12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Sekolah Mengejar Pasar yang Berlari

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
February 27, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

BEBERAPA waktu terakhir, media ekonomi CNBC merilis survei, yang dilakukan perusahaan bursa kerja asal AS, ZipRecruiter Inc., 2022 silam, tentang jurusan kuliah yang paling disesali oleh para alumninya. Kalau di Indonesia, respons orang biasanya begini, “Makanya pilih jurusan yang prospeknya jelas.” Seolah masalahnya sederhana, yang salah adalah pilihan si mahasiswa.

Keponakan saya yang tahun ini mau lulus SMA, begitu juga, ribut mencari jurusan apa yang mau dipilih. Orientasinya satu, takut nantinya saat lulus dia tidak laku cari kerja. Jangankan dia, saya sendiri dulu juga sibuk tanya sana-sini tentang jurusan apa yang “bagus”. Bagus itu ya artinya kalau lulus cepat dapat kerja dan gajinya gede. Jadi ibaratnya, kalau salah pilih jurusan, sama dengan salah masuk jalan tol kehidupan dan jika terlanjur tersesat akan menuju akhir nun jauh di sana.

Kembali ke soal pilihan jurusan yang disesali para mahasiswa, mungkin yang sedang jadi masalah bukan pada pilihannya. Yang jadi soal sebenarnya adalah imajinasi kita tentang pendidikan.  Kita hidup di zaman ketika AI bisa menulis esai, membuat desain, bahkan menganalisis data hukum. Dalam hitungan bulan, model kecerdasan buatan berkembang drastis.

Dunia kerja pun ikut berubah. Profesi yang dulu stabil, kini mulai goyah. Keahlian yang dulu langka kini bisa diotomatisasi.   Wajarlah jika kini sekolah dan kampus mulai panik. Kurikulum diperbarui, mata kuliah AI ditambahkan, tak lupa workshop literasi digital digencarkan. Semua berlomba dengan waktu agar relevan dengan industri.

Nah, boleh dong, di sini kita ajukan pertanyaan yang mungkin bagi beberapa pihak terdengar bodoh. Pertanyaannya adalah, apakah benar pendidikan harus selalu mengejar pasar? Kalau pertanyaan ini memang dianggap bodoh, pertanyaan selanjutnya adalah, jika iya, apakah ia akan pernah bisa menyusul?

Kapitalisme dan Pendidikan yang Tunduk pada Produksi

Kalau kita meminjam kacamata Karl Marx, pendidikan bukanlah ruang netral. Ia berada dalam orbit struktur ekonomi. Dalam masyarakat industri, sekolah dirancang untuk menghasilkan tenaga kerja yang disiplin, patuh, dan terspesialisasi. Wajar, tidak salah dan sudah semestinya. Kita bayangkan, saja kalau kita yang punya pabrik, pasti membutuhkan ritme, keteraturan, dan efisiensi.

Masalahnya, kita sudah tidak sepenuhnya hidup di era pabrik konvensional.  Era kita masih tetap kapitalisme, tapi kini adalah kapitalisme digital yang menuntut fleksibilitas, kreativitas, dan adaptasi cepat. Celakanya, struktur pendidikan masih mewarisi logika lama, semacam jurusan kaku, silabus tetap, evaluasi seragam. Sementara dunia kerja bergerak eksponensial, kurikulum masih bergerak administratif. 

Yang terjadi sekarang adalah benturan antara struktur pendidikan yang cenderung lambat dan ekonomi yang terlalu cepat. Pendidikan dalam beberapa sisi memang didorong untuk mengikuti pasar. Tapi yang jadi masalah adalah bahwa pasar sendiri tidak pernah stabil.  Kita dalam kondisi sedang menyuruh sekolah mengejar sesuatu yang tidak diam, dengan gerakan yang tak terduga ditambah dengan adanya percepatan.

Masalah yang dihadapi institusi pendidikan kini bukan cuma soal kecepatan. Ini juga soal cara kerja kekuasaan. Michel Foucault menunjukkan bagaimana institusi modern seperti penjara, rumah sakit, bahkan sekolah, ini semua membentuk manusia lewat disiplin dan normalisasi. Ada kurikulum yang menentukan apa yang sah dipelajari. Ada ujian yang menentukan siapa yang pintar. Ada sertifikat yang menentukan siapa yang layak dan memiliki kompetensi.  Jadi memang sekolah bukan sekadar tempat belajar, melainkan sekaligus adalah mesin klasifikasi.

Sementara itu AI berkembang di ruang terbuka, belajar dari jutaan data dari kelakuan para penggunanya yang gratis tanpa ruang kelas, di sisi lain sekolah tetap bertumpu pada struktur vertikal. Otoritas kurikulum lebih digdaya daripada rasa ingin tahu.  Ironisnya, di era informasi yang melimpah dan liar ini, pendidikan kita masih sering bertahan pada model pengendalian pengetahuan.  Ketika siswa bisa belajar coding dari YouTube atau AI dalam waktu lebih cepat daripada satu semester kuliah, sekolah kehilangan monopoli atas informasi. Tapi bukannya mereformasi paradigma, banyak sekolah justru menambah mata pelajaran.

