5 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer, Relasi Kuasa dan Perlawanan

Aldi Purnama by Aldi Purnama
February 24, 2023
in Ulas Buku
Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer, Relasi Kuasa dan Perlawanan

Novel Bumi Manuisa karya Pramoedya Ananta Toer

Bumi Manusia (1980) karya Pramoedya Ananta Toer merupakan salah satu dari novel Tetralogi Pulau Buru yang dapat dikatakan masterpiece dalam karir Pram.

Bumi Manusia menggambarkan sebuah perjuangan, sosial-kultur, hak dan kewajiban, kekuasaan, dan sebagainya. Bumi Manusia adalah sebuah novel fiksi dengan genre drama history yang memiliki setting di kehidupan periode penjajahan Belanda.

Novel Bumi Manusia mendapat banyak pujian dan mengantarkan Pram sebagai pengarang yang disebut-sebut menjadi nomine penghargaan Nobel Sastra. Dalam sejarah sastra di Indonesia, Novel Bumi Manusia dikatakan sebagai salah satu novel terbaik, karena konon katanya cerita dari Bumi Manusia dapat dikatakan pula sebagai sebuah mahakarya yang menjadi warisan histori terbaik bagi tanah air Indonesia.

Ditafsir lewat sudut pandang yang baru, dapat ditemukan banyak hal yang mungkin sebelumnya tidak dapat terungkap dalam novel Bumi Manusia. Jika novel Bumi Manusia ditelusuri dengan perspektif yang mengacu pada teori struktural konstruktif atau teori praktik sosial, maka akan banyak hal yang dapat dipecahkan dan terungkap dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer ini.

Lalu, bisa dianalisa bagaimana pengarang dapat menyisipkan pemikirannya terhadap permainan tokoh Minke, Nyai Ontosoroh (Sanikem), Annelies Mellema, Robert Mellema, dan Herman Mellema, dalam jalan cerita Bumi Manusia yang berkaitan dengan sosialkultur antara Eropa, Indo, dan pribumi?

Serta, bagaimana pemikiran Pram hingga dapat mengisahkan novel Bumi Manusia yang problem atau masalahnya dihidangkan untuk Minke dan Nyai Ontosoroh? Terutama banyak terjadi kekerasan simbolik (Symbolic Violence) ala Pierre Bourdieu di dalamnya.

Sosial Kuktural

Kekuasaan pada saat itu memang dikatakan bahwa orang Eropa menganggap diri sebagai kaum yang terkenal, berwibawa, berprilaku lebih baik, bahkan merasa dirinyalah yang paling pantas untuk berpendidikan. Tak memandang bahwa kaum pribumi akan dapat mendahului dengan sopan santun, perlawanan, ketekunan, dan keberanian.

Dari awal cerita novel Bumi Manusia banyak mengungkapkan berbagai kekerasan simbolik yang terjadi/dilakukan atas Eropa terhadap kaum Pribumi, terutama yang menimpa Minke. Misalnya, nama Minke yang dapat menggambarkan kata “Monkey” atau dalam bahasa Indinesia adalah “Monyet” diberikan atau disematkan oleh gurunya yaitu Meneer Rooseboom.

Tak hanya sampai perkara itu, Minke adalah satu-satunya orang Pribumi di sekolahnya: HBS. Mendapat berbagai kepungan, kecaman, kekerasan, berupa pelecehan serta deskriminasi oleh kaum Eropa-Indo, serta sempat dipecat dari sekolah HBS.

Namun, Minke tetap sebagai pemenang dalam berbagai hal, terutama di kancah intelektual dan sosialkultural yang dialaminya. Dibuktikannya dengan nominasi yang diperolehnya sebagai lulusan terbaik kedua seHindia Belanda dan pertama seSurabaya. Artinya, dalam hal ini tokoh Minke menggambarkan keberhasilan kaum Pribumi dalam mengalahkan sistem feodalisme, terutama atas kekerasan simbolik dari Eropa-Indo.

Tidak hanya tentang Minke sebagai perwakilan kaum Pribumi. Tokoh Herman Mellema, dikisahkan adalah sesosok yang berbeda dengan kaum Eropa (Belanda) murni/totok lainnya, rajin, elok, tak suka bermain perempuan, penyayang dan bukan pemarah. Disaat meminta agar kedua anak yang ia sayangi (Robert Mellema dan Annelies Mellema) untuk dibaptis, namun penolakan oleh Pendeta karena alasan pernikahan tidak syah dari ibunya (Nyai Ontosoroh) dengan Herman Mellema, juga masih berstatus seorang kaum Pribumi.

“Dengan campurtangan Pengadilan Hukum justru tidak mengakui abangmu dan kau sebagai anakku, bukan anak-anakku lagi, walau Mama ini yang melahirkan. Sejak pengakuan itu kalian, menurut hukum, hanya anak dari Tuan Mellema.” (Bumi Manusia, 136).

Sebagai gambaran kekerasan simbolik yang dihadapi Nyai Ontosoroh sebagai kaum pribumi yang tak mendapatkam keadilan atas keluarganya. Memang saat sebelumnya dengan Nyai Ontosoroh, Herman Mellema sudah pernah beristri juga beranak (Maurits Mellema) di Belanda. Maurits Mellema, ialah yang nantinya akan menjadi peluru yang menusuk bagi harta kekayaan, serta hak asuk Robert dan Annelies Mellema.

