6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menanam Pohon pada Hamparan Batu Tajam di Kawasan Yeh Mampeh, Kintamani : Antara Refleksi dan Nostalgia

Gede Diyana Putra by Gede Diyana Putra
December 17, 2024
in Tualang
Menanam Pohon pada Hamparan Batu Tajam di Kawasan Yeh Mampeh, Kintamani : Antara Refleksi dan Nostalgia

Diyana Putra

AKU tidak pernah membayangkan sebelumnya, aku akan menanam pohon di atas bukit berbatu—di atas tanah kering dengan batu-batu yang tajam. Pada beberapa kesempatan, aku sempat mengikuti kegiatan penanaman pohon di sejumlah tempat, dari lereng gunung sampai tepian pantai, tapi belum pernah kutemukan tempat se-“istimewa” ini.

Lokasi itu berada di kawasan Dusun Yeh Mampeh, Desa  Batur Selatan, Kintamani, Bangli.  Di tempat ini, sejauh mata memandang yang terlihat hanya bebatuan tajam. Itu batuan vulkanik hitam berpori, jika terinjak dengan kaki telanjang, kaki akan terasa ditusuk. Tentu sakit.

Awalnya aku mengira akan menanam di dataran miring yang rawan longsor. Ternyata tidak. Tapi aku menikmatinya. Ini adalah pengalaman yang luar biasa untukku. 

Sudah hampir 10 tahun, aku meninggalkan kegiatan di alam, seperti mendaki atau menanam pohon pada rentang alam yang rawan. Dulu waktu SMA, hampir setiap minggu, ada saja teman yang mengajak mendaki ke Gunung Batur.

Waktu itu, mendaki gunung masih dipandang kegiatan ekstrem dan mahal. Teman-temanku mengira, mendaki Gunung Batur itu harus menyewa guide setempat. Memang, saat itu akses informasi masih terbatas. Seperti halnya lingkungan pertemananku yang menginstall sosial media masih terbatas.

Konten TV “My Trip My Adventure”, cerita dari mulut ke mulut, tautan profil pada postingan facebook setiap perjalanan menambah rasa penasaran mereka. Permintaan teman-teman sekolahku sampai membuatku terasa seperti guide asli hanya saja ini palayanan gratis.

Kintamani saat itu masih asri dan belum seramai saat ini. Atraksi wisata yang ditawarkan itu masih terbatas. Kini, wajah pariwisata Kintamani telah bertransformasi. Kini ada atraksi Jeep seperti yang biasa kita lihat di Wisata Bromo. Ada barisan kedai kopi di sepadan jurang Kaldera Batur Kintamani seperti yang biasa kita saksikan di Ubud. Dari semua usaha wisata itu, hampir semunya “menjual” view dari gunung, danau, dan tentu hutan di wilaah Batur.

Tini, kordinator kelompok membagikan pohon untuk ditanam di titik yang telah ditentukan | Foto: Dok. Diyana

Dan kali ini, tepatnya 8 Desember 2024, aku kembali ke alam Batur. Sembari melihat segala perubahan yang terjadi, aku punya kegiatan lain: menanam pohon. Kegiatan ini adalah bagian dari Bali Reforestation Festival yang diselenggarakan oleh Yayasan Bali Hijau Lestari. Yayasan ini memang sudah aktif melakukan reboisasi sejak 2006.

Aku tinggal di Singaraja, Buleleng, dan tentu membutuhkan perjalanan yang cukup lama untuk bisa tiba di lokasi penanaman. Pagi, sebelum menuju lokasi aku menyempatkan untuk sarapan. Taluh mice dan kopi susu di Kopi Tiam Kampung Tinggi menjadi piliha.

Bersama Dewa Janu, Pukul 07.30 kami berangkat. Kami hanya memiliki waktu 1,5 jam untuk tiba sesuai dengan agenda yang dijadwalkan di Dusun Yeh Mampeh, Desa  Batur Selatan.. Maka, laju motor matic-ku harus lebih kencang.

 Ada hal yang tidak biasa kutemui di jalur Desa Bengkala. Sebelah kanan jalan di 20 meter setelah bengkel Edie Arta, ada beberapa guci besar berjejer di depan bangunan bertembok anyaman bambu. Puluhan motor serta beberapa mobil parkir di sana dan perhatianku tertuju pada plang tempat tersebut, “Pasar Intaran”.

Pasar Intaran, yang dibuka setiap Minggu itu,  adalah salah satu ruang berkumpul bagi orang-orang yang ingin belajar banyak hal, seperti belajar berusaha di bidang ekonomis kreatif, belajar menciptakan gagasan, dan sejenisnya. Aku hampir setiap hari Minggu berada di situ, tapi kali itu aku harus lewati tempat itu karena harus secepatnya tiba di lokasi penanaman.  

