 1947 telah bergeser waktunya, yang katanya seharusnya jatuh pada Tilem Kasanga, 28 Maret 2025. Maka, makin lengkaplah rumpangnya paragraf kebalian dengan kedangkalan pemahaman. Maklumlah, tokoh tertentu menjadikan wacana ogoh-ogoh ngerupuk sebagai panggung untuk meraih simpatik.

Sementara itu, netizen berupaya mendapat follower sebanyak-banyaknya.  Sampai kapan musibah komunikasi ini akan berakhir ?

Baiklah tinggalkan saja wacana rumpang itu, kita fokuskan pada Festival Ogoh-ogoh yang bergelegar makin gagah menyeruak sampai ke desa-desa hingga ke pelosok-plosok. Ini mengingatkan saya pidato Bung Karno yang menusuk jantung hati para pengagumnya yang buta huruf. Bung Karno memiliki kekuatan seni orator tingkat dunia, kini level Bung Karno tak terkejar. Bahkan sekelas pemimpin nasional pun, bahasa komunikasinya belepotan dan menjadi bahan ledekan. Festival Ogoh-ogoh di Bali menjelang Nyepi mengalahkan wacana pemimpin.

Pertama, viralitas komunikasi ogoh-ogoh menyentuh jantung emosi masyarakat sebagai hiburan berbasis kerja kreativitas dan inovasi berkearifan lokal. Prof.Dr. Ida Bagus Mantra, mantan Gubernur Bali, berujar, “Orang Bali mesti menyadari diri. Menyadari diri adalah sumber kreativitas”. Pernyataan penggagas Pesta Kesenian Bali itu  diterjemahkan oleh seniman muda ogoh-ogoh dengan karya estetik dan kritis menangkap fenomena aktual yang terjadi menimpa Bali, seperti kisah hantu yang disebut tonya kehilangan tempat tinggal divisualisasi dalam Ogoh-ogoh Bregan Pering.

Atau Ogoh-ogoh Tulak Tunggul yang bermaterikan bacaan spiritual untuk menolak energi negatif yang mengintip kelalaian manusia. Kedua ogoh-ogoh ini menyajikan kebaruan (novelty) setara karya disertasi (S-3). Sungguh pencapaian estetik memantik empatik penonton yang terhibur dan tertuntun dengan mahakarya otentik anak muda Bali. Capaian itu mengingatkan  saya ketika prosesi ngajum sawa saat ngaben digelar. Badan manusia disimbolkan dalam kajang (kain berlukis simbol badan manusia) dengan aneka aksara di dalamnya.

Aksara itulah yang diolah kemudian divisualisasikan dan dihidupkan dalam karya estetis etis humanis.  Aksara adalah simbol dan simptom peradaban dengan jumlah terbatas (18 aksara Bali) tetapi dengan produk narasi yang tidak terbatas. Ini juga mengingatkan saya pada teori trasformatif generatif dalam studi linguistik dari Chomsky linguis berkebangsaan  Amerika.

Kedua, festival ogoh-ogoh mendekatkan anak muda Bali ke guyub banjar sebuah organisasi tradisional yang visioner menangkap dinamika zaman. Di sini mereka belajar ilmu kehidupan berbasis sejarah berpendekatan trisemaya dalam linearitas garis waktu. Trisemaya yaitu atita (masa lalu), wartamana (kini), anagata (masa depan) sejalan dengan pidato Bung Karno tentang Jas Merah (jangan sekali-kali meninggalkan sejarah).

Begitulah, tetua Bali mendidik dengan laku tindak (kerja) yang disebut karmayoga buat generasi mudanya sebagai bagian dari ibadah persembahan. Galib diketahui Bali dikenal dengan Pulau Persembahan termasuk festival ogoh-ogoh sebagai karya seni. Tidak berlebihan bila orang luar Bali mengaku selalu menemukan sudut lain dan inspiratif di Bali walaupun berkali-kali datang kembali. Seakan Bali berbisik, “Barang siapa pernah menginjakkan kaki di Bali, Dewata akan memanggilmu kembali. Datanglah ke Bali sebelum kau mati”.

