3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nyepi di Gumi Delod Ceking Dekade 1970-an

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
March 28, 2025
in Khas
Nyepi di Gumi Delod Ceking Dekade 1970-an

Pantai Bias Tugel Nusa Dua | Foto: Nyyoman Tingkat

NYEPI di Gumi Delod Ceking kawasan Nusa Dua, Jimaran, dan sekitarnya, pada dekade 1970-an sangat berbeda dengan Nyepi kini era 2020-an. Pada era 1970-an, meski tanda-tanda perubahan sudah di depan mata akibat pemblokiran tanah-tanah penduduk di Kawasan Nusa Dua oleh BTDC (kini : ITDC) pada zaman awal Orde Baru dengan Presiden Soeharto, tapi suasana hening masih terasa begitu dalam dan khusyuk.

Terlepas dari riak-riak politik kala itu,  guyub masyarakat masih sangat kuat terasa dalam bergotong royong dengan sebutan ngidih olas.  Tradisi ngidih olas biasanya berhubungan dengan kegiatan membajak di kebun, membangun pelinggih, membangun rumah, memindahkan rumah. Semuanya dilakukan tanpa bayaran, cukup diganti dengan kopi-jaja kukus dan makan siang. Obrolan pun mengalir dan mengalur penuh suka cita.

Menjelang dekade 1990-an, tradisi ngidih olas mulai ditinggalkan. Orang dari Gumi Delod Ceking mulai dengan sistem kerja harian/borongan. Mula-mula berlaku bagi keluarga terdekat, lambat laun ke tetangga jauh. Anehnya, banyak yang memercayakan kepada tetangga jauh dengan penawaran serendah-rendahnya, tetapi pekerjaan belum selesai dan upah sudah dilunasi, lalu ditinggal tanpa pesan.

Mereka terlalu percaya dengan omongan bualan janji manis orang yang tidak dikenal sebelumnya, penyesalan pun menyusul. Orang setempat menyebutnya, kacangkik tukang alias dibohongi tukang. Hal itu terjadi karena rapuhnya ikatan kekeluargaan, tetapi menguatnya ilmu “kebatinan” dalam arti mencari banyak keuntungan (ngalih bati) menjadi penguat  manusia sebagai makhluk ekonomi (homo economicus).

Apa hubungannya dengan Hari Suci Nyepi Saka 1947, yang jatuh bersamaan dengan Tumpek Wariga, Sabtu Kliwon 29 Maret 2025 ini?

Dengan menggunakan pendekatan trisemaya atita (masa lalu),  wartamana (masa kini), dan  anagata (masa depan), kita dapat menarik garis linearitas keterhubungan antarwaktu, dengan segala dinamikanya.   Sebelum dekade 1980-an, orang-orang Delod Ceking adalah orang-orang yang homogen. Mereka amat bergantung pada alam (laut dan darat/abian). Bila Nyepi tiba, keguyuban mereka amat terasa.

Nyepi adalah ajang bersilaturahmi antarguyub. Pagi hingga siang mereka saling bersilaturahmi dengan hidangan kue yang dibuat bergadang semalam sebelum Nyepi. Persis setelah Ngerupuk di tengah kegelapan dapur dengan kayu bakar. Mengapa gelap? Listrik belum ada, air pun susah, makanya dihemat.

Kala itu, orang-orang Delod Ceking bersilturahmi pada hari Nyepi dari pagi hingga siang. Saling mengunjungi sanak saudara dengan cerita kisah agraris dan maritim berteman kopi, jongkong tabu (jaja waluh, ini ada lagunya pula dari A.A. Made Cakra), sumping, jaja kukus, pulung-pulung ubi (ada lagunya pula dari A.A. Made Cakra), orog-orog (ubi diurab dipulung dan ditaburi gula bali). Semua bahannya dari abian, bukan swalayan yang dikenal kini.

Oleh karena mereka juga pangangon, maka pakan sapi pun disiapkan sehari menjelang Nyepi dengan ngarit padang untuk stok saat Nyepi. Aneh juga kalau dipikir, saat Nyepi sapi dikandangkan. Majikannya melayani dan memberikan padang hijau yang khusus disiapkan, Sementara itu, si majikan bersenang-senang dalam bungkus silaturahmi (masima krama). Dengan kalimat lain, majikan membatasi ruang gerak buat sapi untuk terikat di kandang.

Sore harinya, mereka nyelisib mengunjungi situs-situs dekat pantai dan melaut. Krama Desa Adat Kutuh, misalnya mengunjungi Pura/situs-situs di tebing ngampan seperti Pura Batu Pageh, Pura Batu Madinding, atau Song Bintang. Situs Song Bintang terletak beberapa meter di utara tebing ngampan sekitar 600 meter di Barat Pura Gunung Payung. Song Bintang  konon terhubung langsung ke goa yang tembus ke laut. Apresiasi mereka berkecenderungan  mendekat ke laut, dengan berjalan kaki.

