3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

Putri Harya by Putri Harya
February 22, 2026
in Cerpen
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata sembabnya terpaku menatap lampu gantung yang bergoyang. Canang di pelangkiran juga dalam pandangannya bergetar sesaat sebelum kembali tampak normal.

“Idup! Idup! Idup!”

Teriakan itu meledak hampir serempak: dari pekarangan yang basah oleh embun, dari jalan setapak yang di apit rumput, dan dari balik tembok-tembok penyengker yang ditumbuhi lumut. Luh Murni kemudian sadar bahwa yang dirasakan tadi bukan halusinasi, melainkan gempa.

Luh Murni berlari ke luar rumah dengan hati-hati. Langkahnya membuat kamen yang dikenakan sedikit tersingkap. Dia sempat merapikan kembali kain batik yang membalut bagian tubuh bawahnya itu sebelum ikut berteriak sama hebohnya dengan warga lain. Padahal, gempa telah berakhir beberapa waktu lalu.

“Idup! Idup! Idup!”

Kata-kata itu diwariskan turun-temurun, lebih tua dari ingatan siapa pun di pulau ini. Ia tidak tercatat dalam lontar, tapi dihapal laiknya mantra. Mantra yang tak pernah benar-benar mereka pelajari. Mantra yang konon bisa menenangkan sesosok makhluk di bawah sana.

Dahulu, sebelum bangunan di pulau ini sepadat sekarang, yang ada tidak hanya teriakan. Kulkul juga ikut dibunyikan agar kabar tentangku lebih cepat didengar sang naga, kakakku. Itu yang para orang tua yakini.

Orang-orang menyebutnya Naga Gombang atau Naga Loka. Para tetua desa ini mengisahkan asal-usul kami setiap malam sambil membelai anak mereka di peraduan. Luh Murni juga kelak pasti melakukannya.

Mereka bilang, aku terlahir sebagai anak perempuan yang punya kakak laki-laki. Ibuku seorang janda yang hidup di pinggiran hutan. Bahaya yang selalu mengintai membuat Ibu berpesan agar aku dan Kakak saling menjaga.

Semula semua baik-baik saja. Hingga suatu hari, kata mereka, tanpa sengaja kakakku memakan telur siluman ular yang disimpan di lumbung padi. Tidak ada yang tahu pasti bagaimana telur itu bisa sampai di sana. Ada yang bilang ibuku yang sering naik ke lumbung itu untuk bercinta dengan siluman. Ada juga yang bilang Dewata menitipkannya tanpa diminta. Hal paling jelas yang kupahami adalah telur itu mengubah tubuh kakakku: kulitnya menjadi keras dan berisik, tulangnya memanjang, napasnya berat.

Ibu kami mati di saat yang sama. Penyebabnya tidak mereka ceritakan. Kematian Ibu menyisakan aku dan Kakak yang telah sepenuhnya menjelma naga. Karena takut menggegerkan warga, aku membawa Kakak ke tengah hutan. 

Aku menggendongnya hingga ke Gunung Lesung. Sampai di sana, Kakak menyuruhku meninggalkannya untuk mengambil air dengan keranjang. Aku menurut. Namun saat aku kembali, Kakak telah menghilang. Dia masuk ke perut bumi.  

“Jangan menangis, Adikku! Aku memang telah ditakdirkan bersemayam di sini. Kelak saat kau merasakan bumi bergetar, berteriaklah! Katakan bahwa kau masih hidup. Dengan begitu aku akan tenang.” Suara Kakak menggema dari dalam kawah gunung.

Cerita berhenti sampai di situ lalu diwariskan mirip tetabuhan sumbang: tidak selaras, tapi tidak ada yang mempermasalahkan.

Tidakkah kalian merasa ada yang salah? Bukan, kesalahan bukan terletak pada wujud akhir kakakku. Para tetua tidak sepenuhnya keliru. Baik zona subduksi lempeng maupun patahan belakang busur kepulauan yang mengapit pulau ini, memang berbentuk memanjang seperti naga. Tanah di sini tidak pernah benar-benar diam sama seperti isi kepala Luh Murni dan perempuan-perempuan lain di pulau ini. Lempeng-lempeng di bawah sana gelisah, menunggu takdirnya. Punggungnya retak-retak seperti sisik, seakan berat menahan tanggungan adat. 

Hanya saja, cerita ini terasa tidak adil bagiku. Kakakku diberi pelinggih untuk memujanya. Namanya disebut. Wujudnya dilukiskan tertidur tenang di perut bumi, dijadikan alasan mengapa tanah bergoyang sewaktu-waktu. Perintahnya diingat  sampai detik ini. Orang-orang berlomba-lomba mengabarkan kalau aku masih hidup. Namun, kisahku terhenti.

Tidak ada yang mempertanyakan keberadaanku. Tidak ada yang bertanya bagaimana aku keluar dari hutan. Tak satu pun dari mereka berusaha mencari tahu atau menjelaskan. Kalian pun sama. Apa karena aku diwujudkan perempuan sehingga di tanah ini aku tak diistimewakan seperti anak lelaki? Tetap saja, beri aku kesempatan untuk menceritakan diriku.

Sejatinya, aku memang tidak pernah terlihat. Wajahku tidak bisa digambarkan secara pasti. Orang-orang membayangkan wujudku bermacam-macam. Luh Murni misalnya, dia membayangkanku seperti cahaya kecil yang bertahan di ujung gelap. Ada orang yang mengira aku perempuan muda dengan rambut panjang. Ada juga yang menganggapku sampah tak berguna.

Jangan berpikir aku punya sihir. Itu terjadi akibat pikiran orang-orang yang sering menggantungkan kata-kata padaku. Mereka akan tersenyum saat yang didapat terasa sesuai. Jika yang terjadi sebaliknya, mereka merengut. 

Aku tidak disimpan di perut bumi seperti kakakku, tidak juga mendapat tempat di pura. Aku berada di sela-sela dua hal: di antara jatuh dan bangkit, di antara gemetar dan diam, di antara tangis dan tawa.

Aku tidak dijadikan nama patahan atau lempeng, Tidak juga mendapat nama keren seperti kakakku. Namun, orang-orang mengenalku sebagai alasan, sesuatu yang mereka pastikan tetap ada.

Dalam kehidupan sehari-hari, keberadaanku muncul samar. Saat petani memandang sawah yang padinya mulai menguning misalnya, tak satu dari mereka menyebut namaku. Tapi aku ada di udara yang mereka hirup. Aku juga ada di tengah kelahiran bayi yang tangisnya pecah. Sampai detik ini pun, orang-orang masih merawatku: saat tubuh mereka melemah terlalu cepat atau saat dinding rumahnya retak atau saat laut terasa lebih dekat dari biasanya.

Semua ini kuutarakan bukan karena ingin menuntut. Sama seperti Luh Murni, aku hanya sedang melanjutkan kisah yang masih tersisa. Aku hanya ingin kalian menyadari keberadaanku. Ketahuilah, aku dan kakakku diciptakan saling melengkapi. Setiap kakak bertingkah, aku akan hadir. Saat gempa misalnya, aku berada dalam kata idup idup yang kalian teriakan. Kata itu bukan semata untuk menenangkan yang di bawah, melainkan memastikan aku tidak pergi. Seperti halnya yang dilakukan Luh Murni. Sejatinya, dia masih berada dalam bayang-bayang duka karena kematian sang suami. Namun kini, dia sedang tersenyum sambil mengelus perut. Dia tidak sedang menyapa si penghuni rahim, tapi merayuku. [T]

Penulis: Putri Harya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi- Puisi Ida Ayu Made Dwi Antari | Resonansi Jiwa

Next Post

Dokter dan Aktifitas Menulis

Putri Harya

Putri Harya

Ibu rumah tangga yang suka menulis sejak SMP. Lahir dan tinggal di Buleleng. Tulisannya tersiar di beberapa buku antologi, aplikasi baca online, dan media sosial dengan nama akun Putri Pena.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

Dokter dan Aktifitas Menulis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co