3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Hidup Bagai Galeri Ponsel

Vito Prasetyo by Vito Prasetyo
February 27, 2026
in Puisi
Puisi-puisi Vito Prasetyo | Hidup Bagai Galeri Ponsel

Vito Prasetyo

Hidup Bagai Galeri Ponsel

Tatapanmu seperti sinar yang tersasar
di antara bantal-bantal bau peluh
kita bicara soal hidup sambil mengunyah gorengan
tapi hening itu tetap menetes dari ujung keningmu

Masih adakah potret masa lalu
di galeri gawai yang memorinya nyaris habis?
dan sajak-sajak itu sekarang seperti pajangan etalase
dengan filter usang dan sinyal yang sering menjerit

Hari-hari lewat seperti tagihan nafas yang kehilangan denyut nadi
dan kita menyusuri malam
dengan sandal jepit putus dan saldo rekening kosong

Jejak yang belum kita tulis
mungkin tertinggal di kertas tisu warung kopi
seperti kisah yang belum lelap—karena kopi itu terlalu manis
dan rindu tak bisa ditanak
dalam panci yang telah lama bocor

Kita melipat hari seperti handuk hotel yang selalu lembap
tetap basah, tetap bau
tapi siapa peduli, asal cukup menutup dada

Satu yang tersisa darimu:
bau parfum pasar malam
dan sejumput cahaya dari ponsel retakmu
di jalanan sepi penuh poster iklan yang telah sobek dan kusam
di mana seruling dan kecapi
mungkin cuma nada ritual
yang tak pernah engkau ganti

Malang, 2026

Simfoni Tak Bernada

_ Arsy

di simpang musim yang kehilangan arah,
wajahmu lebam
seperti fragmen mimpi yang gagal dilahirkan
sajak-sajak retak dalam kepalaku
terlalu lama mengendap di rahim kekosongan
dan kini hanya ada jendela
tempat kematian menyimak harapan yang tak rampung

Tradisi menjelma kabut
memenggal waktu seperti arloji kehilangan jarum detik
yang berdetak ke dalam mata
sementara langit retak di persimpangan
bulan pecah berkeping—menjadi saksi bisu
jenazah rindu yang dikebumikan senja

Senyummu, bayang tanpa tubuh
berembus seperti virus yang tidak berwujud
menyusup dalam lipatan nadi yang gemetar
bersembunyi dari cahaya
di lorong tempat malaikat tak lagi percaya doa
dan duka,
berlari ke arah yang tidak memiliki arah

Masih adakah aksara
yang bisa memisahkan roh dan gema?
ketika rindu dan gelisah sudah menyatu dalam liang
filsuf jadi abu,
kata-kata jadi bom waktu
pikiran dibekap oleh kefanaan yang menganga

Tuhan mungkin tinggal dalam koma
atau menulis ulang dunia dari balik kabut
sementara tanah-tanah ini:
rahim para penjilat
melahirkan puisi yang menangis
di antara lolongan serigala
dan simfoni tidak bernada

Ke mana wajahmu menakar kematian?
matahari tumbuh dari luka
dan waktu tak pernah mau sembuh
tubuhku jadi papan nisan yang menulis namamu
dengan tinta kehilangan warna
di bawah langit memar
dan engkau berdiri di etalase
jadi artefak dari keabadian
yang terlalu sunyi untuk dikenang

Malang, 2026

Eksil di Tubuh Kota

Aku menjelma residu dari kehendak tanah dan bumi
tumpah di lengkung lorong
yang tak mengenal nama
hanya bau
dari lalat yang membaca sunyi

Di kerumunan sampah pasar: aku bukan aku
hanya cangkang plastik
yang pernah gagal menjadi nyanyian
disobek senja, dibuang puisi
yang tak sempat lahir dari rahim lidah

Aku bersandar di dinding retak
di mana huruf-huruf terinfeksi debu
dan waktu,
mengeja tubuhku sebagai limbah sajak
disalib dalam arus diksi

Tanah ini,
yang dulu peradaban
kini menolak jejakku
aroma pengkhianatan naik dari pori-pori bumi
setelah metafora diperdagangkan
dan kata-kata menjadi barang antik

Aku tak lagi bertanya
tentang siapa yang melempar
hanya menunggu
kapan angin mengangkat aku
menjadi bayang,
yang akhirnya diakui langit

Malang, 2026

Di Altar Semesta

Barangkali lidah angin
telah menyayat suara yang terkubur
di pusaran sunyi yang menjelma doa luka
dan kita hanya sisa gema—tercetak
di tulang-tulang waktu yang retak

Kadang, kita lupa
bahwa aksara lahir dari luka semesta
yang merintih tiap kali langit menua
dan waktu berdarah
dalam putaran arlojinya sendiri

Jika cinta hanya gema yang dipukul
oleh jantung rindu yang beku
maka jarak adalah pusara
tempat sunyi melahirkan bayang-bayang
yang menjelma mantra
di altar semesta yang kehilangan Tuhan

Dan dari puing-puing perbedaan
kita rangkai frasa seperti:
perdamaian yang tanpa tubuh
persaudaraan yang tak bernama
di antara retakan cahaya
yang menjauh sejauh barat
dan timur yang tak pernah kembali

Malang, 2026

Pulang ke Matahari

Aku mulai curiga
pada retakan siang yang menganga
matahari adalah dewa purba
menusuk mataku dengan tombak emas
dan aku hanya bayang
yang tak lagi berani mencintai terang

Mungkin aku telah salah
mengira cahaya sebagai wajah
padahal ia hanya bayangan
yang menyesatkan arah pulang

Andai kita bisa menenun rindu
dari serpihan abu yang tak bernyawa
menyulam dendam menjadi tubuh
dan menjahit luka ke langit malam
agar kita bisa bercermin
tanpa wajah

Mungkin kita telah gagal
menjadi nyala dari gugusan remang itu
cinta adalah kabut
yang tak bisa disentuh
yang tumbuh di bawah kaki langit waktu

Dan manusia—adalah debu
yang dibentuk dari rahim yang berbeda
untuk menari di atas jurang
dan menyebutnya: sepasang matahari
tanpa pernah paham maknanya

Malang, 2026

.

Penulis: Vito Prasetyo
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Sekolah Mengejar Pasar yang Berlari

Next Post

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

Vito Prasetyo

Vito Prasetyo

Lahir di Makassar, Februari 1964. Kini tinggal di Kabupaten Malang. Pernah kuliah di IKIP Makassar.

Related Posts

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

by IRZI
June 13, 2026
0
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

by Angga Wijaya
June 6, 2026
0
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails
Next Post
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co