2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Uniknya “Nyepi Desa” di Desa Adat Kintamani: Dilaksanakan 3 Hari, Diawali “Maboros”, Tanpa Ogoh-ogoh

Putu Sawitra Danda Prasetia by Putu Sawitra Danda Prasetia
March 24, 2025
in Esai
Uniknya “Nyepi Desa” di Desa Adat Kintamani: Dilaksanakan 3 Hari, Diawali “Maboros”, Tanpa Ogoh-ogoh

Bakti tandingan malang saat prosesi nyepi desa di Desa Adat Kintamani

SALAH satu tradisi Bali Aga yang dimiliki oleh Desa Adat Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, ialah nyepi desa. Secara etimologis, nyepi desa terdiri dari dua kata yaitu nyepi dan desa. Nyepi berasal dari kata sepi yang berarti tidak melakukan aktivitas apapun. Sedangkan desa berarti wilayah sama seperti pengertian desa pada umumnya. Sehingga dengan demikian, nyepi desa dapat dimengerti sebagai suatu bentuk kearifan lokal dengan tidak melakukan aktivitas dalam wilayah desa. Nyepi desa di Desa Adat Kintamani dilaksanakan setiap setahun sekali pada sasih kesanga atau bulan kesembilan menurut penanggalan kalender Bali.

Jadi setiap tahunnya Desa Adat Kintamani melaksanakan dua jenis nyepi yaitu nyepi desa dan nyepi umum yang juga dilakukan desa-desa lain di Bali untuk menambut Tahun Baru Saka. Ada perbedaan antara nyepi desa di Desa Adat Kintamani dan nyepi umum Tahun Baru Saka, di mana waktu pelaksanaan nyepi desa biasanya selama tiga hari dan tidak ada pembuatan ogoh-ogoh.

Nyepi Desa Bagian Penting dalam Siklus Pujawali

Nyepi desa menjadi bagian terpenting dalam siklus pujawali atau upacara keagamaan di Desa Adat Kintamani. Sebelum nyepi desa, diawali dengan ritual maboros yaitu tradisi berburu seekor kijang pada hutan desa adat. Kijang yang telah berhasil diburu kemudian akan diolah menjadi sarana upacara yang akan dipersembahkan dalam ritual mejaga (prosesi berjaga). Setelah ritual mejaga dilaksanakan, dilanjutkan dengan tradisi ngeker bulan.

Tradisi ngeker bulan merupakan tradisi dimana masyarakat dilarang untuk menyembelih hewan berkaki dua dan empat, mengonsumsi telur, menginap keluar desa dan mendatangkan tamu dari luar desa.

Pemerintahan Desa Adat Kintamani yang disebut ulu apad memiliki peran yang paling penting selama pelaksanaan nyepi desa. Ulu apad merupakan seperangkat majelis tetua desa yang beranggotakan beberapa perwakilan keluarga yang sudah menikah dan memiliki hak pengelolaan tanah Pura.

Ulu apad Desa Adat Kintamani yang dipimpin oleh 16 orang (Saing Nembelas) dan dibantu beberapa anggota akan membagi tugas dalam mempersiapkan tradisi nyepi desa. Masing-masing jabatan dalam ulu apad yaitu dua orang jro kubayan dan dua orang jro bahu bertugas sebagai pemimpin ritual, dua orang jro singgukan bertugas sebagai juru belanja dan sekretaris, dan dua orang jro penakehan bertugas sebagai juru takar dan bendahara.

Selanjutnya terdapat 8 orang penembelasan dan 50 orang kraman tebenan yang bertugas untuk membuat sarana upacara yang diperlukan dalam prosesi nyepi desa.

Bersamaan dengan pelaksanaan tradisi ngeker bulan, ulu apad melaksanakan tradisi ngaliwon yaitu rapat adat yang membahas tentang persiapan nyepi desa. Tradisi ngaliwon dilaksanakan bertempat di bale pegat di Pura Bale Agung.

Pada akhir tradisi ngaliwon ulu apad akan mengadakan sesi mabacakan atau absensiserta ngedum malang yaitu pembagian hasil sarana upacara berupa daging, sate, dan nasi. Sementara itu,para istri anggota ulu apad akan melaksanakan tradisi ngaturang emping yaitu tradisi menghaturkan beras merah yang disangrai pada tempat bambu yang disebut sanggah posa di rumah masing – masing.

Sehari sebelum nyepi desa, dilaksanakan piodalan mosa atau usaba dalem di Pura Dalem Pingit. usaba  dalem merupakan wujud syukur masyarakat kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sarana upakara yang digunakan dalam usaba  dalem terbuat dari sapi jantan yang menandakan berakhirnya tradisi ngeker bulan. usaba  dalem diawali dengan tradisi melaibang sanggah yaitu semacam lomba melarikan sanggah posa.

