23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

Kadek Windari by Kadek Windari
February 27, 2026
in Cerpen
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

Ilustrasi tatkala.co | Canva

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya.

Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini, aku tidak lagi membutuhkan alarm. Air habis, nasi matang, jemuran lupa diangkat, semua terdengar seperti kabar darurat nasional.

“Sudah! Ayo makan!” sahut istrinya tak kalah lantang.

Awalnya, kupikir mereka bertengkar. Nada yang melambung, suara yang saling bersahutan, membuat hari-hari terasa tegang. Namun, setelah dua minggu, aku mulai menyadari sesuatu yang mengejutkan. Itu bukan kemarahan. Bukan pula pertengkaran yang disengaja. Memang begitulah cara mereka berbicara.

Pak Aryo, tetanggaku.

Tepat dua minggu lalu aku pindah ke rumah ini. Bangunannya memang saling berhimpitan seperti deretan kos-kosan, hanya saja ini perumahan permanen. Tembok-tembok pembatas berdiri kokoh, seolah menjamin privasi tiap penghuninya. Seharusnya, apa pun yang terjadi di dalam rumah tak akan tembus keluar.

“Waduh! Panas sekali!”

“Enak buat jemur baju. Cepat kering.”

Lagi dan lagi.

Siapa yang yang berteriak tentang cuaca dengan penuh gairah seperti itu? Nadanya tinggi, tetapi isinya ringan. Bahkan, sekadar membahas matahari pun terdengar seperti pidato di lapangan upacara.

Tembok rumah bukan lagi sekadar pembatas, melainkan pengeras suara alami. Aku bisa mengikuti alur hidup mereka tanpa perlu bersosialisasi. Aku tahu kapan anak mereka bangun, kapan ayam gorengnya terlalu asin, kapan kaus kakinya menghilang.

Bahkan… aku tahu kapan mereka berhubungan suami istri.

“Siapa yang pakai sandalku?” bentaknya tiba-tiba.

Aku refleks menunduk, mengecek kakiku sendiri. Terdiam sejenak. Lalu tersadar, aku bukan lawan bicaranya.

Masalahnya bukan hanya terjadi di pagi hari. Siang pun demikian. Bahkan malam. 

Suatu ketika, hari Sabtu pukul sebelas malam, aku sedang menonton drama Korea. Genrenya semi-horor. Adegan sedang menegangkan. Sosok hitam perlahan muncul dari balik pintu, diiringi musik yang membuat bulu kuduk berdiri.

Tiba-tiba terdengar suara dari sebelah.

“Sayang! Kalau ada… sembilan nyawa, mau samamu saja, semuanya… ini dada… isinya kamu semua…”

Suaranya menyeruak. Aku terlonjak.

Bukan karena hantunya. Melainkan karena suara seorang suami yang sedang menggoda istrinya dengan volume seperti sedang orasi kampanye.

Hufft.

Sejak itu, film horor tak lagi terasa menakutkan. Justru ketika Pak Aryo berbicara pelan dan tak terdengar kabar darurat apa pun dari rumah sebelah, di situlah ketakutan terbesarku muncul. Itu pasti tanda sesuatu yang tidak beres.

Aku pernah berniat menegur. Tapi bagaimana caranya?

“Maaf, Pak, suaranya bisa dikecilkan sedikit?”

Kalimat itu terdengar sederhana. Sopan. Masuk akal. Namun, otakku lebih dulu memutar kemungkinan terburuk. Pak Aryo pasti menjawab dengan nada menanjak,

“Suara saya terlalu besar?”

“Segini masih besar?”

“Ini sudah pelan, lho!”

Tidak. Aku belum siap.

Akhirnya, aku memilih strategi bertahan hidup. Aku membeli headphone. Aku menyalakan kipas angin sebagai pengalih suara. Aku bahkan pernah mencoba berbicara dengan nada pelan sepanjang hari, berharap semesta memberi contoh.

Nihil.

Suatu sore, ketika aku sedang mencuci motor di halaman, Pak Aryo menyapaku.

“Selamat sore!”

Aku tersentak kecil. Selang hampir terlepas dari tangan, air nyaris menyiram kakiku sendiri.

“Eh… sore, Pak,” jawabku pelan, sedikit gelagapan.

Beliau mendekat.

“Waduh, lupa menutup pagar. Jadi, masuklah dia,” batinku.

Wajahnya ramah. Senyumnya lebar.

“Libur, nih?”

Aneh. Jarak kami hanya dua meter, suaranya tetap seperti memanggil orang di ujung lapangan.

