24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Yang Tak Biasa Menjadi Seorang Ibu | Catatan Monolog Nova Aryani, “Hidup Dimulai di 40”

Son Lomri by Son Lomri
March 19, 2025
in Ulas Pentas
Yang Tak Biasa Menjadi Seorang Ibu | Catatan Monolog Nova Aryani, “Hidup Dimulai di 40”

Nova Aryani saat memainkan monolog pada acara Mahima March March March 2025 di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja-Bali, Jumat, 14 Maret 2025 | Foto: Dok. Komunitas Mahima

MONOLOG yang dipentaskan oleh Nova Aryani berjudul “Hidup Dimulai di 40”, tidak sekadar mempertunjukkan sebuah gosip dari autografi dirinya sendiri, yang isinya hanya tentang isu rumah tangga, dan tentang masa kecilnya tumbuh di kota yang sunyi dengan segala macam permasalahan. Ia mempertunjukkan sesuatu yang tak biasa bagi dirinya, barangkali tak biasa juga bagi ibu-ibu lain.

Naskah monolog itu ditulis dan sekaligus disutradarai Kadek Sonia Piscayanti, sastrawan sekaligus founder Komunitas Mahima. Naskah itu dimainkan oleh Nova dalam acara Mahima March March March di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Jumat malam, 14 Maret 2025.

Monolog ini adalah bagian dari projek Monolog 100 Perempuan yang digarap Kadek Sonia Piscayanti. Nova membawakan “Hidup Dimulai di 40” sebagai monolog yang ke-12.

Nova memainkan monolog dengan santai, nyaris tanpa hentakan, namun tetap terasa gregetnya. Sepertinya penonton menebak ia akan terjebak pada kisah romantisme perempuan ibu rumah tangga, apalagi ia seorang ibu yang belum pernah melakukan pementasan di atas panggung. Ia bukan orang teater.

Penonton barangkali mengira kisahnya akan jatuh pada curahan hati pada orang-orang mendengarkan—bahwa begitu pedih menjadi seorang perempuan sekaligus menjadi seorang ibu, yang banyak merenggut banyak waktu atau mendamparkanya pada ranah kerja yang eksploitatif terutama di ruang keluarga.

Misalnya, harus ngurus ini, ngurus itu. Di dapur atau di kamar, atau di sekolah anak-anak saat mengantarkannya pergi pagi-pagi. Atau lagi yang paling serem, mengurusi seabrek urusan adat dan ritual agama yang ketat.

Tapi tidak. Monolog itu tidak seperti itu. Memang, naskah monolog itu ditulis berdasarkan cerita personal pemainnya, namun justru cerita personal itu disulap oleh Kadek Sonia Piscayanti menjadi lebih atraktif. Lebih hidup.

Monolog itu akan terasa biasa-biasa saja jika  kisahnya hanya tentang seseorang menjadi ibu dengan dua anak satu suami. Yang pandai memasak, pandai berjualan. Hidup harmonis dengan keluarga, dan sejenisnya. Kisahnya tidak sesederhana itu.  

Monolog itu menceritakan tentang bagaimana seorang Nova yang hidup harmonis dengan keluarga itu memilih kegiatan lain di luar kehidupan rumah tangga. Yakni berkomunitas. Dan, ia mendapati hidupnya penuh gairah saat masuk komunitas penulis, dan itu terjadi pada usianya masuk 40 tahun.

Nova Aryani saat memainkan monolog pada acara Mahima March March March 2025 di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja-Bali, Jumat, 14 Maret 2025 | Foto: Dok. Komunitas Mahima

Ia memulai monolognya dengan kisah pengalamannya menjadi seorang ibu, memasak di dapur untuk keluarga, untuk suami di kamar, dan mengantar anak sekolah. Pengalaman itu diperankan secara lebih liat, sehingga ia tak sekadar bercerita.

Kehidupan nyatanya berhasil diawa ke atas panggung yang luas—merupa teater.

Pengalaman-pengalaman biasa, sehari-hari, dirasakan lagi oleh Nova. Dihidupkan kembali untuk sebuah pementasan, agar semua bisa merasakan secara adil, melalui satu peran dirinya sendiri, yang seakan-akan menjadi cerita orang lain. Maksudnya, ia menyuguhi penonton seuah pementasan, bukan sebuah curhat colongan yang kering.

  • BACA JUGA:
“Hidup Dimulai di 40”, Cerita Kecil Tentang Monolog yang Saya Mainkan

Panggung yang sempit dikuasai Nova seperti keluasan laut biru ketika monolog itu dipertunjukkan. Orang-orang tenggelam pada matanya yang berair ketika ia masuk pada cerita yang mengharukan. Malam itu senyap.

Nova seorah melintasi banyak peristiwa, menyampaikannya dengan intuisi. Para penonton berlayar di matanya yang sayu…

“Lalu di 27 tahun umurku, aku menjadi istri. Seorang laki-laki temanku di SMP dan SMA, kini menjadi suamiku. Kami bahagia dengan anak-anak yang pintar dan sehat.”

“Ciee…,” celetuk salah satu penonton, hanyut pada pembawaan Nova. Dan Nova juga hanyut pada dirinya sendiri.

“Sebagai Ibu, aku memilih menjadi ibu yang moderat. Memberi anak-anakku pilihan yang mereka inginkan tapi yang mampu aku beri panduan.

