7 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

Angga Wijaya by Angga Wijaya
February 28, 2026
in Cerpen
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

Ilustrasi tatkala.co | Canva

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri dan dua anak yang makin besar. Untuk bekerja, dia lebih sering berada di toko modern. Membeli kopi kemasan, dengan laptop keluaran lama, ia mengetik berita-berita hasil liputan.

Di kamar kos, itu semua mustahil ia lakukan. Konsentrasinya terganggu. Istri menonton televisi, anak-anak bermain sendiri, ditingkahi suara tertawa juga menangis (ah, bukankah itu sama dengan hidup, kadang tertawa, kadang menangis?). Ia merenung seperti biasa.

Wartawan itu merindukan rumah. Di kampung halamannya, rumah bukan lagi rumah. Apalagi setelah bapak dan ibunya berpulang, keadaan tak seperti dulu lagi. Amanat untuk saling menyayangi sesama saudara menguap bersama waktu.

Rumah, rumah, sering ia hanya pulang dalam mimpi-mimpi malam atau dini hari.

Kesempatan itu datang tanpa ia duga. Sebuah penerbitan di Yogyakarta menawarinya menjadi penulis buku lepas. Ia membaca surel itu berulang kali, memastikan dirinya tak salah paham. Selama ini ia hanya menulis berita dan sesekali esai. Buku, baginya, adalah impian yang ia simpan diam-diam sejak muda.

Ia menerima tawaran itu dengan hati berdebar. Malam-malamnya berubah. Jika dulu ia menulis berita dengan tenggat harian, kini ia harus menyusun bab demi bab dengan napas panjang. Ia belajar disiplin baru, bangun lebih pagi sebelum anak-anak terjaga, menulis saat rumah masih setengah sunyi.

Dua tahun berjalan, telah banyak buku yang ia tulis. Naskah-naskah itu membuat namanya mulai dikenal di kalangan tertentu. Honor yang awalnya kecil perlahan lebih stabil. Ia dan istrinya mulai berani berbicara tentang sesuatu yang dulu terasa mustahil: membeli rumah sendiri.

Mereka mengajukan KPR, mencicil rumah di pinggiran kota yang tidak terlalu sesak oleh penduduk. Rumah sederhana dengan halaman kecil dan dua kamar tidur. Saat menandatangani berkas di bank, tangannya sedikit gemetar. Ia sadar, ini bukan sekadar membeli bangunan, melainkan menandatangani tanggung jawab panjang.

Apalagi istrinya juga mendapat pekerjaan sebagai pengajar bahasa Inggris di sebuah bimbingan belajar tak jauh dari lokasi rumah baru. “Setidaknya aku bisa ikut membantu,” kata istrinya. Wartawan itu tersenyum. Selama ini ia merasa memikul beban sendirian, padahal istrinya selalu berdiri di sampingnya.

Hari pindah itu datang dengan langit cerah. Wartawan itu merasa haru ketika mesti meninggalkan rumah kos. Banyak sekali kenangan di sana. Tangisan bayi di tengah malam. Obrolan lirih tentang uang yang menipis. Pertengkaran kecil yang berakhir dengan pelukan canggung.

Namun ia tak mau berlama-lama larut dalam emosi. Anak-anaknya sudah semakin besar. Kamar kos tak cukup lagi menampung empat orang yang masing-masing menyimpan mimpi. Ia pamit pada tetangga kos, pada ibu penjual nasi di ujung gang, pada lorong sempit yang selama ini menjadi saksi.

Di rumah barunya, ia menyiapkan ruang tamu sebagai tempat kerja dan perpustakaan kecil. Buku-buku yang sejak muda ia kumpulkan kini tak lagi tersimpan dalam kardus. Ia susun rapi di rak kayu sederhana. Meja kerja diletakkan di dekat jendela yang menghadap halaman.

Istrinya tampak senang. Anak-anak berlari-lari di halaman yang tak begitu luas, tetapi bagi mereka terasa lapang. Sore itu, tawa mereka memantul di dinding yang masih berbau cat baru. Wartawan itu berdiri di ambang pintu, menatap pemandangan kecil itu dengan dada hangat.

Malam pertama di rumah baru, ia duduk sendirian di ruang kerjanya. Ia teringat masa-masa ketika harus menulis di toko modern, membeli kopi agar bisa duduk lama. Kini ia memiliki ruang sendiri. Bukan ruang besar, tetapi cukup untuk menaruh mimpi.

Namun kebahagiaan tak pernah sepenuhnya tanpa cemas. Cicilan KPR menunggu setiap bulan. Menjadi penulis lepas berarti hidup berdampingan dengan ketidakpastian. Kadang naskah diterima cepat, kadang revisi datang bertubi-tubi. Kadang honor cair tepat waktu, kadang tertunda.

Ia belajar mengatur diri. Setiap pagi setelah mengantar anak sekolah, ia masuk ke ruang kerja. Menulis seribu kata sehari, tak peduli sedang ingin atau tidak. Ia tahu, rumah ini dibangun dari kalimat-kalimat yang ia ketik dengan tekun.

Sesekali ia rindu menjadi wartawan lapangan. Hiruk-pikuk konferensi pers. Tawa rekan-rekan di warung kopi. Tetapi ia tak menyesal. Menulis buku memberinya ruang lebih dalam untuk menyelami gagasan. Ia tetap wartawan dalam jiwa; mencatat, mengamati, dan bertanya. Hanya medan kerjanya yang berubah.

Suatu sore hujan turun pelan. Ia dan istrinya duduk di teras, memandangi anak-anak menggambar di ruang tamu. “Kita benar-benar punya rumah,” bisik istrinya.

Ia mengangguk. Kata-kata terasa kecil untuk menggambarkan perjalanan panjang mereka. Dari kamar kos sempit, dari kopi kemasan di toko modern, dari rasa gundah yang sering ia sembunyikan.

Anak sulungnya pernah bertanya, “Ayah, kenapa Ayah suka menulis?”

Ia menjawab pelan, “Karena dengan menulis, Ayah bisa membangun rumah.”

“Rumah ini?”

“Bukan hanya ini. Rumah di dalam hati.”

Waktu berjalan. Pohon jambu kecil di halaman mulai berbuah. Anak-anak memetiknya dengan wajah riang. Istrinya semakin sibuk dengan murid-murid lesnya. Buku-buku baru terbit dengan namanya di sampul. Ia tak menjadi kaya, tetapi cukup untuk membayar cicilan dan menabung sedikit demi sedikit.

Suatu malam listrik padam. Mereka duduk melingkar diterangi lilin. Tawa anak-anak memecah gelap. Wartawan itu menyadari sesuatu yang dulu tak ia miliki: ketenangan.

Ia tak lagi hanya merindukan rumah dalam mimpi-mimpi malam atau dini hari. Ia telah membangunnya. Bukan rumah mewah, bukan rumah besar, tetapi rumah yang lahir dari kesabaran dan keberanian.

Kini setiap kali ia menghela napas dalam-dalam, bukan lagi karena gundah. Melainkan karena syukur. [T]

Denpasar,  14 Februari 2026

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Aura Syfa Muliasari  |  Mampir di Nakarempe

Next Post

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud
Pameran

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co