16 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer, Relasi Kuasa dan Perlawanan

Aldi Purnama by Aldi Purnama
February 24, 2023
in Ulas Buku
Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer, Relasi Kuasa dan Perlawanan

Novel Bumi Manuisa karya Pramoedya Ananta Toer

Bumi Manusia (1980) karya Pramoedya Ananta Toer merupakan salah satu dari novel Tetralogi Pulau Buru yang dapat dikatakan masterpiece dalam karir Pram.

Bumi Manusia menggambarkan sebuah perjuangan, sosial-kultur, hak dan kewajiban, kekuasaan, dan sebagainya. Bumi Manusia adalah sebuah novel fiksi dengan genre drama history yang memiliki setting di kehidupan periode penjajahan Belanda.

Novel Bumi Manusia mendapat banyak pujian dan mengantarkan Pram sebagai pengarang yang disebut-sebut menjadi nomine penghargaan Nobel Sastra. Dalam sejarah sastra di Indonesia, Novel Bumi Manusia dikatakan sebagai salah satu novel terbaik, karena konon katanya cerita dari Bumi Manusia dapat dikatakan pula sebagai sebuah mahakarya yang menjadi warisan histori terbaik bagi tanah air Indonesia.

Ditafsir lewat sudut pandang yang baru, dapat ditemukan banyak hal yang mungkin sebelumnya tidak dapat terungkap dalam novel Bumi Manusia. Jika novel Bumi Manusia ditelusuri dengan perspektif yang mengacu pada teori struktural konstruktif atau teori praktik sosial, maka akan banyak hal yang dapat dipecahkan dan terungkap dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer ini.

Lalu, bisa dianalisa bagaimana pengarang dapat menyisipkan pemikirannya terhadap permainan tokoh Minke, Nyai Ontosoroh (Sanikem), Annelies Mellema, Robert Mellema, dan Herman Mellema, dalam jalan cerita Bumi Manusia yang berkaitan dengan sosialkultur antara Eropa, Indo, dan pribumi?

Serta, bagaimana pemikiran Pram hingga dapat mengisahkan novel Bumi Manusia yang problem atau masalahnya dihidangkan untuk Minke dan Nyai Ontosoroh? Terutama banyak terjadi kekerasan simbolik (Symbolic Violence) ala Pierre Bourdieu di dalamnya.

Sosial Kuktural

Kekuasaan pada saat itu memang dikatakan bahwa orang Eropa menganggap diri sebagai kaum yang terkenal, berwibawa, berprilaku lebih baik, bahkan merasa dirinyalah yang paling pantas untuk berpendidikan. Tak memandang bahwa kaum pribumi akan dapat mendahului dengan sopan santun, perlawanan, ketekunan, dan keberanian.

Dari awal cerita novel Bumi Manusia banyak mengungkapkan berbagai kekerasan simbolik yang terjadi/dilakukan atas Eropa terhadap kaum Pribumi, terutama yang menimpa Minke. Misalnya, nama Minke yang dapat menggambarkan kata “Monkey” atau dalam bahasa Indinesia adalah “Monyet” diberikan atau disematkan oleh gurunya yaitu Meneer Rooseboom.

Tak hanya sampai perkara itu, Minke adalah satu-satunya orang Pribumi di sekolahnya: HBS. Mendapat berbagai kepungan, kecaman, kekerasan, berupa pelecehan serta deskriminasi oleh kaum Eropa-Indo, serta sempat dipecat dari sekolah HBS.

Namun, Minke tetap sebagai pemenang dalam berbagai hal, terutama di kancah intelektual dan sosialkultural yang dialaminya. Dibuktikannya dengan nominasi yang diperolehnya sebagai lulusan terbaik kedua seHindia Belanda dan pertama seSurabaya. Artinya, dalam hal ini tokoh Minke menggambarkan keberhasilan kaum Pribumi dalam mengalahkan sistem feodalisme, terutama atas kekerasan simbolik dari Eropa-Indo.

Tidak hanya tentang Minke sebagai perwakilan kaum Pribumi. Tokoh Herman Mellema, dikisahkan adalah sesosok yang berbeda dengan kaum Eropa (Belanda) murni/totok lainnya, rajin, elok, tak suka bermain perempuan, penyayang dan bukan pemarah. Disaat meminta agar kedua anak yang ia sayangi (Robert Mellema dan Annelies Mellema) untuk dibaptis, namun penolakan oleh Pendeta karena alasan pernikahan tidak syah dari ibunya (Nyai Ontosoroh) dengan Herman Mellema, juga masih berstatus seorang kaum Pribumi.

“Dengan campurtangan Pengadilan Hukum justru tidak mengakui abangmu dan kau sebagai anakku, bukan anak-anakku lagi, walau Mama ini yang melahirkan. Sejak pengakuan itu kalian, menurut hukum, hanya anak dari Tuan Mellema.” (Bumi Manusia, 136).

Sebagai gambaran kekerasan simbolik yang dihadapi Nyai Ontosoroh sebagai kaum pribumi yang tak mendapatkam keadilan atas keluarganya. Memang saat sebelumnya dengan Nyai Ontosoroh, Herman Mellema sudah pernah beristri juga beranak (Maurits Mellema) di Belanda. Maurits Mellema, ialah yang nantinya akan menjadi peluru yang menusuk bagi harta kekayaan, serta hak asuk Robert dan Annelies Mellema.

Dari gambaran sudut pandang pengarang menggambarkan bahwa segala yang berkaitan dengan Eropa (Belanda) adalah busuk dan feodalisme anarki. Ibaratkan semut (Pribumi) dengan gajah (Eropa), walau semut kecil dan selalu tergilas atas gajah, namun jika sekalinya berulah (melawan) maka gajahpun akan tumbang.