Lalu apa yang kurang? Yang kurang barangkali adalah aku dan diriku sendiri yang merasa belum menemukan makna diri. Bukan aku kurang bersyukur, tapi aku ingin menjadi diriku sendiri.”

Narasi kuat tentang hidup, setelah ruang ke tiga—yang kata Ray Oldenburg, menjadi pengaruh bagi Nova dalam menyesap makna lebih manis. Di umurnya yang masuk ke-40, hidup dijalankannya lebih asik, seperti terwujudnya soal mimpi-mimpi.

Hal itu ia rasakan setelah bergabung dengan Komunitas Mahima. Ini bukan pujian kosong, hati seorang ibu yang berbicara. Berani menggugat?

“Pertunjukan yang bagus. Bahkan saya sampai tak sadar mengucapkan ‘cie’ tadi, saya mohon maaf soal itu, tak bermaksud menagganggu, tapi memang tenggelam. Monolog yang dibawakan oleh Bu Nova ini cukup interaktif,” kata Andy Sri Wahyudi, pantomimer dan penulis buku “Sana dan Sini” di sela diskusi.

Nova Aryani saat memainkan monolog pada acara Mahima March March March 2025 di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja-Bali, Jumat, 14 Maret 2025 | Foto: Dok. Komunitas Mahima

Andy Sri Wahyudi alias Andi Eswe juga menjelaskan pertunjukan monolog sederhana itu bisa lebih bagus ketika dapur misalnya (tempat yang tak jauh dari tempat pementasan) menjadi panggung, dan alat-alat di dapur bisa menjadi bagian dari pementasan itu untuk bisa lebih menguatkan soal peran.

Monolog “Hidup Dimulai di 40” yang diperankan oleh Nova Aryani, adalah sebuah cerita tentang dirinya yang mencoba ranah lain untuk mengusir kebosanan dan rasa suntuk di samping kesibukan-kesibukan rumah tangga.

Melalui monolog itu, melalui naskah itu, Nova melugaskan bahwa di umurnya berkepala empat bukan persoalan untuk ia kembali berurusan dengan buku, dengan menulis.

Nova, atau bernama lengkap Ni Luh Nova Aryani, adalah seorang pengagum Dee Lestari. Nyaris semua buku milik Dee dibacanya tuntas ketika umurnya masih 20. Ketika buku sudah tuntas dibaca, dibacanya kembali dan terus begitu.

Mencintai karya-karya Dee, kemudian menjadi mencintai sosok Dee setelah ia bertemu dengan si penulis melalui komunitas pada sebuah festival di Singaraja. Menurut Nova, sangat kecil kemungkinan untuk bertemu dengan si penulis selain dari karya-karyanya.

Bagian itu dibawakan oleh Nova ketika monolog tentang dirinya, membawa orang-orang yang menonton membayangkan, sekian tahun menenggrlami karya-karya si penulis, tiba-tiba ketemu secara langsung dan berbicara secara langsung. Rasanya seperti bertemu seorang kekasih yang lama tidak bertemu. Jiwa jadi kebun bunga.

Sebab lebih dari sekadar berswafoto bersama setelah bertemu, Nova mengolah kesempatan itu lebih berarti; yang positif dan panjang. Harinya menjadi ladang produktif untuk ditanami kata-kata.

“Aku menjemput Dee dan dia bicara padaku seperti dalam mimpi. Ia tak hanya ramah, dia memang seorang Dewi, yang baik hati dan peduli.”

Begitu kata Nova dalam monolognya.

Sekarang di sela ia berjualan alat-alat rumah tangga—sebagaimana biasanya, mengurus anak dan suami, atau merawat rumah tinggal beserta isinya, membaca buku tak pernah luput walaupun usia—yang katanya, agak terlambat untuk berjalan di dunia penulisan.

Tapi itu dilakukan dengan suka cita, dan bahkan, Nova menyisipkan waktu untuk mencoba menulis tentang apa saja sebagaimana Dee menulis. Ya, setidaknya untuk diri sendiri… [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Mahima Menumbuhkan Saya, Saya Menumbuhkan Mahima – Orasi Budaya Mahima March March March 2025
“Memilih Menjadi Aku” – Catatan Kecil Tentang Monolog yang Aku Mainkan
Tags: Komunitas MahimaMahima March March March 2025MonologTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Hidup Dimulai di 40”, Cerita Kecil Tentang Monolog yang Saya Mainkan

Next Post

Apa Kabar 5 Destinasi Wisata Super Prioritas?

Son Lomri

Son Lomri

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails

Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

by I Putu Ardiyasa
March 22, 2026
0
Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu...

Read moreDetails

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan...

Read moreDetails

Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

by Rusdy Ulu
February 25, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

EMPAT orang masing-masing membawa ember dan lap pel, lalu mengepel lantai panggung secara bersamaan. Mereka menarik lap pel dengan gerakan...

Read moreDetails

Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

by Kadek Sonia Piscayanti
February 16, 2026
0
Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

MUSIKAL Perahu Kertas di Ciputra Artpeneur Theater, Jakarta, hadir pada saat yang tepat, ketika banyak manusia bingung menemukan diri mereka,...

Read moreDetails

‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

SAYA tidak duduk di kursi penonton ketika Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati dipentaskan dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali...

Read moreDetails

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

by Son Lomri
February 6, 2026
0
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

ORANG-orang di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja itu diteror suara sirine yang keluar dari mulut tujuh aktor Teater Komunitas...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Apa Kabar 5 Destinasi Wisata Super Prioritas?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co