Ketiga, ogoh-ogoh yang hadir belakangan sedangkan ngerupuk sudah diimani sejak dulu kala dengan tradisi mabuhu-buhu (mengelilingi desa membawa api obor) mengiringi tradisi tawur agung secara berjenjang dari tingkat desa adat, kecamatan, kabupaten, hingga  tingkat Povinsi Bali yang dipusatkan di Madya Mandala Besakih sebagai  Pura Ibu (mother tample).

Melalui utusan kabupaten/kecamatan/desa adat se-Bali nunas tirta  dan nasi tawur ke Besakih sebagai anugrah untuk nyomia buta kala dengan harapan Bali aman, nyaman, tenang, degdeg ajeg. Tatanan itu menandakan bahwa spiritual manusia Bali seirama dengan sistem birokrasi berjenjang bermula dari tingkat desa. Jika di Bali dikenal adanya dua desa yang menyatu (desa adat dan desa dinas) adalah cermin menyatunya kekuatan purusa (ayah) dan pradana (ibu).

Itulah gambaran manunggalnya Kawula-Gusti, menyatunya pemimpin dengan rakyat yang dipimpin, tak ubahnya bunga kamboja (Bahasa Bali : Jepun) yang menyatu antara bunga dan sarinya.

Begitulah Bali beritual menyambut Tahun Baru Isaka 1947 penuh simbolik yang mungkin tidak banyak dihayati maknanya oleh para pengarak ogoh-ogoh. Mereka meluber dalam euphoria persembahan menuju proses menjadi sebagai mana diisyaratkan dalam dunia pendidikan. Mendidik tidaklah mendadak, perlu waktu berproses untuk menjadi.

Berbeda dengan perayaan menyambut Tahun Baru Masehi, Nyepi sebagai pergantian tahun hingar-bingar semalam sebelumnya, sepi hening gelap sesudahnya, walaupun hanya sehari. Inilah furifikasi ala Bali masuk ruang gelap dalam sepi hening reflektif, kontemplatif, meditatif menuju kebaruan dan kedewasaan sebagai cara mengaktualisasikan pembangunan berkelanjutan dan berkeseimbangan.

Dengan begitu, Nyepi adalah teks kehidupan yang padu bersenyawa secara kohesif dan koherensif menjaga Bali dari kedalaman makna di tengah kedangkalan informasi pendek di media sosial. Jangan sampai berenang dikedangkalan tanpa menyelam di kedalaman samudera luas mengangkat Mutiara ke permukaan yang terpendam di dasarnya.

Begitulah Hindu tampil di permukaan dengan meriah  ogoh-ogoh penuh simbolik. Diperlukan pisau tajam analisis agar bisa dikupas dengan baik dan benar. Ibarat mengupas bawang, lapis demi lapis yang berakhir dengan tetesan air mata untuk penyucian agar bisa melihat yang sepantasnya dan sepatutnya.

Begitulah Ogoh-ogoh yang makin gagah menyambut sepi hening Nyepi. Festival Ogoh-ogoh di seluruh Bali saat ngerupuk pada Jumat, 28 Maret 2025 makin mengukuhkan Bali sebagai negara teater sebagai dilekatkan oleh Clifford Geertz.  

Festival ini nyaris berimpitan dengan malam takbiran yang ditandai dengan kemeriahan merayakan kemenangan setelah berperang melawan hawa nafsu sebulan dalam puasa Ramadan bagi umat Islam. Sungguh toleransi indah dalam keberagaman yang saling beriringan. Selamat Nyepi Tahun Baru Isaka 1947. Selamat Idul Fitri 1446 H. Mohon maaf lahir batin. [T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT
Serba-serbi Melasti di Gumi Delod Ceking 
Nyepi di Gumi Delod Ceking Dekade 1970-an
Ogoh-Ogoh, Nyepi, dan Idulfitri 
Tags: baliBudaya BaliHari Raya Nyepihinduogoh-ogoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Film “Mungkin Kita Perlu Waktu” Tayang 15 Mei 2025 di Bioskop

Next Post

Fenomena Viralnya Selebriti Perempuan Suku Baduy

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Fenomena Viralnya Selebriti Perempuan Suku Baduy

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co