14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Hidup Bagai Galeri Ponsel

Vito Prasetyo by Vito Prasetyo
February 27, 2026
in Puisi
Puisi-puisi Vito Prasetyo | Hidup Bagai Galeri Ponsel

Vito Prasetyo

Hidup Bagai Galeri Ponsel

Tatapanmu seperti sinar yang tersasar
di antara bantal-bantal bau peluh
kita bicara soal hidup sambil mengunyah gorengan
tapi hening itu tetap menetes dari ujung keningmu

Masih adakah potret masa lalu
di galeri gawai yang memorinya nyaris habis?
dan sajak-sajak itu sekarang seperti pajangan etalase
dengan filter usang dan sinyal yang sering menjerit

Hari-hari lewat seperti tagihan nafas yang kehilangan denyut nadi
dan kita menyusuri malam
dengan sandal jepit putus dan saldo rekening kosong

Jejak yang belum kita tulis
mungkin tertinggal di kertas tisu warung kopi
seperti kisah yang belum lelap—karena kopi itu terlalu manis
dan rindu tak bisa ditanak
dalam panci yang telah lama bocor

Kita melipat hari seperti handuk hotel yang selalu lembap
tetap basah, tetap bau
tapi siapa peduli, asal cukup menutup dada

Satu yang tersisa darimu:
bau parfum pasar malam
dan sejumput cahaya dari ponsel retakmu
di jalanan sepi penuh poster iklan yang telah sobek dan kusam
di mana seruling dan kecapi
mungkin cuma nada ritual
yang tak pernah engkau ganti

Malang, 2026

Simfoni Tak Bernada

_ Arsy

di simpang musim yang kehilangan arah,
wajahmu lebam
seperti fragmen mimpi yang gagal dilahirkan
sajak-sajak retak dalam kepalaku
terlalu lama mengendap di rahim kekosongan
dan kini hanya ada jendela
tempat kematian menyimak harapan yang tak rampung

Tradisi menjelma kabut
memenggal waktu seperti arloji kehilangan jarum detik
yang berdetak ke dalam mata
sementara langit retak di persimpangan
bulan pecah berkeping—menjadi saksi bisu
jenazah rindu yang dikebumikan senja

Senyummu, bayang tanpa tubuh
berembus seperti virus yang tidak berwujud
menyusup dalam lipatan nadi yang gemetar
bersembunyi dari cahaya
di lorong tempat malaikat tak lagi percaya doa
dan duka,
berlari ke arah yang tidak memiliki arah

Masih adakah aksara
yang bisa memisahkan roh dan gema?
ketika rindu dan gelisah sudah menyatu dalam liang
filsuf jadi abu,
kata-kata jadi bom waktu
pikiran dibekap oleh kefanaan yang menganga

Tuhan mungkin tinggal dalam koma
atau menulis ulang dunia dari balik kabut
sementara tanah-tanah ini:
rahim para penjilat
melahirkan puisi yang menangis
di antara lolongan serigala
dan simfoni tidak bernada

Ke mana wajahmu menakar kematian?
matahari tumbuh dari luka
dan waktu tak pernah mau sembuh
tubuhku jadi papan nisan yang menulis namamu
dengan tinta kehilangan warna
di bawah langit memar
dan engkau berdiri di etalase
jadi artefak dari keabadian
yang terlalu sunyi untuk dikenang

Malang, 2026

Eksil di Tubuh Kota

Aku menjelma residu dari kehendak tanah dan bumi
tumpah di lengkung lorong
yang tak mengenal nama
hanya bau
dari lalat yang membaca sunyi

Di kerumunan sampah pasar: aku bukan aku
hanya cangkang plastik
yang pernah gagal menjadi nyanyian
disobek senja, dibuang puisi
yang tak sempat lahir dari rahim lidah

Aku bersandar di dinding retak
di mana huruf-huruf terinfeksi debu
dan waktu,
mengeja tubuhku sebagai limbah sajak
disalib dalam arus diksi

Tanah ini,
yang dulu peradaban
kini menolak jejakku
aroma pengkhianatan naik dari pori-pori bumi
setelah metafora diperdagangkan
dan kata-kata menjadi barang antik

Aku tak lagi bertanya
tentang siapa yang melempar
hanya menunggu
kapan angin mengangkat aku
menjadi bayang,
yang akhirnya diakui langit

Malang, 2026

Di Altar Semesta

Barangkali lidah angin
telah menyayat suara yang terkubur
di pusaran sunyi yang menjelma doa luka
dan kita hanya sisa gema—tercetak
di tulang-tulang waktu yang retak

Kadang, kita lupa
bahwa aksara lahir dari luka semesta
yang merintih tiap kali langit menua
dan waktu berdarah
dalam putaran arlojinya sendiri

Jika cinta hanya gema yang dipukul
oleh jantung rindu yang beku
maka jarak adalah pusara
tempat sunyi melahirkan bayang-bayang
yang menjelma mantra
di altar semesta yang kehilangan Tuhan

Dan dari puing-puing perbedaan
kita rangkai frasa seperti:
perdamaian yang tanpa tubuh
persaudaraan yang tak bernama
di antara retakan cahaya
yang menjauh sejauh barat
dan timur yang tak pernah kembali

Malang, 2026

Pulang ke Matahari

Aku mulai curiga
pada retakan siang yang menganga
matahari adalah dewa purba
menusuk mataku dengan tombak emas
dan aku hanya bayang
yang tak lagi berani mencintai terang

Mungkin aku telah salah
mengira cahaya sebagai wajah
padahal ia hanya bayangan
yang menyesatkan arah pulang

Andai kita bisa menenun rindu
dari serpihan abu yang tak bernyawa
menyulam dendam menjadi tubuh
dan menjahit luka ke langit malam
agar kita bisa bercermin
tanpa wajah

Mungkin kita telah gagal
menjadi nyala dari gugusan remang itu
cinta adalah kabut
yang tak bisa disentuh
yang tumbuh di bawah kaki langit waktu

Dan manusia—adalah debu
yang dibentuk dari rahim yang berbeda
untuk menari di atas jurang
dan menyebutnya: sepasang matahari
tanpa pernah paham maknanya

Malang, 2026

.

Penulis: Vito Prasetyo
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Sekolah Mengejar Pasar yang Berlari

Next Post

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

Vito Prasetyo

Vito Prasetyo

Lahir di Makassar, Februari 1964. Kini tinggal di Kabupaten Malang. Pernah kuliah di IKIP Makassar.

Related Posts

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

by IRZI
June 13, 2026
0
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

by Angga Wijaya
June 6, 2026
0
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails
Next Post
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co