24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

Kadek Windari by Kadek Windari
February 27, 2026
in Cerpen
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

Ilustrasi tatkala.co | Canva

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya.

Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini, aku tidak lagi membutuhkan alarm. Air habis, nasi matang, jemuran lupa diangkat, semua terdengar seperti kabar darurat nasional.

“Sudah! Ayo makan!” sahut istrinya tak kalah lantang.

Awalnya, kupikir mereka bertengkar. Nada yang melambung, suara yang saling bersahutan, membuat hari-hari terasa tegang. Namun, setelah dua minggu, aku mulai menyadari sesuatu yang mengejutkan. Itu bukan kemarahan. Bukan pula pertengkaran yang disengaja. Memang begitulah cara mereka berbicara.

Pak Aryo, tetanggaku.

Tepat dua minggu lalu aku pindah ke rumah ini. Bangunannya memang saling berhimpitan seperti deretan kos-kosan, hanya saja ini perumahan permanen. Tembok-tembok pembatas berdiri kokoh, seolah menjamin privasi tiap penghuninya. Seharusnya, apa pun yang terjadi di dalam rumah tak akan tembus keluar.

“Waduh! Panas sekali!”

“Enak buat jemur baju. Cepat kering.”

Lagi dan lagi.

Siapa yang yang berteriak tentang cuaca dengan penuh gairah seperti itu? Nadanya tinggi, tetapi isinya ringan. Bahkan, sekadar membahas matahari pun terdengar seperti pidato di lapangan upacara.

Tembok rumah bukan lagi sekadar pembatas, melainkan pengeras suara alami. Aku bisa mengikuti alur hidup mereka tanpa perlu bersosialisasi. Aku tahu kapan anak mereka bangun, kapan ayam gorengnya terlalu asin, kapan kaus kakinya menghilang.

Bahkan… aku tahu kapan mereka berhubungan suami istri.

“Siapa yang pakai sandalku?” bentaknya tiba-tiba.

Aku refleks menunduk, mengecek kakiku sendiri. Terdiam sejenak. Lalu tersadar, aku bukan lawan bicaranya.

Masalahnya bukan hanya terjadi di pagi hari. Siang pun demikian. Bahkan malam. 

Suatu ketika, hari Sabtu pukul sebelas malam, aku sedang menonton drama Korea. Genrenya semi-horor. Adegan sedang menegangkan. Sosok hitam perlahan muncul dari balik pintu, diiringi musik yang membuat bulu kuduk berdiri.

Tiba-tiba terdengar suara dari sebelah.

“Sayang! Kalau ada… sembilan nyawa, mau samamu saja, semuanya… ini dada… isinya kamu semua…”

Suaranya menyeruak. Aku terlonjak.

Bukan karena hantunya. Melainkan karena suara seorang suami yang sedang menggoda istrinya dengan volume seperti sedang orasi kampanye.

Hufft.

Sejak itu, film horor tak lagi terasa menakutkan. Justru ketika Pak Aryo berbicara pelan dan tak terdengar kabar darurat apa pun dari rumah sebelah, di situlah ketakutan terbesarku muncul. Itu pasti tanda sesuatu yang tidak beres.

Aku pernah berniat menegur. Tapi bagaimana caranya?

“Maaf, Pak, suaranya bisa dikecilkan sedikit?”

Kalimat itu terdengar sederhana. Sopan. Masuk akal. Namun, otakku lebih dulu memutar kemungkinan terburuk. Pak Aryo pasti menjawab dengan nada menanjak,

“Suara saya terlalu besar?”

“Segini masih besar?”

“Ini sudah pelan, lho!”

Tidak. Aku belum siap.

Akhirnya, aku memilih strategi bertahan hidup. Aku membeli headphone. Aku menyalakan kipas angin sebagai pengalih suara. Aku bahkan pernah mencoba berbicara dengan nada pelan sepanjang hari, berharap semesta memberi contoh.

Nihil.

Suatu sore, ketika aku sedang mencuci motor di halaman, Pak Aryo menyapaku.

“Selamat sore!”

Aku tersentak kecil. Selang hampir terlepas dari tangan, air nyaris menyiram kakiku sendiri.

“Eh… sore, Pak,” jawabku pelan, sedikit gelagapan.

Beliau mendekat.

“Waduh, lupa menutup pagar. Jadi, masuklah dia,” batinku.

Wajahnya ramah. Senyumnya lebar.

“Libur, nih?”

Aneh. Jarak kami hanya dua meter, suaranya tetap seperti memanggil orang di ujung lapangan.

