17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengintip Pembuatan Slerek Pengambengan, Kapal Kayu Warisan Maritim Nusantara

Jaswanto by Jaswanto
December 26, 2024
in Khas
Mengintip Pembuatan Slerek Pengambengan, Kapal Kayu Warisan Maritim Nusantara

Pembuatan Slerek Pengambengan, Kapal Kayu Warisan Maritim Nusantara | Foto: tatkala.co

DI sebuah kebun tak terawat, di antara belukar katang-katang—atau kerap pula disebut tumbuhan tapak kuda, di pinggir Pantai Ketapang Muara, Desa Pengambengan, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Bali, beberapa lelaki sedang sibuk mengolah mahoni menjadi sebuah kapal nelayan yang dikenal dengan nama kapal slerek, Rabu (25/12/2024) yang terik. Bahtera ini pesanan seorang tajir setempat, juragan kapal yang namanya beken seantero kawasan tersebut.

Para lelaki yang sedari pagi sibuk memotong, membelah, dan menyerut balok-papan kayu itu—pun  memasah dan menyusunnya menjadi lantai dan dinding kapal—datang dari pulau seberang, jauh dari Pengambengan. Mereka dari sebuah pulau kecil di kawasan Sumenep, Madura, tepatnya dari Pulau Poteran—pulau kecil yang berbentuk seperti kepala ayam tanpa paruh itu.

Dengan menyeberangi Selat Madura ke Pelabuhan Kalianget, orang-orang itu mencapai wilayah yang menjorok di pinggiran pesisir Samudra Hindia, Bali bagian barat ini, setelah sebelumnya menempuh perjalanan nyaris 12 jam melewati jalur Pantura. Nyaris tak ada orang Pengambengan sendiri yang bisa membuat kapal Slerek. Mungkin bisa membuat bentuknya, tapi belum tentu dapat berlayar sempurna sebagaimana bikinan orang-orang pulau seberang itu.

โ€œMereka sengaja kami datangkan ke sini. Karena kalau membeli kapal langsung dari sana, ongkosnya lebih mahal,โ€ ujar Ketut Sumajaya, pengurus Kapal Bintang Grup milik H. Ali Nuri, juragan kapal yang namanya beken di kawasan itu.

Alat untuk melengkungkan papan | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Tahun ini Bintang Grup membuat tiga slerek sekaligus. Satu sudah berlayar, satu lagi baru kelihatan bentuknya, dan satu lagi lantainya saja belum tampak, masih sekadar dasaran. Ketiga kapal tersebut dikerjakan pihak yang berbeda, meski semua artigianonya berasal dari Sumenep. Satu kapal yang sudah kelihatan bentuknya, dikerjakan kelompok Haulu, seorang seniman perahu-kapal yang terkenal di Pengambengan—dan langganan H. Ali, khususnya.

Haulu, atau akrab dipanggil Ulu, dibantu kedua karibnya, Ersan dan Saduki. Mereka bertiga seumuran, 50 tahunan, dan berasal dari tanah yang sama, Talango. Hanya saja, Saduki lahir di desa yang berbeda dari Ulu dan Ersan. Saduki lahir di Sang; sedangkan Ulu dan Ersan tumbuh dan berkembang di Kombang. Namun, sekali lagi, kedua desa tersebut sama-sama terletak di Kecamatan Talango, Pulau Poteran, Sumenep.

โ€œKami sering meminta Pak Ulu untuk membuat kapal,โ€ terang Sumajaya sembari melemparkan senyum kepada Ulu yang masih sibuk menyerut dinding slerek menggunakan pasah elektrik. โ€œGarapannya bagus,โ€ sambung pria paruh baya berkacamata itu saat ditanya alasannya meminta Ulu,dkk, membuat kapal-kapal Bintang Grup.

Hari makin terik. Tapi para tukang masih saja lanjut bekerja. Sementara Ersan bertugas melengkungkan papan dengan memanggangnya dan menggantungkan batu pemberat di ujung atas kayu, Saduki sibuk membuat pasak yang panjangnya sejengkal orang dewasa. Ulu sendiri, sebagai kepala tukang, masih fokus meratakan pelipis dinding kapal. Serbuk kayu keluar dari lubang mesin bersuara bising itu secara bertubi-tubi. Tapi lelaki bersuara lembut bak Puntadewa itu—tapi barangkali versi Madura-nya—tanpa menggunakan masker atau penutup mulut dan hidung semacamnya. โ€œSudah biasa,โ€ katanya, enteng saja.