 Para volunteer dari Mapala Cakra Buana Politeknik Negeri Bali | Foto: Dok. Diyana

Kami menggunakan beberapa jalur alternatif untuk bisa memangkas waktu perjalanan, misalnya aku belok kanan di Puskesmas Tamblang (wilayah Tangkid), kemudian aku melewati Desa Mengening untuk memotong jarak tempuh. Barisan pohon cengkeh dan sejuk udara pagi begitu nikmat. “Tin”, jangan lupa untuk membunyikan klaksonmu di setiap tikungan ketika ngebut. Ini jalan umum, bukan sirkuit.

Semburat cahaya dan senyum gadis yang pipinya merah kutemui ketika melewati Desa Dausa, Desa itu sudah masuk wilayah Kecamatan Kintamani, Bangli. Dingin mulai menembus jaket ketika memasuki hutan pinus menuju puncak Penulisan.

Sepanjang perjalanan dari Dausa menuju Sukawana, kulihat suasana agak ramai. Rupanya ada sejumlah pelari dan rombongan pick-up memuat motor trail di atasnya. Nampaknya, di daerah itu, pada hari itu, ada dua event yang barangkali biasa mereka lakukan. Lari dan naik trail.

Pikirku, Bali sudah pantas untuk dieksplorasi dengan menyelenggarakan event olahraga alam, tentu juga untuk menggeser sedikit keramaian dari diskotik dan event-event massal di Kuta dan Canggu.

Seperti biasa, di kiri jalan sebelum SMPN 1 Kintamani, aku akan menengok rumah dinas pegawai kehutanan yang kini telah menjadi toko retail modern. Sial, aku belum memiliki foto rumah tersebut hingga saat ini.

Setelah melalui deretan warung kopi modern, di perempatan jalan belok kiri aku menemui turunan curam dan belokan tajam. Jalan yang sangat tidak direkomendasikan bagi pemula. Ada diskon senderan jalan jebol di sisi kiri atau kanannya. Tapi, semua itu menandakan bahwa tujuanku sudah dekat.

Kelompok ungu titik 5. Dari kiri ke kanan. saya, Ibu Ria, Tini dan Dewa Janu | Foto: Dok. Diyana

Ini merupakan kali keduaku mengaspal di jalur ini. Teringat, saat itu aku tersesat dengan tujuan rutenya adalah Pura Ulun Danu Batur. Meskipun diskon senderan jalan jebolnya tidak sebanyak saat ini, jalur ini tetap saja horor. Ini merupakan jalur pengangkutan material tambang pasir.

Kalian akan banyak menjumpai tempat penyaringan pasir (pemisahan pasir halus) di pinggir jalan sepanjang Dusun Yeh Mampeh ini. Sedikit ada rumah penduduk dan yang menjual BBM. Selalu, di musim hujan jalan ini seperti jalur trail. Ada kubangan air berwarna cokelat. Jika tidak stabil, kaos kakimu bisa basah karena harus mendarat di kubangan itu. Bayangkanlah.

Pukul 09.28, aku tiba di titik berkumpul Bali Reforestation Festival. Meskipun terlambat hampir 30 menit, kami disambut ramah panitia. Kami kemudian dibagi dalam kelompok kecil dalam menanam. Saat itu ada 5 orang. Aku, Dewa Janu, Ibu Ria (Dosen Biologi Udayana), beserta sepasang muda-mudi lainnya.

Kami didampingi seorang koordinator yang merupakan relawan di kegiatan ini, namanya Tini. Ia mahasiswi semester 3 Ilmu Komputer di Politehnik Negeri Bali.

Kami mendapatkan tugas untuk menanam di titik 5 ungu. Berdasarkan info dari panitia, telah disiapkan 4000 pohon untuk 320 peserta yang hadir. Tini, membawa 5 kresek merah yang berisi pohon. Luas lahan titik 5 ungu kiranya ada 4 are. Kondisinya, itu merupakan lahan berbatuan seperti yang telah kujelaskan diawal tulisan ini.

Pohon puspa (schima wallichii) yang ditanam di tanah batuan vulkanik | Foto: Dok Diyana

Panitia telah mempersiapkan ini jauh hari, dalam setiap jarak yang telah terukur ditempatkan tanah dan pupuk kandang. Pada titik itulah pohon Jempinis, Puspa dan Ampupu ini kami tanam.

Kami serius menanam. Aku berorientasi target, seperti sales. Pantang pulang sebelum target dicapai. Melelahkan juga, beberapa momen Bu Ria sempat mengambil waktu untuk istirahat. Kami membagi tugas untuk mengefisienkan energi.

Ada yang melubangi kembali, menaruh pohonnya, dan memasang tali pengikat. Tak terasa 1,5 jam pohon yang disiapkan untuk kelompok ini habis. Artinya, target telah dicapai dan kami bisa mengambil momen untuk dokumentasi.

