23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nyepi di Gumi Delod Ceking Dekade 1970-an

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
March 28, 2025
in Khas
Nyepi di Gumi Delod Ceking Dekade 1970-an

Pantai Bias Tugel Nusa Dua | Foto: Nyyoman Tingkat

NYEPI di Gumi Delod Ceking kawasan Nusa Dua, Jimaran, dan sekitarnya, pada dekade 1970-an sangat berbeda dengan Nyepi kini era 2020-an. Pada era 1970-an, meski tanda-tanda perubahan sudah di depan mata akibat pemblokiran tanah-tanah penduduk di Kawasan Nusa Dua oleh BTDC (kini : ITDC) pada zaman awal Orde Baru dengan Presiden Soeharto, tapi suasana hening masih terasa begitu dalam dan khusyuk.

Terlepas dari riak-riak politik kala itu,  guyub masyarakat masih sangat kuat terasa dalam bergotong royong dengan sebutan ngidih olas.  Tradisi ngidih olas biasanya berhubungan dengan kegiatan membajak di kebun, membangun pelinggih, membangun rumah, memindahkan rumah. Semuanya dilakukan tanpa bayaran, cukup diganti dengan kopi-jaja kukus dan makan siang. Obrolan pun mengalir dan mengalur penuh suka cita.

Menjelang dekade 1990-an, tradisi ngidih olas mulai ditinggalkan. Orang dari Gumi Delod Ceking mulai dengan sistem kerja harian/borongan. Mula-mula berlaku bagi keluarga terdekat, lambat laun ke tetangga jauh. Anehnya, banyak yang memercayakan kepada tetangga jauh dengan penawaran serendah-rendahnya, tetapi pekerjaan belum selesai dan upah sudah dilunasi, lalu ditinggal tanpa pesan.

Mereka terlalu percaya dengan omongan bualan janji manis orang yang tidak dikenal sebelumnya, penyesalan pun menyusul. Orang setempat menyebutnya, kacangkik tukang alias dibohongi tukang. Hal itu terjadi karena rapuhnya ikatan kekeluargaan, tetapi menguatnya ilmu “kebatinan” dalam arti mencari banyak keuntungan (ngalih bati) menjadi penguat  manusia sebagai makhluk ekonomi (homo economicus).

Apa hubungannya dengan Hari Suci Nyepi Saka 1947, yang jatuh bersamaan dengan Tumpek Wariga, Sabtu Kliwon 29 Maret 2025 ini?

Dengan menggunakan pendekatan trisemaya atita (masa lalu),  wartamana (masa kini), dan  anagata (masa depan), kita dapat menarik garis linearitas keterhubungan antarwaktu, dengan segala dinamikanya.   Sebelum dekade 1980-an, orang-orang Delod Ceking adalah orang-orang yang homogen. Mereka amat bergantung pada alam (laut dan darat/abian). Bila Nyepi tiba, keguyuban mereka amat terasa.

Nyepi adalah ajang bersilaturahmi antarguyub. Pagi hingga siang mereka saling bersilaturahmi dengan hidangan kue yang dibuat bergadang semalam sebelum Nyepi. Persis setelah Ngerupuk di tengah kegelapan dapur dengan kayu bakar. Mengapa gelap? Listrik belum ada, air pun susah, makanya dihemat.

Kala itu, orang-orang Delod Ceking bersilturahmi pada hari Nyepi dari pagi hingga siang. Saling mengunjungi sanak saudara dengan cerita kisah agraris dan maritim berteman kopi, jongkong tabu (jaja waluh, ini ada lagunya pula dari A.A. Made Cakra), sumping, jaja kukus, pulung-pulung ubi (ada lagunya pula dari A.A. Made Cakra), orog-orog (ubi diurab dipulung dan ditaburi gula bali). Semua bahannya dari abian, bukan swalayan yang dikenal kini.

Oleh karena mereka juga pangangon, maka pakan sapi pun disiapkan sehari menjelang Nyepi dengan ngarit padang untuk stok saat Nyepi. Aneh juga kalau dipikir, saat Nyepi sapi dikandangkan. Majikannya melayani dan memberikan padang hijau yang khusus disiapkan, Sementara itu, si majikan bersenang-senang dalam bungkus silaturahmi (masima krama). Dengan kalimat lain, majikan membatasi ruang gerak buat sapi untuk terikat di kandang.

Sore harinya, mereka nyelisib mengunjungi situs-situs dekat pantai dan melaut. Krama Desa Adat Kutuh, misalnya mengunjungi Pura/situs-situs di tebing ngampan seperti Pura Batu Pageh, Pura Batu Madinding, atau Song Bintang. Situs Song Bintang terletak beberapa meter di utara tebing ngampan sekitar 600 meter di Barat Pura Gunung Payung. Song Bintang  konon terhubung langsung ke goa yang tembus ke laut. Apresiasi mereka berkecenderungan  mendekat ke laut, dengan berjalan kaki.