Kemudian tepat saat tengah malam ulu apad akan melaksanakan ritual nangluk merana yang di tempat yang disebut kalang beten. usaba  dalem diakhiri dengan tradisi medangdung yaitu tradisi menimbulkan bunyi dengan maksud mengusir kekuatan jahat agar tidak mengganggu saat nyepi desa.

Tiga Hari Nyepi Desa

Pada hari pertama nyepi desa, dipentaskan tarian sakral megoak-goakan. Magoak-goakan berasal dari kata goak atau burung gagak. Magoak-goakan ditarikan pada tempat khusus yang disebut karang suci. Para penari magoak-goakan membagi diri menjadi 2 kelompok berdasarkan jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan yang terdiri dari belasan orang.Masing-masing kelompok dipimpin oleh satu orang yang disebut “ina” atau induk dalam Bahasa Indonesia.

Gerakan tarian ini sangat sederhana, masing-masing kelompok akan membentuk barisan panjang yang saling memegang selendang teman, lalu saling kejar dan saling tangkap. Apabila salah satu ina kelompok dapat menangkap orang pada barisan akhir (ekor) kelompok lawan, makai kelompok tersebut akan menjadi pemenang.

Tarian magoak-goakan menjadi momentum yang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat Desa Adat Kintamani.

Seluruh masyarakat tanpa memandang latar belakang dan usia dapat ikut menarikan magoak-goakan. Diyakini jika seseorang ikut menari magoak-goakan (ngayah) maka bisa sembuh dari suatu penyakit yang dideritanya. Secara niskala (tak kasat mata), tarian magoak-goakan merupakan wujud persembahan kepada Ida Ratu Bhatara yang berstana di Pura Dalem Pingit, untuk memohon perlindungan dan kesejahteraan masyarakat Desa Adat Kintamani.

Sedangkan secara sekala (kasat mata), magoak-goakan sebagai simbolis bagaimana seorang pemimpin melindungi rakyatnya dan membangun rasa persatuan diantara masyarakat Desa Adat Kintamani.

Pada hari kedua nyepi desa, masyarakat Desa Adat Kintamani melaksanakan tradisi pengalihan saang yaitu tradisi mencari kayu bakar. Dalam tradisi tersebut terdapat aturan yang sangat ketat, masyarakat dilarang untuk mencari kayu bakar dari pohon yang masih hidup dan hanya diperbolehkan memungut dari pohon yang sudah mati atau tumbang secara alami sebelum nyepi desa dilakukan.

Tradisi pengalihan saang ini erat kaitannya dengan bhisama kayu larangan yang berlaku sejak dulu di Desa Adat Kintamani. Bhisama kayu larangan merupakan aturan tidak tertulis yang melarang penebangan pohon dan tumbuhan kecuali dalam keadaan tertentu dan bagi yang melanggar akan dikenakan sanksi untuk menanam 10 jenis pohon yang ditebang.

Pada hari ketiga nyepi desa, dilaksanakan tradisi myepiang ibu pertiwi. Tradisi nyepiang ibu pertiwi merupakan tradisi yang melarang diadakannya kegiatan yang berkaitan dengan mengolah tanah seperti mencangkul, bertani, menyapu, bahkan sekedar menggosek tanah. Tradisi myepiang ibu pertiwi bertujuan untuk memberikan waktu istirahat bagi tanah yang selama ini menjadi tempat bagi mayoritas masyarakat Desa Adat Kintamani yang bekerja pada sektor pertanian dan perkebunan.

Selama tiga hari perayaan nyepi desa, terdapat 4 pantangan dasar yang harus diikuti yaitu, dilarang menyalakan api, dilarang membuat hiburan selain magoak-goakan, dilarang bekerja, dan dilarang berpergian keluar wilayah desa dengan kendaraan. Keesokan harinya saat ritual ngembak berlangsung, ditandai dengan bunyi kentongan kulkul sebanyak 11 kalimaka nyepi desa sudah berakhir. [T]

Penulis: Putu Sawitra Danda Prasetia
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Di Nusa Penida, Nyepi Tanpa Bantal Bleleng seperti Nggak Nyepi
Perayaan Nyepi di (Kota Budaya) Surakarta: Berbeda dan Meriah
NYEPI BUKAN PERAYAAN TAHUN BARU ŚAKA
Akar Pohon Keheningan | Renungan Nyepi
MANTRA-MANTRA NYEPI REKOMENDASI I GUSTI BAGUS SUGRIWA
Tags: desa adat kintamaniDesa KintamaniHari Raya NyepiKintamanitradisi nyepi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Terpilihnya Figur Remaja Teladan di Pemilihan Duta GenRe Tabanan 2025

Next Post

Saling Memaafkan: Deklaratif atau Performatif?

Putu Sawitra Danda Prasetia

Putu Sawitra Danda Prasetia

Mahasiswa Administrasi Publik Universitas Udayana. IG @sawitra.dp

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Refleksi Hari Pers Nasional Ke-79: Tak Semata Soal Teknologi

Saling Memaafkan: Deklaratif atau Performatif?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co