24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Sekolah Mengejar Pasar yang Berlari

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
February 27, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

BEBERAPA waktu terakhir, media ekonomi CNBC merilis survei, yang dilakukan perusahaan bursa kerja asal AS, ZipRecruiter Inc., 2022 silam, tentang jurusan kuliah yang paling disesali oleh para alumninya. Kalau di Indonesia, respons orang biasanya begini, “Makanya pilih jurusan yang prospeknya jelas.” Seolah masalahnya sederhana, yang salah adalah pilihan si mahasiswa.

Keponakan saya yang tahun ini mau lulus SMA, begitu juga, ribut mencari jurusan apa yang mau dipilih. Orientasinya satu, takut nantinya saat lulus dia tidak laku cari kerja. Jangankan dia, saya sendiri dulu juga sibuk tanya sana-sini tentang jurusan apa yang “bagus”. Bagus itu ya artinya kalau lulus cepat dapat kerja dan gajinya gede. Jadi ibaratnya, kalau salah pilih jurusan, sama dengan salah masuk jalan tol kehidupan dan jika terlanjur tersesat akan menuju akhir nun jauh di sana.

Kembali ke soal pilihan jurusan yang disesali para mahasiswa, mungkin yang sedang jadi masalah bukan pada pilihannya. Yang jadi soal sebenarnya adalah imajinasi kita tentang pendidikan.  Kita hidup di zaman ketika AI bisa menulis esai, membuat desain, bahkan menganalisis data hukum. Dalam hitungan bulan, model kecerdasan buatan berkembang drastis.

Dunia kerja pun ikut berubah. Profesi yang dulu stabil, kini mulai goyah. Keahlian yang dulu langka kini bisa diotomatisasi.   Wajarlah jika kini sekolah dan kampus mulai panik. Kurikulum diperbarui, mata kuliah AI ditambahkan, tak lupa workshop literasi digital digencarkan. Semua berlomba dengan waktu agar relevan dengan industri.

Nah, boleh dong, di sini kita ajukan pertanyaan yang mungkin bagi beberapa pihak terdengar bodoh. Pertanyaannya adalah, apakah benar pendidikan harus selalu mengejar pasar? Kalau pertanyaan ini memang dianggap bodoh, pertanyaan selanjutnya adalah, jika iya, apakah ia akan pernah bisa menyusul?

Kapitalisme dan Pendidikan yang Tunduk pada Produksi

Kalau kita meminjam kacamata Karl Marx, pendidikan bukanlah ruang netral. Ia berada dalam orbit struktur ekonomi. Dalam masyarakat industri, sekolah dirancang untuk menghasilkan tenaga kerja yang disiplin, patuh, dan terspesialisasi. Wajar, tidak salah dan sudah semestinya. Kita bayangkan, saja kalau kita yang punya pabrik, pasti membutuhkan ritme, keteraturan, dan efisiensi.

Masalahnya, kita sudah tidak sepenuhnya hidup di era pabrik konvensional.  Era kita masih tetap kapitalisme, tapi kini adalah kapitalisme digital yang menuntut fleksibilitas, kreativitas, dan adaptasi cepat. Celakanya, struktur pendidikan masih mewarisi logika lama, semacam jurusan kaku, silabus tetap, evaluasi seragam. Sementara dunia kerja bergerak eksponensial, kurikulum masih bergerak administratif. 

Yang terjadi sekarang adalah benturan antara struktur pendidikan yang cenderung lambat dan ekonomi yang terlalu cepat. Pendidikan dalam beberapa sisi memang didorong untuk mengikuti pasar. Tapi yang jadi masalah adalah bahwa pasar sendiri tidak pernah stabil.  Kita dalam kondisi sedang menyuruh sekolah mengejar sesuatu yang tidak diam, dengan gerakan yang tak terduga ditambah dengan adanya percepatan.

Masalah yang dihadapi institusi pendidikan kini bukan cuma soal kecepatan. Ini juga soal cara kerja kekuasaan. Michel Foucault menunjukkan bagaimana institusi modern seperti penjara, rumah sakit, bahkan sekolah, ini semua membentuk manusia lewat disiplin dan normalisasi. Ada kurikulum yang menentukan apa yang sah dipelajari. Ada ujian yang menentukan siapa yang pintar. Ada sertifikat yang menentukan siapa yang layak dan memiliki kompetensi.  Jadi memang sekolah bukan sekadar tempat belajar, melainkan sekaligus adalah mesin klasifikasi.

Sementara itu AI berkembang di ruang terbuka, belajar dari jutaan data dari kelakuan para penggunanya yang gratis tanpa ruang kelas, di sisi lain sekolah tetap bertumpu pada struktur vertikal. Otoritas kurikulum lebih digdaya daripada rasa ingin tahu.  Ironisnya, di era informasi yang melimpah dan liar ini, pendidikan kita masih sering bertahan pada model pengendalian pengetahuan.  Ketika siswa bisa belajar coding dari YouTube atau AI dalam waktu lebih cepat daripada satu semester kuliah, sekolah kehilangan monopoli atas informasi. Tapi bukannya mereformasi paradigma, banyak sekolah justru menambah mata pelajaran.