“Saya kerja dari rumah, Pak.”

“Oh! Pantesan saya sering mendengar Bapak ngomong sendiri,” katanya mantap, tanpa sedikit pun menurunkan ketegangan suara.

Aku terdiam.

“Ngomong sendiri?” batinku.

Keningku berkerut. Lalu, seperti adegan kilas balik yang diputar paksa, satu per satu ingatan bermunculan. Presentasi daring. Rapat lewat layar laptop. Nada suaraku yang meninggi ketika menjelaskan grafik penjualan. Tawa yang kadang meledak tanpa sadar. Kalau sedang semangat, suaraku pun tak kalah lantang.

Aku teringat, beberapa kali terdengar pintu rumah sebelah ditutup agak keras saat aku sedang rapat. Aku juga teringat, suatu ketika, anak mereka pernah berteriak,

“Tuh, Yah. Tetangganya marah-marah lagi!”

Astaga.

Jangan-jangan selama ini mereka juga mengira aku berisik?

Aku memaksakan senyum menanggapi pernyataan Pak Aryo. Beliau mengangguk ringan, lalu pamit. Aku kembali mencuci motor.

Sejak hari itu, aku mulai lebih peka. Ternyata, suara di perumahan kecil ini saling memantul seperti bola pingpong. Tidak ada yang benar-benar pelan.

Seminggu kemudian, tepat di hari Rabu, aku terbangun pukul delapan lewat tiga puluh.

DELAPAN LEWAT TIGA PULUH.

Aku terduduk. Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya.

Aku panik. Apakah aku sakit? Apakah dunia kiamat? Atau… apakah mereka pindah? Pagi itu, tak ada teriakan nasi matang. Tak ada pengumuman air habis. Tak ada kabar jemuran yang lupa diangkat.

Sunyi.

Aku keluar rumah dengan rambut masih berantakan. Tanpa cuci muka, tanpa benar-benar sadar diri. Langkahku otomatis menuju rumah sebelah. Di depan rumah Pak Aryo terpasang tulisan kecil.

Mohon maaf jika selama ini suara kami mengganggu. Kami akan belajar berbicara lebih pelan.

Belajar?

Aku berdiri cukup lama di depan pagar itu. Tiba-tiba aku merasa bersalah. Padahal aku tak pernah menegur. Tak pernah benar-benar mencoba memahami. Lalu kenapa justru mereka yang lebih dulu belajar?

Sore harinya, aku memberanikan diri mengetuk pintu rumah mereka. Ketika pintu terbuka, Pak Aryo menyambut dengan senyuman lebar.

“Ada apa?” tanyanya spontan.

Ia berdeham, lalu mencoba mengecilkan volume.

“Ada apa?” ulangnya.

Aku spontan ikut berbisik.

“Tidak apa-apa, Pak. Cuma mau bilang… sebenarnya suara kalian tidak terlalu mengganggu.”

Beliau tertawa. Pelan.

Itu pertama kalinya, aku tahu beliau bisa tertawa tanpa efek gema.

“Memang dari dulu begini,” katanya dengan suara yang menurutnya normal. “Keluarga kami kalau bicara seperti sedang lomba pidato. Sudah bawaan,” lanjutnya.

Kami pun terkekeh.

Meski katanya sudah volume normal, tapi tetap saja menurutku itu setara pengumuman upacara hari Senin. Nadanya tinggi, penuh semangat, seperti sedang menegur anak kecil yang tak sengaja menghabiskan permen sebelum makan siang.

Sejak itu, tidak ada perubahan drastis. Suaranya masih keras. Aku pun masih kadang kesal. Tapi ada yang berbeda. Sekarang kami saling menyapa. Sesekali minum kopi bersama di depan rumah.

Dan anehnya, setelah mengenal mereka, suara-suara itu tak lagi terdengar seperti gangguan. Lebih seperti latar kehidupan, layaknya kokok ayam subuh, deru motor yang melintas, atau tawa anak kecil yang pecah tanpa alasan.

Barangkali, selama ini yang membuat segalanya terasa bising bukanlah volumenya, melainkan jarak. Kini, setiap pagi, ketika terdengar teriakan, “Bu, kopinya mana?”

Aku hanya tersenyum dan menjawab dalam hati, “Di dapur, Pak. Seperti biasa.” [T]

Penulis: Kadek Windari
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Hidup Bagai Galeri Ponsel

Next Post

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

Kadek Windari

Kadek Windari

Tinggal dan menetap di Denpasar. Gemar menulis dan bercerita

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post
Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co