Kegiatan serta perjalanan ini menjadi suatu refleksi bagiku. Lebih dari sekadar nostalgia masa SMA, aku mulai menyadari beberapa hal penting. Pemandangan yang berwarna hitam dari sepadan jurang jalan Kintamani (atas) itu kukira hanya karena awan yang menutupi cahaya matahari di atasnya. Namun, pada beberapa titik itu memang merupakan lahan hutan yang kritis.

Saya (penulis) berpose sehabis menanam di sela-sela batu | Foto: Dok. Diyana

Kita melihat  dari jauh hamparan batuan vulkanik, pasir atau kerikil berwarna hitam di lereng Gunung Batur itu adalah pemandangan yang begitu indah. Melihat lebih dekat hamparan batuan vulkanik tersebut, itu merupakan daerah lahan kritis. Titik tutupan hijaunya sedikit.

Setiap tahun, eksploitasi dari pemandangan lahan kritis itu kian meningkat. Peningkatan itu perlu diimbangi dengan meningkatnya agenda-agenda konservasi di daerah itu agar angka tutupan hijau juga ikut meningkat.

Bali Reforestation Festival menjadi alarm setiap tahunnya tentang keberlanjutan lingkungan, keberlanjutan ekonomi dan keberlanjutan generasi. Antara refleksi dan nostalgia, festival ini kembali mengingatkan bahwa melestarikan alam bukan hanya kenangan masa laluku, tetapi tentang keberlanjutan untuk masa depan. [T]

Penulis: Gede Diyana Putra
Editor: Adnyana Ole

12.000 Pohon untuk Kurangi Emisi Karbon – Ini Program HUT ke-12 AirNav Indonesia
Menebar Ikan dan Tanam Pohon di Kawasan Danau Buyan — Konsos PMM 4 Inbound Unud
Kolaborasi Internasional di Desa Pedawa: Menanam Pohon Menjaga Air
Sepiantari & Sepiantini Nandurin Gumi: Riang Jalan Mencari Pohon Langka dalam Hutan
Pemuda-pemuda yang Mengabarkan Cerita Baik dari Pedawa: Menanam Pohon, Mencintai Tradisi dan Bahasa
Tags: alamBangliDanau BaturDesa Batur SelatanGunung BaturKintamanilingkungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gending Sanghyang Sampat dan Cerita Lain di Desa Sangketan, Penebel-Tabanan

Next Post

Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Gede Diyana Putra

Gede Diyana Putra

Anak dari Desa Selat yang senang bepergian dan berorganisasi. Sudah menyelesaikan perkuliahannya di PGSD Undiksha

Related Posts

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

by Kadek Surya Jayadi
February 18, 2026
0
Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

SINAR mentari pagi menyambut dengan hangat, menghiasi perjalanan Keluarga Besar Prodi Sejarah Universitas Udayana menuju Desa Bodhakeling. Bus Universitas Udayana...

Read moreDetails

Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

by Chusmeru
February 1, 2026
0
Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

GOMBONG merupakan satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Kecamatan ini memiliki lokasi yang strategis, karena dilewati oleh...

Read moreDetails

Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

by Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
January 27, 2026
0
Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

KATOWICE, kota tempat saya menjalankan exchange di Polandia, menawarkan kesibukan layaknya kota modern pada umumnya. Namun, hanya satu jam dari...

Read moreDetails

Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia

by Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
January 22, 2026
0
Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia

Dzień dobry! Nama saya Nadia Pranasiwi Justie Dewantari, mahasiswi kedokteran Universitas Gadjah Mada, Indonesia. Pada bulan Agustus 2025, saya mengikuti...

Read moreDetails

Jejak Sunyi di Negeri Sakura

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
January 8, 2026
0
Jejak Sunyi di Negeri Sakura

JEPANG kerap dijuluki sebagai negeri Sakura yang disinari matahari terang, sebuah citra yang terpatri kuat melalui benderanya: lingkaran merah di...

Read moreDetails

Mengamati Wolfdog di Alpha Wolf Lodge Nuanu

by Doni Sugiarto Wijaya
January 6, 2026
0
Mengamati Wolfdog di Alpha Wolf Lodge Nuanu

DI kabupaten Tabanan, tepatnya tak jauh dari lokasi Pantai Nyanyi, Desa  Beraban, ada tempat wisata bernama Nuanu. Nuanu dikenal sebagai...

Read moreDetails

Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

by Nyoman Nadiana
December 30, 2025
0
Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

PERJALANAN di penghujung tahun 2025 kemarin, saya menaruh Ipoh di Negeri Perak Malaysia sebagai destinasi setelah Singapura. Mengambil jalur darat...

Read moreDetails
Next Post
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co