Dekade sebelum 1970-an, Nyepi sore hari rerata orang-orang Delod Ceking ke pantai. Krama Desa Adat Bualu, Peminge, Jimbaran, bahkan krama Kuta juga masliahan ke pantai setelah paginya mereka masima krama. Maklumlah sore hari saat Nyepi adalah pananggal apisan dan air laut surut. Mereka bukan sekadar mandi ke laut saat Nyepi, melainkan juga mencari isin payuk untuk lauk.

Setiba di pondok masing-masing, mereka membuat soup ikan. Nyala api dari kayu bakar tak terhindarkan. Saya yang saat itu sudah diingatkan guru tentang Catur Brata Nyepi ketakutan, jangan-jangan diendus guru dilaporkan terus dihukum. Ketakutan pada guru begitu kuat padahal tidaklah mungkin para guru itu tahu, apa yang kami kerjakan di rumah saat Nyepi karena pondok sangat jauh di leke-leke posisinya.

Tempat di leke-leke dulu, kini sudah menyala dan berbinar diincar wong sunantra (orang asing). Entah dari mana mereka berasal. Tertutup dan terasing dari alam lingkungan dengan tembok tinggi tiadalah ramah lingkungan. Paradoks di tengah-tengah penghuni aslinya yag terkenal ramah tamah. Memang kata “ramah” sama fonem pembentuknya dengan kata “marah” sehingga orang marah juga mudah ditemukan di balik orang ramah yang bersembunyi, nyineb wangsa. Koh ngomong.

Begitulah, zaman berubah. Orang dari negeri jauh datang dan pergi. Ada yang tinggal sekejap seperti juru foto sekadar memotret lalu diviralkan. Tidak sedikit pula yang lama tinggalnya bahkan masa tinggalnya sudah habis dan kadaluwarsa. Anehnya, mereka bikin onar susah diatur. Bila ditertibkan saat Nyepi mereka pura-pura tidak tahu dengan alasan orang baru dan tidak faham. Pecalang pun dibuat repot. Inilah tantangan Nyepi kini, memerlukan penyadaran ke dalam dan ke luar. Ke dalam dengan krama Hindu sendiri dan ke luar dengan semeton non-Hindu yang jumlahnya kian banyak dengan kultur, agama, dan tingkat sosial ekonomi yang beragam. Tidaklah mudah mengelola mereka. Namun, kita tidak boleh menyerah apalagi mengeluh.

Berbeda dengan dekade 1970-an ketika penduduk Gumi Delod Ceking  masih relatif homogen. Kendaraan dan sepeda motor tidak banyak. Jalanan tidak macet pikiran orang-orannya pun tidak mumet. Ogoh-ogoh  belum sepopuler kini. Ogoh-ogoh mulai dikenal awal 1980-an.  Ogoh-ogoh dibuat dengan kekuatan dan kemandirian penuh, tanpa bansos. Bahan-bahannya pun seadanya. Ogoh-ogoh diarak keliling desa diikuti pasukan obor dari sekaa teruna dan anak sekolah. Setelahnya mereka kembali ke banjar masing-masing menikmati makanan seadanya dalam guyub bermasyarakat. Jadi, tujuh kebiasaan Anak Indonesia Hebat gagasan Mendikdasmen Abdul Mu’ti sudah dilaksanakan anak-anak muda Bali sejak dahulu kala.

Mengenang Nyepi era 1970-an saat saya masih SD adalah sebuah nostalgia rindu dengan masa kanak-kanak. Rindu mendapat  kue dari rumah ke rumah. Makanan rakyat yang bentuk, jenis, dan bahannya seragam sebagai simbol ketahanan pangan. Masyarakat di tengah kesulitan, begitu cerdas matakeh untuk bisa bertahan hidup yang kini lebih diproyekkan sebagai Proyek Ketahanan Pangan. Hasilnya pun belum optimal. Berbeda dengan era 1970-an, semuanya bertahan dengan laku guna dusun. Semua hasil abian dimakan penuh rasa syukur dengan ngobrol kangin kauh sambil menyeruput kopi.

Rahajeng Rahina Suci Nyepi Saka 1947. Mogi rahayu sekala-niskala. [T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Adnyana Ole

Ogoh-Ogoh, Nyepi, dan Idulfitri 
Uniknya “Nyepi Desa” di Desa Adat Kintamani: Dilaksanakan 3 Hari, Diawali “Maboros”, Tanpa Ogoh-ogoh
Refleksi Spiritual Nyepi, Tumpek Wariga, dan Idulfitri dalam Pendidikan Pertanian
Di Nusa Penida, Nyepi Tanpa Bantal Bleleng seperti Nggak Nyepi
Tags: Desa Adat JimbaranGumi Delod CekingHari Raya NyepiJimbaranNusa Dua
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nyepi, Lawar Godel, Hipertensi

Next Post

Panggung, Napas, dan Keberanian Ketika Seorang Perempuan Menjadi Dirinya Sendiri

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Panggung, Napas, dan Keberanian Ketika Seorang Perempuan Menjadi Dirinya Sendiri

Panggung, Napas, dan Keberanian Ketika Seorang Perempuan Menjadi Dirinya Sendiri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co