“Saya kerja dari rumah, Pak.”

“Oh! Pantesan saya sering mendengar Bapak ngomong sendiri,” katanya mantap, tanpa sedikit pun menurunkan ketegangan suara.

Aku terdiam.

“Ngomong sendiri?” batinku.

Keningku berkerut. Lalu, seperti adegan kilas balik yang diputar paksa, satu per satu ingatan bermunculan. Presentasi daring. Rapat lewat layar laptop. Nada suaraku yang meninggi ketika menjelaskan grafik penjualan. Tawa yang kadang meledak tanpa sadar. Kalau sedang semangat, suaraku pun tak kalah lantang.

Aku teringat, beberapa kali terdengar pintu rumah sebelah ditutup agak keras saat aku sedang rapat. Aku juga teringat, suatu ketika, anak mereka pernah berteriak,

“Tuh, Yah. Tetangganya marah-marah lagi!”

Astaga.

Jangan-jangan selama ini mereka juga mengira aku berisik?

Aku memaksakan senyum menanggapi pernyataan Pak Aryo. Beliau mengangguk ringan, lalu pamit. Aku kembali mencuci motor.

Sejak hari itu, aku mulai lebih peka. Ternyata, suara di perumahan kecil ini saling memantul seperti bola pingpong. Tidak ada yang benar-benar pelan.

Seminggu kemudian, tepat di hari Rabu, aku terbangun pukul delapan lewat tiga puluh.

DELAPAN LEWAT TIGA PULUH.

Aku terduduk. Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya.

Aku panik. Apakah aku sakit? Apakah dunia kiamat? Atau… apakah mereka pindah? Pagi itu, tak ada teriakan nasi matang. Tak ada pengumuman air habis. Tak ada kabar jemuran yang lupa diangkat.

Sunyi.

Aku keluar rumah dengan rambut masih berantakan. Tanpa cuci muka, tanpa benar-benar sadar diri. Langkahku otomatis menuju rumah sebelah. Di depan rumah Pak Aryo terpasang tulisan kecil.

Mohon maaf jika selama ini suara kami mengganggu. Kami akan belajar berbicara lebih pelan.

Belajar?

Aku berdiri cukup lama di depan pagar itu. Tiba-tiba aku merasa bersalah. Padahal aku tak pernah menegur. Tak pernah benar-benar mencoba memahami. Lalu kenapa justru mereka yang lebih dulu belajar?

Sore harinya, aku memberanikan diri mengetuk pintu rumah mereka. Ketika pintu terbuka, Pak Aryo menyambut dengan senyuman lebar.

“Ada apa?” tanyanya spontan.

Ia berdeham, lalu mencoba mengecilkan volume.

“Ada apa?” ulangnya.

Aku spontan ikut berbisik.

“Tidak apa-apa, Pak. Cuma mau bilang… sebenarnya suara kalian tidak terlalu mengganggu.”

Beliau tertawa. Pelan.

Itu pertama kalinya, aku tahu beliau bisa tertawa tanpa efek gema.

“Memang dari dulu begini,” katanya dengan suara yang menurutnya normal. “Keluarga kami kalau bicara seperti sedang lomba pidato. Sudah bawaan,” lanjutnya.

Kami pun terkekeh.

Meski katanya sudah volume normal, tapi tetap saja menurutku itu setara pengumuman upacara hari Senin. Nadanya tinggi, penuh semangat, seperti sedang menegur anak kecil yang tak sengaja menghabiskan permen sebelum makan siang.

Sejak itu, tidak ada perubahan drastis. Suaranya masih keras. Aku pun masih kadang kesal. Tapi ada yang berbeda. Sekarang kami saling menyapa. Sesekali minum kopi bersama di depan rumah.

Dan anehnya, setelah mengenal mereka, suara-suara itu tak lagi terdengar seperti gangguan. Lebih seperti latar kehidupan, layaknya kokok ayam subuh, deru motor yang melintas, atau tawa anak kecil yang pecah tanpa alasan.

Barangkali, selama ini yang membuat segalanya terasa bising bukanlah volumenya, melainkan jarak. Kini, setiap pagi, ketika terdengar teriakan, “Bu, kopinya mana?”

Aku hanya tersenyum dan menjawab dalam hati, “Di dapur, Pak. Seperti biasa.” [T]

Penulis: Kadek Windari
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Hidup Bagai Galeri Ponsel

Next Post

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

Kadek Windari

Kadek Windari

Tinggal dan menetap di Denpasar. Gemar menulis dan bercerita

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co