14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

Putri Harya by Putri Harya
February 22, 2026
in Cerpen
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata sembabnya terpaku menatap lampu gantung yang bergoyang. Canang di pelangkiran juga dalam pandangannya bergetar sesaat sebelum kembali tampak normal.

“Idup! Idup! Idup!”

Teriakan itu meledak hampir serempak: dari pekarangan yang basah oleh embun, dari jalan setapak yang di apit rumput, dan dari balik tembok-tembok penyengker yang ditumbuhi lumut. Luh Murni kemudian sadar bahwa yang dirasakan tadi bukan halusinasi, melainkan gempa.

Luh Murni berlari ke luar rumah dengan hati-hati. Langkahnya membuat kamen yang dikenakan sedikit tersingkap. Dia sempat merapikan kembali kain batik yang membalut bagian tubuh bawahnya itu sebelum ikut berteriak sama hebohnya dengan warga lain. Padahal, gempa telah berakhir beberapa waktu lalu.

“Idup! Idup! Idup!”

Kata-kata itu diwariskan turun-temurun, lebih tua dari ingatan siapa pun di pulau ini. Ia tidak tercatat dalam lontar, tapi dihapal laiknya mantra. Mantra yang tak pernah benar-benar mereka pelajari. Mantra yang konon bisa menenangkan sesosok makhluk di bawah sana.

Dahulu, sebelum bangunan di pulau ini sepadat sekarang, yang ada tidak hanya teriakan. Kulkul juga ikut dibunyikan agar kabar tentangku lebih cepat didengar sang naga, kakakku. Itu yang para orang tua yakini.

Orang-orang menyebutnya Naga Gombang atau Naga Loka. Para tetua desa ini mengisahkan asal-usul kami setiap malam sambil membelai anak mereka di peraduan. Luh Murni juga kelak pasti melakukannya.

Mereka bilang, aku terlahir sebagai anak perempuan yang punya kakak laki-laki. Ibuku seorang janda yang hidup di pinggiran hutan. Bahaya yang selalu mengintai membuat Ibu berpesan agar aku dan Kakak saling menjaga.

Semula semua baik-baik saja. Hingga suatu hari, kata mereka, tanpa sengaja kakakku memakan telur siluman ular yang disimpan di lumbung padi. Tidak ada yang tahu pasti bagaimana telur itu bisa sampai di sana. Ada yang bilang ibuku yang sering naik ke lumbung itu untuk bercinta dengan siluman. Ada juga yang bilang Dewata menitipkannya tanpa diminta. Hal paling jelas yang kupahami adalah telur itu mengubah tubuh kakakku: kulitnya menjadi keras dan berisik, tulangnya memanjang, napasnya berat.

Ibu kami mati di saat yang sama. Penyebabnya tidak mereka ceritakan. Kematian Ibu menyisakan aku dan Kakak yang telah sepenuhnya menjelma naga. Karena takut menggegerkan warga, aku membawa Kakak ke tengah hutan. 

Aku menggendongnya hingga ke Gunung Lesung. Sampai di sana, Kakak menyuruhku meninggalkannya untuk mengambil air dengan keranjang. Aku menurut. Namun saat aku kembali, Kakak telah menghilang. Dia masuk ke perut bumi.  

“Jangan menangis, Adikku! Aku memang telah ditakdirkan bersemayam di sini. Kelak saat kau merasakan bumi bergetar, berteriaklah! Katakan bahwa kau masih hidup. Dengan begitu aku akan tenang.” Suara Kakak menggema dari dalam kawah gunung.

Cerita berhenti sampai di situ lalu diwariskan mirip tetabuhan sumbang: tidak selaras, tapi tidak ada yang mempermasalahkan.

Tidakkah kalian merasa ada yang salah? Bukan, kesalahan bukan terletak pada wujud akhir kakakku. Para tetua tidak sepenuhnya keliru. Baik zona subduksi lempeng maupun patahan belakang busur kepulauan yang mengapit pulau ini, memang berbentuk memanjang seperti naga. Tanah di sini tidak pernah benar-benar diam sama seperti isi kepala Luh Murni dan perempuan-perempuan lain di pulau ini. Lempeng-lempeng di bawah sana gelisah, menunggu takdirnya. Punggungnya retak-retak seperti sisik, seakan berat menahan tanggungan adat. 

