3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Petani dalam Tatapan Sastrawan Kita: Dulu dan Kini

I Made Sujaya by I Made Sujaya
August 23, 2024
in Esai

I Made Sujaya | desain tatkala.co

DALAM sebuah esainya bertajuk “Sosok Petani dalam Sastra Kita” yang dimuat dalam buku Sastra dalam Empat Orba (2001), Agus R. Sarjono menyebut sastra Indonesia sepi dengan tema pertanian. Tidak banyak karya sastra Indonesia yang mengangkat masalah dan sosok petani. Bila pun ada, masalah dan sosok petani tidak menjadi tema utama.

Hal ini dipandang sebagai keganjilan karena faktanya Indonesia sebagai negara agraris dengan masyarakat petani serta wilayah pertanian sebagai realitas dominan bangsa Indonesia. Masalah yang dihadapi petani dan dunia pertanian juga sangat kompleks dan beragam.

Kondisi ini dihubungkan Sarjono dengan latar belakang para sastrawan Indonesia yang terdidik secara Barat. Pada awal kelahiran sastra Indonesia, misalnya era Balai Pustaka hingga Pujangga Baru, para sastrawan itu umumnya berasal dari golongan priyayi yang gagap memunculkan dan mengartikulasikan dunia pertanian. Masih menurut Sarjono, dunia pertanian dalam tatapan sastrawan Indonesia merupakan cerminan dunia tradisionalitas yang justru hendak ditinggalkan.

Penilaian Sarjono memang tidak sepenuhnya keliru, namun tidak sepenuhnya juga benar. Bahwa tema dunia pertanian tidak banyak muncul dalam genre prosa fiksi, khususnya novel, mungkin ada benarnya.  Tampaknya, bagi para novelis Indonesia, problematika yang dihadapi petani kurang menarik perhatian dibandingkan problematika religiositas, pertentangan tradisi dan modernitas, marginalisasi perempuan atau isu-isu seksualitas.

Di antara sedikit novel Indoneis yang mengungkap kehidupan petani atau menghadirkan sosok petani adalah Kemarau (1967) karya A.A. Navis. Dalam novel ini, Navis memunculkan sosok petani tangguh bernama Sutan Duano dalam menghadapi musim kemarau panjang, sebaiknya juga secara satiris mengkritik perilaku masyarakat pedesaan yang lebih mengedepankan religiositas pada tataran permukaan. Mereka mementingkan berdoa memohon hujan turun tapi bermalas-malasan menggarap sawah-sawah mereka.

Novel Pulang karya Toha Mohtar

Sebelumnya, Toha Mohtar menulis novel Pulang (1958) yang juga menggambarkan kehidupan petani di desa. Tokoh utama cerita, Tamin, kembali ke desanya di Gunung Wilis setelah memutuskan berhenti menjadi Heiho, tentara masa pendudukan Jepang. Sang tokoh menebus rasa bersalah karena berkhianat kepada bangsanya sendiri dengan pulang membangun desanya.  

Namun, tema dunia pertanian dengan sosok petani dengan berbagai masalahnya sebagai titik tolak cukup banyak muncul dalam puisi dan cerpen Indonesia. Puisi-puisi Indonesia periode awal yang dicirikan oleh gambaran alam kuat banyak memotret suasana alam persawahan di desa dan kehidupan petani. Memang, pada periode ini, puisi-puisi Indonesia tentang petani atau alam pertanian sangat dipengaruhi oleh cara pandang romantisisme sehingga gambaran tentang petani dan alam pertanian terasa cenderung eksotis. Sanusi Pane menulis sejumlah puisi tentang petani dan alam pertanian yang indah dan menawan.

Memasuki periode tahun 1960-an, sosok dan nasib para petani mendapat perhatian pada sastrawan, khususnya sastrawan yang terhimpun dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Dipengaruhi oleh cara pandang realisme sosialis, para pengarang Lekra sangat getol menggambarkan perlawanan kaum tani melawan penindasan, terutama menghadapi tuan tanah. Menurut hasil penelitian I Wayan Artika atas antologi Gugur Merah dan Laporan dari Bawah yang dituangkan dalam buku Representasi Ideologi dalam Sastra Lekra (2024) cerpen-cerpen Lekra tentang kaum tani bergerak dari (1) adanya penderitaan kaum tani yang dibayangkan tertindas oleh kaum tuan tanah, (2) perlawanan kaum tani, lalu berakhir dengan (3) kemenangan kaum tani.

Para pengarang Lekra juga memberi perhatian pada keberadaan perempuan tani. Para perempuan petani ini tidak saja digambarkan dengan penuh keberanian melawan kekuasaan kaum tuan tanah, namun juga memperjuangkan kesetaraan gender antara perempuan dan laki-laki.

Salah satu pengarang Lekra dari Bali, Putu Oka Sukanta menulis cerpen berjudul “Bibi Kerti” yang menggambarkan perjuangan perempuan tani Bali memperoleh tanah. Melalui cerpen ini, pengarang tak hanya mengusung gagasan soal landreform namun juga mengkritik budaya patriarkhi yang begitu kokoh dalam kehidupan masyarakat Bali.

Sastrawan Bali terbilang memiliki sensibilitas terhadap kehidupan petani dan dunia pertanian. Panji Tisna menulis sebuah cerpen berjudul “Menolong Orang Menyiangi Padi”. Cerpen yang dimuat di majalah Damai (1955) ini menggambarkan kehidupan petani Bali di desa yang kental dengan tradisi tolong-menolong. Dalam cerpen ini diceritakan tokoh utama yang seorang petani mengundang kerabat dan sahabatnya untuk membantu menyiangi padi di sawah. Namun, citra stereotif dunia pertanian yang sarat dengan beban hidup tetap terasa.