Ilusi Relevansi

Kata yang paling sering muncul dalam diskusi pendidikan di hari kini adalah, relevan. Relevan dengan industri, relevan dengan kebutuhan pasar, relevan dengan tren teknologi, dan yang dapat kita tangkap dari sini seolah relevansi dalam pendidikan itu tunggal, yaitu ekonomi.

Padahal, jika kita jujur, pasar kerja adalah entitas yang labil. Profesi yang hari ini bisa jadi idola, bisa hilang lima tahun lagi. AI bisa menggantikan pekerjaan administratif, desain dasar, bahkan analisis hukum. Maka mengejar relevansi semata-mata ekonomi sepertinya ibarat berlari mengejar bayangan. 

Karena himpitan dan tuntutan ekonomi saat ini, kita seolah lupa bahwa pendidikan bukan hanya soal menyiapkan pekerjaan tapi juga soal menyiapkan manusia menghadapi perubahan yang belum bisa diprediksi.  Jika pendidikan hanya membentuk keterampilan teknis, maka ia sedang melatih manusia untuk bersaing dengan mesin. Dan dalam banyak hal, no debat, mesin akan menang.

Kita alami sendiri bagaimana di era AI ini, konten bisa dihasilkan mesin.  Jawaban bisa diringkas algoritma.  Analisis bisa disintesis otomatis.  Namun pengalaman reflektif seperti kegagalan, dialog, pergulatan etis, semua itu tidak bisa diotomatisasi.  Jika sekolah hanya sibuk menambah konten teknologi tanpa membangun ruang refleksi, ia kehilangan esensinya. Kita akan menghasilkan generasi yang terampil, tetapi miskin kebijaksanaan.  Bahkan, meski terampil, akan kalah pula dengan mesin tak lama kemudian.

Pendidikan sebagai Penyeimbang Zaman

Martin Heidegger mengingatkan bahwa bahaya teknologi bukan pada mesinnya, melainkan pada cara berpikir yang menyertainya. Teknologi cenderung melihat segala sesuatu sebagai sumber daya, termasuk manusia.  Istilah “human capital” terdengar modern, tetapi diam-diam mereduksi manusia menjadi aset ekonomi. Nilai seseorang diukur dari produktivitasnya. Jurusan diukur dari gaji lulusannya. Sekolah diukur dari tingkat serapan kerja. 

Terus terang saja, ketika pendidikan sepenuhnya tunduk pada logika ini, kita tidak lagi membicarakan manusia, tetapi unit produksi. Di sinilah ada argumen pokok yang penting, bahwa, yang tertinggal bukan sekolah, tetapi imajinasi kita tentang manusia. Kita membayangkan manusia sebagai pekerja. Sebagai sumber daya. Sebagai instrumen ekonomi. Padahal manusia juga makhluk etis, politis, dan eksistensial.

Mungkin kita perlu berhenti sejenak dari obsesi “link and match”. Pendidikan memang harus adaptif, atau relevan itu tadi. Tetapi adaptif bukan berarti tunduk sepenuhnya.  Jika pendidikan hanya mengikuti pasar, ia akan selalu terlambat. Namun jika pendidikan berani menjadi ruang refleksi atas pasar itu sendiri, ia justru menjadi penyeimbang zaman.

Sekolah seharusnya bukan sekadar pabrik tenaga kerja, melainkan ruang di mana generasi muda belajar memahami teknologi sekaligus mengkritiknya. Belajar menggunakan AI sekaligus mempertanyakan dampaknya. Belajar menjadi produktif tanpa harus kehilangan nurani.

Mengubah Imajinasi

Mungkin kita perlu berhenti menyalahkan sekolah karena lulusannya kalah bersaing dengan AI.  Karena AI lahir justru dari logika yang sama yang selama ini kita tanam di institusi pendidikan tentang efisiensi, produktivitas, percepatan, optimalisasi.  Lalu ketika semua upaya keras itu mewujud dalam bentuk AI yang benar-benar menjadi mesin optimasi paling efisien dalam sejarah manusia, kita panik. 

Padahal ia bukan musuh yang datang dari luar.  Ia adalah anak kandung dari imajinasi ekonomi yang kita pelihara sendiri. Jika pendidikan terlalu lama menghamba pada industri, maka AI adalah konsekuensi logisnya. Ia adalah puncak dari obsesi terhadap efisiensi. Dan ketika ia mulai menggantikan manusia, itu bukan kecelakaan sejarah. Itu hasil dari sistem yang memang dirancang cermat untuk mengganti manusia dengan mekanisme yang lebih murah dan cepat. 

Dan mungkin, inilah “dosa” yang kini harus kita telan mentah-mentah.  AI tidak sengaja mengancam.  Ia hanya lulusan paling sukses dari sistem pendidikan yang kita banggakan sendiri. Karena toh, kita sendiri yang sejak awal mengerdilkan makna manusia dalam sistem pendidikan. Namun, sebelum kita menemukan jalan keluarnya, mari kita cari jurusan yang “bagus” dulu. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pendidikansekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Anak-anak Muda Ramai-ramai Ramal Nasib di Stand Gotra Pangusada Bali di Bulan Bahasa Bali 2026

Next Post

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Hidup Bagai Galeri Ponsel

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
0
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

Read moreDetails

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Vito Prasetyo | Hidup Bagai Galeri Ponsel

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Hidup Bagai Galeri Ponsel

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co