LINGKARAN pertemanan atau yang kini dikenal dengan circle dianggap penting di kalangan kaum muda. Tak terkecuali di kalangan mahasiswa. Banyak alasan memilih circle pertemanan. Selain faktor kecocokan dan kenyamanan, lingkaran pertemanan kadang terbentuk karena hal-hal yang sepele.
Seperti Gadis 3 D, kelompok pertemanan di kampus yang terbentuk karena kesamaan nama depan mereka, yaitu Dina, Dini, dan Dita. Mereka dikenal di kampus sebagai bestie yang sulit terpisahkan. Ke mana pun Dina pergi, pasti ada Dini dan Dita. Gadis 3 D bahkan sudah menjadi perhatian beberapa dosen.
Setiap perkuliahan mereka bertiga pasti akan masuk kelas bersamaan dan duduk di kursi terdepan dengan bersebelahan. Pernah suatu ketika, Dina sakit flu dan tidak dapat mengikuti kuliah Aldo Nugroho, dosen Fotografi. Anehnya, Dini dan Dita juga tidak datang ke kampus. Alasan mereka, bersimpati kepada Dina yang sedang sakit.
Mereka sebetulnya berasal dari daerah yang berbeda. Dina mahasiswi perantau dari Bandung. Dini berasal dari Solo. Sedangkan Dita berasal dari Medan. Ketiganya juga kost di tempat yang berbeda, meski masih di seputaran kampus. Latar belakang daerah dan budaya yang berbeda tidak membuat Gadis 3 D itu kesulitan berinteraksi. Justru mereka tampak akrab dan saling menghormati adat dan budaya mereka.
Seperti pagi ini, mereka kompak kuliah dengan baju yang sama-sama biru dengan hijab hitam yang sama pula. Bukan tanpa alasan mereka tampil dengan busana seragam dan rapi. Kuliah Humas Perusahaan dengan dosen Risa Mutiara memang harus rapi. Apalagi Risa Mutiara juga selalu tampil necis dengan busana dan asesorinya.
Selesai kuliah, mereka bertiga bergegas ke kantin. Kebetulan mereka memang belum sempat sarapan pagi. Kantin fakultas tidak terlalu jauh dari ruang kuliah, hanya dalam kisaran 30 meter. Kantin itu pula yang selalu menjadi tempat mereka bergosip tentang apa saja.
***
Kantin belum begitu ramai. Hanya ada beberapa orang mahasiswa yang minum kopi sambil mengobrol. Maklum hari belum berangkat siang, sehingga belum banyak mahasiswa yang makan. Dita memesan nasi pecel. Tak lupa mendoan, yang tidak ada di Medan daerah asalnya. Mendoan adalah tempe khas daerah Banyumas yang digoreng dengan tepung setengah matang. Dina dan Dini sama-sama memesan soto ayam untuk sarapan pagi.
Saat mereka mulai menyantap makanan, tiba-tiba datang seorang gadis, mahasiswi yang langsung duduk di pojok kantin. Parasnya cantik. Menggunakan baju ungu dengan kerudung putih, mahasiswi itu duduk termenung. Dia tidak memesan makanan apa pun.
Sorot matanya tajam, memandangi Dina, Dini, dan Dita yang sedang menyantap makanan. Dina yang merasa diperhatikan mahasiswi itu merasa tidak nyaman, sekaligus sedikit ngeri melihat wajah gadis yang tampak pucat. Dicoleknya Dini dan Dita.
“Kalian perhatikan cewek itu nggak?” tanya Dina pada sahabatnya.
“Cewek yang mana?” tanya Dini
“Itu…, yang duduk di pojok kantin!” jawab Dina.
Serempak Dini dan Dita melihat ke pojok kantin. Mereka kaget. Gadis itu menatap mereka. Bibirnya putih seperti layu. Sesekali ia memegangi kerudungnya. Gadis 3 D itu menghentikan makan paginya.
“Siapa dia..? Wajahnya serem,” kata Dina.
“Mahasiswi jurusan apa?” tanya Dita.
Mereka tak ada yang mengenali gadis itu. Selama empat semester kuliah di jurusan komunikasi, mereka tidak pernah bertemu dengan mahasiswi itu. Ketika bermain ke jurusan lain, mereka juga tidak pernah melihat gadis itu. Lantas siapakah dia?
Mereka buru-buru membayar makanan ke kasir kantin. Selera makan mereka terasa terganggu dengan sosok gadis yang duduk di pojok kantin. Namun betapa terkejut mereka ketika membalikkan badan dari depan kasir, gadis layu dan misterius itu telah hilang dari pandangan mereka. Tak ada lagi gadis yang duduk di pojok kantin.
Hari berikutnya, kuliah Fotografi. Dita, Dini, dan Dina berangkat lebih pagi. Dosen pengampu kuliah, Aldo Nugroho terkenal sangat disiplin. Jadwal kuliah pukul tujuh, pada pukul tujuh kurang lima menit Aldo sudah masuk kelas.
Mereka bertiga belum sempat sarapan. Hanya minum air putih dan sepotong biskuit di tempat kost masing-masing. Karenanya, mereka sepakat untuk sarapan pagi di kantin saja. Kali ini mereka serempak memesan gado-gado sebagai menu makan pagi.
Kembali mereka dikejutkan oleh sosok gadis misterius selagi menyantap gado-gado. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba di hadapan mereka sudah duduk gadis di pojok kantin. Kali ini dia memakai baju putih dengan hijab berwarna hitam. Duduk terdiam, tak memesan apa pun di kantin.
