3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wajah Indonesia Bopeng

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan foto kedua anaknya yang akan berangkat sekolah. Mereka berangkat pagi-pagi. Seragam sudah rapi. Tas sudah di punggung. Buku juga sudah masuk. Tetapi pagi itu bukan cahaya matahari yang pertama kali menyambutnya, melainkan kabut asap pekat.

Bayangkan, mereka berjalan menuju sekolah dengan udara yang seharusnya menjadi hak paling sederhana seorang anak, udara yang bisa dihirup tanpa rasa khawatir. Ironisnya, di negeri yang dulu dikenal sabagai Zamrud Khatulistiwa, yang konstitusinya menjanjikan hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat, seorang anak justru harus belajar menghadapi lingkungan yang sedang sakit.

Plot Twist Film Ekologi

Nah, pada saat yang hampir bersamaan, Sungai Barito, salah satu sungai besar Kalimantan, mengalami penyusutan debit yang ekstrem. Di sekitar Kalahien, Barito Selatan, muncul hamparan pasir dan daratan di tengah aliran. Bahkan motor bisa lewat di situ menyeberangi sungai. BMKG menyebut wilayah tersebut sedang berada pada puncak musim kemarau.

Seingat saya sejak saya masih SD, Barito adalah sungai yang besar, berada di Kalimantan yang dikenal sebagai pulau yang basah, hijau, dan berhutan. Pasti yang yang akan bilang penyebabnya karena memang sedang musim kemarau. Berarti kita baru membaca gejalanya, belum membaca ceritanya.

Kita bukan sedang menyaksikan air yang berkurang. Namun kita sedang menyaksikan sebuah sistem kehidupan, yang perlahan kehilangan kemampuan untuk menjaga dirinya sendiri.  Dan ini urusan yang serius. Hutan bukan sekadar kumpulan pohon. Dalam sistem ekologis, hutan membantu menyerap, menyimpan, dan mengatur air. Sungai juga bukan cuma sekadar saluran yang mengangkut air dari hulu ke hilir. Sungai sangatlah kompleks, karena punya banyak cerita yang terjadi di daerah aliran sungainya.

Apa yang kita lakukan terhadap hutan, tanah, rawa, gambut, dan lahan pada akhirnya akan diceritakan kembali oleh sungai. Alam akan bertutur ke kita dalam bentuk banjir, kadang dalam bentuk air keruh, sekrang lebih seram, sungai Barito yang kehilangan air.

Tentu kita tidak boleh asal menunjuk satu tersangka. Memang ada perubahan iklim, variasi cuaca, dan kemarau ekstrem yang berperan penting. Tetapi justru karena iklim sedang berubah, kita harus segera menyadari seberapa kuat sebenarnya lanskap kita menghadapi perubahan itu. Kita tahu hutan yang sehat adalah semacam tabungan ekologis yang membantu tanah menyimpan air ketika hujan datang dan menopang aliran ketika hujan pergi.

Maka, ketika tutupan hutan berubah menjadi perkebunan, pertambangan, jalan, permukiman, atau penggunaan lain, yang berubah bukan hanya warna pada gambar peta. Yang berubah itu sebenarnya adalah kemampuan alam untuk bekerja.

Dan ketika kemampuan lanskap menyimpan air berubah, melemah, maka  kemarau yang sama dapat menghasilkan akibat yang berbeda. Di satu tempat, ada sisi sungai masih mengalir, di sisi lain sungai  pasir mulai muncul. Lalu datang api. Kita tengok di bulan Agustus ini, karhutla kembali menjadi persoalan serius di banyak wilayah Kalimantan. Pemerintah bahkan menguatkan operasi terpadu di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Persoalannya serius karena kabut asap telah mengganggu jarak pandang dan aktivitas masyarakat di sana. Jadi kita seperti sedang melihat tiga adegan dari satu film ekologis. Adegan air menyusut, tanah mengering, lalu api datang. Plot twist dari film ini adalah adanya pemeran lain yang sering luput dari kamera kita, kebudayaan.

Kebudayaan yang Limbung

Sebab bagi banyak masyarakat Kalimantan, hutan dan sungai bukan sekadar benda alam.  Hutan adalah ruang hidup. Sungai adalah jalan, pasar, sumber pangan. Sungai adalah orientasi kehidupan.  Dan alam adalah guru yang menjadi sumber pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Di Hutan Adat Sungai Utik, Kalimantan Barat, misalnya, masyarakat Dayak Iban memiliki kelembagaan dan aturan adat dalam mengelola hutan secara lestari. Praktik tersebut bahkan telah memperoleh pengakuan melalui sertifikasi ekolabel dan penghargaan internasional. Semua itu melahirkan kearifan lokal yang bukan sekadar kalimat indah seperti “jangan merusak alam”. Ia bisa berbentuk aturan, pengetahuan, teknologi, ritual, dan kelembagaan sosial.

Kemampuan membuat perahu tradisional, membaca musim, mengenali berbagai jenis ikan, menentukan kawasan yang boleh dan tidak boleh diambil, menjaga hutan adat, semua itu adalah pengetahuan sekaligus sistem sosial. Dengan kata lain, kebudayaan tumbuh dari ekologi. Maka ketika ekologi rusak, kita jangan hanya menghitung berapa pohon yang hilang.

Dari situ pula kita bisa hitung berapa pengetahuan yang ikut hilang. Berapa jenis tanaman yang tak lagi dikenal. Ada juga makanan yang tak lagi tersedia. Belum lagi berapa cerita tentang sungai yang tak lagi relevan, keterampilan yang tidak lagi diwariskan dan terbayang kelak anak cucu kita hanya mengenal hutan dari buku pelajaran. Itupun buku sudah digusur oleh gadget.

Di sinilah, kita lalu perlu untuk memahami istilah biocultural diversity, di mana keanekaragaman hayati dan keanekaragaman budaya tidak selalu berdiri sendiri. Keduanya saling menopang agar tidak limbung. Maka, ketika hutan kehilangan rumahnya, kebudayaan yang lahir dari hutan pun dapat kehilangan habitat sosialnya.

Begitu pula sungai. Kita mungkin masih mempertahankan nama “Barito”. Nama sungainya tetap ada. Di peta juga masih mencantumkannya. Dituliskan juga dalam buku sekolah. Tapi kalau sungainya terus berubah, kehidupan budaya yang dahulu mengikutinya juga dapat berubah.

Rumah Ekologis Budaya

Kemudian saya ingin menggunakan satu metafora yang agak menyedihkan. Indonesia bopeng. Wajah manusia yang bopeng masih bisa memperlihatkan kecantikan, keteguhan, bahkan kewibawaan pemiliknya. Tetapi wajah sebuah bangsa saya kira agak berbeda dari itu.

Karena wajah bangsa bukan cuma gunung yang indah untuk difoto atau hutan yang hijau dari udara. Wajah bangsa juga terlihat dari bagaimana ia memperlakukan alam, masyarakat, dan masa depannya sendiri.  Karena itu, bopeng ekologis seharusnya membuat kita menyadari tentang sesuatu yang lebih dalam daripada lingkungan yang rusak. 

Ini soal kualitas tata kelola kita, tentang siapa yang mendapatkan keuntungan dari alam Kalimantan. Lalu siapa sih, yang selama ini  yang mendapat izin untuk mengubahnya? Apakah masyarakat adat di sana menikmati hasil ekonominya, dan ketika alam rusak, malahan saudara-saudara kita di sana yang membayar tagihannya.

Ironi juga saya kira ketika sekolah mengajarkan anak tentang cinta lingkungan, sementara ia harus melewati asap untuk sampai ke sekolah seperti kasus di atas. Kita mengajarkan pentingnya sungai, sementara sungai di dekatnya kehilangan air. Kita mengajarkan kebudayaan Dayak, Banjar, Melayu, Kutai, dan berbagai masyarakat Kalimantan, tetapi habitat ekologis yang melahirkan sebagian kebudayaan itu, pelan tapi pasti, terus berubah.

Sepertinya kontradiksi di saat kita sibuk mengajarkan pelestarian budaya, tetapi lupa bahwa kebudayaan juga membutuhkan rumah ekologis. Budaya kita ajarkan lewat tarian, membuat festival, dicetak di buku, sampai membangun museum.  Tapi kita lupa kita menjaga hutan dan sungai tempat kebudayaan itu tumbuh.

Atau,  jangan-jangan kita sedang melakukan sesuatu yang aneh, Saudara. Kita  melestarikan budaya setelah menghancurkan habitat budayanya. Mungkin itulah mengapa bagi saya anak yang berjalan menuju sekolah dalam kepungan asap, menjadi gambaran yang jauh lebih kuat daripada sekadar  membaca jumlah angka titik panas.

Wajah Indonesia Kelak

Anak itu adalah masa depan. Asap adalah akibat dari hutan berharga warisan masa lalu yang sedang kita perlakukan hari ini. Kalau boleh agak puitis, Sungai Barito adalah semacam cermin yang memperlihatkan semuanya. Mungkin Barito tidak sedang sekadar kering. Mungkin ia sedang memberi tahu kita bahwa sebuah sistem telah berubah. Seperti halnya Kalimantan tidak sedang sekadar terbakar. Namun sedang bercerita ketahanan ekologis memiliki batas.

Yang lebih sedih, mungkin Indonesia tidak sedang sekadar kehilangan hutan. Mungkin Indonesia sedang kehilangan sebagian wajahnya sendiri. Karenanya benak kita mestinya bukan sekadar berapa banyak pohon yang bisa kita tanam kembali, namun seperti apa Indonesia yang ingin kita wariskan pada anak-anak itu yang hari ini berjalan menembus asap, saat mereka dewasa.

Sebab jika hutan terus hilang, sungai terus menyusut, dan keuntungan alam terus mengalir kepada segelintir orang, sementara kerusakannya diwariskan kepada anak-anak kita, suatu hari kita mungkin masih memiliki Indonesia yang secara administratif utuh. Tetapi wajahnya mungkin semakin bopeng.

Bukan sekadar wajah Indonesia menjadi kurang indah. Tetapi bahwa bopeng tersebut mungkin  memperlihatkan siapa sebenarnya kita dalam memperlakukan rumah yang kita sebut Indonesia.   Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: IndonesialingkunganPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

Next Post

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co