Dari gambaran sudut pandang pengarang menggambarkan bahwa segala yang berkaitan dengan Eropa (Belanda) adalah busuk dan feodalisme anarki. Ibaratkan semut (Pribumi) dengan gajah (Eropa), walau semut kecil dan selalu tergilas atas gajah, namun jika sekalinya berulah (melawan) maka gajahpun akan tumbang.

Beralih pada seorang Nyai Ontosoroh alias Sanikem merupakan perempuan jawa ayu dan putri dari juru tulis bernama Sastrotomo. Dijual oleh ayahnya saat usia 14 tahun dan dipergundik oleh Herman Mellema. Namun dididik tuannya, hingga menggenggam modal pengetahuan bahasa dan pengetahuan sosial kultural Eropa, Indo, Pribumi.

“Mama pelajari semua yang dapat kupelajari daru kehendak Tuanku: kebersihan, bahasa Melayu, menyusun tempat tidur dan rumah, masak cara Eropa” (Bumi Manusia. 128).

Pribumi yang berhasil menguasai perusahaan perkasa di dalam lingkaran kehidupan masyarakat kolonial. Tinggal di Wonokromo mendirikan Boerderij Buitenzorg. Nyai Ontosoroh alias Sanikem, membakar masa lalunya yang berembun demi memperoleh kesuksesan. Menjadikan dirinya superioritas dalam usia kurang dari 20 tahun dan menggantikan juga menyurutkan eksistensi tuannya: Herman Mellema. Dari sini, pengarang menggambarkan pemikirannya mengenai persaingan Belanda murni/totok dengan Pribumi Jawa dan perlawanan.

Tuan Herman Mellema sebagai representasi Eropa (yang katanya maha lebih baik dan berpendidikan), tersingkirkan menjadi seorang pecundang. Perilaku yang berbalik 180 derajat, mejerumuskannya pada akhir hayatnya sebagai pecundang di sebuah rumah plesiran/bordil. Begitu juga anaknya: Robert Mellema. Gambaran pengarang yang menuangkan logika pada novel ini menjadikannya sangat ideologis. Seperti pembalikan status kapital, menempatkan Nyai Ontosoroh yang dapat mengatur perusahaan dan menjadi supervisor melengserkan tuannya: Herman Mellema.

Gambaran yang dituangkan oleh pengarang menjadikan sebuah kenyataan dimana kaum kelas bawah mampu melakukan perlawanan terhadap kelas atas walau tidak dengan kekerasan serta dapat membungkam percikan suara kaum Eropa yang menyatakan diri sebagai yang terbaik dari segi perilaku dan pedidikan. Selain itu, gambaran hiperbolisme negatif direpresentasikan oleh Robert Mellema yang menunjukkan kebiadaban bahkan keserakahan kaum Eropa, dengan memperkosa adiknya sendiri: Annelies Mellema.

Seperti itulah gambaran relasi kuasa dan perlawanan: Pribumi versus Eropa. Memang pada tahap tertentu diungguli oleh Pribumi. Namun lingkaran sosial pada masa novel ini adalah Kolonialisme Eropa (Belanda), yang mengakibatkan permainan akan selalu dikuasai hukum kolonial Eropa. Pada akhirnya, atas gugatan hak asuh dari Maurits Mellema atas Robert dan Annelies Mellema, maka kaum Pribumi dinyatakan gugur untuk mempertahankan haknya. Pribumi telah kalah.

“Kita kalah, Ma,”

“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.” (Bumi Manusia. 535).

Akhir yang sangat dramatis dari representasi Pram ini.

Sebenarnya, implementasi Minke di sekolah HBS dan Nyai Ontosoroh yang otodidak, telah membangun kesadaran tentang makna dari sebuah perlawanan terhadap ketidakadilan dengan cara yang bukan beradu badan. Bukan hanya itu, pengarang juga merepresentasikan sebuah perjuangan sebuah bangsa. Relasi kuasa kaum Pribumi dengan Eropa, Ibarat dua senar gitar, sama-sama mengeluarkan suara walau berbeda ukuran. Namun semuanya memiliki hak untuk besuara.

Sedikit uraian Bumi Manusia melalui perspektif pengarangnya menurut saya pribadi, yang dikaitkan dengan kekerasan simbolik dari Pierre Bourdieu. Penting adanya perspektif lain untuk membentuk analisis yang lebih beragam lagi, agar dapat membaca lebih menarik. [T]

Pram dan Kaitannya Dengan Bali
Lika-liku Ambisi Perempuan Dalam Novel “Aroma Karsa” Karya Dee Lestari
Dunia Patriarki Dalam Novel “Lelaki Harimau” Karya Eka Kurniawan
Tags: novelNovel Bumi ManusiaPramoedya Ananta ToerSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tim BPIP Kunjungi DPRD Buleleng, Bahas Ranperda Pendidikan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan

Next Post

Gusti Putu Armada  Resmi Pimpin Perbasi Buleleng

Aldi Purnama

Aldi Purnama

Bernama lengkap Putu Aldi Purnama Putra. Lahir di Desa Banyuatis, 24 Juli 2002. Lulusan SMA Negeri 1 Banjar. Menempuh pendidikan S1 Pendidikan Sastra Agama dan Bahasa Bali, di STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Memiliki pengalaman lomba menggambar desain batik hingga Baligrafi, dari SD sampai sekarang

Related Posts

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails
Next Post
Gusti Putu Armada  Resmi Pimpin Perbasi Buleleng

Gusti Putu Armada  Resmi Pimpin Perbasi Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin
Khas

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 5, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co