14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menanam Pohon pada Hamparan Batu Tajam di Kawasan Yeh Mampeh, Kintamani : Antara Refleksi dan Nostalgia

Gede Diyana Putra by Gede Diyana Putra
December 17, 2024
in Tualang
Menanam Pohon pada Hamparan Batu Tajam di Kawasan Yeh Mampeh, Kintamani : Antara Refleksi dan Nostalgia

Diyana Putra

AKU tidak pernah membayangkan sebelumnya, aku akan menanam pohon di atas bukit berbatu—di atas tanah kering dengan batu-batu yang tajam. Pada beberapa kesempatan, aku sempat mengikuti kegiatan penanaman pohon di sejumlah tempat, dari lereng gunung sampai tepian pantai, tapi belum pernah kutemukan tempat se-“istimewa” ini.

Lokasi itu berada di kawasan Dusun Yeh Mampeh, Desa  Batur Selatan, Kintamani, Bangli.  Di tempat ini, sejauh mata memandang yang terlihat hanya bebatuan tajam. Itu batuan vulkanik hitam berpori, jika terinjak dengan kaki telanjang, kaki akan terasa ditusuk. Tentu sakit.

Awalnya aku mengira akan menanam di dataran miring yang rawan longsor. Ternyata tidak. Tapi aku menikmatinya. Ini adalah pengalaman yang luar biasa untukku. 

Sudah hampir 10 tahun, aku meninggalkan kegiatan di alam, seperti mendaki atau menanam pohon pada rentang alam yang rawan. Dulu waktu SMA, hampir setiap minggu, ada saja teman yang mengajak mendaki ke Gunung Batur.

Waktu itu, mendaki gunung masih dipandang kegiatan ekstrem dan mahal. Teman-temanku mengira, mendaki Gunung Batur itu harus menyewa guide setempat. Memang, saat itu akses informasi masih terbatas. Seperti halnya lingkungan pertemananku yang menginstall sosial media masih terbatas.

Konten TV “My Trip My Adventure”, cerita dari mulut ke mulut, tautan profil pada postingan facebook setiap perjalanan menambah rasa penasaran mereka. Permintaan teman-teman sekolahku sampai membuatku terasa seperti guide asli hanya saja ini palayanan gratis.

Kintamani saat itu masih asri dan belum seramai saat ini. Atraksi wisata yang ditawarkan itu masih terbatas. Kini, wajah pariwisata Kintamani telah bertransformasi. Kini ada atraksi Jeep seperti yang biasa kita lihat di Wisata Bromo. Ada barisan kedai kopi di sepadan jurang Kaldera Batur Kintamani seperti yang biasa kita saksikan di Ubud. Dari semua usaha wisata itu, hampir semunya “menjual” view dari gunung, danau, dan tentu hutan di wilaah Batur.

Tini, kordinator kelompok membagikan pohon untuk ditanam di titik yang telah ditentukan | Foto: Dok. Diyana

Dan kali ini, tepatnya 8 Desember 2024, aku kembali ke alam Batur. Sembari melihat segala perubahan yang terjadi, aku punya kegiatan lain: menanam pohon. Kegiatan ini adalah bagian dari Bali Reforestation Festival yang diselenggarakan oleh Yayasan Bali Hijau Lestari. Yayasan ini memang sudah aktif melakukan reboisasi sejak 2006.

Aku tinggal di Singaraja, Buleleng, dan tentu membutuhkan perjalanan yang cukup lama untuk bisa tiba di lokasi penanaman. Pagi, sebelum menuju lokasi aku menyempatkan untuk sarapan. Taluh mice dan kopi susu di Kopi Tiam Kampung Tinggi menjadi piliha.

Bersama Dewa Janu, Pukul 07.30 kami berangkat. Kami hanya memiliki waktu 1,5 jam untuk tiba sesuai dengan agenda yang dijadwalkan di Dusun Yeh Mampeh, Desa  Batur Selatan.. Maka, laju motor matic-ku harus lebih kencang.