Dekade sebelum 1970-an, Nyepi sore hari rerata orang-orang Delod Ceking ke pantai. Krama Desa Adat Bualu, Peminge, Jimbaran, bahkan krama Kuta juga masliahan ke pantai setelah paginya mereka masima krama. Maklumlah sore hari saat Nyepi adalah pananggal apisan dan air laut surut. Mereka bukan sekadar mandi ke laut saat Nyepi, melainkan juga mencari isin payuk untuk lauk.

Setiba di pondok masing-masing, mereka membuat soup ikan. Nyala api dari kayu bakar tak terhindarkan. Saya yang saat itu sudah diingatkan guru tentang Catur Brata Nyepi ketakutan, jangan-jangan diendus guru dilaporkan terus dihukum. Ketakutan pada guru begitu kuat padahal tidaklah mungkin para guru itu tahu, apa yang kami kerjakan di rumah saat Nyepi karena pondok sangat jauh di leke-leke posisinya.

Tempat di leke-leke dulu, kini sudah menyala dan berbinar diincar wong sunantra (orang asing). Entah dari mana mereka berasal. Tertutup dan terasing dari alam lingkungan dengan tembok tinggi tiadalah ramah lingkungan. Paradoks di tengah-tengah penghuni aslinya yag terkenal ramah tamah. Memang kata “ramah” sama fonem pembentuknya dengan kata “marah” sehingga orang marah juga mudah ditemukan di balik orang ramah yang bersembunyi, nyineb wangsa. Koh ngomong.

Begitulah, zaman berubah. Orang dari negeri jauh datang dan pergi. Ada yang tinggal sekejap seperti juru foto sekadar memotret lalu diviralkan. Tidak sedikit pula yang lama tinggalnya bahkan masa tinggalnya sudah habis dan kadaluwarsa. Anehnya, mereka bikin onar susah diatur. Bila ditertibkan saat Nyepi mereka pura-pura tidak tahu dengan alasan orang baru dan tidak faham. Pecalang pun dibuat repot. Inilah tantangan Nyepi kini, memerlukan penyadaran ke dalam dan ke luar. Ke dalam dengan krama Hindu sendiri dan ke luar dengan semeton non-Hindu yang jumlahnya kian banyak dengan kultur, agama, dan tingkat sosial ekonomi yang beragam. Tidaklah mudah mengelola mereka. Namun, kita tidak boleh menyerah apalagi mengeluh.

Berbeda dengan dekade 1970-an ketika penduduk Gumi Delod Ceking  masih relatif homogen. Kendaraan dan sepeda motor tidak banyak. Jalanan tidak macet pikiran orang-orannya pun tidak mumet. Ogoh-ogoh  belum sepopuler kini. Ogoh-ogoh mulai dikenal awal 1980-an.  Ogoh-ogoh dibuat dengan kekuatan dan kemandirian penuh, tanpa bansos. Bahan-bahannya pun seadanya. Ogoh-ogoh diarak keliling desa diikuti pasukan obor dari sekaa teruna dan anak sekolah. Setelahnya mereka kembali ke banjar masing-masing menikmati makanan seadanya dalam guyub bermasyarakat. Jadi, tujuh kebiasaan Anak Indonesia Hebat gagasan Mendikdasmen Abdul Mu’ti sudah dilaksanakan anak-anak muda Bali sejak dahulu kala.

Mengenang Nyepi era 1970-an saat saya masih SD adalah sebuah nostalgia rindu dengan masa kanak-kanak. Rindu mendapat  kue dari rumah ke rumah. Makanan rakyat yang bentuk, jenis, dan bahannya seragam sebagai simbol ketahanan pangan. Masyarakat di tengah kesulitan, begitu cerdas matakeh untuk bisa bertahan hidup yang kini lebih diproyekkan sebagai Proyek Ketahanan Pangan. Hasilnya pun belum optimal. Berbeda dengan era 1970-an, semuanya bertahan dengan laku guna dusun. Semua hasil abian dimakan penuh rasa syukur dengan ngobrol kangin kauh sambil menyeruput kopi.

Rahajeng Rahina Suci Nyepi Saka 1947. Mogi rahayu sekala-niskala. [T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Adnyana Ole

Ogoh-Ogoh, Nyepi, dan Idulfitri 
Uniknya “Nyepi Desa” di Desa Adat Kintamani: Dilaksanakan 3 Hari, Diawali “Maboros”, Tanpa Ogoh-ogoh
Refleksi Spiritual Nyepi, Tumpek Wariga, dan Idulfitri dalam Pendidikan Pertanian
Di Nusa Penida, Nyepi Tanpa Bantal Bleleng seperti Nggak Nyepi
Tags: Desa Adat JimbaranGumi Delod CekingHari Raya NyepiJimbaranNusa Dua
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nyepi, Lawar Godel, Hipertensi

Next Post

Panggung, Napas, dan Keberanian Ketika Seorang Perempuan Menjadi Dirinya Sendiri

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Panggung, Napas, dan Keberanian Ketika Seorang Perempuan Menjadi Dirinya Sendiri

Panggung, Napas, dan Keberanian Ketika Seorang Perempuan Menjadi Dirinya Sendiri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co