24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pembahasan Buku “Representasi Ideologi Dalam Sastra Lekra” Karya I Wayan Artika

Prof. Dr. I Made Pageh, M.Hum. by Prof. Dr. I Made Pageh, M.Hum.
January 30, 2025
in Ulas Buku
Pembahasan Buku “Representasi Ideologi Dalam Sastra Lekra” Karya I Wayan Artika

Buku “Representasi Ideologi Dalam Sastra Lekra” Karya I Wayan Artika

Identitas Buku

  1. Judul Buku “Representasi Ideologi dalam Sastra Lekra”, adalah sebuah karya akademik dikerjakan untuk meraih gelar Doktor di Sastra Universitas Udayana, tahun 2014.
  2. Diterbitkan oleh Penerbit Larasan, Denpasar, 2024, 210 halaman sampai biodata penulis. dengan ISBN 978-602-1586-40-2. Terbagi menjadi 6 bab dari pendahuluan sampai penutup.
  3. Pengantar diberikan oleh Putu Oka Sukanta (Sastrawan) (Jakarta, 9 September 2023)
  4. Ditulis oleh I Waan Artika. Biodata: Pengarang lahir di Desa Batungsel, Pupuan Tabanan sebuah desa Bali Aga yang sangat kental dengan tradisi Bali Kuno. Perhatiannya terhadap tradisi dan budaya desanya sangat baik, walau saat menulis Cerpen INCEST pernah mengantarkannya kesepekan selama lima tahun, membuktikan kegigihannya membela rakyat terdominasi dan terpinggirkan. Bukan hanya bentuk tulisan tetapi juga aksi nyata dengan mendirikan Komunitas Desa Belajar Bali, dengan Fokus Gerakan Literasi Akar Rumput (di Desa Batungsel, desa kelahirannya). Ia sangat kreatif, dan berpihak pada rakyat terpinggirkan, apakah ada pengaruh Sastra Lekra yang dikaji di S-3, atau ada pengaruh daerah kelahirannya. Upaya mengerakkan desanya dilakukan dengan gerakan literasi akar rumput, mendapat apresiasi luar biasa baik dari pemerintah maupun masyarakat desanya.

Konsep yang Digunakan

Karya ini menggunakan pendekatan sastra disebut new historiscism yaitu kajian sejarah sastra pembacaannya diparalelkan dengan karya sejarah (karya politik) pada zamannya. Karena mengkaji ideologi representasi ideologi dalam sastra Lekra, tentu juga menggunakan konsep kajian sastra lainnya, seperti konsep ideologi, teori struktural, konsep representasi dan sebagainya. Dikalsifikasikan menggunakan konsep filsafat diuraikan oleh Wayan Artika, dapat dianalisis:

  1. Aspek Ontologi, (1) menggunakan new historiscism theory  dalam sastra yaitu pembentukan manka menggunakan karya sejarah dan teks dan interteks sejarah di dalamnya; (2) Sosiologi Sastra Marxis; (3) interteks (sejarah vs sastra).
  2. Efistimologinya: (1) kajian paralel berdampingan, (2) interpretasi, reflektif, dan fungsional; (3) relasi karya dan mengkaji fungsi karya bagi ideologional.
  3. Aksiologi: (1) memahami karya sastra dalam kerangka sejarah melalui teks sejaman. (2) memahami karya sastra dengan mempertimbangkan kekuatan sosial, politik, ideologi dan fungsinya bagi ideologi dan politik. (3) memahami teks berhubungan dengan teks lainnya.

Hasil Pembahasan

Karya I Wayan Artika ini dapat dikatakan dapat menjadi pelita dalam kegelapan dalam memahami sastra dan sejarah sastra dalam kurun 1950-1965, dengan kuatnya dominasi ideologi Orde Baru yang mengatasnamakan Pancasila dan Undang-Undang 1945, dengan memanfaatkan jargon developmentalism. Orde Baru menjadikan PKI dan ideologi Marxisme sebagai hantu di masyarakat. Tujuannya untuk menjaga rust and order  rezimnya, sehingga dapat berkuasa selama 32 tahun. 