 Ada hal yang tidak biasa kutemui di jalur Desa Bengkala. Sebelah kanan jalan di 20 meter setelah bengkel Edie Arta, ada beberapa guci besar berjejer di depan bangunan bertembok anyaman bambu. Puluhan motor serta beberapa mobil parkir di sana dan perhatianku tertuju pada plang tempat tersebut, “Pasar Intaran”.

Pasar Intaran, yang dibuka setiap Minggu itu,  adalah salah satu ruang berkumpul bagi orang-orang yang ingin belajar banyak hal, seperti belajar berusaha di bidang ekonomis kreatif, belajar menciptakan gagasan, dan sejenisnya. Aku hampir setiap hari Minggu berada di situ, tapi kali itu aku harus lewati tempat itu karena harus secepatnya tiba di lokasi penanaman.  

 Para volunteer dari Mapala Cakra Buana Politeknik Negeri Bali | Foto: Dok. Diyana

Kami menggunakan beberapa jalur alternatif untuk bisa memangkas waktu perjalanan, misalnya aku belok kanan di Puskesmas Tamblang (wilayah Tangkid), kemudian aku melewati Desa Mengening untuk memotong jarak tempuh. Barisan pohon cengkeh dan sejuk udara pagi begitu nikmat. “Tin”, jangan lupa untuk membunyikan klaksonmu di setiap tikungan ketika ngebut. Ini jalan umum, bukan sirkuit.

Semburat cahaya dan senyum gadis yang pipinya merah kutemui ketika melewati Desa Dausa, Desa itu sudah masuk wilayah Kecamatan Kintamani, Bangli. Dingin mulai menembus jaket ketika memasuki hutan pinus menuju puncak Penulisan.

Sepanjang perjalanan dari Dausa menuju Sukawana, kulihat suasana agak ramai. Rupanya ada sejumlah pelari dan rombongan pick-up memuat motor trail di atasnya. Nampaknya, di daerah itu, pada hari itu, ada dua event yang barangkali biasa mereka lakukan. Lari dan naik trail.

Pikirku, Bali sudah pantas untuk dieksplorasi dengan menyelenggarakan event olahraga alam, tentu juga untuk menggeser sedikit keramaian dari diskotik dan event-event massal di Kuta dan Canggu.

Seperti biasa, di kiri jalan sebelum SMPN 1 Kintamani, aku akan menengok rumah dinas pegawai kehutanan yang kini telah menjadi toko retail modern. Sial, aku belum memiliki foto rumah tersebut hingga saat ini.

Setelah melalui deretan warung kopi modern, di perempatan jalan belok kiri aku menemui turunan curam dan belokan tajam. Jalan yang sangat tidak direkomendasikan bagi pemula. Ada diskon senderan jalan jebol di sisi kiri atau kanannya. Tapi, semua itu menandakan bahwa tujuanku sudah dekat.

Kelompok ungu titik 5. Dari kiri ke kanan. saya, Ibu Ria, Tini dan Dewa Janu | Foto: Dok. Diyana

Ini merupakan kali keduaku mengaspal di jalur ini. Teringat, saat itu aku tersesat dengan tujuan rutenya adalah Pura Ulun Danu Batur. Meskipun diskon senderan jalan jebolnya tidak sebanyak saat ini, jalur ini tetap saja horor. Ini merupakan jalur pengangkutan material tambang pasir.

Kalian akan banyak menjumpai tempat penyaringan pasir (pemisahan pasir halus) di pinggir jalan sepanjang Dusun Yeh Mampeh ini. Sedikit ada rumah penduduk dan yang menjual BBM. Selalu, di musim hujan jalan ini seperti jalur trail. Ada kubangan air berwarna cokelat. Jika tidak stabil, kaos kakimu bisa basah karena harus mendarat di kubangan itu. Bayangkanlah.

Pukul 09.28, aku tiba di titik berkumpul Bali Reforestation Festival. Meskipun terlambat hampir 30 menit, kami disambut ramah panitia. Kami kemudian dibagi dalam kelompok kecil dalam menanam. Saat itu ada 5 orang. Aku, Dewa Janu, Ibu Ria (Dosen Biologi Udayana), beserta sepasang muda-mudi lainnya.

