14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Uniknya “Nyepi Desa” di Desa Adat Kintamani: Dilaksanakan 3 Hari, Diawali “Maboros”, Tanpa Ogoh-ogoh

Putu Sawitra Danda Prasetia by Putu Sawitra Danda Prasetia
March 24, 2025
in Esai
Uniknya “Nyepi Desa” di Desa Adat Kintamani: Dilaksanakan 3 Hari, Diawali “Maboros”, Tanpa Ogoh-ogoh

Bakti tandingan malang saat prosesi nyepi desa di Desa Adat Kintamani

SALAH satu tradisi Bali Aga yang dimiliki oleh Desa Adat Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, ialah nyepi desa. Secara etimologis, nyepi desa terdiri dari dua kata yaitu nyepi dan desa. Nyepi berasal dari kata sepi yang berarti tidak melakukan aktivitas apapun. Sedangkan desa berarti wilayah sama seperti pengertian desa pada umumnya. Sehingga dengan demikian, nyepi desa dapat dimengerti sebagai suatu bentuk kearifan lokal dengan tidak melakukan aktivitas dalam wilayah desa. Nyepi desa di Desa Adat Kintamani dilaksanakan setiap setahun sekali pada sasih kesanga atau bulan kesembilan menurut penanggalan kalender Bali.

Jadi setiap tahunnya Desa Adat Kintamani melaksanakan dua jenis nyepi yaitu nyepi desa dan nyepi umum yang juga dilakukan desa-desa lain di Bali untuk menambut Tahun Baru Saka. Ada perbedaan antara nyepi desa di Desa Adat Kintamani dan nyepi umum Tahun Baru Saka, di mana waktu pelaksanaan nyepi desa biasanya selama tiga hari dan tidak ada pembuatan ogoh-ogoh.

Nyepi Desa Bagian Penting dalam Siklus Pujawali

Nyepi desa menjadi bagian terpenting dalam siklus pujawali atau upacara keagamaan di Desa Adat Kintamani. Sebelum nyepi desa, diawali dengan ritual maboros yaitu tradisi berburu seekor kijang pada hutan desa adat. Kijang yang telah berhasil diburu kemudian akan diolah menjadi sarana upacara yang akan dipersembahkan dalam ritual mejaga (prosesi berjaga). Setelah ritual mejaga dilaksanakan, dilanjutkan dengan tradisi ngeker bulan.

Tradisi ngeker bulan merupakan tradisi dimana masyarakat dilarang untuk menyembelih hewan berkaki dua dan empat, mengonsumsi telur, menginap keluar desa dan mendatangkan tamu dari luar desa.

Pemerintahan Desa Adat Kintamani yang disebut ulu apad memiliki peran yang paling penting selama pelaksanaan nyepi desa. Ulu apad merupakan seperangkat majelis tetua desa yang beranggotakan beberapa perwakilan keluarga yang sudah menikah dan memiliki hak pengelolaan tanah Pura.

Ulu apad Desa Adat Kintamani yang dipimpin oleh 16 orang (Saing Nembelas) dan dibantu beberapa anggota akan membagi tugas dalam mempersiapkan tradisi nyepi desa. Masing-masing jabatan dalam ulu apad yaitu dua orang jro kubayan dan dua orang jro bahu bertugas sebagai pemimpin ritual, dua orang jro singgukan bertugas sebagai juru belanja dan sekretaris, dan dua orang jro penakehan bertugas sebagai juru takar dan bendahara.

Selanjutnya terdapat 8 orang penembelasan dan 50 orang kraman tebenan yang bertugas untuk membuat sarana upacara yang diperlukan dalam prosesi nyepi desa.

Bersamaan dengan pelaksanaan tradisi ngeker bulan, ulu apad melaksanakan tradisi ngaliwon yaitu rapat adat yang membahas tentang persiapan nyepi desa. Tradisi ngaliwon dilaksanakan bertempat di bale pegat di Pura Bale Agung.

Pada akhir tradisi ngaliwon ulu apad akan mengadakan sesi mabacakan atau absensiserta ngedum malang yaitu pembagian hasil sarana upacara berupa daging, sate, dan nasi. Sementara itu,para istri anggota ulu apad akan melaksanakan tradisi ngaturang emping yaitu tradisi menghaturkan beras merah yang disangrai pada tempat bambu yang disebut sanggah posa di rumah masing – masing.

Sehari sebelum nyepi desa, dilaksanakan piodalan mosa atau usaba dalem di Pura Dalem Pingit. usaba  dalem merupakan wujud syukur masyarakat kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sarana upakara yang digunakan dalam usaba  dalem terbuat dari sapi jantan yang menandakan berakhirnya tradisi ngeker bulan. usaba  dalem diawali dengan tradisi melaibang sanggah yaitu semacam lomba melarikan sanggah posa.