Setelah mengemban SP 11 Maret, Letjen Soeharto membubarkan PKI, dan ormas-ormasnya, termasuk sastra Lekra. Hari-hari selanjutnya pemerintah selalu mengontrol dan mendeskreditkan lawannya dengan memberikan cap PKI, atau antek-antek komunis.

Lekra adalah Front Kebudayaan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang didirikan  pada tanggal 17 Agustus 1950 di Jakarta. Partai Komunis menjadikan Lekra ini dijadikan alat pengideologian dan propaganda agar masyarakat menjadi sosialis seperti Uni Soviet. Hal ini masih ada pro-kontra. Tetapi menyimak 7 konsepsi Lekra yang didirikan oleh DN. Aidit, MS. Ashar, AS. Dharta, dan Njoto dapat dipahami bahwa Lekra adalah sastra yang menjadi agen komunis atau sosialis yang berorientasi ke komintern Moskow Rusia. Tujuan kerjanya mendirikan Republik Demokrasi Rakyat (komintern, masyarakat tanpa kelas), dengan cara revolusi sosial, menyebut dirinya golongan progresif. Dengan demikian rakyat dikonstruksi menjadi Marxisme menuju sosialisme tanpa kelas. Menuduh saingannya memelihara setan desa atau setan kota, yang menjadi penghalang demokrasi rakyat, sehingga menjadi musuh masyarakat sosialis, sehingga harus diganyang.  Media Massa Harian Rakyat yang memberikan peluang Sastra Lekra untuk bertumbuh dan berpengaruh pada zamannya (cf. HB. Jassin).

Setelah Orde Baru runtuh, sastra Lekra hidup kembali dalam kajian ilmiah, Lekra hidup antara tahun 1950-1965 (15 tahun).  Muncul karya antologi sastra, karya Yuliantri dan Dahlan (eds.) berjudul “Gugur Merah, Sehimpunan Puisi Lekra Harian Rakyat, 1950-1965”. Selanjutnya disebut “Gugur Merah dan Laporan Dari Bawah, Sehimpunan Cerita Pendek Lekra Harian Rakyat, 1950-1965 (Yuliantri dan Dahlan (eds.: 2008c). Ini yang menjadi bahan kajian Disertasi Wayan Artika (2024) di dalam Studi di Sastra Udayana.

Representasi Marxisme dalam Lekra

Kajian ini menyimpulkan bahwa representasi Marxisme dalam Sastra “Gugur Merah dan Laporan dari Bawah”, mengambarkan secara gamblang hubungan sastra dan ideologi di dalam puisi dan cerpen sangat kental, sehingga saya katakan sastra sebagai alat pengideologian pada masyarakat luas.

“Gugur Merah dan Laporan dari Bawah” pada sastra Lekra (Puisi dan Cerpennya) mengusung tema utama:

  1. Penderitaan massa rakyat pekerja buruh dan buruh tani.
  2. Kesadaran kolektif dan perjuangan kelas sebagai struktur dasar pada masyarakat
  3. Sosialisme, masyarakat tanpa kelas.

Pusi-puisi sastra Lekra Marxisme diwujudkan melalui diksi-diksi populer, seperti ideologis, politis, revolusioner. Di luar diksi tersebut mengusung tema penindasan, penderitaan, kemiskinan, ketimpangan sosial, setan desa, tuan tanah rakyat yang terisap sedang berjuang menuju masyarakat sosialis. Kata-kata yang dipilih untuk perlawanan rakyat terhisap adalah kata ganyang, habisi setan desa, dan kota, hancurkan ijon, tengkulak, tuan tanah, revolusi belum selesai dan sebagainya. Kontruksi puisi didasari oleh ideologi Marxsisme dengan dialektika-materialistis, dialetika historis, dengan ontologi sosialis realis (kenyataan patologi sosial di masyarakat) direduksi untuk mengembangkan struktur masyarakat di luar struktur dasar masyarakat yang dikonstruksinya. 