Hanya saja, cerita ini terasa tidak adil bagiku. Kakakku diberi pelinggih untuk memujanya. Namanya disebut. Wujudnya dilukiskan tertidur tenang di perut bumi, dijadikan alasan mengapa tanah bergoyang sewaktu-waktu. Perintahnya diingat  sampai detik ini. Orang-orang berlomba-lomba mengabarkan kalau aku masih hidup. Namun, kisahku terhenti.

Tidak ada yang mempertanyakan keberadaanku. Tidak ada yang bertanya bagaimana aku keluar dari hutan. Tak satu pun dari mereka berusaha mencari tahu atau menjelaskan. Kalian pun sama. Apa karena aku diwujudkan perempuan sehingga di tanah ini aku tak diistimewakan seperti anak lelaki? Tetap saja, beri aku kesempatan untuk menceritakan diriku.

Sejatinya, aku memang tidak pernah terlihat. Wajahku tidak bisa digambarkan secara pasti. Orang-orang membayangkan wujudku bermacam-macam. Luh Murni misalnya, dia membayangkanku seperti cahaya kecil yang bertahan di ujung gelap. Ada orang yang mengira aku perempuan muda dengan rambut panjang. Ada juga yang menganggapku sampah tak berguna.

Jangan berpikir aku punya sihir. Itu terjadi akibat pikiran orang-orang yang sering menggantungkan kata-kata padaku. Mereka akan tersenyum saat yang didapat terasa sesuai. Jika yang terjadi sebaliknya, mereka merengut. 

Aku tidak disimpan di perut bumi seperti kakakku, tidak juga mendapat tempat di pura. Aku berada di sela-sela dua hal: di antara jatuh dan bangkit, di antara gemetar dan diam, di antara tangis dan tawa.

Aku tidak dijadikan nama patahan atau lempeng, Tidak juga mendapat nama keren seperti kakakku. Namun, orang-orang mengenalku sebagai alasan, sesuatu yang mereka pastikan tetap ada.

Dalam kehidupan sehari-hari, keberadaanku muncul samar. Saat petani memandang sawah yang padinya mulai menguning misalnya, tak satu dari mereka menyebut namaku. Tapi aku ada di udara yang mereka hirup. Aku juga ada di tengah kelahiran bayi yang tangisnya pecah. Sampai detik ini pun, orang-orang masih merawatku: saat tubuh mereka melemah terlalu cepat atau saat dinding rumahnya retak atau saat laut terasa lebih dekat dari biasanya.

Semua ini kuutarakan bukan karena ingin menuntut. Sama seperti Luh Murni, aku hanya sedang melanjutkan kisah yang masih tersisa. Aku hanya ingin kalian menyadari keberadaanku. Ketahuilah, aku dan kakakku diciptakan saling melengkapi. Setiap kakak bertingkah, aku akan hadir. Saat gempa misalnya, aku berada dalam kata idup idup yang kalian teriakan. Kata itu bukan semata untuk menenangkan yang di bawah, melainkan memastikan aku tidak pergi. Seperti halnya yang dilakukan Luh Murni. Sejatinya, dia masih berada dalam bayang-bayang duka karena kematian sang suami. Namun kini, dia sedang tersenyum sambil mengelus perut. Dia tidak sedang menyapa si penghuni rahim, tapi merayuku. [T]

Penulis: Putri Harya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi- Puisi Ida Ayu Made Dwi Antari | Resonansi Jiwa

Next Post

Dokter dan Aktifitas Menulis

Putri Harya

Putri Harya

Ibu rumah tangga yang suka menulis sejak SMP. Lahir dan tinggal di Buleleng. Tulisannya tersiar di beberapa buku antologi, aplikasi baca online, dan media sosial dengan nama akun Putri Pena.

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

Dokter dan Aktifitas Menulis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co