22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Uniknya “Nyepi Desa” di Desa Adat Kintamani: Dilaksanakan 3 Hari, Diawali “Maboros”, Tanpa Ogoh-ogoh

Putu Sawitra Danda Prasetia by Putu Sawitra Danda Prasetia
March 24, 2025
in Esai
Uniknya “Nyepi Desa” di Desa Adat Kintamani: Dilaksanakan 3 Hari, Diawali “Maboros”, Tanpa Ogoh-ogoh

Bakti tandingan malang saat prosesi nyepi desa di Desa Adat Kintamani

SALAH satu tradisi Bali Aga yang dimiliki oleh Desa Adat Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, ialah nyepi desa. Secara etimologis, nyepi desa terdiri dari dua kata yaitu nyepi dan desa. Nyepi berasal dari kata sepi yang berarti tidak melakukan aktivitas apapun. Sedangkan desa berarti wilayah sama seperti pengertian desa pada umumnya. Sehingga dengan demikian, nyepi desa dapat dimengerti sebagai suatu bentuk kearifan lokal dengan tidak melakukan aktivitas dalam wilayah desa. Nyepi desa di Desa Adat Kintamani dilaksanakan setiap setahun sekali pada sasih kesanga atau bulan kesembilan menurut penanggalan kalender Bali.

Jadi setiap tahunnya Desa Adat Kintamani melaksanakan dua jenis nyepi yaitu nyepi desa dan nyepi umum yang juga dilakukan desa-desa lain di Bali untuk menambut Tahun Baru Saka. Ada perbedaan antara nyepi desa di Desa Adat Kintamani dan nyepi umum Tahun Baru Saka, di mana waktu pelaksanaan nyepi desa biasanya selama tiga hari dan tidak ada pembuatan ogoh-ogoh.

Nyepi Desa Bagian Penting dalam Siklus Pujawali

Nyepi desa menjadi bagian terpenting dalam siklus pujawali atau upacara keagamaan di Desa Adat Kintamani. Sebelum nyepi desa, diawali dengan ritual maboros yaitu tradisi berburu seekor kijang pada hutan desa adat. Kijang yang telah berhasil diburu kemudian akan diolah menjadi sarana upacara yang akan dipersembahkan dalam ritual mejaga (prosesi berjaga). Setelah ritual mejaga dilaksanakan, dilanjutkan dengan tradisi ngeker bulan.

Tradisi ngeker bulan merupakan tradisi dimana masyarakat dilarang untuk menyembelih hewan berkaki dua dan empat, mengonsumsi telur, menginap keluar desa dan mendatangkan tamu dari luar desa.

Pemerintahan Desa Adat Kintamani yang disebut ulu apad memiliki peran yang paling penting selama pelaksanaan nyepi desa. Ulu apad merupakan seperangkat majelis tetua desa yang beranggotakan beberapa perwakilan keluarga yang sudah menikah dan memiliki hak pengelolaan tanah Pura.

Ulu apad Desa Adat Kintamani yang dipimpin oleh 16 orang (Saing Nembelas) dan dibantu beberapa anggota akan membagi tugas dalam mempersiapkan tradisi nyepi desa. Masing-masing jabatan dalam ulu apad yaitu dua orang jro kubayan dan dua orang jro bahu bertugas sebagai pemimpin ritual, dua orang jro singgukan bertugas sebagai juru belanja dan sekretaris, dan dua orang jro penakehan bertugas sebagai juru takar dan bendahara.

Selanjutnya terdapat 8 orang penembelasan dan 50 orang kraman tebenan yang bertugas untuk membuat sarana upacara yang diperlukan dalam prosesi nyepi desa.

Bersamaan dengan pelaksanaan tradisi ngeker bulan, ulu apad melaksanakan tradisi ngaliwon yaitu rapat adat yang membahas tentang persiapan nyepi desa. Tradisi ngaliwon dilaksanakan bertempat di bale pegat di Pura Bale Agung.

Pada akhir tradisi ngaliwon ulu apad akan mengadakan sesi mabacakan atau absensiserta ngedum malang yaitu pembagian hasil sarana upacara berupa daging, sate, dan nasi. Sementara itu,para istri anggota ulu apad akan melaksanakan tradisi ngaturang emping yaitu tradisi menghaturkan beras merah yang disangrai pada tempat bambu yang disebut sanggah posa di rumah masing – masing.

Sehari sebelum nyepi desa, dilaksanakan piodalan mosa atau usaba dalem di Pura Dalem Pingit. usaba  dalem merupakan wujud syukur masyarakat kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sarana upakara yang digunakan dalam usaba  dalem terbuat dari sapi jantan yang menandakan berakhirnya tradisi ngeker bulan. usaba  dalem diawali dengan tradisi melaibang sanggah yaitu semacam lomba melarikan sanggah posa.