Representasi Marxis dalam cerpen dikonstrksi melalui tokoh cerpen rakyat pekerja (buruh, buruh tani, nelayan, rakyat mikin dan sebagainya). Dengan ideologi marxisme dan komunis masyarakat dicuci otknya agar sadar akan kelasnya, lawnnya, dan cara melawannya yaitu dengan gerakan revolusioner. Tujuan revolusi untuk menguasai fakrot produksi, kemudian digunakan untuk mengembangkan masyarakat sosialis.

Antara Sastra Lekra dengan Soekarno ada kesejalanan dalam perjuangan mengisi kemerdekaan, yaitu berjuang melawan imprilaisme, kolonialisme, feodalisme, dalam menuju masyarakat adil dan makmur. DN. Aidit dengan Lekra berjuang melalui santra seperti: puisi, cerpen, nyanyian rakyat, dan membuat simbol-simbol struktural. Sedangkan Soekarno melalui dengan pidato dan tulisannya berjuang untuk mewujudkan cita-cita revolusi Indonesia. Wayan Artika menyebutkan ada hubungan timbal balik antara pidato Soekarno dengan tulisan D.N. Aidit (kajian antarteks), dalam hal spirit, amanat, pesan, dan ideologi.

Dalam kontek ini saya tidak melihat apa yang disampaikan Wayan Artika benar adanya, secara kritis “kekuasaan sebagai dasar berpikir”, Soekarno selalu berusaha merangkul semua komponen (persatuan Indonesia), demi mewujudkan nasionalisme Indonesia, terutama komponen kekuatan bangsa dalam mempertahankan kemerdekaan, ketika itu (Ideologi Pancasila yang digagas); di sisi lain, D.N Aidit, dkk., memanfaatkan pidato-pidato Soekarno yang sesungguhnya berorientasi pada Front Marhaenis, Pancasilais, dan mencari hybridasi dari pertentangan yang ada di masyarakat; tetapi di sisi lain  PKI (D.N.Aidit) pandangan Soekarno itu dijadikan terminar untuk menuju sosialisme, dan pidato Soekarno dijadikan alat legitimasi konsep-konsep dan diksinya, dalam mengkonstruk ideologi perjuangan rakyat bawah yang diisi ideologi komunisme, sosialisme, dengan oriantasi Komintern (Komunis Internasional) Uni Soviet. Jadi spiritnya berbeda, ideologinya berbeda, amanat, dan pesannyapun berbeda. Secara tektual, sepertinya sastra menyamakannya, tetapi sejarah intelektual (kajian mental dan ideologi), sangat berbeda maknanya (verstehen).

Tujuan dan cita-citanya berbeda, sehingga aksi dan reaksinya pun berbeda, leh karena itu, karena tujuannya Komintern, sangat berbeda dengan tujuan nasionalisme yang realitas sosialnya sangat berbhinekha (Bhineka Tunggal Ikha), dalam konsisi rial bangsa Indonesia, agama bervariasi, pulau, ekonomi, politik, sosial, budaya sangat beragam. Menjadikan masyarakat sosialis, kecuali dengan revolusi berdarah, bahkan ada pemusnahan etnik tidak mungkin bagi bangsa Indonesia. Karena bukan hanya melihat indikator kemerataan ekonomi (menguasai faktor produksi) dapat disebut masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Sastra berupa puisi, cerpen, nyanyian rakyat, dan bentuk sastra lainnya seperti Derama, Nyanyian, karya ilmiah, dan produk budaya lainnya sangat berguna untuk memahami (verstehen) dalam penulisan sejarah. Namun sejarah bukanlah sastra, sejarah bukan teori, sejarah bukan filsafat, dan sejarah bukan hanya juga ideologi dengan demikian produk sastra seperti sastra Lekra (Puisi atau Cerpen) sangat berguna untuk menuliskan sejarah budaya, karena untuk memahami hakikat manusia berbudaya dapat dikaji melalui karya sastranya.

Representasi Marxisme dalam Sastra  Lekra, sesunguhnya dapat digunakan untuk memberikan pemahaman sangat baik, karena banyak berupa karya sosialis realis (ada adanya di masyarakat), terutama dalam memahami struktur dasar masyarakatnya. Kaitkan dengan Komintern, sosialisme, dan dialektik materialnya. Sedangkan dialektik materailis historis, berbentuk filsafat dialektika, tidak semuanya dapat dijadikan pemahaman masyarakat seutuhnya. Karena sujatinya pilihan diksi dan patologi sosial di masyarakat, dengan tujuan perjuangan menuju masyarakat sosialis, menjadi bagian dari Komintern.

