2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Sekolah Mengejar Pasar yang Berlari

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
February 27, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

BEBERAPA waktu terakhir, media ekonomi CNBC merilis survei, yang dilakukan perusahaan bursa kerja asal AS, ZipRecruiter Inc., 2022 silam, tentang jurusan kuliah yang paling disesali oleh para alumninya. Kalau di Indonesia, respons orang biasanya begini, “Makanya pilih jurusan yang prospeknya jelas.” Seolah masalahnya sederhana, yang salah adalah pilihan si mahasiswa.

Keponakan saya yang tahun ini mau lulus SMA, begitu juga, ribut mencari jurusan apa yang mau dipilih. Orientasinya satu, takut nantinya saat lulus dia tidak laku cari kerja. Jangankan dia, saya sendiri dulu juga sibuk tanya sana-sini tentang jurusan apa yang “bagus”. Bagus itu ya artinya kalau lulus cepat dapat kerja dan gajinya gede. Jadi ibaratnya, kalau salah pilih jurusan, sama dengan salah masuk jalan tol kehidupan dan jika terlanjur tersesat akan menuju akhir nun jauh di sana.

Kembali ke soal pilihan jurusan yang disesali para mahasiswa, mungkin yang sedang jadi masalah bukan pada pilihannya. Yang jadi soal sebenarnya adalah imajinasi kita tentang pendidikan.  Kita hidup di zaman ketika AI bisa menulis esai, membuat desain, bahkan menganalisis data hukum. Dalam hitungan bulan, model kecerdasan buatan berkembang drastis.

Dunia kerja pun ikut berubah. Profesi yang dulu stabil, kini mulai goyah. Keahlian yang dulu langka kini bisa diotomatisasi.   Wajarlah jika kini sekolah dan kampus mulai panik. Kurikulum diperbarui, mata kuliah AI ditambahkan, tak lupa workshop literasi digital digencarkan. Semua berlomba dengan waktu agar relevan dengan industri.

Nah, boleh dong, di sini kita ajukan pertanyaan yang mungkin bagi beberapa pihak terdengar bodoh. Pertanyaannya adalah, apakah benar pendidikan harus selalu mengejar pasar? Kalau pertanyaan ini memang dianggap bodoh, pertanyaan selanjutnya adalah, jika iya, apakah ia akan pernah bisa menyusul?

Kapitalisme dan Pendidikan yang Tunduk pada Produksi

Kalau kita meminjam kacamata Karl Marx, pendidikan bukanlah ruang netral. Ia berada dalam orbit struktur ekonomi. Dalam masyarakat industri, sekolah dirancang untuk menghasilkan tenaga kerja yang disiplin, patuh, dan terspesialisasi. Wajar, tidak salah dan sudah semestinya. Kita bayangkan, saja kalau kita yang punya pabrik, pasti membutuhkan ritme, keteraturan, dan efisiensi.

Masalahnya, kita sudah tidak sepenuhnya hidup di era pabrik konvensional.  Era kita masih tetap kapitalisme, tapi kini adalah kapitalisme digital yang menuntut fleksibilitas, kreativitas, dan adaptasi cepat. Celakanya, struktur pendidikan masih mewarisi logika lama, semacam jurusan kaku, silabus tetap, evaluasi seragam. Sementara dunia kerja bergerak eksponensial, kurikulum masih bergerak administratif. 

Yang terjadi sekarang adalah benturan antara struktur pendidikan yang cenderung lambat dan ekonomi yang terlalu cepat. Pendidikan dalam beberapa sisi memang didorong untuk mengikuti pasar. Tapi yang jadi masalah adalah bahwa pasar sendiri tidak pernah stabil.  Kita dalam kondisi sedang menyuruh sekolah mengejar sesuatu yang tidak diam, dengan gerakan yang tak terduga ditambah dengan adanya percepatan.

Masalah yang dihadapi institusi pendidikan kini bukan cuma soal kecepatan. Ini juga soal cara kerja kekuasaan. Michel Foucault menunjukkan bagaimana institusi modern seperti penjara, rumah sakit, bahkan sekolah, ini semua membentuk manusia lewat disiplin dan normalisasi. Ada kurikulum yang menentukan apa yang sah dipelajari. Ada ujian yang menentukan siapa yang pintar. Ada sertifikat yang menentukan siapa yang layak dan memiliki kompetensi.  Jadi memang sekolah bukan sekadar tempat belajar, melainkan sekaligus adalah mesin klasifikasi.

Sementara itu AI berkembang di ruang terbuka, belajar dari jutaan data dari kelakuan para penggunanya yang gratis tanpa ruang kelas, di sisi lain sekolah tetap bertumpu pada struktur vertikal. Otoritas kurikulum lebih digdaya daripada rasa ingin tahu.  Ironisnya, di era informasi yang melimpah dan liar ini, pendidikan kita masih sering bertahan pada model pengendalian pengetahuan.  Ketika siswa bisa belajar coding dari YouTube atau AI dalam waktu lebih cepat daripada satu semester kuliah, sekolah kehilangan monopoli atas informasi. Tapi bukannya mereformasi paradigma, banyak sekolah justru menambah mata pelajaran.

