4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

Kadek Windari by Kadek Windari
February 27, 2026
in Cerpen
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

Ilustrasi tatkala.co | Canva

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya.

Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini, aku tidak lagi membutuhkan alarm. Air habis, nasi matang, jemuran lupa diangkat, semua terdengar seperti kabar darurat nasional.

“Sudah! Ayo makan!” sahut istrinya tak kalah lantang.

Awalnya, kupikir mereka bertengkar. Nada yang melambung, suara yang saling bersahutan, membuat hari-hari terasa tegang. Namun, setelah dua minggu, aku mulai menyadari sesuatu yang mengejutkan. Itu bukan kemarahan. Bukan pula pertengkaran yang disengaja. Memang begitulah cara mereka berbicara.

Pak Aryo, tetanggaku.

Tepat dua minggu lalu aku pindah ke rumah ini. Bangunannya memang saling berhimpitan seperti deretan kos-kosan, hanya saja ini perumahan permanen. Tembok-tembok pembatas berdiri kokoh, seolah menjamin privasi tiap penghuninya. Seharusnya, apa pun yang terjadi di dalam rumah tak akan tembus keluar.

“Waduh! Panas sekali!”

“Enak buat jemur baju. Cepat kering.”

Lagi dan lagi.

Siapa yang yang berteriak tentang cuaca dengan penuh gairah seperti itu? Nadanya tinggi, tetapi isinya ringan. Bahkan, sekadar membahas matahari pun terdengar seperti pidato di lapangan upacara.

Tembok rumah bukan lagi sekadar pembatas, melainkan pengeras suara alami. Aku bisa mengikuti alur hidup mereka tanpa perlu bersosialisasi. Aku tahu kapan anak mereka bangun, kapan ayam gorengnya terlalu asin, kapan kaus kakinya menghilang.

Bahkan… aku tahu kapan mereka berhubungan suami istri.

“Siapa yang pakai sandalku?” bentaknya tiba-tiba.

Aku refleks menunduk, mengecek kakiku sendiri. Terdiam sejenak. Lalu tersadar, aku bukan lawan bicaranya.

Masalahnya bukan hanya terjadi di pagi hari. Siang pun demikian. Bahkan malam. 

Suatu ketika, hari Sabtu pukul sebelas malam, aku sedang menonton drama Korea. Genrenya semi-horor. Adegan sedang menegangkan. Sosok hitam perlahan muncul dari balik pintu, diiringi musik yang membuat bulu kuduk berdiri.

Tiba-tiba terdengar suara dari sebelah.

“Sayang! Kalau ada… sembilan nyawa, mau samamu saja, semuanya… ini dada… isinya kamu semua…”

Suaranya menyeruak. Aku terlonjak.

Bukan karena hantunya. Melainkan karena suara seorang suami yang sedang menggoda istrinya dengan volume seperti sedang orasi kampanye.

Hufft.

Sejak itu, film horor tak lagi terasa menakutkan. Justru ketika Pak Aryo berbicara pelan dan tak terdengar kabar darurat apa pun dari rumah sebelah, di situlah ketakutan terbesarku muncul. Itu pasti tanda sesuatu yang tidak beres.

Aku pernah berniat menegur. Tapi bagaimana caranya?

“Maaf, Pak, suaranya bisa dikecilkan sedikit?”

Kalimat itu terdengar sederhana. Sopan. Masuk akal. Namun, otakku lebih dulu memutar kemungkinan terburuk. Pak Aryo pasti menjawab dengan nada menanjak,

“Suara saya terlalu besar?”

“Segini masih besar?”

“Ini sudah pelan, lho!”

Tidak. Aku belum siap.

Akhirnya, aku memilih strategi bertahan hidup. Aku membeli headphone. Aku menyalakan kipas angin sebagai pengalih suara. Aku bahkan pernah mencoba berbicara dengan nada pelan sepanjang hari, berharap semesta memberi contoh.

Nihil.

Suatu sore, ketika aku sedang mencuci motor di halaman, Pak Aryo menyapaku.

“Selamat sore!”

Aku tersentak kecil. Selang hampir terlepas dari tangan, air nyaris menyiram kakiku sendiri.

“Eh… sore, Pak,” jawabku pelan, sedikit gelagapan.

Beliau mendekat.

“Waduh, lupa menutup pagar. Jadi, masuklah dia,” batinku.

Wajahnya ramah. Senyumnya lebar.

“Libur, nih?”

Aneh. Jarak kami hanya dua meter, suaranya tetap seperti memanggil orang di ujung lapangan.