Sebagai seorang pengemban pengembangan nasionalisme di Indonesia, sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945, Pasal-pasal dan Penjelasannya, maka Ideologi Komunis, termasuk sastra Lekra, sebaiknya dijadikan bagian dari pemahaman sejarah sastra yang anti nasionalisme. Dan menjadi dialektika Nasionalisme vs Internasionalisme. Dan jika komintern diberikan berkembang dan cita-citanya terwujud, maka NKRI, Nasionalisme, dan sejarah perjuagan bangsa Indonesia untuk mewujudkan apa yang terkandung dalam pembukaan menjadi “mati secara teori”. Sebuah ideologi karena berupa a set of velue mengatur seluruh tindakan manusia untuk mewujudkannya secara bersama-sama maka Ideologi Komunis, termasuk lembaga/ Lekra yang mengideologikan Marxisme menjadi lawan nasionalisme.

Dalam sebuah ideologi karena mengatur seluruh aspek kehidupan, sosial, ekonomi, politik, moral dan ketatnegaraan, maka jika ada ideologi yang walalupun memiliki beberapa aspek kesamaan dalam fakta sosialnya, tetapi tujuan akhirnya berbeda, sehingga selalu akan menjadi rival saling mematikan, dengan demikian sangat merugikan bagi ideologi nasionalisme berdasarkan Pancasila yang menjadi dasar pengembangan karakter dan kepribadian warga negaranya. Kita harus dapat membedakan ideologi marxisme dengan cara berpikir dealekti (tesa-antitesa-sintesa) memang sangat dibutuhkan dalam mengembangkan masyarakat berkesadaran kritis, terkasuk cara berpkir dealitika ini digunakan dalam kegiatan ilmiah.

Epilog : Komentar

Peristiwa Gerakan 30 September 1965 itu sampai saat ini masih menyisakan berbagai perbedaan tapsir, dengan adanya berbagai bukti dan rekayasa yang dapat mengaburkan peristiwa sejarah, sehingga tkasirnya menjadi beragam. Wacana sejarah memang sebuah konstruksi dengan menggunakan fakta yang dibangun menggunakan bukti yang ada. Tetapi penulisan sejarah perjuangan bangsa Indonesia adalah memiliki subjektivitas dengan tujuan untuk menguatkan nasionalisme Indonesia. Jika sebuah cerita melunturkan nasionalisme, walau dapat dibuktikan dengan sumber setara, kalau hal itu idak fungsional untuk menguatkan rasa nasionalisme Indonesia, sekarang maupun di masa depan, tidak dijadikan alternatif utama dalam arus cerita sejarah itu. Oleh karena subjektivitas tidak dapat dihindari dalam penulisan sejarah, subjektivitas demi kepentingan nasional sudah disadari oleh masyarakat sejarawan akademik dunia. Dalam konteks sejarah G30S 1965, dihilangkan PKI-nya dengan memandang peristiwa itu adalah peristiwa “persaingan di Angkatan Darat sendiri”, atau keterlibatan CIA dan Inggris, dan sebagainya.

Secara kritis dapat dipahami bahwa intrik di tubuh AD terjadi diakibatkan oleh adanya persaingan personal AD yang berideologi komunis dengan yang nasionalis, dan agamais (Nasakom) yang dilegitimasi oleh Presiden Soekarno yang mengakibatkan munculnya intrik di Angkatan Darat itu. PKI sebagai partai berideologi komunis, ikut menjadi dalang, pendukung, dan bermain dalam silang ideologi itu, terutama antara AD yang berideologi nasionalis (A. Yani, dkk), dengan ideologi komunis (Untung, Dkk.).

