24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Sekolah Mengejar Pasar yang Berlari

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
February 27, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

BEBERAPA waktu terakhir, media ekonomi CNBC merilis survei, yang dilakukan perusahaan bursa kerja asal AS, ZipRecruiter Inc., 2022 silam, tentang jurusan kuliah yang paling disesali oleh para alumninya. Kalau di Indonesia, respons orang biasanya begini, “Makanya pilih jurusan yang prospeknya jelas.” Seolah masalahnya sederhana, yang salah adalah pilihan si mahasiswa.

Keponakan saya yang tahun ini mau lulus SMA, begitu juga, ribut mencari jurusan apa yang mau dipilih. Orientasinya satu, takut nantinya saat lulus dia tidak laku cari kerja. Jangankan dia, saya sendiri dulu juga sibuk tanya sana-sini tentang jurusan apa yang “bagus”. Bagus itu ya artinya kalau lulus cepat dapat kerja dan gajinya gede. Jadi ibaratnya, kalau salah pilih jurusan, sama dengan salah masuk jalan tol kehidupan dan jika terlanjur tersesat akan menuju akhir nun jauh di sana.

Kembali ke soal pilihan jurusan yang disesali para mahasiswa, mungkin yang sedang jadi masalah bukan pada pilihannya. Yang jadi soal sebenarnya adalah imajinasi kita tentang pendidikan.  Kita hidup di zaman ketika AI bisa menulis esai, membuat desain, bahkan menganalisis data hukum. Dalam hitungan bulan, model kecerdasan buatan berkembang drastis.

Dunia kerja pun ikut berubah. Profesi yang dulu stabil, kini mulai goyah. Keahlian yang dulu langka kini bisa diotomatisasi.   Wajarlah jika kini sekolah dan kampus mulai panik. Kurikulum diperbarui, mata kuliah AI ditambahkan, tak lupa workshop literasi digital digencarkan. Semua berlomba dengan waktu agar relevan dengan industri.

Nah, boleh dong, di sini kita ajukan pertanyaan yang mungkin bagi beberapa pihak terdengar bodoh. Pertanyaannya adalah, apakah benar pendidikan harus selalu mengejar pasar? Kalau pertanyaan ini memang dianggap bodoh, pertanyaan selanjutnya adalah, jika iya, apakah ia akan pernah bisa menyusul?

Kapitalisme dan Pendidikan yang Tunduk pada Produksi

Kalau kita meminjam kacamata Karl Marx, pendidikan bukanlah ruang netral. Ia berada dalam orbit struktur ekonomi. Dalam masyarakat industri, sekolah dirancang untuk menghasilkan tenaga kerja yang disiplin, patuh, dan terspesialisasi. Wajar, tidak salah dan sudah semestinya. Kita bayangkan, saja kalau kita yang punya pabrik, pasti membutuhkan ritme, keteraturan, dan efisiensi.

Masalahnya, kita sudah tidak sepenuhnya hidup di era pabrik konvensional.  Era kita masih tetap kapitalisme, tapi kini adalah kapitalisme digital yang menuntut fleksibilitas, kreativitas, dan adaptasi cepat. Celakanya, struktur pendidikan masih mewarisi logika lama, semacam jurusan kaku, silabus tetap, evaluasi seragam. Sementara dunia kerja bergerak eksponensial, kurikulum masih bergerak administratif. 

Yang terjadi sekarang adalah benturan antara struktur pendidikan yang cenderung lambat dan ekonomi yang terlalu cepat. Pendidikan dalam beberapa sisi memang didorong untuk mengikuti pasar. Tapi yang jadi masalah adalah bahwa pasar sendiri tidak pernah stabil.  Kita dalam kondisi sedang menyuruh sekolah mengejar sesuatu yang tidak diam, dengan gerakan yang tak terduga ditambah dengan adanya percepatan.

Masalah yang dihadapi institusi pendidikan kini bukan cuma soal kecepatan. Ini juga soal cara kerja kekuasaan. Michel Foucault menunjukkan bagaimana institusi modern seperti penjara, rumah sakit, bahkan sekolah, ini semua membentuk manusia lewat disiplin dan normalisasi. Ada kurikulum yang menentukan apa yang sah dipelajari. Ada ujian yang menentukan siapa yang pintar. Ada sertifikat yang menentukan siapa yang layak dan memiliki kompetensi.  Jadi memang sekolah bukan sekadar tempat belajar, melainkan sekaligus adalah mesin klasifikasi.

Sementara itu AI berkembang di ruang terbuka, belajar dari jutaan data dari kelakuan para penggunanya yang gratis tanpa ruang kelas, di sisi lain sekolah tetap bertumpu pada struktur vertikal. Otoritas kurikulum lebih digdaya daripada rasa ingin tahu.  Ironisnya, di era informasi yang melimpah dan liar ini, pendidikan kita masih sering bertahan pada model pengendalian pengetahuan.  Ketika siswa bisa belajar coding dari YouTube atau AI dalam waktu lebih cepat daripada satu semester kuliah, sekolah kehilangan monopoli atas informasi. Tapi bukannya mereformasi paradigma, banyak sekolah justru menambah mata pelajaran.