Ilusi Relevansi

Kata yang paling sering muncul dalam diskusi pendidikan di hari kini adalah, relevan. Relevan dengan industri, relevan dengan kebutuhan pasar, relevan dengan tren teknologi, dan yang dapat kita tangkap dari sini seolah relevansi dalam pendidikan itu tunggal, yaitu ekonomi.

Padahal, jika kita jujur, pasar kerja adalah entitas yang labil. Profesi yang hari ini bisa jadi idola, bisa hilang lima tahun lagi. AI bisa menggantikan pekerjaan administratif, desain dasar, bahkan analisis hukum. Maka mengejar relevansi semata-mata ekonomi sepertinya ibarat berlari mengejar bayangan. 

Karena himpitan dan tuntutan ekonomi saat ini, kita seolah lupa bahwa pendidikan bukan hanya soal menyiapkan pekerjaan tapi juga soal menyiapkan manusia menghadapi perubahan yang belum bisa diprediksi.  Jika pendidikan hanya membentuk keterampilan teknis, maka ia sedang melatih manusia untuk bersaing dengan mesin. Dan dalam banyak hal, no debat, mesin akan menang.

Kita alami sendiri bagaimana di era AI ini, konten bisa dihasilkan mesin.  Jawaban bisa diringkas algoritma.  Analisis bisa disintesis otomatis.  Namun pengalaman reflektif seperti kegagalan, dialog, pergulatan etis, semua itu tidak bisa diotomatisasi.  Jika sekolah hanya sibuk menambah konten teknologi tanpa membangun ruang refleksi, ia kehilangan esensinya. Kita akan menghasilkan generasi yang terampil, tetapi miskin kebijaksanaan.  Bahkan, meski terampil, akan kalah pula dengan mesin tak lama kemudian.

Pendidikan sebagai Penyeimbang Zaman

Martin Heidegger mengingatkan bahwa bahaya teknologi bukan pada mesinnya, melainkan pada cara berpikir yang menyertainya. Teknologi cenderung melihat segala sesuatu sebagai sumber daya, termasuk manusia.  Istilah “human capital” terdengar modern, tetapi diam-diam mereduksi manusia menjadi aset ekonomi. Nilai seseorang diukur dari produktivitasnya. Jurusan diukur dari gaji lulusannya. Sekolah diukur dari tingkat serapan kerja. 

Terus terang saja, ketika pendidikan sepenuhnya tunduk pada logika ini, kita tidak lagi membicarakan manusia, tetapi unit produksi. Di sinilah ada argumen pokok yang penting, bahwa, yang tertinggal bukan sekolah, tetapi imajinasi kita tentang manusia. Kita membayangkan manusia sebagai pekerja. Sebagai sumber daya. Sebagai instrumen ekonomi. Padahal manusia juga makhluk etis, politis, dan eksistensial.

Mungkin kita perlu berhenti sejenak dari obsesi “link and match”. Pendidikan memang harus adaptif, atau relevan itu tadi. Tetapi adaptif bukan berarti tunduk sepenuhnya.  Jika pendidikan hanya mengikuti pasar, ia akan selalu terlambat. Namun jika pendidikan berani menjadi ruang refleksi atas pasar itu sendiri, ia justru menjadi penyeimbang zaman.

Sekolah seharusnya bukan sekadar pabrik tenaga kerja, melainkan ruang di mana generasi muda belajar memahami teknologi sekaligus mengkritiknya. Belajar menggunakan AI sekaligus mempertanyakan dampaknya. Belajar menjadi produktif tanpa harus kehilangan nurani.

Mengubah Imajinasi

Mungkin kita perlu berhenti menyalahkan sekolah karena lulusannya kalah bersaing dengan AI.  Karena AI lahir justru dari logika yang sama yang selama ini kita tanam di institusi pendidikan tentang efisiensi, produktivitas, percepatan, optimalisasi.  Lalu ketika semua upaya keras itu mewujud dalam bentuk AI yang benar-benar menjadi mesin optimasi paling efisien dalam sejarah manusia, kita panik. 

Padahal ia bukan musuh yang datang dari luar.  Ia adalah anak kandung dari imajinasi ekonomi yang kita pelihara sendiri. Jika pendidikan terlalu lama menghamba pada industri, maka AI adalah konsekuensi logisnya. Ia adalah puncak dari obsesi terhadap efisiensi. Dan ketika ia mulai menggantikan manusia, itu bukan kecelakaan sejarah. Itu hasil dari sistem yang memang dirancang cermat untuk mengganti manusia dengan mekanisme yang lebih murah dan cepat. 

Dan mungkin, inilah “dosa” yang kini harus kita telan mentah-mentah.  AI tidak sengaja mengancam.  Ia hanya lulusan paling sukses dari sistem pendidikan yang kita banggakan sendiri. Karena toh, kita sendiri yang sejak awal mengerdilkan makna manusia dalam sistem pendidikan. Namun, sebelum kita menemukan jalan keluarnya, mari kita cari jurusan yang “bagus” dulu. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pendidikansekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Anak-anak Muda Ramai-ramai Ramal Nasib di Stand Gotra Pangusada Bali di Bulan Bahasa Bali 2026

Next Post

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Hidup Bagai Galeri Ponsel

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Vito Prasetyo | Hidup Bagai Galeri Ponsel

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Hidup Bagai Galeri Ponsel

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co