Jadi keterlibatan secara masif komunis dalam mengideologikan masyarakat, dapat dipahami dari pendirian Lekra 17 Agustus 1950, yang kemudian menjadi sarana efektif untuk memecah kesatuan masyarakat dengan ideologi dialektikanya, membuat masyarakat terpecah secara struktural, menjadi  (1) struktur dasar revolusioner, yaitu buruh, buruh tani, nelayan dan kelompok rentan (miskin), (2) dipertentangkan dengan golongan feodal, tuang tanah, rentenir dan sebagainya. Untuk itu pilihan melalui budaya dipandang sangat efektif sehingga muncul karya sastra Lekra yang sarat dengan perpecahan struktural masyarakat, dimuat dalam bentuk puisi, cerpen, drama, nyanyian, dan karya ilmiah  (D.N. Aidit, dkk.) yang diendors oleh Koran Harian Rakyat hasil-hasil karya sastra yang berideologi komunis (Marxisme).

Karya sastra Lekra ini kemudian dibuatkan Antologi sastra Lekra, disebut Gerakan Merah dan Laporan dari Bawah yang kemudian dijadikan kajian akademis untuk menempuh S-3 di Sastra Unud oleh Dr. I Wayan Artika. Menjadi buku sangat menarik setelah 32 tahun selama pemerintahan Orde Baru Lekra dibungkam, baik karya sastra maupun sastrawannya.

Saya sendiri memilih penulisan sejarah yang dapat menguatkan nasionalisme, dan justru secara filosopis memang harus melawan ideologi komunis/marxisme yang berusaha mengembangkan ideologi internasionalisme (Komintern) di Indonesia yang secara historis itu adalah rongrongan ideologi nasionalis (yang berkeribadian Pancasilais) dengan penerjemahan pokok-pokoknya ada dalam Pembukaan UUD 1945 sebagai kaidah fundamental bangsa Indonesia, negara proklamasi 17 Agustus 1945. UUD 1945 setelah diamandeman ada beberapa segmen diubah untuk disesuaikan dengan perkembangan masyarakat, dalam beberapa bagiannya dibuat mengikuti perkebangan jaman, asal sejarahnya dapat dijelaskan itu adalah sebuah perubahan dialami, karena perubahan yang kekal di masyarakat.

Demikian maka ada usaha untuk menghidupkan kembali sastra Lekra secara ideologis, perlu diwaspadai agar harmoni sosial tidak terganggu, atau justru akan mengakibatkan munculnya “luka baru di atas luka lama”, dan akan berakibat dalam jangka panjang bagi pertumbuhan ideologi nasionalisme, mengingat perjuangan ideologis tidak pernah berakhir, baik di negara komunis, libralis, pancasilais, islamis, dan ideologi apapun dianut oleh sebuah komunitas di muka bumi ini.

Jika terus masyarakat dipertontonkan dengan perbedaan tajam diakibatkan karena unsur politis (strukturalis), maka akan muncul golongan meilitansi buta, menganggap semua “penyakit masyarakat/patologi sosial itu, diakibatkan oleh ideologi non sosialis”, jika demikian bagaimana halnya pada negara sosialis sampai saat ini, mengapa kemiskinan, kelaparan, kebodohan, dan homeless masih ada, dan masih terjadi. Jika benar ideologi sosialis itu dapat mengentaskan patologi sosial, seharusnya kondisi di negara sosialis menunjukkan diri lebih baik dari negara libralis. Nyatanya banyak negara komonis menjadi “seolah-olah komunis, tetapi prilakunya libralis, atau newlib (libralisme gaya baru, seperti RRC hari ini, dan sebaliknya apa yang terjadi di Coombia muncul diktator partai komunis.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perlu pembuktian dan penjelasan rinci mengenai sosialisme sebagai ideologi:

Pertama, bagaimana tahapan proses yang dilakukan oleh pemerintah yang mengalihkan ideologi dari ideologi pancasila, libalis, agamais ke ideologi sosialis atau marxis. Sehingga ideologi komunis dapat dipandang sebuah otopis, bukan realis menjadi realitas sosial mengantar masyarakat menjadi lebih cepat maju dan menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Kedua bagaimana posisi pemimpin partai (Politbiro) awal revolusi, dalam revolusi, dan akhir revolusi yang dilakukan oleh gerakan revolusioner.