Beralih pada seorang Nyai Ontosoroh alias Sanikem merupakan perempuan jawa ayu dan putri dari juru tulis bernama Sastrotomo. Dijual oleh ayahnya saat usia 14 tahun dan dipergundik oleh Herman Mellema. Namun dididik tuannya, hingga menggenggam modal pengetahuan bahasa dan pengetahuan sosial kultural Eropa, Indo, Pribumi.

“Mama pelajari semua yang dapat kupelajari daru kehendak Tuanku: kebersihan, bahasa Melayu, menyusun tempat tidur dan rumah, masak cara Eropa” (Bumi Manusia. 128).

Pribumi yang berhasil menguasai perusahaan perkasa di dalam lingkaran kehidupan masyarakat kolonial. Tinggal di Wonokromo mendirikan Boerderij Buitenzorg. Nyai Ontosoroh alias Sanikem, membakar masa lalunya yang berembun demi memperoleh kesuksesan. Menjadikan dirinya superioritas dalam usia kurang dari 20 tahun dan menggantikan juga menyurutkan eksistensi tuannya: Herman Mellema. Dari sini, pengarang menggambarkan pemikirannya mengenai persaingan Belanda murni/totok dengan Pribumi Jawa dan perlawanan.

Tuan Herman Mellema sebagai representasi Eropa (yang katanya maha lebih baik dan berpendidikan), tersingkirkan menjadi seorang pecundang. Perilaku yang berbalik 180 derajat, mejerumuskannya pada akhir hayatnya sebagai pecundang di sebuah rumah plesiran/bordil. Begitu juga anaknya: Robert Mellema. Gambaran pengarang yang menuangkan logika pada novel ini menjadikannya sangat ideologis. Seperti pembalikan status kapital, menempatkan Nyai Ontosoroh yang dapat mengatur perusahaan dan menjadi supervisor melengserkan tuannya: Herman Mellema.

Gambaran yang dituangkan oleh pengarang menjadikan sebuah kenyataan dimana kaum kelas bawah mampu melakukan perlawanan terhadap kelas atas walau tidak dengan kekerasan serta dapat membungkam percikan suara kaum Eropa yang menyatakan diri sebagai yang terbaik dari segi perilaku dan pedidikan. Selain itu, gambaran hiperbolisme negatif direpresentasikan oleh Robert Mellema yang menunjukkan kebiadaban bahkan keserakahan kaum Eropa, dengan memperkosa adiknya sendiri: Annelies Mellema.

Seperti itulah gambaran relasi kuasa dan perlawanan: Pribumi versus Eropa. Memang pada tahap tertentu diungguli oleh Pribumi. Namun lingkaran sosial pada masa novel ini adalah Kolonialisme Eropa (Belanda), yang mengakibatkan permainan akan selalu dikuasai hukum kolonial Eropa. Pada akhirnya, atas gugatan hak asuh dari Maurits Mellema atas Robert dan Annelies Mellema, maka kaum Pribumi dinyatakan gugur untuk mempertahankan haknya. Pribumi telah kalah.

“Kita kalah, Ma,”

“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.” (Bumi Manusia. 535).

Akhir yang sangat dramatis dari representasi Pram ini.

Sebenarnya, implementasi Minke di sekolah HBS dan Nyai Ontosoroh yang otodidak, telah membangun kesadaran tentang makna dari sebuah perlawanan terhadap ketidakadilan dengan cara yang bukan beradu badan. Bukan hanya itu, pengarang juga merepresentasikan sebuah perjuangan sebuah bangsa. Relasi kuasa kaum Pribumi dengan Eropa, Ibarat dua senar gitar, sama-sama mengeluarkan suara walau berbeda ukuran. Namun semuanya memiliki hak untuk besuara.

Sedikit uraian Bumi Manusia melalui perspektif pengarangnya menurut saya pribadi, yang dikaitkan dengan kekerasan simbolik dari Pierre Bourdieu. Penting adanya perspektif lain untuk membentuk analisis yang lebih beragam lagi, agar dapat membaca lebih menarik. [T]

Pram dan Kaitannya Dengan Bali
Lika-liku Ambisi Perempuan Dalam Novel “Aroma Karsa” Karya Dee Lestari
Dunia Patriarki Dalam Novel “Lelaki Harimau” Karya Eka Kurniawan
Tags: novelNovel Bumi ManusiaPramoedya Ananta ToerSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tim BPIP Kunjungi DPRD Buleleng, Bahas Ranperda Pendidikan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan

Next Post

Gusti Putu Armada  Resmi Pimpin Perbasi Buleleng

Aldi Purnama

Aldi Purnama

Bernama lengkap Putu Aldi Purnama Putra. Lahir di Desa Banyuatis, 24 Juli 2002. Lulusan SMA Negeri 1 Banjar. Menempuh pendidikan S1 Pendidikan Sastra Agama dan Bahasa Bali, di STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Memiliki pengalaman lomba menggambar desain batik hingga Baligrafi, dari SD sampai sekarang

Related Posts

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails
Next Post
Gusti Putu Armada  Resmi Pimpin Perbasi Buleleng

Gusti Putu Armada  Resmi Pimpin Perbasi Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Esai

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng
Khas

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

RUMAH itu kembali ramai, tetapi bukan karena bunyi pahat atau aroma cat yang biasa mengisi ruang-ruangnya. Sabtu, 11 Juli 2026...

by Komang Puja Savitri
July 15, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)
Khas

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata...

by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi
Ulas Rupa

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif
Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co