Kami didampingi seorang koordinator yang merupakan relawan di kegiatan ini, namanya Tini. Ia mahasiswi semester 3 Ilmu Komputer di Politehnik Negeri Bali.

Kami mendapatkan tugas untuk menanam di titik 5 ungu. Berdasarkan info dari panitia, telah disiapkan 4000 pohon untuk 320 peserta yang hadir. Tini, membawa 5 kresek merah yang berisi pohon. Luas lahan titik 5 ungu kiranya ada 4 are. Kondisinya, itu merupakan lahan berbatuan seperti yang telah kujelaskan diawal tulisan ini.

Pohon puspa (schima wallichii) yang ditanam di tanah batuan vulkanik | Foto: Dok Diyana

Panitia telah mempersiapkan ini jauh hari, dalam setiap jarak yang telah terukur ditempatkan tanah dan pupuk kandang. Pada titik itulah pohon Jempinis, Puspa dan Ampupu ini kami tanam.

Kami serius menanam. Aku berorientasi target, seperti sales. Pantang pulang sebelum target dicapai. Melelahkan juga, beberapa momen Bu Ria sempat mengambil waktu untuk istirahat. Kami membagi tugas untuk mengefisienkan energi.

Ada yang melubangi kembali, menaruh pohonnya, dan memasang tali pengikat. Tak terasa 1,5 jam pohon yang disiapkan untuk kelompok ini habis. Artinya, target telah dicapai dan kami bisa mengambil momen untuk dokumentasi.

Kegiatan serta perjalanan ini menjadi suatu refleksi bagiku. Lebih dari sekadar nostalgia masa SMA, aku mulai menyadari beberapa hal penting. Pemandangan yang berwarna hitam dari sepadan jurang jalan Kintamani (atas) itu kukira hanya karena awan yang menutupi cahaya matahari di atasnya. Namun, pada beberapa titik itu memang merupakan lahan hutan yang kritis.

Saya (penulis) berpose sehabis menanam di sela-sela batu | Foto: Dok. Diyana

Kita melihat  dari jauh hamparan batuan vulkanik, pasir atau kerikil berwarna hitam di lereng Gunung Batur itu adalah pemandangan yang begitu indah. Melihat lebih dekat hamparan batuan vulkanik tersebut, itu merupakan daerah lahan kritis. Titik tutupan hijaunya sedikit.

Setiap tahun, eksploitasi dari pemandangan lahan kritis itu kian meningkat. Peningkatan itu perlu diimbangi dengan meningkatnya agenda-agenda konservasi di daerah itu agar angka tutupan hijau juga ikut meningkat.

Bali Reforestation Festival menjadi alarm setiap tahunnya tentang keberlanjutan lingkungan, keberlanjutan ekonomi dan keberlanjutan generasi. Antara refleksi dan nostalgia, festival ini kembali mengingatkan bahwa melestarikan alam bukan hanya kenangan masa laluku, tetapi tentang keberlanjutan untuk masa depan. [T]

Penulis: Gede Diyana Putra
Editor: Adnyana Ole

12.000 Pohon untuk Kurangi Emisi Karbon – Ini Program HUT ke-12 AirNav Indonesia
Menebar Ikan dan Tanam Pohon di Kawasan Danau Buyan — Konsos PMM 4 Inbound Unud
Kolaborasi Internasional di Desa Pedawa: Menanam Pohon Menjaga Air
Sepiantari & Sepiantini Nandurin Gumi: Riang Jalan Mencari Pohon Langka dalam Hutan
Pemuda-pemuda yang Mengabarkan Cerita Baik dari Pedawa: Menanam Pohon, Mencintai Tradisi dan Bahasa
Tags: alamBangliDanau BaturDesa Batur SelatanGunung BaturKintamanilingkungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gending Sanghyang Sampat dan Cerita Lain di Desa Sangketan, Penebel-Tabanan

Next Post

Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Gede Diyana Putra

Gede Diyana Putra

Anak dari Desa Selat yang senang bepergian dan berorganisasi. Sudah menyelesaikan perkuliahannya di PGSD Undiksha

Related Posts

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails
Next Post
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co