Ketiga, bagaimana ketua Partai Komunis menerjemahkan demokrasi rakyat, agar golongan patologi sosial itu memiliki ruang suara, eksistensi, dan ases keadilan lainnya di masyarakat.

Keempat, bagaimana bentuk kemungkinan bentuk sastra Lekra dapat hidup, seperti zaman Orde Lama di bawah naungan NASAKOM? Sehingga kita paham terhadap perubahan masyarakat dari demokrasi Pancasila yang mengikuti sikontol (Desa-Kala-Patra /Genah,masa, kewentenan), seperti yang berlaku di Indonesia sejak Orla-Orba-sampai era orde Jokowi dan Probowo ini? Menjadi tugas bersama untuk memikirkannya secara akademik.

Politbiro Komunis secara teori hegemoni kelompok ketua partai yang mengatasnamakan rakyat sosialis (demokrasi rakyat), masyarakat tanpa kelas biasanya lebih kejam dari individu (presiden) yang mengatasnamakan rakyatnya. Karena masih ada personal yang bertanggung jawab, berbeda dengan kelompok pimpinan partai yang melemparkan tanggungjawab pada melembaga partai dan negara sosialis.

Jadi saya simpulkan di negara nasionalis seperti Indonesia, revolusioner mengatasnamakan struktur dasar (buruh, buruh tani, nelayan, miskin, bodoh, dll) sebagai dasar bergerak dalam revolusi sangat rentan dengan kekerasan berdarah. Apapu alasannya jika permasalahan harus diselesaikan dengan memaksa kelompok lain, itu adalah ademokratis, anasionalis, ahumanitis, dan dapat disebut sangat biadab kalau dilihat dari nilai-nilai Pancasila. Bahkan Pancasila merupakan jalan tengah terbaik dalam mengatasi konflik yang ada pada masyarakat sejak ditetapkan hingga waktu yang akan datang.

Masalah Partai Komunis Indonesia mereduksi patologi sosial dalam perjuangannya secara kritis itu sangat mulia, karena belum pernah berkuasa dapat dikatakan tidak memiliki nilai sejarah untuk membuktikan ideologi komunis itu berlaku di Indonesia.  Perjuangan untuk membela dan empati dan empowering terhadap kelompok terpinggirkan mutlak harus dilakukan, tetapi bukan hanya dan harus dengan jalan revolusioner , karena itu tidak demokratis dan tidak beradab. Butuh penjelasan dan uraian panjang untuk menjelaskan proses dan tahapan setelah komonis berkuasa dalam menuju masyarakat sosialis atau menuju masyarakat tanpa kelas sebagaimana yang dipropagandakan. [T]

Penulis: Prof. Dr. I Made Pageh
Editor: Adnyana Ole

Spirit Membenci Ketertindasan | Dari Diskusi Buku “Representasi Ideologi Sastra Lekra” Karya I Wayan Artika
Soesilo Toer, 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer, dan Cerita Tak Biasa  di UWRF 2024
Haru Menguar dengan Tetes atau Tanpa Tetes Air Mata : Dari Pemutaran Film Eksil di UWRF 2024
Merintis Penulisan “Sejarah Total” di Bali
Petani dalam Tatapan Sastrawan Kita: Dulu dan Kini
Tags: KomunislekraPKIresensi bukusastrasastra lekra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menyatunya Dingin Kintamani, Cipakan Lampu, Kopi dan Jaja Bantal…

Next Post

Liong dan Barongsai, Hidup dan Kuat Setelah Sempat “Dimatikan” | Cerita Tercecer Imlek di Singaraja-Bali

Prof. Dr. I Made Pageh, M.Hum.

Prof. Dr. I Made Pageh, M.Hum.

Dosen Sejarah di Undiksha Singaraja

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
Liong dan Barongsai, Hidup dan Kuat Setelah Sempat “Dimatikan”   |   Cerita Tercecer  Imlek di Singaraja-Bali

Liong dan Barongsai, Hidup dan Kuat Setelah Sempat “Dimatikan” | Cerita Tercecer Imlek di Singaraja-Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co