Mereka saling pandang, ketakutan. Sudah dua kali mereka melihat gadis yang selalu duduk di pojok kantin, terdiam dan tidak memesan makanan. Benarkah gadis itu mahasiswi di kampus ini, atau hantu penunggu kantin?
Di tengah keheranan mereka, gadis itu memandang mereka dengan wajah sendu; memelas. Seolah dia ingin mendapat perhatian Dita, Dini, dan Dina. Mata gadis itu berkaca-kaca. Sejurus kemudian butiran air menetes di sudut kelopak matanya. Wajahnya menunjukkan kesedihan yang mendalam.
“Cewek itu menangis…,” bisik Dini pada kedua temannya.
“Iya…, kenapa ya?” tanya Dita.
“Ayok kita samperin…,” ajak Dina.
“Hii… serem ah…,“ tukas Dita dan Dini berbarengan.
“Gak apa, siapa tahu dia perlu bantuan…,” kata Dina.
Mereka mencoba untuk memberanikan diri mendekati gadis di pojok kantin. Siapa tahu gadis itu sedang dalam kesulitan atau kemalangan. Baru saja mereka berdiri bersama untuk menghampiri, gadis itu sudah menghilang dari pandangan mata mereka. Sudah tentu mereka terkejut.
“Hahh… menghilang…!” ujar Dita.
“Jangan-jangan hantu…,” kata Dini sambil ketakutan memegang lengan kedua temannya. Suasana kantin membuat rasa lapar mereka hilang seketika. Wajah mereka tegang. Cepat-cepat mereka menuju ke kasir untuk meminta penjelasan pemilik kantin tentang gadis yang selalu duduk di pojok.
“Iya.. saya juga pernah lihat dia,” ujar Maryati pemilik kantin.
“Siapa dia, Bu?” tanya mereka berbarengan.
“Kata orang-orang sih mantan mahasiswi di kampus ini. Beberapa bulan yang lalu meninggal karena kasus pembunuhan di daerahnya. Sampai saat ini pembunuhnya belum tertangkap,” cerita Maryati.
“Jadi dia… hantu…?” tanya Dini yang dari tadi merasa tercengkeram ketakutan.
“Mungkin arwahnya masih belum diterima. Kadangkala dia juga tampak duduk di gazebo belakang kantin ini. Pernah ada penjaga malam yang melihat dia menangis di gazebo. Saat ditanya, gadis itu menghilang,” tambah Maryati.
Cerita Maryati pemilik kantin bukan membuat Dita, Dina, dan Dini lega, namun justru menjadikan mereka ketakutan. Jadi selama ini yang mereka saksikan adalah arwah mantan mahasiswi yang jadi korban pembunuhan.
***
Kembali ke ruang kelas di pagi hari membuat Dita, Dina, dan Dini merasa malas-malasan. Beruntung kuliah Aldo Nugroho selalu diwarnai guyonan yang membuat suasana kelas menjadi geerr.. Apalagi Aldo selalu saja mempunyai cerita menarik yang berbeda-beda setiap perkuliahan.
Tidak terasa, kuliah 3 SKS itu berakhir sudah. Seperti biasa, mereka hendak sarapan pagi di kantin. Namun sepertinya mereka ingin mengurungkan niat. Mereka tak mau lagi lagi melihat sosok gadis yang duduk di pojok kantin.
“Malas ahh… entar ketemu hantu cewek itu lagi…,” ucap Dini.
“Tapi aku lapar nihh…,” pinta Dina merajuk temannya.
Akhirnya mereka sepakat untuk ke kantin. Kali ini mereka tidak memesan makanan berat. Dina hanya memesan kopi susu dan kue basah yang dapat menganjal perut laparnya. Sedangkan Dita dan Dini memesan teh manis dan kue serabi.
Sambil menyeruput minuman dan menyantap kue, mereka berkali-kali memandang ke pojok kantin. Rasa cemas dan takut masih menyelimuti mereka. Terbayang di benak mereka sosok gadis yang lugu, memelas, namun menyeramkan duduk di pojok kantin.
Sudah cukup lama mereka berada di kantin. Tempat duduk di pojok masih tetap kosong. Tidak tampak gadis yang biasanya duduk di sana. Meski sebenarnya mereka juga berharap tidak akan melihatnya, tetapi rasa penasaran mengusik mereka.
“Kok gak muncul cewek itu ya?’ tanya Dita.
“Iya… emang kamu pingin lihat dia?” Dini balik bertanya.
“Hiii… amit-amit.. nggak ahh…,” pungkas Dita.
Hingga mereka selesai makan, mahasiswi yang biasa duduk di pojok kantin itu belum juga muncul. Rasa penasaran itu mereka tanyakan kepada pemilik kantin, Maryati.
“Iya… sudah tidak nongol lagi. Kabarnya, pelaku pembunuhan itu sudah tertangkap. Semoga arwahnya tenang di alam sana,” kata Maryati.
“Aamiin.. syukurlah,” kata mereka hampir berbarengan.
Sejenak mereka menghela nafas lega. Sudah beberapa hari ini mereka diterpa ketakutan ketika berada di kantin. Meski sebenarnya mereka juga merasa prihatin dan memelas atas apa yang terjadi pada mahasiswi itu. Mereka berharap pembunuh mahasiswi itu akan dihukum seberat-beratnya. Dan tentu saja mereka berharap tidak ada lagi kejadian buruk yang menimpa mahasiswa di kampusnya.
- Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole