14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nyepi di Gumi Delod Ceking Dekade 1970-an

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
March 28, 2025
in Khas
Nyepi di Gumi Delod Ceking Dekade 1970-an

Pantai Bias Tugel Nusa Dua | Foto: Nyyoman Tingkat

NYEPI di Gumi Delod Ceking kawasan Nusa Dua, Jimaran, dan sekitarnya, pada dekade 1970-an sangat berbeda dengan Nyepi kini era 2020-an. Pada era 1970-an, meski tanda-tanda perubahan sudah di depan mata akibat pemblokiran tanah-tanah penduduk di Kawasan Nusa Dua oleh BTDC (kini : ITDC) pada zaman awal Orde Baru dengan Presiden Soeharto, tapi suasana hening masih terasa begitu dalam dan khusyuk.

Terlepas dari riak-riak politik kala itu,  guyub masyarakat masih sangat kuat terasa dalam bergotong royong dengan sebutan ngidih olas.  Tradisi ngidih olas biasanya berhubungan dengan kegiatan membajak di kebun, membangun pelinggih, membangun rumah, memindahkan rumah. Semuanya dilakukan tanpa bayaran, cukup diganti dengan kopi-jaja kukus dan makan siang. Obrolan pun mengalir dan mengalur penuh suka cita.

Menjelang dekade 1990-an, tradisi ngidih olas mulai ditinggalkan. Orang dari Gumi Delod Ceking mulai dengan sistem kerja harian/borongan. Mula-mula berlaku bagi keluarga terdekat, lambat laun ke tetangga jauh. Anehnya, banyak yang memercayakan kepada tetangga jauh dengan penawaran serendah-rendahnya, tetapi pekerjaan belum selesai dan upah sudah dilunasi, lalu ditinggal tanpa pesan.

Mereka terlalu percaya dengan omongan bualan janji manis orang yang tidak dikenal sebelumnya, penyesalan pun menyusul. Orang setempat menyebutnya, kacangkik tukang alias dibohongi tukang. Hal itu terjadi karena rapuhnya ikatan kekeluargaan, tetapi menguatnya ilmu “kebatinan” dalam arti mencari banyak keuntungan (ngalih bati) menjadi penguat  manusia sebagai makhluk ekonomi (homo economicus).

Apa hubungannya dengan Hari Suci Nyepi Saka 1947, yang jatuh bersamaan dengan Tumpek Wariga, Sabtu Kliwon 29 Maret 2025 ini?

Dengan menggunakan pendekatan trisemaya atita (masa lalu),  wartamana (masa kini), dan  anagata (masa depan), kita dapat menarik garis linearitas keterhubungan antarwaktu, dengan segala dinamikanya.   Sebelum dekade 1980-an, orang-orang Delod Ceking adalah orang-orang yang homogen. Mereka amat bergantung pada alam (laut dan darat/abian). Bila Nyepi tiba, keguyuban mereka amat terasa.

Nyepi adalah ajang bersilaturahmi antarguyub. Pagi hingga siang mereka saling bersilaturahmi dengan hidangan kue yang dibuat bergadang semalam sebelum Nyepi. Persis setelah Ngerupuk di tengah kegelapan dapur dengan kayu bakar. Mengapa gelap? Listrik belum ada, air pun susah, makanya dihemat.

Kala itu, orang-orang Delod Ceking bersilturahmi pada hari Nyepi dari pagi hingga siang. Saling mengunjungi sanak saudara dengan cerita kisah agraris dan maritim berteman kopi, jongkong tabu (jaja waluh, ini ada lagunya pula dari A.A. Made Cakra), sumping, jaja kukus, pulung-pulung ubi (ada lagunya pula dari A.A. Made Cakra), orog-orog (ubi diurab dipulung dan ditaburi gula bali). Semua bahannya dari abian, bukan swalayan yang dikenal kini.

Oleh karena mereka juga pangangon, maka pakan sapi pun disiapkan sehari menjelang Nyepi dengan ngarit padang untuk stok saat Nyepi. Aneh juga kalau dipikir, saat Nyepi sapi dikandangkan. Majikannya melayani dan memberikan padang hijau yang khusus disiapkan, Sementara itu, si majikan bersenang-senang dalam bungkus silaturahmi (masima krama). Dengan kalimat lain, majikan membatasi ruang gerak buat sapi untuk terikat di kandang.

Sore harinya, mereka nyelisib mengunjungi situs-situs dekat pantai dan melaut. Krama Desa Adat Kutuh, misalnya mengunjungi Pura/situs-situs di tebing ngampan seperti Pura Batu Pageh, Pura Batu Madinding, atau Song Bintang. Situs Song Bintang terletak beberapa meter di utara tebing ngampan sekitar 600 meter di Barat Pura Gunung Payung. Song Bintang  konon terhubung langsung ke goa yang tembus ke laut. Apresiasi mereka berkecenderungan  mendekat ke laut, dengan berjalan kaki.