Di sekitar galangan perahu teronggok kayu camplung gelondongan yang tampak sangat  keras dan kuat. Jumlahnya cukup banyak. Dan kayu-kayu tersebut didatangkan dari Pulau Lombok. โ€œDi Bali tidak ada,โ€ kata Sumajaya. โ€œDan kayu ini, selain jati dan ulin, memang cocok sebagai galangan perahu,โ€ Ulu menimpali pria yang ia panggil โ€œbosโ€ itu. Saat memesan kayu, sebagai tukang, Ulu dilibatkan. Ia ikut ke Lombok, ikut serta memilih dan memotong camplung di sana. โ€œKemarin sampai delapan hari di sana,โ€ akunya. Dan slerek dengan kayu berkualitas, dapat bertahan selama lima belas sampai dua puluh tahunan.

Ersan (kiri) dan Saduki (kanan) sedang mengukur papan kayu yang sudah dilengkungkan | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Meski hanya bertiga, kelompok Ulu termasuk tukang perahu yang cepat. Dua bulan ke depan, slerek pesanan H. Ali ini bakal rampung. Dengan dimensi panjang 22 meter, lebar 5 meter, dan tinggi 2 meter, perahu setengah jadiโ€”yang dikerjakan satu setengah bulan sebelumnyaโ€”itu tinggal finishing di beberapa bagian.

Begitu rampung, kapal itu akan ditarik ke lautan dengan cara gotong royong oleh ratusan warga. Disertai dengan doa-doa dan selamatan khusus, momentum itu biasanya menjadi atraksi yang menarik banyak warga lokal untuk datang dan melihat.

Berbahan kayu kutat, camplung, dan mahoni, dilengkapi empat buah mesin, kapal nelayan dengan lambung yang besar itu dibanderol mendekati harga satu unit bus double decker baru, yakni nyaris Rp 1 setengah miliar. Harganya jauh di atas perahu biasa yang hanya puluhan hingga ratusan juta. โ€œTapi untuk tukangnya ini borongan. Kami borong 125 juta,โ€ Sumajaya berkata.

Untuk membuat sebuah perahu berbobot di atas lima ton, biasanya melibatkan delapan orang, terdiri atas empat orang tukang dan sisanya asisten. Tapi kelompok Ulu, sekali lagi, hanya tiga orang termasuk dirinya. โ€œSemua tukang, nggak ada istilah asisten,โ€ ujar Ulu dengan logat Madura-nya yang khas sembari tertawa.

Ya, Ulu, Saduki, dan Ersan, sama-sama belajar membuat perahu sejak kecil, turun-temurun. Sejak dulu, tanah mereka lahir memang terkenal sebagai lumbung perajin perahu. Maka wajar jika tangan-tangan mereka begitu terampil dan cekatan. Papan kayu seperti โ€œtundukโ€ dan โ€œpatuhโ€ di hadapan mereka. Enak saja mereka membuat lengkungan yang nyaris presisi. โ€œSemua ada ukurannya, rumusnya, dan hitungannya sendiri. Hanya tukang yang tahu itu semua,โ€ terang Saduki sambil membuat pasak.

Slerek setengah jadi garapan Ulu, dkk | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Selama mengerjakan slerek di Pengambengan—yang mampu mengarungi lautan, mereka mengaku tak pernah ada kendala berarti. Peralatan yang digunakan pun perpaduan antara alat tradisional dan modern. โ€œKecuali hujan,โ€ kata Ersan. Beberapa hari ini hujan turun di Pengambengan. Dan mereka memilih meliburkan diri. โ€œItu sangat berisiko, karena kami menggunakan peralatan listrik. Teman saya meninggal karena kesetrum saat kerja hujan-hujan,โ€ ucap Saduki.

Slerek dan Masa Depannya

Slerek telah menjadi ikon maritim Desa Pengambengan. Lebih dari sekadar alat penangkap ikan, slerek telah menyatu dengan kehidupan masyarakat setempat, membentuk identitas budaya dan ekonomi yang unik—slerek telah menjelmanadi kehidupan warga Madura dan Pengambengan. Kapal ini konon merupakan metamorfosa budaya bahari, keahlian membuat kapal, serta budaya dan seni dari Bugis, Madura, dan Bali.

Nelayan Pengambengan telah menggunakannya selama bergenerasi, turun-temurun. Kapal semacam ini juga dapat ditemukan di daerah Muncar, Banyuwangi, dan sekitarnya. Desainnya yang khas, dengan lambung yang lebar, panjang, dan kokoh, membuatnya sangat cocok untuk berlayar di perairan yang seringkali bergelombang—seperti Selat Bali di Samudra Hindia.