“Saya kerja dari rumah, Pak.”

“Oh! Pantesan saya sering mendengar Bapak ngomong sendiri,” katanya mantap, tanpa sedikit pun menurunkan ketegangan suara.

Aku terdiam.

“Ngomong sendiri?” batinku.

Keningku berkerut. Lalu, seperti adegan kilas balik yang diputar paksa, satu per satu ingatan bermunculan. Presentasi daring. Rapat lewat layar laptop. Nada suaraku yang meninggi ketika menjelaskan grafik penjualan. Tawa yang kadang meledak tanpa sadar. Kalau sedang semangat, suaraku pun tak kalah lantang.

Aku teringat, beberapa kali terdengar pintu rumah sebelah ditutup agak keras saat aku sedang rapat. Aku juga teringat, suatu ketika, anak mereka pernah berteriak,

“Tuh, Yah. Tetangganya marah-marah lagi!”

Astaga.

Jangan-jangan selama ini mereka juga mengira aku berisik?

Aku memaksakan senyum menanggapi pernyataan Pak Aryo. Beliau mengangguk ringan, lalu pamit. Aku kembali mencuci motor.

Sejak hari itu, aku mulai lebih peka. Ternyata, suara di perumahan kecil ini saling memantul seperti bola pingpong. Tidak ada yang benar-benar pelan.

Seminggu kemudian, tepat di hari Rabu, aku terbangun pukul delapan lewat tiga puluh.

DELAPAN LEWAT TIGA PULUH.

Aku terduduk. Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya.

Aku panik. Apakah aku sakit? Apakah dunia kiamat? Atau… apakah mereka pindah? Pagi itu, tak ada teriakan nasi matang. Tak ada pengumuman air habis. Tak ada kabar jemuran yang lupa diangkat.

Sunyi.

Aku keluar rumah dengan rambut masih berantakan. Tanpa cuci muka, tanpa benar-benar sadar diri. Langkahku otomatis menuju rumah sebelah. Di depan rumah Pak Aryo terpasang tulisan kecil.

Mohon maaf jika selama ini suara kami mengganggu. Kami akan belajar berbicara lebih pelan.

Belajar?

Aku berdiri cukup lama di depan pagar itu. Tiba-tiba aku merasa bersalah. Padahal aku tak pernah menegur. Tak pernah benar-benar mencoba memahami. Lalu kenapa justru mereka yang lebih dulu belajar?

Sore harinya, aku memberanikan diri mengetuk pintu rumah mereka. Ketika pintu terbuka, Pak Aryo menyambut dengan senyuman lebar.

“Ada apa?” tanyanya spontan.

Ia berdeham, lalu mencoba mengecilkan volume.

“Ada apa?” ulangnya.

Aku spontan ikut berbisik.

“Tidak apa-apa, Pak. Cuma mau bilang… sebenarnya suara kalian tidak terlalu mengganggu.”

Beliau tertawa. Pelan.

Itu pertama kalinya, aku tahu beliau bisa tertawa tanpa efek gema.

“Memang dari dulu begini,” katanya dengan suara yang menurutnya normal. “Keluarga kami kalau bicara seperti sedang lomba pidato. Sudah bawaan,” lanjutnya.

Kami pun terkekeh.

Meski katanya sudah volume normal, tapi tetap saja menurutku itu setara pengumuman upacara hari Senin. Nadanya tinggi, penuh semangat, seperti sedang menegur anak kecil yang tak sengaja menghabiskan permen sebelum makan siang.

Sejak itu, tidak ada perubahan drastis. Suaranya masih keras. Aku pun masih kadang kesal. Tapi ada yang berbeda. Sekarang kami saling menyapa. Sesekali minum kopi bersama di depan rumah.

Dan anehnya, setelah mengenal mereka, suara-suara itu tak lagi terdengar seperti gangguan. Lebih seperti latar kehidupan, layaknya kokok ayam subuh, deru motor yang melintas, atau tawa anak kecil yang pecah tanpa alasan.

Barangkali, selama ini yang membuat segalanya terasa bising bukanlah volumenya, melainkan jarak. Kini, setiap pagi, ketika terdengar teriakan, “Bu, kopinya mana?”

Aku hanya tersenyum dan menjawab dalam hati, “Di dapur, Pak. Seperti biasa.” [T]

Penulis: Kadek Windari
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Hidup Bagai Galeri Ponsel

Next Post

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

Kadek Windari

Kadek Windari

Tinggal dan menetap di Denpasar. Gemar menulis dan bercerita

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co