Dekade sebelum 1970-an, Nyepi sore hari rerata orang-orang Delod Ceking ke pantai. Krama Desa Adat Bualu, Peminge, Jimbaran, bahkan krama Kuta juga masliahan ke pantai setelah paginya mereka masima krama. Maklumlah sore hari saat Nyepi adalah pananggal apisan dan air laut surut. Mereka bukan sekadar mandi ke laut saat Nyepi, melainkan juga mencari isin payuk untuk lauk.

Setiba di pondok masing-masing, mereka membuat soup ikan. Nyala api dari kayu bakar tak terhindarkan. Saya yang saat itu sudah diingatkan guru tentang Catur Brata Nyepi ketakutan, jangan-jangan diendus guru dilaporkan terus dihukum. Ketakutan pada guru begitu kuat padahal tidaklah mungkin para guru itu tahu, apa yang kami kerjakan di rumah saat Nyepi karena pondok sangat jauh di leke-leke posisinya.

Tempat di leke-leke dulu, kini sudah menyala dan berbinar diincar wong sunantra (orang asing). Entah dari mana mereka berasal. Tertutup dan terasing dari alam lingkungan dengan tembok tinggi tiadalah ramah lingkungan. Paradoks di tengah-tengah penghuni aslinya yag terkenal ramah tamah. Memang kata “ramah” sama fonem pembentuknya dengan kata “marah” sehingga orang marah juga mudah ditemukan di balik orang ramah yang bersembunyi, nyineb wangsa. Koh ngomong.

Begitulah, zaman berubah. Orang dari negeri jauh datang dan pergi. Ada yang tinggal sekejap seperti juru foto sekadar memotret lalu diviralkan. Tidak sedikit pula yang lama tinggalnya bahkan masa tinggalnya sudah habis dan kadaluwarsa. Anehnya, mereka bikin onar susah diatur. Bila ditertibkan saat Nyepi mereka pura-pura tidak tahu dengan alasan orang baru dan tidak faham. Pecalang pun dibuat repot. Inilah tantangan Nyepi kini, memerlukan penyadaran ke dalam dan ke luar. Ke dalam dengan krama Hindu sendiri dan ke luar dengan semeton non-Hindu yang jumlahnya kian banyak dengan kultur, agama, dan tingkat sosial ekonomi yang beragam. Tidaklah mudah mengelola mereka. Namun, kita tidak boleh menyerah apalagi mengeluh.

Berbeda dengan dekade 1970-an ketika penduduk Gumi Delod Ceking  masih relatif homogen. Kendaraan dan sepeda motor tidak banyak. Jalanan tidak macet pikiran orang-orannya pun tidak mumet. Ogoh-ogoh  belum sepopuler kini. Ogoh-ogoh mulai dikenal awal 1980-an.  Ogoh-ogoh dibuat dengan kekuatan dan kemandirian penuh, tanpa bansos. Bahan-bahannya pun seadanya. Ogoh-ogoh diarak keliling desa diikuti pasukan obor dari sekaa teruna dan anak sekolah. Setelahnya mereka kembali ke banjar masing-masing menikmati makanan seadanya dalam guyub bermasyarakat. Jadi, tujuh kebiasaan Anak Indonesia Hebat gagasan Mendikdasmen Abdul Mu’ti sudah dilaksanakan anak-anak muda Bali sejak dahulu kala.

Mengenang Nyepi era 1970-an saat saya masih SD adalah sebuah nostalgia rindu dengan masa kanak-kanak. Rindu mendapat  kue dari rumah ke rumah. Makanan rakyat yang bentuk, jenis, dan bahannya seragam sebagai simbol ketahanan pangan. Masyarakat di tengah kesulitan, begitu cerdas matakeh untuk bisa bertahan hidup yang kini lebih diproyekkan sebagai Proyek Ketahanan Pangan. Hasilnya pun belum optimal. Berbeda dengan era 1970-an, semuanya bertahan dengan laku guna dusun. Semua hasil abian dimakan penuh rasa syukur dengan ngobrol kangin kauh sambil menyeruput kopi.

Rahajeng Rahina Suci Nyepi Saka 1947. Mogi rahayu sekala-niskala. [T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Adnyana Ole

Ogoh-Ogoh, Nyepi, dan Idulfitri 
Uniknya “Nyepi Desa” di Desa Adat Kintamani: Dilaksanakan 3 Hari, Diawali “Maboros”, Tanpa Ogoh-ogoh
Refleksi Spiritual Nyepi, Tumpek Wariga, dan Idulfitri dalam Pendidikan Pertanian
Di Nusa Penida, Nyepi Tanpa Bantal Bleleng seperti Nggak Nyepi
Tags: Desa Adat JimbaranGumi Delod CekingHari Raya NyepiJimbaranNusa Dua
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nyepi, Lawar Godel, Hipertensi

Next Post

Panggung, Napas, dan Keberanian Ketika Seorang Perempuan Menjadi Dirinya Sendiri

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
0
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

Read moreDetails

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails
Next Post
Panggung, Napas, dan Keberanian Ketika Seorang Perempuan Menjadi Dirinya Sendiri

Panggung, Napas, dan Keberanian Ketika Seorang Perempuan Menjadi Dirinya Sendiri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co