Kemudian tepat saat tengah malam ulu apad akan melaksanakan ritual nangluk merana yang di tempat yang disebut kalang beten. usaba  dalem diakhiri dengan tradisi medangdung yaitu tradisi menimbulkan bunyi dengan maksud mengusir kekuatan jahat agar tidak mengganggu saat nyepi desa.

Tiga Hari Nyepi Desa

Pada hari pertama nyepi desa, dipentaskan tarian sakral megoak-goakan. Magoak-goakan berasal dari kata goak atau burung gagak. Magoak-goakan ditarikan pada tempat khusus yang disebut karang suci. Para penari magoak-goakan membagi diri menjadi 2 kelompok berdasarkan jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan yang terdiri dari belasan orang.Masing-masing kelompok dipimpin oleh satu orang yang disebut “ina” atau induk dalam Bahasa Indonesia.

Gerakan tarian ini sangat sederhana, masing-masing kelompok akan membentuk barisan panjang yang saling memegang selendang teman, lalu saling kejar dan saling tangkap. Apabila salah satu ina kelompok dapat menangkap orang pada barisan akhir (ekor) kelompok lawan, makai kelompok tersebut akan menjadi pemenang.

Tarian magoak-goakan menjadi momentum yang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat Desa Adat Kintamani.

Seluruh masyarakat tanpa memandang latar belakang dan usia dapat ikut menarikan magoak-goakan. Diyakini jika seseorang ikut menari magoak-goakan (ngayah) maka bisa sembuh dari suatu penyakit yang dideritanya. Secara niskala (tak kasat mata), tarian magoak-goakan merupakan wujud persembahan kepada Ida Ratu Bhatara yang berstana di Pura Dalem Pingit, untuk memohon perlindungan dan kesejahteraan masyarakat Desa Adat Kintamani.

Sedangkan secara sekala (kasat mata), magoak-goakan sebagai simbolis bagaimana seorang pemimpin melindungi rakyatnya dan membangun rasa persatuan diantara masyarakat Desa Adat Kintamani.

Pada hari kedua nyepi desa, masyarakat Desa Adat Kintamani melaksanakan tradisi pengalihan saang yaitu tradisi mencari kayu bakar. Dalam tradisi tersebut terdapat aturan yang sangat ketat, masyarakat dilarang untuk mencari kayu bakar dari pohon yang masih hidup dan hanya diperbolehkan memungut dari pohon yang sudah mati atau tumbang secara alami sebelum nyepi desa dilakukan.

Tradisi pengalihan saang ini erat kaitannya dengan bhisama kayu larangan yang berlaku sejak dulu di Desa Adat Kintamani. Bhisama kayu larangan merupakan aturan tidak tertulis yang melarang penebangan pohon dan tumbuhan kecuali dalam keadaan tertentu dan bagi yang melanggar akan dikenakan sanksi untuk menanam 10 jenis pohon yang ditebang.

Pada hari ketiga nyepi desa, dilaksanakan tradisi myepiang ibu pertiwi. Tradisi nyepiang ibu pertiwi merupakan tradisi yang melarang diadakannya kegiatan yang berkaitan dengan mengolah tanah seperti mencangkul, bertani, menyapu, bahkan sekedar menggosek tanah. Tradisi myepiang ibu pertiwi bertujuan untuk memberikan waktu istirahat bagi tanah yang selama ini menjadi tempat bagi mayoritas masyarakat Desa Adat Kintamani yang bekerja pada sektor pertanian dan perkebunan.

Selama tiga hari perayaan nyepi desa, terdapat 4 pantangan dasar yang harus diikuti yaitu, dilarang menyalakan api, dilarang membuat hiburan selain magoak-goakan, dilarang bekerja, dan dilarang berpergian keluar wilayah desa dengan kendaraan. Keesokan harinya saat ritual ngembak berlangsung, ditandai dengan bunyi kentongan kulkul sebanyak 11 kalimaka nyepi desa sudah berakhir. [T]

Penulis: Putu Sawitra Danda Prasetia
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Di Nusa Penida, Nyepi Tanpa Bantal Bleleng seperti Nggak Nyepi
Perayaan Nyepi di (Kota Budaya) Surakarta: Berbeda dan Meriah
NYEPI BUKAN PERAYAAN TAHUN BARU ŚAKA
Akar Pohon Keheningan | Renungan Nyepi
MANTRA-MANTRA NYEPI REKOMENDASI I GUSTI BAGUS SUGRIWA
Tags: desa adat kintamaniDesa KintamaniHari Raya NyepiKintamanitradisi nyepi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Terpilihnya Figur Remaja Teladan di Pemilihan Duta GenRe Tabanan 2025

Next Post

Saling Memaafkan: Deklaratif atau Performatif?

Putu Sawitra Danda Prasetia

Putu Sawitra Danda Prasetia

Mahasiswa Administrasi Publik Universitas Udayana. IG @sawitra.dp

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Refleksi Hari Pers Nasional Ke-79: Tak Semata Soal Teknologi

Saling Memaafkan: Deklaratif atau Performatif?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co