Gambaran problematika petani dan dunia pertanian dalam karya sastra memang tak bisa dilepaskan dari konteks zamannya. Jika pada era Lekra, problematika petani dikaitkan dengan isu landreform, pada era booming pariwisata, problematika petani dan dunia pertanian dihubungkan dengan industri turisme yang haus lahan. Itu sebabnya, puisi-puisi dan cerpen-cerpen karya sastrawan Indonesia, khususnya di Bali, banyak memotret konflik tanah antara petani dan kapitalis pariwisata.

Pada era 1990-an, sajak-sajak penyair Bali didominasi oleh suara keresahan mengenai ludesnya tanah-tanah Bali, terutama oleh masifnya perkembangan industri pariwisata. Dampaknhya tentu saja ruang gerak para petani dan dunia pertanian makin sempit. Puisi-puisi Oka Rusmini, I Wayan Arthawa, Nyoman Wirata, Alit S. Rini maupun GM Sukawidana mencerminkan perhatian para penyair Bali terhadap isu alih fungsi lahan pertanian yang berimplikasi pada terdesaknya para petani.

Cerpenis Gde Aryantha Soethama menulis cerpen “Sawah Indah nan Subur” yang dengan sangat baik menggambarkan proses alih kepemilikan tanah sawah di Bali dari orang Bali kepada orang luar. Proses alih kepemilikan itu terjadi begitu perlahan dan halus. Tanpa disadari, lahan sawah para petani telah dikuasai pemodal dari luar lalu meskipun tetap difungsikan sebagai sawah, fungsinya sudah bergeser sekadar sebagai atraksi wisata.

Gde Aryantha Soethama juga menulis sebuah cerpen yang memuliakan para petani yang dikaitkan dengan konteks spiritualitas khas Bali, “Surga untuk Petani”. Cerpen yang diadaptasi dari cerita rakyat Bali ini menceritakan tentang seorang petani yang tekun akhirnya diterima dengan tangan terbuka oleh penguasa surga. Walaupun si petani tidak memiliki pengetahuan tentang agama yang kuat seperti halnya seorang pendeta. Seperti halnya Navis, Aryantha Soethama juga mengkritik laku hipokrit orang-orang berjubah agama. Tokoh petani yang tekun dan suntuk dengan kewajibannya bergelut dengan ibu pertiwi digambarkan lebih mulia tinimbang seorang pendeta yang memiliki pengetahuan agama yang luas tetapi minim ketulusan dan kejujuran.

Cerpenis Made Adnyana Ole juga tergolong memiliki perhatian besar pada sosok petani dan dunia pertanian di Bali. Pada sebagian sajak-sajaknya dalam buku Dongeng dari Utara (2014) dan sebagian cerpen-cerpennya dalam Padi Dumadi (2007) dan Gadis Suci yang Melukis Tanda Suci di Tempatr Suci (20180 menunjukkan bagaimana pengarang memaknai petani dan kehidupan bertani sebagai laku mulia. Namun, dia juga tidak menutup mata pada problematika soal makin terdesaknya petani dan kehidupan petani.

Penyair Nyoman Wirata menulis buku kumpulan puisi Merayakan Pohon di Kebun Puisi (2007) yang sejatinya juga menggambarkan kemuliaan laku bercocok tanam. Lima puluh lima puisi dalam buku ini seluruhnya melukiskan tentang pohon yang mencerminkan gagasan tentang pemuliaan ibu bumi sebagai sumber energi utama kehidupan manusia. Dalam sastra Bali modern, kita juga disuguhi gagasan tentang petani dan dunia pertanian dengan penuh optimisme. Drama Masan Cengkehe Nedeng Mabunga (1978) karya Nyoman Manda menggambarkan semangat para petani di Desa Nyebah, Kayuamba, Bangli, Bali menanam dan merawat tanaman cengkeh sebagai sumber penghidupan. Dalam drama ini ditampilkan tokoh utama I Nyoman Sadra yang membangun desa dengan menjadi penyuluh pertanian untuk mendampingi para petani cengkeh. Dibalut dengan konflik khas masyarakat pedesaan Bali dengan problematika keyakinan dan tradisi, drama menyampaikan pesan penting kepada masyarakat Bali untuk membangun desanya sesuai potensi masing-masing dalam bidang pertanian. Memang, drama ini tak bisa menghindarkan diri dari kesan propaganda program pemerintah. Namun, pesan semacam itu juga masih gayut dengan problematika sosial masyarakat pedesaan Bali hingga kini. [T]

  • BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024
Rempah-Rempah Kita dalam Khazanah Gastronomi Internasional
Khasanah Rempah, Makanan dan Obat Bagi Raga
Parfum Berbahan Rempah: Kearifan Sastra Bermotif Panji yang Belum Banyak Digali
Tentang Rambut dan Kisah-kisahnya
WARṆANAWARNA : Cerita Tentang Warna dan Kemungkinan Skema Teori Warna Bali
Apa itu Gincu?
Tags: apresiasi sastraSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Candu Kekuasaan dan Upaya Kangkangi Konstitusi

Next Post

Merayakan Lontar, Sastra, dan Kebudayaan di Singaraja Literary Festival 2024

I Made Sujaya

I Made Sujaya

Wartawan, sastrawan, dosen. Pengelola balisaja.com

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Merayakan Lontar, Sastra, dan Kebudayaan di Singaraja Literary Festival 2024

Merayakan Lontar, Sastra, dan Kebudayaan di Singaraja Literary Festival 2024

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co