Ilusi Relevansi

Kata yang paling sering muncul dalam diskusi pendidikan di hari kini adalah, relevan. Relevan dengan industri, relevan dengan kebutuhan pasar, relevan dengan tren teknologi, dan yang dapat kita tangkap dari sini seolah relevansi dalam pendidikan itu tunggal, yaitu ekonomi.

Padahal, jika kita jujur, pasar kerja adalah entitas yang labil. Profesi yang hari ini bisa jadi idola, bisa hilang lima tahun lagi. AI bisa menggantikan pekerjaan administratif, desain dasar, bahkan analisis hukum. Maka mengejar relevansi semata-mata ekonomi sepertinya ibarat berlari mengejar bayangan. 

Karena himpitan dan tuntutan ekonomi saat ini, kita seolah lupa bahwa pendidikan bukan hanya soal menyiapkan pekerjaan tapi juga soal menyiapkan manusia menghadapi perubahan yang belum bisa diprediksi.  Jika pendidikan hanya membentuk keterampilan teknis, maka ia sedang melatih manusia untuk bersaing dengan mesin. Dan dalam banyak hal, no debat, mesin akan menang.

Kita alami sendiri bagaimana di era AI ini, konten bisa dihasilkan mesin.  Jawaban bisa diringkas algoritma.  Analisis bisa disintesis otomatis.  Namun pengalaman reflektif seperti kegagalan, dialog, pergulatan etis, semua itu tidak bisa diotomatisasi.  Jika sekolah hanya sibuk menambah konten teknologi tanpa membangun ruang refleksi, ia kehilangan esensinya. Kita akan menghasilkan generasi yang terampil, tetapi miskin kebijaksanaan.  Bahkan, meski terampil, akan kalah pula dengan mesin tak lama kemudian.

Pendidikan sebagai Penyeimbang Zaman

Martin Heidegger mengingatkan bahwa bahaya teknologi bukan pada mesinnya, melainkan pada cara berpikir yang menyertainya. Teknologi cenderung melihat segala sesuatu sebagai sumber daya, termasuk manusia.  Istilah “human capital” terdengar modern, tetapi diam-diam mereduksi manusia menjadi aset ekonomi. Nilai seseorang diukur dari produktivitasnya. Jurusan diukur dari gaji lulusannya. Sekolah diukur dari tingkat serapan kerja. 

Terus terang saja, ketika pendidikan sepenuhnya tunduk pada logika ini, kita tidak lagi membicarakan manusia, tetapi unit produksi. Di sinilah ada argumen pokok yang penting, bahwa, yang tertinggal bukan sekolah, tetapi imajinasi kita tentang manusia. Kita membayangkan manusia sebagai pekerja. Sebagai sumber daya. Sebagai instrumen ekonomi. Padahal manusia juga makhluk etis, politis, dan eksistensial.

Mungkin kita perlu berhenti sejenak dari obsesi “link and match”. Pendidikan memang harus adaptif, atau relevan itu tadi. Tetapi adaptif bukan berarti tunduk sepenuhnya.  Jika pendidikan hanya mengikuti pasar, ia akan selalu terlambat. Namun jika pendidikan berani menjadi ruang refleksi atas pasar itu sendiri, ia justru menjadi penyeimbang zaman.

Sekolah seharusnya bukan sekadar pabrik tenaga kerja, melainkan ruang di mana generasi muda belajar memahami teknologi sekaligus mengkritiknya. Belajar menggunakan AI sekaligus mempertanyakan dampaknya. Belajar menjadi produktif tanpa harus kehilangan nurani.

Mengubah Imajinasi

Mungkin kita perlu berhenti menyalahkan sekolah karena lulusannya kalah bersaing dengan AI.  Karena AI lahir justru dari logika yang sama yang selama ini kita tanam di institusi pendidikan tentang efisiensi, produktivitas, percepatan, optimalisasi.  Lalu ketika semua upaya keras itu mewujud dalam bentuk AI yang benar-benar menjadi mesin optimasi paling efisien dalam sejarah manusia, kita panik. 

Padahal ia bukan musuh yang datang dari luar.  Ia adalah anak kandung dari imajinasi ekonomi yang kita pelihara sendiri. Jika pendidikan terlalu lama menghamba pada industri, maka AI adalah konsekuensi logisnya. Ia adalah puncak dari obsesi terhadap efisiensi. Dan ketika ia mulai menggantikan manusia, itu bukan kecelakaan sejarah. Itu hasil dari sistem yang memang dirancang cermat untuk mengganti manusia dengan mekanisme yang lebih murah dan cepat. 

Dan mungkin, inilah “dosa” yang kini harus kita telan mentah-mentah.  AI tidak sengaja mengancam.  Ia hanya lulusan paling sukses dari sistem pendidikan yang kita banggakan sendiri. Karena toh, kita sendiri yang sejak awal mengerdilkan makna manusia dalam sistem pendidikan. Namun, sebelum kita menemukan jalan keluarnya, mari kita cari jurusan yang “bagus” dulu. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pendidikansekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Anak-anak Muda Ramai-ramai Ramal Nasib di Stand Gotra Pangusada Bali di Bulan Bahasa Bali 2026

Next Post

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Hidup Bagai Galeri Ponsel

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Vito Prasetyo | Hidup Bagai Galeri Ponsel

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Hidup Bagai Galeri Ponsel

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co