Ilusi Relevansi

Kata yang paling sering muncul dalam diskusi pendidikan di hari kini adalah, relevan. Relevan dengan industri, relevan dengan kebutuhan pasar, relevan dengan tren teknologi, dan yang dapat kita tangkap dari sini seolah relevansi dalam pendidikan itu tunggal, yaitu ekonomi.

Padahal, jika kita jujur, pasar kerja adalah entitas yang labil. Profesi yang hari ini bisa jadi idola, bisa hilang lima tahun lagi. AI bisa menggantikan pekerjaan administratif, desain dasar, bahkan analisis hukum. Maka mengejar relevansi semata-mata ekonomi sepertinya ibarat berlari mengejar bayangan. 

Karena himpitan dan tuntutan ekonomi saat ini, kita seolah lupa bahwa pendidikan bukan hanya soal menyiapkan pekerjaan tapi juga soal menyiapkan manusia menghadapi perubahan yang belum bisa diprediksi.  Jika pendidikan hanya membentuk keterampilan teknis, maka ia sedang melatih manusia untuk bersaing dengan mesin. Dan dalam banyak hal, no debat, mesin akan menang.

Kita alami sendiri bagaimana di era AI ini, konten bisa dihasilkan mesin.  Jawaban bisa diringkas algoritma.  Analisis bisa disintesis otomatis.  Namun pengalaman reflektif seperti kegagalan, dialog, pergulatan etis, semua itu tidak bisa diotomatisasi.  Jika sekolah hanya sibuk menambah konten teknologi tanpa membangun ruang refleksi, ia kehilangan esensinya. Kita akan menghasilkan generasi yang terampil, tetapi miskin kebijaksanaan.  Bahkan, meski terampil, akan kalah pula dengan mesin tak lama kemudian.

Pendidikan sebagai Penyeimbang Zaman

Martin Heidegger mengingatkan bahwa bahaya teknologi bukan pada mesinnya, melainkan pada cara berpikir yang menyertainya. Teknologi cenderung melihat segala sesuatu sebagai sumber daya, termasuk manusia.  Istilah “human capital” terdengar modern, tetapi diam-diam mereduksi manusia menjadi aset ekonomi. Nilai seseorang diukur dari produktivitasnya. Jurusan diukur dari gaji lulusannya. Sekolah diukur dari tingkat serapan kerja. 

Terus terang saja, ketika pendidikan sepenuhnya tunduk pada logika ini, kita tidak lagi membicarakan manusia, tetapi unit produksi. Di sinilah ada argumen pokok yang penting, bahwa, yang tertinggal bukan sekolah, tetapi imajinasi kita tentang manusia. Kita membayangkan manusia sebagai pekerja. Sebagai sumber daya. Sebagai instrumen ekonomi. Padahal manusia juga makhluk etis, politis, dan eksistensial.

Mungkin kita perlu berhenti sejenak dari obsesi “link and match”. Pendidikan memang harus adaptif, atau relevan itu tadi. Tetapi adaptif bukan berarti tunduk sepenuhnya.  Jika pendidikan hanya mengikuti pasar, ia akan selalu terlambat. Namun jika pendidikan berani menjadi ruang refleksi atas pasar itu sendiri, ia justru menjadi penyeimbang zaman.

Sekolah seharusnya bukan sekadar pabrik tenaga kerja, melainkan ruang di mana generasi muda belajar memahami teknologi sekaligus mengkritiknya. Belajar menggunakan AI sekaligus mempertanyakan dampaknya. Belajar menjadi produktif tanpa harus kehilangan nurani.

Mengubah Imajinasi

Mungkin kita perlu berhenti menyalahkan sekolah karena lulusannya kalah bersaing dengan AI.  Karena AI lahir justru dari logika yang sama yang selama ini kita tanam di institusi pendidikan tentang efisiensi, produktivitas, percepatan, optimalisasi.  Lalu ketika semua upaya keras itu mewujud dalam bentuk AI yang benar-benar menjadi mesin optimasi paling efisien dalam sejarah manusia, kita panik. 

Padahal ia bukan musuh yang datang dari luar.  Ia adalah anak kandung dari imajinasi ekonomi yang kita pelihara sendiri. Jika pendidikan terlalu lama menghamba pada industri, maka AI adalah konsekuensi logisnya. Ia adalah puncak dari obsesi terhadap efisiensi. Dan ketika ia mulai menggantikan manusia, itu bukan kecelakaan sejarah. Itu hasil dari sistem yang memang dirancang cermat untuk mengganti manusia dengan mekanisme yang lebih murah dan cepat. 

Dan mungkin, inilah “dosa” yang kini harus kita telan mentah-mentah.  AI tidak sengaja mengancam.  Ia hanya lulusan paling sukses dari sistem pendidikan yang kita banggakan sendiri. Karena toh, kita sendiri yang sejak awal mengerdilkan makna manusia dalam sistem pendidikan. Namun, sebelum kita menemukan jalan keluarnya, mari kita cari jurusan yang “bagus” dulu. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pendidikansekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Anak-anak Muda Ramai-ramai Ramal Nasib di Stand Gotra Pangusada Bali di Bulan Bahasa Bali 2026

Next Post

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Hidup Bagai Galeri Ponsel

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Vito Prasetyo | Hidup Bagai Galeri Ponsel

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Hidup Bagai Galeri Ponsel

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co