Kapal ini umumnya terbuat dari kayu dan dilengkapi dengan peralatan penangkapan ikan berupa jaring besar. Slerek beroperasi sepasang. Orang Pengambengan menyebutnya kapal โ€œsuami-istriโ€. โ€œSlerek tidak banyak berubah. Hanya hiasannya saja yang berkembang,โ€ terang Sumajaya.

Slerek setengah jadi bikinan Ulu, dkk | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Slerek memiliki peran yang sangat sentral dalam kehidupan masyarakat Pengambengan. Selain sebagai sumber mata pencaharian utama, slerek juga menjadi sarana transportasi, sarana sosial, dan bahkan menjadi bagian dari upacara adat seperti Petik Laut yang diselenggarakan setiap setahun sekali pada bulan Muharram. Nelayan Pengambengan memiliki pengetahuan dan keterampilan khusus dalam mengoperasikan slerek, yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Namun, di balik keindahan dan keunikannya, kapal slerek juga menyimpan kisah pahit tentang pasang surut nasib para nelayan—dan itu juga berpengaruh terhadap eksistensinya, tentu saja. Dulu, saat tangkapan ikan melimpah, kapal-kapal ini menjadi sumber kehidupan yang menjanjikan. Tetapi, dalam beberapa tahun terakhir, hasil tangkapan terus menurun drastis.

Perubahan iklim, penangkapan ikan yang berlebihan, dan kerusakan ekosistem laut menjadi beberapa faktor yang mengancam keberlangsungan hidup nelayan yang menggantungkan hidupnya pada kapal slerek. Kemarin, tak sedikit nelayan Pengambengan kembali pulang tanpa seekor tangkapan pun.  โ€œDulu, sekali melaut bisa dapat berton-ton ikan. Sekarang, dapat beberapa kuintal saja sudah syukur,โ€ ujar Ahmad Zainul Huda, seorang nelayan Pengambengan.

Penurunan hasil tangkapan bukan satu-satunya masalah yang dihadapi oleh nelayan pengguna kapal slerek. Meningkatnya harga bahan bakar minyak, biaya perawatan kapal yang mahal, serta persaingan dengan kapal-kapal nelayan modern juga menjadi tantangan tersendiri. Selain itu, perubahan kebijakan pemerintah terkait perikanan juga turut memengaruhi kehidupan nelayan. Pembatasan wilayah penangkapan dan jenis ikan yang boleh ditangkap membuat nelayan semakin kesulitan mencari nafkah.

Slerek adalah warisan budaya yang sangat berharga. Melalui slerek, kita dapat melihat bagaimana masyarakat nelayan di Pengambengan telah mampu beradaptasi dengan perubahan zaman sambil tetap menjaga tradisi dan identitas budaya mereka.

โ€œSemoga slerek akan selalu dibuat dan tetap digunakan nelayan Pengambengan,โ€ Sumajaya berharap. Harapan itu tampaknya juga diamini Ulu, Saduki, dan Ersan, meski mereka bertiga terlihat tak begitu yakin. โ€œSebab bahan bakunya semakin sulit,โ€ ujar Ulu.

Haulu sedang persiapan memasak dinding slerek | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Selain langka, bahan baku untuk membuat slerek harganya semakin mahal. Selain jati, galangan perahu slerek biasanya memanfaatkan kayu nyamplong (Calophyllum inophylum) ataupun ulin (Eusideroxylon zwageri). Ulin atau kayu besi yang ada di Kalimantan jumlahnya makin sedikit dan kini masuk apendik II dan dilindungi oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam. Artinya, tidak mudah untuk memanfaatkan kayu-kayu eksotis itu.  

Namun, terlepas dari itu, slerek di jantung Pulau Bali, di mana samudra memeluk pesisir dengan ombak yang berbuih, tetap sebuah legenda maritim Nusantara yang akan tercatat sebagai sejarah. Dari Pelabuhan Pengambengan, Jembrana, kapal-kapal ini telah menjadi saksi bisu dari pergulatan hidup nelayan, dari tarian ikan di kedalaman laut hingga deru mesin yang mengiris keheningan fajar.

Slerek, sekali lagi, bukan sekadar alat penangkap ikan. Ia adalah sebuah rumah terapung, sebuah candi bagi para dewa laut, dan simbol keuletan manusia yang hidup berdampingan dengan alam. Setiap goresan kayu pada lambungnya adalah puisi yang menceritakan kisah panjang perjalanan.