Kemudian tepat saat tengah malam ulu apad akan melaksanakan ritual nangluk merana yang di tempat yang disebut kalang beten. usaba  dalem diakhiri dengan tradisi medangdung yaitu tradisi menimbulkan bunyi dengan maksud mengusir kekuatan jahat agar tidak mengganggu saat nyepi desa.

Tiga Hari Nyepi Desa

Pada hari pertama nyepi desa, dipentaskan tarian sakral megoak-goakan. Magoak-goakan berasal dari kata goak atau burung gagak. Magoak-goakan ditarikan pada tempat khusus yang disebut karang suci. Para penari magoak-goakan membagi diri menjadi 2 kelompok berdasarkan jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan yang terdiri dari belasan orang.Masing-masing kelompok dipimpin oleh satu orang yang disebut “ina” atau induk dalam Bahasa Indonesia.

Gerakan tarian ini sangat sederhana, masing-masing kelompok akan membentuk barisan panjang yang saling memegang selendang teman, lalu saling kejar dan saling tangkap. Apabila salah satu ina kelompok dapat menangkap orang pada barisan akhir (ekor) kelompok lawan, makai kelompok tersebut akan menjadi pemenang.

Tarian magoak-goakan menjadi momentum yang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat Desa Adat Kintamani.

Seluruh masyarakat tanpa memandang latar belakang dan usia dapat ikut menarikan magoak-goakan. Diyakini jika seseorang ikut menari magoak-goakan (ngayah) maka bisa sembuh dari suatu penyakit yang dideritanya. Secara niskala (tak kasat mata), tarian magoak-goakan merupakan wujud persembahan kepada Ida Ratu Bhatara yang berstana di Pura Dalem Pingit, untuk memohon perlindungan dan kesejahteraan masyarakat Desa Adat Kintamani.

Sedangkan secara sekala (kasat mata), magoak-goakan sebagai simbolis bagaimana seorang pemimpin melindungi rakyatnya dan membangun rasa persatuan diantara masyarakat Desa Adat Kintamani.

Pada hari kedua nyepi desa, masyarakat Desa Adat Kintamani melaksanakan tradisi pengalihan saang yaitu tradisi mencari kayu bakar. Dalam tradisi tersebut terdapat aturan yang sangat ketat, masyarakat dilarang untuk mencari kayu bakar dari pohon yang masih hidup dan hanya diperbolehkan memungut dari pohon yang sudah mati atau tumbang secara alami sebelum nyepi desa dilakukan.

Tradisi pengalihan saang ini erat kaitannya dengan bhisama kayu larangan yang berlaku sejak dulu di Desa Adat Kintamani. Bhisama kayu larangan merupakan aturan tidak tertulis yang melarang penebangan pohon dan tumbuhan kecuali dalam keadaan tertentu dan bagi yang melanggar akan dikenakan sanksi untuk menanam 10 jenis pohon yang ditebang.

Pada hari ketiga nyepi desa, dilaksanakan tradisi myepiang ibu pertiwi. Tradisi nyepiang ibu pertiwi merupakan tradisi yang melarang diadakannya kegiatan yang berkaitan dengan mengolah tanah seperti mencangkul, bertani, menyapu, bahkan sekedar menggosek tanah. Tradisi myepiang ibu pertiwi bertujuan untuk memberikan waktu istirahat bagi tanah yang selama ini menjadi tempat bagi mayoritas masyarakat Desa Adat Kintamani yang bekerja pada sektor pertanian dan perkebunan.

Selama tiga hari perayaan nyepi desa, terdapat 4 pantangan dasar yang harus diikuti yaitu, dilarang menyalakan api, dilarang membuat hiburan selain magoak-goakan, dilarang bekerja, dan dilarang berpergian keluar wilayah desa dengan kendaraan. Keesokan harinya saat ritual ngembak berlangsung, ditandai dengan bunyi kentongan kulkul sebanyak 11 kalimaka nyepi desa sudah berakhir. [T]

Penulis: Putu Sawitra Danda Prasetia
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Di Nusa Penida, Nyepi Tanpa Bantal Bleleng seperti Nggak Nyepi
Perayaan Nyepi di (Kota Budaya) Surakarta: Berbeda dan Meriah
NYEPI BUKAN PERAYAAN TAHUN BARU ŚAKA
Akar Pohon Keheningan | Renungan Nyepi
MANTRA-MANTRA NYEPI REKOMENDASI I GUSTI BAGUS SUGRIWA
Tags: desa adat kintamaniDesa KintamaniHari Raya NyepiKintamanitradisi nyepi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Terpilihnya Figur Remaja Teladan di Pemilihan Duta GenRe Tabanan 2025

Next Post

Saling Memaafkan: Deklaratif atau Performatif?

Putu Sawitra Danda Prasetia

Putu Sawitra Danda Prasetia

Mahasiswa Administrasi Publik Universitas Udayana. IG @sawitra.dp

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Refleksi Hari Pers Nasional Ke-79: Tak Semata Soal Teknologi

Saling Memaafkan: Deklaratif atau Performatif?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co