Saat matahari tenggelam, slerek berlayar menuju rahim bahari, meninggalkan jejak buih di permukaan laut. Nelayan-nelayan, khususnya juragan laut, sang nahkoda slerek, dengan mata setajam elang, mengarahkan kapal menuju titik-titik tangkapan yang telah mereka kenal bertahun-tahun. Mereka adalah penjelajah samudra, petualang yang tak kenal lelah dalam mencari rezeki.

Di tengah lautan yang luas, kapal slerek menjadi saksi bisu dari berbagai peristiwa. Ada tawa riang saat ikan-ikan berlomba masuk ke dalam jaring, ada pula keheningan saat badai menerjang. Namun, apapun yang terjadi, para nelayan selalu kembali ke pelabuhan dengan membawa harapan baru.

Ketika hari tiba, slerek kembali ke pelabuhan, membawa hasil tangkapan yang akan menghidupi keluarga mereka. Cahaya lampu pelabuhan menyambut mereka dengan hangat, seolah menyambut para pahlawan yang baru saja pulang dari medan perang.

Kapal slerek, dengan segala kemegahan dan kesederhanaannya, akan terus menjadi bagian dari sejarah maritim Indonesia. Ia adalah simbol dari keuletan, keberanian, dan semangat pantang menyerah—sebagaimana para nelayan itu sendiri.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Kisah dari Geladak Perahu Nelayan Pengambengan di Bali Barat
Ikan Bakar Komel Pengambengan: Kelezatan di Balik Kesederhanaan
“Mejunjungan”, Tradisi Unik Guyup Bugis Melayu Pesisir Pengambengan yang Masih Tersisa
Tags: Desa Pengambenganjembranajukungkapal nelayanmaritimnelayanslerek
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

Next Post

Mereka Tidak Benar-benar Pergi

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

โ€œCARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!โ€ Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

ย โ€œTur Mencari Kebebasan: Jakartaโ€”Bogorโ€”Tangerangโ€ —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
ย โ€œTur Mencari Kebebasan: Jakartaโ€”Bogorโ€”Tangerangโ€ —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk โ€œ(Se-)Putar Musikโ€ (2025), kemudian โ€œMemahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

โ€œYA, kondisinya memang tak terawatโ€•mungkin nggak peduli,โ€ jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

โ€œBatubelah Art Spaceโ€: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
โ€œBatubelah Art Spaceโ€: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapatโ€”Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapatโ€”Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

โ€œPerdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails
Next Post
Telenovela

Mereka Tidak Benar-benar Pergi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dariย โ€œPanic Buyingโ€ย hinggaย โ€œMaborborโ€: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dariย โ€œPanic Buyingโ€ย hinggaย โ€œMaborborโ€: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
๐Œ๐„๐๐“๐„๐‘๐ˆ ๐‹๐”๐€๐‘ ๐๐„๐†๐„๐‘๐ˆ ๐ˆ๐๐ƒ๐ˆ๐€ ๐๐”๐Š๐€ ๐๐€๐Œ๐„๐‘๐€๐ ๐‹๐Ž๐๐“๐€๐‘ ๐๐€๐‹๐ˆ
Pameran

๐Œ๐„๐๐“๐„๐‘๐ˆ ๐‹๐”๐€๐‘ ๐๐„๐†๐„๐‘๐ˆ ๐ˆ๐๐ƒ๐ˆ๐€ ๐๐”๐Š๐€ ๐๐€๐Œ๐„๐‘๐€๐ ๐‹๐Ž๐๐“๐€๐‘ ๐๐€๐‹๐ˆ

Menteri Luar Negeri India, ๐ƒ๐ซ. ๐’. ๐‰๐š๐ข๐ฌ๐ก๐š๐ง๐ค๐š๐ซ, 12 Oktober 2026, membuka pameran ๐‘๐‘–๐‘Ÿฤ๐‘š๐‘Ž๐‘ฆฤ๐‘ก๐‘Ž: ๐ป๐‘’๐‘Ž๐‘™๐‘–๐‘›๐‘” ๐‘Ž๐‘›๐‘‘ ๐‘Š๐‘’๐‘™๐‘™๐‘๐‘’๐‘–๐‘›๐‘” ๐‘–๐‘› ๐‘†๐‘œ๐‘ข๐‘กโ„Ž ๐ด๐‘ ๐‘–๐‘Ž๐‘› ๐‘‡๐‘’๐‘ฅ๐‘ก๐‘ ...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright ยฉ 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright ยฉ 2016-2025, tatkala.co